Rabu, 13 Agustus 2025

MEREKA KINI BERTANYA PADAMU (Sebuah Puisi Imajiner)


Karya Adi Arwan Alimin

Suatu hari bila engkau bertemu mereka, mungkin masing-masing akan bertanya padamu. Satu demi satu sebelum liang tak peduli alasan khianat serenik apapun.

Imam Lapeo, dari pusara waktu dia menitip tanya pada jiwa mudamu. 

"Masihkah api iman itu menyala,
Di antara badai dan duri dunia fana?
Masih cukup tegakkah langkahmu menenun asa, merawat warisan leluhurmu?"

Syekh Abdul Mannan, menyapamu dari kedalaman harapannya seraya membisikkan tanya, di antara rintik waktu yang senyap oleh zaman.

"Sudahkah benang ilmu kau rajut, tanpa goyah diterpa goda dunia yang melaju cepat akhir-akhir ini."

Seberapa lapangkah hatimu, menahan gelombang amarah, agar harmoni tetap bersemi di tanah Mandar yang ramah?

Lalu datanglah Ibu Agung Andi Depu, perempuan perkasa itu yang suaranya menggetarkan penuh tanya. Dia memecah sepi berapi seruan yang masih terdengar itu.

"Beranikah engkau melawan penindasan yang kembali menjelma?
Sebab kau tak boleh duduk memangku tanganmu lalu membiarkan kemerdekaan hanya manuskrip di lembar sejarah lama."

Pegang teguh martabatmu dalam gurau yang kian menipis, agar engkau tak surut melipat sarungmu seolah kau bukan Tomuane. 

Hammad Saleh Puanna Sudding, menggugatmu. Dia panglima abadi yang tak memiliki kata takut pada bedil dan angkara. Dia menyerumu dalam gemuruh zaman yang luruh memecah belah.

"Adakah kau telah membangun mimpi yang kami ukir dengan darah?
Kemerdekaan ini bukan sekadar kata-kata, yang berkelahi di nisan sejarah dan burai selongsong peluru."

I Calo Ammana Wewang, sang lelaki yang sejarah menumpu padanya menisik belati di telingamu.

"Mampukah kau meluruskan akal sehat, menjernihkan pikiran tanpa khianat, agar pelita itu tetap cahaya menerangi jalan nan panjang perjuangan?" Katanya, saat menyentuh antara laut dan pasir Babbabulo sepulang dari Belitung. 

Maraqdia Tokape,
"Adakah nyalimu membara, seperti dulu kala, melawan kolonialisme yang tak lagi serdadu bersenjata, tetapi merupa bayang-bayang yang menyusup diam-diam melemahkan kesadaranmu."

Haji Zikir Sewai, sang dermawan itu merajut pesannya, agar kau tidak tumbuh sebagai anak-anak yang gemar merajuk manja, apalagi belajar mencuri di rumahmu sendiri.

"Rajutlah hati-hati, jangan biarkan kepentingan sempit memecah mengendali kemudi pelayaran tak menentu. Tetaplah jujur pada seluruh tarikan napasmu..."

Husni Jamaluddin, dari gelombang hening memanggilmu dalam sunyi perbedaan yang kian bising.

"Mampukah kau mendengar suara sesamamu yang lirih?

Masihkah Aku perlu bertanya sekali lagi tentang semua ini, katanya. 

Kalman Bora mengingatkanmu agar tak digerus gemerlap kemewahan yang tumbuh dari nasib garis nasabmu. Dia yang terus menyokongmu tanpa pamrih ingin mengajukan tanya lebih banyak lagi.

"Apa yang telah kamu berikan untuk litaq Mandar ini?"

Pun Kiai Sahabuddin, sang penjaga ruh keagamaan itu memelukmu dalam rindang kata-kata hikmah mendayu.

"Seberapa kokoh iman di dalam dadamu tersembunyi? Saat gelombang rayuan dunia mengombang-ambingkan dirimu. Tetapi biarkan hatimu tetap bening meski kau berjalan dalam hening."

Bunda Maemunah menulis catatan harian tentang perjalanan panjangnya, guru yang meninggalkan papan tulis itu memanggul senjata sambil melirikmu liris.

"Seberapa berani pikiranmu melawan tatapan bedil yang membuat gigil itu. Aku menenteng kesetian pada cinta yang menguji, sementara kulihat engkau ingin menjajakan kehormatan demi helai halaman waktu terbeli." 

"Jangan ambil bila bukan milikmu!"

Lantang Baharudddin Lopa sambil menetak godam di jantungmu. Serunya tanpa tanda tanya.

"Buku apa yang terakhir kamu baca pekan ini?" Burai Nurdin Hamma, cendekia itu membuka halaman buku tebal menawarimu kopi kental di ruang tamunya. 

"Tanpa buku sejarah itu sepi, tanpa buku sastra itu sunyi, tanpa buku sains akan lumpuh, tanpa buku  spekulasi akan berhenti, karena buku didirikan di lautan waktu," serak Tammalele via telepon semalaman.

"Lalu apakah hakikat kebudayaan dalam mutu dan daya hidup manusia?" Tanyanya lagi diantara polemik budaya masa lalu sebagai masa kini. 

Mamuju, 14 Agustus 2025

*Puisi ini boleh dikutip atau dibacakan di mana saja

UPTD Samsat Majene Ikut Seruan Gubernur SDK: Gelorakan Wajib Baca Buku di Kantornya

Oleh : Dalif Palippoi

Beberapa hari sesudah terbitnya surat Gubernur Sulawesi Barat, SDK, nomor 000.4.14.1/174/VII/2025 tanggal 5 Juli 2025, yang ditujukan kepada para bupati, kepala perangkat daerah/biro Sulawesi Barat, serta para kepala/pimpinan instansi vertikal, suasana di berbagai lini pelayanan publik mulai menunjukkan geliat berbeda. Tak terkecuali di Kantor Samsat Majene, yang ikut “rame” merespons instruksi tersebut.

Meski dalam surat itu tidak secara eksplisit menyebut nama Samsat atau menargetkan jajaran petugasnya, namun secara substansial, isi perintah Gubernur menyentuh lingkup kerja mereka. Samsat, sebagai garda depan pelayanan publik yang setiap hari berinteraksi dengan masyarakat, terutama pemilik kendaraan bermotor yang hendak mengurus pajak, balik nama, atau memperbarui dokumen kendaraan, secara otomatis menjadi salah satu titik strategis penerapan imbauan tersebut.

Selama ini, setiap instansi yang memberikan pelayanan publik memang dipersyaratkan memiliki semacam pojok baca atau sudut baca. Namun, dalam praktiknya, banyak yang hanya memenuhi kewajiban itu secara formalitas belaka, sekadar ada, sekadar menempelkan label “pojok baca” di sudut ruangan, tanpa perhatian serius pada kenyamanan maupun kualitas bacaan yang tersedia. Rak buku hadir seadanya, koleksi bacaan minim, dan penataannya sering kali membuat pengunjung enggan berlama-lama.

Namun, sejak keluarnya seruan dari Gubernur Sulbar, SDK, pada awal Juli 2025, UPTD Samsat Majene bergerak cepat mengambil langkah konkret. Tanpa menunggu teguran atau instruksi lanjutan, mereka mulai menata ulang ruang pelayanan dengan menghadirkan pojok baca yang lebih representatif. Rak buku baru didatangkan, disusun rapi di area yang mudah terlihat, dan diisi dengan berbagai bacaan, mulai dari buku motivasi, pengetahuan umum, hingga komik edukatif yang ramah untuk segala usia.

Harapannya sederhana namun bermakna agar setiap pengguna jasa yang hadir di Kantor Samsat Majene mau memanfaatkan fasilitas ini. Sambil menunggu antrean atau proses administrasi rampung, mereka bisa membuka buku, membaca beberapa halaman, dan siapa tahu, mendapatkan pengetahuan baru atau sekadar hiburan yang bermanfaat. Dengan begitu, waktu tunggu tidak lagi terasa sebagai jeda yang membosankan, melainkan momen produktif yang memberi nilai tambah.

Lalu, dari mana Samsat Majene mendapatkan buku-buku bacaan yang berkualitas itu? Apakah mereka membelinya? Apakah memang ada alokasi anggaran khusus untuk pengadaan buku di kantor Samsat? Jawabannya, tidak. Sama sekali tidak ada pos anggaran yang diperuntukkan bagi pembelian koleksi bacaan.

Keterbatasan anggaran tidak membuat mereka berhenti pada wacana. Beberapa staf Samsat Majene memilih mengambil jalan kreatif: memanfaatkan jejaring yang mereka miliki. Mereka mulai menghubungi pelaku dan komunitas literasi yang tersebar di Tinambung, hingga Kecamatan Balanipa, dan daerah lain. Pesan yang mereka sampaikan sederhana namun tulus, Samsat Majene ingin membangun pojok baca yang benar-benar hidup, bukan sekadar hiasan, dan untuk itu diperlukan dukungan siapa pun yang peduli terhadap budaya membaca.

Selain itu, pimpinan Samsat Majene juga mengeluarkan kebijakan internal yang unik: setiap ASN maupun pegawai tidak tetap (PTT) diminta berkenan menyumbangkan minimal satu buku. Kebijakan ini bersifat sukarela, tanpa paksaan, namun menjadi semacam ajakan moral bagi semua pegawai untuk ikut berkontribusi. “Kalau setiap orang menyumbang satu buku saja, rak akan cepat penuh dan isinya akan beragam,” ujar salah seorang pegawai. 

Respons dari luar kantor pun di luar dugaan. Beberapa komunitas literasi yang selama ini aktif menggelar diskusi buku dan kegiatan membaca bersama dengan sukarela menyerahkan sebagian koleksi mereka. Tema buku yang diterima pun beraneka ragam. Beberapa buku memang bukan cetakan baru, tetapi kondisinya terawat dan tetap layak dibaca.

Dengan gerakan kecil dan gotong royong literasi itu, pojok baca Samsat Majene mulai terisi. Rak-rak yang sebelumnya kosong kini penuh warna, menampilkan punggung-punggung buku yang mengundang mata. Tidak lagi sekadar “sudut formalitas”, pojok baca itu berubah menjadi simbol kolaborasi antara pelayanan publik dan masyarakat pecinta literasi di daerah. 

Dalam hubungan itu, Dauliyah, mewakili institusinya mengucapkan terima kasih banyak kepada para pihak yang telah membantu mendonasikan puluhan bukunya ke UPTD Samsat Majene. Kepada pak Ridwan Alimuddin, pak Hamzah Ismail, pak Muhammad Munir, owner Rumpita dan Pusat Studi Sosial & Kajian Kebudayaan.  “Semoga bantuan bukunya kelak menjadi sumbangsih terbesar upaya peningkatkan budaya baca di Sulbar, Majene khususnya, dan menjadi bagian dari yang diserukan oleh Gubernur Sulawesi Barat, bapak SDK.” Pungkas Dauliyah.

Lamasariang, 13 Agustus 2025