Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Oktober 2026

Jejak Pengabdian Annangguru Sybli Sahabuddin, dari Pakistan ke Senayan hingga Kembali ke Tanah Mandar

Oleh Azis Hisham Maulana 

MAJENE — Perjalanan hidup KH Muhammad Syibli Sahabuddin merupakan kisah tentang pengabdian yang melintasi dunia pendidikan, organisasi keagamaan, tarekat, hingga politik nasional. Sosok yang akrab disapa Annangguru Syibli itu tumbuh dalam tradisi keilmuan Islam, melanjutkan pendidikan hingga Pakistan, memimpin perguruan tinggi di Polewali Mandar, dan mengemban amanah sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) selama dua periode.

Kini, perjalanan panjang tersebut sampai pada penghujungnya. Pada Senin (12/10/2026), jenazah Annangguru Syibli diberangkatkan dari Makassar menuju Majene untuk dimakamkan di Lembang, di samping makam sang ayah, Prof KH Sahabuddin.

Kepergiannya meninggalkan jejak seorang tokoh yang selama puluhan tahun berada di persimpangan pendidikan, kehidupan keagamaan, dan dinamika politik Sulawesi Barat.

𝙈𝙚𝙣𝙚𝙢𝙥𝙪𝙝 𝙋𝙚𝙣𝙙𝙞𝙙𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙝𝙞𝙣𝙜𝙜𝙖 𝙋𝙖𝙠𝙞𝙨𝙩𝙖𝙣

Muhammad Syibli Sahabuddin lahir di Polewali pada 20 Agustus 1968. Ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang lekat dengan pendidikan dan tradisi keilmuan Islam.

Pendidikan dasarnya ditempuh di SDN Busaeri Ternate dan diselesaikan pada 1981. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di MTs Pondok Pesantren Modern IMMIM Makassar hingga 1984, sebelum menamatkan pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Makassar pada 1987.

Pengalaman belajar di pesantren menjadi bagian penting dalam pembentukan dirinya. Namun, perjalanan akademiknya tidak berhenti di lingkungan pendidikan dalam negeri.

Pada 1988, Syibli melanjutkan studi ke International Islamic University (IIU), Islamabad, Pakistan. Keputusan tersebut membawanya ke lingkungan akademik dan pergaulan internasional yang lebih luas.

Di tengah kesibukannya menempuh pendidikan, ia juga aktif dalam organisasi mahasiswa Muslim. Syibli tercatat pernah menjabat Sekretaris Jenderal ASEAN Muslim Student Association (AMSA) pada 1988–1989.

Pengalaman itu memperlihatkan bahwa keterlibatannya dalam organisasi telah tumbuh sejak usia muda, ketika ia masih menempuh pendidikan.

Setelah dari Pakistan, Syibli melanjutkan studi di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 1991. Ia kemudian kembali menempuh pendidikan pascasarjana di kampus yang sama pada 2002.

Perjalanan pendidikan tersebut mempertemukannya dengan beragam lingkungan keilmuan, mulai dari pesantren di Makassar, perguruan tinggi Islam di Pakistan, hingga kehidupan akademik di Jakarta.

Bekal itulah yang kemudian menyertai langkahnya ketika memasuki dunia pendidikan tinggi, organisasi keagamaan, dan politik.

𝙈𝙚𝙡𝙖𝙣𝙟𝙪𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙅𝙚𝙟𝙖𝙠 𝙎𝙖𝙣𝙜 𝘼𝙮𝙖𝙝 𝙙𝙞 𝘿𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙋𝙚𝙣𝙙𝙞𝙙𝙞𝙠𝙖𝙣

Nama Syibli tidak dapat dilepaskan dari Universitas Al Asyariah Mandar (Unasman), perguruan tinggi yang memiliki hubungan erat dengan perjalanan pengabdian keluarganya.

Ayahnya, Prof KH Sahabuddin, dikenal sebagai ulama Mandar sekaligus pendiri Yayasan Al Asyariah Mandar.

Cikal bakal Unasman berawal dari dua lembaga pendidikan tinggi, yakni Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) dan Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIP), yang berdiri pada 1975. Kedua lembaga tersebut kemudian bergabung menjadi Universitas Al Asyariah Mandar pada 2004.

Di kampus inilah Syibli mengambil peran dalam pengembangan institusi pendidikan tinggi di Polewali Mandar.

Pada 2004, ia dipercaya menjadi Direktur Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unasman. Setahun kemudian, ia menjabat sebagai rektor untuk periode 2005–2009.

Sebagai rektor, Syibli berada dalam posisi strategis untuk mengelola dan mengembangkan perguruan tinggi yang sedang menjalani tahap awal sebagai universitas.

Kiprahnya menunjukkan bahwa pengabdian Syibli tidak hanya berlangsung dalam kegiatan dakwah dan pembinaan umat. Ia juga terlibat langsung dalam dunia akademik, pengelolaan perguruan tinggi, serta pengembangan kelembagaan pendidikan.

Setelah menyelesaikan masa jabatannya sebagai rektor, hubungannya dengan Unasman tetap berlanjut. Ia kemudian dikenal sebagai Ketua Yayasan Al Asyariah Mandar, lembaga yang menaungi perguruan tinggi tersebut.

Dengan demikian, pengabdiannya di dunia pendidikan berlangsung melalui dua jalur, yakni memimpin kampus dan berperan dalam yayasan yang menaunginya.

Bahkan, dalam rangkaian perjalanan terakhirnya, jenazah Syibli dijadwalkan disalatkan di masjid kampus Unasman sebelum dibawa ke Lembang untuk dimakamkan.

Tempat tersebut bukan sekadar lingkungan perguruan tinggi. Unasman menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan pengabdian Syibli sekaligus warisan pendidikan yang berkaitan erat dengan keluarganya.

𝘿𝙖𝙧𝙞 𝙊𝙧𝙜𝙖𝙣𝙞𝙨𝙖𝙨𝙞 𝙈𝙖𝙝𝙖𝙨𝙞𝙨𝙬𝙖 𝙝𝙞𝙣𝙜𝙜𝙖 𝙋𝙞𝙢𝙥𝙞𝙣𝙖𝙣 𝙉𝙐 𝙎𝙪𝙡𝙗𝙖𝙧

Selain pendidikan, organisasi menjadi ruang lain yang membentuk perjalanan Syibli.

Ketika berada di Jakarta, ia tercatat sebagai pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Ciputat pada 1990. Ia juga pernah menjadi pengurus Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor pada 1997.

Keterlibatan dalam organisasi mahasiswa dan kepemudaan itu menjadi bagian dari perjalanan panjangnya di lingkungan organisasi Islam.

Langkahnya kemudian berlanjut di Nahdlatul Ulama (NU). Syibli pernah menjabat Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Sulawesi Barat selama periode 2007–2019.

Ia memimpin kepengurusan NU tingkat provinsi selama lebih dari satu dekade. Dalam posisi tersebut, tanggung jawabnya tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan program organisasi, tetapi juga penguatan peran NU dalam kehidupan keagamaan dan kemasyarakatan di Sulawesi Barat.

Pengalaman panjang di lingkungan organisasi membuat Syibli dikenal bukan hanya sebagai ulama, melainkan juga sebagai organisator yang terlibat dalam pengelolaan dan kepemimpinan kelembagaan.

Perjalanan itu memperlihatkan kesinambungan antara latar pendidikan Islam yang ditempuhnya, aktivitas organisasi sejak muda, dan pengabdiannya dalam struktur keagamaan.

𝙈𝙚𝙣𝙚𝙧𝙪𝙨𝙠𝙖𝙣 𝙏𝙧𝙖𝙙𝙞𝙨𝙞 𝙏𝙖𝙧𝙚𝙠𝙖𝙩 𝙌𝙖𝙙𝙞𝙧𝙞𝙮𝙖𝙝

Di luar jabatan formal, Syibli dikenal sebagai mursyid Tarekat Qadiriyah.

Dalam tradisi tarekat, mursyid merupakan pembimbing spiritual yang mendampingi pengikutnya dalam menjalani amalan dan pembinaan keagamaan.

Peran tersebut memiliki kaitan erat dengan latar belakang keluarganya. Sang ayah, Prof KH Sahabuddin, dikenal sebagai ulama Tanah Mandar yang juga memimpin Tarekat Qadiriyah.

Setelah ayahnya meninggal dunia pada 2004, Syibli disebut meneruskan kepemimpinan dalam tarekat tersebut.

Dengan demikian, pengabdiannya di bidang spiritual bukanlah perjalanan yang berdiri sendiri. Ada tradisi keagamaan keluarga yang turut membentuk jalan pengabdiannya.

Di tengah masyarakat Mandar, sebutan Annangguru merupakan panggilan penghormatan bagi guru agama atau ulama. Sebutan itu melekat pada Syibli seiring kiprahnya dalam kehidupan keagamaan masyarakat.

Namun, perannya tidak hanya terbatas pada pembinaan spiritual. Ia juga menjalani tanggung jawab dalam pendidikan tinggi, organisasi keagamaan, dan kehidupan politik.

Berbagai peran tersebut menjadikan perjalanan Syibli memiliki dimensi yang luas, dari pembinaan umat hingga keterlibatan dalam urusan publik.

𝙎𝙚𝙥𝙪𝙡𝙪𝙝 𝙏𝙖𝙝𝙪𝙣 𝙈𝙚𝙢𝙗𝙖𝙬𝙖 𝘼𝙨𝙥𝙞𝙧𝙖𝙨𝙞 𝙎𝙪𝙡𝙖𝙬𝙚𝙨𝙞 𝘽𝙖𝙧𝙖𝙩 𝙙𝙞 𝘿𝙋𝘿 𝙍𝙄

Perjalanan Syibli kemudian meluas ke tingkat nasional melalui jalur politik.

Ia terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia dari daerah pemilihan Sulawesi Barat untuk dua periode berturut-turut, yakni 2009–2014 dan 2014–2019.

Selama sekitar sepuluh tahun, Syibli menjadi bagian dari lembaga perwakilan yang membawa kepentingan daerah ke tingkat nasional.

Keberadaannya di DPD RI memperluas ruang pengabdiannya. Jika di perguruan tinggi ia berhadapan dengan persoalan pendidikan, sementara di organisasi keagamaan ia terlibat dalam pembinaan umat, di lembaga negara ia menjalankan peran dalam memperjuangkan kepentingan daerah sesuai kewenangan senator.

Dua periode di Senayan juga menandai perjalanan seorang tokoh Sulawesi Barat yang tidak hanya berkiprah di lingkungan lokal, tetapi turut terlibat dalam dinamika politik nasional.

Setelah menyelesaikan masa pengabdiannya sebagai senator pada 2019, Syibli tetap melanjutkan aktivitas politik di daerah.

Ia kemudian memimpin Dewan Pimpinan Wilayah Partai Kebangkitan Bangsa (DPW PKB) Sulawesi Barat.

Jabatan tersebut menjadi babak berikutnya dalam perjalanan politiknya. Kali ini, perannya berada dalam kepemimpinan partai yang menjadi salah satu saluran perjuangannya di tingkat daerah.

Perpindahan dari lembaga perwakilan menuju kepemimpinan partai menunjukkan bahwa aktivitas politik tetap menjadi bagian dari perjalanan hidupnya setelah menuntaskan dua periode di DPD RI.

𝙒𝙖𝙧𝙞𝙨𝙖𝙣 𝙆𝙚𝙡𝙪𝙖𝙧𝙜𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙍𝙚𝙠𝙖𝙢 𝙅𝙚𝙟𝙖𝙠 𝙋𝙚𝙣𝙜𝙖𝙗𝙙𝙞𝙖𝙣

Latar belakang keluarga memberikan konteks penting untuk memahami perjalanan Syibli.

Ia merupakan putra Prof KH Sahabuddin, tokoh yang dikenal memiliki peran dalam pengembangan pendidikan dan kehidupan keagamaan di Tanah Mandar.

Pengaruh lingkungan keluarga juga terlihat dari keterlibatan sejumlah anggota keluarga dalam dunia pendidikan tinggi, di antaranya Chuduriah Sahabuddin dan Prof. Wasilah Sahabuddin.

Kehidupan dalam keluarga yang dekat dengan pendidikan dan tradisi keilmuan Islam menjadi bagian dari lingkungan tempat Syibli bertumbuh.

Meski demikian, perjalanan hidupnya tidak hanya dapat dilihat sebagai kelanjutan nama besar sang ayah. Ia juga membangun rekam jejak melalui pendidikan yang ditempuh, pengalaman organisasi, kepemimpinan perguruan tinggi, pengabdian sebagai ulama, hingga keterlibatannya dalam politik.

Ia pernah memimpin Unasman, menjadi Ketua Tanfidziyah PWNU Sulawesi Barat, menjalani dua periode sebagai anggota DPD RI, serta memimpin PKB Sulawesi Barat.

Rentang peran itu memperlihatkan bagaimana Syibli menjalani sejumlah ruang pengabdian yang berbeda tanpa sepenuhnya meninggalkan latar pendidikan dan keagamaan yang membentuk dirinya.

Bagi masyarakat Mandar, namanya tidak hanya berkaitan dengan jabatan politik. Ia juga terhubung dengan dunia pendidikan Islam, tradisi tarekat, dan perjalanan organisasi keagamaan di Sulawesi Barat.

𝙈𝙖𝙠𝙖𝙨𝙨𝙖𝙧, 𝙋𝙤𝙡𝙚𝙬𝙖𝙡𝙞, 𝙙𝙖𝙣 𝙇𝙚𝙢𝙗𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙋𝙚𝙧𝙟𝙖𝙡𝙖𝙣𝙖𝙣 𝙏𝙚𝙧𝙖𝙠𝙝𝙞𝙧

Pada Senin (12/10/2026), perjalanan hidup Annangguru Syibli memasuki babak terakhir.

Ia mengembuskan napas terakhir setelah menjalani perawatan di RSUP Wahidin Sudirohusodo, Makassar. Jenazahnya kemudian dijadwalkan dibawa menuju Majene, dengan singgah di Universitas Al Asyariah Mandar untuk disalatkan sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat pemakaman di Lembang.

Tiga tempat tersebut memiliki makna tersendiri dalam perjalanan hidupnya.

Makassar menjadi kota tempat ia berpulang. Polewali Mandar menyimpan jejak pengabdiannya di dunia pendidikan melalui Unasman. Sementara Lembang menjadi tempat peristirahatan terakhirnya, berdampingan dengan makam sang ayah yang menjadi salah satu tokoh penting dalam perjalanan pendidikan dan keagamaan keluarga Sahabuddin.

Kepulangannya ke Lembang seolah mempertemukan kembali perjalanan seorang anak dengan jejak pengabdian ayahnya.

Semasa hidup, Syibli menempuh pendidikan hingga Pakistan, memimpin perguruan tinggi, mengabdi dalam organisasi keagamaan, meneruskan tradisi Tarekat Qadiriyah, serta membawa mandat politik Sulawesi Barat ke tingkat nasional.

Kini, seluruh perjalanan itu menjadi bagian dari rekam jejak yang ditinggalkannya.

Annangguru Syibli Sahabuddin bukan hanya seorang mantan senator atau pimpinan partai politik. Ia juga seorang ulama yang mengabdikan diri dalam pendidikan dan kehidupan keagamaan masyarakat Mandar.

Kepergiannya menandai berakhirnya perjalanan seorang tokoh yang bergerak di antara dunia ilmu, spiritualitas, dan politik.

Di Lembang, ia akan beristirahat di samping sang ayah. Sementara jejak pengabdiannya tetap menjadi bagian dari perjalanan pendidikan, organisasi keagamaan, dan kehidupan masyarakat Sulawesi Barat.[*]

ULAMA TAREKAT QADIRIYAH ANNANGGURU DR. K.H. MUHAMMAD SYIBLI SAHABUDDIN BERPULANG

Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji‘uun.

Oleh: Syarif Syamsul

Kabar duka menyelimuti masyarakat Mandar, Sulawesi Barat, termasuk kami yang berada di Kalimantan, khususnya Balikpapan. Annangguru K.H. Muhammad Syibli Sahabuddin, ulama yang meneruskan pengajaran Tarekat Qadiriyah di Tanah Mandar, telah berpulang ke rahmatullah hari ini.

Kepergian beliau bukan sekadar kehilangan seorang ulama, melainkan juga bagian dari berakhirnya perjalanan pengabdian seorang guru yang selama hidupnya menjaga kesinambungan tradisi keilmuan dan spiritual umat. Bagi para murid dan masyarakat yang mengenalnya, kepergian Annangguru Syibli menjadi duka mendalam sekaligus pengingat tentang tanggung jawab merawat warisan ilmu yang ditinggalkannya.

Nama Annangguru K.H. Muhammad Syibli Sahabuddin memiliki tempat tersendiri dalam perjalanan Tarekat Qadiriyah di Tanah Mandar. Beliau merupakan putra Prof. Dr. K.H. Sahabuddin, ulama yang meneruskan pengajaran Qadiriyah dari Annangguru K.H. Muhammad Shaleh. Setelah ayahandanya wafat, Annangguru Syibli melanjutkan mata rantai pengajaran tersebut, menjaga agar tradisi spiritual yang diwariskan para pendahulunya tetap hidup di tengah masyarakat.

Dalam tradisi Mandar, panggilan Annangguru bukan sekadar bentuk penghormatan kepada orang yang memiliki pengetahuan agama. Sebutan itu juga mencerminkan kedudukan seorang guru sebagai pembimbing umat, penanam adab, dan penuntun dalam memahami nilai-nilai kehidupan berdasarkan ajaran Islam.

Terlebih dalam tradisi tarekat, tugas seorang guru tidak berhenti pada penyampaian amalan dan tuntunan zikir. Ada tanggung jawab membimbing murid untuk membersihkan hati, memperbaiki akhlak, mengendalikan hawa nafsu, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. Semua itu merupakan perjalanan panjang yang menuntut kesabaran, keikhlasan, dan kesungguhan dalam mengamalkan ajaran agama.

Karena itu, wafatnya seorang guru tarekat menghadirkan amanah yang tidak ringan bagi para penerusnya. Tradisi keilmuan harus terus dihidupkan melalui pengajaran, pengamalan, dan keteladanan agar nilai-nilai yang diajarkan tetap memberi manfaat bagi generasi berikutnya.

Kini, ketika Annangguru Syibli telah kembali ke hadirat Allah SWT, keluarga, murid, dan masyarakat Mandar tentu merasakan kehilangan yang mendalam. Namun, di balik kesedihan itu, terdapat tanggung jawab untuk melanjutkan ikhtiar menjaga kesinambungan pengajaran Tarekat Qadiriyah, merawat persaudaraan, serta memastikan bahwa ajaran kebaikan yang diwariskan para ulama tetap menjadi bagian dari kehidupan umat.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an, Surah Ali Imran ayat 185: “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.”

Ayat ini menegaskan bahwa kehidupan dunia memiliki batas dan setiap manusia akan kembali kepada Sang Pencipta. Kedudukan, keluasan ilmu, maupun besarnya pengabdian tidak menjadikan seseorang luput dari kematian. Namun, berakhirnya usia tidak berarti seluruh manfaat kehidupan seseorang ikut terhenti. Ilmu yang bermanfaat, amal saleh, dan kebaikan yang ditanamkan kepada sesama dapat terus hidup melalui orang-orang yang menerima, mengamalkan, dan meneruskannya.

Rasulullah SAW juga bersabda bahwa apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendoakannya. Pesan ini mengingatkan kita bahwa salah satu warisan paling berharga dari seorang ulama adalah ilmu yang membimbing manusia menuju kebaikan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Bagi masyarakat Mandar, Annangguru Syibli merupakan bagian dari perjalanan panjang para ulama yang mengabdikan hidupnya untuk agama dan umat. Sementara bagi kami yang berada jauh dari Tanah Mandar, kabar kepergian beliau menghadirkan kesedihan tersendiri. Jarak geografis tidak memutus ikatan batin dengan tanah kelahiran, tradisi keagamaan, dan para guru yang menjadi bagian dari perjalanan spiritual masyarakat.

Selamat jalan, Annangguru.

Semoga Allah SWT mengampuni segala khilaf beliau, menerima amal ibadah dan pengabdiannya, melapangkan alam kuburnya, menerangi tempat peristirahatannya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.

Kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga Allah SWT menganugerahkan kesabaran dan ketabahan. Kepada para murid serta penerusnya, semoga diberikan keikhlasan dan kekuatan untuk menjaga amanah keilmuan yang telah diwariskan.

Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.

𝔻𝕚 𝔸𝕟𝕥𝕒𝕣𝕒 𝕃𝕒𝕟𝕥𝕒𝕚 𝕊𝕒𝕥𝕦 𝕕𝕒𝕟 𝕃𝕒𝕟𝕥𝕒𝕚 𝔼𝕞𝕡𝕒𝕥 (Kenanganku tentang Annangguru Syibli Sahabuddin)


Oleh Farham Rahmat 

Ada pertemuan saya dengan beliau yang berlangsung begitu singkat, tetapi kenangannya jauh lebih lama daripada waktu yang mewadahinya. Tidak di ruang-ruang besar, tidak di sidang-sidang penting, tidak di podium yang tinggi, juga tidak dalam percakapan panjang yang sengaja dikonsep.

Pertemuan dengan beliau pada tahun 2018, di tempat sederhana, yaitu di dalam lift, di antara lantai satu dan lantai empat, ketika Annangguru Syibli Sahabuddin menyampaikan kalimat yang kelak terus hidup dalam ingatanku.

Waktu itu, saya menjadi staf ahli seorang Anggota DPD RI dari Sulawesi Tengah, berinisial NDB. Sebuah amanah yang saya terima atas rekomendasi seorang senior, Andi Zulkarnain. Masih teringat jelas, bagaimana langkah awal itu memasuki dunia yang dipenuhi urusan politik dan birokrasi, namun di moment yang sama juga mempertemukan saya dengannya yang menyimpan keluasan pengalaman, kebijaksanaan, dan pandangan hidup ukhrawi.

Gedung DPD MPR RI menjadi salah satu ruang tempat saya belajar memahami dunia tersebut. Di sana, keputusan-keputusan dibicarakan, aspirasi diperjuangkan, dan kepentingan masyarakat dibawa ke dalam percakapan resmi negara. Segala sesuatu tampak berjalan dalam tata cara sidang, rapat, dokumen, agenda, dan berbagai prosedur.

Namun, di balik semua itu, ada pertanyaan yang lebih mendasar, untuk apa kekuasaan dijalankan, dan nilai apa yang seharusnya menuntun orang-orang di dalamnya?

Saya tidak menyangka, sebuah jawaban atas pertanyaan itu saya temukan saat percakapan singkat bersama Annangguru Syibli yang saat itu menjabat sebagai DPD RI dari Sulawesi Barat.

Hari itu, Sidang Paripurna telah usai. Orang-orang mulai meninggalkan ruang sidang, membawa berkas, percakapan, dan pikiran masing-masing. Saya pun bergerak menuju lift, di sana bertemu dengan Annangguru Syibli.

Di dalam lift itu, Annangguru menyampaikan sebuah pesan yang hingga kini tetap saya ingat: "Birokrasi tidak boleh kosong dari nilai-nilai agama," demikian ingatanku.

Kalimat itu sederhana, tidak berbelit-belit. Namun, seolah beliau sedang mengingatkan bahwa birokrasi jangan disalahfahami hanya bicara soal aturan, jabatan, kewenangan, dan administrasi. Di dalamnya harus ada nilai yang menjaga manusia agar tidak kehilangan arah.

Birokrasi bisa saja memiliki prosedur yang lengkap dan detail, tetapi bisa juga kehilangan empati. Apa pun itu, maksud dari semua itu adalah pelayanan kepada manusia. Ia bisa tampak tertib di atas kertas, tetapi tidak boleh kehilangan kejujuran ketika berhadapan dengan kepentingan.

Di situlah nilai-nilai agama menemukan tempatnya. Tidak sebatas kalimat-kalimat suci yang terdengar menenangkan dalam pidato. Nilai agama semestinya menjelma menjadi integritas, amanah, keadilan, kejujuran, dan keberanian untuk menempatkan kepentingan publik di atas kepentingan pribadi.

Saat mengenang kembali waktu  itu, saya menyadari bahwa tidak semua pelajaran datang melalui peristiwa besar. Ada yang hadir dalam percakapan singkat, dalam perjumpaan tanpa rencana, bahkan dalam perjalanan beberapa lantai sebuah gedung. Annangguru Syibli Sahabuddin adalah bagian dari kenangan itu.

Belakangan saya baru tahu bahwa pijakan itu tertera jelas dalam kitab Al-Mawardi, al-Ahkam al-Sulthaniyyah. Saya membacanya saat mengawal Muhammad Zain di Mamasa. 

Secara umum, kitab itu bicara tentang kepemimpinan menjadi kewajiban syar'i untuk menjaga agama dalam mengatur urusan dunia (khilafatun nubuwwah fi hirasatid din wa siyasatid dunya). Di sana, ada kontrak sosial, pemimpin wajib menegakkan keadilan dan melindungi rakyat, sedangkan rakyat wajib taat.

Begitu juga Al-Ghazali, dalam buku adab berpolitik terjemah dari Al-Tibr al-Masbuk fi Nashihat al-Muluk. Politik tidak lepas dari etika dan agama. Agama dan kekuasaan ibarat dua saudara kembar (ad-din wal mulk tawamani). 

Penguasa harus adil, rendah hati, dekat dengan ulama, tidak zalim, dan menjauhi hawa nafsu serta kemewahan. Penguasa dipandang sebagai bayangan Tuhan di bumi, sehingga wajib ditaati (selama menjaga keadilan dan syariat).

Begitu juga Muhammad Iqbal, memandang bahwa Islam adalah kesatuan agama dan politik, dikenal dengan Demokrasi spiritual, yaitu kedaulatan tertinggi milik Allah, sedangkan rakyat mengelolanya lewat musyawarah dan ijtihad kolektif, yang harus dilakukan oleh parlemen (ijma' modern).

Innalillahi wa inna ilaihi roji'un.
Selamat Jalan Annangguru, pesan-pesan hikmahmu akan selalu menjadi pengingat dalam mengarungi kehidupan.

Al-Fatihah

MENGENANG ANNANGGURU KH. Muhammad Syibli Sahabuddin Jejak Ilmu, Pengabdian, dan Keteladanan


Oleh : Almadar Fattah 

Innalillahi wa innailaihi raji’un. Duka mendalam menyelimuti Tanah Mandar dan seluruh Sulawesi Barat atas berpulangnya Annangguru KH. Muhammad Syibli Sahabuddin. Kepergian beliau bukan sekadar kehilangan seorang ulama, melainkan juga kehilangan sosok yang telah menorehkan jejak pengabdian dalam dunia keagamaan, pendidikan, sosial, dan politik. Nama beliau menjadi bagian dari perjalanan panjang Sulawesi Barat, dengan segala ikhtiar dan pengabdian yang telah dipersembahkan bagi masyarakat.

Annangguru KH. Muhammad Syibli Sahabuddin dikabarkan berpulang ke rahmatullah pada Ahad malam, 11 Oktober 2026, pukul 21.45 WITA, di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar. Kabar duka itu meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarga, para santri, sahabat, kolega, serta masyarakat yang mengenal sosok beliau. Di tengah keheningan malam, kepergian seorang ulama karismatik ini mengingatkan kita bahwa setiap manusia memiliki batas perjalanan, tetapi nilai-nilai kebaikan yang ditanamkannya dapat terus hidup melampaui usia.

Semasa hidupnya, Annangguru KH. Muhammad Syibli Sahabuddin dikenal sebagai ulama yang memiliki keluasan peran. Beliau tidak hanya menekuni jalan dakwah dan pendalaman spiritual, tetapi juga mengambil bagian dalam membangun pendidikan serta memperjuangkan aspirasi masyarakat melalui ruang pengabdian publik. Perjalanan hidupnya memperlihatkan bahwa ilmu tidak semestinya berhenti di ruang pengajian, melainkan perlu menjelma menjadi tindakan nyata yang memberi manfaat bagi kehidupan bersama.

Dalam dunia pendidikan, beliau pernah mengemban amanah sebagai Rektor Universitas Al Asyariah Mandar (Unasman) pada periode 2006–2009. Amanah tersebut menempatkan beliau dalam perjalanan pengembangan perguruan tinggi di Tanah Mandar. Pendidikan, pada hakikatnya, bukan sekadar urusan memindahkan pengetahuan dari satu generasi kepada generasi berikutnya, melainkan juga membentuk karakter, menumbuhkan kesadaran, dan menyiapkan manusia agar mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan akar nilai dan kebudayaannya.

Pengabdian beliau kemudian berlanjut di tingkat nasional. Annangguru KH. Muhammad Syibli Sahabuddin terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) dari daerah pemilihan Sulawesi Barat selama dua periode, yakni 2009–2014 dan 2014–2019. Kepercayaan masyarakat tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan pengabdiannya sebagai tokoh daerah yang membawa aspirasi Sulawesi Barat ke ruang perwakilan nasional. Jabatan itu sekaligus memperlihatkan persinggungan antara nilai-nilai keulamaan dan tanggung jawab dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Di lingkungan Nahdlatul Ulama, beliau juga dikenal melalui pengabdiannya sebagai Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Sulawesi Barat pada periode 2009–2024. Dalam organisasi keagamaan, kepemimpinan bukan hanya tentang menjalankan struktur dan mengelola program, tetapi juga merawat persaudaraan, menjaga kesinambungan tradisi, serta memperkuat peran ulama dalam membimbing kehidupan umat. Jejak pengabdian tersebut menjadi bagian dari perjalanan organisasi Islam di Sulawesi Barat yang terus berhadapan dengan tantangan sosial dan perubahan zaman.

Dalam perjalanan politik, Annangguru KH. Muhammad Syibli Sahabuddin juga mengemban amanah sebagai Ketua Dewan Pengurus Wilayah Partai Kebangkitan Bangsa Sulawesi Barat sejak 2017. Peran ini menambah dimensi lain dalam perjalanan hidupnya, memperlihatkan keterlibatan beliau dalam ruang politik dan organisasi. Bagi seorang tokoh publik, jabatan merupakan amanah yang selalu terikat dengan tanggung jawab kepada masyarakat. Sementara bagi masyarakat, warisan seorang pemimpin tidak hanya diukur dari jabatan yang pernah diduduki, tetapi juga dari rekam jejak, gagasan, dan kontribusi yang dapat dikenang.

Namun, untuk memahami sosok Annangguru KH. Muhammad Syibli Sahabuddin secara lebih mendalam, perhatian tidak dapat dilepaskan dari perjalanan spiritualnya. Beliau dikenal sebagai tokoh tasawuf di Tanah Mandar sekaligus ulama dan mursyid Tarekat Qadiriyah. Dalam tradisi tasawuf, perjalanan spiritual mengajarkan manusia untuk menundukkan kesombongan, membersihkan hati, memperhalus akhlak, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Nilai-nilai tersebut menjadi pengingat bahwa kedalaman ilmu agama semestinya berjalan beriringan dengan kerendahan hati dan kemuliaan perilaku.

Perjalanan pengabdian beliau bahkan telah melintasi batas daerah dan negara. Pada 1988–1989, beliau pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal ASEAN Muslim Student Association (AMSA) di Islamabad, Pakistan. Beliau juga tercatat pernah menjadi pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Ciputat pada 1990 dan Pengurus Pusat Gerakan Pemuda Ansor di Jakarta pada 1997. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa perjalanan intelektual dan organisasinya telah terbentuk sejak usia muda, melalui perjumpaan dengan lingkungan pendidikan, gerakan mahasiswa, dan jaringan kepemudaan Islam.

Annangguru KH. Muhammad Syibli Sahabuddin berpulang pada usia 58 tahun. Usia itu mungkin terasa singkat jika diukur dari panjangnya waktu, tetapi makna pengabdian tidak selalu ditentukan oleh berapa lama seseorang hidup. Ada manusia yang kehadirannya meninggalkan jejak dalam pemikiran, ada yang dikenang melalui perjuangannya, dan ada pula yang namanya tetap disebut karena peran yang pernah dijalankannya dalam kehidupan masyarakat. Dalam diri beliau, perjalanan keulamaan, pendidikan, organisasi, dan politik menjadi bagian dari catatan yang patut dikenang sekaligus dipelajari secara jernih oleh generasi penerus.

Kini, ketika Annangguru KH. Muhammad Syibli Sahabuddin telah kembali ke hadirat Allah SWT, yang tersisa bagi kita bukan hanya kesedihan, melainkan juga tanggung jawab untuk merawat nilai-nilai baik yang pernah diperjuangkannya. Tanah Mandar dan Sulawesi Barat kehilangan seorang ulama dan tokoh publik, tetapi ilmu, keteladanan, serta rekam pengabdian yang terdokumentasi dengan baik dapat terus menjadi sumber pembelajaran bagi generasi mendatang. Sebab, kematian mengakhiri perjalanan jasmani, tetapi kebaikan yang diwariskan dapat terus menemukan jalannya di dalam ingatan dan kehidupan manusia. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah beliau, mengampuni segala khilafnya, melapangkan kuburnya, dan menempatkannya di sisi terbaik-Nya. Selamat jalan, Annangguru. Semoga ilmu menjadi cahaya, pengabdian menjadi jejak, dan keteladanan menjadi warisan yang tak lekang oleh waktu. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Penulis : Pemerhati Sastra & Budaya Tahun 90-an di Makassar.

Kamis, 14 Mei 2026

BELAJAR MENGHARGAI PROSES || Balajar Dari Kisah Prof. Luke

Oleh: Syamsumarlin, Lc (Eks ketua KKS Cairo periode 2002-2003)
Haru sekaligus gembira Ketika membaca berita di media social. Prof. DR. Lukman Arake, Lc, MA dilantik sebagai Rektor IAIN Bone periode 2026 – 2030. Tidak terasa air mata saya meleleh dengan sendirinya dan mengantarkan saya membuat catatan sederhana ini.

Apa yang Istimewa dari Prof. DR. Lukman Arake?. Sekilas biasa saja. Sebelumnya, beberapa Rektor yang kebetulan alumni Al Azhar juga sudah dilantik baik di UIM, bahkan  Rektor IAIN Kudus, 4 tahun lebih muda dari beliau juga dilantik 2 tahun yang lalu.

Tentu saja tidak terlepas dari pandangan subjektifitas sebagai sesama alumni Al Azhar, sesama alumni Darudda’wah wal Irsyad dan lebih khusus lagi sesama diaspora Mandar yang menimba ilmu di Univ. Al Azhar. Tetapi di balik itu, ada kesabaran dan ketekunan yang menjadi catatan tersendiri

Lukman Arake lahir di Rea Barat, berdarah Bugis Mandar, tetapi kemudian besar dan menetap di Desa Makkombong, Kec. Matakali. Desa yang mungkin sangat nadir di pendengaran kita. Mengaji secara tradisional di guru guru mengaji Rea Barat dan punya cita cita besar. Pada tahun 1985 dia melanjutkan Pendidikan di Pondok Pesantren DDI Mangkoso, baik tingkatan Tsanawiyah dan Aliyah selama 6 tahun. Bak skenario yang sudah diracik, dia kemudian melanjutkan pendidikan ke Universitas Al Azhar pada tahun 1993.

Saya teringat, sewaktu saya tiba di Cairo pada tahun 1996, beberapa senior berprestasi didaulat untuk memberikan bimbingan praktis kepada kami selaku mahasiswa baru. Untuk ke Ushuluddin-an didapuk oleh Dr. Abd. Rahman Arsyad (sekarang dosen di Universitas Kutai Kartanegara), kedirasatan oleh Prof. DR. Muammar Bakri (Rektor UIM Makassar),  Kesyariahan oleh Prof. DR. Lukman Arake, begitupula Prof. Dr. Afifuddin Haritsah juga tentang Ke ushuluddinan. Mereka semua adalah mahasiswa-mahasiswa hebat yang mewarnai dinamika kemahasiswaan di Cairo pada waktu itu.

Dari nama-nama di atas, satu persatu meninggalkan Cairo dan melanjutkan jenjang Pendidikan lanjutan di tanah air. Opsi melanjutkan jenjang S2 di Universitas Al Azhar adalah pilihan berat, dibutuhkan kalkulasi khusus dan hanya dilakukan oleh orang orang khusus. Beasiswa Al Azhar juga hanya mengakomodir Pendidikan pada strata S1 saja. Pada periode perideo tersebut, sakralitas S2 sangat terasa. Jika satu mata kuliah yang error, maka semuanya harus diulang Kembali pada tahun berikutnya. Yang paling miris, ada kesan penjatahan. Standar kelulusan dilihat dari nilai tertinggi. Tertinggi berikutnya akan diikutkan pada term kedua. Jarang sekali yang bisa menyelesaikan program magister dalam rentang waktu 4-5 tahun. Biasanya 6 s.d 7 tahun. Pertimbangan pertimbangan ini yang membuat banyak yang memilih jalan pintas, lanjut  di tempat kuliah yang lain. Lukman Arake mengambil jalan sunyi ini, melanjutkan Pendidikan S2 Univ. Al Azhar dengan penuh ketekunan. Kesulitan ekonomi akibat krisis moneter pada Tahun 1997 juga berdampak pada mahasiswa Mesir, banyak yang memilih Kembali ke tanah air. Harapan satu satunya untuk mempertahankan kontinuitas kuliah adalah melalui jasa pengurusan jamaah haji. Pada tahun 1999, karena keasyikan mencari biaya tambahan di musim haji, ada kejadian memilukan. Beberapa mahasiswa ditangkap oleh pihak keamanan Kerajaan Saudi Arabia, termasuk Kanda Prof. Lukman. Waktu itu, mahasiswa Mesir yang bekerja diklaim ekspatriat (pemukim illegal), Alhamdulillah, setelah memperlihatkan visa semuanya bisa terselesaikan dengan baik. Terkadang, untuk mempertahankan hidup, mahasiswa mendaftar di beberapa lembaga tahfizh yang menyediakan beasiswa. 

Pada tahun 2005, beliau pulang ke tanah air setelah 12 tahun tahun berada di negeri kinanah. Titel magister sudah ditangan dan pada saat yang sama sedang mengikuti program S3 di Universitas Al Azhar.  Waktu itu saya sebagai kepala KUA Kec. Matakali berusaha memfasilitasi beliau dengan pemangku kekuasaan di Polewali Mandar saat itu. Karena beliau adalah asset yang sangat berharga. Putra daerah yang murni dengan biaya sendiri menuntut ilmu di negeri Kinanah. Sayang, gayung tak bersambut. Hingga kemudian dia memilih Kembali ke Cairo menyelesaikan Pendidikan S3 nya. Sekali lagi, ini adalah pilihan berat. Melanjutkan S3 di Universitas al Azhar. Untuk pengesahan judul saja, harus keliling 15 Universitas cabang Al Azhar di Mesir. S3 nya pun diselesaikan dengan judul disertasi “Al Fiqhus Assiyasiy Al Islamiy lil aqalliyat, pada tanggal 21 Agustus 2008 dengan predikat Mumtaz ma'a syaraf al Ula. 

Setelah menyelesaikan Pendidikan S3 di Cairo, takdir mempertemukannya dengan Bapak Prof. Nasaruddin Umar yang waktu itu sebagai Dirjen Bimas Islam dan Penyelenggaraan Haji. Beliau diamanahi untuk menjadi Dewan Hakim pada MTQ Nasional tahun 2007 dan diamanahi untuk membina Pondok Pesantren Al Ikhlash, besutan Bapak Prof. DR. Nasaruddin Umar di Kec. Ujung Bone.

Beliau mengikuti semua proses dari awal, sebagai dosen honorer, terangkat menjadi ASN pada 2011, merangkak dari pangkat ke pangkat berikutnya. Hingga menjadi Guru Besar dan akhirnya menjadi orang nomor 1 di IAIN Bone.  

Beliau si anak hilang, permata dari tanah Mandar yang memberikan kilaunya ditanah Bone dan secara umum di Sulawesi Selatan. Dari beliau, kita harus belajar tentang kesabaran yang terkadang di luar nalar, menghargai proses dan belajar menerima takdir. Kita terkadang terkilau melihat keberhasilan seseorang, tetapi tidak melihat usaha yang dibaliknya. Ada kisah pilu, tangis dan terkadang dengan tetesan darah.

Selamat, Prof. Dr. Lukman Arake, Lc, MA. Pakar Siyasah Syar’iyah dari tanah Mandar. Saatnya memberikan Khidmah terbaik bagi nusa, bangsa dan agama.

 

Mamuju, 13 Mei 2026


Selasa, 12 Mei 2026

Pesan Bijak A'BA TAMMALELE Untuk Generasi Muda

Oleh : Almadar Fattah 

Apa yang disampaikan Budayawan A'BA TAMMALELE, baru-baru ini di media sosial tentang pentingnya membangun nalar dan naluri patut diapresiasi sebagai pesan yang bernilai. Sepenggal frasa yang ia sampaikan dapat dijadikan bahan renungan sekaligus sumber edukasi bagi generasi muda.

Di tengah derasnya arus informasi saat ini, masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan menerima kabar dengan cepat. Kecepatan tanpa kebijaksanaan justru sering membawa orang pada kesalahan dalam memahami kenyataan.

Hari ini, informasi datang tanpa henti melalui layar gawai. Berita, opini, komentar, dan berbagai pandangan bercampur menjadi satu arus yang sulit dibendung. Jika tidak disikapi dengan hati-hati, masyarakat mudah terseret dalam kebingungan dan kesalahpahaman.

Hari ini, informasi datang tanpa henti melalui layar gawai. Berita, opini, komentar, dan berbagai pandangan bercampur menjadi satu arus yang sulit dibendung. Jika tidak disikapi dengan hati-hati, masyarakat mudah terseret dalam kebingungan dan kesalahpahaman.

Karena itu, ajakan untuk membangun nalar menjadi sangat penting. Nalar adalah kemampuan akal untuk berpikir jernih, menimbang benar dan salah, serta memisahkan fakta dari opini yang menyesatkan.

Dengan nalar yang sehat, seseorang tidak mudah percaya begitu saja terhadap setiap informasi yang beredar. Ia akan memeriksa sumber, memahami konteks, dan mempertimbangkan dampak sebelum mengambil sikap.

Nalar juga melatih manusia agar tidak gegabah dalam menilai orang lain. Ia mengajarkan sikap tenang, teliti, dan mampu melihat persoalan dari berbagai sudut pandang sebelum mengambil kesimpulan.

Di sisi lain, membangun naluri juga tidak kalah penting. Naluri adalah kepekaan batin yang membuat manusia mampu merasakan keadaan di sekitarnya. Ia menuntun seseorang untuk peduli terhadap sesama dan peka terhadap penderitaan orang lain.

Naluri yang sehat melahirkan empati. Seseorang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga memahami kesulitan orang lain dan terdorong untuk membantu ketika dibutuhkan.

Ketika nalar dan naluri berjalan seiring, lahirlah pribadi yang utuh. Ia cerdas dalam berpikir, tetapi tetap lembut dalam merasa. Ia mampu berbicara dengan logika, namun tetap bertindak dengan hati nurani.

Pribadi seperti ini tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam. Ia tahu kapan harus bersikap tegas dan kapan harus menunjukkan kelembutan. Dalam setiap tindakan, ada pertimbangan akal sekaligus sentuhan rasa kemanusiaan.

Pesan tersebut sangat relevan di era media sosial saat ini. Banyak orang mudah terpancing emosi, terburu-buru membagikan kabar, dan cepat menghakimi tanpa memahami persoalan secara utuh. Fenomena ini menunjukkan pentingnya pendidikan karakter di ruang digital.

Ajakan A'BA TAMMALELE menjadi pengingat bahwa kecerdasan tanpa nurani bisa menyesatkan. Sebaliknya, kepekaan tanpa nalar juga dapat membuat seseorang kehilangan arah dalam mengambil keputusan. Karena itu, keduanya harus berjalan bersama.

Membangun nalar dan naluri berarti membangun manusia seutuhnya: tajam dalam berpikir, lembut dalam merasa, serta tepat dalam bertindak. Pesan sederhana yang disampaikan A'BA TAMMALELE ini sesungguhnya mengandung makna besar bagi masa depan kehidupan bersama.

Sabtu, 25 April 2026

ANWAR SADAT || Dari Konsistensi Ke Prestasi Pengakuan Layak

Oleh : Almadar Fattah 

Pencapaian akademik kembali diraih oleh dunia pendidikan tinggi keagamaan di Indonesia, khususnya di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Majene. Salah satu dosennya, Prof. Dr. H. Anwar Sadat, M.Ag., resmi menerima Surat Keputusan (SK) Guru Besar dalam bidang Ilmu Sosiologi Hukum Islam, sebuah capaian prestisius yang menandai puncak perjalanan akademiknya.

Penyerahan SK tersebut dilakukan secara simbolik oleh Menteri Agama Republik Indonesia melalui mekanisme daring, bersama dengan 94 guru besar lainnya dalam lingkup Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Indonesia. Momentum ini menjadi bagian dari pengakuan nasional atas dedikasi para akademisi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.

Acara penyerahan berlangsung khidmat di tengah Rapat Senat Terbuka STAIN Majene yang dirangkaikan dengan peringatan Dies Natalis ke-IX serta prosesi Wisuda Sarjana. Suasana akademik yang penuh semangat semakin memperkuat makna pencapaian tersebut bagi civitas akademika.

Perjalanan panjang Prof. Anwar Sadat menuju gelar Guru Besar tidaklah instan. Ia memulainya dari ketekunan dalam menempuh pendidikan tinggi hingga meraih kualifikasi akademik yang mumpuni di bidangnya.

Tidak hanya berhenti pada pendidikan formal, ia juga aktif mengembangkan diri melalui berbagai aktivitas akademik, mulai dari mengajar, meneliti, hingga mengabdi kepada masyarakat. Kiprah tersebut dijalaninya dengan konsisten dan penuh dedikasi.

Pengalamannya sebagai pengajar dan peneliti juga ditempa di berbagai perguruan tinggi di Kota Makassar, termasuk di kampus almamaternya, UIN Alauddin Makassar. Dari sana, ia memperluas wawasan dan memperkaya pengalaman akademiknya.

Konsistensi dalam membaca, menulis, serta menghasilkan karya ilmiah menjadi kunci utama dalam perjalanan akademiknya. Berbagai publikasi dan penelitian yang dihasilkannya menjadi fondasi kuat untuk mencapai jabatan akademik tertinggi.

Dalam refleksinya, Prof. Anwar Sadat mengungkapkan bahwa motivasi terbesarnya adalah keinginan untuk terus memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang Hukum Islam dan Dirasah Islamiyah.

Selain itu, ia juga memiliki komitmen kuat dalam membimbing generasi muda agar mampu berprestasi dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Baginya, keberhasilan seorang akademisi tidak hanya diukur dari gelar, tetapi juga dari kontribusi sosialnya.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antar dosen dan lembaga pendidikan dalam menciptakan ekosistem akademik yang sehat dan produktif. Dukungan institusi dinilai menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian.

Setelah meraih gelar Guru Besar, Prof. Anwar Sadat berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas riset dan pembelajaran di kampus. Ia juga berencana memperkuat kerja sama lintas disiplin guna menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks.

Kepada para dosen muda, ia berpesan agar tetap tekun dalam menulis, meneliti, dan mengajar. Menurutnya, konsistensi adalah kunci utama dalam meraih kemajuan akademik sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi kemaslahatan umat.

Sambil menantikan hari pengukuhan resmi sebagai Guru Besar, Prof. Anwar Sadat menyampaikan rasa syukur atas pencapaian yang diraihnya. Ia berharap dapat terus berkarya dan mengabdi demi kemajuan agama, bangsa, dan negara.

Apa yang diraih oleh Anwar Sadat adalah sesuatu yang sangat pantas dan layak diapresiasi. Saya mengenal betul kiprahnya di bidang akademik, bahkan sebagian perjalanan beliau sebagai dosen telah saya ikuti dan tuangkan dalam berbagai tulisan. Konsistensi, ketekunan, serta dedikasinya dalam dunia pendidikan menjadi bukti nyata bahwa capaian ini bukanlah sesuatu yang instan, melainkan hasil dari proses panjang yang penuh komitmen.

Selamat dan sukses atas pencapaian yang membanggakan ini. Semoga apa yang diraih hari ini tidak hanya menjadi prestasi pribadi, tetapi juga mampu menjawab tantangan pendidikan tinggi di masa depan, serta memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan generasi mendatang.

Selasa, 10 Februari 2026

PROFIL SINGKAT ||KH.Mahmoeddin Atjo Kanna Marilalalng


Profil Singkat KH.Mahmoeddin Atjo Kanna Marilalalng. 
(1933-1999), Sang Ulama, Birokrat, Tokoh Pendidik dan Politisi 

Lahir di Majene 31 Desember 1933. 
✅ Pendidikan Formal.
Menamatkan Sekolah SR di Majene dan PGA 6 Thn di Surabaya Jawa Timur, pernah belajar ke Anregurutta Abd Rahman Ambo Dalle di Pare-Pare. Meraih Sarjana Muda di IAIN Alauddin Makassar. 
✅ Belajar kitab kuning ke beberapa Ulama diantaranya ke Annangguru Shaleh, dan ke pamannya  KH. Muhtar Badawi dan KH. Muh.Idris. dan beberapa ulama di Sulawesi Selatan dan Jawa Timur. 
✅ Jabatan di Birokrasi: 
Kepala Kantor Inspeksi Pendidikan Islam Kab. Polmas (1962-1970). Kepala Kantor Perwakilan Departemen Agama Polmas (1970-1971), Kepala Kantor Departemen Agama Pertama Polmas (1971-1985), Kepala Kantor Departemen Agama Sidrap (1985-1987), Kepala Departemen Agama Kodya Ujung Pandang (1987-1991), Pengawas Departemen Agama Sulawesi Selatan (1991-1996). 
Pernah ditawari menjadi Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Departemen Agama Propinsi Maluku dan Bali, namun ditolak karena pertimbangan keluarga. 
✅Organisasi : Ketua MUI Polmas Pertama, Anggota Partai Golkar Polmas dan Sulawesi Selatan. 
Pernah terpilih menjadi Anggota DPRD Sulawesi Selatan namun karena kondisi sakit (stroke) akhirnya diserahkan ke kader Golkar lainnya.
✅Pendiri Yayasan Pendidikan Islam Polmas (YAPIS).
✅ Mengajar : Guru Agama tahun 1960-an, Widyaswara dan Penatar P4. 
✅ Kontribusi pada Pendidikan Islam di Mandar : Sebagai pelopor pengangkatan Guru Agama di Polmas, mulai thn 1970-1985. Pendiri Yayasan Yapis. 
✅ Keluarga. KH. Mahmoeddin Atjo masih memiliki hubungan kekerabatan dari Raden Mas Suryo Dilogo Penganjur Islam di Wilayah Pamboang dan Syekh Zakariah Hasan Al Yamani, Penyiar Islam di Wilayah Sendana. 
✅ Memiliki 10 anak dari Istri Pertama dan 2 anak dari istri kedua.

Sumber: Aco Musaddad

Senin, 02 Februari 2026

SALIM MENGGA || Ketika Sunyi Menjadi Warisan

Penulis: Safardy Bora

Di Pambusuang, laut tidak pernah benar-benar diam. Ia berulang kali memecah sunyinya sendiri, seolah sedang melatih seorang anak lelaki untuk kelak mengerti arti kesabaran. Anak itu bernama Salim Sayyid Mengga. Ia tumbuh tanpa banyak kata, belajar bahwa hidup tidak selalu perlu dijelaskan, cukup dijalani dengan lurus.
Ketika ia meninggalkan kampung halaman, tidak ada pesta perpisahan. Hanya doa yang disimpan rapat, dan langkah yang sengaja tidak dipercepat. Di Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, ia belajar tentang barisan, tentang taat, dan tentang cara menahan diri. Tahun 1974, ia lulus—bukan sebagai pemenang, melainkan sebagai seseorang yang siap memikul beban yang panjang.
Puluhan tahun kemudian, seragam itu telah menyerap banyak keringat dan sunyi. Ia memimpin tanpa menghardik, memberi perintah tanpa meninggikan suara. Dari Kavaleri hingga ke pucuk amanah sebagai Panglima Kodam Pattimura, ia berjalan perlahan, seolah takut menginjak sesuatu yang bukan haknya. Pangkat Mayor Jenderal melekat padanya seperti usia: datang dengan sendirinya, tanpa diminta.
Saat masa dinas selesai, Salim tidak berhenti mengabdi. Ia hanya menurunkan nada. Dari medan latihan ke ruang sidang, dari aba-aba ke musyawarah. Dua periode ia duduk di DPR RI, menjaga perkara negeri dengan kehati-hatian seorang prajurit yang paham bahwa kata-kata pun bisa melukai. Ia berbicara sedikit, mendengar lebih lama.
Ketika ia dipercaya menjadi Wakil Gubernur Sulawesi Barat, ia kembali memilih bekerja di balik layar. Menyambung yang hampir putus, menenangkan yang mulai gaduh. Ia tahu, kekuasaan tidak selalu perlu ditampakkan; sering kali ia cukup hadir agar yang lain merasa aman.
Orang-orang menyebutnya menyejukkan, tetapi barangkali kata itu terlalu ringan. Ia adalah ketenangan yang tidak menghakimi, kehadiran yang tidak menekan. Ia tidak memburu dikenang, bahkan tidak tampak bersiap untuk pergi.
Namun pada 31 Januari 2026, waktu memanggilnya pulang. Di Makassar, napasnya berhenti dengan damai, seolah ia memang telah lama bersiap. Kabar kepergiannya menyebar pelan, seperti hujan yang turun tanpa guntur—tidak gaduh, tetapi membuat dada sesak.
Pagi 1 Februari 2026, Taman Makam Pahlawan Kalibata menerima tubuh yang telah selesai menjaga negeri. Langit Jakarta menunduk, dan orang-orang berjalan dengan kepala tertahan. Tanah dibuka dengan penuh hormat, doa-doa dibacakan dengan suara yang patah di tengah jalan. Ketika jasad itu diturunkan, sunyi mendadak terasa berat, seolah ada sesuatu yang ikut dikuburkan bersama—keteladanan yang tak pernah meminta tepuk tangan.
Bendera dilipat perlahan. Tangis tidak pecah, hanya menetes. Sebab sebagian kehilangan memang tidak cocok ditangisi keras-keras. Ia lebih layak dikenang dalam diam.
Salim Sayyid Mengga tidak meninggalkan gemuruh nama. Ia meninggalkan rasa kehilangan yang tenang, yang baru terasa ketika kita sadar: ada orang-orang yang selama ini menjaga tanpa terlihat, dan ketika mereka pergi, barulah kita mengerti betapa sunyi dunia tanpa kehadiran mereka.
Di tanah itulah ia kini berbaring. Di antara para pahlawan. Bukan karena pangkat atau jabatan, melainkan karena ia telah menjalani hidupnya dengan setia—dan pulang tanpa menyisakan kebisingan.*

Jumat, 16 Januari 2026

Darah Mandar - Zainal Arifin Mochtar DIKUKUHKAN GURU BESARFAKULTAS HUKUM UGM

Oleh : Almadar Fattah  

Kabar membanggakan datang dari Jogjakarta, Darah Mandar, Zainal Arifin Mochtar, yang akrab disapa Uceng, resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM). Prosesi pengukuhan berlangsung khidmat di Balai Senat, Gedung Pusat UGM, pada Kamis (15/1). Pengukuhan ini tidak hanya menjadi capaian akademik pribadi, tetapi juga kebanggaan bagi masyarakat Mandar dan Sulawesi Barat, karena menunjukkan bahwa putra daerah mampu berkiprah dan berkontribusi nyata di tingkat nasional melalui dunia akademik dan pemikiran hukum.

Dalam prosesi pengukuhan tersebut tampak hadir sejumlah tokoh nasional, di antaranya Wakil Presiden ke-10 dan ke-11 Republik Indonesia, Jusuf Kalla (JK), mantan Menko Polhukam Mahfud MD, mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, mantan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, mantan penyidik KPK Novel Baswedan, hingga Ketua DPD RI GKR Hemas. Kehadiran para tokoh lintas latar belakang ini semakin menegaskan kapasitas, integritas, serta pengaruh pemikiran Zainal Arifin Mochtar dalam dunia hukum dan kehidupan kebangsaan.

Anies Baswedan yang ditemui awak media turut menyampaikan ucapan selamat kepada Zainal Arifin Mochtar (Uceng). Menurutnya, pengukuhan ini merupakan sebuah puncak baru dalam pengabdian kepada keilmuan, sekaligus penegasan atas dedikasi panjang Uceng dalam mengembangkan pemikiran hukum yang kritis dan berintegritas. Anies menilai capaian tersebut bukan hanya prestasi personal, tetapi juga kontribusi penting bagi dunia akademik dan kehidupan berbangsa.

Sosok Uceng dikenal memiliki keahlian yang kuat, wawasan yang luas, serta keberanian untuk mengungkapkan pikiran dan menegur setiap penyimpangan. Keberanian inilah yang menjadi pembeda utama seorang kecendekiawan sejati, tidak hanya menguasai ilmu, tetapi juga berani berdiri di atas nilai dan kebenaran. Sikap tersebut menjadikan Uceng bukan sekadar akademisi, melainkan intelektual yang menghadirkan ilmu sebagai alat menjaga nurani, etika, dan keadilan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bagi Uceng, kecendekiawanan bukan semata-mata untuk kemajuan ilmu pengetahuan, melainkan juga sebagai penjaga nurani republik. Ilmu harus hadir untuk memastikan negara ini tetap berjalan di jalur yang baik dan benar, dengan hukum yang tegak, kekuasaan yang diawasi, serta kepentingan rakyat yang diutamakan. Inilah makna kecendekiawanan sejati: ilmu yang berpihak pada kebenaran, berani mengingatkan, dan konsisten menjaga arah perjalanan republik.

Ayah Uceng adalah KH. Mochtar Husain, seorang ulama besar dari Tanah Mandar yang dikenal luas dengan julukan “Singa Podium”. Julukan tersebut mencerminkan ketegasan, keberanian, serta kekuatan retorika beliau dalam berdakwah dan menyuarakan kebenaran. 

Sosok KH. Mochtar Husain menjadi teladan moral dan intelektual yang jejak nilainya turut mengalir dalam perjalanan hidup dan pemikiran Uceng hingga kini.

Warisan nilai keilmuan, integritas, dan keberanian moral dari sosok KH. Mochtar Husain inilah yang turut membentuk karakter Uceng sebagai intelektual yang berani bersuara, teguh pada prinsip, dan konsisten menjaga nilai-nilai kebenaran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Profil Uceng
Zainal Arifin Mochtar atau yang akrab disapa Uceng lahir di Makassar, 8 Desember 1978. Ia menempuh pendidikan tinggi Strata Satu (S1) Ilmu Hukum di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan lulus pada tahun 2003. Setelah itu, Uceng melanjutkan studi ke luar negeri dengan menempuh jenjang Strata Dua (S2) di Northwestern University, Chicago, Amerika Serikat, dan berhasil meraih gelar Master of Law (LL.M) pada tahun 2006.

Selain itu, Zainal Arifin Mochtar juga memperkaya kapasitas akademiknya dengan mengikuti berbagai program internasional. Ia menyelesaikan kursus Summer School Administrative Law hasil kerja sama Universitas Gadjah Mada–Maastricht University, Belanda, pada tahun 2006. Selain itu, ia juga mengikuti Summer School American Legal System di Georgetown Law School, Washington, Amerika Serikat.

Latar belakang pendidikan tersebut menjadi fondasi kuat bagi Uceng dalam mengembangkan pemikiran hukum yang kritis, berintegritas, dan konsisten memperjuangkan tegaknya prinsip negara hukum.

Pengalaman akademik lintas negara tersebut semakin memperkuat perspektif dan kedalaman pemikiran Zainal dalam bidang hukum administrasi dan sistem hukum, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Minggu, 26 Oktober 2025

GARA-GARA NAMA EMHA DIPANJANGKAN



Catatan Hamzah Ismail 

Salah satu gawean besar Teater Flambonyant pada tahun 1990-an yang sempat menyedot perhatian media lokal maupun nasional adalah upaya mempertemukan Prof. Dr. H. Baharuddin Lopa, S.H., M.H. dengan Emha Ainun Nadjib.  Saat itu, Baharuddin Lopa sedang menjabat Sekjen Komnas HAM sekaligus Dirjen Lapas Departemen Kehakiman, sementara Emha Ainun Nadjib, tokoh nasional yang tengah dicekal rezim Orde Baru karena kritik-kritiknya yang tajam terhadap kekuasaan. Keduanya dijadwalkan bertemu dalam sebuah seminar bertema “Kebebasan Berekspresi”.

Beberapa hari menjelang hari “H”, panitia dikejutkan oleh kabar bahwa Emha Ainun Nadjib tidak diperkenankan berbicara dalam seminar tersebut. Alasannya: panitia disebut belum memiliki izin resmi. Pihak keamanan meminta agar izin kegiatan harus dikeluarkan langsung oleh Kapolda Sulawesi Selatan, padahal izin dari Polres Polewali Mamasa sudah di tangan panitia selama seminggu.

Menanggapi situasi itu, panitia segera berkoordinasi dengan pihak kepolisian. Ternyata benar: panitia diarahkan untuk mengurus izin ke Polda. Namun waktu yang tersisa sudah terlalu mepet. Akhirnya, panitia memutuskan untuk nekat melanjutkan acara hanya dengan izin dari Polres Polmas. Apa pun risikonya, seminar harus tetap jalan.

Kasus ini cepat menyebar ke media. Jawa Pos memuat berita berjudul “Emha dan Baharuddin Lopa Akan Bersanding di Mandar”, sedangkan Republika ---yang kala itu menjadi pesaing serius Kompas--- menjadikannya sebagai tajuk rencana.

Berita pencekalan itu membuat tokoh-tokoh Mandar turun tangan. Bahkan Bupati Polmas, Andi Kube Dauda, ikut melobi Kapolres. Pak Kube Dauda merasa tak enak, sebab salah satu pembicara yang akan dihadirkaan, Baharuddin Lopa, putra Mandar yang menjabat di tingkat nasional.

Sebagai ketua panitia pelaksana, saya bersama rekan-rekan mendapat arahan dari beberapa tokoh Mandar ---Husni Djamaluddin, Subaer Rukkawali, dan Puang Mappa (Andi Mappatunru). Kami diminta mundur selangkah: seminar tetap berlangsung, Emha tetap dihadirkan, tetapi tidak boleh berbicara.

Kami setuju, namun mengusulkan alternatif lain: Emha ditampilkan sebagai pembaca Qalam Ilahi. Kami yakin, bila ia mengaji, ia pasti akan berbicara banyak, setidaknya mengulas ayat-ayat yang ia baca.

Sayangnya, rencana itu batal. Tokoh-tokoh Mandar yang mendampingi kami bersikeras agar Emha tidak tampil sama sekali ---cukup hadir di dalam ruangan. Kami pun, lagi-lagi, mengalah.

Malam hari, selepas Isya, sekitar lima ratusan peserta memadati gedung di Gunung Mita. Seminar dimulai. Husni Djamaluddin bertindak sebagai moderator. Dua pembicara tampil di panggung: Baharuddin Lopa dan Subaer Rukkawali. Sementara itu, Emha Ainun Nadjib duduk di barisan depan, di samping Mara’dia H. Abdul Malik Pattana I Yendeng, seperti peserta biasa.

Di luar gedung, suasana tegang. Aparat kepolisian berjaga ketat, dipimpin langsung oleh Wakapolres. Puluhan intel berpakaian preman lalu-lalang, mengawasi panitia dan peserta. 

Sempat ada panitia yang nyaris beradu urat leher dengan Wakapolres, tetapi Paramisi Ma’dua, tokoh disegani, segera menahannya sebelum benturan terjadi.

Usai seminar di Gedung Mita Tinambung, rombongan berpindah ke rumah Puang Mappa di Kandeapi, hanya beberapa ratus meter dari lokasi acara. Di rumah itulah ---tanpa mikrofon, tanpa izin, tanpa panggung resmi--- Baharuddin Lopa, Emha Ainun Nadjib, Husni Djamaluddin, Subaer Rukkawali, Alisjahbana, dan sejumlah tokoh lainnya, serta puluhan pemuda Mandar menggelar pertemuan bebas. Mereka berbicara dengan semerdeka-merdekanya, sementara intel aparat masih mondar-mandir di jalan depan rumah.

Lalu, mengapa izin seminar dari Polres Polmas itu bisa terbit pada awalnya, yang belakangan hendak dibatalkan sepihak?

Rahasianya sederhana.

Ketika panitia mengajukan permohonan izin ke Polres Polmas, kami mencantumkan belasan nama pembicara. Nama Emha Ainun Nadjib kami letakkan di urutan ketiga dari terakhir, lalu dipanjangkan menjadi “Muhammad Ainun Nadjib.”

Harapannya sederhana: nama itu tidak dikenali. Sebab, penulisan lengkap “Muhammad Ainun Nadjib” tidak lazim digunakan.

Dari Emha menjadi Muhammad, tampak sepele, tapi cukup untuk mengecoh siapa pun yang tidak betul-betul mengenal sosoknya.

Dan benar saja: izin itu pun terbit tanpa masalah.

Tabeeqqq.
Tinambung, 26 Oktober 2025, dini hari.

Keterangan Foto: 
1. Emha Ainun Bersama Mara'dia Balanipa H. Abdul Malik Pattana I Yendeng
2. Emha Ainun Nadjib bersama Prof. Dr. H. Baharuddin Lopa, SH, MH

DUA SIMPUL KEKUATAN SOSIAL BERTEMU

Oleh : Almadar Fattah 

Konsep "dua simpul kekuatan sosial bertemu" antara ilmiah dan alamiah menggambarkan harmoni antara pengetahuan modern dan kearifan lokal. Ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan dapat berjalan seiring dengan nilai-nilai alamiah dan tradisi, sehingga menciptakan keseimbangan yang positif bagi masyarakat dan lingkungan. Sinergi ini sangat penting untuk menciptakan pembangunan yang berkelanjutan dan harmonis.

Pertemuan kedua tokoh ini sungguh menggambarkan harmoni antara modernitas dan tradisi di Sulawesi Barat. Gubernur Suhardi Duka dan Tomalaqbita Arayang Balanipa Bau Arifin Malik sepertinya memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan antara kemajuan zaman dan nilai-nilai luhur budaya lokal. Kerja sama antara konsep "pemegang pena" dan "pemegang payung" ini menunjukkan sinergi yang kuat untuk memajukan Sulawesi Barat sambil tetap menghormati akar sejarahnya. Semoga Sulawesi Barat terus berkembang dengan tetap menjaga keaslian budayanya.

Identitas daerah memang sangat terkait erat dengan akar budayanya. Dengan menjaga dan melestarikan budaya, kita dapat memastikan bahwa warisan leluhur tetap hidup dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Harmoni antara kemajuan dan pelestarian budaya ini sangat penting untuk membangun masyarakat yang kuat dan berakar. Budaya yang lestari akan terus menjadi sumber inspirasi dan kekuatan bagi generasi mendatang.

Semoga sinergi antara pemerintah dan Arayang Balanipa dapat terus terjalin dengan baik dalam menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya dan tradisi di Sulawesi Barat. Dengan kerja sama yang harmonis, nilai-nilai budaya dapat terus dipertahankan dan diwariskan kepada generasi mendatang, sehingga identitas budaya Sulawesi Barat tetap terjaga dan menjadi kebanggaan bagi masyarakatnya.

Konsep tersebut menunjukkan bahwa integrasi antara pengetahuan modern dan kearifan lokal dapat membawa dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan. Dengan menggabungkan kedua aspek ini, kita dapat menciptakan solusi yang lebih holistik dan berkelanjutan, serta memperkuat identitas budaya dan lingkungan. Sinergi ini sangat berharga dalam menghadapi tantangan zaman dan membangun masa depan yang lebih baik.

Nilai-nilai budaya dan tradisi memang sangat erat kaitannya dengan identitas suatu daerah dan masyarakatnya. Mereka membentuk karakter dan jati diri masyarakat, serta menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Dengan memelihara dan melestarikan nilai-nilai budaya dan tradisi, kita dapat memperkuat rasa kebersamaan dan kesatuan dalam masyarakat. Budaya dan tradisi adalah warisan berharga yang perlu dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Peradaban yang maju seringkali ditandai dengan penghargaan yang tinggi terhadap nilai-nilai budaya dan tradisi. Nilai-nilai ini menjadi fondasi moral dan etika yang membentuk karakter masyarakat. Semakin tinggi peradaban suatu daerah, semakin besar pula kesadaran akan pentingnya melestarikan dan mengembangkan warisan budaya dan tradisi sebagai bagian dari identitas dan kebanggaan kolektif.

(Kolumnis Berbagai Media Harian di Makassar Tahun 90an)

Minggu, 12 Oktober 2025

Saat Bunda Cammana ‘Memerintah’ Malaikat'

Ketika dua orang ‘murid’ Al Mukarram Bunda Cammana, keduanya ASN, mendapat kepercayaan dari atasannya, diberi amanah menjadi tomawuwenna kappung, dua orang itu mendapat kepecayaan menjadi camat masing-masing di dua kecamatan. Sebutlah (nama samaran) murid petama bernama Hasbullah, dan murid kedua bernama Abdul Gaffar. 

Hasbullah saat pertama kali berangkat ke tempat tugasnya yang baru, terlebih dahulu ia singgah untuk ‘pamit’ dan berharap mendapatkan ‘jimat’ keselamatan dari Al Mukarram Bunda Cammana. 

Pagi sekali Hasbullah tiba di rumah Bunda. 

Baru saja Hasbullah masuk ke ruang tamu dan kursi yang didudukinya belumlah terasa hangat, di luar dugaan, tiba-tiba Bunda berseru ke ruang dapurnya, agar Hasna puteri beliau, segera mengangkat kappar, dan membawanya ke ruang tengah. 

Bunda : “Ka’na, akkke’i iting mai kappar, Nak o!”

Hasna bersegera menyahuti ‘perintah’ Bunda. Seketika tergelarlah kappar, berisi aneka macam penganan, sokkol, loka tiraq, beserta beberapa kelengkapannya, ternyata Bunda Cammana secara mandiri telah menyiapkan ‘ritual’ mambaca-baca sebagai proses syukuran atas capaian muridnya, tanpa memberi tahu sebelumnya. 

Hasbullah pun diminta untuk mengambil posisi tepat berhadapan dengan Bunda Cammana. Hasbullah sungguh tidak menduga, jika ia akan ‘dirayakan’ oleh Bunda Cammana, sesaat sebelum ia melakukan tugas pertama di kantornya yang baru. Hasbullah hanya bisa diam, sambil berkaca-kaca matanya. 

Sungguh diluar dugaan, ia akan dipelakukan seperti itu, sebab Hasbullah bukan kali ini saja ia mendapat amanah, setidaknya sudah tiga kali mutasi jabatan formal pemerintahan, tapi satu pun, tidak pernah ada niat, baik dari dirinya sendiri maupun dari keluarga (istri dan anak-anaknya) untuk melakukan ‘perayaan’ yang sama sebelum ia bekerja di tempat tugas yang baru.

Undung kemudian dibakar, wangi kemenyan pun merebak harumnya kemana-mana, memenuhi segala ruangan. Prosesi mambaca-baca sebagai tanda syukuran pun di mulai. Doa dan shalawat mengalir lirih dari mulut Bunda Cammana. Hasbullah ikut larut di dalamnya, menirukan bunyi shalawat Bunda. 

Tiba di puncak doa, Bunda Cammana mengangkat, lalu menengadahkan tangannya mengarah langit, agak tinggi ia mengangkat tangannya. Lalu menyapa Allah, membujuk akan turunnya berkah Muhammad SAW., dan terakhir… Bunda ‘memerintah’ Malaikat, lirih Bunda berseru,

“Demi kuasa Allah, dan berkah Rasulullah Muhammad SAW, 
Wahai seluruh Malikat, wahai Kiramun Katibin, 
jagalah dua anakku, Hasbullah dan Abdul Gaffar,
selama keduanya bekerja di tempat tugasnya yang baru.”

Hasbullah tercengang mengamati cara Bunda Cammana menyeru langit seperti itu, bahwa Tuhan, Nabi dan Malaikat, tampak terasa amat dekat baginya. Menyerunya, tidak perlu teriak-teriak, apalagi keras, cukup dengan bisikan lirih dan sedikit airmata.

Lalu kepada Hasbullah, disodorkan sebuah paket kecil, sekira ukurannya tiga kali empat. Tampak benar bagian paling luar dari paket itu, foto Tosalamaq Imam Lapeo. Hasbullah menyalami dan mencium tangan Bunda Cammana, saat menerima paket itu. 

Salaman lalu cium tangan, menurut Hasbullah adalah penanda “halalnya sebuah pemberian dan berkahnya sebuah penerimaan.” 

Hmmm…. Diam-diam Hasbullah, merasakan adanya energi tambahan… 

Keterangan Foto: Mbah Nun bersama Bunda Cammana, di Limboro (rumah Bunda). Sumber foto: caknun.com

Senin, 06 Oktober 2025

TAMMALELE || Sang Budayawan Nyentrik

Oleh : Ilham Sopu

Nama Tammalele yang akrab dipanggil A'ba Lele adalah nama yang sangat familier di daerah Mandar. Setiap berbicara budaya, seni, sosiolog, antropologi sekaitan dengan mandar, nama ini tidak pernah luput dari perbincangan. Dialog-dialog, diskusi-diskusi, seminar-seminar, pertemuan-pertemuan budaya, diskusi-diskusi pojok, diskusi-diskusi kampung, nama Tammalele selalu melekat dalam pertemuan tersebut. A'ba Lele adalah budayawan yang lahir  dari alam, universitasnya alam, budayawan yang lahir secara otodidak. Ia lahir di kappung Pambusuang di tahun 60 an. 

Di awal kehidupannya di kappung Pambusuang, A'ba Lele banyak ditempa dengan cerita-cerita ala Pambusuang yang biasanya berpusat di barung-barung di berbagai sudut kampung. Pambusuang kaya dengan berbagai tempat-tempat diskusi yang mengupas berbagai materi-materi diskusi yang muncul secara spontan, dan diperbincangkan di tempat-tempat pertemuan seperti "barung-barung", di tempat inilah yang menjadi ciri khas Pambusuang masa lalu dan sampai saat ini.

A'ba Lele bukan hanya mahir dalam bicara budaya, seni, tapi juga sangat menguasai term-term keagamaan klasik yang banyak diperbincangkan orang dengan analisis sosial kesejarahan Pambusuang pada masa dulu, dia banyak tau sejarah para annangguru di Pambusuang, pemikiran-pemikirannya, dan berbagai latar belakang keahlian para annangguru, serta perdebatan-perdebatan keilmuan antara satu annangguru dengan annangguru yang lain.

Perdebatan atau diskusi dengan sesama annangguru adalah hal yang sering terjadi di Pambusuang, dan itu secara tidak terjadwal, dimanapun mereka berkumpul, seperti di tempat-tempat hajatan, di pasar, di pinggir laut, di barung-barung, di sudut-sudut rumah, hampir selalu terjadi diskusi yang materinya lebih banyak berkaitan dengan masalah keagamaan. Lewat diskusi-diskusi seperti ini A'ba Lele kecil, banyak menyerap percikan-percikan pemikiran annangguru yang berdiskusi pada waktu itu. Disinilah tempat belajar A'ba Lele mengais ilmu-ilmu keagamaan dan model-model berdiskusi ala Pambusuang.

Model pembelajaran keagamaan yang didapatkan A'ba Lele bukanlah model formal, tapi lebih banyak model-model non formal lewat diskusi-diskusi ala kampung yang marak terjadi di berbagai tempat di Pambusuang pada waktu itu. Di tahun 80 an, A'ba Lele banyak menghabiskan waktunya untuk mengajar ilmu sejarah di pesantren Nuhiyah Pambusuang, sekaligus juga memanfaatkan untuk memperdalam ilmu-ilmu keagamaan kepada KH Abdurrahman, pimpinan pesantren Nuhiyah Pambusuang yang dikenal sebagai annangguru yang banyak mengkader generasi-generasi pelanjut keilmuan keagamaan di Pambusuang.

Disamping penguasaan metode-metode debat ala Pambusuang, A'ba Lele juga aktif mengikuti perkembangan keilmuan nasional lewat tokoh-tokoh nasional yang menjadi rujukannya, seperti Emha Ainun Najib yang lebih akrab dipanggil Cak Nun, seorang budayawan yang mumpuni, sekaligus seorang Kiai. A'ba Lele banyak mengais ilmu lewat Cak Nun, melalui interaksi langsung maupun lewat buku-buku Cak Nun yang banyak beredar di tahun 80 an sampai 90 an, hampir semua buku-buku Cak Nun menjadi koleksinya dan betul-betul menguasai pemikiran-pemikiran Cak Nun.

Pemikiran-pemikiran keagamaan A'ba Lele lebih banyak diraup dari pemikiran keagamaan Cak Nun, sehingga A'ba Lele ini bisa disebut anak pemikiran ideologis Cak Nun, dan memang tempat tinggal A'ba Lele sekarang ini, ada terbentuk komunitas pencinta Cak Nun tepatnya di Tinambung, yang dikenal sebagai kampung yang banyak melahirkan budayawan-budayawan handal di tanah mandar, seperti budayawan atau panglima puisi Husni Jamaluddin.

A'ba Lele saat ini, lebih banyak menghabiskan waktunya untuk memberikan pencerahan kebudayaan kepada generasi-generasi muda di wilayah Sulbar khusus Balanipa Majene, hampir semua kegiatan-kegiatan budaya seni dan keilmuan lainnya A'ba selalu menjadi rujukan utama dalam memberikan kontribusi untuk generasi pelanjut terkait dengan kemajuan kebudayaan di tanah Mandar. Kehadiran berbagai tokoh-tokoh budaya nasional, di Sulbar A'ba Lele selalu menjadi rujukan pendamping sebagai pembicara untuk mendampingi tokoh-tokoh nasional tersebut.

Dan sudah banyak kader-kader ideologis A'ba Lele yang ada di Sulbar bahkan ditingkat nasional, untuk melanjutkan pemikiran-pemikirannya. Jejak-jejak pemikiran budaya A'ba Lele sudah banyak tersebar dimana-mana di wilayah Sulbar, dan pemikiran itu sebagai aset Sulbar sebagai rujukan dalam membangun sulbar khususnya yang terkait pembangunan kebudayaan di Sulawesi Barat, saatnya sekarang pemerintahan Sulbar untuk bisa memberi apresiasi terhadap berbagai sumbangan pemikiran kebudayaan terhadap A'ba Lele.

(Bumi Pambusuang, 6 Oktober 2025)

Senin, 28 Juli 2025

(Edisi ke-5) Mamoko dzi Lembang

Sepulang sekolah di SD Negeri Lamasariang, kami bocah-bocah bergegas pulang dengan langkah riang. Matahari sudah condong ke barat, sinarnya memantul di daun kelapa yang bergoyang ditiup angin siang. Di rumah,  sudah tersaji makan siang sederhana: ande madzinging, pissang rottana mimbumbung di pindang. Di sudut meja saya mambualle` pa`annang pattombong, isinya  kappar  buritt` tombong, hanya ada temba-tembang jo’jo yang sudah berendam minyak Mandar, lengkap dengan tiga atau empat biji cabai rawit setan—disebut setan karena pedasnya melampaui batas.

Setelah perut terisi, kami pun bersiap. Sabir, Sudirman, Pinggi, Kaco More, Burhan, dan Saprianto berlari-lari kecil ke rumah Kama Canduru di Timbo. Kami pun berangkat, menapaki jalan tanah dan batu padas yang membelah kebun kelapa. Sepanjang perjalanan,  Lamasariang ke Timbo melewati bakar tallu rumah Kindo Maarifah dan Ngali, melewati jamabatan tomissang molo, mata kami dimanjakan oleh hamparan hijau, suara burung-burung, dan cahaya mentari yang menari di atas batang pohon . Di antara semak, kami saling berlomba, tertawa terbahak hingga napas tersengal. Dunia terasa luas, dan kami hanyalah bocah-bocah yang sedang bersekutu dengan kebahagiaan.
Canduru sudah menunggu bersama adiknya, Tanda. Kami saling menyapa, tertawa lepas, lalu mengikat janji untuk petualangan sore itu: Mamoko dzi Lembang. Di pinggir kampung, suara ayam berkokok bersahut dengan desir angin, Siang itu, langit biru meneteskan cahaya di sela pohon-pohon di pinggir kampung. Punna bakar berdiri teduh, daun lebarnya menari, buah bakar menggantung bagai lentera hijau. Di dekatnya, punna tomissang merimbun, rantingnya digoyang angin, menyimpan aroma manis dari buah yang mulai ranum. Sementara di sepanjang tanah di sana , punna anjoro menjulang, pelepahnya melambai seperti lambaian laut, menyimpan air kehidupan dalam buah yang bergelayut. Di bawah bayang pohon-pohon itu, siang hari terasa ramah, seakan kampung ini bernafas damai dalam pelukan alam.

Sampailah kami di lembang, sebuah bendungan alami yang dijaga oleh anyaman daun kelapa. Obor-obor kecil, atau sulo, tertata rapi menahan air agar tak mengalir bebas. Airnya jernih, berkilau bagai kaca, memantulkan bayang pepohonan yang menjulang di sekitarnya. Gemercik air mengalun di antara bebatuan, seolah menyanyikan lagu lama yang hanya dipahami oleh mereka yang tumbuh di kampung ini.

Di dalam bendungan, ikan, kepiting, dan udang menunggu saatnya dipanen. Air yang tertahan dialirkan ke sisi lain, ditampung dalam bak buatan alami yang ditimbai airnya. Ada yang menguras dengan gayung, ada pula yang terjun langsung, memulai petualangan mamoko—menangkap ikan, kepiting, dan udang dengan tangan kosong. Kami bersorak, tertawa, dan saling menggoda. Lumpur menempel di kaki, tapi wajah kami bersih oleh tawa.

Yang paling seru adalah saat Sudirman menangis menjerit,  karena nasikki i bu’ang!” Teriakan itu menjadi aba-aba untuk kami saling mengejar sambil ciprat-menyipratkan air. Tubuh kami basah kuyup,  hanya celana melekat di kulit, tapi tidak ada yang peduli. Kami larut dalam kegembiraan yang tak bisa dibeli oleh apa pun, apalagi oleh layar kaca atau gawai yang kini merajai dunia anak-anak.

Sore menjelang, langit Timbo  berubah jingga. Kami pun mengumpulkan hasil tangkapan, lalu kembali ke rumah Canduru. Di sana, kindo Canduru sudah siap dengan tungku api, menyambut kami dengan senyum. Udang, ikan, dan kepiting itu dimasak, ada juga loka piapi dan lameayu piapi—dua hidangan khas yang membuat aroma dapur menyeruak ke setiap sudut rumah panggung. Kami duduk melingkar, tangan kecil ini lahap menyantap setiap suapan, ditemani gelak tawa dan cerita-cerita lucu.

Ketika senja turun perlahan, kami pulang dengan langkah gontai tapi hati penuh bahagia. Jalan tanah  batu padas  senja hari masih  terasa hangat di telapak kaki. Di kejauhan, di mesjid lamasariang sudah pelloa pala, menandai hari yang hampir selesai. seolah menyimpan rahasia masa kecil yang tak akan pernah kami lupakan.

Lamasariang  itu adalah surga kecil yang tak ternilai. Di sana, kami belajar tentang kebersamaan, tentang tawa yang tulus, dan tentang betapa indahnya hidup yang sederhana. Dan ketika langit berubah gelap, kami menatap bintang pertama di cakrawala dengan hati yang damai, seolah mendengar bisikan leluhur: “Jagalah tanahmu, cintai kampungmu, karena di sanalah bahagia bermula.”

Begitulah Mamoko dzi Lembang—bukan sekadar cerita masa kecil, melainkan kenangan yang akan selalu hidup di relung jiwa kami. Sebuah kisah tentang alam, persaudaraan, dan cinta yang tak lekang oleh waktu. Lamasariang, engkau selalu indah dalam ingatan.

(Episode ke-4) Pa'ambi Beke

Safardy Bora

Dulu, di Lamasariang—tempat kecil yang tak pernah kecil dalam kenangan—aku hidup bersama aroma tanah basah dan bau kandang kambing yang menyatu dalam pagi. Waktu seolah berputar lambat di sana. Dan aku adalah bocah yang bangga, memelihara beke di bawah rumah panggung kami yang renta tapi hangat. Itulah dunia kecilku—berpagar kayu seadanya, berpintu kayu lapuk yang dibuka dan ditutup dengan simpul tali.

Kandang itu tak luas, tapi cukup buat beberapa ekor beke yang sering kurawat. Ada palung makan yang dibuat dari batang kayu yang sengaja dipahat oleh kama’u. Tempat makan itu tak pernah kosong, sebab aku, kama'u, atau kindo'u akan selalu mencari ande beke, daun-daun hijau ayu ranni kesukaan kambing, dari kebun atau hutan. Kami setiap waktu sore sepulang sekolah menerobos kebun-kebun mengambil ande beke, pokoknya asal beke makan, asal tak ketahuan pemiliknya— mesti sebagian besar ande beke itu memang Spanyol, separuh nyolong.

Kami sering menyusuri lembang Matti’,di ba'ba cendra tempat rimbun dan sejuk tapi menyimpan bahaya. Di balik semak, bisa saja seekor ular piton diam-diam menunggu. Tapi demi beke yang menunggu di kolong rumah, kaki tetap melangkah. Kadang ke Pandebulawang, apalagi kalau sekolah libur. Itu sudah semacam tugas negara: ikut kama dan kindo ke kebun. Kama’u, waktu masih hidup, beliau-lah yang selalu pulang membawa ande beke nasoppo setiap hari. Kalau beliau terlambat pulang, beke akan meraung-raung  tamba’i, meronta di namboyang.

Tapi kadang malas juga datang diam-diam. Jika sudah begitu, maka dua punna camba di poros jalan utama Majene–Polewali, tepat di depan rumah Amma Pisa, menjadi sasaran utama. Pohon camba itu raksasa. Batangnya tak bisa kupeluk, bahkan dengan dua pasang tangan anak-anak pun belum cukup mengelilinginya. Tapi entah bagaimana, aku bisa naik sampai ke puncaknya. Memanjat, bergelantungan, berpindah dari ranting ke ranting, seperti ada tangan tak kasat mata yang menuntun. Kalau dipikir sekarang, benar-benar tak masuk akal. Seolah ada yang mengendalikan. Itu bukan sekadar keberanian bocah. Itu adalah kuasa Allah yang nyata, menjaga anak kecil dengan sejumput niat dan setumpuk tanggung jawab di dadanya.

Kambing kami tak makan siang, cukup malam. Satu kali sehari. Tapi kadang-kadang, kalau ada  rato wakar,  ditatta’, setelah itu diberi minum dari seduhan air garam, disajikan sebagai camilan siang. Tapi keseruan sejatinya bukan di situ. Yang paling heboh adalah saat musim kawin. Suara beke jantan meraung keras memanggil betina, keseruan  berikut jika naulelei barona gulang. Kadang irri-irri tak karuan. Dan kalau sudah karaoi bongi, gaduh tengah malam, tetangga satu kampung bangun mendengar beke menjerit.

Tapi semua itu tak membuat lelahku sia-sia. Memelihara beke tak pernah membuatku merasa kecil. Bahkan sebaliknya, itu semacam lambang tanggung jawab. Aku melakukan semua dengan ikhlas. Tidak berharap pamrih, tak mengharap ucapan terima kasih. Kalau kebetulan ada paalli beke, pembeli kambing datang dari Tammejarra, lalu kambingku dibeli, ya Alhamdulillah. Tapi kalau tidak, ya sudah. Uangnya pun kadang tak sampai ke tanganku. Kindo'u yang mengurus semua. Tapi aku tahu, beke membantu dapur kami tetap berasap.

Keluargaku bukan keluarga berada. Kami hanya petani biasa. Hidup pas-pasan. Kadang uang belanja tidak cukup untuk seminggu. Maka memelihara beke bukan hanya hobi, tapi bagian dari bertahan hidup. Suka duka itu aku jalani tanpa keluh. Kalau aku menangis, itu bukan karena beratnya beban, tapi karena kaki tersandung akar atau terkena duri saat cari ande beke. Atau karena kena parare, ulat bulu gatal yang kadang ikut nempel di ande beke yang menempel di daun pisang. Kalau sampai kambing makan itu, dia akan menjerit, sekeras-kerasnya, seolah dunia hendak runtuh.

Yang paling heboh juga saat ada kegiatan di sekolah, bagaimana pun mengambil makanan kambing musti sore menjelang petang.Sasarannya cuma satu: punna ayu wagzang di tengah kubur Puang Padza yang selalu membuat bulu kuduk berdiri. Sendirian pula di bawah langit merah, bayangan pohon seolah menjelma wajah. Tapi aku tetap melangkah, demi beke yang menanti.

Dulu, memelihara kambing adalah bentuk kebanggaan. Itu adalah tanda bahwa aku anak yang bisa dipercaya, anak lelaki yang mulai menapaki tanggung jawab kecilnya di dunia. Dan beke bukan sekadar hewan ternak, tapi kawan, sahabat yang diam tapi mengerti. Saat dia mengembik pelan karena lapar, aku merasa seperti dipanggil oleh rasa cinta.

Tak semua anak punya kesempatan itu. Tak semua bisa merasakan bagaimana rasanya meramu kasih sayang dari tumpukan daun hijau, atau mendengar suara kambing malam-malam sebagai pengantar tidur. Aku pernah, dan aku bangga. Dari bawah rumah itu, dari kandang kecil itu, aku belajar tentang ketulusan, keikhlasan, dan kerja keras.

Kini, semua itu hanya tinggal kenangan. Tapi setiap kali aroma rerumputan basah menerpa hidungku, atau kudengar embikan dari kejauhan, hatiku dibawa pulang. Kembali ke masa ketika aku kecil di Lamasariang. Masa ketika satu ekor beke bisa membuat dunia terasa lengkap. Masa ketika cinta tidak butuh kata-kata besar, cukup satu embikan yang kutanggapi dengan setangkai raasande beke.

Dan malam ini, aku menulis sambil menahan haru. Di dunia yang serba cepat dan penuh perhitungan ini, ingatan tentang beke adalah oase. Aku tak bisa kembali menjadi anak kecil yang memeluk batang camba, memanjat sampai ke pucuknya, tapi aku tahu—di dalam dadaku, aku belum pernah benar-benar turun. Masih ada bagian dari diriku yang menggenggam ranting, yang berjalan menyusuri hutan, yang duduk di kolong rumah sambil menatap kambing kecil dengan mata penuh harapan.

Mungkin itulah yang disebut pulang. Bukan ke rumah-rumah yang kita bangun di kota, tapi ke rumah dalam kenangan—yang dindingnya terbuat dari kasih, dan lantainya dari keikhlasan. Dan beke—si kecil yang sering kita sebut remeh—telah mengajari aku lebih banyak tentang hidup, daripada banyak buku yang kutamatkan setelah dewasa.

Catatan perjalananku...
Lamasariang yang begitu indah ...

Minggu, 27 Juli 2025