Senin, 06 Oktober 2025

TAMMALELE || Sang Budayawan Nyentrik

Oleh : Ilham Sopu

Nama Tammalele yang akrab dipanggil A'ba Lele adalah nama yang sangat familier di daerah Mandar. Setiap berbicara budaya, seni, sosiolog, antropologi sekaitan dengan mandar, nama ini tidak pernah luput dari perbincangan. Dialog-dialog, diskusi-diskusi, seminar-seminar, pertemuan-pertemuan budaya, diskusi-diskusi pojok, diskusi-diskusi kampung, nama Tammalele selalu melekat dalam pertemuan tersebut. A'ba Lele adalah budayawan yang lahir  dari alam, universitasnya alam, budayawan yang lahir secara otodidak. Ia lahir di kappung Pambusuang di tahun 60 an. 

Di awal kehidupannya di kappung Pambusuang, A'ba Lele banyak ditempa dengan cerita-cerita ala Pambusuang yang biasanya berpusat di barung-barung di berbagai sudut kampung. Pambusuang kaya dengan berbagai tempat-tempat diskusi yang mengupas berbagai materi-materi diskusi yang muncul secara spontan, dan diperbincangkan di tempat-tempat pertemuan seperti "barung-barung", di tempat inilah yang menjadi ciri khas Pambusuang masa lalu dan sampai saat ini.

A'ba Lele bukan hanya mahir dalam bicara budaya, seni, tapi juga sangat menguasai term-term keagamaan klasik yang banyak diperbincangkan orang dengan analisis sosial kesejarahan Pambusuang pada masa dulu, dia banyak tau sejarah para annangguru di Pambusuang, pemikiran-pemikirannya, dan berbagai latar belakang keahlian para annangguru, serta perdebatan-perdebatan keilmuan antara satu annangguru dengan annangguru yang lain.

Perdebatan atau diskusi dengan sesama annangguru adalah hal yang sering terjadi di Pambusuang, dan itu secara tidak terjadwal, dimanapun mereka berkumpul, seperti di tempat-tempat hajatan, di pasar, di pinggir laut, di barung-barung, di sudut-sudut rumah, hampir selalu terjadi diskusi yang materinya lebih banyak berkaitan dengan masalah keagamaan. Lewat diskusi-diskusi seperti ini A'ba Lele kecil, banyak menyerap percikan-percikan pemikiran annangguru yang berdiskusi pada waktu itu. Disinilah tempat belajar A'ba Lele mengais ilmu-ilmu keagamaan dan model-model berdiskusi ala Pambusuang.

Model pembelajaran keagamaan yang didapatkan A'ba Lele bukanlah model formal, tapi lebih banyak model-model non formal lewat diskusi-diskusi ala kampung yang marak terjadi di berbagai tempat di Pambusuang pada waktu itu. Di tahun 80 an, A'ba Lele banyak menghabiskan waktunya untuk mengajar ilmu sejarah di pesantren Nuhiyah Pambusuang, sekaligus juga memanfaatkan untuk memperdalam ilmu-ilmu keagamaan kepada KH Abdurrahman, pimpinan pesantren Nuhiyah Pambusuang yang dikenal sebagai annangguru yang banyak mengkader generasi-generasi pelanjut keilmuan keagamaan di Pambusuang.

Disamping penguasaan metode-metode debat ala Pambusuang, A'ba Lele juga aktif mengikuti perkembangan keilmuan nasional lewat tokoh-tokoh nasional yang menjadi rujukannya, seperti Emha Ainun Najib yang lebih akrab dipanggil Cak Nun, seorang budayawan yang mumpuni, sekaligus seorang Kiai. A'ba Lele banyak mengais ilmu lewat Cak Nun, melalui interaksi langsung maupun lewat buku-buku Cak Nun yang banyak beredar di tahun 80 an sampai 90 an, hampir semua buku-buku Cak Nun menjadi koleksinya dan betul-betul menguasai pemikiran-pemikiran Cak Nun.

Pemikiran-pemikiran keagamaan A'ba Lele lebih banyak diraup dari pemikiran keagamaan Cak Nun, sehingga A'ba Lele ini bisa disebut anak pemikiran ideologis Cak Nun, dan memang tempat tinggal A'ba Lele sekarang ini, ada terbentuk komunitas pencinta Cak Nun tepatnya di Tinambung, yang dikenal sebagai kampung yang banyak melahirkan budayawan-budayawan handal di tanah mandar, seperti budayawan atau panglima puisi Husni Jamaluddin.

A'ba Lele saat ini, lebih banyak menghabiskan waktunya untuk memberikan pencerahan kebudayaan kepada generasi-generasi muda di wilayah Sulbar khusus Balanipa Majene, hampir semua kegiatan-kegiatan budaya seni dan keilmuan lainnya A'ba selalu menjadi rujukan utama dalam memberikan kontribusi untuk generasi pelanjut terkait dengan kemajuan kebudayaan di tanah Mandar. Kehadiran berbagai tokoh-tokoh budaya nasional, di Sulbar A'ba Lele selalu menjadi rujukan pendamping sebagai pembicara untuk mendampingi tokoh-tokoh nasional tersebut.

Dan sudah banyak kader-kader ideologis A'ba Lele yang ada di Sulbar bahkan ditingkat nasional, untuk melanjutkan pemikiran-pemikirannya. Jejak-jejak pemikiran budaya A'ba Lele sudah banyak tersebar dimana-mana di wilayah Sulbar, dan pemikiran itu sebagai aset Sulbar sebagai rujukan dalam membangun sulbar khususnya yang terkait pembangunan kebudayaan di Sulawesi Barat, saatnya sekarang pemerintahan Sulbar untuk bisa memberi apresiasi terhadap berbagai sumbangan pemikiran kebudayaan terhadap A'ba Lele.

(Bumi Pambusuang, 6 Oktober 2025)