Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Desember 2025

AKHIR TAHUN DAN PEMBUKTIAN JANJI || SDK Perkuat Tata Kelola Birokrasi Bersih




Oleh: Hajrul Malik 
Tenaga Ahli Gubernur Sulawesi Barat

Akhir tahun selalu memberi ruang jeda. Jeda untuk menoleh ke belakang, menakar apa yang telah dijalani, sekaligus menimbang arah yang hendak dituju. Di ruang inilah pelantikan pejabat pimpinan tinggi pratama (Eselon II) di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat menemukan maknanya—bukan sekadar seremoni birokrasi, melainkan bagian dari proses panjang membangun tata kelola pemerintahan yang lebih bersih dan beradab.

Ucapan selamat tentu patut disampaikan kepada para pejabat yang baru dilantik. Kepercayaan yang diberikan bukan datang tiba-tiba. Ia melalui proses seleksi, termasuk wawancara terbuka, yang menghadirkan harapan publik akan birokrasi yang diisi oleh mereka yang memang layak, bukan sekadar dekat. Di tengah iklim skeptisisme publik terhadap birokrasi, proses semacam ini menjadi penting untuk menjaga rasa keadilan dan kepercayaan.

Dalam pengalaman pemerintahan, jabatan Eselon II adalah simpul kerja. Di sanalah visi gubernur diuji dalam praktik, dan kebijakan diuji dalam realitas. Tidak semua hal bisa diselesaikan dengan pidato atau dokumen perencanaan. Dibutuhkan kepemimpinan yang mau mendengar, berani memutuskan, dan siap bekerja lintas batas kewenangan.

Tantangan Sulawesi Barat tidak ringan. Soal pelayanan dasar, ekonomi rakyat, hingga pengelolaan sumber daya daerah menuntut birokrasi yang tidak bekerja sendiri-sendiri. Pelantikan ini diharapkan memperkuat sinergi antar-perangkat daerah, sekaligus mengikis sekat-sekat ego sektoral yang selama ini kerap menghambat laju kerja pemerintahan.

Di titik inilah publik menggantungkan harapan agar para pejabat yang dilantik mampu menggerakkan Pancadaya Gubernur secara lebih nyata. Pancadaya bukan sekadar arah kebijakan, tetapi kompas kerja. Ia membutuhkan keberanian menerjemahkan visi menjadi program yang saling terhubung dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Sebagai bagian dari sistem, saya melihat bahwa upaya membangun birokrasi bersih bukan pekerjaan instan. Ia membutuhkan konsistensi, keteladanan, dan keberanian untuk menjaga proses tetap berada di rel yang benar. Seleksi terbuka dan penempatan berbasis kompetensi adalah langkah awal yang penting, meski tentu belum sempurna.

Akhir tahun ini memberi satu catatan: janji tata kelola birokrasi yang bersih yang disampaikan SDK tidak berhenti pada narasi. Ia mulai menemukan bentuk dalam kebijakan dan proses. Tugas berikutnya adalah memastikan bahwa semangat ini terus dijaga, diperluas, dan diwujudkan dalam kerja nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat Sulawesi Barat.

Menutup tahun, harapan itu sederhana namun mendasar: birokrasi yang bekerja dengan hati, melayani tanpa pamrih, dan setia pada amanah publik. Dari sanalah kepercayaan tumbuh, dan dari sanalah pembangunan menemukan maknanya.

Selamat bekerja bapak bapak dan ibu ibu. Selamat bergabung di circle Pancadaya...

Selasa, 16 Desember 2025

STANDAR BARU || Proses Seleksi Jabatan Publik

Oleh: Suhardi Duka

Seperti yang sering disuarakan oleh Pak Wakil Gubernur, Salim S Mengga. Bahwa daerah ini sangat membutuhkan sosok pejabat yang tak sekadar punya kualifikasi dan kompetensi profesional. Jauh lebih mendesak untuk saat ini, kita membutuhkan figur dengan rentang moral yang juga baik. 

Bukan berarti kualitas serta kemampuan individu tak penting, tapi bagi saya, sama seperti agama yang akhlak dulu baru belajar ilmu. Di dunia birokrasi pun seperti itu, mental dulu baru kita bicara kompetensi.

Penataan birokrasi memang telah digenjot di fase awal masa jabatan saya dan Pak Salim. Dari menginisiasi perampingingan perangkat daerah, hingga penempatan para pejabat di pos-pos jabatan tertentu.

Tentu saja dampaknya belum dapat diukur hari ini. Tapi, satu yang pasti, di tengah beratnya tantangan yang dihadapi, reformasi birokrasi adalah satu dari sekian prioritas di masa kepemimpinan kami berdua.

Bagi saya, mindset birokrasi kita memang masih perlu didudukkan ke titik yang semestinya. Sebab suka atau tidak, laju mesin birokrasi belum sampai pada fase seperti yang diharapkan. Seperti sebuah anomali, sebab jika melihat standar administratif dari para birokrat di Sulawesi Barat, sebagian besar dari jabatan-jabatan strategis itu telah diisi oleh mereka yang menggendong gelar akademik cukup mentereng.

Visi Sulawesi Barat maju dan sejahtera sebagai titik yang hendak kita tuju, termasuk termasuk poin-poin pengimplementasian-nya, wajib dijadikan nafas utama dalam setiap gerak birokrasi di Sulawesi Barat. Bukan hanya sebatas didukung, mesin birokrasi wajib hukumnya untuk menjalankannya secara kongkret. 

Sebab diksi 'mendukung visi misi', menurut saya menyimpan makna seolah-olah roda birokrasi dengan visi yang hendak dituju tak bergerak secara simultan. 

Mari sejenak kita introspeksi diri. Jika hanya bekerja sesuai dengan aturan. Mau hasilnya bagus, atau tidak, pokoknya bekerja sesuai dengan aturan. Tak memikirkan untuk bagaimana memperbaiki aturan. Tak membangun budaya kinerja secara rapi. Berorientasi hasil, manfaat belum. Masih output, outcome belum. 

Jika masih seperti itu, berarti memang benar, ada yang keliru dari mindset birokrasi kita. 

Semakin beratnya tantangan zaman ditambah problematika hidup di tengah masyarakat yang juga kian kompleks, mesin birokrasi dituntut untuk mampu menghadirkan nilai lebih pada setiap pelayanannya. Bukan sekadar bekerja sesuai aturan atau sebatas mengugurkan kewajiban saja.

Angin digitalisasi yang semakin kencang mau tak mau mesti jadi salah satu instrumen dalam mempermudah kinerja birokrasi. Fasiltas itu hendaknya jadi salah satu piranti utama dalam menciptakan value pada setiap gerak birokrasi kita.

Jika mindset bekerjanya hanya sekadar formalitas belaka, lantas apa yang membedakan aparatur kita dengan kecanggihan teknologi hari ini ?. Boleh jadi, piranti digital itu jauh lebih hebat ketimbang deretan aparatur kita.

Apa yang disampaikan Pak Salim di atas, bagi saya punya makna yang sangat mendalam. Saya duga keras beliau hendak mengatakan bahwa kecanggihan teknologi hari ini mesti tetap dalam kendali manusia. Unsur 'rasa' manusia (dengan mental yang baik) harus hadir dalam setiap derap langkah birokrasi kita. Manusia-lah yang menghadirkan value, bukan deretan piranti digital itu.

Proses seleksi terbuka untuk pos jabatan tertinggi di 12 OPD yang saat ini masih bergulir menyisakan 36 nama calon. Sebagai wujud penerapan prinsip akuntabilitas dan transparansi, saya menginisiasi untuk proses wawancara kepada para calon dilakukan secara terbuka, disiarkan secara langsung.

Dengan begitu, publik dapat terlibat secara langsung dalam melakukan evaluasi untuk visi, misi, pengetahuan, dan kemampuan manajerial dari calon pejabat. Selain itu publik pun punya ruang yang lega dalam mengawal proses tersebut. Memungkinkan hadirnya pengawasan independen terhadap setiap prosesnya sekaligus memastikan prosesnya berjalan objektif dan juga adil.

Saya, Pak Salim bersama Sekda yang secara langsung mewawancarai para kandidat tersebut. Sebuah langkah baru, satu terobosan untuk menghindari lahirnya praduga sekaligus meminimalisir potensi transaksi politik atau lobi-lobi di balik layar. Secara bersamaan, proses yang dilakukan secara terbuka itu bakal mengurangi ruang gerak untuk praktik koruptif atau nepotisme, sejalan dengan semangat reformasi. 

Sekali lagi saya tegaskan, saya, pak Salim ingin bekerja dengan dukungan penuh dari seluruh lapisan masyarakat. Membuka proses wawancara itu juga jadi cara yang saya yakini bakal berefek pada lahirnya partisipasi dan pemantauan publik yang tinggi untuk proses tersebut. 

Satu standar baru dalam sebuah proses seleksi jabatan publik yang saya yakini mampu merangsang kesadaran masyarakat tentang tanggung jawab moral dan sosialnya sekaligus upaya untuk membangun kepercayaan publik pada sistem pemerintahan yang saya dan pak Salim usung. (*)

Minggu, 14 Desember 2025

Catatan Kajian Tasawuf








Catatan 
Hamzah Ismail

Kajian Tasawuf
Tema: Menyelami Samudera Al-Ḥaqīqah Al-Muḥammadiyyah dengan Zikir Rūḥ Bersama: Annangguru Syeikh K.H. Muhammad Ilham Saleh dan Abuya Arrazy Hasyim, Tempat: PP Darul Ulum Syeikh K.H. Muhammad Saleh, Saleppa, Majene
Waktu: 14 Desember 2025, pukul 13.00 - selesai

Ketika Dua Tokoh Spiritual Bertemu: Keindahan-lah yang Selalu Tampak

Tentang Persiapan Pelaksanaan Kegiatan

Kehadiran Syeikh Buya Arrazy Hasyim --seorang ulama muda dan dai nasional yang dikenal luas-- merupakan anugerah dari Allah Swt. Buya Arrazy menekuni dan mengajarkan fikih, ushul fikih, serta tasawuf dalam koridor Ahlus Sunnah wal Jama‘ah. Ia masyhur melalui kajian-kajian keislaman yang sistematis dan mendalam, baik secara luring maupun melalui media digital, dengan gaya penyampaian argumentatif serta rujukan kuat pada kitab-kitab turats.

Kehadirannya di PP Darul Ulum Saleppa sejatinya berada di luar perencanaan awal. Pada mulanya, agenda kunjungan Buya Arrazy di Sulawesi Barat pada penghujung tahun ini tidak mencantumkan Pondok Pesantren Darul Ulum sebagai titik kegiatan. Perubahan terjadi belakangan, setelah satu agenda di wilayah Mamuju batal dilaksanakan, sehingga pihak manajemen perjalanan Buya Arrazy di Tanah Mandar kemudian menetapkan Saleppa sebagai titik tambahan.

Hal tersebut tercermin dalam publikasi kegiatan. Sejumlah baliho yang tersebar ke publik tidak mencantumkan agenda Kajian Tasawuf bersama Annangguru K.H. Muhammad Ilham Saleh dan Abuya Arrazy Hasyim. Hanya satu baliho berukuran cukup besar yang terpasang di pusat Kota Majene, itupun merupakan inisiatif jamaah Tarekat Qadiriyah Majene.

Dalam rapat perdana persiapan penyambutan Buya Arrazy di PP Darul Ulum Saleppa, yang juga dihadiri penulis, Bapak Muhammad selaku pimpinan rapat menyampaikan bahwa kehadiran Buya Arrazy di pesantren ini bersifat tambahan agenda. Pernyataan tersebut dikuatkan oleh Annangguru K.H. Muhammad Ilham Saleh yang menegaskan, “Kita ini membantu pihak yang menangani Buya Arrazy di Tanah Mandar, sekadar mencukupkan titik.”

Meski tidak dirancang secara matang sejak awal, pelaksanaan Kajian Tasawuf ala Tarekat Qadiriyah di Saleppa Majene akhirnya berjalan dengan baik dan sukses. Hal ini tidak lepas dari dukungan ikhlas jamaah Qadiriyah Majene yang dibantu sepenuhnya jamaah Qadiriyah Tinambung. Urusan logistik tertangani dengan aman dan lancar.

Untuk kelengkapan media penyiaran agar kajian dapat disimak oleh seluruh jamaah, jamaah Qadiriyah Tinambung menyediakan sarana pendukung, termasuk dua unit televisi berukuran besar milik STAIN Majene. Fasilitas ini memungkinkan jamaah yang berada di luar ruang utama tetap dapat mengikuti kajian melalui layar.

Melalui tulisan ini, mewakili Annangguru K.H. Muhammad Ilham Saleh dan Panitia Pelaksana, penulis menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu menyukseskan kegiatan kajian ini, khususnya kepada pihak Kampus STAIN Majene.

Mengurai Keindahan Pertemuan Annangguru Ilham Saleh dan Buya Arrazy

Sejak Minggu pagi, suasana di Markas Besar PP Darul Ulum Saleppa Majene mulai tampak sibuk. Panitia bekerja mempersiapkan segala keperluan, sementara jamaah berdatangan secara perlahan dan memadati halaman depan pesantren. Di tengah aktivitas pemasangan dua unit televisi besar, tampak pula satu unit mobil panitia yang mendistribusikan konsumsi berupa nasi kotak bagi para peserta kajian.

Pada waktu yang sama, melalui media sosial (Facebook), terpantau Abuya Arrazy Hasyim tengah mengisi Tabligh Akbar di Masjid At-Taubah Imam Lapeo dengan tema “Meneladani Sifat Rasulullah Saw: Jalan Mudah Menuju Surga.” Agenda Kajian Tasawuf di PP Darul Ulum Saleppa memang dijadwalkan berlangsung setelah kegiatan Abuya Arrazy di Lapeo selesai. Usai acara tersebut, beliau dijadwalkan bertolak ke Saleppa dan makan siang di lokasi pesantren.

Tepat ba‘da Zuhur, Buya Arrazy bersama istri dan rombongan tiba di Saleppa. Penulis yang sebelumnya mengikuti salat berjamaah di masjid yang berada tepat di depan markas PP Darul Ulum, mendengar lantunan hadrah dan selawat yang dikumandangkan para santri sesaat setelah salam. Doa pun disudahi seadanya, sebab kekhawatiran muncul –ruang kajian bisa penuh terisi jamaah, sementara penulis memiliki tugas khusus dari Annangguru Ilham Saleh.

Penulis memang ditugaskan secara khusus sebagai penanya dalam forum Kajian Tasawuf tersebut. Karena itu, penulis segera mengambil tempat di bagian depan, tidak jauh dari Annangguru K.H. Muhammad Ilham Saleh dan Buya Arrazy Hasyim.

Pada momentum ini, tampak jelas bagaimana Annangguru K.H. Muhammad Ilham Saleh memberi ruang seluas-luasnya kepada murid-muridnya untuk memperluas wawasan dan memperdalam ilmu. Beliau membuka kesempatan interaksi dengan para ulama, kiai, dan tokoh-tokoh yang hadir di Saleppa, sebagai bagian dari proses pembelajaran spiritual dan intelektual.

Saat tiba, Buya Arrazy tidak langsung memasuki ruang kajian. Beliau terlebih dahulu menuju lantai bawah untuk menikmati jamuan makan siang. Sekitar dua puluh orang turut makan bersama beliau, termasuk Annangguru K.H. Muhammad Ilham Saleh. Tampak pula mendampingi Buya Arrazy dari Lapeo, seorang kiai muda keturunan Imam Lapeo, Dr. Ahmad Multazam, yang selanjutnya akan menemani perjalanan Buya Arrazy ke Kalukku, Mamuju.

Menariknya, setelah makan bersama, terjadi peristiwa yang sarat makna. Buya Arrazy menyampaikan keengganannya untuk turun mengisi kajian sebelum menerima ijazah Tarekat Qadiriyah dari Annangguru K.H. Muhammad Ilham Saleh. Nampan makan yang semula berada di hadapan mereka pun digeser. Buya Arrazy kemudian bergerak mendekat ke arah Annangguru dengan cara ngesot –bergerak maju sambil duduk dan menyeret tubuh di lantai. Kedua lutut dirapatkan, tangan berjabat, lalu Annangguru tampak membisikkan sesuatu ke telinga Buya Arrazy. Adegan tersebut tampak sebagai sebuah proses talqin yang khidmat dan penuh keheningan spiritual.

Dalam proses memberi dan menerima ini, terpancar keindahan yang nyaris tak terlukiskan –sebuah tiara spiritual yang hanya dapat dipertunjukkan oleh para tokoh yang telah menukik jauh ke kedalaman dunia sufistik. Dunia yang sarat dengan keindahan dalam teks, kata, dan laku simbolik.

Terima kasih Guru, Annangguru K.H. Muhammad Ilham Saleh atas kepercayaan yang diberikan kepada penulis sebagai penanya dalam forum Kajian Tasawuf itu. Terima kasih pula kepada Buya Arrazy Hasyim yang berkenan menutup acara dengan meletakkan statemen tegas: “Fanalah Muhammad, nyatalah Ahmad, fanalah Ahmad, nyatalah Ahad” lalu membagi zikir atau wirid pamungkas: “Ahad dzatullah, Ahmad Nurullah, Muhammad Nurullah, Al-Mahdi Khalifatullah,” sebagaimana penulis mohonkan sebagai penutup rangkaian pertanyaan yang kemudian diijazahkan untuk seluruh jamaah yang hadir mengikuti kajian.

Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih.

Tinambung, 15 Desember 2025

Al-faqir,
Hamzah Ismail

Sabtu, 06 Desember 2025

Dr. ABD. RAHMAN HAMID || Seminar Hasil Penelitian Mahasiswa UIN RIL -Membaca Dunia Maritim Indonesia




Bandarlampung, 5 Desember 2025, mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab UIN Raden Intan Lampung menggelar seminar hasil penelitian di Perpustakaan Nasional RI, Arsip Nasional RI, dan Museum Bahari Jakarta. Seminar dilaksanakan di Ruang Seminar Fakultas Adab, merupakan bagian dari laporan praktikum mata kuliah (1) Sejarah Maitim Indonesia dan (2) Bahasa Sumber dengan dua dosen pengampu yaitu: Dr. Abd Rahman Hamid dan Agus Mahfudin Setiawan, M.Hum.    

Ketika membuka acara, Ketua Prodi SPI mengatakan bahawa kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan mahasiswa menelusuri sumber-sumber sejarah maritim yang tersedia di tiga instansi tersebut. Setelah seminar ini, setiap kelompok akan mengirimkan artikelnya ke jurnal nasional.  

“Dengan menerbitkan artikel di jurnal nasional, selain untuk memenuhi luaran mata kuliah, juga yang terpenting adalah untuk menambah jumlah publikasi mahasiswa sebelum menyelesaikan studi di Prodi SPI”, terang Dr. Hamid. 

Semester lalu, setelah praktikum mata kuliah di Banten, mahasiswa telah menghasilkan 6 judul artikel yang terbit di jurnal nasional. Jadi, kalau semester ini bisa terbit lagi satu artikel, maka sudah ada dua artikel yang dihasilkan sampai semester lima  ini”, kata Dr. Abd Rahman Hamid.       

Sementara itu, dosen pengampu mata kuliah Bahasa Sumber, Agus Mahfudin Setiawan, M.Hum, mengapresiasi semangat tinggi mahasiswa dalam proses pengumpulan sumber sejarah di Jakarta. “Sumber tulisan ini sudah bagus, sisa ditingkatkan lagi arah dan fokus artikel masing-masing. Jadi, artikel ini perlu diperbaiki lagi agar lebih fokus pada tema kajian”, terangnya.  

Seminar ini dihadiri oleh 45 mahasiswa Prodi SPI dengan menampilkan 10 topik kajian yang dibagi menjadi dua sesi diskusi. Lima topik pada sesi pertama membahas mengenai pelabuhan di Lampung (Telukbetung dan Oosthaven), Emmahaven (pelabuhan Padang), pelabuhan Sabang (Aceh), pelabuhan Surabaya, dan pelabuhan Makassar. Sesi ini dipandu oleh Amira Zahida Mumtaz. 

Dua pelabuhan Lampung yang berada di Telukbetung menjadi cikal bakal lahirnya Kota Bandar Lampung. Aktivitas pelabuhan Telukbetung melahirkan Kota Telukbetung, sebagai kota lama Lampung. Sementara aktivitas Oosthaven (Panjang) melahirkan kota baru Tanjungkarang. 

Selanjutnya, lima topik sesi kedua mengkaji mengenai pelabuhan di Kalimantan Timur dan Selatan, pelabuhan Ende (Nusa Tenggara), pelabuhan di Maluku (Ambon dan Ternate), pelayaran laut nasional Indonesia (PELNI), dan peranan Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) dalam revolusi Indonesia. Sesi ini dipandu oleh Reisya Aulia Khabiba. 

Selain menampilkan artikel hasil kajian, dalam seminar ini juga ditampilkan video dokumenter perjalanan praktikum Sejarah Maritim Indonesia dan Bahasa Sumber yang dilaksanakan di Jakarta pada  4 – 6 November 2025. 

Belajar sejarah tidak cukup dengan membaca buku-buku sejarah saja, tetapi juga perlu praktik lapangan untuk menelusuri sumber-sumber sejarah dan menuliskannya menjadi narasi sejarah berupa artikel untuk dipublikasikan ke jurnal nasional, kata Ketua Prodi SPI Dr. Abd Rahman Hamid menutup seminar ini.

Kamis, 04 Desember 2025

Kontribusi Saran untuk DOB Kota Mamuju

Catatan Hajrul Malik

Mamuju, 4 Desember 2025 — Dalam rangkaian Focus Group Discussion (FGD) Studi Kelayakan Pembentukan Daerah Otonom Baru (DOB) Kota Mamuju, saya berkesempatan memberikan masukan strategis sebagai Tenaga Ahli Gubernur Sulawesi Barat. FGD ini dilaksanakan oleh Universitas Brawijaya selaku tim pengkaji akademik, bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Mamuju, dan berlangsung di Ballroom Matos Mamuju.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Gubernur Sulawesi Barat yang membuka acara secara resmi, serta Bupati Mamuju, tokoh masyarakat, Wakil Ketua dan sejumlah anggota DPRD Sulawesi Barat, anggota DPRD Mamuju, dan perwakilan DPR RI. Kehadiran unsur Biro Otonomi Daerah Kemendagri turut memberikan bobot penting terhadap arah pembahasan.

Dalam forum ini, saya menyampaikan beberapa saran utama yang dianggap relevan untuk memperkuat kelayakan DOB Kota Mamuju, di antaranya:

1. Urgensi penataan governance Ibu Kota Provinsi agar lebih adaptif terhadap tekanan layanan publik dan pertumbuhan urban yang semakin cepat.

2. Pentingnya penyusunan Masterplan Kota Mamuju 2035, yang memadukan perencanaan ruang, potensi ekonomi, layanan dasar, serta mitigasi bencana sebagai identitas kota yang modern dan tangguh.

3. Penguatan analisis fiskal dan proyeksi PAD, sehingga Kota Mamuju sebagai DOB memiliki dasar kemampuan keuangan yang memadai untuk lima tahun pertama penyelenggaraan pemerintahan.

4. Penegasan nilai strategis Mamuju sebagai kota penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN), sehingga pembentukan kota baru ini sejalan dengan arah kebijakan pembangunan nasional.

Forum ini tidak hanya menghimpun pendapat, tetapi juga mempertemukan pandangan pemerintah pusat, daerah, akademisi, dan masyarakat untuk merumuskan langkah yang paling tepat bagi masa depan Mamuju.

Saya percaya bahwa dengan kajian ilmiah yang kuat dari Universitas Brawijaya dan komitmen semua pemangku kepentingan, ikhtiar menuju DOB Kota Mamuju akan berjalan lebih terarah, inklusif, dan bermanfaat bagi percepatan pembangunan Sulawesi Barat.

Semoga kontribusi kecil ini menjadi bagian dari upaya besar memajukan Mamuju menuju status kota yang modern, berdaya saing, dan melayani warga dengan lebih baik.


#DOBKotaMamuju
#MamujuMenujuKota
#SulbarMaju
#FGDKotaMamuju
#UniversitasBrawijaya
#PemkabMamuju
#PemerintahSulbar
#TenagaAhliGubernur
#MamujuKeren


Rabu, 19 November 2025

TITIK TERANG || Penari di Atas Kuburan

Oleh: Hamzah Ismail

Heboh penari di atas kuburan dua tiga hari terakhir, mulai menemui titik terang. Menurut info A1 dari sumber yang layak dipercaya, aksi ini bagian dari tugas pengembangan tari Pattuqduq oleh seorang mahasiswa. Mereka menari di atas kuburan itu, ternyata menjadi bagian dari riset mereka. 

Menjadi miris, sebab selain mendapat kecaman keras di medsos, ternyata mahasiswa tersebut juga mendapat teguran dari kampusnya, bahkan diancam tidak diikutkan ujian jika tidak segera datang ke Mandar meminta maaf.

Dalam hubungan itu, menyikapi kejadian tersebut kita mesti lebih mengedepankan kejernihan pikiran. Peristiwa ini tidak lagi dijadikan ajang memojokkan atau menghakimi. Kepada mahasiswa itu tetap perlu diberi ruang untuk belajar sambil mendudukan halnya secara proporsional, dengan penuh pengertian dan empati bahwa ia sedang berada dalam tahap pembelajaran, dan kesalahan dalam eksperimen seninya adalah bagian wajar dari proses itu. Olehnya, meski ia tak segera datang menghadap minta maaf, kita mestinya lebih awal mengulurkan tangan memberi maaf.

Kejadian ini menjadi pengingat bahwa dalam proses pengembangan seni, budaya, dan pendidikan, ruang belajar, kesadaran, pengertian, dan komunikasi harus berjalan beriringan, agar ekspresi kreatif tetap menghormati warisan budaya tanpa menghilangkan kesempatan belajar.
 
Dalam pandangan kami, masalah ini menjadi begitu heboh hanya karena terlewatinya sebuah proses sederhana: bicara-bicara (komunikasi). Bukankah, apa pun masalahnya, banyak hal bisa berjalan dan terselesaikan hanya dengan dialog yang terbuka – bicara-bicara?

Klir dan selesai, menurut saya.

Tabeqqq
Tinambung, 19/11/2025
@sorotan

Selasa, 18 November 2025

Penari Menari diatas Makam Rajanya

Catatan Rahmat Polanagau 

1-2 hari ini berita Penari di makam sakral lagi viral dan saya kira itu tidak mengherankan. Ragam paradoks didalamnya mendorong letupan itu.
Pada postingan ini saya sertakan dua gambar, satu adalah video viral yang saya svreenshoot dan satunya lagi lukisan saya di tahun 2008, saya berpikir belajar /study sendiri untuk karya naturalis. (Referensinya adalah karya salah satu maestro lukis nasional) saya merubah sesuatu didalamnya agar karya ini tak dikejar sebagai plagiat (ini adalah study dan itu lumrah saja). Saya tidak akan membicarakan itu hanya sebagai ilustrasi saja.

Jadi begini, hehehh 
Mensoalkan Penari di makam sakral itu, untuk semua yang kebetulan membaca.

Apakah dimungkinkan dalam moment tertentu pada pikiran kita memahami bahwa tari adalah laku ritual, simbolisasi kesadaran yang estetis, yang mendorong sinkronitas wujud dan rasa pada kesakralan sesuatu. lalu berharap bahwa para penari itu telah merepresentasikan penghormatan diri pada kemuliaan raja, budaya dan sejarah. Andai seperti itu bukankah notabene itu adalah hasrat mayoritas Orang Mandar yang menghargai sejarah dan eksintensinya.
Para pengamat dan penggiat seni serta kritikus seni pertunjukan harus mengambil ruang untuk memposisikan ini dengan teori teori pendekatan kritik dalam seni pertunjukan.

Pada sisi lain jika para penari yang dikemudikan koreografernya itu mengaktualisasi karya itu sebagai karya yang bersifat artifisial (murni ekspresi simbolik dan estetis,.dalam artian bukan sebagai ritual kepercayaan maka niscaya akan menjadi sesuatu yang kontradiktif ketika Ia mengambil alih ruang sejarah budaya dan spiritual yang Sakral dan disakralkan serta terframe sebagai bagian identitas masyarakatnya.. Perbedaan yang bergesekan adalah sebuah keniscayaan.

Titik temu penerimaan atau persepakatan mungkin bisa hanya jika para pelaku tari itu menyadari kebebasan sebagai ketidak bebasan dalam keliaran baik sebelum dan sesudah karya itu meng-ada. Kejadian ini sudah tidak bisa di rewind lagi, Ia hanya bisa direposisi dalam persepsi dan perspektif setelah dilakukan kajian mendalam yang tentu dari beberapa elemen yang dimungkinkan peduli dan terlibat.

Sebagai individu dalam dunia seni (seni rupa) sangat menyayangkan kejadian ini. Dengan stimulan yang kuat (media cepat dan tanpa limit) mayoritas masyarakat tentu akan lebih condong berasumsi bahwa kehadiran dari karya yang di tempatkan di situs sakral itu adalah realitas dari isi pikiran yang banal, yang birahi pada popularitas dengan pilihan sensasional dan sangat kontroversial.

Kreatifitas tak terbatas dan dunia memungkinkan eksplorasi yang bebas diruang kejujuran dan kebebasan dalam konteks Seni,  tapi laku hidup sebisanya harus tetap berpihak pada sikap Sadar Ruang. Kebebasan manusia adalah kebebasan yang dibatasi manusia lainnya. Batas batas sikap adalah kunci balance dan harmoni dalam tatanan yang telah diidealkan pada masyarakat tertentu.

Ini semacam kecelakaan ekspresi, seperti aktifitas grafitti "orang orang baru" pada dinding sakral abadi dihadapan para khalayak pemiliknya 🙂. Tapi apapun problemnya jika nilai luhur budaya diimplementasikan maka kebijaksanaan adalah jawabannya. Meski demikian jika dimungkinkan buatkanlah aturan khusus aktifitas yang dibolehkan di situs itu sebagai acuan sekaligus dengan sanksi bagi pelanggarnya.

Tak semua harus berubah dan diubah ada hal hal yang sudah cukup dalam ruang identitas makro.

Buat mereka penari dan koreografernya, Selamat berkarya, pilih jalan yang pintar dan baik selagi masih berkutat dalam seni yang Gandrung  keartistikan. 

#videoviral
#penaridiatasmakam
#artscultureproblematic
#smallrespons
#RSVAletters

Sabtu, 08 November 2025

Pendidikan dan Industri Pencipta Masyarakat Berpengetahuan.

Catatan Hajrul Malik

Akhir pekan ini bersama wamenlu HM. Anis Matta ditengah aktivis pendidikan yang berkumpul dalam  wadah Share Edu Indonesia di Mercure Ancol, beliau memberikan beberapa arahan pada kami yang terus berikhtiar menciptakan spektrum baru pendidikan nasional dengan tema "transformasi pendidikan nasional menuju Indonesia Global. 

Inti dari pekerjaan kita bukan pada sekolah.
Sekolah hanyalah instrumen.
Yang menjadi inti adalah industri yang menciptakan masyarakat.

Sama halnya dengan politik — pekerjaan kita di sana bukan sekadar berpartai, tetapi membangun industri pemikiran, yang akan menjadi fondasi dalam mengelola negara.

Karena itu, antara dunia pendidikan dan dunia politik seharusnya bekerja bersama dalam satu ekosistem peradaban.
Sekolah mencetak manusia.
Partai mengarahkan arah gerak masyarakat.
Keduanya bertemu dalam satu tujuan: membangun masa depan bangsa.

Namun saya khawatir, jika cara berpikir yang tumbuh di sekolah masih berhenti pada transfer pengetahuan.
Karena pekerjaan itu sekarang sedang digantikan oleh mesin.

AI telah mengoleksi seluruh produk pengetahuan manusia.
Ia tidak tidur, tidak lelah, dan tidak lupa.
Jika mengajar hanya berarti mentransfer pengetahuan, maka guru pelan-pelan akan kehilangan maknanya.

Di sinilah tantangan besar pendidikan masa depan:
apa arti mengajar di tengah dunia yang seluruh sumber pengetahuannya sudah dikuasai mesin?

Maka pendidikan tidak bisa lagi berhenti pada pengetahuan.
Ia harus naik derajat — menjadi industri pembentukan manusia.
Yang kita hasilkan bukan sekadar orang tahu, tapi orang paham siapa dirinya, ke mana dia menuju, dan bagaimana dia berkontribusi bagi dunia.

Saya ingin mengingatkan, bahwa dalam sejarah kita dulu, dunia pendidikan dan dunia sosial pernah terbelah.
Ada masa ketika seorang muslim yang saleh dianggap terbelakang, dan yang maju dianggap tidak saleh.
Seolah-olah kesalehan dan kemajuan tidak bisa bersatu.

Tapi alhamdulillah, era itu sudah lewat.
Kita sekarang bisa menjadi pribadi yang saleh tanpa inferioritas.
Kita berdiri tegak di dunia modern tanpa kehilangan arah spiritual kita.

Hanya saja, kita masih berhadapan dengan kenyataan pahit:
meskipun kita memiliki prinsip “Al-Islamu ya‘lu wa la yu‘la ‘alaihi” — Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya — namun dalam kenyataan, kita masih kalah dalam teknologi, pengetahuan, bahkan militer.

Kita punya prinsip yang tinggi, tapi belum punya kekuatan yang setara.

Lalu apa sumbangan kita melalui Share Edu?

Salah satu prinsip besar dalam pendidikan Qurani adalah at-tarbiyah bil-ahdāṡ — pendidikan melalui peristiwa.
Al-Qur’an turun tidak sekaligus, tapi berangsur, menjawab tantangan demi tantangan berdasarkan konteks peristiwa.
Itulah sebabnya Al-Qur’an tidak pernah kehilangan relevansinya.

Setiap zaman bisa menemukan dirinya di dalam Al-Qur’an,
asalkan kita mau membacanya dengan kesadaran peristiwa —
membaca realitas dan ayat secara bersamaan.

Karena itu, tugas kita hari ini adalah menemukan kembali ilham baru dari Al-Qur’an, lalu menanamkannya ke dalam sistem pendidikan dan industri pengetahuan kita.

Kita akan terus menghadapi masalah yang relatif sama di seluruh dunia — kemiskinan, ketimpangan, perubahan teknologi, krisis lingkungan — tetapi yang akan membedakan kita hanyalah cara meresponsnya.

Kalau pendidikan kita tidak relevan dengan isu-isu global itu,
anak-anak kita akan tumbuh dalam isolasi intelektual.
Mereka hidup di zaman global, tapi berpikir dalam ruang sempit lokal.

Maka kita harus membangun learning society — masyarakat yang terus belajar, beradaptasi, dan tumbuh bersama perubahan dunia.

Jika semua ini kita padukan,
maka akan kita lihat bahwa revolusi besar masa depan akan ditentukan oleh perubahan dalam dunia pendidikan.

Pendidikan bukan lagi sekadar ruang belajar,
tetapi akan menjadi industri terbesar masa depan,
industri yang melahirkan peradaban baru.

Karena pada akhirnya,
perubahan dunia bukan ditentukan oleh mesin, tetapi oleh manusia yang berpikir.

Selasa, 28 Oktober 2025

Caha Maha Cahaya ‘Dilarang Tampil’ Gara-gara: Arab Tanpa ‘Ain, Ahmad Tanpa Mim

Catatan Hamzah Ismail 

Pada tahun 1990-an, Teater Flamboyant Mandar berada pada puncak produktivitasnya. Saat itu, mereka tengah menyiapkan sebuah pertunjukan teater yang judulnya diambil langsung dari buku puisi karya Emha Ainun Nadjib (Mbah Nun), berjudul Cahaya Maha Cahaya.

Kebetulan, proses penciptaan karya pertunjukan tersebut mendapat perhatian langsung dari Mbah Nun. Ia bahkan mengirim seorang sutradara khusus untuk mendampingi proses awal produksi, yaitu Agung Waskito, yang sebelumnya sukses menyutradarai pementasan Lautan Jilbab.

Proses latihan berlangsung sekitar dua bulan. Menariknya, naskah dan tata musik pertunjukan digarap langsung selama proses latihan berlangsung. Tidak seperti pertunjukan teater pada umumnya yang berangkat dari naskah jadi, Cahaya Maha Cahaya justru lahir dari dinamika improvisasi para pemain dan arahan sutradara di ruang latihan.

Rencana awalnya, karya teater Cahaya Maha Cahaya ini akan dibawa berkeliling ke beberapa daerah setelah terlebih dahulu dipentaskan di Tinambung sebagai penampilan perdana. Setelah segala persiapan dinyatakan selesai, pentas perdana pun digelar di Eks Gedung Bioskop Harapan, Tinambung.

Layaknya pemutaran film, pertunjukan ini menjual tiket kepada penonton. Dan, Alhamdulillah, ratusan tiket berhasil terjual, sebuah capaian yang membanggakan bagi kelompok teater daerah pada masa itu. 

Keberhasilan pementasan di Tinambung menjadi pemantik semangat baru untuk membawa Cahaya Maha Cahaya melancong ke Parepare. Syarifuddin Razak ---yang kini dikenal sebagai Kepala Desa Tandung--- menjadi salah satu penggerak utama rencana tersebut. Ia berusaha membujuk sepupunya, Andi Samsani, agar membantu membuka jalan. Kebetulan, ayah Andi Samsani saat itu menjabat sebagai pejabat militer di Korem Parepare. Alhasil, Andi Samsani bersedia menjadi sponsor pribadi sekaligus satu-satunya penanggung logistik bagi keberangkatan dan pementasan Cahaya Maha Cahaya ke Parepare.

***

Setelah semua persiapan dirasa matang, tim Cahaya Maha Cahaya berangkat ke Pare-Pare menggunakan bus umum. Sekitar tiga puluh orang, terdiri dari pemain dan kru, ikut dalam perjalanan itu. Setibanya di Pare-Pare, mereka ditempatkan di salah satu rumah warga setempat.

Menariknya, pemain dan kru sempat berada di Pare-Pare selama beberapa hari sebelum bisa manggung. Mereka tidak bisa segera tampil karena proses perizinan belum selesai. Sambil menunggu, kegiatan mereka terbatas pada latihan kecil-kecilan, makan, dan tidur.

Tim produksi, yang dipimpin Andi Samsani, bergerak cepat untuk mengurus perizinan. Meski demikian, izin tidak dapat langsung diterbitkan karena ada dua kendala. Kendala utama ternyata terletak pada dua kalimat dalam naskah yang dibaca pihak berwenang; kata-kata itu terdengar janggal dan asing. 

Meski menghadapi hambatan, tim produksi terus mencari jalan. Mereka terlanjur berada di Pare-Pare dan Cahaya Maha Cahaya harus dipentaskan. Akhirnya, mereka bertemu dengan seorang perwira polisi asal Sendana yang juga sedang bertugas di Pare-Pare, Saeruddin Mandra, dan bersedia menjadi jaminan. Berkatnya, izin akhirnya diterbitkan dan pementasan pun diperbolehkan.

Dua kalimat yang sempat mengganjal proses perizinan itu adalah “Arab bila ‘ain dan “Ahmad bila mim,” sebuah terminologi dari khazanah tasawuf, yang merujuk pada “Arab tanpa ‘ain (Rab)” dan “Ahmad tanpa Mim (Ahad).” 

Padahal dalam naskah itu terdapat puisi yang jauh lebih berdaya juang, sebuah sajak dari buku Cahaya Maha Cahaya, berjudul Hizib.
Bismillah alam semesta,
Bismillah darah manusia, …

Tabeqq…
Tinambung, 25/10/2025

Senin, 06 Oktober 2025

TAMMALELE || Sang Budayawan Nyentrik

Oleh : Ilham Sopu

Nama Tammalele yang akrab dipanggil A'ba Lele adalah nama yang sangat familier di daerah Mandar. Setiap berbicara budaya, seni, sosiolog, antropologi sekaitan dengan mandar, nama ini tidak pernah luput dari perbincangan. Dialog-dialog, diskusi-diskusi, seminar-seminar, pertemuan-pertemuan budaya, diskusi-diskusi pojok, diskusi-diskusi kampung, nama Tammalele selalu melekat dalam pertemuan tersebut. A'ba Lele adalah budayawan yang lahir  dari alam, universitasnya alam, budayawan yang lahir secara otodidak. Ia lahir di kappung Pambusuang di tahun 60 an. 

Di awal kehidupannya di kappung Pambusuang, A'ba Lele banyak ditempa dengan cerita-cerita ala Pambusuang yang biasanya berpusat di barung-barung di berbagai sudut kampung. Pambusuang kaya dengan berbagai tempat-tempat diskusi yang mengupas berbagai materi-materi diskusi yang muncul secara spontan, dan diperbincangkan di tempat-tempat pertemuan seperti "barung-barung", di tempat inilah yang menjadi ciri khas Pambusuang masa lalu dan sampai saat ini.

A'ba Lele bukan hanya mahir dalam bicara budaya, seni, tapi juga sangat menguasai term-term keagamaan klasik yang banyak diperbincangkan orang dengan analisis sosial kesejarahan Pambusuang pada masa dulu, dia banyak tau sejarah para annangguru di Pambusuang, pemikiran-pemikirannya, dan berbagai latar belakang keahlian para annangguru, serta perdebatan-perdebatan keilmuan antara satu annangguru dengan annangguru yang lain.

Perdebatan atau diskusi dengan sesama annangguru adalah hal yang sering terjadi di Pambusuang, dan itu secara tidak terjadwal, dimanapun mereka berkumpul, seperti di tempat-tempat hajatan, di pasar, di pinggir laut, di barung-barung, di sudut-sudut rumah, hampir selalu terjadi diskusi yang materinya lebih banyak berkaitan dengan masalah keagamaan. Lewat diskusi-diskusi seperti ini A'ba Lele kecil, banyak menyerap percikan-percikan pemikiran annangguru yang berdiskusi pada waktu itu. Disinilah tempat belajar A'ba Lele mengais ilmu-ilmu keagamaan dan model-model berdiskusi ala Pambusuang.

Model pembelajaran keagamaan yang didapatkan A'ba Lele bukanlah model formal, tapi lebih banyak model-model non formal lewat diskusi-diskusi ala kampung yang marak terjadi di berbagai tempat di Pambusuang pada waktu itu. Di tahun 80 an, A'ba Lele banyak menghabiskan waktunya untuk mengajar ilmu sejarah di pesantren Nuhiyah Pambusuang, sekaligus juga memanfaatkan untuk memperdalam ilmu-ilmu keagamaan kepada KH Abdurrahman, pimpinan pesantren Nuhiyah Pambusuang yang dikenal sebagai annangguru yang banyak mengkader generasi-generasi pelanjut keilmuan keagamaan di Pambusuang.

Disamping penguasaan metode-metode debat ala Pambusuang, A'ba Lele juga aktif mengikuti perkembangan keilmuan nasional lewat tokoh-tokoh nasional yang menjadi rujukannya, seperti Emha Ainun Najib yang lebih akrab dipanggil Cak Nun, seorang budayawan yang mumpuni, sekaligus seorang Kiai. A'ba Lele banyak mengais ilmu lewat Cak Nun, melalui interaksi langsung maupun lewat buku-buku Cak Nun yang banyak beredar di tahun 80 an sampai 90 an, hampir semua buku-buku Cak Nun menjadi koleksinya dan betul-betul menguasai pemikiran-pemikiran Cak Nun.

Pemikiran-pemikiran keagamaan A'ba Lele lebih banyak diraup dari pemikiran keagamaan Cak Nun, sehingga A'ba Lele ini bisa disebut anak pemikiran ideologis Cak Nun, dan memang tempat tinggal A'ba Lele sekarang ini, ada terbentuk komunitas pencinta Cak Nun tepatnya di Tinambung, yang dikenal sebagai kampung yang banyak melahirkan budayawan-budayawan handal di tanah mandar, seperti budayawan atau panglima puisi Husni Jamaluddin.

A'ba Lele saat ini, lebih banyak menghabiskan waktunya untuk memberikan pencerahan kebudayaan kepada generasi-generasi muda di wilayah Sulbar khusus Balanipa Majene, hampir semua kegiatan-kegiatan budaya seni dan keilmuan lainnya A'ba selalu menjadi rujukan utama dalam memberikan kontribusi untuk generasi pelanjut terkait dengan kemajuan kebudayaan di tanah Mandar. Kehadiran berbagai tokoh-tokoh budaya nasional, di Sulbar A'ba Lele selalu menjadi rujukan pendamping sebagai pembicara untuk mendampingi tokoh-tokoh nasional tersebut.

Dan sudah banyak kader-kader ideologis A'ba Lele yang ada di Sulbar bahkan ditingkat nasional, untuk melanjutkan pemikiran-pemikirannya. Jejak-jejak pemikiran budaya A'ba Lele sudah banyak tersebar dimana-mana di wilayah Sulbar, dan pemikiran itu sebagai aset Sulbar sebagai rujukan dalam membangun sulbar khususnya yang terkait pembangunan kebudayaan di Sulawesi Barat, saatnya sekarang pemerintahan Sulbar untuk bisa memberi apresiasi terhadap berbagai sumbangan pemikiran kebudayaan terhadap A'ba Lele.

(Bumi Pambusuang, 6 Oktober 2025)

Sabtu, 28 Juni 2025

SUTERA MANDAR DALAM NAFAS PEMBANGUNAN KALIMANTAN TIMUR

Oleh: Safardy Bora

Dalam helai-helai halus Lipa Sa`be Mandar—sarung sutera Mandar—tertenun tidak hanya benang, tetapi sejarah, harga diri, dan peradaban. Kain tradisional yang berasal dari dataran Mandar ini bukan sekadar hasil olah tangan para perempuan kampung yang setia menjaga wasiat leluhur, melainkan juga lambang keagungan budaya yang menyatu dalam semangat nasionalisme, ketahanan sosial, serta narasi perjuangan lintas generasi.

Lipa Sa`be bukan sekadar kain; ia adalah narasi kolektif masyarakat Mandar tentang keanggunan, keberanian, dan keteguhan hati. Pada masa lalu, Puang Depu, seorang perempuan bangsawan dari Tinambung, menjadikan sarung sutera Mandar sebagai simbol perlawanan terhadap kolonialisme. Hari ini, makna simbolik itu hidup di tanah Borneo, namun dalam wajah baru: perjuangan di medan pembangunan, pengabdian di jalur politik, dan dedikasi dalam pemerintahan yang adil.

Tiga tokoh Kalimantan Timur dari keluarga besar Bani Mas’ud:
Dr. Ir. H. Hasanuddin Mas’ud, S.Hut., M.E,
Dr. H. Rahmad Mas’ud, S.E., M.E,
dan Dr. H. Rudy Mas’ud, S.E., M.E,
adalah representasi kontemporer dari semangat yang dahulu terpatri dalam kain Lipa Sa`be: ketekunan dalam pengabdian, keberanian mengambil risiko, dan komitmen untuk membela kepentingan rakyat, dengan tetap berpijak pada nilai-nilai budaya dan agama.

Hasanuddin Mas’ud: Entrepreneur Visioner dalam Arus Legislasi
Dr. Ir. H. Hasanuddin Mas’ud adalah seorang entrepreneur visioner yang menanamkan akar usahanya di bidang minyak dan perkapalan, properti, dan agribisnis di Kalimantan Timur. Jiwa wirausahanya lahir dari kedalaman tradisi Mandar—berani, jujur, dan ulet. Dari medan usaha inilah ia tumbuh menjadi tokoh masyarakat yang tangguh dan dipercaya memimpin DPRD Kalimantan Timur sebagai ketuanya.

Sebagai entrepreneur, ia tak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mengusung prinsip keadilan sosial dan pembangunan berkelanjutan. Kepemimpinannya di lembaga legislatif membawa semangat dunia usaha ke dalam kebijakan publik: efisiensi, inovasi, dan keberpihakan pada ekonomi kerakyatan. Dalam dirinya, teranyam benang Mandar yang menyatukan keberanian tradisi dan strategi modern.

Rahmad Mas’ud: Menenun Kota Balikpapan dengan Gagasan Besar
Dr. H. Rahmad Mas’ud, selain pengusaha minyak dan perkapalan ia juga seorang Wali Kota Balikpapan, ia telah menjadi simbol kepemimpinan generasi baru yang memadukan akar budaya dengan manajemen kota modern. Dalam periode kepemimpinannya, Balikpapan tidak hanya tumbuh sebagai kota industri energi, tetapi juga menjadi kota yang ramah lingkungan, inklusif, dan sarat penghormatan terhadap kearifan lokal.

Rahmad Mas’ud meyakini bahwa kota bukan sekadar tumpukan beton, melainkan ruang hidup yang harus ditenun dengan rasa keadilan sosial dan keindahan budaya. Baginya, sutera Mandar bukan hanya warisan, tetapi juga filosofi: kuat, lentur, dan menyejukkan.

Rudy Mas’ud: Dari Parlemen ke Kursi Gubernur Kalimantan Timur
Dr. H. Rudy Mas’ud menapaki jalan politiknya sebagai Anggota DPR RI Komisi VII, tempat ia memperjuangkan aspirasi Kalimantan Timur dalam bidang energi, teknologi, dan pembangunan strategis. Di Senayan, ia dikenal sebagai legislator muda dengan suara tegas dan pendekatan solutif.

Namun langkahnya tidak berhenti di parlemen. Dengan dukungan kuat dari masyarakat lintas etnis, jaringan kultural, serta basis akar rumput, Rudy Mas’ud kemudian terpilih secara demokratis sebagai Gubernur Kalimantan Timur. Kemenangannya bukan hanya kemenangan politik, tetapi juga peristiwa budaya—karena untuk pertama kalinya, nilai-nilai Mandar kembali hadir secara nyata dalam kursi eksekutif tertinggi provinsi.

Sebagai Gubernur, Rudy mengusung misi besar: menjadikan Kalimantan Timur tidak hanya sebagai gerbang Ibu Kota Negara, tetapi juga sebagai episentrum pertumbuhan hijau, inklusif, dan berbasis komunitas. Ia menenun strategi pembangunan yang berpihak pada rakyat, dan memadukan daya budaya dengan ketangguhan birokrasi.

Dari Sarung ke Strategi: Makna Budaya yang Terus Bergerak
Apa yang diwariskan oleh Lipa Sa`be hari ini bukan hanya kain, melainkan etos kerja, keberanian memimpin, dan keteguhan moral. Tiga tokoh ini—Hasanuddin, Rahmad, dan Rudy—adalah bukti nyata bahwa warisan budaya bukanlah benda mati. Ia hidup dalam keputusan-keputusan penting, dalam keberpihakan kepada rakyat, dan dalam jejak langkah pembangunan.

Dalam konteks Kalimantan Timur, di mana geopolitik, demografi, dan ekologinya berubah begitu cepat, ketiga tokoh ini telah menjadi penjaga harmoni antara masa lalu dan masa depan. Mereka menenun ulang identitas daerah dalam bingkai nasionalisme yang beradab, santun, dan modern.

Penutup: Sutera yang Tak Pernah Kusut
Sama seperti sutera Mandar yang lembut namun kuat, peran para pemimpin muda Bani Mas’ud di Kalimantan Timur menunjukkan bahwa nilai-nilai luhur budaya bisa menjadi fondasi kepemimpinan modern. Dalam simpul-simpul strategis pembangunan daerah, mereka hadir bukan sekadar sebagai entrepreneur atau politisi, tetapi sebagai penjaga marwah: pemimpin yang menghidupkan kembali nilai-nilai lokal untuk menjawab tantangan global.

Sebagaimana Puang Depu mempertahankan tanah Mandar dengan lipa sa`be-nya, para pemimpin ini pun berdiri tegak membela tanah Kalimantan Timur, bukan dengan senjata, tetapi dengan gagasan, keberanian, dan keteladanan.

Salam budaya dan penghormatan kepada tanah leluhur.

Rabu, 25 Juni 2025

DEKONSTEUKSI KRISIS BUDAYA MANDAR


Dekonstruksi Krisis Budaya Mandar dalam Generasi Muda sebagai Basis Pembentukan Sistem Hukum Adat dan Pendidikan Karakter

By Safardy Bora 

Fenomena semakin lunturnya nilai-nilai budaya Mandar di kalangan anak muda merupakan gejala serius dari dislokasi identitas budaya. Untuk menjawabnya secara sistematis, perlu pendekatan multidimensi.

Identifikasi Masalah:

1. Sekolah
Kurikulum nasional cenderung menggeneralisasi nilai karakter tanpa memberi ruang cukup bagi kearifan lokal. Nilai-nilai budaya  belum terintegrasi dalam pola pembelajaran.


2. Orang Tua
Modernisasi dan tekanan ekonomi membuat banyak orang tua kehilangan waktu dan energi untuk mewariskan nilai budaya. Pola asuh bergeser dari nilai-nilai luhur ke pendekatan pragmatis.


3. Lingkungan Sosial
Komunitas sebagai benteng budaya tak lagi menjadi ruang pembiasaan nilai lokal. Media sosial, budaya populer, dan lingkungan perkotaan menggusur kebiasaan lokal yang dulunya hidup dalam permainan tradisional, ritual adat, dan interaksi sosial.

Analisis Akar Masalah (Root-Cause Analysis):

Dekulturasi akibat globalisasi yang tidak diimbangi revitalisasi budaya lokal.

Ketiadaan sistem hukum adat yang mampu menginternalisasi nilai-nilai seperti matturang loa dan mitawe dalam kehidupan sosial dan kelembagaan modern.

Tidak adanya regulasi lokal (perda atau kebijakan sekolah) yang mewajibkan pendidikan karakter berbasis etika lokal Mandar.


Rekomendasi:

1. Pembentukan Sistem Hukum Adat Berbasis Pendidikan Karakter Lokal
Pemerintah daerah dapat merumuskan Perda Perlindungan Nilai Budaya Mandar, yang menjadi dasar integrasi budaya dalam pendidikan dan pembangunan karakter.


2. Reformulasi Kurikulum Sekolah
Sekolah di wilayah Mandar perlu menyusun muatan lokal wajib yang mengajarkan nilai andian naissan, dikontekstualisasikan melalui metode bercerita, bermain, dan praktik sosial.


3. Penguatan Peran Komunitas dan Tokoh Adat
Komunitas lokal perlu difasilitasi untuk kembali menjadi ruang paissangang budaya, dengan revitalisasi ritual adat, bahasa ibu, dan etika sosial secara rutin.

Penutup: 
Yang efektif bukan hanya memetakan masalah, tapi mampu menggali akar sosiokulturalnya dan menjadikannya dasar penyusunan sistem sosial, hukum, dan pendidikan yang membumi. Nilai-nilai luhur Mandar bukan untuk dikenang, tapi untuk dihidupkan kembali dalam sistem yang konkret, adaptif, dan relevan bagi generasi sekarang.

Tawe, semoga bermanfaat 🙏🙏🙏

Sabtu, 21 Juni 2025

MANDAR BORNEO TIMUR ||Minoritas Berakar Panjang, Menjulang dalam Senyap

Safardy Bora

Orang Mandar di Kalimantan Timur ibarat pelita kecil di padang luas: sinarnya redup dari jauh, tetapi cukup terang untuk menuntun langkah siapa pun yang mau belajar dari teladan hidupnya.

Secara statistik, Mandar hanya sekitar 2–3% dari populasi Kaltim, namun jejaknya merambat jauh—dari istana Kutai Kartanegara abad ke-19, hingga kursi gubernur Borneo Timur hari ini.

Salah satu nama tertua yang tercatat adalah Abdul Hasan, guru ngaji dan penasihat agama Sultan Aji Muhammad Sulaeman (1845–1899). Di tangannya, ajaran agama meresap di istana Kutai Kartanegara. Sekitar 1871, beliau memimpin pembukaan Muara Badak, kawasan pesisir yang kelak tumbuh menjadi kantung perkampungan Mandar di timur Mahakam.

Menjelang abad ke-20, saudagar Mandar meniti jalur niaga pesisir. Haji Mas’ud Latif (1948–1997) di Samarinda dan Balikpapan terkenal sebagai pedagang ikan asin, minyak gas, sekaligus agen pengurusan dokumen kapal lewat PT Sinar Pasifik. Dari pondasi niaga keluarga inilah tumbuh anak-anak Mandar perintis generasi cendekia dan birokrat modern.

Warisan Haji Mas’ud ditumbuhsuburkan oleh anak-anaknya: Dr. H. Hasanuddin Mas’ud, Dr. H. Rahmad Mas’ud, dan Dr. H. Rudy Mas’ud. Mereka adalah simbol generasi Mandar urban yang tangguh: menyeimbangkan urat dagang leluhur dengan pendidikan tinggi, mengakar dalam bisnis minyak dan perkapalan, lalu menjulang di ranah birokrasi.

Dalam sejarah pemerintahan, H. Waris Husein mencatatkan diri sebagai putra Mandar pertama yang menjadi Wali Kota Samarinda pada dekade 1980–1990-an. Di tangan beliau, Samarinda menguat sebagai simpul perdagangan sungai Mahakam dan jalur distribusi dagang Borneo Timur.

Dalam ranah olahraga dan kepemudaan, Syahril HM Taher pernah menjabat Presiden Liga Indonesia dan memimpin Pemuda Pancasila Balikpapan. Namanya harum sebagai sosok yang menyatukan semangat olahraga dan organisasi kepemudaan di Borneo Timur.

Di panggung politik legislatif, Dahri Yasin dikenang sebagai politisi ulung. Lahir pada 1959, beliau menjadi anggota DPRD Kalimantan Timur lintas periode hingga 2020. Dengan gaya lobi yang santun dan jaring sosial yang kuat, Dahri Yasin dihormati kawan maupun lawan.

Ranah pendidikan pun berdiri kokoh di pundak Mandar. Prof. Dr. H. Masjaya, M.Si. menjabat Rektor Universitas Mulawarman (2014–2022). Atjo Jangnga turut tercatat sebagai petinggi Unmul. Di UINSI Samarinda, Prof. Muhammad Abzar Duraesa pernah menjadi Wakil Rektor, sedangkan Prof. Abdul Majid terkenal sebagai guru besar dan mubalig kharismatik yang menjaga marwah dakwah di Kaltim.

Dr. H. Hasanuddin Mas’ud, anak sulung Haji Mas’ud, menjabat Ketua DPRD Kalimantan Timur dua periode berturut-turut (2019–2024, terpilih lagi 2024–2029). Kepemimpinannya dikenal menyejukkan, piawai merangkul lintas suku, serta meneguhkan semangat musyawarah Mandar di panggung parlemen provinsi.
Dr. H. Rahmad Mas’ud, lahir 1976, meneruskan jalur niaga keluarga dan terjun ke panggung pemerintahan. Ia menjadi Wakil Wali Kota Balikpapan (2016–2021) dan terpilih sebagai Wali Kota Balikpapan (2021–2024). Gaya kepemimpinannya merakyat, fokus membenahi infrastruktur kota minyak.

Barisan muda pun menapak gagah. Agus Haris, sosok politisi muda Mandar, terpilih sebagai Wakil Wali Kota Bontang periode 2024–2029. Sementara di Senayan, Dr. H. Rudy Mas’ud berdiri sejajar dengan tokoh nasional: terpilih Anggota DPR RI sejak 2019, dan pada Pilgub 2024, ia memecahkan sejarah sebagai Gubernur Kalimantan Timur periode 2024–2029.

Dr. H. Rudy Mas’ud adalah potret Mandar kontemporer: pengusaha sukses, miliarder minyak dan perkapalan bersama ketiga saudara kandungnya, sekaligus pemimpin daerah setingkat provinsi. Ia menorehkan nama Mandar di barisan Gubernur Kalimantan Timur sejajar dengan nama-nama besar pendahulu, membuktikan pepatah “merantau dengan terhormat, pulang membawa kejayaan”.

Tak ketinggalan di panggung seni, Syarifuddin Pernyata berdiri sebagai sastrawan Kaltim yang puisinya meresap ke relung pesisir. Karyanya mengabadikan tutur Mandar dalam bentuk kata-kata lembut, mencatat jejak pesisir Mahakam dalam bait dan rima.

Demikianlah Mandar Borneo Timur: sedikit di hitungan statistik, besar di jejak moral. Dari Abdul Hasan di istana Kutai, H. Waris Husein di kursi wali kota, Syahril di Liga Indonesia, Dahri Yasin di parlemen, hingga Rudy Mas’ud di kursi gubernur — semua membuktikan, Mandar bukan sekadar minoritas di tanah rantau, tetapi penenun pengaruh dengan akhlak mala’bi’.

Semoga susunan ringkas ini menambah silaturahmi, menjadi pengingat akan akar yang tak pernah putus. Mohon maaf jika tulisan ini hadir tiba-tiba di beranda anda, segala kurang lebihnya saya titipkan pada kearifan pembaca sekalian.



Jumat, 21 Februari 2025

RETRET || Tradisi Baru Dalam Pemerintahan Prabowo.

By Muhammad Munir

Hari ini, Gubernur Sulawesi Barat bersama dengan gubernur, bupati dan walikota yang kemarin dilantik di Istana  akan memgikuri agenda retret kepala daerah sebagaimama dijadwalkan berlangsung di Akademi Militer (Akmil) Magelang, Jawa Tengah, 21-28 Februari 2025. Tidak hanya untuk menguatkan koordinasi kepada pemerintah pusat, kegiatan ini diharapkan bisa menjadi momen untuk menyerap aspirasi daerah sehingga pemerintahan tidak sentralistik.Jumlah kepala daerah yang bakal melaksanakan retret mencapai 505, mulai dari gubernur, bupati, hingga wali kota. Mereka berasal dari daerah yang tidak memiliki sengketa di Mahkamah Konstitusi atau perkaranya tidak berlanjut berdasarkan putusan dismissal.

RETRET adalah sebuah tradisi baru dalam pemerintahan Prabowo Subianto. Ini menjadi sebuah ritual khalwat mengundurkan diri dari dunia ramai untuk mencari ketenangan batin, lihat KBBI. Dalam Cambridge Dictionary, secara harfiah berarti menjauh dari suatu tempat atau seseorang untuk melarikan diri dari pertempuran atau bahaya. 
Kamus Merriam Webster menyebutnya sebagai tindakan menarik diri dari situasi yang dianggap sulit. 

Secara umum, istilah "retret" sering digunakan dalam konteks keagamaan Kristen. Tapi alam konteks pemerintahan, retret memiliki makna berbeda. Kegiatan ini bertujuan memberikan orientasi, pembekalan, dan pelatihan bagi kepala daerah agar lebih siap menjalankan tugasnya setelah dilantik.

Retret ini akan dibagi menjadi dua gelombang, dengan gelombang pertama diikuti oleh kepala daerah yang dilantik kemarin, termasuk Gubernur Sulbar dan 6 Bupati lainnya di Sulbar. Gelombang kedua akan menyusul setelah putusan Mahkamah Konstitusi terkait sengketa Pilkada.

Pemerintah menggelar retret selama sepekan bagi kepala daerah terpilih. Kegiatan retret ini digelar di Akademi Militer Magelang, mulai 21-28 Februari 2025. 

Selama sepekan kegiatan itu, seluruh kepala daerah akan mendapat sejumlah materi sebagai pembekalan sebelum menjalankan pemerintahan.
Kementerian dalam Negeri menyebut keberlangsungan kegiatan ini akan disokong oleh anggaran dari APBN sebesar Rp. 13,2 Miliar. 

Semoga helatan retret ini berbanding lurus dengan kinerja para Kepala Daerah, sehingga harapan rakyat benar benar tereksekusi dan janji kampanye kemarin bisa tertunaikan. Amin. 

Kamis, 20 Februari 2025

SDK -JSM || Mengubah Tantangan Jadi Peluang


By. Muhammad Munir

Pagi di lembaran ke-20 penanggalan Februari 2025, langit Jakarta tak secerah wajah-wajah kepala kaerah yang akan dilantik oleh Presiden RI, Prabowo Subianto di Istana negara. Dari pelataran Monas menuju Istana Negara, mereka akan dihadapkan pada sebuah agenda besar yang melibatkan kepala daerah terpilih hasil kontestasi Pilkada tahun 2024.

Terkonfirmasi, sebanyak 961 kepala daerah yang terdiri dari 33 gubernur dan wakil gubernur, 363 bupati dan wakil bupati, serta 85 wali kota dan wakil wali kota akan dilantik dalam satu rangkaian prosesi yang dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. Ini menjadi agenda bersejarah dan pertama terjadi di Indonesia. Mereka yang dilantik itu pasti merasakan antusiasme berbeda dari sejarah pelantikan kali ini.  Selama ini tingkatan bupati dan walikota pelantikannya hanya dilakukan oleh Gubernur selaku Perwakilan Pemerintah Pusat. Tapi hari ini gubernur, bupati dan walikota dilantik secara serentak sebagaimana proses pemilihannya yang juga serentak tahun lalu. 

Diantara wajah-wajah para pemimpin itu, terdapat Suhardi Duka dan Salim S. Mengga, pasangan Gubernur dan wakil Gubernur Sulawesi Barat yang telah lama dinanti kehadirannya membawa propinsi ke-33 ini maju dan sejahtera. Ekspektasi dan harapan memang layak dipertaruhkan kepada dua sosok ini. Kendati tantangan pemerintahannya itu tidak mudah, sebab keduanya menjadi muara dari kekeliruan (jika tak bisa disebut kesalahan) dua gubernur sebelumnya. 

Kehadiran SDK dan JSM dihadang berbagai tantangan yang membutuhkan kreatifitas berfikir guna menjadikannya sebagai peluang. Bukan rahasia lagi, Sulbar saat ini memang tidak baik-baik saja. Itu bisa dilihat dari fiskal daerah yang cenderung akut dan sangat bergantung kepada pemerintah pusat. Itu dilihat dari pendapatan asli daerah (PAD) sangat minim. Postur APBD provinsi selama ini, jumlah PADnya memang sangat kecil, membayar belanja pegawai saja tidak cukup.  Apalagi membayar belanja operasional pemerintah daerah. 

Tantangan lain yang juga harus dihadapi oleh SDK-JSM adalah status Sulbar yang sampai saat ini masih menjadi  daerah termiskin di kawasan Sulawesi. Berbanding terbalik dengan Sulteng sebagai provinsi terkaya dengan PDRB perkapita sebesar  81,73 juta/Tahun. Disusul Sulsel sebesar 59,66 Juta/tahun. Sulut sebesar Rp. 54,04 juta/tahun. Sultra sebesar Rp. 52,29 juta/tahun. Gorontalo Rp. 42,45 Juta/tahun. Terakhir, Sulbar sebesar Rp. 35,04 Juta/tahun. 

Termasuk kondisi sosial ekonomi Sulbar yang pertumbuhan ekonominya hanya 2,16 %, sementara tingkat kemiskinan 10,71 %. Indeks pembangunan (IPM) baru 70,46 point (BPS  2024) dan seterusnya. Fakta-fakta akut ini akan membersamai kepemimpinan SDK-JSM kedepan. 

Apakah kemudian fakta fakta itu akan membuat nyali SDK-JSM ciut?. Jawabannya tentu tidak, sebab SDK telah mengalami segudang pengalaman di pemerintahan yang tentu saja akan sangat mendukung untuk mengubah tantangan jadi peluang. Justru penyakit yang di derita Sulbar inilah yang membuat SDK mulai 2017 berjuang untuk menjadi Gubernur Sulawesi Barat meski belum tercapai. Pilkada 2024 menjadi peluang baginya untuk mendiagnosa penyakit yang membuat Sulbar ini meradang. 

Disinilah poinnya. Selama SDK menjadi Bupati dua periode, ia mendapati jumlah penduduk miskin pada tahun 2005 bertengger diangka 15, 96% dan tahun 2015, ia meninggalkan Mamuju dalam kondisi 6,67% angka kemiskinannya. Lalu pada persoalan APBD Sulbar yang tahun ini melorot, SDK justru terbiasa mengelola APBD minim tapi maksimal, sebab ia memiliki jaringan investor yang bisa membuat daerah Mamuju kian maju. 

Artinya bahwa, kepemimpinan SDK selaku Gubernur Sulawesi Barat tentu indikatornya dari sisi pengalaman dalam membangun daerah, pemanfaatan anggaran yang pro rakyat didukung oleh OPD-OPD yang punya komitmen dan berintegritas.  SDK memiliki potensi mengelola daerah dalam level manapun (bupati atau gubernur) termasuk memiliki kemampuan memilih orang yang berkompeten dalam mengelola pemerintahannya. Yang terakhir ini, SDK tidak usah diajari tentang siapa yang akan menjadi mitra kerjanya di pemerintahan.

Akhirnya, mari kita sambut Gubernur dan Wakil Gubernur kita dengan optimisme yang tinggi dan memastikan bahwa kali ini kita tidak salah memilih pemimpin. SDK punya komitmen, JSM memiliki integritas, maka SDK -JSM adalah perpaduan peminpin yang pas untuk Sulbar hari ini. Keduanya adalah representasi dari pemimpin yang mamea gambana, tamma mangaji dan narete pano (versi lain panno) pindang dadzanna. 

Sehat Selalu Pak Gubernur dan Pak Wakil Gubernur. 

USMAN SUHURIAH || GUBERNUR BARU MASALAH LAMA




Oleh :  Usman Suhuriah
_Ketua Komisi III DPRD Sulbar_
 
Kamis (20/2/2025) adalah hari pertama provinsi Sulawesi Barat memiliki pemimpin baru. Itu setelah Presiden RI Prabowo Subianto resmi melantik dan mengambil sumpah jabatan kepala daerah terpilih hasil Pilkada tahun kemarin.

Dr. Suhardi Duka – Jend (purn.) Salim Mengga yang telah dilantik untuk menduduki jabatan gubernur-wakil gubernur provinsi Sulawesi Barat periode 2025-2030. Pasangan ini terpilih pada Pilkada  serentak 2024 Sulawesi Barat. Dipilih dengan hasil mayoritas. Karena itu legitimasi politik yang dimiliki untuk memimpin provinsi ini cukup kuat.

Namun demikian,  menjalankan tugas fungsinya sebagai Gubernur-Wakil gubernur maka dihadapannya akan ada tantangan. Yang tantangan itu, dalam konteks “kepemimpinan yang kuat”,  tentu akan diubahnya sebagai peluang ?

Mencatatkannya sebagai tantangan, dapat dilihat dengan eksisting provinsi Sulawesi barat saat ini. Diantaranya soal fiskal daerah. Kondisinya akut. Keuangannya sangat bergantung kepada pemerintah pusat. Itu dilihat dari pendapatan asli daerah (PAD) sangat minim. Nyaris tidak pernah tumbuh positif. Postur APBD provinsi selama ini, jumlah PADnya memang sangat kecil. Malah untuk digunakan membayar belanja pegawai saja tidak cukup.  Apalagi membayar belanja operasional pemerintah daerah.  

Berikutnya, adalah produktifitas ekonomi daerah. Laporan BPS beberapa tahun terakhir menyebut, Sulbar adalah daerah termiskin di kawasan Sulawesi. Sulteng adalah provinsi terkaya dengan PDRB perkapita sebesar  81,73 juta/Tahun.  Berikutnya Sulsel sebesar 59,66 Juta/tahun. Sulut sebesar Rp. 54,04 juta/tahun. Sultra sebesar Rp. 52,29 juta/tahun. Gorontalo Rp. 42,45 Juta/tahun. Terakhir, Sulbar sebesar Rp. 35,04 Juta/tahun.

PDRB Sulbar dibandingkan dengan PDRB perkapita penduduk masing-masing daerah, seperti Sulteng, rentangannya berada pada angka Rp. 81,73 juta/tahun berbanding Rp. 35,04 juta/tahun. Ini menunjukan ketimpangan sangat jauh.

Tantangan berikut,  kondisi sosial ekonomi Sulbar. Pertumbuhan ekonominya hanya 2,16 %, sementara tingkat kemiskinan 10,71 %. Indeks pembangunan (IPM) baru 70,46 point (BPS  2024) dan seterusnya. Angka-angka  ini masih memprihatinkan.

Permasalahan-permasalahan yang disebutkan, selanjutnya memiliki korelasi timbal balik hingga membentuk permasalahan-permasalahan baru yang makin kompleks. Seperti tingginya angka stunting, pengangguran, infrastruktur tidak memadai, kualitas layanan kesehatan, pendidikan.

*Tantangan Pemerintahan Baru*

Kepemimpinan Gubernur dan wakil Gubernur bagi kerangka penanganan masalah,  setidaknya akan melihat ke dalam salah satu strong point penting sebagai permasalahan utamanya. Yakni, fiskal daerah. Prihal ini memerlukan upaya sungguh-sungguh bagi peningkatan pendapatan asli daerah (PAD). Bagaimana mengekselerasi pendapatan. Dimulai dengan desain (master plan) pendapatan yang dapat dieksekusi secara sistematis dari tahun-ke tahun. Pilihan ini akan menyangkut aset daerah yang tersedia. Atau yang selama ini tidak diolah sebagai sumber pendapatan. Ke arah ini tentu memerlukan manajemen fokus, yang bila aspek ini dilihat sebagai titik krusial, dianggap sebagai exit solusi untuk menghindari ketergantungan fiskal terus-menerus. Alasannya sangat jelas, bahwa pendapatan meningkat praktis akan penopang pembiayaan pembangunan daerah.

Menyelesaikan aspek pendapatan, setidaknya bisa dikatakan telah menyelesaikan bahagian besar dari ragam masalah yang dihadapi oleh provinsi Sulbar. Yakni permasalahan pembiayaan pembangunan daerah yang sangat jauh dari cukup. 

Alhasil, Dr. Suhardi Duka bersama Jend (purn.) Salim Mengga sebagai nakhoda baru Sulawesi barat, esensinya hadir sebagai penyelesai masalah. Pemimpin baru meski dengan masalah yang lama. Tentu dipenuhi harapan untuk membawa Sulawesi Barat ke arah lebih baik. Keduanya segera bekerja. Mengerjakan apa yang akan dijanjikan. Berapa target pertumbuhan ekonomi akan dinaikan. Berapa angka kemiskinan akan diturunkan, jumlah penganggur akan diselesaikan, target panjang jalan, daya saing daerah dst. Dan terutama berapa target peningkatan pendapatan yang ditetapkan.

Kita optimis, kita lihat hasilnya di lima tahun mendatang, selamat bekerja !

Selasa, 18 Februari 2025

MENANTI DUA SOSOK PENGAMPU SULAWESI BARAT || Sebuah Pelontar


Sebuah Pelontar: 
MENANTI DUA SOSOK PENGAMPU SULAWESI BARAT

By. Muhammad Munir

Esok hari, SDK-JSM akan resmi sebagai pengampu atas semua harapan masyarakat Sulawesi Barat untuk 5 tahun kedepan. Ini tentu momen bahagia bagi segenap tim pendukung dan rakyat Sulbar tentunya. Betapa tidak, sepanjang panjang jalannya, SDK-JSM berhasil melewati tahapan yang tentu tak mudah menggapainya. 

Sosok SDK-JSM adalah figur yang telaten memupuk mimpi-mimpinya. Impian itu terbangun menahun hingga sampai ketitik ini. Merawat impian memang membutuhkan ketelatenan, keuletan dan ketabahan. Jangan tanya harga yang mesti dibayar untuk impian besar itu, sebab keduanya telah melunasi semua dengan selaksa rasa yang mungkin saja menyakitkan. 

Maka hari ini, saya yakin SDK-JSM berhak merasakan bahagia dan menyenangkan mengingat sejumlah pengharapan rakyat kini bermuara pada keduanya. Jadi Gubernur dan Wakil Gubernur Sulbar mungkin bukan tujuan utama baginya, tapi sebatas alat untuk bermardhatillah atas segala yang rakyat Sulbar butuhkan. 

Hari ini, selaku pribadi mengucapkan selamat dan sukses atas prestasi dan prestise yang telah SDK-JSM guratkan di Bumi Mala'bi' ini. Tentu saja, doa doa yang berserakan selama ini akan ikut kami relokasi di hati yang dalam, lalu melangitkannya ke Lauhimmahfudz. Semoga segala yang terlakonkan dari hidup keduanya adalah SUKSES. Amin. 

Sebagai salah satu rakyat Sulbar yang kerap meniti jalan jalan terjal di pelosok, mendaki tebing tebing tinggi di pedalaman, memesrai jalan landai berbatu di setiap kampung kampung. Tentu tak tega jika kemudian saya tak menyampaikan uneg uneg yang muncul ketika membersamai mereka. Mereka punya segenggam harapan yang selama 20 tahun mengendap di laci laci pimpinan DPRD atau mungkin terkubur di tong tong sampah SKPD.  

Warga Kalumpang kerap bertutur bahwa kebutuhan mereka yang mendesak adalah infrastruktur jalan, jalan dan jalan. Setelah itu biarkan kami mendidik anak-anak kami dan menggarap tanah kebun kami dengan baik. Demikian juga yang terjadi ketika suatu saat bertemu warga Urekang Ulumanda. Mereka butuh jalan, bukan jajan. 

Tak hanya itu, disepanjang Limbua, Paminggalan, Limboro Rambu Rambu, Palla-Pallang (Majene) sampai ke Besoangin (Polman), nyaris mereka sepakat bahwa jalan panjang menuju kampung mereka adalah mimpi yang tak pernah hilang. Jalan Panjang SDK-JSM mesti sebangun dengan mimpi mereka atas akses jalan menuju kampung kelahiran mereka. 

Dari Ihing ke Lenggo, saya terbiasa bertemu dan menyaksikan sendiri warga yang di tandu belasan kilo hanya untuk mendapat penanganan medis. Ini lagi lagi sebuah momok yang tidak hanya dirasai warga Lenggo tapi hampir samua warga Kalumpang, Ulumanda, Besoangin Tutar.  Mereka tentu akan sangat berharap setelah ini, nasib mereka ditandu oleh SDK-JSM untuk bisa merasakan satu saja dari nikmat kemerdekaan, yakni JALAN.  

Jika Pak SDK dan JSM berkenan, disepanjang jalan dari Matangnga ke Lenggo, dari Lenggo ke Tutar, dari Tutar ke Alu, ada sejumlah warga yang selalu teriak butuh jalan, tapi suaranya terhalang ditembok tembok rumah wakil rakyat. Mereka kini tak punya suara, sebab suaranya kemudian digadai oleh politisi perlima tahun. Mereka mungkin tak akan bersuara lagi kecuali mereka bisa menatap langsung wajah teduh Pak SDK, melihat senyum cerah dari JSM. Saya yakin suara mereka akan sedikit terdengar kembali.

Maukah Pak SDK dan JSM menemui dan menatap tubuh dekil mereka inchi demi inchi? Saya masih akan mengantar Pak SDK-JSM ke tebing tebing jurang dari Pitakeang, Lakkese, Kondo, Passembu hingga Mehalaan dan Keppe. Belum lagi serak serak longsor diantara dinding warga yang masih beraroma tanah di Buntu Malangka, Pana dan Nosu. 

Maaf, Pak Gub. Ini hanya pengantar tidurmu malam ini, sebab esok tidurmu tak akan senyenyak malam ini. Tarrare diallo, tamnatindo dibongi madandang mata diperrandanna daung aju, dimalimbonna rura, dimadinginna lita', diajarianna banne tau dan diatepuanna agama. Itu adalah sejumput persoalan yang akan terus memilukan bahkan andai pemilu dilakukan setiap hari. 

Selamat Berbahagia Pak Gub, Pak Wagub. Saya akan terus menemanimu, mengawalmu dan bercerita tentang banyak hal lagi di pedalaman Pasangkayu, di DAS Lariang dan di hulu hulu sungai yang terkerangkeng dalan lipatan lipatan waktu. Saya yakin kau akan terhibur dengan cerita cerita ini. Sebab inilah lakon lakon yang membuatmu terus berjuang untuk mengampuh Sulawesi Barat ini.

Istirahat dan tidurlah dengan baik malam ini, agar esok hari, enegimu terbarukan. Rakyat menantimu wahai Sang PEMIMPI yang esok ditakdirkan jadi PEMIMPIN. 
Sehat Selalu. 

Rabu, 12 Februari 2025

ADA APA DI MALAM NISFU SYA’BAN?

Oleh: Wajidi Sayadi 

Hari ini tanggal 12 Pebruari malam ke-14 Sya’ban. Kamis malam adalah malam ke 15 Sya’ban atau malam Nisfu Sya’ban. 
Bulan Sya’ban memiliki banyak keistimewaan, secara khusus keistimewaan juga terdapat di malam nisfu Sya’ban.
Adap apa di Malam Nisfu Sya’ban? 

Pertama, Malam Nisfu Sya’ban Malam penuh berkah

Dalam al-Qur’an, Allah berfirman: 

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةٍ مُّبٰرَكَةٍ اِنَّا كُنَّا مُنْذِرِيْنَ - فِيْهَا يُفْرَقُ كُلُّ اَمْرٍ حَكِيْمٍۙ
Sesungguhnya Kami (mulai menurunkannya pada malam yang diberkahi (Lailatulqadar).681) Sesungguhnya Kamilah pemberi peringatan. 4.  Pada (malam itu) dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. (QS. ad-Dukhan, 44: 2-3). 

Kalimat “لَيْلَةٍ مُّبٰرَكَةٍ” (malam yang diberkahi) atau malam penuh berkah dalam ayat ini, terdapat dua penafsiran. Sebagian berpendapat, bahwa malam yang diberkahi maksudnya adalah malam Nisfu Sya’ban. Mayoritas ulama berpendapat bahwa malam yang diberkahi tersebut adalah malam Lailatul Qadr, karena turunnya ayat al-Qur’an yang dimaksud adalah turunnya al-Qur’an pertama kalinya. 
Malam yang diberkahi, artinya malam yang di dalamnya banyak kebaikan muncul, terjadi, mengalir dan menghiasi hati, jiwa, pikiran serta perilaku. 

Imam al-Baihaqi menulis kitab Fadhail al-Auqat (Keistimewaan Waktu-waktu tertentu). Satu dari 15 waktu yang istimewa tersebut adalah malam Nisfu Sya’ban. Demikian juga as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Makki al-Hasani menulis kitab Madza fi Sya’ban? (Ada Apa di Bulan Sya’ban?). 
Banyak hadis yang dikutip dalam kedua kitab tersebut mengenai keistimewaan malam Nisfu Sya’ban, walau dalam pandangan ulama hadis ada yang menilainya daif, ada juga yang menilainya sahih, paling rendah hadis hasan. 

Ada beberapa hadis yang dikemukakan dalam kedua kitab tersebut, di antaranya yang bersumber dari Muadz bin Jabal, Nabi SAW. bersabda: 
يَطَّلِعُ اللَّهُ إِلَى جَمِيْعِ خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيْعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ.
Allah memperlihatkan (Rahmat-Nya) kepada seluruh makhluk-Nya pada malam nisfu (pertengahan) Sya’ban, lalu Allah mengampuni dosa-dosa hamba-Nya kecuali yang menyekutukan Allah dan yang bermusuhan terhadap sesame saudaranya. (HR. Thabarani, Ibnu Hibban, Baihaqi). 

Ibnu Majah juga ada meriyawatkan hadis seperti ini bersumber dari Abu Musa al-Asy’ari. 
Pada malam Nisfu Sya’ban, Allah menamapakkan atau memperlihatkan (Rahmat-Nya) special pada malam itu merupakan keberkahan yang sangat tinggi. Kedekatan dan kebersamaan Allah dengan hamba-Nya melalui rasa di hati, jiwa dan pikiran tenang dan lapang pada malam Nisfu Sya’ban itulah keberkahan yang luar biasa. 

Kedua, Malam Nisfu Sya’ban Malam Pengampunan

Sebagaimana disebutkan dalam hadis tersebut di atas, bahwa malam Nisfu Sya’ban, Allah mengampuni seluruh hamba-Nya kecuali yang musyrik dan yang masih suka bermusuhan. Dalam Riwayat lainnya disebutkan termasuk yang tidak diampuni adalah mereka yang suka memutus hubungan silaturrahim dengan keluarga, yang masih durhaka kepada kedua orang tuanya, para peminum khamar, dan para pendemdam, suka iri hati, dan pembunuh. 

Pada malam Nisfu Sya’ban adalah momentum yang sangat strategis dan tepat untuk meraih pengampunan Allah dengan cara meprbanyak istigfar dan tobat dari segala macam dosa dan kesalahan, termasuk meminta maaf dan memberi maaf terhadap sesama saudara. Itulah disebut malam pengampunan.  
Imam Baihaqi meriwayatkan hadis dengan sanad daif bersumber dari Usman bin Abi al-‘Ash, Nabi SAW. bersabda: 
Apabila tiba malam Nisfu Sya’ban ada yang memanggil menyeru: “Apakah ada yang memohon ampun? Maka Aku akan mengampuninya. Apakah ada yang meminta sesuatu? Maka Aku akan memberinya. Tidak ada seorang pun yang meminta sesuatu, melainkan Aku akan memberinya, kecuali pezina dan orang musyrik. (HR. Baihaqi). 

Dalam riwayat yang bersumber dari al-‘Ala’ bin al-Harits, bahwa suatu malam Nabi SAW. sujud sangat lama, hingga Aisyah mengira Beliau wafat dalam posisi sedang sujud. Akhirnya Aisyah mendekati dan menggerak-gerakkan jari-jari tangannya. Ternyata bergerak mendakan bahwa Beliau masih hidup. Aisyah Kembali. Ketika usai shalatnya, kata Rasulullah SAW., wahai Aisyah, tahukah malam apa malam ini? Jawabnya, hanya Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu. Beliau menjelaskan, mala mini adalah malam Nisfu Sya’ban. Allah akan mengampuni setiap orang yang minta ampun, merahmati orang yang minta rahmat. (HR. Baihaqi). Hadis ini adalah mursal, tapi sanadnya bagus. 

As-Sayyid Muhammad bin Alawi mengutip Tafsir at-Taqiyy as-Subkiy, yang mengatakan: “pada malam jumat dosa dalam satu pekan akan diampuni. Pada malam Nisfu Sya’ban, akan diampuni dosa setahun. Pada malam Lailatul Qadr, akan diampuni dosa seumur hidup. 

Ketiga, Malam Nisfu Sya’ban Malam Pengabulan doa

Sebagaimana disebutkan dalam hadis tersebut di atas, bahwa siapa yang meminta sesuatu pada malam nisfu Sya’ban, maka aku akan mengabulkan permohonannya. Pada malam Nisfu Sya’ban adalah momentum spesial cepat terkabulnya permohonan doa. 
As-Sayyid Muhammad bin Alawi mengutip Riwayat dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma, ia mengatakan: “Ada 5 malam doa di dalamnya tidak akan tertolak, yaitu: malam jumat, malam pertama bulan Rajab, malam Nisfu Sya’ban, malam lailatul Qadr, dan malam idul fitri serta malam idul adha.

Keempat, Malam Nisfu Sya’ban malam pembagian dan penentuan rezeki dan takdir

Sebagian ulama yang memahami malam Nisfu Sya’ban sebagai malam mubarakah, penuh berkah dalam QS. ad-Dukhan: 3 tersebut di atas, maka ayat berikutnya
فِيْهَا يُفْرَقُ كُلُّ اَمْرٍ حَكِيْمٍۙ
Pada (malam itu) dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. 

Pada malam Nisfu Sya’ban dijelaskan, ditentukan dan dikocok ulang segala urusan yang penuh hikmah yang dimaksud adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan makhluk, seperti hidup, mati, rezeki, nasib baik, dan nasib buruk. 
Hal ini juga dijelaskan dalam beberapa riwayat hadis, antara lain bersumber dari Atha’ bin Yasar, ia mengatakan: “Apabila tiba malam Nisfu Sya’ban, daftar nama yang akan meninggal hingga bulan Sya’ban tahun berikutnya diserahkan kepada malakikat maut. Ada seseorang yang berbuat zhalim, dosa, ada yang menikah, ada yang menanam pohon, Sesungguhnya nama-nama orang yang masih hidup hingga wafatnya sudah ditentukan diserahkan. Tidak ada malam yang lebih mulia setelah malam Lailatul Qadr, kecuali malam Nisfu Sya’ban. 
Wallahu A’lam bi ash-Shawab. 

Semoga momentum malam Nisfu Sya’ban dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dengan memperbanyak pundi-pundi kebaikan, istigfar dan tobat, doa dan dzikir, shalawat, ngaji, shalat sunat, dan lainnya. 

Pontianak, 12 Pebruari 2025/malam 14 Sya’ban 1446 H.

Minggu, 09 Februari 2025

BULAN SYA’BAN MASA PERALIHAN ARAH KIBLAT SHALAT

Oleh: Wajidi Sayadi

Sya’ban adalah bulan yang mempunyai banyak kemuliaan dan keistimewaan tertentu, sebagaimana bulan-bulan lainnya. Ada beberapa peristiwa penting yang terjadi di bulan Sya’ban sebagai tanda kemuliaan dan keistimewaannya, antara lain: 
Pada Nisfu Sya’ban, pertengahan bulan Sya’ban turun ayat al-Qur’an perintah peralihan arah kiblat dalam shalat dari Baitul Maqdis ke arah Ka’bah Baitullah di Masjid al-Haram di Mekah. 
Rasulullah SAW. selama tinggal menetap di Mekah shalatnya menghadap ke Ka’bah Baitullah di Masjid al-Haram. 

Ketika hijrah dan tiba di Madinah, Rasulullah SAW. shalatnya menghadap ke arah Baitul Maqdis di Palestina kiblatnya orang-orang Yahudi. 

Selama lebih setahun, yakni 16 atau 17 bulan, Rasulullah SAW. shalat menghadap ke arah Baitul Maqdis, turun ayat al-Qur’an yang memerintahkan agar shalatnya menghadap ke Ka’bah Baitullah di Masjid al-Haram.

Allah Ta’ala memerintahkan: 
قَدْ نَرٰى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاۤءِۚ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضٰىهَا ۖ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۗ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَه ۗ 
Sungguh, Kami melihat wajahmu (Nabi Muhammad) sering menengadah ke langit. Maka, pasti akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Lalu, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Di mana pun kamu sekalian berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu. (QS. al-Baqarah: 144). 

Peristiwa asbab an-nuzul ayat ini dijelaskan dalam hadis riwayat imam Bukhari, Tirmidzi, dan Ahmad bersumber dari al-Barra’ bin ‘Azib. Dengan turunnya ayat, 
فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ
Hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam
pada bulan Sya’ban, maka disebut Sya’ban adalah bulan Peralihan arah kiblat shalat dari Baitil Maqdis di Palestina ke arah Ka’bah di Masjid al-Haram di Mekah. 

Kata Syekh Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Makki al-Hasani bahwa waktu kejadian turunnya ayat perintah peralihan arah kiblat dari Baitul Maqdis ke arah Ka’bah di Masjid al-Haram ini pada Selasa, Nishfu Sya’ban, pertengahan bulan Sya’ban. 

Dalam riwayat imam Ahmad bin Hambal bahwa turunnya perintah peralihan arah kiblat ketika Rasulullah SAW. beserta para sahabat sedang melaksanakan shalat ashar. Penjelasan para ulama bahwa dua rakaat dilaksanakan menghadap ke arah Baitul Maqdis, pada rakaat ketiga turun ayat perintah memalingkan arah kiblat. Pada rakaat ketiga dan keempat Rasulullah SAW. menghadap ke arah Ka’bah Baitullah di Masjid al-Haram di Mekah. 

Tempat yang ditempati Rasulullah SAW. shalat berjamaah pada masa itu, telah diabadikan hingga saat ini namanya Masjid Qiblatain. Masjid dua arah kiblat. Dalam ruangan Masjid itu terlihat mihrab tempat imam di bagian belakang ke arah Baitul Maqdis dan Mihrab bagian depannya kea rah Ka’bah Baitullah di Masjid al-Haram sama bentuknya. Masjid Qiblatain ini letaknya sekitar 7 km di sebelah timur laut Masjid Nabawi di Madinah. 
 
Peristiwa turunnya perintah peralihan arah kiblat shalat yang terjadi di bulan Sya’ban menjadi suatu keistimewaan tertentu, karena sejak itulah tonggak perubahan peradaban Islam. Dimana Ka’bah di Masjid al-Haram menjadi identitas tauhid, teologis, sentral energi spiritual, moral, sosial, dan energi-energi lainnya yang mengikat penyatuan hati umat Islam sedunia, khususnya ketika sedang shalat, thawaf ibadah haji dan umrah. 

Kaitannya Sya’ban sebagai bulan pintu gerbang Ramadhan mengingatkan kita agar senantiasa memperbanyak shalat menghadap ke Ka’bah Baitullah, memperbanyak sujud, memperbanyak shalat sunat sekaligus sebagai latihan dan persiapan menyambut bulan suci Ramadhan yang di dalamnya banyak shalat sunat. Khususnya shalat Tarawih dan witir. 

Semoga Bermanfaat.

Pontianak, 11 Sya’ban 1446 H/10 Pebruari 2025 M.