Selasa, 06 Agustus 2024

MEREDEFINISI KEMBALI MANDAR SEBAGAI WILAYAH, NILAI DAN SUKU || Sebuah Tanggapan

Catatan Muhammad Munir. 

Akhir akhir ini, Mandar kembali jadi seksi untuk dibincang. Mulai dari kata Mandar sampai slogan-slogan Amandarn semisal Tarrare diallo tammatindo dibongi dan seterusnya. Konten Mandar dan kearifan lokal yang berusia ratusan tahun itu santer menjadi konten paling akrab di jejaring media sosial. Bahkan terkesan Mark, penemu Facebook adalah pembuat aplikasi tentang Mandar.

Sampai disini, saya menemukan status di fb yang tendensinya mengundang polemik yang sesungguhnya tidak penting-penting amat didebati. Kenapa begitu, sebab selama ini memang belum terbangun kesepahaman tentang Mandar  itu, baik sebagai suku, nilai maupun sebagai wilayah geografis. 

Status Opy Muis Mandra yang menyoal terkait pernyataan Mayjen (Purn.) Salim S. Mengga saat acara Konferensi Pers di Rumah Jonga yang menyinggung Mandar sebagai Persekutuan, bukan sebagai suku. Kekhawatiran Opy jangan sampai disalah artikan bahwa Suku Mandar itu tidak ada. Itu adalah kekhawatiran yang tak beralasan. Bahwa kemudian ada yang memang ingin menyalah artikan pernyataan itu, saya yakin orang tak akan percaya, sebab Mandar atau Manda' adalah kosa kata kuno  yang terekam dalam berbagai manuskrip jauh sebelum Forum. Sipamandar atau Passemandaran terbangun dalam assitalliang di Luyo atau dikenal dengan istilah Allamungan di Luyo pada tahun 1602. 

Mandar dalam bingkai Sulawesi Barat ini harusnya tak lagi ada perdebatan tentang makna kata Mandar, sebab sesungguhnya pembacaan terhadap makna kata Mandar sesungguhnya sudah final dalam babad sejarah tanah Mandar. 

Sekilas Mandar Dalam Sejarah Peradaban. 

Mandar (dialek PBB) atau Manda' (dialek PUS) dan Menre' (Bugis versi Lagaligo) secara tekstual memang tak tercatat sebagai sebuah suku. Ia adalah kosa kata yang bermakna sungai. Kata Mandar  sebagai sungai sebangun dengan penyebutan orang-orang yang ada di wilayah geografis Sulawesi Barat. Manda' atau Mandaq ini dikenal dalam kehidupan sosial Masyarakat di wilayah pegunungan seperti Matangnga, Tabulahan dan sekitarnya (baca: PUS). Selain Mandar, penamaan sungai juga ditemukan sebagai Maloso' (peradaban Lembang Mapi dan Passokkorang), Binanga (Banggae dan sekitarnya), Lembang dan lainnya. Artinya bahwa ketika Mandar menjadi nama sungai, kita tentu tak harus marah jika kemudian Mandar adalah nama sungai, bukan suku. 

Mandar identik dengan air, air umunya dimaknai sungai dalam konsensus sejarah peradaban. Elemen air sejak Era Pongkapadang dengan Torine'ne (sekitar tahun 1100-1200). Beliau adalah moyang orang PUS dan PBB, dan keduanya memang belum menamai manamai dirinya sebagai suku Mandar. 
Ratusan tahun kemudian, Tomepayung dan Todijallo menggagas ide Allamungan Batu di Luyo pada tahun 1602 sehingga lahir kesepakatan membentuk wadah persekutuan bagi masyarakat yang ada di 14 kerajaan di Sulawesi Barat ini (baca Paku-Soremana). Dalam forum inilah lahir istilan Sipamanda', Passemandarang dan Sipamanda'. 

Kenapa harus menggunakan Mandar sebagai simbol persekutuan mereka? Karena diantara 14 kerajaan (PUS dan PBB) itu terhubung melalui jalur trasportasi yang mengandalkan sungai. Kontur tanah di wilayah PUS adalah bukit, gunung, lembah dan dataran. Sungailah yang menjadi penghubung antara gunung dan pantai. Kondisi inilah yang membuat mereka sepakat mengusung sungai sebagai persekituan yang dalam perkembangannya dikenal wilayah Konfederasi Mandar. Orang luar kemudian mencatatnya Tomandar dan tertata sebagai suku untuk membedakan georafis mereka dengan Toraja, Bugis dan Makasaar. 1908 ketika Belanda berkuasa, lagi lagi wilayah eks Persekutuan Mandar ini menjadi nama Afdeling Mandar. 

Redefinisi Makna Kata Mandar. 

Dalam berbagai sumber literatur kita memang sejak awal tidak lahir sebagai suku. Ia adalah makna yang sebangun dengan sungai, maloso, Binanga atau Lembang. Fakta-fakta tentang sungai itulah terbabgun filosofi Mandar yang diambil dari elemen air (air yang membentuk sungai. Sungai tanpa air adalah bohong). Filosofi air inilah yang kemudian menjadi nilai bagi orang Mandar karena aktualosasi dari air adalah 'mencari titik-titik terendah untuk menemukan kemuliaannya". Tak pernah terjadi air mengalir ke titik yang paling tinggi. Makna inilah yang memjadi karakter orang Mandar. Lagi-lagi Mandar adalah nilai, bukan suku. 

Lalu kemudian pernyataan Salim Mengga yang memilih kalimat Mandar sebagai sebuah persekutuan saya kira itu normatif-normatif saja tentunya, sebab ia bicara tidak dalam suasana seminar atau lokakarya sejarah. Itu adalah sambutan pada orang yang ada dihadapannya. Narasi yang terbangun mesti Mandar sebagai sebuah persekutuan sebab ia ingin merajit kebersamaan sebagai manusia yang telah diikat dalam sebuah persekutuan di Allamungan Batu di Luyo. Ini fakta yang tak bisa diubah lagi. 

Pun andai kata Salim Mengga mengatakan Mandar adalan  sebuah wilayah geografis, bukan suku. Inipun tak layak didebati, sebab faktanya di Sulawesi Barat ini ada banyak duku dan sub etnis yang mendiami jazirah Mandar Sulawesi Barat ini. Wilayahnya itu mencakup Paku Soremana, dan Seko Kalumpang dengan gugusan pulau yang salah satunya Lelerekang (meski susah dicaplok oleh Kalimantan Selatan). 

Kapan Mandar Jadi Suku? 

Mandar jadi suku sejak sejarah mencatatanya sebagai sebuah peradaban yang punya wilayah, bahasa, budaya, sejarah yang disepakati. Kesepakatan inilah yang menerima Mandar sebagai suku. Jadi saudara Opy Muis Mandra tak usah risau dan khawatir, sebab orang Sulbar sudah faham siapa itu Tomandar (Orang Mandar) , Pammandar (Orang yang datang ke Mandar) dan Toi Mandar (Pemilik Mandar). 

Tomandar adalah mereka yang dari suku lain tapi memilih tinggal dan berdomisili secara turun temurun di wilayah Mandar. Pammandar adalah mereka yang memang datang ke Mandar untuk mencari nafkah, tidak tercatat secara administrasi sebagai penduduk Sulbar. Hal ini sama dengan status orang-orang Mandar yang pergi ke Singapura, mereks disebut Passa'la' atau Passingapura dan lainnya. Adapun Toi Mandar adalah mereka yang secara genetik lahir dari ibu dan bapak dari orang Mandar. 

Kesimpulan 

Pernyataan Salim Mengga adalah seruan perekat yang tujuannya membangun persatuan dan kesatuan. Bukan pada tataran sebagai pembicara seminar resmi. Jadi jangan ditanggapi berlebihan apalagi jika sampai pada persoalan Mandar itu tidak ada. Mandar itu adalah persekutuan, Mandar itu nilai, Mandar itu wilayah dan sampai kepada Mandar sebagai Suku. Yang terakhir inilah yang mesti dibangun kesepakatan bahwa orang Mamasa tak usah dipaksa jadi orang Mandar, mereka juga Toi Mandar (pemilik Mandar), demikian juga orang Mamuju, Budong-Budong, Baras, Kakumpang, Pattae, Pannei, Pattinjo, Pakkado, Pa'denri, dan lainnya adalah Toi Mandar, bukan Pammandar. 

Kepada Saudara Opy, Kankanda adalah salah satu benteng Mandar yang punya kewajiban menjaga Mandar jika ada yang mencoba merusaknya. Kita adalah bangsa Mandar yang terikat dalam satu buhul SULAWESI BARAT yang tahun ini genap berusia 20 Tahun.
Semoga Bermanfaat. 

SALEH AS DAN TANGGUNG JAWAB PEMERINTAH


Masyarakat Sulawesi Barat khususnya Mandar patut berbangga memiliki seorang penyanyi sekelas dan setenar Shale As. Lagu-lagu yang dinyanyikan bukan hanya dalam bahasa Mandar, tapi juga Bugis dan Makassar. Dan ini tentu dinikmati oleh semua etnis besar Sulawesi yang ada dirantau. Lagu yang dilantunkan oleh Shale pasti mengingatkan mereka pada kampung halaman mereka. 

Bagi penulis, lagu Shale dengan kekuatan bahasa universalnya mampu melampaui batas-batas geografis dan etnisitas. Dari mulai album Kanjengma Ri Kamaseku (Makassar), Idi'na Sabari (Bugis) dan Pitu Ana' Ende dan Larra Tembang (Mandar) telah ikut memperkuat identitas daerah dan budaya nasional. Dalam hal ini, pemerintah harusnya bisa membaca batin para seniman dan mengapresiasinya lebih terukur dan nyata sifatnya. Shale As dan seniman lainnya telah ikut melegitimasi dan mempertegas kesenimanan mereka dan menjadikan Mandar (baca: Sulbar) lebih dikenal. 

Bagaimanapun, mereka yang telah berkiprah di dunia kesenian telah ikut menjadikan masyarakat lebih halus sikap dan perangainya dalam kehidupan sosialnya, serta memiliki rasa estetika yang juga akan mendukung Sulbar ini menjadi lebih mala'bi'. Cerita dibalik sosok Shale AS hari ini kadangkala membuat kita sugiging ditempat, sebab dimasa tuanya, ia harusnya menikmati jerih payahnya sebagai  pelestari lagu daerah Mandar, tapi ternyata itu tak ia rasakan. Faktanya, ia harus berjuang sendiri bersama teman-temannya dan tidak menemukan negara hadir dalam kehidupannya. 

Produktifitas yang sudah mulai menurun, penyakit yang kini bersarang ditubuhnya harusnya tak lagi menjadi beban fikirannya. Negara harusnya hadir melalui pemerintah bahwa sosok Shale As adalah tanggung jawab negara sebab negaralah yang bertanggung jawab memelihara dan memajuka kebudayaan. 

Di era milenial ini, industri album, baik berupa kaset pita maupun kepingan VCD  yang dulu menjadi tumpuan harapannya telah tergeser. Lagu-lagunya mungkin tak lagi dibajak tapi dirusak oleh pengcover lagu yang membuatnya semakin tersisih dari panggungnya. Ini tentu harus menjadi tugas bersama untuk memastikan para seniman kelas maestro itu dipelihara oleh negara (baca: pemerintah Sulbar). 

Biarkan mereka beristirahat atau tetap berkarya dengan sisa kemampuan mereka, tapi mesti ada jaminan hari tua untuk bisa menikmati sisa umur yang kini terbilang sepuh. 
AMMA SUNA (Ibunda Saleh AS) 

SALEH AS || Maestro Musik Daerah Indonesia Timur

Catatan Muhammad Munir

Shale As adalah sosok yang mesti diterima sebagai maestro musik daerah. Bukan hanya lagu daerah Mandar tapi juga Bugis dan Makassar. Mantan suami Rasti Rahman ini lahir pada bulan Maret 1958. Ayahnya bernama Jamaluddin (Tandung). Ia lahir dan dibesarkan di Wonomulyo sampai umur 10 tahun, sebab setelah itu, ia memilih meninggalkan kampung halamannya pada tahun 1968. 

10 tahun itupun terbagi ke Polewali sebab ia sempat ikut kakaknya, Husnah ke Lantora dan sempat mengenyam pendidikan dasar di SD Lantora sampai kelas 2. Ia memilih merantau ke Makassar mengadu nasib. Di Makassar, ia sempat jadi loper koran, jual rokok, jual tara'ju sampai jadi tukang parkir di pelabuhan. 

Bakat menyanyinya memang sejak kecil sudah terlihat. Ia sering menyanyi India, selebihnya adalah lagu Muchsin Alatas yang sempat ia nyanyikan saat tampil pertama di Kediri dalam sebuah pertunjukan. Sampai disitu, Saleh harus kehilangan masa-masa indahnya di waktu kecil karena kondisi kehidupan menyeretnya harus berani mengambil resiko. 

Ketika di Makassar, kapal Perang KRI 405 sandar di Pelabuhan, ia iseng melamar jadi koki. Ia diterima dan menjalani hari-harinya sebagai koki di kapal. Ini ia jalani hampir satu tahun lalu pindah ke Bioskop Jaya yang berhadapan dengan Bioskop Dewi Makassar. Dari bioskop itulah ia mempunyai kesempatan melatih vocalnya kembali dengan lagu-lagu India dan Rhoma Irama yang banyak diputar di Bioskop tempatnya bekerja. 

Tahun 1975, ia pulang kampung dengan gaya rambut gonrong. Sampai-sampai keluarga dan tetangganya pun tak mengenali bahwa yang datang itu adalah Saleh. Di Wonomulyo, ia sempat nonton pertunjukan Orkes Karya Jaya dan mendaftarkan dirinya sebagai penyumbang lagu. Ia hanya menberanikan diri menyumbang karena tak satupun krew Karya Jaya kenal dengan penyumbang yang satu ini. Pada saat tampil, penonton bersorak karena sangat puas dengan tampilannya. 

Dari penampilan pertama itulah, namanya mulai dikenal dan menjadi buah bibir. Hal yang memantik namanya menjadi populer, selain suaranya yang bagus, warna vocalnya juga khas. Ditambah lagi, ia piawai memainkan keyboard serta mahir menyusun kalimat untuk ia gubah jadi lagu. 

Dari segala kelebihannya itu, pada tahun 1984,ia dilirik oleh Edwin Jansen, pemilik toko Jansen yang ada di sudut perempatan lampu merah Wonomulyo sekarang ini. Edwin menyuruhnya mencari seorang wanita untuk nyanyi bareng. Kepada Saleh, ia diberi amanah dan modal sebanyak 8 juta rupiah. Jumlah yang pantastis untuk ukuran pada tahun 1980an. Saleh akhirnya memilih Indar Dewi sebagai teman bernyanyinya. Indar Dewi adalah kelahiran Pelitakan tapi tinggal di Muara Badak Kalimantan. 

Dengan modal dari Edwin itu, ia menuju ke Makassar untuk mencari studio rekaman. Pilihannya jatuh ke Libel Record untuk menggarap album perdananya dengan Indar Dewi. Album perdana yang ia garap adalah lagu Pop Makassar dengan sampul album Kanjengma Ri Kamaseku (1985). Album kedua yang ia rilis adalah lagu Bugis bertajuk Bugis Abadi dengan sampul album Idi'na Sabari (1986). Album keduanya ini digarap di Studio Pance Pondang di Jakarta. Ia juga langsung ke Surabaya sebelum akhirnya kembali ke Sulawesi. Siapa sangka, album kedua ini tenbus 1 juta copy. 

Dari sini, Saleh semakin tenar dan karir menyanyinya melejit. Ia sudah banyak menerima undangan tampil dan aktif di Orkes Karya Jaya milik Sudir Akib Pawellai. Namanya melambung bersama Iwan Tompo dan Anci Laricci sebagai penyanyi paling populer di Indonesia Timur. Lagu-lagunya selalu ditunggu oleh penggemarnya. 

Pada tahun 1990, ia kembali merilis albumnya melalui sampul Pitu Ana' Ende'. Selanjutnya, ia berhasil merampungkan lagunya yang bertajuk Sallang Salili, Larra Tembang, Janda Magello, Palippis Jari Sa'bi, Mamboyangngi Sara Nyawa, Nama'anna Titedoang, Sala Rannu dan puluhan lagu lainnya yang lahir sejak tahun 1985-2000.