Senin, 07 Juli 2025

PEMERINTAHAN MONARCHI DI SENDANA

By. Darmansyah 

Secara etimologi tata “monarci” berasal dari bahasa Yunani, dari kata monos yang berarti tunggal, dan dari kata arkhein yang berarti memerintah/ berkuasa. Secara terminologi, monarci adalah bentuk pemerintahan yang kekuasaan tertinggi dipegang oleh penguasa tunggal. 
Kepemimpinan seperti ini pernah terjadi di Mandar (Sa’rawang/ Sendana) yang diperankan oleh Tomakakak Daeng Tumanang sebagai pemimpin tunggal. Tidak lama berselang datanglah adiknya bernama Daeng Palulung setelah banyak mengikuti komparatif (studi banding) di Luwu, Bone, dan di kerajaan Siang (Pangkep). Daeng Palulung ke Sa’rawang/ Sendana memboyong istirinya, Tomesaraung Bulawang bersama serombongan pengikutnya. 
Daeng Palulung di Sa’rawang melakukan reformasi politik – mengubah sistim kepemimpinan tunggal/ absolut menjadi permusyawaratan (Pappuangang) diantara unit-unit komunitas masyarakat yang terbentuk. Setelah Daeng Palulung mangkat, kepemimpinan pappuangang dilanjutkan oleh putranya, Puatta I Sa’rawang.
Dengan demikian Daeng Palulung di Sa’rawang/ Sendana baru membentuk kepemimpinan Pappuangang (permusyawaratan diantara unit-unit komunitas), belum “Kerajaan atau Arajang”.
Sejak kapan Arajang (kerajaan) terbentuk di Sendana ?. Berdasarkan catatan Lontar Pattappingang halaman 372 – Arajang atau kerajaan Sendana terbentuk dimasa pemerintahan Daeng Marituk (generasi ke-3 Daeng Palulung).
Silahkan berkomentar, biar lebih seru !.

CATATAN AKHIR || DISKUSI DAENG PALULUNG


Catatan Darmansyah 

Pelaut ulung sekalipun, bila berbulan-bulan mengarungi samudra - tentu merindukan daratan, dan ingin sejenak bersandar di dermaga. Demikian pula diskusi di Grouf Kerabat Tomesaraung Bulawang, sejenak kita berlabuh – dan kembali bisa berlayar, karena masih banyak pulau - yang perlu didatangi. 
Sebagai orang yang beriman, persahabatan tentu lebih utama dari pada perselisihan. Pun orang beriman percaya bahwa kitab kebenaran yang absolut adalah Al-Qur’an sebagai Qalam Ilahi (tidak perlu diragukan kebenarannya). Dengan demikian - semua kitab yang dilahirkan melalui cipta, karsa, dan karya sebagai produk kebudayaan - wajar bila di dalamnya terdapat kekurangan dan kelemahan. 
Bukan berarti ke-dhoif-an (lemah) pada lontarak, lalu kita abaikan – tentu tidak. Lontar bukanlah berita hoaks (bohong) atau maudhu (palsu). Lontar adalah sumber sejarah yang harus terus digali, dipelihara, dan diinterepretasi sesuai tuntutan zaman. Pembaca yang budiman, sebagai catatan akhir - dari diskusi panjang namun bersahaja ini, izinkan saya menyampaikan risalah singkat sebagai berikut:
(1) Lontarak Mandar yang di-ali-bahasa-kan dan di-ali-tulis-kan oleh Drs. A.M. Mandra, dkk., terbitan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Tahun 1991/1992, halaman 91-92, 180-181; mengisahkan Daeng Palulung adalah putra Daeng Lumalle’, cucu dari tokombong di bura. Daeng Palulung mempersunting putri Topole di Makka dari perkawinannya Toturung di langiq Towaine. Kemudian Daeng Palulung melahirkan seorang anak di Sendana bernama Ipuangnga. Silahkan untuk terus digali “lontar Mandar” demi Mandar Sendana di masa yang akan datang

(2) Lontar Pattappingang yang di-ali-bahasa-kan dan di-ali-tulis-kan Oleh Dr. Suradi Yasil, dkk., diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, tahun 1984/1985, halaman 160-163, 369-372; mengisahkan Daeng Palulung adalah Puang di Luwu yang mempersunting Tomesaraung Bulawang, hadat mangkauk ri Bone. Perkawinan ini melahirkan 4 orang anak: (1) I Taqdaq, (2) Puatta I Saqrawang, (3) Idara (perempuan), dan (4)  Patta Pance (perempuan). Lontarak Pattappingan ini – jangan berhenti meng-interepretasi untuk generasi Mandar yang lebih baik.

(3) Keunggulan masing-masing Lontar memperkuat Daeng Palulung:

(a) Lontar Mandar mempunyai keunggulan dalam ilmu geneologi (nazab); Penulisan Lontar Mandar dimulai tahun 1223 Hijriyah (1802 Miladiyah), nama penulisnya tidak disebutkan, tapi dilanjutkan penulisannya oleh Pappuangang I Sidaq (1357 Hijriyah/ 1938 Miladiyah). Kemudian dilanjutkan penulisan dan diperinci oleh Puaqna Imamang (18 Syawal 1357 Hijiriyah/ 11 Desember 1938 Miladiyah). Juga memuat filologi (data sejarah,  kebudayaan, sastra dan anstronomi). Sumber tersier bagi akademisi dalam penyusunan karya ilmiah, dan lain sebagainya.

(b) Lontar Pattappingang ditulis oleh Ledang, Pakbicara Adolang (1939), keunggulannya mengisahkan awal-mula Arajang Sendana didukung data arkeologis (bendera Cakkuriri, pusaka keris I Jarreq dan/atau I Poqga) dan folklore. Di dalamnya ada ilmu perbintangan, sastra, filologi, tersier, dll. 
Bokkari Balango (Jangkar Perahu akan ditarik) – menunggu musim berlayar ke Kutai Martapura di Tenggarong dengan seuntai kalindakdak & pantun: 
Mua’ lessea’ sumombal
Anna’ kaccang tunggara
Dao Pettule’
Liwanga’ di Lallute’.

Untuk kakandaku pak Darno; 
Hujan ringgit di negeri Jiran – Hujan stunting melanda Mandar  
Namun, Mandar tak pernah lekang dalam ingatan 
Dan akan selalu kurindukan. 
Selamat berjuang saudaraku
Jangan lupakan tanah Mandar.

Hormat Kami