Sabtu, 11 Januari 2025

SAHRUL SUKARDI || Sang Penatang Aru(a)s

Mateng (Mamuju Tengah) dikenal sebagai wilayah yang kabupaten termuda di Propinsi Sulawesi Barat. Kabupaten yang beribu kota Topoyo ini punya cerita tentang sosok Aras Tammauni. Ia menjadi ikon politik Mamuju Tengah pemilik idiom “Lebih baik melawan arus dari pada melawan Aras”. Itulah yang membayang-bayangi warga dalam setiap perhelatan politik baik Pilkada maupun Pemilu. 

Sejak lahirnya Mateng, Aras memang menjadi satu-satunya ikon politk disana. Mulai dari perjuangan pembentukan Mateng sebagai Kabupaten, ia dikenal sebagai eksekutor yang membiayai semua proses perjuangan. Saat Pilkada Mateng 2015 Aras memperoleh kemenangan 97% suara. Periode kedua bahkan melawan kotak kosong (Koko). 

Pilkada 2024 di Mateng, Sahrul Sukardi adalah salah satu tokoh yang berhasil mencatatkan dirinya sebagai penantang awal hegemoni politik yang ada klan Aras. Sahrul dengan Alamsyah Arifin mendaftarkan diri sebagai peserta Pilkada 2024 di Kantor KPU Mateng, Rabu 28 Agustus 2024. Ia didukung oleh Partai Demokrat, PAN dan PSI. Selain Sahrul, Haris-Komang juga mencatatkan dirinya sebagai penantang. Sahrul-Alamsyah ini mengusung Visi: “Mewujudkan Mamuju Tengah yang sejahter, Religius dan Bermartabat”. Visi ini mencerminkan komitmennya untuk menciptakan daerah yang maju secara ekonomi, tetapi tidak menjaga nilai-nilai agama dan budaya lokal.
 
Itulah makanya, pasangan ini menawarkan Misi: Menjadikan pertumbuhan dan pemerataan ekonomi, Meningkatan pertanian sebagai sektor unggulan, Mewujudkan SDM Ungul dan berdaya saing, Mendorong pembangunan berwawasan lingkungan, dan menguatkan posisi Mamuju Tengah sebagai daerah penunjang Ibu Kota Negara (IKN). 

Kendati hasilnya ia harus kalah dari Arsal Aras, putra Aras Tammauni, setidaknya ia menjadi salah satu yang merontokkan persepsi politik bahwa klan Aras tak mungkin ada yang bisa melawan. Sahrul menjadi salah satu penantang itu. Putra kelahiran Topoyo 14 Januari 1979 ini tetap akan menjadi sebuah ancaman bagi klan Aras. Pengaruhnya memang tak bisa diremehkan, sebab melalui Sahrul, Resky Irmayani yang tak lain adalah istrinya mampu merebut satu kursi bagi Demokrat dengan perolehan suara 9.086 dari total 13.294 suara.

Rekam jejak Sahrul memang cukup menentukan kalkulasi politiknya di Mateng. Ia dekenal banyak menakhodai berbagai organisasi penting di tingkat kabupaten dan propinsi. Saat ini, ia masih aktif sebagai Ketua Hiswana Migas Propinsi Sulawesi Barat (2021-sekarang); Ketua KADIN Mamuju Tengah (2023-sekarang); Ketua Pemuda Pancasila Kabupaten Mamuju Tengah (2022-sekarang); Ketua Umum Panitia Pembangunan Masjid Raya Topoyo Kabupaten Mamuju Tengah (2022 – sekarang); Dewan Penasehat MUI Kabbupaten Mamuju Tengah (2019-sekarang).  
Sebagai putra daerah Mateng, jauh-jauh sebelumnya ia telah menata dirinya sebagai sosok yang punya visi. Secara pendidikan, ia telah cukup matang dari sejak SD Ngapaboa (1987), SMP Negeri 3 Budong-Budong (1994-1996), SMA Negeri 1 Mamuju (1997-1999). Ia bahkan telah menuntaskan pendidikan S1-nya di UNHAS 2000-2004. Sejak itu, ia menenun nasibnya dan banyak berbuat untuk daerahnya. 

Segala bentuk usahanya itu membuahkan hasil yang cukup fantastis. Ia mulai tercatat sebagai Anggota DPRD Mamuju 2009-2014. Setelah Kabupaten Mamuju Tengah terbentuk, ia mengambil dapil di Mateng dan lolos sebagai Anggota DPRD Mamuju Tengah (2014-2019). Setelah menjadi Anggota DPRD Mamuju Tengah, ia menyelesaikan pendidikan S2-nya di UNHAS 2016-2018. 

Ia juga kembali lolos sebagai Anggota DPRD Mamuju Tengah periode 2019-2024 dan dipercaya menjabat Ketua Komisi 2 DPRD Kabupaten Mamuju Tengah (2019-2020) dan Ketua Komisi 1 DPRD Kabupaten Mamuju Tengah (2020-2021). Hingga pada Pemilu 2024, ia telah merancang gerakan politiknya di Pilkada Mamuju Tengah dan mencatatkan istrinya dalam deretan Caleg Propinsi Sulbar di Partai Demokrat. Istrinya berhasil melenggang ke Parlemen Sulbar dari Fraksi Demokrat dapil Mamuju Tengah. 

Di Pilkada Serentak 2024, selain ia menjadi kandidat Calon Bupati Mateng, ia juga berjuang untuk kemenangan SDK-JSM. Sahrul menjadi salah satu penentu kemenangan SDK, yang jika dilihat potensi kemenangan SDK telah terbaca di Pemilu 2024. Partai Demokrat di Mateng mampu mengimbangi pergerakan politik Golkar dalam bayang-bayang  nama besar Aras Tammauni selaku Ketua DPD Golkar Sulbar. Golkar berhasil meraih 6 kursi di DPRD Mateng, sementara Demokrat juga mampu mendudukkan 5 orang kadernya di DPRD Mateng. 
Prestasi dan capaian Demokrat tentu tak bisa dilepaskan dari sosok Sahrul tentunya. Demikian juga kemenangan SDK di Pilkada Sulbar, mengabaikan Sahrul adalah sebuah pengebirian verbal terhadap sosok yang sampai saat ini menjadi Direktur PT. Belua Raya Lesatari dan Direktur PT. Resky Nakaguna Jaya Abadi ini. 

Kini Sahrul hidup bahagia mendampingi istrinya dalam segala aktifitas. Dari pernikahannya dengan Reski Irmayani ia dikaruniai 3 orang anak  masing-masing bernama Azizah Ainun Khalila Sahrul, Mufidah Cahyani Sahrul, dan Faith Merdeka Sahrul. Istri dan anak-anak menjadi penyemangat hidupnya untuk membangun daerahnya dalam posisi bukan sebagai Bupati, tapi sebagai pemantik kesejahteraan warga yang berada dalam jaringan perusahaan yang dibangunnya. 

MENGENAL SOSOK SYARIFAH NUR ABBAS

Syarifah Nur Abbas adalah salah satu putri Sayyid Abbas. Ia terlahir sebagai Syarifah dari marga As-Siraj. As-Siraj adalah marga Arab keturunan Sayyid yang ada di Mandar. Mereka sebagian besar ada di Desa Bonde, termasuk Syarifah Nur Abbas, S Usman Abbas bersaudara. Jumlah mereka tidaklah terlalu signifikan laiknya marga Bin Sahil Jamalullail atau pun Al-Attas. Bahkan bisa dikatakan hanya dirinya dan saudara-saudara serta ayahnya yang bermarga As-Siraj. Selebihnya ia tidak mengetahui kalau pernah ada lainnya selain dari keluarga mereka. 

Penyebaran marga As-Siraj menurut Hamzah Durisa (2018), adanya di daerah Bugis. Konon S. Ali As-Siraj datang ke Bugis menyiarkan Islam di daerah Bugis, Dari sana kemudian ke Bonde. Sebelum ke Bonde, Ia pernah menikah disana dan memiliki keturunan. Kemudian di Bonde ia menikah dengan salah seorang warga yang bernama Sitti Dawiyah. Dari sini lahirlah Sayyid Abbas Ali As-Siraj. 

Perkiraan peristiwanya terjadi pada tahun 1920an.
Kedatangannya masih sangat belakangan ketimbang kedatangan orang Arab sebelumnya. As-Siraj ini pun merupakan bangsa Arab dari Yaman. Kedatangan Ali As-Siraj sampai ke Mandar juga dalam misi dakwah.
 Kebulatan tekadnya untuk melanglang buana ke berbagai belahan dunia juga dikuatkan oleh penentangannya terhadap keputusan raja di negerinya. 
Memilih daerah Campalagian khususnya di Bonde juga karena pertimbangan disana banyak yang bisa berbahasa Arab. Tentu saja karena Campalagian banyak pengajian kitab kuning, mulai dari kitab dasar atau pengajian dasar hingga kitab kuning atau yang sering disebut dengan kitab gundul.

Jalur kedatangan lain adalah pernikahan. Yang dimulai dari Sayyid Miswar As-Siraj yang menikah dengan Farhanah binti Muhsin Al-Attas, cucu dari Puang Bela (S. Kaharuddin) saudara kandung Sayyid Mengga (Puang Mengga). Miswar As-Siraj adalah cucu dari Habib Miswar As-Siraj yang tak lain adalah anak sepupu dari Syarifah Nur dan memiliki keturunan di Bonde Kecamatan Campalagian. 

Dari sinilah Syarifah Nur Abbas bersaudara menata hidupnya sampai sekarang. Ia lahir dari pernikahan S. Abbas Ali As-Shiraj dengan Hj. Asni Disseng. Lahir di Bonde, 31 Juli 1969 bersama saudara-saudaranya yang lain, yakni S. Usman, Syarifah Marwah, Syarifah Aminah, dan Syarifah Fadilah. Pendidikan dasarnya ia awali di SD 07 Parappe kemudian anjut ke SMP Negeri 1 Campalagian dan selesai di SMA Negeri 1 Polewali. 

Tahun 1994, Ia berhasil meraih gelar SH di Universitas Muslin Indonesia (UMI) Makassar. Berbekal ijazah sarjana tersebut, ia terangkat jadi ASN pada tahun 2014 dan sekarang berstatus sebagai Kepala MTs. Pergis Campalagian. Sejak tahun 1997, wanita terkenal tegas dan berani ini menjadi seorang ibu setelah putra pertamanya lahir dan diberi nama James. Nama yang unik dan tidak lumrah diberikan pada keluarga Syarifah mmaupun Sayyid.
Tapi demkianlah Ummi Syarifah, jika ia memutuskan sesuatu, tak akan ada yang berani menentang, apalagi jika ada yang coba menantangnya, ia bahkan bisa melupakan jati dirinya sebagai wanita. Anak kedua dan ketiganya pun demikian, namanya adalah Madelina dan Calvin. Namun berbeda dengan anaknya yang keempat, ia memberinya nama Farhan Mandar (perpaduan Arab dan Mandar). 

Selama berinteraksi dengan Ummi Syarifah, penulis merasakan sikap keibuan, sopan meski ketegasannya selalu menjadi yang utama. Ia loyal dan royal jika ia mendukung seseorang. Penulis merasakan itu saat Pilkada Gubernur Sulbar kemarin, persoalan uang bahkan tak pernah menjadi masalah bersma Ummi Syarifah. 

Andai ia bukan ASN, mungkin saja ia akan menggunakan semua waktunya untuk SDK-JSM, tapi sayang, ia dibatasi oleh aturan yang mengikatnya sebagai aparatur Negara. Tapi sebagai keluarga, JSM adalah harga mati baginya.           

ABDUL RAHMAN TONA || Komitmen dan Berani Berbeda

ABDUL RAHMAN TONA adalah salah satu tokoh yang berani berbeda dan konsisten dalam komitmennya. Berani berbeda disini adalah karena ia merupakan Kepala Desa 3 periode di Ralleanak. Ralleanak adalah tempat lahir Anwar Adnan Saleh yang dimana Enny Angraeni, istrinya juga ikut berkontestasi dalam Pilgub sebagai wakil dari Prof. Husain Syam. Adapun konsisten dalam komitemennya terfaktualkan dalam ikut memperjuangkan SDK-JSM sebagai Gubernur Sulawesi Barat. 

Pak Rahman yang akrab dipanggil Pua’ Conda’ ini tak sedikitpun memiliki rasa takut mengambil bagian dalam proses perjuangan. 
Dalam perjalanan karir Rahman Tona sebagai kepala desa, ia diberikan kepercayaan oleh para kepala desa di Kabupaten Mamasa untuk menakhodai Asosiasi Kepala Desa Seluruh Indonesia atau APDESI. Tak tanggung-tanggung ia bahkan didaulat menjadi ketua selama dua periode. Dpercaya sebagai pemimpin organisasi tentu bukan tanpa alasan, Rahman Tona dikenal mumpuni dalam pemerintahan desa, itu terbukti dengan kepercayaan masyarakat di desanya sehingga menjadi kepala desa sampai tiga periode. 

Selain itu, bukti kepercayaan masyarakat terhadapnya juga berimbas kepada putranya yang bernama Arwin Rahman Tona, melalui Partai Nasdem berhasil lolos ke DPRD Mamasa dengan suara yang signifikan pada periode pertama 2019-2024. Pada Pemilu 2024 lalu, Arwin kembali lolos dengan perolehan suara yang memuaskan. Terlepas dari itu semua, Rahman Tona tak bisa dipungkiri bahwa perjuangannya di Mamasa adalah pemantik bagi kemenangan SDK-JSM. 
Dalam proses perubahan Undang-Undang Desa  dari 6 tahun ke 8 tahun juga tak dipungkiri, ia adalah salah satu Ketua APDESI Kabupaten yang paling getol dan setiap saat mendampingi Ketua APDESI Sulbar dalam ikut membersamainya ke pusat. Dari sisi ini, Rahman Tona dianggap oleh semua kepala desa di Mamasa sebagai sosok yang patut untuk dipatuhi. Disis lain, ia juga akrab dengan semua tokoh agama, tokoh adat dan memiliki pengetahuan yang memadai tentang sejarah, budaya dan kearifan local Mamasa. 

SDK-JSM sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih menjadi muara dari setiap harapan yang coba ia rengkuh tujuannya adalah agar Mamasa dijadikan wilayah prioritas dalam hal infrastruktur jalan dan jembatan, pendidikan, kesehatan. Termasuk rumah ibadah, gereja, masjid dan lainnya serta rumah adat sebagai ruang dalam ikut melestarikan nilai-nilai budaya dan pemajuan kebudayaan. Mamasa adalah daerah yang memiliki khasanah kebudayaan yang unik dan bisa menjadi dijadikan obyek destinasi wisata sejarah, budaya dan wisata religi. 

Kedapan, Rahman yakin bahwa SDK-JSM pasti bisa mewujudkan berbagai harapan yang kerap disampaikan oleh warga di setiap momen kampanye Pilkada kemarin.