Kamis, 14 Mei 2026

BELAJAR MENGHARGAI PROSES || Balajar Dari Kisah Prof. Luke

Oleh: Syamsumarlin, Lc (Eks ketua KKS Cairo periode 2002-2003)
Haru sekaligus gembira Ketika membaca berita di media social. Prof. DR. Lukman Arake, Lc, MA dilantik sebagai Rektor IAIN Bone periode 2026 – 2030. Tidak terasa air mata saya meleleh dengan sendirinya dan mengantarkan saya membuat catatan sederhana ini.

Apa yang Istimewa dari Prof. DR. Lukman Arake?. Sekilas biasa saja. Sebelumnya, beberapa Rektor yang kebetulan alumni Al Azhar juga sudah dilantik baik di UIM, bahkan  Rektor IAIN Kudus, 4 tahun lebih muda dari beliau juga dilantik 2 tahun yang lalu.

Tentu saja tidak terlepas dari pandangan subjektifitas sebagai sesama alumni Al Azhar, sesama alumni Darudda’wah wal Irsyad dan lebih khusus lagi sesama diaspora Mandar yang menimba ilmu di Univ. Al Azhar. Tetapi di balik itu, ada kesabaran dan ketekunan yang menjadi catatan tersendiri

Lukman Arake lahir di Rea Barat, berdarah Bugis Mandar, tetapi kemudian besar dan menetap di Desa Makkombong, Kec. Matakali. Desa yang mungkin sangat nadir di pendengaran kita. Mengaji secara tradisional di guru guru mengaji Rea Barat dan punya cita cita besar. Pada tahun 1985 dia melanjutkan Pendidikan di Pondok Pesantren DDI Mangkoso, baik tingkatan Tsanawiyah dan Aliyah selama 6 tahun. Bak skenario yang sudah diracik, dia kemudian melanjutkan pendidikan ke Universitas Al Azhar pada tahun 1993.

Saya teringat, sewaktu saya tiba di Cairo pada tahun 1996, beberapa senior berprestasi didaulat untuk memberikan bimbingan praktis kepada kami selaku mahasiswa baru. Untuk ke Ushuluddin-an didapuk oleh Dr. Abd. Rahman Arsyad (sekarang dosen di Universitas Kutai Kartanegara), kedirasatan oleh Prof. DR. Muammar Bakri (Rektor UIM Makassar),  Kesyariahan oleh Prof. DR. Lukman Arake, begitupula Prof. Dr. Afifuddin Haritsah juga tentang Ke ushuluddinan. Mereka semua adalah mahasiswa-mahasiswa hebat yang mewarnai dinamika kemahasiswaan di Cairo pada waktu itu.

Dari nama-nama di atas, satu persatu meninggalkan Cairo dan melanjutkan jenjang Pendidikan lanjutan di tanah air. Opsi melanjutkan jenjang S2 di Universitas Al Azhar adalah pilihan berat, dibutuhkan kalkulasi khusus dan hanya dilakukan oleh orang orang khusus. Beasiswa Al Azhar juga hanya mengakomodir Pendidikan pada strata S1 saja. Pada periode perideo tersebut, sakralitas S2 sangat terasa. Jika satu mata kuliah yang error, maka semuanya harus diulang Kembali pada tahun berikutnya. Yang paling miris, ada kesan penjatahan. Standar kelulusan dilihat dari nilai tertinggi. Tertinggi berikutnya akan diikutkan pada term kedua. Jarang sekali yang bisa menyelesaikan program magister dalam rentang waktu 4-5 tahun. Biasanya 6 s.d 7 tahun. Pertimbangan pertimbangan ini yang membuat banyak yang memilih jalan pintas, lanjut  di tempat kuliah yang lain. Lukman Arake mengambil jalan sunyi ini, melanjutkan Pendidikan S2 Univ. Al Azhar dengan penuh ketekunan. Kesulitan ekonomi akibat krisis moneter pada Tahun 1997 juga berdampak pada mahasiswa Mesir, banyak yang memilih Kembali ke tanah air. Harapan satu satunya untuk mempertahankan kontinuitas kuliah adalah melalui jasa pengurusan jamaah haji. Pada tahun 1999, karena keasyikan mencari biaya tambahan di musim haji, ada kejadian memilukan. Beberapa mahasiswa ditangkap oleh pihak keamanan Kerajaan Saudi Arabia, termasuk Kanda Prof. Lukman. Waktu itu, mahasiswa Mesir yang bekerja diklaim ekspatriat (pemukim illegal), Alhamdulillah, setelah memperlihatkan visa semuanya bisa terselesaikan dengan baik. Terkadang, untuk mempertahankan hidup, mahasiswa mendaftar di beberapa lembaga tahfizh yang menyediakan beasiswa. 

Pada tahun 2005, beliau pulang ke tanah air setelah 12 tahun tahun berada di negeri kinanah. Titel magister sudah ditangan dan pada saat yang sama sedang mengikuti program S3 di Universitas Al Azhar.  Waktu itu saya sebagai kepala KUA Kec. Matakali berusaha memfasilitasi beliau dengan pemangku kekuasaan di Polewali Mandar saat itu. Karena beliau adalah asset yang sangat berharga. Putra daerah yang murni dengan biaya sendiri menuntut ilmu di negeri Kinanah. Sayang, gayung tak bersambut. Hingga kemudian dia memilih Kembali ke Cairo menyelesaikan Pendidikan S3 nya. Sekali lagi, ini adalah pilihan berat. Melanjutkan S3 di Universitas al Azhar. Untuk pengesahan judul saja, harus keliling 15 Universitas cabang Al Azhar di Mesir. S3 nya pun diselesaikan dengan judul disertasi “Al Fiqhus Assiyasiy Al Islamiy lil aqalliyat, pada tanggal 21 Agustus 2008 dengan predikat Mumtaz ma'a syaraf al Ula. 

Setelah menyelesaikan Pendidikan S3 di Cairo, takdir mempertemukannya dengan Bapak Prof. Nasaruddin Umar yang waktu itu sebagai Dirjen Bimas Islam dan Penyelenggaraan Haji. Beliau diamanahi untuk menjadi Dewan Hakim pada MTQ Nasional tahun 2007 dan diamanahi untuk membina Pondok Pesantren Al Ikhlash, besutan Bapak Prof. DR. Nasaruddin Umar di Kec. Ujung Bone.

Beliau mengikuti semua proses dari awal, sebagai dosen honorer, terangkat menjadi ASN pada 2011, merangkak dari pangkat ke pangkat berikutnya. Hingga menjadi Guru Besar dan akhirnya menjadi orang nomor 1 di IAIN Bone.  

Beliau si anak hilang, permata dari tanah Mandar yang memberikan kilaunya ditanah Bone dan secara umum di Sulawesi Selatan. Dari beliau, kita harus belajar tentang kesabaran yang terkadang di luar nalar, menghargai proses dan belajar menerima takdir. Kita terkadang terkilau melihat keberhasilan seseorang, tetapi tidak melihat usaha yang dibaliknya. Ada kisah pilu, tangis dan terkadang dengan tetesan darah.

Selamat, Prof. Dr. Lukman Arake, Lc, MA. Pakar Siyasah Syar’iyah dari tanah Mandar. Saatnya memberikan Khidmah terbaik bagi nusa, bangsa dan agama.

 

Mamuju, 13 Mei 2026


MANDARRAS || Sistem Pendidikan Leluhur Mandar

Mursyid Syukri, 13 Mei 2026

Dalam lintasan sejarah peradaban manusia, sistem pendidikan tidak selalu hadir dalam bentuk sekolah, ruang kelas, buku, maupun perangkat teknologi sebagaimana yang dikenal pada masa kini. Jauh sebelum hadirnya alat tulis, sebelum masyarakat mengenal buku, pensil, dan media digital, leluhur telah memiliki cara tersendiri dalam mentransfer ilmu pengetahuan kepada generasi penerusnya. Di tanah Mandar, salah satu sistem pendidikan tradisional yang diwariskan turun-temurun adalah Mandarras.
Mandarras merupakan sebuah metode pengulangan pengetahuan secara terus-menerus agar ilmu yang diterima tidak mudah hilang dari ingatan. Kata Mandarras dalam pemahaman masyarakat Mandar bukan sekadar mengulang ucapan, melainkan sebuah proses pendidikan yang dilakukan berkali-kali hingga pengetahuan tersebut melekat dalam kesadaran, dipahami secara mendalam, lalu diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sistem ini menjadi bukti bahwa leluhur Mandar telah memiliki konsep pendidikan yang kuat berbasis ingatan, pengalaman, dan penghayatan nilai.
Aktivitas Mandarras telah berlangsung sejak ratusan tahun silam. Jika dilakukan kilas balik terhadap kehidupan masyarakat Mandar pada masa lampau, tentu tidak ditemukan sarana pendidikan modern sebagaimana sekarang. Tidak ada buku catatan, papan tulis, maupun media elektronik. Namun, keterbatasan tersebut tidak menjadikan masyarakat kehilangan arah dalam membangun peradaban ilmu pengetahuan. Para orang tua dan tokoh adat pada masa itu menggunakan metode lisan sebagai sarana utama pendidikan. Nilai-nilai kehidupan, petuah adat, norma sosial, hingga tuntunan moral diwariskan melalui Pappasang.
Pappasang merupakan pesan-pesan kebijaksanaan leluhur yang sarat dengan nilai etika, spiritualitas, sosial, dan kemanusiaan. Penyampaiannya dilakukan secara berulang-ulang dalam berbagai suasana kehidupan, baik pada kegiatan keluarga, hajatan adat, musyawarah, maupun dalam aktivitas keseharian masyarakat. Melalui pengulangan tersebut, generasi muda tidak hanya mendengar, tetapi perlahan memahami, mengingat, dan menjadikan nilai-nilai itu sebagai bagian dari karakter hidup mereka. Inilah hakikat Mandarras sebagai sistem pendidikan berbasis penguatan memori dan pembentukan perilaku.
Secara ilmiah, metode Mandarras memiliki kesesuaian dengan teori pendidikan modern mengenai repetition learning atau pembelajaran berulang. Dalam kajian psikologi kognitif, pengulangan informasi secara terus-menerus terbukti mampu memperkuat daya ingat jangka panjang. Informasi yang diulang berkali-kali akan lebih mudah tersimpan dalam memori otak dan lebih mudah dipanggil kembali ketika dibutuhkan. Oleh karena itu, Mandarras sesungguhnya merupakan bentuk pendidikan tradisional yang memiliki dasar pedagogis yang kuat meskipun lahir dari pengalaman budaya masyarakat.
Keunggulan Mandarras terletak pada proses internalisasi nilai. Pengetahuan tidak berhenti pada tahap mendengar, tetapi dilanjutkan pada proses memahami dan mengamalkan. Pengulangan yang dilakukan secara terus-menerus menjadikan ilmu tidak terasa asing, melainkan menyatu dalam aktivitas kehidupan masyarakat. Karena itulah generasi Mandar pada masa lalu dikenal memiliki daya ingat kuat terhadap petuah leluhur, adat istiadat, dan tata nilai sosial yang diwariskan turun-temurun.
Namun demikian, perkembangan zaman menghadirkan tantangan baru terhadap keberlangsungan sistem pendidikan berbasis Mandarras. Kemajuan teknologi informasi yang begitu pesat telah mengubah pola belajar generasi masa kini. Kehadiran smartphone dan internet memberikan kemudahan luar biasa dalam mengakses informasi. Pengetahuan dapat diperoleh hanya melalui sentuhan layar dalam hitungan detik. Akan tetapi, kemudahan tersebut di sisi lain menghadirkan persoalan baru, yakni melemahnya proses penguatan daya ingat dan konsentrasi belajar.
Generasi saat ini cenderung bergantung pada perangkat digital sebagai tempat penyimpanan pengetahuan. Informasi tidak lagi banyak disimpan dalam ingatan, melainkan diserahkan kepada mesin pencari dan media digital. Selain itu, penggunaan smartphone tidak hanya berfungsi sebagai sarana pendidikan, tetapi juga dipenuhi berbagai hiburan dan arus informasi yang beragam. Akibatnya, fokus generasi muda terhadap proses pendalaman ilmu menjadi semakin terbagi. Pengetahuan mudah diperoleh, tetapi tidak seluruhnya dipahami secara mendalam.
Fenomena tersebut menunjukkan pentingnya menghadirkan kembali nilai-nilai Mandarras dalam sistem pendidikan masa kini. Mandarras bukanlah upaya menolak kemajuan teknologi, melainkan usaha menyeimbangkan antara kecanggihan digital dengan kemampuan berpikir, mengingat, dan memahami ilmu secara mendalam. Generasi hari ini memerlukan pendidikan yang tidak hanya cepat memperoleh informasi, tetapi juga mampu mengolah, menghayati, dan mengaktualisasikan ilmu pengetahuan dalam kehidupan nyata.
Dalam konteks pembangunan sumber daya manusia di Sulawesi Barat, program Mandarras yang kembali digaungkan oleh Pemerintah Provinsi menjadi langkah strategis dalam membangun pola pikir generasi Mandar. Program tersebut dapat menjadi gerakan budaya pendidikan yang menekankan pentingnya penguatan karakter, ketekunan belajar, kedisiplinan berpikir, dan pengulangan ilmu sebagai fondasi kecerdasan masyarakat. Mandarras dapat diintegrasikan dalam lingkungan keluarga, sekolah, komunitas adat, hingga ruang-ruang sosial masyarakat.
Pada akhirnya, Mandarras bukan hanya warisan budaya, melainkan identitas intelektual masyarakat Mandar. Ia mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan tidak cukup hanya diketahui, tetapi harus dipahami melalui proses yang berulang, direnungkan, dan diamalkan dalam kehidupan. Di tengah derasnya arus teknologi modern, Mandarras hadir sebagai pengingat bahwa kekuatan utama manusia tetap terletak pada kemampuan berpikir, mengingat, dan memaknai ilmu pengetahuan secara bijaksana. Dengan demikian, menghidupkan kembali Mandarras berarti menjaga keberlanjutan nilai pendidikan leluhur sekaligus membangun generasi Mandar yang berkarakter, berpengetahuan, dan berakar kuat pada kearifan budayanya sendiri.

Selasa, 12 Mei 2026

Pesan Bijak A'BA TAMMALELE Untuk Generasi Muda

Oleh : Almadar Fattah 

Apa yang disampaikan Budayawan A'BA TAMMALELE, baru-baru ini di media sosial tentang pentingnya membangun nalar dan naluri patut diapresiasi sebagai pesan yang bernilai. Sepenggal frasa yang ia sampaikan dapat dijadikan bahan renungan sekaligus sumber edukasi bagi generasi muda.

Di tengah derasnya arus informasi saat ini, masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan menerima kabar dengan cepat. Kecepatan tanpa kebijaksanaan justru sering membawa orang pada kesalahan dalam memahami kenyataan.

Hari ini, informasi datang tanpa henti melalui layar gawai. Berita, opini, komentar, dan berbagai pandangan bercampur menjadi satu arus yang sulit dibendung. Jika tidak disikapi dengan hati-hati, masyarakat mudah terseret dalam kebingungan dan kesalahpahaman.

Hari ini, informasi datang tanpa henti melalui layar gawai. Berita, opini, komentar, dan berbagai pandangan bercampur menjadi satu arus yang sulit dibendung. Jika tidak disikapi dengan hati-hati, masyarakat mudah terseret dalam kebingungan dan kesalahpahaman.

Karena itu, ajakan untuk membangun nalar menjadi sangat penting. Nalar adalah kemampuan akal untuk berpikir jernih, menimbang benar dan salah, serta memisahkan fakta dari opini yang menyesatkan.

Dengan nalar yang sehat, seseorang tidak mudah percaya begitu saja terhadap setiap informasi yang beredar. Ia akan memeriksa sumber, memahami konteks, dan mempertimbangkan dampak sebelum mengambil sikap.

Nalar juga melatih manusia agar tidak gegabah dalam menilai orang lain. Ia mengajarkan sikap tenang, teliti, dan mampu melihat persoalan dari berbagai sudut pandang sebelum mengambil kesimpulan.

Di sisi lain, membangun naluri juga tidak kalah penting. Naluri adalah kepekaan batin yang membuat manusia mampu merasakan keadaan di sekitarnya. Ia menuntun seseorang untuk peduli terhadap sesama dan peka terhadap penderitaan orang lain.

Naluri yang sehat melahirkan empati. Seseorang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga memahami kesulitan orang lain dan terdorong untuk membantu ketika dibutuhkan.

Ketika nalar dan naluri berjalan seiring, lahirlah pribadi yang utuh. Ia cerdas dalam berpikir, tetapi tetap lembut dalam merasa. Ia mampu berbicara dengan logika, namun tetap bertindak dengan hati nurani.

Pribadi seperti ini tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam. Ia tahu kapan harus bersikap tegas dan kapan harus menunjukkan kelembutan. Dalam setiap tindakan, ada pertimbangan akal sekaligus sentuhan rasa kemanusiaan.

Pesan tersebut sangat relevan di era media sosial saat ini. Banyak orang mudah terpancing emosi, terburu-buru membagikan kabar, dan cepat menghakimi tanpa memahami persoalan secara utuh. Fenomena ini menunjukkan pentingnya pendidikan karakter di ruang digital.

Ajakan A'BA TAMMALELE menjadi pengingat bahwa kecerdasan tanpa nurani bisa menyesatkan. Sebaliknya, kepekaan tanpa nalar juga dapat membuat seseorang kehilangan arah dalam mengambil keputusan. Karena itu, keduanya harus berjalan bersama.

Membangun nalar dan naluri berarti membangun manusia seutuhnya: tajam dalam berpikir, lembut dalam merasa, serta tepat dalam bertindak. Pesan sederhana yang disampaikan A'BA TAMMALELE ini sesungguhnya mengandung makna besar bagi masa depan kehidupan bersama.

Sabtu, 02 Mei 2026

PENGANTAR DISKUSI TOMANURUNG || Merawat Martabat Leluhur



Catatan:  Muhammad Munir 

Minggu, 3 Mei 2026 akan digelar sebuah diskusi lepas yang dinisiasi oleh WAG BIJA DAENG PALULING Sulawesi Barat yang mengusung tema Tomanurung || Merawat Martabat Leluhur. Acara ini menghadirkan pembicara dari tokoh pemerhati budaya dan sejarah Mandar. 

Mereka antara lain pemerhati sejarah dan budaya Mandar:  Dr. H. M. Farid Wajdi, M.Pd (Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan, Pembangunan Daerah Sulbar); Drs. Darmansyah, M.Hum (Ketua DPRD Majene 2014 - 2019); Andi Pirsan dan Muhammad Munir sebagai Moderator & Notulen. Selain itu, pemrakarsa juga menghadirkan dua panelis yang tak asing lagi di tanah Mandar, yakni Tammalele dan Thamrin S.Pd., M.Pd yang tak lain adalah Kepala Perpustakaan Unsulbar. 


TOMANURUNG

Tomanurung itu tokoh kunci dalam mitologi dan sistem Kerajaan di Sulawesi (baca: Mandar, Bugis, Makassar dan Toraja). Tomanurung bagi sebagian orang memaknai "orang yang turun" atau "dia yang turun dari langit". Dalam kepercayaan masyarakat Sulawesi, Tomanurung adalah sosok suci yang turun dari dunia atas ke bumi untuk memerintah dan menata kehidupan manusia.

A. Muis Mandra dan tokoh sejarah lainnya di Mandar mengkonsepsikan Tomaurung dalaj empat nama dan karakter, yakni  Tokombong di Bura, Tobisse di Talkang, Tomonete di Tarauwe dan Tonisesse di Tingalor. Nyaris semua suku dan kerjaan besar di Sulawesi percaya bahwa Tomanurung adalah asal usul para raja dan bangsawan. Karena itu, hanya keturunan Tomanurung yang dianggap ditakdirkan memerintah. Kalau yang memerintah bukan keturunannya, diyakini akan timbul masalah pada negerinya.

Kajian lain tentang konsepsi Tomanurung adalah kategori mitos _human endogenic_ atau asal-usul manusia atau raja. Sosok Tomanurung ini dipakai sebagai legitimasi kekuasaan kendati ada yang menganggap Tomanurung hanya mitos atau _invention of politics_, tetapi  eksistensinya tetap jadi awal lahirnya penguasa/raja.

Hal yang tak boleh diabaikan adalah perilaku masyarakat yang menghubungkan Tomanurung dalam berbagai simbol kerajaan seperti bendera, pusaka, dan ritual penobatan. Bendera dianggap punya roh leluhur dan jadi "pelindung" dalam perang maupun upacara raja.

Intinya, Tomanurung = leluhur gaib yang turun dari langit, adalah cikal bakal raja-raja dan babgsawan. Meski kemudian konsep ini dipahami berbaur antara mitos, agama lokal, dan politik. Dan sampai saat ini, silsilah raja-raja dan bangsawan masih dilacak ke Tomanurung, dan naskah keluarga biasanya dibacakan sebelum pernikahan bangsawan untuk memastikan kedua pihak sama-sama berdarah biru (sambona kappar)


MENJAGA MARTABAT LELUHUR

Agenda diskusi ini mengusung Menjaga Martabat Leluhur. Kata mattabat  dimaknai sebagai nilai dasar yang melekat pada setiap manusia. Ada tiga inti martabat yang dianugerahkan Tuhan pada setiap kelhiran manusia yakni: Pertama, melekat sejak lahir. Bukan karena pintar, kaya, atau berkuasa. Bayi, lansia, tahanan, semua tetap punya; Kedua, Setara. Martabatmu sama dengan martabat orang lain. Tidak ada manusia yang “lebih manusia” dari yang lain; Ketiga, Wajib dihormati. Karena melekat dan setara, orang lain wajib memperlakukanmu sebagai manusia, bukan alat. Kita dituntut untuk memperlakukan orang lain begitu. 

Martabat yang membuat orang tetap bisa berkata “aku tetap manusia”. Martabat ini juga yang menbuat orang menolak tunduk saat dijajah atau dipermalukan sebagaimana yang diajarkan dan dontohkan oleh para pejuang yang mendahului kita. 

Singkatnya: Martabat itu alasan kenapa setiap orang pantas diperlakukan sebagai manusia seutuhnya. Bukan hadiah, bukan prestasi. Menjaga martabat leluhur itu adalah cara kita menghormati orang-orang yang hidup sebelum kita, supaya nama baik, nilai, dan perjuangan mereka tidak tercoreng di era sekarang 

Sampai disini, Leluhur kita tak mungkin bangkit bisa bela diri lagi. Martabat mereka sekarang ada di tangan kita lewat kata, sikap, dan keputusan sehari-hari. Manusia Mala'bi' adalah mereka yang mampu menyayangi luluare'na satteng lalona ma'sayabgngi alawena. 

Dengan kita bangga mewariskan kearifan para leluhur kita pada generasi selanjutnya, maka kita telah menjaga martabat leluhur kita. 

Terpulang kepada kita semua, aspek mana dari leluhur kita yang penting diwariskan? Apakah Silsilah, pusaka, atau nilai ? 

Mari Berdiskusi !