Senin, 26 Agustus 2024

PANJAT PINANG || Hinaan Pribumi Dalam Hiburan Belanda

Menurut Rianto Jiang, dalam buku Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal karya Fandy Hutari menyebutkan bahwa panjat pinang merupakan sebuah budaya dari Tionghoa, disebutkan jika Permainan Panjat Pinang tercatat pertama kali diadakan di Cina, yaitu pada zaman Dinasti Ming. Permainan ini mulanya diberi nama Qiang Gu dan erat kaitannya dengan Festival Hantu.

Di Indonesia sendiri, panjat pinang mulai dikenal pada saat Belanda menduduki Indonesia. Saat itu, sekitar tahun 1930, para kolonial Belanda mengadakan panjat pinang untuk hiburan saat mengadakan hajatan, seperti pernikahan, kenaikan jabatan, atau pesta ulang tahun.

Adapun hadiah yang digantung pada ujung pohon pinang tersebut berupa makanan, seperti keju dan gula. Ada pula yang berupa pakaian.

Masa itu, hadiah-hadiah seperti itu sangat berarti bagi orang-orang pribumi dan tergolong barang mewah. Sebab itulah perlombaan panjat pinang dulunya hanya diikuti oleh orang pribumi yang ditonton dan ditertawakan oleh orang-orang Belanda.

Para orang pribumi mati-matian memanjat pohon pinang, sedangkan kolonial Belanda menyaksikannya. Namun, bagi keluarga pribumi yang kaya dan merupakan antek kolonial, mereka juga kerap mengadakan perlombaan khas 17 Agustus ini.

Terlepas dari sejarah kelamnya, kita bisa melihat makna tersendiri pada perlombaan panjat pinang. Apa itu? Lomba panjat pinang mengajarkan kita untuk bekerja sama dalam meraih sesuatu.

Fandy dalam buku Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal menuliskan, jika diibaratkan, hadiah panjat pinang tersebut layaknya kemerdekaan Indonesia. Untuk itu, para pemuda perlu berjuang bersama dengan saling menopang tubuh satu sama lain untuk meraih kemerdekaan itu.

Hingga akhirnya, jika mereka berhasil mencapai puncak pohon pinang tersebut, hadiah yang jika diibaratkan kemerdekaan itu dibagi rata.

MAYJEN (Purn) SALIM S. MENGGA || Sederhana Merawat Martabat


Siapapun pasti sepakat ketika mendengar atau menyebut nama Mayjend TNI (Purn.) Salim S. Mengga, setidaknya ada dua hal yang sangat menonjol. Pertama, ia adalah putra S. Mengga, seorang militer yang pada masa pergolakan menjadi pimpinan pasukan Mandar Baru. Bupati Polmas (sekarang Polman) periode tahun 1980-1990 yang dijuluki sebagai Bapak Pembangunan Polewali Mamasa. Itu tak bisa disangkal, karena Salim memang lahir dari  sosok yang akrab disapa Puang Mengga, Sang Naga Bonar dari Mandar.

Kedua, Salim adalah sosok yang kharismatik dan dalam dirinya menonjol lima hal yang jadi karakternya, yaitu: Sederhana dan Merakyat-dimanapun ia berada selalu bergaul dan mendekati masyarakat di lingkungannya; Taat Beragama; Selalu mau belajar; Memiliki jiwa kebapakan dan mengayomi; Tegas dan bertanggung jawab terhadap amanah yang diemban. Karakter ini menjadikan Salim S. Mengga banyak disegani oleh kawan maupun lawan.

Cukup dua hal itu yang dibahas dan dibahasakan kepada siapapun untuk menemukenali sosok yang saat ini menata diri untuk berkontestasi dalam Pilkada Gubernur Sulawesi Barat 2024 mendampingi Dr. Suhardi Duka atau SDK. Paket SDK - Salim ini diharapkan menjadi muara dari setumpuk persoalan Sulawesi Barat yang belum bisa diurai diusianya yang ke-20 tahun pada 22 September 2024 mendatang.

Salim S. Mengga lahir di Pambusuang, Kampung kelahiran Imam Lapeo, Baharuddin Lopa, Sayyid Alwi atau Puang Toa dan kental dengan sebutan kKappung Annangguru. Tanggal 24 Agustus 2024 (hari ini), usianya telah menginjak 73 Tahun jika berdasar pada dokumen resminya lahir 24 Agustus1951. Salim adalah anak dari Kolonel Purnawirawan S. Mengga (Puang Mengga) yang merupakan Bupati Popmas (1980-1990), Tokoh Militer dan Tokoh Pejuang di Tanah Mandar dari seorang wanita bernama Hj. Nyilang. Salim adalah putra kedua dari 3 bersaudara yaitu: Syarifah Asia S. Mengga (Almarhumah Istri Prof. DR. Umar Shihab, MA) dan Ir. Aladin S. Mengga (Wakil Gubernur Sulawesi Barat periode 2011-2016).

Salim sendiri tercatat memiliki  3 (tiga) orang anak dari hasil pernikahannya dengan Hj. Fatmawati, sosok wanita yang sederhana dan murah senyum, cucu dari seorang tokoh terpandang dari Bugis H. Beddu Solo). Ketiga anaknya itu adalah Mega Kamila al-Attas, Erfan Kamil al-Attas, Amira Kamila al-Attas. Erfan Kamil Al-Attas pernah menjadi anggota DPRD Sulbar periode 2009-2014.

Kecintaan pada daerah Mandar tak bisa dipisahkan dari sosok Salim S. Mengga. Ia begitu memahami dan mencintai daerah ini, maka panggilan nuraninya lebih besar untuk kembali dan membangun kampung halaman, mengalahkan daya tarik kerier militer yang dimilikinya saat itu.

Ketaatan beragama, kewibawaan sikap mandiri dan merakyat, adalah perpaduan dari garis keturunan sang kakek (orang tua S. Mengga), bernama Sayyid Muhsin al-Attas dan neneknya Hj. Cilla, seorang bangsawan Mandar dari keturunan Pammarica. Sehingga Salim S. Mengga begitu fasih melantunkan ayat-ayat Al-Quran dan taat menjalankan ibadah shalat lima waktu, dibanyak tempat sering memberikan cerama-ceramah agama dan khutbah shalat ied.

Sikap merakyat dan rendah hati, itulah yang menonjol dalam sikap keseharian Salim S, Mengga, senantiasa mendengarkan keluh kesah para anak buah, serta bergaul dan bermasyarakat dimanapun dia bertugas.

Maka tidak heran disaat akan meninggalkan pos jabatannya di tempat tertentu (baik sebagai DanYot Kavaleri Ambarawa, Dandim Demak dll) sangat dielu-elukan dan di iringi oleh isak tangis para bawahan yang beliau tinggalkan.

Bahkan ketika Salim S. Mengga menjabat Kasdam IV Diponegoro, para Ulama se-Jawa Tengah menghadap Panglima, meminta beliau untuk menduduki jabatan Pangdam IV Diponegoro, hal itu membuktikan bahwa Mayor Jenderal Salim S . mengga sangat disenangi oleh masyarakat Jawa Tengah khususnya para Kiyai disana, kerana beliau orang yang dianggap JUJUR DAN MERAKYAT.


RIWAYAT PENDIDIKAN
SD : Tahun 1964
SMP : Tahun 1967
SMA : Tahun 1970

Pendidikan Militer
AKABRI : Tahun 1974
SUSSAARCAB KAVALERI : Tahun 1975
SUSSPAHARSAT : tahun 1977
TARDANKI : Tahun 1979
TARKORBANTEM : Tahun 1981
SUSLAPA KAVALERI : Tahun 1984
SUSGUKIL : Tahun 1985
SESKOAD : Tahun 1990
SUSDANDI  : Tahun 1993
SUSGATI SUSPOL : Tahun 1995
LEMHANAS : Tahun 2001


JENJANG KEPANGKATAN
Letnan Dua  ; 01 12 1974 ; KEP/152/ABRI/1974
Letnan Satu ; 01 04 1977 ; SKEP/398/IV/1977
Kapten ; 01 10 1980 ; SKEP/649/X/1980
Mayor ; 01 04 1985 ; SKEP/420/V/1985
Letnan Kolonel ; 01 04 1991 ; SKEP/116/III/1991
Kolonel ; 01 04 1996 ; KEPRES NO.17/ABRI/1996
Brigadir Jenderal ; 15 03 2001 ; KEPRES RI NO.18/TNI/2001
Mayor Jendral ; 24 10 2003 ; SKEP Pang. TNI NO.SKEP/342/X/2003

JABATAN
Dantor Denkaves DAM XIV Hasanuddin 01-07 1975 SKEP/546/VII/1975
Dantor IKI 101 Yonkav 10 DAM XIV Hasanuddin 01-10978 SKEP/183/X/1978
Dankima Yonkav 10 DAM XIV Hasanuddin 01-01 1981 SKEP/OL/I/1981
Kasi 4 Log Yonkav 10 DAM XIV Hasanuddin 01-06 1983 SKEP/232/VI/1983
Gumil Gol IV Pusdikkav 01-05 1984 SKEP/216/IV/1984
Kasi Trakor Dirbinsen Pussenkav 01-09 1985 SPIRIN/711/X/1985
Wadan Yonkav 2 Serbu DAM IV Diponegoro 01-01 1986 SKEP/199/III/1986
Kasdim 0711/REM/ 071 DAM IV Diponegoro 01-02 1984 SKEP/216/IV/1989
Gumil Gol V Pusdikkav 01-06 1990 SKEP/203/V/1990
Dan Yonkav 2 Serbu DAM IV Diponegoro 01-08 1991 SKEP/320/VIII/1991
Dandim 0716 Demak REM 073 DAM IV Diponegoro 12-06 1993 SPRIN/811/VI/1993
WAAS Sospol Kodam IV Diponegoro 01-10 1994 SKEP/390/X/1994
Assospol Kodam IV Diponegoro 06-12 1995 SKEP/462/XII/1995
Danrem 141/Toddopuli DAM VII Wirabuana 15-08 1997 SKEP/459/VII/1997
DAN Pussenkev 15-02 2001 SKEP/99/II/2001
Kasdam IV Diponegoro 01-02 2003 SKEP/30/II/2003
Wadan Kodiklat TNI AD 30-10 2003 SPRIN/1669/X/2003
Pangdam XVI Pattimura

PENGHARGAAN
Satya Lencana Kesetiaan VIII TH
Satya Lencana Kesetiaan XVI TH
Satya Lencana Kesetiaan XXIV TH
Bintang Kartika Eka Paksi Nararya
Satya Lencana Dwidya Sistha
Bintang Yudha Dharma Nararya


MENANTANG RESIKO

Ketika Mayor Jenderal Salim S. Mengga mengambil LANGKAH TEGAS dengan rela meletakkan semua jabatannya sebagai PANGDAM XVI PATTIMURA maupun pada jabatan WADAN KODIKLAT TNI AD.

Sebagian besar kalangan menyayangkan langkah tersebut, karena karier militer beliau masih memungkinkan meraih pangkat TIGA BINTANG (LETNAN JENDERAL).

Ketika sebagian kalangan menanyakan kepada Mayor Jenderal Salim S. Mengga:
“Apa alasan yang mendasari kepulangan beliau untuk kembali ke tanah kelahirannya, sementara jabatan kerier militer masih begitu bersinar?”

Jawaban tegas beliau mengatakan:
“Justru panggilan nurani saya untuk kembali ke Provinsi Sulawesi Barat, karena daerah ini masih baru dan tidak memiliki apa-apa.  Dengan segala kemampuan yang saya miliki, Insya Allah akan saya sumbangkan demi kemajuan daerah ini kedepan”.
Niat dan tekad beliau sangat mulia, namun sangat disayangkan beliau belum mendapat kesempatan.


PENGAKUAN
Prof. DR. H. Umar Shihab
Salim S. Mengga dimata seorang Prof. DR. H. Umar Shihab (Tokoh Nasional dan Ketua MUI di Jakarta):
Salim S. Mengga memiliki kewibawaan yang merakyat dan merupakan satu-satunya putera Mandar yang ditetapkan sebagai Pangdam di Indonesia (Pangdam XVI Pattimura). Dan dalam sikap hidup kesehariannya sangat tidak suka kehidupan yang glamour atau hura-hura.

Salim S. Mengga juga pernah menjabat Ketua Umum Badan Pengurus Pusat (BPP) Kerukunan Keluarga Mandar Sulawesi Barat (KKMSB) periode 2013-2018 dan Anggota DPR-RI (mewakili daerah pemilihan Sulawesi Barat) periode pertama 2009- 2014 dan periode kedua 2014-2019.

Sekarang beliau adalah Dewan Penasehat Rabithah Alawiyah DPC Polman, sebuah lembaga pencatatan dan pemeliharaan nasab para sayyid/habib yang berada di daerah Polewali Mandar pada khususnya dan meliputi daerah Sulawesi Barat pada umumnya.

MENGUAK ASSITALLIANG SIPAMANDAR

Catatan Muhammad Munir


Beberapa minggu terakhir ini, diskusi tentang Mandar kembali berseliweran di beranda akun media sosial. Temanya bermacam-macam. Ada yang mengangkat Mandar sebagai persekutuan, bukan suku.

Ada yang membincang  Mandar sebagai wilayah teritorial, bukan suku. Ada yang menyoal Mandar sebagai nilai, bukan suku. Termasuk ada yang cenderung berani mengatakan bahwa Suku Mandar itu tidak ada.

Mandar dalam bingkai Sulawesi Barat ini seharusnya tak lagi ada perdebatan tentang makna kata Mandar, sesungguhnya pembacaan terhadap makna kata Mandar sesungguhnya sudah final dalam babad sejarah Tanah Mandar. Persoalan ini kerap muncul terutama menjelang perhelatan Pemilu atau Pilkada. 

Dari sejumlah tanggapan yang ada, saya melihat dan mengambil kesimpulan bahwa ini akibat dari kurangnya bacaan yang membuat siapapun menjadi kehilangan arah dalam menemukenali konsepsi kata Mandar dengan pemaknaannya.

Kurangnya bacaan atau boleh jadi tak banyak membaca sehingga muncul berbagai persepsi yang beragam.

Padahal Mandar maupun tentang suku Mandar telah final pada ratusan tahun lalu. Periode tahun 1580 sampai 1602, setidaknya leluhur kita sudah sitalli (sepakat sebagai Mandar) dalam Muktamar Tammajarra 1 dan 2 yang puncaknya ada di Allamungan Batu di Lujo. 

Mungkin diantara kita ada yang lalai mengenai Assitalliang di Lujo. MANDAR itu bukan baru lahir dari sana, tetapi mereka justru kembali mengeratkan amandarannya sebagai satu keturunan. Kalau tidak senasab bagaimana mereka dapat membangun konsensus secara sosial, budaya dan politik.

Hakikat Assitalliang atau Sipamandar itu bermakna kembali saling (Sipa), berarti sudah pernah saling bersama. Kenapa mereka sepakat untuk itu, karena konsensus secara sosial, budaya dan politik semakin hari semakin merosot.  Perang atau bundu kerap terjadi antar kerajaan yang ada di Mandar.

Saat itu, berbagai komunitas atau klan mulai bersatu karena alasan politik, ekonomi, atau sosial, mereka dapat mulai mengembangkan identitas kolektif yang lebih luas. Proses ini sering melibatkan penggabungan berbagai kelompok menjadi satu entitas yang lebih besar yang kemudian mendapatkan nama sukusuku,  yakni Mandar.

Intinya, sebelum terbentuknya identitas kolektif sebagai Suku Mandar, masyarakat di wilayah yang kini dikenal sebagai Mandar mungkin terdiri dari berbagai klan atau komunitas yang lebih kecil dengan nama-nama lokal atau berdasarkan garis keturunan. Kendati Nama "Mandar" sebagai suku baru muncul ketika kelompok-kelompok ini bersatu dalam persekutuan politik dan sosial.

                       ****

Mandar (dialek PBB) atau Manda' (dialek PUS) dan Menre' (Bugis versi Lagaligo) secara tekstual memang tak tercatat sebagai sebuah suku. Ia adalah kosa kata yang bermakna sungai. Kata Mandar  sebagai sungai sebangun dengan penyebutan orang-orang yang ada di wilayah geografis Sulawesi Barat. Manda' atau Mandaq ini dikenal dalam kehidupan sosial Masyarakat di wilayah pegunungan seperti Matangnga, Tabulahan dan sekitarnya (baca: PUS).

Selain Mandar, penamaan sungai juga ditemukan sebagai Maloso' (peradaban Lembang Mapi dan Passokkorang), Binanga (Banggae dan sekitarnya), Lembang dan lainnya. Artinya bahwa ketika Mandar menjadi nama sungai, kita tentu tak harus marah jika kemudian Mandar adalah nama sungai, bukan suku. 

Mandar identik dengan air, air umumya dimaknai sungai dalam konsensus sejarah peradaban. Elemen air sejak Era Pongkapadang dengan Torine'ne (sekitar tahun 1100-1200). Beliau adalah moyang orang PUS dan PBB, dan keduanya memang belum menamai manamai dirinya sebagai suku Mandar. 

Kenapa harus menggunakan Mandar sebagai simbol persekutuan mereka? Karena diantara 14 kerajaan (PUS dan PBB) itu terhubung melalui jalur trasportasi yang mengandalkan sungai. Kontur tanah di wilayah PUS adalah bukit, gunung, lembah dan dataran. Sungailah yang menjadi penghubung antara gunung dan pantai. Kondisi inilah yang membuat mereka sepakat mengusung sungai sebagai persekutuan yang dalam perkembangannya dikenal wilayah Konfederasi Mandar.

Orang luar kemudian mencatatnya Tomandar dan tertata sebagai suku untuk membedakan georafis mereka dengan Toraja, Bugis dan Makasaar. 1908 ketika Belanda berkuasa, lagi-lagi wilayah eks Persekutuan Mandar ini menjadi nama Afdeling Mandar. Adapun mengenai Pemerintah Hindia Belanda yang (datang) membuat persekutuan itu karena basisnya kesatuan sosial dan budaya yang sama. Mereka juga tidak serta merta tanpa mempelajari akar budaya di wilayah Afdeling Mandar (baca: Sulawesi Barat). 

Redefinisi Makna Kata Mandar

Dalam berbagai sumber literatur teksnya memang tidak mencatatnya sebagai suku. Ia adalah makna yang sebangun dengan sungai, maloso, Binanga atau Lembang. Fakta-fakta tentang sungai itulah terbangun filosofi Mandar yang diambil dari elemen air (air yang membentuk sungai. Sungai tanpa air adalah bohong).

Filosofi air inilah yang kemudian menjadi nilai bagi orang Mandar karena aktualisasi dari air adalah 'mencari titik-titik terendah untuk menemukan kemuliaannya". Tak pernah terjadi air mengalir ke titik yang paling tinggi. Makna inilah yang memjadi karakter orang Mandar. Lagi-lagi Mandar adalah nilai, bukan suku. 

Kapan Mandar Jadi Suku? 

Mandar jadi suku sejak sejarah mencatatnya sebagai sebuah peradaban yang punya wilayah, bahasa, budaya, sejarah yang disepakati. Kesepakatan inilah yang menerima Mandar sebagai suku.

Jadi tak harus ada yang diperdebatkan dalam makna Mandar sebagai suku, sebagai nilai, sebagai wilayah sebab orang Sulbar sudah faham siapa itu Tomandar (Orang Mandar), Pammandar (Orang yang datang ke Mandar) dan Toi Mandar (Pemilik Mandar). Identitas yang terbangun sejak allamungan Batu dan diperjelas dalam penamaan Afdeling Mandar pada masa penjajahan Hindia Belanda. 

Tahun 1971 terjadi sebuah seminar yang pertama di Mandar yang tak lain menegasikan Identitas sebagai Suku Mandar dengan sejumlah produk kebudayaan dari PUS dan PBB. Itu terjadi di SD Negeri 1 Tinambung. Pada tahun 1984, dihelat lagi kegiatan yang sama dan fokusnya masih tentang kebudayaan Mandar.

Tak berhenti sampai di situ, di Polewali juga dilangsungkan seminar tentang kebudayaan Mandar di STKIP DDI tahun 1987. Dekade tahun 1950/1960, para tokoh dari wilayah barat Sulawesi mengusung Mandar sebagai sebuah provinsi, yakni Provinsi Mandar (cikal bakal pembentukan Propinsi Sulawesi Barat). 

Tahun 1994, masih dengan spirit Mandar dilangsungkan Perjanjian Tammajarra 3 di Makassar sebagai kelanjutan dari perjuangan pembentukan Provinsi Mandar tapi dengan nama baru, Propinsi Sulawesi Barat. Tahun 2001 terjadi Kongres Rakyat Mandar di Majene untuk penguatan daya dorong Sulawesi Barat sebagai sebuah provinsi. Saat itu, semua perwakilan dari Polemaju (baca: PUS PBB) berkumpul dan melahirkan kesepakatan Provinsi Sulawesi Barat sebagai sebuah keniscayaan. 

Pada kata Mandar, terdapat tiga komponen kata yang juga penting untuk dielaborasi makna kedalamannya, yakni Tomandar adalah mereka yang dari suku lain tapi memilih tinggal dan berdomisili secara turun temurun di wilayah Mandar.

Pammandar adalah mereka yang memang datang ke Mandar untuk mencari nafkah, tidak tercatat secara administrasi sebagai penduduk Sulbar. Hal ini sama dengan status orang-orang Mandar yang pergi ke Singapura, mereks disebut Passa'la' atau Passingapura dan lainnya. Adapun Toi Mandar adalah mereka yang secara genetik lahir dari ibu dan bapak dari orang Mandar. 

                      **** 

Postulat dari tulisan ini adalah Mandar itu sebagai persekutuan, Mandar sebagai nilai, Mandar itu wilayah dan sampai kepada Mandar sebagai Suku.

Yang terakhir inilah yang mesti dibangun kesepakatan bahwa orang Mamasa (PUS) tak usah dipaksa jadi Tomandar, sebab mereka juga Toi Mandar (pemilik Mandar), demikian juga orang Mamuju, Budong-Budong, Baras, Kakumpang, Pattae, Pannei, Pattinjo, Pakkado, Pa'denri, dan lainnya adalah Toi Mandar, bukan Pammandar.

Kita adalah Mandar yang hari ini terbuhul dalam ikatan Sulawesi Barat. Epos purba Lagaligo menyebut kita sebagai Menre. (*)

Membongkar Mitos Kuliah (2)

Oleh: Abd. Rahman Hamid

Setelah menyelesaikan pendidikan doktor di Universitas Indonesia (UI), saya semakin yakin bahwa Allah SWT telah menggerakan hati dan tangan orang-orang yang baik untuk memudahkan proses studi saya. 

Pada bulan Mei 2013, saya mengikuti seleksi masuk UI, bersama dengan sahabat saya, Abd. Rahman (dosen sejarah Unhaer Ternate), di kampus Depok, tepatnya Gedung C lantai III Fakultas Hukum (Ruang 306). 

Kami menginap di rumah keluarga saya, Jais Salisu, di Sawangan Depok. Setelah ujian kami balik. Saya ke Makassar dan dia ke Ternate. 
Setelah ada pengumuman, hati saya sangat gembira. "Selamat, Anda dinyatakan LULUS", kira-kira begitu pesan yang saya terima via e-mail. Betapa tidak, kata sebagian orang yang pernah mencoba, tidak mudah lulus masuk kuliah di UI. Alhamdullah.

Segera setelah pengumuman, semangat saya untuk kuliah di kampus yang sangat saya impikan sejak kuliah S1 (2000-2004) perlahan mulai pudar. Bukan karena saya tidak mau lanjut studi, tapi kendala biaya yang harus saya bayar saat itu hampir dua puluh juta rupiah. Saya tidak punya cukup dana, sebahagian pun tidak, untuk melunasi biaya awal studi. 

Kawan saya, Eman, begitu sapaan akrab dari Abd.Rahman, sudah melunasi biaya tersebut. Sering kali dia menepon saya untuk memastikan apakah saya sudah positif ikut kuliah, dengan membayar semua biaya awal studi. Ketika segala upaya telah ditempuh dan belum ada tanda-tanda dapat biaya studi, saya katakan pada Eman bahwa kemungkinan saya tidak bisa melanjutkan studi di UI. 

Pada satu kesempatan, saya mendapat telpon dari pembimbing S2 saya, (Prof) Dr. A Rasyid Asba, dari Jurusan Ilmu Sejarah Unhas. Begini kira-kira kalimatnya "Man, kamu bisa bantu penelitian saya. Kalau mau, datang ke kampus besok ya, kita rapat". Tanpa berpikir lama, saya langsung menerima tawaran itu. Betapa tidak, beliau sangat mudah membantu saya pada masa studi dan pasca studi ketika menjadi dosen luar biasa di Unhas kala itu (2008-2013). Sebelumnya, saya membantu beliau dalam dua riset untuk Kabupaten Barru (Perlawanan La Patau dan Sejarah Kerajaan Nepo) serta penelitian Sejarah Kota Tual. 

Pada esok hari, pagi-pagi saya sudah ke kampus untuk menghadiri rapat bersama Tim di PSKMP Unhas. Saya dan Ilham Daeng Makello sebagai pendamping beliau. 
Pada rapat itu, baru saya tahu bahwa kami akan riset di Kabupaten Halmahera Utara (Maluku Utara) dan Boven Digul (Papua Barat). 

Di lokasi riset pertama, saya dapat melihat langsung negeri Tobelo, yang banyak saya tahu saat belajar sejarah maritim. Sedangkan daerah yang kedua, juga mudah saya ingat, karena di situlah tokoh-tokoh pergerakan nasional pernah diasingkan oleh Belanda, di antaranya adalah Bung Hatta (sang proklamator). 

Setelah rapat, kami diberikan biaya perjalanan dan honor awal, sebelum ke lokasi riset. Saya tidak ingat dengan baik, apakah kami ke Harmahera dulu atau ke Boven Digul. Jelasnya, setelah mendapat dana itu, saya langsung singgah di Bank BNI Kancab Unhas Tamalanrea untuk melunasi biaya kuliah, dan sisanya saya bawa pulang ke rumah. Alhamdulillah, dalam hati saya berkata, "saya sudah bisa kuliah di UI".

Kisah di atas menjadi awal bagi saya tidak percaya dengan Mitos Kuliah, seperti yang sering saya dengar dari orang lain. 
Ternyata, Allah SWT melapangkan jalan bagi saya untuk belajar di Universitas Indonesia. Kesempatan itu sekaligus mewujudkan mimpi ayah dan ibu saya untuk menyekolahkan anak pertama mereka di Jakarta (lokasi pertama kampus UI, sebelum pindah ke Depok)

Kukusan Depok Jawa Barat
Selasa, 29 Januari 2019.
Repost 8 Agustus 2024

Membongkar Mitos Kuliah (1)

Oleh: Abd. Rahman Hamid

Setelah menamatkan pendidikan program doktor di Universitas Indonesia (2019), saya makin yakin bahwa kuliah harus punya banyak uang (tabungan) adalah Mitos. 

Saat pertama kali saya mendaftar kuliah di kampus besar ini, Universitas Indonesia (UI), banyak orang mengira bahwa saya punya banyak tabungan, kalau ditaksir ratusan juta rupiah. Tak jarang, ada yang bertanya kepada saya, "berapa saving dana Anda untuk (berani) kuliah di UI?". Saya sulit menjawabnya, karena saya tidak punya tabungan sampai ratusan juta rupiah. Bahkan, seingat saya, tabungan saya tak pernah sampai seperempat dari seratus juta. Bahkan, kadang saya meminjam (hutang) kepada kerabat dan sahabat, tetapi tidak pernah sampai lima juta rupiah; jika kekurangan biaya studi. 

Saya juga tidak pernah mendapat beasiswa reguler selama masa kuliah (2013-2019).
Saya kontrak di sebuah kamar kecil di Kelurahan Kukusan (Gang H.M. Firdaus) Beji Depok, dengan sewa mulai 350 sampai 600 ribu per bulan. Sewa tersebut naik setiap tahun. 

Pada tahun pertama dan awal tahun kedua, hampir setiap bulan saya pulang-pergi Makassar - Jakarta - Depok. Rata-rata dua atau tiga kali sebulan. Tiket pesawat pulang-pergi antara dua sampai tiga juta, ketika harga tiket normal. Pada akhir atau awal tahun, harga tiket sering melambung tinggi, bisa mencapai empat juta pulang-pergi. Sudah barang tentu, saya mencari harga yang paling murah. Syukurlah, saya punya langganan travel (Mekar Jaya - Makassar) sejak 2013, dan saya selalu minta dicarikan harga tiket yang paling murah. 

Tak jarang, bila kuliah batal atau dipindah waktu nya, karena alasan tertentu, saya harus tinggalkan bandara dan kembali ke rumah atau batal ke bandara Sultan Hasanuddin Makassar, alias batal ke Jakarta, dengan tiket PP yang sudah saya beli. Walhasil, tiketnya hangus. Maklum, pada tahun pertama sampai ketiga, saya belum paham soal proses pengembalian dana jika batal terbang. 

Karena tuntutan pekerjaan, sebagai Koordinator Wilayah Program Keluarga Harapan (PKH) Kementerian Sosial RI di Provinsi Sulawesi Selatan, sering kali saya ke Depok ikut kuliah dengan penerbangan pertama (jam 5 atau jam 6 pagi) dan kembali lagi pada malam hari dengan penerbangan terakhir dan tiba di Makassar pada dini hari. Itu terutama jika ada kunjungan pejabat negara ke Sulsel untuk kegiatan PKH. 
Pada tahun ketiga, setelah Ujian Proposal Disertasi, saya ke Depok satu sampai dua kali per dua bulan. 

Pada tahun keempat dan kelima, hampir sekali tiap bulan saya ke Depok untuk bimbingan dengan pembimbing (promotor atau kopromotor). Paling lama tiga sampai empat hari saya di Depok, dan sering kali hanya satu sampai dua hari. Biasanya, setelah bimbingan pagi atau siang, saya langsung ke Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng Jakarta sore hari untuk kembali ke Makassar. 

Setiap kali pulang dari Depok, saya membawa beberapa buku yang saya beli untuk bahan kuliah atau bacaan penunjang kuliah. Sering kali anak saya bilang begini, "bapak ini bawa buku terus kalau dari Depok", paling saya jawab, "karena bapak adalah anak sekolah [kuliah]" 

Setiap kali ke toko buku Gramedia Depok atau toko buku kecil di kampus (Cak Tarno), saya membeli minimal satu buku. Belum lagi copy-an sejumlah buku koleksi perpustakaan Universitas Indonesia, juga belanja buku di lorong jalan masuk kampus (searah Gang Kober). 

Kalau dihitung secara matematik, pengeluaran di atas lebih besar dari pendapatan saya. Mungkin itulah kemudahan dari Allah SWT bagi saya dalam proses studi. 

Depok Minggu, 27 Januari 2019
Repost, Selasa 6 Agustus 2024

PILGUB SULBAR 2024 || Peluang dan Tantangan


Catatan Muhammad Munir

Pilkada Serentak 2024 di Indonesia merupakan pemilihan kepala daerah (Pilkada) yang akan dilaksanakan secara serentak di seluruh wilayah Indonesia pada 27 November 2024. Pilkada ini akan memilih gubernur, bupati, dan wali kota di berbagai daerah yang masa jabatannya berakhir pada tahun 2022 hingga 2024. Pilkada serentak ini merupakan bagian dari rencana besar pemerintah untuk menyelaraskan jadwal pemilu nasional dan daerah dalam satu periode pemilihan.

Pilkada kali ini akan diadakan di lebih dari 500 daerah, termasuk 37 pemilihan gubernur, 115 pemilihan wali kota, dan 276 pemilihan bupati. Termasuk Propinsi Sulawesi Barat. Dari pantauan penulis, setidaknya ada 4 kontestan yang dipastikan akan berkontestasi di Pilkada Gubernur Sulawesi Barat. Mereka adalah :

1. Andi Ali Baal Masdar - Arwan Aras
Ali Baal Masdar atau ABM adalah petahana hasil Pilgub 2017 - 2022 yang saat itu menggandeng Enny Angraeni Anwar. Kali ini, ia dengan mantap memilih Arwan Aras sebagai wakilnya. Mantan Bupati Polman dua periode ini selain lawan tanding SDK dan Prof. Husain, ia sekaligus akan berkontestasi dengan Andi Ibrahim Masdar (AIM) yang tak lain adalah adik kandungnya yang juga mantan Bupati Polman dua periode.

2. Suhardi Duka - Salim S. Mengga

Suhardi Duka atau SDK adalah Mantan Bupati Mamuju dua periode yang pada Pilgub 2017 merupakan rival dari ABM dan Jendral Salim Mengga atau JSM. Pada Pilgub kali ini, SDK dan JSM membangung komitmen untuk bergandengan dalam memenangkan pemilihan Gubernur Sulawesi Barat 2024.
Pasangan SDK - JSM ini oleh beberapa kalangan dianggap memiliki peluang jadi pemenang Pilgub karena JSM dikenal sebagai politisi yang banyak miliki pendukung fanatik.

3. Andi Ibrahim Masdar - Asnuddin Sokong
Andi Ibrahim Masdar atau AIM adalah mantan Bupati Polman dua periode yang juga adik dari ABM. Pemilik jargon Sulbar Jago ini menggandeng Asnuddin Sokong, politisi dan pengusaha SPBU yang tergolong sukses di wilayah ini.

4. Husain Syam - Enny Angraeni Anwar

Husain Syam adalah putra Mandar kelahiran Kanang. Ia adalah birokrat, mantan Rektor UNM dua periode yang terjun ke dunia politik praktis. Tak tanggung-tanggung,  ia maju menggandeng Enny Angraeni Anwar sebagai wakilnya di Pilgub Sulbar. Enny adalah istri Anwar Adnan Saleh, mantan Gubernur dua periode. Enny sendiri adalah mantan wakil gubernur periode 2017-2022.
Enny dan ABM pecah kongsi dan memilih menjadi wakil dari Husain Syam.

Keempat pasangan Calon Gubernur ini dipastikan akan sangat seru mengingat mereka adalah putra-putra terbaik daerah yang memiliki rekam jejak yang nyata. Disamping itu,
Pilkada 2024 ini akan dihelat sebagai upaya untuk menyatukan jadwal pemilihan kepala daerah untuk meningkatkan efisiensi dan menekan biaya penyelenggaraan pemilu.

Karena dilakukan secara serentak di seluruh Indonesia, pilkada ini membutuhkan persiapan yang matang, terutama terkait logistik, distribusi surat suara, keamanan, serta pendidikan pemilih. Pilkada serentak ini diharapkan bisa mendorong partisipasi politik yang lebih luas dan meningkatkan kualitas demokrasi di Indonesia.

Peluang dan tantangan pilkada serentak

Pilkada Serentak 2024 membawa peluang sekaligus tantangan yang signifikan bagi demokrasi dan pemerintahan di Indonesia. Berikut adalah beberapa peluang dan tantangan yang muncul dalam pelaksanaan Pilkada Serentak 2024:

Peluang:
Konsolidasi Demokrasi:
Pilkada serentak memperkuat konsolidasi demokrasi di Indonesia dengan menyelaraskan proses pemilihan kepala daerah di berbagai tingkat. Ini memungkinkan integrasi kebijakan dan program yang lebih harmonis antara pusat dan daerah.

Efisiensi Anggaran:

Dengan menggabungkan jadwal pilkada, negara dapat menghemat anggaran karena biaya penyelenggaraan pemilu dapat ditekan. Pengeluaran untuk logistik, sosialisasi, dan keamanan dapat dilakukan secara terpadu.

Peningkatan Partisipasi Politik:

Pilkada serentak dapat meningkatkan partisipasi pemilih karena pemilihan diadakan bersamaan dengan agenda politik nasional yang lain, seperti Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden. Hal ini bisa memobilisasi pemilih untuk lebih terlibat dalam proses demokrasi.

Peningkatan Stabilitas Pemerintahan:

Kepala daerah yang terpilih pada Pilkada 2024 akan menjabat hingga 2029, sehingga memberikan stabilitas pemerintahan daerah dalam jangka waktu yang lebih lama. Ini juga memungkinkan program pembangunan yang lebih berkesinambungan.

Tantangan:
Kompleksitas Logistik dan Teknis:

Mengelola pilkada di ratusan daerah secara serentak merupakan tantangan logistik yang besar. Distribusi logistik, pengawasan, serta penghitungan suara membutuhkan koordinasi yang sangat kompleks.

Potensi Konflik Politik:

Persaingan politik yang intens di banyak daerah dapat memicu konflik, terutama jika tidak ada mekanisme penyelesaian sengketa yang efektif. Ini bisa mengganggu proses pilkada dan stabilitas daerah.

Kualitas Pemilih dan Pendidikan Politik:

Rendahnya kualitas pendidikan politik di beberapa daerah dapat mempengaruhi kualitas pemilih. Tanpa pendidikan politik yang memadai, pemilih mungkin kurang memahami pentingnya pilkada dan memilih berdasarkan pertimbangan yang kurang rasional.

Tantangan Integritas:

Isu mengenai politik uang, manipulasi data pemilih, serta intervensi dari aktor-aktor politik pusat menjadi tantangan besar dalam menjaga integritas pilkada. Pengawasan yang kuat dan transparansi sangat penting untuk memastikan hasil yang adil.

Keamanan:

Mengamankan pilkada serentak di seluruh Indonesia dengan situasi keamanan yang beragam di setiap daerah membutuhkan pendekatan yang strategis. Potensi kerusuhan atau aksi kekerasan harus diantisipasi dengan baik.

Kesimpulan:
Pilkada Serentak 2024 adalah momen penting dalam proses demokrasi di Indonesia yang bisa membawa perubahan positif. Namun, tantangan yang ada perlu diantisipasi dan dikelola dengan baik agar pelaksanaannya berjalan lancar dan hasilnya dapat diterima oleh semua pihak. Dukungan dari berbagai elemen masyarakat dan pemerintah sangat penting untuk memastikan bahwa peluang-peluang ini bisa direalisasikan, sementara tantangan-tantangan tersebut dapat diminimalkan.