Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 November 2025

GURU ANA PUAJI JIARA

Cerpen oleh Ule-Ule Tarreang (Safardi Bora)

Di sebuah kampung kecil yang selalu beraroma tanah basah selepas hujan, di timur jauh yang sepi seperti halaman kitab tua, hiduplah seorang perempuan bernama Ana Paji Jiara. Setiap pagi ia berangkat sebelum umur matahari genap sehari, melintasi jalan tanah yang retak-retak, semak yang berduri, dan udara yang menggigil di sela bukit Wunga. Tiga kilometer perjalanan itu bukan sekadar jarak, melainkan ziarah kecil menuju masa depan anak-anak.

Ana membawa tas kain yang warnanya sudah pudar, tapi langkahnya selalu bening—seperti doa yang tidak pernah selesai dibacakan. Di setiap tikungan, ia sudah hafal suara angin, suara kambing milik tetangga yang sering melenguh di pinggir jalan, juga suara sunyi yang memanjang seperti lorong waktu. Kadang ia harus menahan napas ketika hujan turun tanpa aba-aba, membuat tanah berubah licin seperti ingatan yang hendak melarikan diri.

Namun Ana tetap berjalan. Sebab di ujung perjalanan itu, ada kelas kecil yang dindingnya penuh lubang—jejas waktu—dan anak-anak yang menunggu dengan mata yang selalu tampak lebih besar daripada tubuh mereka.

Di ruang kelas itu, Ana pernah menghadapi seorang anak lelaki bernama Abak. Ia keras kepala seperti kuda Sumba yang baru belajar dikekang. Abak duduk di bangku paling belakang, sering mengetuk meja dengan batu kecil yang ia bawa entah dari mana, dan menatap papan tulis seperti benda asing yang datang dari langit.

"Abak, coba baca ini," kata Ana suatu pagi, menunjuk huruf ha yang ia tulis dengan kapur yang tinggal setengah.

Abak mengerutkan dahi. “Beta tidak bisa, Ibu.”

“Coba saja. Pelan-pelan. Pakai bahasa Kambera dulu.”

Ketika Ana menyebut “ha-mai,” mata Abak bergerak sedikit. Bahasa ibu—bahasa yang tumbuh bersama hujan, pepohonan, dan dapur kayu—membuat huruf itu terasa seperti saudara jauh yang tiba-tiba pulang. Perlahan Abak membuka mulutnya, mengeja dengan suara yang masih goyah, seperti nada pertama dari alat musik yang belum pernah disentuh.

Hari itu, untuk pertama kalinya Abak membaca satu suku kata. Ana tidak bersorak. Ia hanya menepuk pundak anak itu pelan, seolah takut kebahagiaannya bisa memecahkan sesuatu yang rapuh.

Kadang Abak datang tanpa membawa buku; kadang ia datang tanpa mandi; kadang ia datang dengan cerita bahwa ia harus membantu ayahnya memikul kayu atau mengejar kambing yang hilang. Namun Ana tidak pernah marah. Ia tahu, anak-anak kampung hidup di garis yang tipis antara belajar dan bertahan hidup.

“Abak datang saja sudah bagus,” gumam Ana suatu sore, sambil merapikan kertas-kertas di meja guru yang sompal di sudutnya.

Ketika kelas mulai sepi, Ana sering duduk sendiri di bangku kayu, memandang dinding-dinding yang ia tempeli abjad dan gambar seadanya. Warna kertas itu sudah kusam, tapi mata anak-anak tetap menyala setiap kali melihatnya. Ia ingin membuat kelas itu menjadi taman kecil, tempat huruf-huruf tumbuh seperti bunga liar.

Malam hari, ia belajar sendirian di rumah, menamatkan kuliah jarak jauh dari Universitas Terbuka. Lampu minyak kecil di ruangan itu berkerlip seperti bintang yang kelelahan. Namun Ana tidak menyerah. Ia membaca sampai angin malam mengantarkan rasa kantuk, atau sampai ayam kampung berkokok tanda subuh mendekat.

Kadang ia merasa tubuhnya terlalu letih untuk melanjutkan semuanya. Tapi setiap kali ingatan tentang Abak muncul—tentang suku kata pertamanya, tentang senyum kecil yang muncul tanpa ia sadari—Ana kembali bangkit.

Suatu pagi, ketika kelas hampir berakhir, Abak mendekat dengan langkah ragu.

“Ibu Ana… Beta sudah bisa baca nama beta sendiri,” katanya sambil menunjukkan secarik kertas yang kusut.

Ana melihat tulisan itu—masih goyah, hurufnya tidak sejajar, tapi itu adalah keajaiban kecil yang lahir dari perjalanan panjang.

Ia tersenyum. Senyum yang tidak pernah ia berikan kepada dunia untuk hal-hal remeh. Senyum yang hanya muncul ketika ia menyaksikan anak-anak menjemput masa depan mereka sendiri.

"Wena, Abak…" bisiknya. "Kau sudah buka pintu pertama."

Di luar, angin timur bertiup perlahan. Tanah basah mengirimkan bau yang akrab, dan suara jauh dari kampung terdengar seperti lagu lama yang kembali dinyanyikan.

Ana berjalan pulang, melewati jalur yang sama—semak, batu, dan sunyi. Namun kali ini langkahnya terasa lebih ringan. Sebab ia tahu, di kelas kecil itu ada seorang anak yang baru saja menemukan dunia baru, dan mungkin dunia itu akan menuntunnya jauh melewati batas kampungnya sendiri.

Di timur yang jauh, di tanah yang kerap terlupakan, Ana Paji Jiara menjaga cahaya itu tetap hidup.
Cahaya kecil, tapi setia.
Cahaya yang membuat ingatan orang-orang kampung menyebutnya: **

Samarinda, 25 November 2025

Selasa, 28 Oktober 2025

Caha Maha Cahaya ‘Dilarang Tampil’ Gara-gara: Arab Tanpa ‘Ain, Ahmad Tanpa Mim

Catatan Hamzah Ismail 

Pada tahun 1990-an, Teater Flamboyant Mandar berada pada puncak produktivitasnya. Saat itu, mereka tengah menyiapkan sebuah pertunjukan teater yang judulnya diambil langsung dari buku puisi karya Emha Ainun Nadjib (Mbah Nun), berjudul Cahaya Maha Cahaya.

Kebetulan, proses penciptaan karya pertunjukan tersebut mendapat perhatian langsung dari Mbah Nun. Ia bahkan mengirim seorang sutradara khusus untuk mendampingi proses awal produksi, yaitu Agung Waskito, yang sebelumnya sukses menyutradarai pementasan Lautan Jilbab.

Proses latihan berlangsung sekitar dua bulan. Menariknya, naskah dan tata musik pertunjukan digarap langsung selama proses latihan berlangsung. Tidak seperti pertunjukan teater pada umumnya yang berangkat dari naskah jadi, Cahaya Maha Cahaya justru lahir dari dinamika improvisasi para pemain dan arahan sutradara di ruang latihan.

Rencana awalnya, karya teater Cahaya Maha Cahaya ini akan dibawa berkeliling ke beberapa daerah setelah terlebih dahulu dipentaskan di Tinambung sebagai penampilan perdana. Setelah segala persiapan dinyatakan selesai, pentas perdana pun digelar di Eks Gedung Bioskop Harapan, Tinambung.

Layaknya pemutaran film, pertunjukan ini menjual tiket kepada penonton. Dan, Alhamdulillah, ratusan tiket berhasil terjual, sebuah capaian yang membanggakan bagi kelompok teater daerah pada masa itu. 

Keberhasilan pementasan di Tinambung menjadi pemantik semangat baru untuk membawa Cahaya Maha Cahaya melancong ke Parepare. Syarifuddin Razak ---yang kini dikenal sebagai Kepala Desa Tandung--- menjadi salah satu penggerak utama rencana tersebut. Ia berusaha membujuk sepupunya, Andi Samsani, agar membantu membuka jalan. Kebetulan, ayah Andi Samsani saat itu menjabat sebagai pejabat militer di Korem Parepare. Alhasil, Andi Samsani bersedia menjadi sponsor pribadi sekaligus satu-satunya penanggung logistik bagi keberangkatan dan pementasan Cahaya Maha Cahaya ke Parepare.

***

Setelah semua persiapan dirasa matang, tim Cahaya Maha Cahaya berangkat ke Pare-Pare menggunakan bus umum. Sekitar tiga puluh orang, terdiri dari pemain dan kru, ikut dalam perjalanan itu. Setibanya di Pare-Pare, mereka ditempatkan di salah satu rumah warga setempat.

Menariknya, pemain dan kru sempat berada di Pare-Pare selama beberapa hari sebelum bisa manggung. Mereka tidak bisa segera tampil karena proses perizinan belum selesai. Sambil menunggu, kegiatan mereka terbatas pada latihan kecil-kecilan, makan, dan tidur.

Tim produksi, yang dipimpin Andi Samsani, bergerak cepat untuk mengurus perizinan. Meski demikian, izin tidak dapat langsung diterbitkan karena ada dua kendala. Kendala utama ternyata terletak pada dua kalimat dalam naskah yang dibaca pihak berwenang; kata-kata itu terdengar janggal dan asing. 

Meski menghadapi hambatan, tim produksi terus mencari jalan. Mereka terlanjur berada di Pare-Pare dan Cahaya Maha Cahaya harus dipentaskan. Akhirnya, mereka bertemu dengan seorang perwira polisi asal Sendana yang juga sedang bertugas di Pare-Pare, Saeruddin Mandra, dan bersedia menjadi jaminan. Berkatnya, izin akhirnya diterbitkan dan pementasan pun diperbolehkan.

Dua kalimat yang sempat mengganjal proses perizinan itu adalah “Arab bila ‘ain dan “Ahmad bila mim,” sebuah terminologi dari khazanah tasawuf, yang merujuk pada “Arab tanpa ‘ain (Rab)” dan “Ahmad tanpa Mim (Ahad).” 

Padahal dalam naskah itu terdapat puisi yang jauh lebih berdaya juang, sebuah sajak dari buku Cahaya Maha Cahaya, berjudul Hizib.
Bismillah alam semesta,
Bismillah darah manusia, …

Tabeqq…
Tinambung, 25/10/2025

Kamis, 14 Agustus 2025

BERSYUKURLAH || Bisik Sang Tokoh Imajiner (Merayakan Puisi Imajiner Adi Arwan Alimin “Mereka Kini Bertanya Padamu”)

Oleh: Hamzah Ismail

"Syukur penjaga nyala di dada."

Di ruang sunyi di hamparan sejarah dalam kesadaran, suara-suara itu datang. Mereka bukan sekadar nama yang terpatri di batu nisan atau lembar arsip, melainkan sosok yang menagih kesetiaan. Dalam puisi imajiner Adi Arwan Alimin, mereka hadir bergantian, menggugat, menyoal, dan mengukur nyali manusia Mandar kini.

Kali ini, bayangan mereka berbalik arah. Tidak lagi menodong dengan pertanyaan, melainkan memberi satu pesan yang sederhana namun menghunjam: bersyukurlah.

Imam Lapeo: Api Iman yang Tak Padam
Wajah teduh ulama kharismatik ini seakan keluar dari pusara Lapeo.
"Bersyukurlah kau memiliki api iman yang kutanam, agar tak buta di tengah badai dunia,"
ujarnya, dengan suara sejuk yang mengalir ke relung hati.

Syekh Abdul Mannan: Benang Ilmu dari Zaman Silam
Tangannya seperti masih memegang butiran tasbih hitam bercahaya.
"Bersyukurlah atas ilmu yang kusulam, agar pikiranmu tak hanyut arus zaman."

Ibu Agung Andi Depu: Nyali Perempuan Perkasa
Derap langkahnya terdengar bagai pasukan kuda di tanah basah.
"Bersyukurlah karena keberanian itu masih bisa kau warisi, agar kemerdekaan tak hanya jadi catatan di kertas."

Hammad Saleh Puanna Sudding : Darah Panglima
Dari kabut medan perang ia berujar,
"Bersyukurlah kau mewarisi darah pejuang yang tak gentar bedil, untuk melanjutkan mimpi negeri merdeka."

I Calo Ammana Wewang: Pelita Akal Sehat
Di antara laut dan pasir Babbabulo, ia berkata,
"Bersyukurlah karena pelita akal sehat masih kau genggam, agar tak sesat di jalan panjang perjuangan."

Maraqdia Tokape: Nyali Melawan Bayang-Bayang
Ia mengingatkan,
"Bersyukurlah karena nyali itu masih ada, meski lawanmu kini tak selalu berseragam."

Haji Zikir Sewai: Warisan Kejujuran
"Bersyukurlah atas kejujuran ini, agar tak mencuri di rumah sendiri,"
pesannya yang sederhana namun menampar kesadaran.

Husni Jamaluddin: Telinga untuk Harmoni
"Bersyukurlah karena telinga ini masih mau mendengar suara lirih di tengah bising perbedaan, dan kesediaan bergabung ke dalam kehendak Tuhan."

Kalman Bora: Kebanggaan Anak Mandar
"Bersyukurlah bukan hanya pada nasabmu, tapi pada panggilan untuk memberi."

Kiai Sahabuddin: Iman yang Bening
"Bersyukurlah atas iman yang kutanamkan, agar hatimu tetap jernih meski berjalan di tengah godaan."

Bunda Maemunah: Keberanian Menatap Bedil
"Bersyukurlah karena keberanian itu membuat kehormatanmu tak terjual murah."

Baharuddin Lopa:  Kegigihan Makkeqdeang Atonganang
Dengan tatapan tajam ia berkata,
"Bersyukurlah atas kegigihan ini untuk melawan dusta dan korupsi."

Burai Nurdin Hamma: Buku Sebagai Cakrawala
"Bersyukurlah karena buku membuat jiwamu tumbuh."

Tammalele: Laut Sejarah dan Samudra Sastra
"Bersyukurlah karena kebudayaan ini adalah daya hidupmu."

Akhirnya, semua suara itu berpangkal pada satu hal:
Syukur bukan sekadar ucapan, tapi tindakan menjaga api, benang, nyali, dan iman. Selama tanah Mandar masih memanggil anak-anaknya pulang, pesan itu akan terus bergema, di telinga, di hati, dan di hamparan sejarah hidup mereka.

Bersyukurlah kau, karena kau memiliki tetua, yang dari mereka kau petik kebeningan perjuangan:

Mewariskan ke dadamu: jambia,  daya juang menerjang zaman. 
"Baca masa lalu leluhurmu yang lama terkubur dalam peragian zaman menjadi tafsir kekinian, sebab kejumudan adalah upaya menutup alir air hulu agar tak sampai ke muara, warisannya bukanlah emas, I Sorai dan Tambera, keris pusaka dan tombak trisula, padamu mereka hanya menitipkan keheningan dalam perjuangan dan kesejatian menjadi Mandar. Burai dan urai hidupmu dalam langkah-langkah taktis strategis, saat bunyi taqbilowe bertalu-talu mendorong gerak sandeq hidupmu, melaju jauh memotong ombak besar di samudera."

Maka bersyukurlah engkau menjadi Mandar kini, dan akan datang. Biarlah Mandar lalu adalah milik leluhurmu, dan kini tetap menjadi pondasi dasar keberangkatanmu.

Tinambung, 14/08/2025

Adi Arwan Alimin Pandaraq Allo Ramli Rusli

Rabu, 13 Agustus 2025

MEREKA KINI BERTANYA PADAMU (Sebuah Puisi Imajiner)


Karya Adi Arwan Alimin

Suatu hari bila engkau bertemu mereka, mungkin masing-masing akan bertanya padamu. Satu demi satu sebelum liang tak peduli alasan khianat serenik apapun.

Imam Lapeo, dari pusara waktu dia menitip tanya pada jiwa mudamu. 

"Masihkah api iman itu menyala,
Di antara badai dan duri dunia fana?
Masih cukup tegakkah langkahmu menenun asa, merawat warisan leluhurmu?"

Syekh Abdul Mannan, menyapamu dari kedalaman harapannya seraya membisikkan tanya, di antara rintik waktu yang senyap oleh zaman.

"Sudahkah benang ilmu kau rajut, tanpa goyah diterpa goda dunia yang melaju cepat akhir-akhir ini."

Seberapa lapangkah hatimu, menahan gelombang amarah, agar harmoni tetap bersemi di tanah Mandar yang ramah?

Lalu datanglah Ibu Agung Andi Depu, perempuan perkasa itu yang suaranya menggetarkan penuh tanya. Dia memecah sepi berapi seruan yang masih terdengar itu.

"Beranikah engkau melawan penindasan yang kembali menjelma?
Sebab kau tak boleh duduk memangku tanganmu lalu membiarkan kemerdekaan hanya manuskrip di lembar sejarah lama."

Pegang teguh martabatmu dalam gurau yang kian menipis, agar engkau tak surut melipat sarungmu seolah kau bukan Tomuane. 

Hammad Saleh Puanna Sudding, menggugatmu. Dia panglima abadi yang tak memiliki kata takut pada bedil dan angkara. Dia menyerumu dalam gemuruh zaman yang luruh memecah belah.

"Adakah kau telah membangun mimpi yang kami ukir dengan darah?
Kemerdekaan ini bukan sekadar kata-kata, yang berkelahi di nisan sejarah dan burai selongsong peluru."

I Calo Ammana Wewang, sang lelaki yang sejarah menumpu padanya menisik belati di telingamu.

"Mampukah kau meluruskan akal sehat, menjernihkan pikiran tanpa khianat, agar pelita itu tetap cahaya menerangi jalan nan panjang perjuangan?" Katanya, saat menyentuh antara laut dan pasir Babbabulo sepulang dari Belitung. 

Maraqdia Tokape,
"Adakah nyalimu membara, seperti dulu kala, melawan kolonialisme yang tak lagi serdadu bersenjata, tetapi merupa bayang-bayang yang menyusup diam-diam melemahkan kesadaranmu."

Haji Zikir Sewai, sang dermawan itu merajut pesannya, agar kau tidak tumbuh sebagai anak-anak yang gemar merajuk manja, apalagi belajar mencuri di rumahmu sendiri.

"Rajutlah hati-hati, jangan biarkan kepentingan sempit memecah mengendali kemudi pelayaran tak menentu. Tetaplah jujur pada seluruh tarikan napasmu..."

Husni Jamaluddin, dari gelombang hening memanggilmu dalam sunyi perbedaan yang kian bising.

"Mampukah kau mendengar suara sesamamu yang lirih?

Masihkah Aku perlu bertanya sekali lagi tentang semua ini, katanya. 

Kalman Bora mengingatkanmu agar tak digerus gemerlap kemewahan yang tumbuh dari nasib garis nasabmu. Dia yang terus menyokongmu tanpa pamrih ingin mengajukan tanya lebih banyak lagi.

"Apa yang telah kamu berikan untuk litaq Mandar ini?"

Pun Kiai Sahabuddin, sang penjaga ruh keagamaan itu memelukmu dalam rindang kata-kata hikmah mendayu.

"Seberapa kokoh iman di dalam dadamu tersembunyi? Saat gelombang rayuan dunia mengombang-ambingkan dirimu. Tetapi biarkan hatimu tetap bening meski kau berjalan dalam hening."

Bunda Maemunah menulis catatan harian tentang perjalanan panjangnya, guru yang meninggalkan papan tulis itu memanggul senjata sambil melirikmu liris.

"Seberapa berani pikiranmu melawan tatapan bedil yang membuat gigil itu. Aku menenteng kesetian pada cinta yang menguji, sementara kulihat engkau ingin menjajakan kehormatan demi helai halaman waktu terbeli." 

"Jangan ambil bila bukan milikmu!"

Lantang Baharudddin Lopa sambil menetak godam di jantungmu. Serunya tanpa tanda tanya.

"Buku apa yang terakhir kamu baca pekan ini?" Burai Nurdin Hamma, cendekia itu membuka halaman buku tebal menawarimu kopi kental di ruang tamunya. 

"Tanpa buku sejarah itu sepi, tanpa buku sastra itu sunyi, tanpa buku sains akan lumpuh, tanpa buku  spekulasi akan berhenti, karena buku didirikan di lautan waktu," serak Tammalele via telepon semalaman.

"Lalu apakah hakikat kebudayaan dalam mutu dan daya hidup manusia?" Tanyanya lagi diantara polemik budaya masa lalu sebagai masa kini. 

Mamuju, 14 Agustus 2025

*Puisi ini boleh dikutip atau dibacakan di mana saja

Minggu, 20 Juli 2025

(Episode Ke-3) Jejak Bendi di Lamasariang

Bendi mulai dikenal di Mandar sekitar tahun 1910-an, seiring pembangunan jalan tembus Polewali–Majene oleh pemerintah kolonial Belanda. Jalan yang membelah tanah Mandar itu menghadirkan cara baru berpindah: bukan lagi hanya berjalan kaki atau menunggang kuda, melainkan duduk nyaman di atas gerobak kayu yang ditarik dua roda, dilengkapi hiasan sederhana. Awalnya, bendi adalah kebanggaan kaum bangsawan. Kendaraan ini berderap membawa pejabat Belanda dan kalangan ningrat Mandar, menjadi simbol kemewahan pada zamannya.

Namun begitu,  jalan poros Lamasariang baru mulai  pada awal 1950-an, geliat kehidupan kampung pun berubah. Jalan setapak yang semula hanya dilalui pejalan kaki dan hewan ternak berganti rupa menjadi jalur berlapis batu padas yang kasar. 

Lalu berkembang, kemudian  jalan itu menembus Karama hingga Tinambung, membawa harapan baru: perdagangan lancar, orang-orang saling terhubung, dan kabar tak lagi harus menunggu lewat laut.

Di sepanjang jalur ini, bendi menjadi raja jalanan. Mula-mula, ia hanya milik kaum berada—para pemilik tanah luas, pedagang besar, juga orang-orang Belanda dan Jepang yang singgah. Kudanya gagah, sebagian didatangkan dari Sumbawa atau dibeli dari pedagang Bugis di pelabuhan. Kuda-kuda ini bukan sekadar hewan penarik, tetapi kebanggaan, diberi nama, dipelihara dengan penuh cinta. Anak-anak kampung hafal nama kuda-kuda itu seolah mereka adalah pahlawan yang berlari di atas nadi kehidupan.

Seiring pergantian masa, bendi tetap bertahan. Setelah Belanda dan Jepang pergi, ia masih menjadi kebanggaan, meski perlahan jarak dengan rakyat jelata kian menyempit. Tahun 1960-an, ketika pasukan 710 pernah singgah di tanah Mandar, bendi mulai akrab di mata orang kebanyakan. Tak lagi hanya untuk bangsawan, tapi untuk siapa saja yang mampu membayar ongkosnya.

Puncak kejayaan bendi hadir pada awal 1970-an. Kala itu, nama-nama orang tua Pua Niar hinnga lanjut Pua Niar dan Papa Na’ni menjadi legenda. Mereka bukan sekadar pandai besi, tetapi pengrajin seni. Dari tangan mereka lahir bendi-bendi lokal yang kokoh, indah, dan fungsional. Ukiran sederhana menghiasi kayu, rangka besi berpadu dengan roda yang tahan banting. Pua Niar dan Papa Na’ni membuat bendi tak hanya jadi alat angkutan, tetapi juga warisan keterampilan Mandar yang membanggakan.

Tak sedikit pemilik bendi kala itu. Ada Ka’ Hamar, Ka’ Mana’, Kama`na I Tahir, Pua Turi, Ka’ Ruba, Ka’ Tanda, Kama Suwedah, Puayi Yasak. Lalu menyusul Firdaus  alias po`do yang dikenal sebagai Kaman Marayang, juga Kama Haming, Malik Papa Wawan. Nama-nama ini menghiasi jalan poros setiap hari, membawa penumpang dan dagangan, menghubungkan Lamasariang dengan Tinambung, Karama, hingga pasar Pambusuang.

Hari pasar adalah panggung bendi. Setiap Rabu dan Sabtu, jalanan ramai oleh derap kaki kuda menuju Tinambung. Senin dan Jumat, giliran pasar Pambusuang jadi tujuan. Jalanan yang dilapisi aspal ranggina bercampur batu padas besar-besar, seolah menahan bunyi tapal kuda yang berpacu dengan waktu. Di kiri-kanan jalan, rimbun pohon kelapa dan rumpun bambu bergoyang diterpa angin laut yang menyusup dari selatan. Udara Karama sejuk, harum tanah basah bercampur aroma kuda dan kayu basah yang menguar dari roda bendi.

Memiliki bendi kala itu adalah tanda keberhasilan. Setiap tarikan kuda bukan hanya membawa penumpang, tetapi juga penghidupan. Namun, bagi petani seperti orang tuaku, dunia ini masih jauh. Kami tetap bergantung pada jagung dan singkong. Setelah panen, batangnya kami jual di pinggir jalan di bawah dua pohon asam kembar yang tegak di depan rumah Amma Pisa. Di sanalah deretan penjual berjajar, berharap ada pembeli lewat. Kadang, aku menunggu berjam-jam sambil melihat bendi-bendi melintas, iri pada tawa penumpangnya. Jika laku seratus atau seratus lima puluh rupiah untuk satu ikat, aku sudah merasa seperti meraih rezeki besar.

Naik bendi adalah kemewahan bagiku. Kursinya melingkar seperti huruf U terbalik, pintu di belakang, satu penumpang di dekat kusir, empat di kursi belakang saling berhadapan. Angin sepoi menerpa wajah, suara lonceng kuda berdenting, dan derap langkah yang berpacu dengan detak jantung. Di atas bendi, tawa pecah, cerita mengalir, bahkan cinta kadang bersemi diam-diam. Lamasariang mengikat banyak kenangan di roda bendi yang menggelinding pelan di atas jalan berbatu.

Namun, masa berubah. Akhir 1990-an, sebuah babak baru datang bersama suara mesin. Dialah Nurdin—Papa Burhan—orang pertama yang membawa ojek motor ke Lamasariang. Pengalamannya merantau lama di Balikpapan ia bawa pulang sebagai ide besar. Awalnya, ojek adalah kejutan. Banyak yang ragu, banyak pula yang tergoda. Dalam sekejap, ojek menjadi primadona. Lebih cepat, lebih praktis, dan tak perlu memberi makan seperti bendi.

Setelah Nurdin, bermunculan nama-nama lain: Ramali, Mas Jo alias Papa Nisma, adiknya Perlaianan, dan banyak lagi. Jalan poros yang dulu hanya mendengar derap kaki kuda, kini bergema oleh raungan mesin. Dan dari sinilah konflik dimulai. Tukang ojek dan kusir bendi sering bersinggungan. Saling tatap dengan mata panas, saling ancam, bahkan nyaris saling sikat. Ada sketsa batas wilayah yang mereka sepakati: mana yang boleh dilewati bendi, mana untuk ojek. Tapi kesepakatan itu sering retak, sebab penumpang lebih memilih motor yang lebih cepat sampai tujuan.

IInilah awal kepunahan bendi. Satu per satu kusir menyerah. Roda kayu yang dulu bergulir membawa cerita kini diam berdebu di bawah kolong rumah. Denting tapal kuda tergantikan suara knalpot yang meraung. Dan Lamasariang perlahan kehilangan simfoni derap yang dulu menjadi nyanyian paginya.

Aku, masih mengingatnya: jalan poros yang sejuk, pepohonan yang berbaris seperti penonton setia, aroma tanah yang menempel di napas, dan bendi yang pernah menjadi panggung cinta, kerja, dan cerita. Kini semua tinggal kenangan yang berderap pelan di dalam ingatan. Seperti langkah kuda yang menjauh, hilang di tikungan sejarah. 

Napasmu kini berdenyut disini
Bergelembung rindu di dada
oh.. Lamasariang....*

Minggu, 02 Februari 2025

PUISI SUPARMAN SOPU


BUKAN HANYA SEKEDAR RASA
Kepada Muhammad Munir

Ini bukan hanya sekedar kata
Yg hendak mengurai rasa
Ini tentang sejarah
Moyang Mandar meracik alam
Laut ditaklukkannya
Gunung digenggamnya
Dan kuali jadi penyebar aroma 
Tercium di cina dan lalu ke Mandar
Membawa aneka porselin yg kini tertimbun

Tercium di dataran Eropa
Dan mereka datang dengan nafsu
Liurnya meleleh menatap rempah rempah
Untuk kuat tubuhnya dan negerinya

Ini bukan hanya tentang rasa 
Ini bukan hanya sekedar kata
Menyebut bau piapi
Menyebut Mandar
Kita harus segera berlayar
Dan menyelam sedalam mungkin
Di dalam Mandar

Subuh, jam 03.38. 3 - 2 - 2025. Mamuju

Rabu, 29 Januari 2025

MAHRUS ANDIS || MISTERI PUISINYA MENANGKAP SUKMA IBU

Suparman Sopu, Penyair dari Sulbar *):

MISTERI PUISINYA MENANGKAP SUKMA IBU

Oleh Mahrus Andis

Menjadi seorang ibu bagi anak-anaknya, bukanlah sikap kultural yang harus diciptakan. Esensialitas ibu adalah kodrat yang tumbuh pada diri seorang perempuan, melekat sebagai perilaku yang menampung rahmat dan kasih sayang Tuhan. Karena itu, berbahagialah seorang manusia (baik laki-laki maupun perempuan) apabila ia berhasil menangkap sukma ibu dan melahirkan peran ke-ibu-an dalam sikap perilakunya.

Narasi di atas adalah sedimen pemahaman saya setelah membaca puisi Suparman Sopu, berjudul "Ibu, Aku Jadi Ibu". Puisi ini dimuat dalam buku Antologi Bersama "Ibu, Aku Anakmu", halaman 182, produksi Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI) Jakarta, 2024.

Sebelum lanjut, kita nikmati dahulu puisi Suparman Sopu dimaksud.

IBU, AKU JADI IBU

Kini aku juga sudah jadi ibu, Ibu !
Kulalui rasa yang engkau rasakan 
Membawa janin dalam rahim sembilan bulan
Malam dalam ngantuk harus bangun oleh tangis bayiku
Tidak dalam hitungan jam 
Kutimang resah tangis bayi yang panjang 
Kupeluk dalam selimut kasihku yang tulus
Ibu ! Aku yakin engkau lebih dari aku, Ibu !

Pada masa kanak-kanak anakku  
Kulihat masa kanak-kanakku 
Zaman membedakan kerangka hidup 
Aku adalah anak pasir yang riang dalam hujan di alam bebas
Anakku bercengkrama dengan plastik dan berada di ruang-ruang permainan tertutup 
Aku engkau panggil dengan sepotong kayu di tanganmu kala aku melebihi batas
Sedang tanganku kaku oleh aturan-aturan tentang kekerasan pada anak

Ibu, kini aku jadi ibu, Ibu
Aku kuat karena ketegasanmu 
Aku disiplin karena kedisiplinanmu dan lingkunganku
Ibu !
Aku khawatir pada anakku
Kala dia dewasa dan jadi ibu
Tidak seperti aku 
Karena alamku dan alam anakku
Sungguh jauh berbeda.

Mamuju, 20 November 2024

Satu hal yang wajib ada dalam sebuah puisi ialah misteriusitas. Sesuatu yang misterius, setidaknya, bertujuan mencubit kesadaran puitik pembaca untuk merenungkan moral di balik pesan penyair. Puisi tanpa misteri hanya onggokan kata-kata yang tidak menarik untuk dinikmati.

Misteri utama puisi Suparman Sopu terletak pada judulnya: Ibu, Aku Jadi Ibu. Di tataran ini konsep memahami semiotika eksistensi seorang ibu sudah terbaca. Lebih jelas lagi sebab Suparman Sopu adalah sosok seorang suami dan ayah dari anak-anaknya. Hikmah kasih sayang dalam diri penyair membuatnya terdorong menangkap sukma ibu, meletakkan selaras, bahkan melebihi perannya sebagai seorang ayah. Di bait pertama puisinya, ia menulis:

"Kini aku juga sudah jadi ibu, Ibu !/
Kulalui rasa yang engkau rasakan/
Membawa janin dalam rahim sembilan bulan/
Malam dalam ngantuk harus bangun oleh tangis bayiku/
Tidak dalam hitungan jam/
Kutimang resah tangis bayi yang panjang/
Kupeluk dalam selimut kasihku yang tulus/
Ibu ! Aku yakin engkau lebih dari aku, Ibu ! 
..." 
Bagi penyair, peng-agung-an terhadap kemuliaan dan ketulusan cinta seorang ibu itu mutlak. Saking mutlaknya, ia merasakan hadirnya keraguan terhadap kesanggupan anak-anaknya kelak mengemban sifat kodrati peran seorang ibu. Perbedaan zaman, di mana ayah dan anak merentang jarak masa kecil di antara hamparan "pasir" dan ruang "plastik"; menjadi pertanyaan besar di hati penyair. "Mungkinkah kodrat ayah sebagai ibu menetes pula ke anak-anaknya kelak ?". Di sinilah dimensi perenungan itu. Rasa khawatir terhadap kodrat ke-ibu-an tampak jelas diungkapkan penyair melalui bait terakhir puisinya:
"...
Ibu, kini aku jadi ibu, Ibu/
Aku kuat karena ketegasanmu/
Aku disiplin karena kedisiplinanmu dan lingkunganku/
Ibu !/
Aku khawatir pada anakku/
Kala dia dewasa dan jadi ibu tidak seperti aku/
Karena alamku dan alam anakku sungguh jauh berbeda."

Misteriusitas puisi ini mengajak pembaca mengepakkan sayap imajinasi jauh ke ceruk-ceruk masa. Penyair seakan menggiring kita menggeledah diri dan kesadaran anak-anak yang pernah lahir dari rahim seorang ibu. Sebuah tawaran menyeruduk batin, sanggupkah kita mengemban kodrat menjadi seorang ibu, sekaligus melahirkan peran ke-ibu-an bagi anak-anak di tengah perbedaan zaman ? Setidaknya, tawaran ini menjadi misterius ketika ia muncul dari realitas artistik seorang penyair yang berstatus sebagai ayah.

Secara fisik dan semiotik, puisi yang dibahas ini memang belum sepenuhnya utuh. Struktur bait dan metafora terkesan verbal, longgar dan masih perlu intensitas pemadatan linguistik. Proses kondensasi kata menjadi diksi, setapak lagi mencapai gairah puitika yang sempurna.

Atau dengan kata lain, apabila penyair bisa lebih total dalam kontemplasi semiotik maka puisi ini akan menjadi utuh secara bentuk dan isi. Ia akan tampil sebagai puisi yang "memuisi" (pinjam istilah Sapardi Djoko Damono,1980-an). Selamat dan kreatif selalu.

Mks, 29 Januari 2025
__________
*) Dr. Suparman Sopu lahir 1 Februari 1965 di Tinambung, Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Selain menulis puisi, ia pun mengarang cerita prosa, mencipta lagu-lagu daerah dan menyanyikannya sendiri. Beberapa karyanya sudah terbit jadi buku.

Rabu, 28 Februari 2024

SUPARMAN SOPU ||TERSENYUM SAJALAH


Tersenyum sajalah 
Di kerumunan orang yang berpesta 
Merayakan kemenangan dalam kekalahan 

Diam saja dan tak perlu murung 
Untuk mengatakan bahwa engkau tidak sedang sakit
Kebenaran yang diyakini biarlah redup dalam kerdip lampu kepalsuan 
Redup dan jangan padamkan
Biarlah jadi bara di dada kesejatian 
Di dalam kesetiaan menjunjung harkat 

 Terseyum sajalah 
Pada lelucon orang-orang yang menang dalam kepalsuan
Yakinkan bahwa kitalah pemenang sejati 
Karena tetap dapat menatap terang kebenaran
Karena tetap tak menukar keburukan dengan kebaikan 
Karena tetap meliukkan keindahan dalam kata dan gerak 

Tersenyum sajalah 
Ketika tetap dapat memahami hembusan nafas  
Ketika tetap dapat memaknai diamnya tanah
Ketika tetap dapat memetik semangat pada matahari 
Ketika tetap dapat merendah pada aliran air
Di tubuh kita 
Tersenyumlah

Mamuju, 22.49. 
28 Februari 2024 
Suparman Sopu

Sabtu, 03 Februari 2024

Bukan Menggugat Tapi Menggugah !

Eja mengeja telah kau baca
Tulis menulis telah tuntas
Pun cerita lisan sukses kau taklukkan dalam tulisan
Dengan itukah kau lupa nisan?
Pernahkah kau tulis ritus kematian?
Jika tidak, jangan beri aku status apapun
Sebab dimataku kau tak ubahnya situs
Yah, situs 
Situs yang tak mampu kau tulis, selain mitos tentang perruqdusang lalu kau mengajakku adu jotos.
Ah, pantas kau hidup dalam siklus yang tak menemukan klimaks
Jangan bersenggama dengan kegamangan sebab itu hanya akan mencumbui fikirmu dengan birahi
Dan itu hanya membuat buas 

Hari ini aku ingin bertanya 
Apa kau telah puas ?
Jangan jawab iya, sebab keangkuhanmu hanya akan menuntunku untuk menonton parade kebodohan
Yah, kau memang bisa, bisa apa saja
Tapi kau bias
Sebab hari ini kau terlalu terobsesi mengajariku abjad dari A sampai Z.
Ah, tidak. Aku tak seberani itu memanggilmu guru
Maaf !

Jika hasratmu menjadikanku berguru
Jangan ajari aku B, C sampai Z
Sebab aku tak ingin diburu
Cukup ajari aku A
Maka akan kupanggil kau guru
Jelaskan padaku tentang A
Beri tahu aku tentang garis-garisnya
Tuntun aku menemukan tekanan pada bagian tengah yang memotong bagian yang memanjang kearah luar
Dan lalu antar aku pada puncak dimana garis itu dipertemukan
Tunjukkan padaku tiga garis saling bertemu di tengah titik
Kenapa garis itu panjangnya sama?

Setelah A, kutemukan sifatnya
Aku akan takluk dan memanggilmu guru
Dan menemukan B, C dan Z disetiap inci demi inci tubuhmu
Juga pada semua yang bertubuh
Maupun dari semua makhluk yang lahir dari proses bersetubuh
Jadilah guru buatku jangan bisu
Agar aku tak jadi insan ambigu
Jadilah guru buatku
Agar aku tak menulismu dungu
Sebab kata memaksaku begitu lugu
Dan kau harus tahu itu
Jika tidak
Apa artinya fir'aun diselamatkan Tuhan ?
Maafkan aku !

Kandemeng, 03 September 2015

SERIGALA BERTOPENG NABI (4)


Tiba-tiba saja kau hadir dengan lusuh diwajahmu
Guratan diwajahmu nampak penuh beban 
Kusambut setiap salam yang kau ucap dibibirmu
Dan ikut memunguti pilu yang digoreskan pemilu 
Lalu kusiapkan air untuk membasuh kusam di wajahmu 
Dan tak pernah aku menghitung berapa jumlah sujud
Serta doa-doa apa saja yang mengiringi zikirmu diatas sajadahku
Semua kuhalalkan sebab tak mungkin do’a-do’amu lahirkan dosa

Tiba-tiba saja hadirmu membuatku punya nyali
Dari diam dan sugiging ditempat menjadi auman lalu mencakar
Aku bahkan mengorbankan kenikmatanku untuk sirondo-rondoi
Dan tak secuilpun dihatiku mampu kulakukan untuk melukaimu
Aku bahkan masih tertawa ketika kau mengusik tidurku
Bahkan tak tidurpun kulakukan demi sebuah obsesi yang kau dapuk
Karna begitulah aku menerjemahkan kebersamaan yang sulit kau dapati
Semua kuhibahkan sebab kuyakin dosa-dosaku terkikis karnamu

iba-tiba saja hadirmu membuatku resah
Sebab segala tentangku kuurai karna uraian mengajakmu mengurai
Kau rela melerai seteru dihidupku yang tak mungkin bisa kuurai
Wajar saja aku resah, sebab kau hadir menjagaku meski aku terjaga
Terlebih ketika aku lelap dan lalai, kau masih saja enggan berlalu
Hingga kutemukan dirimu membeli resahku dengan menghinaku
Betapa tidak, kau dengan enjoy bersama laba-laba menyusun jaring
Aku tahu itu, tapi sekali lagi aku abai dengan lakumu

Kini hadirmu hampir semusim
Tiba-tiba saja kau beranjak dan aku kau injak
Wajahmu tak lagi lusuh, tapi berbinar ketika aku enggan menindak
Kau bahkan mampu menginjak-injak sajadah tempat sujudku
Karena akik dan batu mulia biasa kau jejer di jemarimu
Dengan semua itu, kau menyangka memiliki kehormatan
Lalu apakah dengan kehormatan itu kau jadi orang terhormat ?
Dan apakah menginjak kehormatan itu adalah kemuliaan ?
Mungkin saja semua kau aminkan karna fasihmu melafal dzikir
Tapi kau lupa, bahwa sujud dan dzikir itu bukan sekedar pelebur dosa
Bahwa batu mulia itu bukan sekedar mulia untuk gagah-gagahan
Semua itu adalah pertanda yang menandai kita sebagai manusia
Jika manusia abai dengan kemanusiaan
Maka sujud, dzikir, akik dan batu mulia adalah sia-sia
Kini, hadirmu dan hadirku adalah keadaan
Dan keberadaan kita tak harus berada jika tak bisa beradab
Sebab jika kau tak bisa menjaga adab, 
Jangan sesalkan jika aku menjadi biadab !

@BOTTO, Dua Sembilan Januari 2015

Jumat, 02 Februari 2024

SERIGALA BERTOPENG NABI (5)

Suatu hari 
Aku merelokasi semua bacaan jadi mantra
lalu mantra itu kerapal di setiap bilik suara
Aku lupa bahwa aku bukan politisi
sebab politisi ternyata jidatnya jadi lautan arang 
dan doa-doanya makbul oleh material yang kadang lupa dicuci oleh warga.

Suatu hari 
Aku dengan sangat patuh dan menganggap semua politisi adalah makhluk yang layak dipatuhi
Tanpa sadar aku jadi pengikut sebab partai lupa mengkader
Aku akhirnya tersadar bahwa kepatutatan harusnya pada orang yang patut dipatuhi. 
Orang itu tentu bukan politisi, sebab aku bukan caleg

Hari ini
atribut dan kebanggaan politisi itu telah kutanggalkan
tapi belum kutinggalkan
sebab aku masih melihat harapan terbit dari sorot mata para petani yang ke pasar menjual hasil kebun tapi ternyata harus menggadaikan jam tangannya untuk bisa kembali ke rumah

Hari ini
Akulah politisi itu
Bukan mereka yang namanya berderet di surat suara
Bukan mereka yang fotonya jadi gambar mata uang 
Akulah politisi itu
Bukan mereka yang tanpa sadar mengeja Tuhan 
Bahkan memaksa Tuhan meladeni keinginannya
Lalu ketika Tuhan enggan melayani
Tuhanpun dipenjara pada dinding masjid 
"ini karpetmu Tuhan
ini tegel dan marmermu Tuhan
Jika Tuhan butuh aku, panggillah pake TOA
ini deposito buat membangun rumahmu bagi anak-anak
Tinggallah di rumahmu
sebab di rumah rakyat, kadang Tuhan rewel jika ikut ke ruang paripurna"
Kata mereka

Dan......saat ini
Label dan sematan politisi itu benar-benar kutinggalkan
sebab ternyata menjadi rakyat jauh lebih politis.....
Bahkan tak jarang jadi puitis ketika menemukan politisi di ujung jalan. 

Muhammad Munir
Katitting, Desa Tandung, Januari 2019

Sabtu, 21 September 2019

Mandar Writers And Culture Forum 2019



“Ajarkan sastra kepada anak-anakmu karena itu dapat mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani” Demikian Umar Bin Khattab RA berwasiat. Andai sebagian besar manusia ‘menyukai’ sastra, maka bisa dibayangkan betapa dunia ini akan dipenuhi oleh manusia-manusia pemberani namun berhati lembut, bak Umar bin Khattab. Sayang sekali, hanya segelintir orang yang tertarik pada dunia sastra.
Di tengah ruwetnya persoalan bangsa, di tengah hancurnya moral bangsa, dari kenakalan, hingga korupsi yang masih saja menggerogoti negara ini,  sastra hadir, diantaranya untuk mengembalikan ruh bangsa yang telah nyaris mati. Maka telah menjadi tugas kita, para pelaku sastra, untuk menyebarluaskan nilai-nilai moral yang tertuang dalam karya-karya sastra dalam beragam bentuk.
Di zaman pra dan awal kemerdekaan, banyak karya-karya fenomenal yang mampu mempengaruhi pola pikir dan pola sikap masyarakat. Sebutkan beberapa roman, diantaranya Siti Nurbaya. Bahkan sampai saat ini ungkapan ‘ini bukan zaman siti Nurbaya’ masih sering diucapkan sebagai kalimat penolakan atas suatu perjodohan. Pertanyaannya, mampukah kita, dewasa ini, di tengah rendahnya budaya literasi masyarakat, juga menghasilkan karya yang mengisnpirasi?
Sastra bukan sekedar roman picisan yang hanya membuat pembaca berurai air mata atau tersenyum bahagia. Sastra bukan sekedar kisah yang kalau tidak happy ending pasti sad ending. Lebih dari itu, sastra sejatinya berangkat dari keresahan hati akan realitas sosial yang terjadi. Sastra adalah cerminan masyarakat di mana sebuah karya sastra berasal.  
Maka, tidak bisa dipungkiri, sastra memegang peranan penting terhadap pemulihan-pemulihan kondisi sosial yang kita alami sekarang. Karena itulah, membudayakan sastra, mengajak para generasi untuk cinta membaca dan menulis, atau sekedar menikmati sajian-sajian budaya, adalah salah satu yang harus dilakukan demi terwujudnya masyarakat beradab dan berbudaya.
Untuk tujuan itulah sehingga MANDAR RITER ADN CULTURE FORUM I 2019 digagas dan dihelat untuk wilayah Sulawesi Barat. MWCF I 2019 dilkasanakan bekerjasama dengan beberapa komunitas literasi Kegiatan ini merupakan forum pertemun para penulis dan pekerja-pekerja kreatif di Sulawesi Barat sebagai sebuah perayaan atas karya-karya yang telah dihasilkan. Kegiatan ini rencananya akan dilaksanakan setiap tahun. MWFF diharapkan menjadi ruang berkreasi menuangkan imajinasi menjadi sebuah karya yang menginspirasi.


NAMA KEGIATAN
Mandar Writers and Culture Forum I (MWCF I) 2019

TEMA KEGIATAN
Putika: Spiritual, Sosiologis dan Masa Depan Mandar

TUJUAN KEGIATAN
Kegiatan MWCF I 2019 bertujuan :
1.      Memberikan ruang bagi Penulis-penulis di Sulawesi Barat untuk berkreasi.
2.      Memperkenalkan budaya literasi bagi masyarakat Sulawesi Barat.

WAKTU PELAKSANAAN KEGIATAN
Mandar Writers and Culture Forum I (MWCF) I 2019 akan dilaksanakan pada tanggal 25- 28 Oktober 2019

Kontak Person 
Muhammad Munir : 
WA 082113008787
telp. 085228777027