Selasa, 22 Juli 2025

ANDI DEPU || Bara di Tanah Mandar yang Tak Pernah Padam

Buku Ibu Agung Hj. Andi Depu Pahlawan dari Mandar karya Muhammad Munir.
Judul: Ibu Agung Hj. Andi Depu Pahlawan Nasional dari Mandar
Penulis: Muhammad Munir
Penerbit: Framepublishing Yogjakarta
Tahun Terbit: Cetakan ke-3 (Edisi Revisi) :Oktober 2020
Jumlah Halaman: Sekira 293
halaman
Genre: Buku Sejarah Lokal
Perensi/ resensator : Adhi Riadi

Di Tanah Mandar, pada sebuah pagi yang sunyi di bulan Agustus 1907, lahirlah seorang bintang kecil dari garis darah para raja. Dialah Hj. Andi Depu, yang kelak menjadi nyala dalam gelap, bara dalam kabut penjajahan. Di masa kecil, ia dikenal sebagai Andi Mania, laksana tunas muda yang masih mencari arah mata angin. Ketika dewasa, ia menjelma menjadi Sugiranna Andi Sura, sosok yang mulai menjejakkan langkah di tanah perjuangan.

Takdir mempertemukannya dengan Andi Baso Pawiseang, penguasa ke-51 Balanipa, persatuan dua darah biru yang melahirkan Parenrengi Depu, sang Yendeng, yang kelak mewarisi takhta sebagai Maradia Malolo, pewaris obor kerajaan ke-52.

Darah pejuang mengalir dari ayah dan ibunya: La’ju Kanna I Doro dan Samaturu, bangsawan Mamuju berdarah Balanipa, keturunan Pakkalobang, penguasa ke-36. Tapi bukan sekadar darah yang menjadikannya pemimpin,melainkan api dalam dadanya yang tak pernah padam.

1942–1945: Bara Itu Menyala

Ketika langit Mandar diselimuti bayang Jepang, Andi Depu muncul bukan sebagai bayangan, tetapi cahaya yang membelah gelap. Pemerintah Hindia Belanda pernah khawatir akan lahirnya seorang pemimpin perempuan dan kekhawatiran itu terbukti. Ia adalah nyala kecil yang menjelma kobaran perlawanan.

Ketika Jepang melarang segala bentuk organisasi politik, Andi Depu justru menyulam semangat perjuangan di balik tirai larangan. Ia memilih meninggalkan istana, meninggalkan kenyamanan, dan berpaling menuju jalan sunyi perjuangan, bersama putranya di sebuah rumah sederhana yang menjelma menjadi benteng semangat.

Fujinkai: Ladang Api dari Perempuan Mandar

Awal 1944, ia menanam benih api dalam bentuk Fujinkai, gerakan perempuan yang tak sekadar merawat rumah, tetapi juga merawat mimpi kemerdekaan. Di ladang ini, semangat juang tumbuh dari tangan-tangan yang lembut namun tak gentar. Suara Andi Depu menggema hingga ke Pitu Ulunna Salu dan Pitu Ba'banna Binanga, menembus batas wilayah, menembus sunyi.

KRIS Muda: Ketika Bara Menjadi Kobaran

Pada 21 Agustus 1945, hanya beberapa hari setelah Jepang menyerah, lahirlah KRIS Muda—Kebangkitan Rahasia Islam Muda. Di balik namanya tersimpan gelora kebebasan, dan Andi Depu berdiri di puncak sebagai panglima bara, memimpin perjuangan demi menjaga kemerdekaan yang masih rapuh.

Seperti api yang menjalar dari satu ranting ke ranting lain, KRIS Muda menyebar ke seluruh penjuru Sulawesi: Makassar, Bone, Bantaeng, Pinrang dan lainnya. Namun, kobaran api selalu mengundang badai. Desember 1946, tangan penjajah NICA menangkapnya dalam gelombang penangkapan besar.

Sekolah Islam: Taman Api dari Timur

Ketika Jepang mulai goyah, di Mandar muncul taman-taman api, sekolah-sekolah Islam, tempat semangat ditempa dengan kedisiplinan. Di sinilah lahir Islam Muda, sebuah bara baru yang ditiup oleh tokoh-tokoh seperti Riri Amin, Daud, H. Mas’ud Rahman, Mahmudy Syarif, dan lainnya—dengan Andi Depu sebagai penyulut utama.

Di Balik Bayang Fujinkai :Perempuan di Barisan Belakang

Meski Fujinkai adalah alat kekuasaan Jepang, bagi Andi Depu itu adalah kuda troya, ia menyusupkan semangat juang di balik tugas formal. Para perempuan dilatih bukan hanya menjahit atau mengobati, tetapi menguatkan tekad menghadapi ketidakadila,bangsanya harus bebas.

Organisasi Pemuda Mandar: Akar yang Merambat dalam Senyap

Saat organisasi lain baru muncul setelah proklamasi, Andi Depu sudah lebih dulu menanam akar perlawanan di Mandar. Ia bentuk Organisasi Angkatan Pemuda Islam, mengisi ruang-ruang sunyi dengan bisik-bisik keberanian. Di balik nama agama, ia cerdik menembus batas larangan Jepang.

Andi Depu bukan sekadar nama dalam buku sejarah. Ia adalah nyala abadi di tanah Mandar, perempuan yang melangkah bukan hanya dengan kaki, tetapi dengan hati dan bara semangat. Ia membuktikan bahwa tanah ibu bisa menjadi pijakan perlawanan, dan rahim perempuan bisa melahirkan lebih dari anak, ia melahirkan bangsa yang bebas.

Mengenang Jejak Kepahlawanan Mandar: Sebuah Refleksi atas Buku “Ibu Agung Hj. Andi Depu, Pahlawan Nasional dari Mandar


Buku Ibu Agung Hj. Andi Depu Pahlawan dari Mandar karya Muhammad Munir.

Judul: Ibu Agung Hj. Andi Depu Pahlawan Nasional dari Mandar
Penulis: Muhammad Munir
Penerbit: Framepublishing Yogjakarta
Tahun Terbit: Cetakan ke-3 (Edisi Revisi) :Oktober 2020
Jumlah Halaman: Sekira 293
halaman
Genre: Buku Sejarah Lokal
Perensi/ resensator : Adhi Riadi

Buku Ibu Agung Hj. Andi Depu, Pahlawan Nasional dari Mandar karya Munir, diterbitkan oleh Framepublishing Yogyakarta, adalah karya sejarah yang menggugah kesadaran kita akan besarnya pengorbanan para pejuang dari tanah Mandar. Meski saya baru menyimak buku ini hingga halaman ke-86 dari total 293 halaman, saya sudah merasa dibawa dalam sebuah perjalanan panjang yang penuh semangat perlawanan terhadap kolonialisme Belanda.

Pada bagian awal, Munir berhasil menggambarkan bagaimana perlawanan rakyat Mandar terhadap penjajah bukanlah peristiwa singkat, melainkan perjuangan panjang yang telah berlangsung. Penulis membuka kisah ini dengan mengutip catatan lontaraq tentang Perang Galesong yang terjadi pada 19 Agustus 1667 — sebuah titik penting dalam sejarah keterlibatan orang-orang Mandar melawan VOC yang bersekutu dengan Kerajaan Bone.

Tidak hanya menyajikan sejarah sebagai deretan fakta, Munir dengan apik mengangkat kisah-kisah heroik para tokoh pejuang yang jarang disebut dalam buku sejarah arus utama. Nama-nama seperti Daeng Mallari (Todiposso), I Maga Daeng Rioso, I Baso Boroa Tokape, hingga Hj. Maemunah Djud Pance dihidupkan kembali lewat narasi yang kuat dan bernas. Mereka adalah tokoh-tokoh yang pantas mendapat tempat dalam ingatan kolektif bangsa (Hal 3-7)

Hal menarik yang saya tangkap dari buku ini adalah bahwa perjuangan di Mandar tidak hanya dimonopoli oleh satu tokoh, meski nama Hj. Andi Depu memang menjadi sentral. Buku ini justru mengajak kita bahwa di balik tokoh sentral tersebut, berdiri banyak pahlawan lain yang juga rela mengorbankan hidup dan kenyamanan mereka demi semangat kemerdekaan. Munir seolah mengajak kita untuk tidak menempatkan sejarah pada satu nama saja, melainkan melihatnya sebagai rangkaian perjuangan kolektif.

Kisah tentang Tapanguju bergelar Punggawa Malolo di Mamuju sebagai pejuang di Benteng Kassa Sinyonyoi, Kecamatan Kalukku dan Daenna Maccirinnai bersama rekan-rekannya seperti La’lang Parrimuku di Benteng Kajumangibang, Kabupaten Mamuju Tengah menjadi pengingat bahwa sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan warisan yang harus dijaga dari kepunahan oleh waktu. Buku ini, dalam pandangan saya, bukan hanya layak dibaca, tetapi juga penting untuk menjadi bahan refleksi kita di tengah arus zaman yang kian cepat melupakan akar.

Sebagai tambahan, saya menyarankan agar buku ini lebih sering dibincangkan di berbagai forum, baik formal seperti seminar sejarah, diskusi akademik, maupun forum informal seperti komunitas literasi, ruang-ruang budaya, atau media sosial. Dengan demikian, ruang kritik yang konstruktif bisa dibuka lebih luas, memperkaya perspektif pembaca, sekaligus memperkuat posisi sejarah lokal sebagai bagian penting dari narasi kebangsaan.

Bagi saya pribadi, membaca buku ini bukan hanya menambah pengetahuan sejarah, tetapi juga membangkitkan rasa bangga sebagai bagian dari bangsa yang besar karena keberanian dan keteguhan para leluhurnya. Buku ini juga mengingatkan kita bahwa pahlawan bukan hanya mereka yang telah diberi gelar resmi, melainkan semua yang berjuang tanpa pamrih demi tanah airnya.