Sabtu, 12 Juli 2025

KERAJAAN SENDANA DALAM TEORI KENEGARAAN IBNU KHALDUN

Oleh: Drs. Darmansyah, M. Hum.

Agar dapat diterima secara akademik eksistensi kerajaan Sendana, maka proses penulisannya harus dirangkai dengan rakitan logika yang kokoh. Dalam masyarakat yang semakin cerdas dan kritis, penulisan sejarah (historiografi) tidak dapat diterima dan tidak bisa bertahan lama, bagaikan sarang burung yang rapuh dan pasti segera menghilang - bila penulisannya tidak ditopang oleh teori yang memadai.  Oleh karena itu, akan dikemukakan teori berdirinya kerajaan Sendana berdasarkan pemikiran tokoh filosofis politik Ibnu Khaldun. Apa dan siapa Ibnu Khaldun. Ibnu Khaldun mempunyai nama lengkap Abdurrahman ibnu Khaldun al-Magribi al-Hadrami al-Maliki. Ia berkebangsaan Arab Hadramaut dilahirkan di Tunisia pada abad ke- 14 Masehi (732 Hijriyah atau 1332 Masehi) sezaman dengan tokoh legendaris Pongkapadang (1320 Masehi) atau generasi ke- 2 Pongkapadang (Topole di Makka 1345 Masehi).

Ibnu Khaldun memandang bahwa, masyarakat nomaden yang suka berpindah-pindah tidak mungkin dapat membangun kebudayaan dan peradaban. Kehadiran orang-orang Toraja di bawah kepemimpinan Pongkapadang di Tabulahan, sebagai awal kehidupan menetap – membangun kebudayaan dan peradaban di wilayah Mandar kala itu. Inilah perbedaan antara kehadiran Tomanurung di Gowa, Luwu, Bone yang mempersatukan Kesatuan Masyarakat Hukum Adat menjadi sebuah bangsa yang lebih besar (kerajaan). Sementara kehadiran Tomanurung di Mandar, dianggap sebagai “PAMULATAU”, yaitu mengajak manusia untuk hidup sedenter, menetap menjadikan lingkungan geografis sebagai bagian darinya – itulah komunitas Masyarakat Hukum Adat.

Teori politik Ibnu Khaldun dalam bukunya “MUQADDIMAH”, dengan konsep ashabiyah, yaitu solidaritas kelompok, kesatuan komunitas-komunitas masyarakat, dan semangat kollektif yang menjadi dasar terbentuknya negara dan kekuasaan – sangat relevan lahirnya kerajaan Sendana. Ibnu Khaldun memandang bahwa negara dan peradaban mengalami siklus hidup serupa dengan organisme kehidupan; lahir merangkak - tumbuh remaja – dewasa (masa kejayaan), kemudian masa  tua (mengalami kemunduran dan berahir dengan kematian).

Kerajaan Sendana berasal-usul dari emrio masyarakat di bawah kepemimpinan Tomakakak Daeng Tumanang di Sakrawang dan oleh Tomakakak Andirinna di Tallambalao. Kemudian ia tumbuh remaja di bawah kepemimpinan Daeng Palulung dan berlanjut ke Puatta I Sakrawang. Di Tangan Puatta I Podanglah, Sendana mengalami kejayaan terutama pada bidang politik; Bila semula kepemimpinan hanya otoritas tunggal, kemudian permusyawaratan di antara unit-unit masyarakat – lalu berkembang menjadi sebuah Lembaga Majelis Permusyawaratan Adat - itulah Kerajaan Sendana.

Ibnu Khaldun dengan teorinya, menyebutkan bahwa sebuah negara, layaknya manusia mampu bertahan hanya 120 tahun dengan 4 fase kehidupan; (1) 30 tahun fase kelahiran, pertumbuhan, sampai remaja; (2) 30 tahun fase remaja sampai dewasa; (3) 30 tahun fase dewasa atau kejayaan, dan (4) 30 tahun masa tua, runtuh, dan pada akhirnya berahir dengan kematian. Berahirnya kerajaan Sendana dan semua kerajaan-kerajaan di Mandar di tangan kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda (Afdeling Mandar).   

SEMOGA BUKAN HANYA ARTEFAKNYA YANG DITEMUKAN HARI INI

SUSUNAN KADHI BALANIPA

Susunan Kali (Kadhi) Balanipa : 

1. Abdurrahim Kamaluddin Tosalama di Binuang (Imam)

2. Puang di Tammangalle  "Cucu dari Toappauju Daeng di Pare-Pare" (Imam)

3. Aji Massepe  To Panrita (Imam)

4. Puang di Tammangalle (Imam)

5. Aji Massepe To Panrita  (Imam) 

6. Puang di Tammangalle (Pertama kali memakai gelar Kali Balanipa)

7. Djalaluddin Puang di Bala (Kali Balanipa)

8. Puanna Itappe (Kali Balanipa)

9. Puanna  Icaidi "saudara  Puanna  Itappe" (Kali Balanipa)

10. Puamungang Daeng Mallipu "sepupu 1x dari Puanna  Icaidi dan Puanna  Itappe" (Kali Balanipa)

11. Muhammaq Puanna Itaebang "anak dari Daeng Mallipu" (Kali Balanipa)

12. Imadang  Puanna  Isihakang "saudara Puanna Itaebang" (Kali Balanipa)

13. Daeng Manyiwi "Appo poro anaqna Tosalama di Binuang" (Kali Balanipa)

14. Kaeq Puang di Buttu "menjadi Kali Balanipa sewaktu Pammarica menjadi Arajang Balanipa" (Kali Balanipa, Puang Limboro)

15. Isupu Puanna Iba'du "anaknya Daeng Mallipu" (Kali Balanipa)

16. Puang Pandeng "saudara Puanna  Iba'du" (Kali Balanipa)

17. Kunu Puanna Iyamang / Puang Bonde "anak dari Puang di Buttu" (Kali Balanipa)

18. Puang Sipole "Cucu Puang di Bala" (Kali Balanipa) 

19. Puanna  Iriama "anak dari Puang Sipole" (Kali Balanipa)

20. Puang Kecce/ Puanna Iyabara "anak Puang Pandeng" (Kali Balanipa)

21. Puang Timoras "saudara Puang di Buttu"  (Kali Balanipa) 

22. Panggeyo Puang Kaiyyang Are "saudara Puang di Buttu" (Kali Balanipa, Puang Limboro) 

23. Kunu Puanna Iyamang / Puang Bonde "anak dari Puang di Buttu" (Kali Balanipa)

24. Puang Sipole "Cucu dari Puang di Bala" (Kali Balanipa)

25. Puanna  Iriama (Kali Balanipa)

26. Puang Saoda' (Kali Balanipa, Pa'bicara Kenje)

27. Aji Sumaila "Suami dari Puang Bassal" (Kali Balanipa)

28. Puang Gamaru / Puang Bambalalang "ipar dari Aji Sumaila" (Kali Balanipa)

29. Inase Puang Pocci / Puanna  Ipasa " anak dari Kunu Puang Bonde" (Kali Balanipa)

30. Puang Kollang "anak dari sepupu 2x nya Puang Pocci" (Kali Balanipa)

31. Mahmud Puang Toji "sepupu 1x Puang Kollang" (Kali Balanipa)

32. Ikasang Puang Matta / Puang Masigi "anak dari Puanna Siakang: (Kali Balanipa)

33. Puaji Mahmud Puang Toji "sepupu 1x Puang Kollang"

34. Idollah A'bana Aco "anak dari Kali Banggae" (Kali Balanipa)

35. Iyuseng "Cucu dari Puang Sipole" (Kali Balanipa)

36. Muhammad Aming To Panrita "beliau menjadi Kali sewaktu Ilaju Kanna Doro menjadi Arajang Balanipa" (Kali Balanipa)

37. Imuna Daenna Hatijah (Kali Balanipa)

38. Iparukkai  (Kali Balanipa)

39. Aji Daeng "saudara dari Irungga Maraqdia Pambusuang" (Kali Balanipa)

40. Ima'amung cucu dari Puanna  Iba'du (Kali Balanipa)

Berdasarkan catatan Lontar dan di fotocopy oleh Drs. Muh. Salim Kasi sarana bidang PSK Kanwil Dep. P & K Prop. Sul-Sel.

Dokumen ANRI

Transliterasi oleh : Rajab Ashari

PUATTA I PODANG || Pendiri Kerajaan Sendana

Oleh: Darmansyah 

Catatan pendahuluan:
(1) Jika benar Tapali melahirkan I Rerasi, maka I Rerasi bersepupu sekali dengan Puatta I Sa’rawang;
(2) Dan jika benar I Rerasi melahirkan Daeng Matandrek Karaeng Manguntungi Tumaparisik kallona (raja Gowa ke- 9), maka raja Gowa ke- 9 bersepupu dua kali dengan Puatta I Podang (Pendiri kerajaan Sendana).


Berdasarkan wawancara saya dengan annanggurutta, Drs. A. M. Mandra (1996) – Beliau menyebutkan bahwa, Daeng Marituk dalam menjalangkan roda pemerintahan di Sakrawang, tidaklah begitu lama – Marituk pergi meninggalkan Sakrawang/ Sendana entah kemana !. Kekosongan kepemimpinan di Sakrawang, tampillah tokoh intelektual - populer dengan gelar ‘Puatta I Podang’ mengambil alih jalannya pemerintahan.


Sebagai seorang intelektual, Puatta I Podang mempersatukan Kesatuan Masyarakat Hukum Adat Sakrawang yang geografis meliputi; Puttakdak, Leppangang, dan Pundau. Dikemudian hari dikenal dengan “PAPPUANGANG PUTTAKDAK”. Ketua adat Pappuangang Puttakdak adalah turunan I Takdak. I Takdak adalah seorang putra sulung Daeng palulung/ Tomesaraung Bulawang (Baca: Lontarak Pattappingang, 1984/1985, halaman 371). 


Persekutuan antara Kesatuan Masyarakat Hukum Adat Puttakdak (Pappuangang Puttadak) dengan Kesatuan Masyarakat Hukum Adat Tallambalao (Marakdia Adat Tallambalao) melahirkan “KERAJAAN SENDANA”. Pusat pemerintahan kerajaan Sendana tidak di Sakrawang (puncak gunung Puttakdak) – juga tidak  berpusat di Pangaleroang Tallambalo – Tapi di pusatkan diantara keduanya, yaitu; di PODANG (tempat srategis dalam melakukan transportasi dan transpormasi di pelabuhan bahari pulau Taimanuk Palipi).


Tokoh intelektual Puatta I Podang – Mendirikan kerajaan Sendana, sejak semula sudah menerapkan sistim pembagian kekuasaan (Trias Politika), yaitu; Legislatif, Eksekutif, dan Yudikatif. 
(1) Legislatif. 
Lembaga Musyawarah Adat mempunyai otoritas dalam menetapkan adat-istiadat (hukum). Adat-istiadat, diadopsi dari tradisi/ kebiasaan yang pernah dilaksanakan pada Masyarakat Hukum Adat di wilayah adat masing-masing. 
Selain itu, Lembaga Musyawarah Hadat Kerajaan Sendana (lembaga politik-pen) – mempunyai kedudukan tertinggi dalam struktur pemerintahan kerajaan Sendana (Majelis Permusyawaratan Masyarakat Hukum Adat) yang berwenang; memilih, melantik, dan memberhentikan Raja Sendana sebagai kepala pemerintahan/ kepala negara (atau proto negara). 


Anggota Lembaga Permusyawaratan Adat Kerajaan Sendana - semula hanya 2 Kesatuan Masyarakat Hukum Adat yang diwakili oleh (1) Pappuangang Puttadak dan (2) Marakdia Tallambalao. Kedua anggota lembaga ini - tidak saling membawahi, masing masing sebagai ketua (dalam bahasa lokal disebut “RARUNG” hanya berbeda wilayah kerja). Lembaga Permusyawaratan Adat Kerajaan Sendana - di bawah koordinator Pakbicara Kaiyyang.

Dalam perjalanan pemerintahan Kerajaan Sendana, Komunitas Masyarakat Hukum Adat lainnya mulai mengintegrasikan diri kedalam pemerintahan kerajaan Sendana, dan menjadi anggota (bahasa lokal disebut Bannang) diantaranya: (1) Komunitas Masyarakat Hukum Adat Limboro Rambu-Rambu di era Puatta I Battayang (Lihat: Inventarisasi, Transliterasi, Terjemahan dan Pengungkapan Latar Belakang Nilai Serta Isi Naskah Kuno/ Lontar Mandar, Daerah Sulawesi Selatan, Terbitan Direktorat Jenderal kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 1985/ 1986; (2) Komunitas Masyarakat Hukum Adat Limbuak/ Lakkading di era Puatta I Kukbur, setelah invasi militer ke Passokkorang; (3) Kesatuan Masyarakat Hukum Adat Onang; (4) Kesatuan Masyarakat Hukum Adat Tubo di abad ke- 18 Masehi. (5) Dan beberapa Komunitas Masyarakat Hukum Adat lainnya mulai terbentuk dan bergabung.


(2) Yudikatif. Yudikatif dalam bahasa lokal populer dengan istilah Pakbicara Kaiyyang. Untuk pertama kalinya, Pakbicara Kaiyyang di Kerajaan Sendana dijabat langsung oleh Puatta I Podang. Pakbicara Kaiyyang di Kerajaan Sendana memiliki dua fungsi utama; pertama sebagai Pakbicara Parrattas (pengadilan/ pemutus perkara), kedua sebagai pimpinan wilayah adat di Podang dan sekitarnya.
Itulah sebabnya Pakbicara Kaiyyang selain sebagai pimpinan yudikatif, juga sebagai koordinator Lembaga Hadat di Kerajaan Sendana.


(3) Eksekutif. Kepala Pemerintahan atau Raja pertama di Kerajaan Sendana, adalah anak menantu Puatta I Podang (suami dari I Dattiang) yang populer dengan sebutan Tomissawe di Mangiwang (Baca: Andi Syaiful Sinrang dalam bukunya: Mengenal Mandar Sekilas Lintas, Perjuangan Rakyat Mandar Melawan Belanda (1667 – 1949) Bagian I, Diterbitkan oleh Yayasan Kebudayaan Mandar Rewata Rio, 1991.

“SIAPA TOMISSAWE DI MANGIWANG, SAYA SERAHKAN KEPADA TOMALAKBIK-U Andi Pirsan bersama Appona I Jalangkar untuk mengurai lebih dalam”.