Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Februari 2026

SALIM MENGGA || Ketika Sunyi Menjadi Warisan

Penulis: Safardy Bora

Di Pambusuang, laut tidak pernah benar-benar diam. Ia berulang kali memecah sunyinya sendiri, seolah sedang melatih seorang anak lelaki untuk kelak mengerti arti kesabaran. Anak itu bernama Salim Sayyid Mengga. Ia tumbuh tanpa banyak kata, belajar bahwa hidup tidak selalu perlu dijelaskan, cukup dijalani dengan lurus.
Ketika ia meninggalkan kampung halaman, tidak ada pesta perpisahan. Hanya doa yang disimpan rapat, dan langkah yang sengaja tidak dipercepat. Di Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, ia belajar tentang barisan, tentang taat, dan tentang cara menahan diri. Tahun 1974, ia lulus—bukan sebagai pemenang, melainkan sebagai seseorang yang siap memikul beban yang panjang.
Puluhan tahun kemudian, seragam itu telah menyerap banyak keringat dan sunyi. Ia memimpin tanpa menghardik, memberi perintah tanpa meninggikan suara. Dari Kavaleri hingga ke pucuk amanah sebagai Panglima Kodam Pattimura, ia berjalan perlahan, seolah takut menginjak sesuatu yang bukan haknya. Pangkat Mayor Jenderal melekat padanya seperti usia: datang dengan sendirinya, tanpa diminta.
Saat masa dinas selesai, Salim tidak berhenti mengabdi. Ia hanya menurunkan nada. Dari medan latihan ke ruang sidang, dari aba-aba ke musyawarah. Dua periode ia duduk di DPR RI, menjaga perkara negeri dengan kehati-hatian seorang prajurit yang paham bahwa kata-kata pun bisa melukai. Ia berbicara sedikit, mendengar lebih lama.
Ketika ia dipercaya menjadi Wakil Gubernur Sulawesi Barat, ia kembali memilih bekerja di balik layar. Menyambung yang hampir putus, menenangkan yang mulai gaduh. Ia tahu, kekuasaan tidak selalu perlu ditampakkan; sering kali ia cukup hadir agar yang lain merasa aman.
Orang-orang menyebutnya menyejukkan, tetapi barangkali kata itu terlalu ringan. Ia adalah ketenangan yang tidak menghakimi, kehadiran yang tidak menekan. Ia tidak memburu dikenang, bahkan tidak tampak bersiap untuk pergi.
Namun pada 31 Januari 2026, waktu memanggilnya pulang. Di Makassar, napasnya berhenti dengan damai, seolah ia memang telah lama bersiap. Kabar kepergiannya menyebar pelan, seperti hujan yang turun tanpa guntur—tidak gaduh, tetapi membuat dada sesak.
Pagi 1 Februari 2026, Taman Makam Pahlawan Kalibata menerima tubuh yang telah selesai menjaga negeri. Langit Jakarta menunduk, dan orang-orang berjalan dengan kepala tertahan. Tanah dibuka dengan penuh hormat, doa-doa dibacakan dengan suara yang patah di tengah jalan. Ketika jasad itu diturunkan, sunyi mendadak terasa berat, seolah ada sesuatu yang ikut dikuburkan bersama—keteladanan yang tak pernah meminta tepuk tangan.
Bendera dilipat perlahan. Tangis tidak pecah, hanya menetes. Sebab sebagian kehilangan memang tidak cocok ditangisi keras-keras. Ia lebih layak dikenang dalam diam.
Salim Sayyid Mengga tidak meninggalkan gemuruh nama. Ia meninggalkan rasa kehilangan yang tenang, yang baru terasa ketika kita sadar: ada orang-orang yang selama ini menjaga tanpa terlihat, dan ketika mereka pergi, barulah kita mengerti betapa sunyi dunia tanpa kehadiran mereka.
Di tanah itulah ia kini berbaring. Di antara para pahlawan. Bukan karena pangkat atau jabatan, melainkan karena ia telah menjalani hidupnya dengan setia—dan pulang tanpa menyisakan kebisingan.*

Jumat, 16 Januari 2026

Darah Mandar - Zainal Arifin Mochtar DIKUKUHKAN GURU BESARFAKULTAS HUKUM UGM

Oleh : Almadar Fattah  

Kabar membanggakan datang dari Jogjakarta, Darah Mandar, Zainal Arifin Mochtar, yang akrab disapa Uceng, resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM). Prosesi pengukuhan berlangsung khidmat di Balai Senat, Gedung Pusat UGM, pada Kamis (15/1). Pengukuhan ini tidak hanya menjadi capaian akademik pribadi, tetapi juga kebanggaan bagi masyarakat Mandar dan Sulawesi Barat, karena menunjukkan bahwa putra daerah mampu berkiprah dan berkontribusi nyata di tingkat nasional melalui dunia akademik dan pemikiran hukum.

Dalam prosesi pengukuhan tersebut tampak hadir sejumlah tokoh nasional, di antaranya Wakil Presiden ke-10 dan ke-11 Republik Indonesia, Jusuf Kalla (JK), mantan Menko Polhukam Mahfud MD, mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, mantan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, mantan penyidik KPK Novel Baswedan, hingga Ketua DPD RI GKR Hemas. Kehadiran para tokoh lintas latar belakang ini semakin menegaskan kapasitas, integritas, serta pengaruh pemikiran Zainal Arifin Mochtar dalam dunia hukum dan kehidupan kebangsaan.

Anies Baswedan yang ditemui awak media turut menyampaikan ucapan selamat kepada Zainal Arifin Mochtar (Uceng). Menurutnya, pengukuhan ini merupakan sebuah puncak baru dalam pengabdian kepada keilmuan, sekaligus penegasan atas dedikasi panjang Uceng dalam mengembangkan pemikiran hukum yang kritis dan berintegritas. Anies menilai capaian tersebut bukan hanya prestasi personal, tetapi juga kontribusi penting bagi dunia akademik dan kehidupan berbangsa.

Sosok Uceng dikenal memiliki keahlian yang kuat, wawasan yang luas, serta keberanian untuk mengungkapkan pikiran dan menegur setiap penyimpangan. Keberanian inilah yang menjadi pembeda utama seorang kecendekiawan sejati, tidak hanya menguasai ilmu, tetapi juga berani berdiri di atas nilai dan kebenaran. Sikap tersebut menjadikan Uceng bukan sekadar akademisi, melainkan intelektual yang menghadirkan ilmu sebagai alat menjaga nurani, etika, dan keadilan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bagi Uceng, kecendekiawanan bukan semata-mata untuk kemajuan ilmu pengetahuan, melainkan juga sebagai penjaga nurani republik. Ilmu harus hadir untuk memastikan negara ini tetap berjalan di jalur yang baik dan benar, dengan hukum yang tegak, kekuasaan yang diawasi, serta kepentingan rakyat yang diutamakan. Inilah makna kecendekiawanan sejati: ilmu yang berpihak pada kebenaran, berani mengingatkan, dan konsisten menjaga arah perjalanan republik.

Ayah Uceng adalah KH. Mochtar Husain, seorang ulama besar dari Tanah Mandar yang dikenal luas dengan julukan “Singa Podium”. Julukan tersebut mencerminkan ketegasan, keberanian, serta kekuatan retorika beliau dalam berdakwah dan menyuarakan kebenaran. 

Sosok KH. Mochtar Husain menjadi teladan moral dan intelektual yang jejak nilainya turut mengalir dalam perjalanan hidup dan pemikiran Uceng hingga kini.

Warisan nilai keilmuan, integritas, dan keberanian moral dari sosok KH. Mochtar Husain inilah yang turut membentuk karakter Uceng sebagai intelektual yang berani bersuara, teguh pada prinsip, dan konsisten menjaga nilai-nilai kebenaran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Profil Uceng
Zainal Arifin Mochtar atau yang akrab disapa Uceng lahir di Makassar, 8 Desember 1978. Ia menempuh pendidikan tinggi Strata Satu (S1) Ilmu Hukum di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan lulus pada tahun 2003. Setelah itu, Uceng melanjutkan studi ke luar negeri dengan menempuh jenjang Strata Dua (S2) di Northwestern University, Chicago, Amerika Serikat, dan berhasil meraih gelar Master of Law (LL.M) pada tahun 2006.

Selain itu, Zainal Arifin Mochtar juga memperkaya kapasitas akademiknya dengan mengikuti berbagai program internasional. Ia menyelesaikan kursus Summer School Administrative Law hasil kerja sama Universitas Gadjah Mada–Maastricht University, Belanda, pada tahun 2006. Selain itu, ia juga mengikuti Summer School American Legal System di Georgetown Law School, Washington, Amerika Serikat.

Latar belakang pendidikan tersebut menjadi fondasi kuat bagi Uceng dalam mengembangkan pemikiran hukum yang kritis, berintegritas, dan konsisten memperjuangkan tegaknya prinsip negara hukum.

Pengalaman akademik lintas negara tersebut semakin memperkuat perspektif dan kedalaman pemikiran Zainal dalam bidang hukum administrasi dan sistem hukum, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Minggu, 26 Oktober 2025

GARA-GARA NAMA EMHA DIPANJANGKAN



Catatan Hamzah Ismail 

Salah satu gawean besar Teater Flambonyant pada tahun 1990-an yang sempat menyedot perhatian media lokal maupun nasional adalah upaya mempertemukan Prof. Dr. H. Baharuddin Lopa, S.H., M.H. dengan Emha Ainun Nadjib.  Saat itu, Baharuddin Lopa sedang menjabat Sekjen Komnas HAM sekaligus Dirjen Lapas Departemen Kehakiman, sementara Emha Ainun Nadjib, tokoh nasional yang tengah dicekal rezim Orde Baru karena kritik-kritiknya yang tajam terhadap kekuasaan. Keduanya dijadwalkan bertemu dalam sebuah seminar bertema “Kebebasan Berekspresi”.

Beberapa hari menjelang hari “H”, panitia dikejutkan oleh kabar bahwa Emha Ainun Nadjib tidak diperkenankan berbicara dalam seminar tersebut. Alasannya: panitia disebut belum memiliki izin resmi. Pihak keamanan meminta agar izin kegiatan harus dikeluarkan langsung oleh Kapolda Sulawesi Selatan, padahal izin dari Polres Polewali Mamasa sudah di tangan panitia selama seminggu.

Menanggapi situasi itu, panitia segera berkoordinasi dengan pihak kepolisian. Ternyata benar: panitia diarahkan untuk mengurus izin ke Polda. Namun waktu yang tersisa sudah terlalu mepet. Akhirnya, panitia memutuskan untuk nekat melanjutkan acara hanya dengan izin dari Polres Polmas. Apa pun risikonya, seminar harus tetap jalan.

Kasus ini cepat menyebar ke media. Jawa Pos memuat berita berjudul “Emha dan Baharuddin Lopa Akan Bersanding di Mandar”, sedangkan Republika ---yang kala itu menjadi pesaing serius Kompas--- menjadikannya sebagai tajuk rencana.

Berita pencekalan itu membuat tokoh-tokoh Mandar turun tangan. Bahkan Bupati Polmas, Andi Kube Dauda, ikut melobi Kapolres. Pak Kube Dauda merasa tak enak, sebab salah satu pembicara yang akan dihadirkaan, Baharuddin Lopa, putra Mandar yang menjabat di tingkat nasional.

Sebagai ketua panitia pelaksana, saya bersama rekan-rekan mendapat arahan dari beberapa tokoh Mandar ---Husni Djamaluddin, Subaer Rukkawali, dan Puang Mappa (Andi Mappatunru). Kami diminta mundur selangkah: seminar tetap berlangsung, Emha tetap dihadirkan, tetapi tidak boleh berbicara.

Kami setuju, namun mengusulkan alternatif lain: Emha ditampilkan sebagai pembaca Qalam Ilahi. Kami yakin, bila ia mengaji, ia pasti akan berbicara banyak, setidaknya mengulas ayat-ayat yang ia baca.

Sayangnya, rencana itu batal. Tokoh-tokoh Mandar yang mendampingi kami bersikeras agar Emha tidak tampil sama sekali ---cukup hadir di dalam ruangan. Kami pun, lagi-lagi, mengalah.

Malam hari, selepas Isya, sekitar lima ratusan peserta memadati gedung di Gunung Mita. Seminar dimulai. Husni Djamaluddin bertindak sebagai moderator. Dua pembicara tampil di panggung: Baharuddin Lopa dan Subaer Rukkawali. Sementara itu, Emha Ainun Nadjib duduk di barisan depan, di samping Mara’dia H. Abdul Malik Pattana I Yendeng, seperti peserta biasa.

Di luar gedung, suasana tegang. Aparat kepolisian berjaga ketat, dipimpin langsung oleh Wakapolres. Puluhan intel berpakaian preman lalu-lalang, mengawasi panitia dan peserta. 

Sempat ada panitia yang nyaris beradu urat leher dengan Wakapolres, tetapi Paramisi Ma’dua, tokoh disegani, segera menahannya sebelum benturan terjadi.

Usai seminar di Gedung Mita Tinambung, rombongan berpindah ke rumah Puang Mappa di Kandeapi, hanya beberapa ratus meter dari lokasi acara. Di rumah itulah ---tanpa mikrofon, tanpa izin, tanpa panggung resmi--- Baharuddin Lopa, Emha Ainun Nadjib, Husni Djamaluddin, Subaer Rukkawali, Alisjahbana, dan sejumlah tokoh lainnya, serta puluhan pemuda Mandar menggelar pertemuan bebas. Mereka berbicara dengan semerdeka-merdekanya, sementara intel aparat masih mondar-mandir di jalan depan rumah.

Lalu, mengapa izin seminar dari Polres Polmas itu bisa terbit pada awalnya, yang belakangan hendak dibatalkan sepihak?

Rahasianya sederhana.

Ketika panitia mengajukan permohonan izin ke Polres Polmas, kami mencantumkan belasan nama pembicara. Nama Emha Ainun Nadjib kami letakkan di urutan ketiga dari terakhir, lalu dipanjangkan menjadi “Muhammad Ainun Nadjib.”

Harapannya sederhana: nama itu tidak dikenali. Sebab, penulisan lengkap “Muhammad Ainun Nadjib” tidak lazim digunakan.

Dari Emha menjadi Muhammad, tampak sepele, tapi cukup untuk mengecoh siapa pun yang tidak betul-betul mengenal sosoknya.

Dan benar saja: izin itu pun terbit tanpa masalah.

Tabeeqqq.
Tinambung, 26 Oktober 2025, dini hari.

Keterangan Foto: 
1. Emha Ainun Bersama Mara'dia Balanipa H. Abdul Malik Pattana I Yendeng
2. Emha Ainun Nadjib bersama Prof. Dr. H. Baharuddin Lopa, SH, MH

DUA SIMPUL KEKUATAN SOSIAL BERTEMU

Oleh : Almadar Fattah 

Konsep "dua simpul kekuatan sosial bertemu" antara ilmiah dan alamiah menggambarkan harmoni antara pengetahuan modern dan kearifan lokal. Ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan dapat berjalan seiring dengan nilai-nilai alamiah dan tradisi, sehingga menciptakan keseimbangan yang positif bagi masyarakat dan lingkungan. Sinergi ini sangat penting untuk menciptakan pembangunan yang berkelanjutan dan harmonis.

Pertemuan kedua tokoh ini sungguh menggambarkan harmoni antara modernitas dan tradisi di Sulawesi Barat. Gubernur Suhardi Duka dan Tomalaqbita Arayang Balanipa Bau Arifin Malik sepertinya memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan antara kemajuan zaman dan nilai-nilai luhur budaya lokal. Kerja sama antara konsep "pemegang pena" dan "pemegang payung" ini menunjukkan sinergi yang kuat untuk memajukan Sulawesi Barat sambil tetap menghormati akar sejarahnya. Semoga Sulawesi Barat terus berkembang dengan tetap menjaga keaslian budayanya.

Identitas daerah memang sangat terkait erat dengan akar budayanya. Dengan menjaga dan melestarikan budaya, kita dapat memastikan bahwa warisan leluhur tetap hidup dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Harmoni antara kemajuan dan pelestarian budaya ini sangat penting untuk membangun masyarakat yang kuat dan berakar. Budaya yang lestari akan terus menjadi sumber inspirasi dan kekuatan bagi generasi mendatang.

Semoga sinergi antara pemerintah dan Arayang Balanipa dapat terus terjalin dengan baik dalam menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya dan tradisi di Sulawesi Barat. Dengan kerja sama yang harmonis, nilai-nilai budaya dapat terus dipertahankan dan diwariskan kepada generasi mendatang, sehingga identitas budaya Sulawesi Barat tetap terjaga dan menjadi kebanggaan bagi masyarakatnya.

Konsep tersebut menunjukkan bahwa integrasi antara pengetahuan modern dan kearifan lokal dapat membawa dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan. Dengan menggabungkan kedua aspek ini, kita dapat menciptakan solusi yang lebih holistik dan berkelanjutan, serta memperkuat identitas budaya dan lingkungan. Sinergi ini sangat berharga dalam menghadapi tantangan zaman dan membangun masa depan yang lebih baik.

Nilai-nilai budaya dan tradisi memang sangat erat kaitannya dengan identitas suatu daerah dan masyarakatnya. Mereka membentuk karakter dan jati diri masyarakat, serta menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Dengan memelihara dan melestarikan nilai-nilai budaya dan tradisi, kita dapat memperkuat rasa kebersamaan dan kesatuan dalam masyarakat. Budaya dan tradisi adalah warisan berharga yang perlu dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Peradaban yang maju seringkali ditandai dengan penghargaan yang tinggi terhadap nilai-nilai budaya dan tradisi. Nilai-nilai ini menjadi fondasi moral dan etika yang membentuk karakter masyarakat. Semakin tinggi peradaban suatu daerah, semakin besar pula kesadaran akan pentingnya melestarikan dan mengembangkan warisan budaya dan tradisi sebagai bagian dari identitas dan kebanggaan kolektif.

(Kolumnis Berbagai Media Harian di Makassar Tahun 90an)

Minggu, 12 Oktober 2025

Saat Bunda Cammana ‘Memerintah’ Malaikat'

Ketika dua orang ‘murid’ Al Mukarram Bunda Cammana, keduanya ASN, mendapat kepercayaan dari atasannya, diberi amanah menjadi tomawuwenna kappung, dua orang itu mendapat kepecayaan menjadi camat masing-masing di dua kecamatan. Sebutlah (nama samaran) murid petama bernama Hasbullah, dan murid kedua bernama Abdul Gaffar. 

Hasbullah saat pertama kali berangkat ke tempat tugasnya yang baru, terlebih dahulu ia singgah untuk ‘pamit’ dan berharap mendapatkan ‘jimat’ keselamatan dari Al Mukarram Bunda Cammana. 

Pagi sekali Hasbullah tiba di rumah Bunda. 

Baru saja Hasbullah masuk ke ruang tamu dan kursi yang didudukinya belumlah terasa hangat, di luar dugaan, tiba-tiba Bunda berseru ke ruang dapurnya, agar Hasna puteri beliau, segera mengangkat kappar, dan membawanya ke ruang tengah. 

Bunda : “Ka’na, akkke’i iting mai kappar, Nak o!”

Hasna bersegera menyahuti ‘perintah’ Bunda. Seketika tergelarlah kappar, berisi aneka macam penganan, sokkol, loka tiraq, beserta beberapa kelengkapannya, ternyata Bunda Cammana secara mandiri telah menyiapkan ‘ritual’ mambaca-baca sebagai proses syukuran atas capaian muridnya, tanpa memberi tahu sebelumnya. 

Hasbullah pun diminta untuk mengambil posisi tepat berhadapan dengan Bunda Cammana. Hasbullah sungguh tidak menduga, jika ia akan ‘dirayakan’ oleh Bunda Cammana, sesaat sebelum ia melakukan tugas pertama di kantornya yang baru. Hasbullah hanya bisa diam, sambil berkaca-kaca matanya. 

Sungguh diluar dugaan, ia akan dipelakukan seperti itu, sebab Hasbullah bukan kali ini saja ia mendapat amanah, setidaknya sudah tiga kali mutasi jabatan formal pemerintahan, tapi satu pun, tidak pernah ada niat, baik dari dirinya sendiri maupun dari keluarga (istri dan anak-anaknya) untuk melakukan ‘perayaan’ yang sama sebelum ia bekerja di tempat tugas yang baru.

Undung kemudian dibakar, wangi kemenyan pun merebak harumnya kemana-mana, memenuhi segala ruangan. Prosesi mambaca-baca sebagai tanda syukuran pun di mulai. Doa dan shalawat mengalir lirih dari mulut Bunda Cammana. Hasbullah ikut larut di dalamnya, menirukan bunyi shalawat Bunda. 

Tiba di puncak doa, Bunda Cammana mengangkat, lalu menengadahkan tangannya mengarah langit, agak tinggi ia mengangkat tangannya. Lalu menyapa Allah, membujuk akan turunnya berkah Muhammad SAW., dan terakhir… Bunda ‘memerintah’ Malaikat, lirih Bunda berseru,

“Demi kuasa Allah, dan berkah Rasulullah Muhammad SAW, 
Wahai seluruh Malikat, wahai Kiramun Katibin, 
jagalah dua anakku, Hasbullah dan Abdul Gaffar,
selama keduanya bekerja di tempat tugasnya yang baru.”

Hasbullah tercengang mengamati cara Bunda Cammana menyeru langit seperti itu, bahwa Tuhan, Nabi dan Malaikat, tampak terasa amat dekat baginya. Menyerunya, tidak perlu teriak-teriak, apalagi keras, cukup dengan bisikan lirih dan sedikit airmata.

Lalu kepada Hasbullah, disodorkan sebuah paket kecil, sekira ukurannya tiga kali empat. Tampak benar bagian paling luar dari paket itu, foto Tosalamaq Imam Lapeo. Hasbullah menyalami dan mencium tangan Bunda Cammana, saat menerima paket itu. 

Salaman lalu cium tangan, menurut Hasbullah adalah penanda “halalnya sebuah pemberian dan berkahnya sebuah penerimaan.” 

Hmmm…. Diam-diam Hasbullah, merasakan adanya energi tambahan… 

Keterangan Foto: Mbah Nun bersama Bunda Cammana, di Limboro (rumah Bunda). Sumber foto: caknun.com

Senin, 06 Oktober 2025

TAMMALELE || Sang Budayawan Nyentrik

Oleh : Ilham Sopu

Nama Tammalele yang akrab dipanggil A'ba Lele adalah nama yang sangat familier di daerah Mandar. Setiap berbicara budaya, seni, sosiolog, antropologi sekaitan dengan mandar, nama ini tidak pernah luput dari perbincangan. Dialog-dialog, diskusi-diskusi, seminar-seminar, pertemuan-pertemuan budaya, diskusi-diskusi pojok, diskusi-diskusi kampung, nama Tammalele selalu melekat dalam pertemuan tersebut. A'ba Lele adalah budayawan yang lahir  dari alam, universitasnya alam, budayawan yang lahir secara otodidak. Ia lahir di kappung Pambusuang di tahun 60 an. 

Di awal kehidupannya di kappung Pambusuang, A'ba Lele banyak ditempa dengan cerita-cerita ala Pambusuang yang biasanya berpusat di barung-barung di berbagai sudut kampung. Pambusuang kaya dengan berbagai tempat-tempat diskusi yang mengupas berbagai materi-materi diskusi yang muncul secara spontan, dan diperbincangkan di tempat-tempat pertemuan seperti "barung-barung", di tempat inilah yang menjadi ciri khas Pambusuang masa lalu dan sampai saat ini.

A'ba Lele bukan hanya mahir dalam bicara budaya, seni, tapi juga sangat menguasai term-term keagamaan klasik yang banyak diperbincangkan orang dengan analisis sosial kesejarahan Pambusuang pada masa dulu, dia banyak tau sejarah para annangguru di Pambusuang, pemikiran-pemikirannya, dan berbagai latar belakang keahlian para annangguru, serta perdebatan-perdebatan keilmuan antara satu annangguru dengan annangguru yang lain.

Perdebatan atau diskusi dengan sesama annangguru adalah hal yang sering terjadi di Pambusuang, dan itu secara tidak terjadwal, dimanapun mereka berkumpul, seperti di tempat-tempat hajatan, di pasar, di pinggir laut, di barung-barung, di sudut-sudut rumah, hampir selalu terjadi diskusi yang materinya lebih banyak berkaitan dengan masalah keagamaan. Lewat diskusi-diskusi seperti ini A'ba Lele kecil, banyak menyerap percikan-percikan pemikiran annangguru yang berdiskusi pada waktu itu. Disinilah tempat belajar A'ba Lele mengais ilmu-ilmu keagamaan dan model-model berdiskusi ala Pambusuang.

Model pembelajaran keagamaan yang didapatkan A'ba Lele bukanlah model formal, tapi lebih banyak model-model non formal lewat diskusi-diskusi ala kampung yang marak terjadi di berbagai tempat di Pambusuang pada waktu itu. Di tahun 80 an, A'ba Lele banyak menghabiskan waktunya untuk mengajar ilmu sejarah di pesantren Nuhiyah Pambusuang, sekaligus juga memanfaatkan untuk memperdalam ilmu-ilmu keagamaan kepada KH Abdurrahman, pimpinan pesantren Nuhiyah Pambusuang yang dikenal sebagai annangguru yang banyak mengkader generasi-generasi pelanjut keilmuan keagamaan di Pambusuang.

Disamping penguasaan metode-metode debat ala Pambusuang, A'ba Lele juga aktif mengikuti perkembangan keilmuan nasional lewat tokoh-tokoh nasional yang menjadi rujukannya, seperti Emha Ainun Najib yang lebih akrab dipanggil Cak Nun, seorang budayawan yang mumpuni, sekaligus seorang Kiai. A'ba Lele banyak mengais ilmu lewat Cak Nun, melalui interaksi langsung maupun lewat buku-buku Cak Nun yang banyak beredar di tahun 80 an sampai 90 an, hampir semua buku-buku Cak Nun menjadi koleksinya dan betul-betul menguasai pemikiran-pemikiran Cak Nun.

Pemikiran-pemikiran keagamaan A'ba Lele lebih banyak diraup dari pemikiran keagamaan Cak Nun, sehingga A'ba Lele ini bisa disebut anak pemikiran ideologis Cak Nun, dan memang tempat tinggal A'ba Lele sekarang ini, ada terbentuk komunitas pencinta Cak Nun tepatnya di Tinambung, yang dikenal sebagai kampung yang banyak melahirkan budayawan-budayawan handal di tanah mandar, seperti budayawan atau panglima puisi Husni Jamaluddin.

A'ba Lele saat ini, lebih banyak menghabiskan waktunya untuk memberikan pencerahan kebudayaan kepada generasi-generasi muda di wilayah Sulbar khusus Balanipa Majene, hampir semua kegiatan-kegiatan budaya seni dan keilmuan lainnya A'ba selalu menjadi rujukan utama dalam memberikan kontribusi untuk generasi pelanjut terkait dengan kemajuan kebudayaan di tanah Mandar. Kehadiran berbagai tokoh-tokoh budaya nasional, di Sulbar A'ba Lele selalu menjadi rujukan pendamping sebagai pembicara untuk mendampingi tokoh-tokoh nasional tersebut.

Dan sudah banyak kader-kader ideologis A'ba Lele yang ada di Sulbar bahkan ditingkat nasional, untuk melanjutkan pemikiran-pemikirannya. Jejak-jejak pemikiran budaya A'ba Lele sudah banyak tersebar dimana-mana di wilayah Sulbar, dan pemikiran itu sebagai aset Sulbar sebagai rujukan dalam membangun sulbar khususnya yang terkait pembangunan kebudayaan di Sulawesi Barat, saatnya sekarang pemerintahan Sulbar untuk bisa memberi apresiasi terhadap berbagai sumbangan pemikiran kebudayaan terhadap A'ba Lele.

(Bumi Pambusuang, 6 Oktober 2025)

Senin, 28 Juli 2025

(Edisi ke-5) Mamoko dzi Lembang

Sepulang sekolah di SD Negeri Lamasariang, kami bocah-bocah bergegas pulang dengan langkah riang. Matahari sudah condong ke barat, sinarnya memantul di daun kelapa yang bergoyang ditiup angin siang. Di rumah,  sudah tersaji makan siang sederhana: ande madzinging, pissang rottana mimbumbung di pindang. Di sudut meja saya mambualle` pa`annang pattombong, isinya  kappar  buritt` tombong, hanya ada temba-tembang jo’jo yang sudah berendam minyak Mandar, lengkap dengan tiga atau empat biji cabai rawit setan—disebut setan karena pedasnya melampaui batas.

Setelah perut terisi, kami pun bersiap. Sabir, Sudirman, Pinggi, Kaco More, Burhan, dan Saprianto berlari-lari kecil ke rumah Kama Canduru di Timbo. Kami pun berangkat, menapaki jalan tanah dan batu padas yang membelah kebun kelapa. Sepanjang perjalanan,  Lamasariang ke Timbo melewati bakar tallu rumah Kindo Maarifah dan Ngali, melewati jamabatan tomissang molo, mata kami dimanjakan oleh hamparan hijau, suara burung-burung, dan cahaya mentari yang menari di atas batang pohon . Di antara semak, kami saling berlomba, tertawa terbahak hingga napas tersengal. Dunia terasa luas, dan kami hanyalah bocah-bocah yang sedang bersekutu dengan kebahagiaan.
Canduru sudah menunggu bersama adiknya, Tanda. Kami saling menyapa, tertawa lepas, lalu mengikat janji untuk petualangan sore itu: Mamoko dzi Lembang. Di pinggir kampung, suara ayam berkokok bersahut dengan desir angin, Siang itu, langit biru meneteskan cahaya di sela pohon-pohon di pinggir kampung. Punna bakar berdiri teduh, daun lebarnya menari, buah bakar menggantung bagai lentera hijau. Di dekatnya, punna tomissang merimbun, rantingnya digoyang angin, menyimpan aroma manis dari buah yang mulai ranum. Sementara di sepanjang tanah di sana , punna anjoro menjulang, pelepahnya melambai seperti lambaian laut, menyimpan air kehidupan dalam buah yang bergelayut. Di bawah bayang pohon-pohon itu, siang hari terasa ramah, seakan kampung ini bernafas damai dalam pelukan alam.

Sampailah kami di lembang, sebuah bendungan alami yang dijaga oleh anyaman daun kelapa. Obor-obor kecil, atau sulo, tertata rapi menahan air agar tak mengalir bebas. Airnya jernih, berkilau bagai kaca, memantulkan bayang pepohonan yang menjulang di sekitarnya. Gemercik air mengalun di antara bebatuan, seolah menyanyikan lagu lama yang hanya dipahami oleh mereka yang tumbuh di kampung ini.

Di dalam bendungan, ikan, kepiting, dan udang menunggu saatnya dipanen. Air yang tertahan dialirkan ke sisi lain, ditampung dalam bak buatan alami yang ditimbai airnya. Ada yang menguras dengan gayung, ada pula yang terjun langsung, memulai petualangan mamoko—menangkap ikan, kepiting, dan udang dengan tangan kosong. Kami bersorak, tertawa, dan saling menggoda. Lumpur menempel di kaki, tapi wajah kami bersih oleh tawa.

Yang paling seru adalah saat Sudirman menangis menjerit,  karena nasikki i bu’ang!” Teriakan itu menjadi aba-aba untuk kami saling mengejar sambil ciprat-menyipratkan air. Tubuh kami basah kuyup,  hanya celana melekat di kulit, tapi tidak ada yang peduli. Kami larut dalam kegembiraan yang tak bisa dibeli oleh apa pun, apalagi oleh layar kaca atau gawai yang kini merajai dunia anak-anak.

Sore menjelang, langit Timbo  berubah jingga. Kami pun mengumpulkan hasil tangkapan, lalu kembali ke rumah Canduru. Di sana, kindo Canduru sudah siap dengan tungku api, menyambut kami dengan senyum. Udang, ikan, dan kepiting itu dimasak, ada juga loka piapi dan lameayu piapi—dua hidangan khas yang membuat aroma dapur menyeruak ke setiap sudut rumah panggung. Kami duduk melingkar, tangan kecil ini lahap menyantap setiap suapan, ditemani gelak tawa dan cerita-cerita lucu.

Ketika senja turun perlahan, kami pulang dengan langkah gontai tapi hati penuh bahagia. Jalan tanah  batu padas  senja hari masih  terasa hangat di telapak kaki. Di kejauhan, di mesjid lamasariang sudah pelloa pala, menandai hari yang hampir selesai. seolah menyimpan rahasia masa kecil yang tak akan pernah kami lupakan.

Lamasariang  itu adalah surga kecil yang tak ternilai. Di sana, kami belajar tentang kebersamaan, tentang tawa yang tulus, dan tentang betapa indahnya hidup yang sederhana. Dan ketika langit berubah gelap, kami menatap bintang pertama di cakrawala dengan hati yang damai, seolah mendengar bisikan leluhur: “Jagalah tanahmu, cintai kampungmu, karena di sanalah bahagia bermula.”

Begitulah Mamoko dzi Lembang—bukan sekadar cerita masa kecil, melainkan kenangan yang akan selalu hidup di relung jiwa kami. Sebuah kisah tentang alam, persaudaraan, dan cinta yang tak lekang oleh waktu. Lamasariang, engkau selalu indah dalam ingatan.

(Episode ke-4) Pa'ambi Beke

Safardy Bora

Dulu, di Lamasariang—tempat kecil yang tak pernah kecil dalam kenangan—aku hidup bersama aroma tanah basah dan bau kandang kambing yang menyatu dalam pagi. Waktu seolah berputar lambat di sana. Dan aku adalah bocah yang bangga, memelihara beke di bawah rumah panggung kami yang renta tapi hangat. Itulah dunia kecilku—berpagar kayu seadanya, berpintu kayu lapuk yang dibuka dan ditutup dengan simpul tali.

Kandang itu tak luas, tapi cukup buat beberapa ekor beke yang sering kurawat. Ada palung makan yang dibuat dari batang kayu yang sengaja dipahat oleh kama’u. Tempat makan itu tak pernah kosong, sebab aku, kama'u, atau kindo'u akan selalu mencari ande beke, daun-daun hijau ayu ranni kesukaan kambing, dari kebun atau hutan. Kami setiap waktu sore sepulang sekolah menerobos kebun-kebun mengambil ande beke, pokoknya asal beke makan, asal tak ketahuan pemiliknya— mesti sebagian besar ande beke itu memang Spanyol, separuh nyolong.

Kami sering menyusuri lembang Matti’,di ba'ba cendra tempat rimbun dan sejuk tapi menyimpan bahaya. Di balik semak, bisa saja seekor ular piton diam-diam menunggu. Tapi demi beke yang menunggu di kolong rumah, kaki tetap melangkah. Kadang ke Pandebulawang, apalagi kalau sekolah libur. Itu sudah semacam tugas negara: ikut kama dan kindo ke kebun. Kama’u, waktu masih hidup, beliau-lah yang selalu pulang membawa ande beke nasoppo setiap hari. Kalau beliau terlambat pulang, beke akan meraung-raung  tamba’i, meronta di namboyang.

Tapi kadang malas juga datang diam-diam. Jika sudah begitu, maka dua punna camba di poros jalan utama Majene–Polewali, tepat di depan rumah Amma Pisa, menjadi sasaran utama. Pohon camba itu raksasa. Batangnya tak bisa kupeluk, bahkan dengan dua pasang tangan anak-anak pun belum cukup mengelilinginya. Tapi entah bagaimana, aku bisa naik sampai ke puncaknya. Memanjat, bergelantungan, berpindah dari ranting ke ranting, seperti ada tangan tak kasat mata yang menuntun. Kalau dipikir sekarang, benar-benar tak masuk akal. Seolah ada yang mengendalikan. Itu bukan sekadar keberanian bocah. Itu adalah kuasa Allah yang nyata, menjaga anak kecil dengan sejumput niat dan setumpuk tanggung jawab di dadanya.

Kambing kami tak makan siang, cukup malam. Satu kali sehari. Tapi kadang-kadang, kalau ada  rato wakar,  ditatta’, setelah itu diberi minum dari seduhan air garam, disajikan sebagai camilan siang. Tapi keseruan sejatinya bukan di situ. Yang paling heboh adalah saat musim kawin. Suara beke jantan meraung keras memanggil betina, keseruan  berikut jika naulelei barona gulang. Kadang irri-irri tak karuan. Dan kalau sudah karaoi bongi, gaduh tengah malam, tetangga satu kampung bangun mendengar beke menjerit.

Tapi semua itu tak membuat lelahku sia-sia. Memelihara beke tak pernah membuatku merasa kecil. Bahkan sebaliknya, itu semacam lambang tanggung jawab. Aku melakukan semua dengan ikhlas. Tidak berharap pamrih, tak mengharap ucapan terima kasih. Kalau kebetulan ada paalli beke, pembeli kambing datang dari Tammejarra, lalu kambingku dibeli, ya Alhamdulillah. Tapi kalau tidak, ya sudah. Uangnya pun kadang tak sampai ke tanganku. Kindo'u yang mengurus semua. Tapi aku tahu, beke membantu dapur kami tetap berasap.

Keluargaku bukan keluarga berada. Kami hanya petani biasa. Hidup pas-pasan. Kadang uang belanja tidak cukup untuk seminggu. Maka memelihara beke bukan hanya hobi, tapi bagian dari bertahan hidup. Suka duka itu aku jalani tanpa keluh. Kalau aku menangis, itu bukan karena beratnya beban, tapi karena kaki tersandung akar atau terkena duri saat cari ande beke. Atau karena kena parare, ulat bulu gatal yang kadang ikut nempel di ande beke yang menempel di daun pisang. Kalau sampai kambing makan itu, dia akan menjerit, sekeras-kerasnya, seolah dunia hendak runtuh.

Yang paling heboh juga saat ada kegiatan di sekolah, bagaimana pun mengambil makanan kambing musti sore menjelang petang.Sasarannya cuma satu: punna ayu wagzang di tengah kubur Puang Padza yang selalu membuat bulu kuduk berdiri. Sendirian pula di bawah langit merah, bayangan pohon seolah menjelma wajah. Tapi aku tetap melangkah, demi beke yang menanti.

Dulu, memelihara kambing adalah bentuk kebanggaan. Itu adalah tanda bahwa aku anak yang bisa dipercaya, anak lelaki yang mulai menapaki tanggung jawab kecilnya di dunia. Dan beke bukan sekadar hewan ternak, tapi kawan, sahabat yang diam tapi mengerti. Saat dia mengembik pelan karena lapar, aku merasa seperti dipanggil oleh rasa cinta.

Tak semua anak punya kesempatan itu. Tak semua bisa merasakan bagaimana rasanya meramu kasih sayang dari tumpukan daun hijau, atau mendengar suara kambing malam-malam sebagai pengantar tidur. Aku pernah, dan aku bangga. Dari bawah rumah itu, dari kandang kecil itu, aku belajar tentang ketulusan, keikhlasan, dan kerja keras.

Kini, semua itu hanya tinggal kenangan. Tapi setiap kali aroma rerumputan basah menerpa hidungku, atau kudengar embikan dari kejauhan, hatiku dibawa pulang. Kembali ke masa ketika aku kecil di Lamasariang. Masa ketika satu ekor beke bisa membuat dunia terasa lengkap. Masa ketika cinta tidak butuh kata-kata besar, cukup satu embikan yang kutanggapi dengan setangkai raasande beke.

Dan malam ini, aku menulis sambil menahan haru. Di dunia yang serba cepat dan penuh perhitungan ini, ingatan tentang beke adalah oase. Aku tak bisa kembali menjadi anak kecil yang memeluk batang camba, memanjat sampai ke pucuknya, tapi aku tahu—di dalam dadaku, aku belum pernah benar-benar turun. Masih ada bagian dari diriku yang menggenggam ranting, yang berjalan menyusuri hutan, yang duduk di kolong rumah sambil menatap kambing kecil dengan mata penuh harapan.

Mungkin itulah yang disebut pulang. Bukan ke rumah-rumah yang kita bangun di kota, tapi ke rumah dalam kenangan—yang dindingnya terbuat dari kasih, dan lantainya dari keikhlasan. Dan beke—si kecil yang sering kita sebut remeh—telah mengajari aku lebih banyak tentang hidup, daripada banyak buku yang kutamatkan setelah dewasa.

Catatan perjalananku...
Lamasariang yang begitu indah ...

Minggu, 27 Juli 2025