Cerpen oleh Ule-Ule Tarreang (Safardi Bora)
Di sebuah kampung kecil yang selalu beraroma tanah basah selepas hujan, di timur jauh yang sepi seperti halaman kitab tua, hiduplah seorang perempuan bernama Ana Paji Jiara. Setiap pagi ia berangkat sebelum umur matahari genap sehari, melintasi jalan tanah yang retak-retak, semak yang berduri, dan udara yang menggigil di sela bukit Wunga. Tiga kilometer perjalanan itu bukan sekadar jarak, melainkan ziarah kecil menuju masa depan anak-anak.
Ana membawa tas kain yang warnanya sudah pudar, tapi langkahnya selalu bening—seperti doa yang tidak pernah selesai dibacakan. Di setiap tikungan, ia sudah hafal suara angin, suara kambing milik tetangga yang sering melenguh di pinggir jalan, juga suara sunyi yang memanjang seperti lorong waktu. Kadang ia harus menahan napas ketika hujan turun tanpa aba-aba, membuat tanah berubah licin seperti ingatan yang hendak melarikan diri.
Namun Ana tetap berjalan. Sebab di ujung perjalanan itu, ada kelas kecil yang dindingnya penuh lubang—jejas waktu—dan anak-anak yang menunggu dengan mata yang selalu tampak lebih besar daripada tubuh mereka.
Di ruang kelas itu, Ana pernah menghadapi seorang anak lelaki bernama Abak. Ia keras kepala seperti kuda Sumba yang baru belajar dikekang. Abak duduk di bangku paling belakang, sering mengetuk meja dengan batu kecil yang ia bawa entah dari mana, dan menatap papan tulis seperti benda asing yang datang dari langit.
"Abak, coba baca ini," kata Ana suatu pagi, menunjuk huruf ha yang ia tulis dengan kapur yang tinggal setengah.
Abak mengerutkan dahi. “Beta tidak bisa, Ibu.”
“Coba saja. Pelan-pelan. Pakai bahasa Kambera dulu.”
Ketika Ana menyebut “ha-mai,” mata Abak bergerak sedikit. Bahasa ibu—bahasa yang tumbuh bersama hujan, pepohonan, dan dapur kayu—membuat huruf itu terasa seperti saudara jauh yang tiba-tiba pulang. Perlahan Abak membuka mulutnya, mengeja dengan suara yang masih goyah, seperti nada pertama dari alat musik yang belum pernah disentuh.
Hari itu, untuk pertama kalinya Abak membaca satu suku kata. Ana tidak bersorak. Ia hanya menepuk pundak anak itu pelan, seolah takut kebahagiaannya bisa memecahkan sesuatu yang rapuh.
Kadang Abak datang tanpa membawa buku; kadang ia datang tanpa mandi; kadang ia datang dengan cerita bahwa ia harus membantu ayahnya memikul kayu atau mengejar kambing yang hilang. Namun Ana tidak pernah marah. Ia tahu, anak-anak kampung hidup di garis yang tipis antara belajar dan bertahan hidup.
“Abak datang saja sudah bagus,” gumam Ana suatu sore, sambil merapikan kertas-kertas di meja guru yang sompal di sudutnya.
Ketika kelas mulai sepi, Ana sering duduk sendiri di bangku kayu, memandang dinding-dinding yang ia tempeli abjad dan gambar seadanya. Warna kertas itu sudah kusam, tapi mata anak-anak tetap menyala setiap kali melihatnya. Ia ingin membuat kelas itu menjadi taman kecil, tempat huruf-huruf tumbuh seperti bunga liar.
Malam hari, ia belajar sendirian di rumah, menamatkan kuliah jarak jauh dari Universitas Terbuka. Lampu minyak kecil di ruangan itu berkerlip seperti bintang yang kelelahan. Namun Ana tidak menyerah. Ia membaca sampai angin malam mengantarkan rasa kantuk, atau sampai ayam kampung berkokok tanda subuh mendekat.
Kadang ia merasa tubuhnya terlalu letih untuk melanjutkan semuanya. Tapi setiap kali ingatan tentang Abak muncul—tentang suku kata pertamanya, tentang senyum kecil yang muncul tanpa ia sadari—Ana kembali bangkit.
Suatu pagi, ketika kelas hampir berakhir, Abak mendekat dengan langkah ragu.
“Ibu Ana… Beta sudah bisa baca nama beta sendiri,” katanya sambil menunjukkan secarik kertas yang kusut.
Ana melihat tulisan itu—masih goyah, hurufnya tidak sejajar, tapi itu adalah keajaiban kecil yang lahir dari perjalanan panjang.
Ia tersenyum. Senyum yang tidak pernah ia berikan kepada dunia untuk hal-hal remeh. Senyum yang hanya muncul ketika ia menyaksikan anak-anak menjemput masa depan mereka sendiri.
"Wena, Abak…" bisiknya. "Kau sudah buka pintu pertama."
Di luar, angin timur bertiup perlahan. Tanah basah mengirimkan bau yang akrab, dan suara jauh dari kampung terdengar seperti lagu lama yang kembali dinyanyikan.
Ana berjalan pulang, melewati jalur yang sama—semak, batu, dan sunyi. Namun kali ini langkahnya terasa lebih ringan. Sebab ia tahu, di kelas kecil itu ada seorang anak yang baru saja menemukan dunia baru, dan mungkin dunia itu akan menuntunnya jauh melewati batas kampungnya sendiri.
Di timur yang jauh, di tanah yang kerap terlupakan, Ana Paji Jiara menjaga cahaya itu tetap hidup.
Cahaya kecil, tapi setia.
Cahaya yang membuat ingatan orang-orang kampung menyebutnya: **
Samarinda, 25 November 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar