Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Februari 2026

PROFIL SINGKAT ||KH.Mahmoeddin Atjo Kanna Marilalalng


Profil Singkat KH.Mahmoeddin Atjo Kanna Marilalalng. 
(1933-1999), Sang Ulama, Birokrat, Tokoh Pendidik dan Politisi 

Lahir di Majene 31 Desember 1933. 
✅ Pendidikan Formal.
Menamatkan Sekolah SR di Majene dan PGA 6 Thn di Surabaya Jawa Timur, pernah belajar ke Anregurutta Abd Rahman Ambo Dalle di Pare-Pare. Meraih Sarjana Muda di IAIN Alauddin Makassar. 
✅ Belajar kitab kuning ke beberapa Ulama diantaranya ke Annangguru Shaleh, dan ke pamannya  KH. Muhtar Badawi dan KH. Muh.Idris. dan beberapa ulama di Sulawesi Selatan dan Jawa Timur. 
✅ Jabatan di Birokrasi: 
Kepala Kantor Inspeksi Pendidikan Islam Kab. Polmas (1962-1970). Kepala Kantor Perwakilan Departemen Agama Polmas (1970-1971), Kepala Kantor Departemen Agama Pertama Polmas (1971-1985), Kepala Kantor Departemen Agama Sidrap (1985-1987), Kepala Departemen Agama Kodya Ujung Pandang (1987-1991), Pengawas Departemen Agama Sulawesi Selatan (1991-1996). 
Pernah ditawari menjadi Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Departemen Agama Propinsi Maluku dan Bali, namun ditolak karena pertimbangan keluarga. 
✅Organisasi : Ketua MUI Polmas Pertama, Anggota Partai Golkar Polmas dan Sulawesi Selatan. 
Pernah terpilih menjadi Anggota DPRD Sulawesi Selatan namun karena kondisi sakit (stroke) akhirnya diserahkan ke kader Golkar lainnya.
✅Pendiri Yayasan Pendidikan Islam Polmas (YAPIS).
✅ Mengajar : Guru Agama tahun 1960-an, Widyaswara dan Penatar P4. 
✅ Kontribusi pada Pendidikan Islam di Mandar : Sebagai pelopor pengangkatan Guru Agama di Polmas, mulai thn 1970-1985. Pendiri Yayasan Yapis. 
✅ Keluarga. KH. Mahmoeddin Atjo masih memiliki hubungan kekerabatan dari Raden Mas Suryo Dilogo Penganjur Islam di Wilayah Pamboang dan Syekh Zakariah Hasan Al Yamani, Penyiar Islam di Wilayah Sendana. 
✅ Memiliki 10 anak dari Istri Pertama dan 2 anak dari istri kedua.

Sumber: Aco Musaddad

Senin, 02 Februari 2026

SALIM MENGGA || Ketika Sunyi Menjadi Warisan

Penulis: Safardy Bora

Di Pambusuang, laut tidak pernah benar-benar diam. Ia berulang kali memecah sunyinya sendiri, seolah sedang melatih seorang anak lelaki untuk kelak mengerti arti kesabaran. Anak itu bernama Salim Sayyid Mengga. Ia tumbuh tanpa banyak kata, belajar bahwa hidup tidak selalu perlu dijelaskan, cukup dijalani dengan lurus.
Ketika ia meninggalkan kampung halaman, tidak ada pesta perpisahan. Hanya doa yang disimpan rapat, dan langkah yang sengaja tidak dipercepat. Di Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, ia belajar tentang barisan, tentang taat, dan tentang cara menahan diri. Tahun 1974, ia lulus—bukan sebagai pemenang, melainkan sebagai seseorang yang siap memikul beban yang panjang.
Puluhan tahun kemudian, seragam itu telah menyerap banyak keringat dan sunyi. Ia memimpin tanpa menghardik, memberi perintah tanpa meninggikan suara. Dari Kavaleri hingga ke pucuk amanah sebagai Panglima Kodam Pattimura, ia berjalan perlahan, seolah takut menginjak sesuatu yang bukan haknya. Pangkat Mayor Jenderal melekat padanya seperti usia: datang dengan sendirinya, tanpa diminta.
Saat masa dinas selesai, Salim tidak berhenti mengabdi. Ia hanya menurunkan nada. Dari medan latihan ke ruang sidang, dari aba-aba ke musyawarah. Dua periode ia duduk di DPR RI, menjaga perkara negeri dengan kehati-hatian seorang prajurit yang paham bahwa kata-kata pun bisa melukai. Ia berbicara sedikit, mendengar lebih lama.
Ketika ia dipercaya menjadi Wakil Gubernur Sulawesi Barat, ia kembali memilih bekerja di balik layar. Menyambung yang hampir putus, menenangkan yang mulai gaduh. Ia tahu, kekuasaan tidak selalu perlu ditampakkan; sering kali ia cukup hadir agar yang lain merasa aman.
Orang-orang menyebutnya menyejukkan, tetapi barangkali kata itu terlalu ringan. Ia adalah ketenangan yang tidak menghakimi, kehadiran yang tidak menekan. Ia tidak memburu dikenang, bahkan tidak tampak bersiap untuk pergi.
Namun pada 31 Januari 2026, waktu memanggilnya pulang. Di Makassar, napasnya berhenti dengan damai, seolah ia memang telah lama bersiap. Kabar kepergiannya menyebar pelan, seperti hujan yang turun tanpa guntur—tidak gaduh, tetapi membuat dada sesak.
Pagi 1 Februari 2026, Taman Makam Pahlawan Kalibata menerima tubuh yang telah selesai menjaga negeri. Langit Jakarta menunduk, dan orang-orang berjalan dengan kepala tertahan. Tanah dibuka dengan penuh hormat, doa-doa dibacakan dengan suara yang patah di tengah jalan. Ketika jasad itu diturunkan, sunyi mendadak terasa berat, seolah ada sesuatu yang ikut dikuburkan bersama—keteladanan yang tak pernah meminta tepuk tangan.
Bendera dilipat perlahan. Tangis tidak pecah, hanya menetes. Sebab sebagian kehilangan memang tidak cocok ditangisi keras-keras. Ia lebih layak dikenang dalam diam.
Salim Sayyid Mengga tidak meninggalkan gemuruh nama. Ia meninggalkan rasa kehilangan yang tenang, yang baru terasa ketika kita sadar: ada orang-orang yang selama ini menjaga tanpa terlihat, dan ketika mereka pergi, barulah kita mengerti betapa sunyi dunia tanpa kehadiran mereka.
Di tanah itulah ia kini berbaring. Di antara para pahlawan. Bukan karena pangkat atau jabatan, melainkan karena ia telah menjalani hidupnya dengan setia—dan pulang tanpa menyisakan kebisingan.*

Senin, 26 Januari 2026

Mengapa Luwu Raya Gagal Mekar Tahun 2004, Sementara Sulawesi Barat Berhasil ?




Catatan N R Daeng 

Pemekaran wilayah sejatinya bukan soal siapa yang paling kaya sumber daya, melainkan siapa yang paling matang secara politik dan taktis dalam memperjuangkannya. Fakta ini tampak jelas ketika membandingkan nasib Sulawesi Barat dan Luwu Raya.

Sulawesi Barat resmi menjadi provinsi pada tahun 2004, di masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri. Padahal, pada periode yang bersamaan, Luwu Raya juga mengajukan diri untuk dimekarkan dari Sulawesi Selatan. Namun sejarah mencatat, hanya Sulawesi Barat yang berhasil.

Pertanyaannya kemudian, mengapa? 
Jawabannya tidak terletak pada potensi daerah. Secara objektif, Luwu Raya justru jauh lebih unggul baik dari sisi sumber daya alam, sejarah politik, posisi geografis, maupun basis ekonomi. Kegagalan Luwu Raya lebih disebabkan oleh ketidakmatangan strategi dan lemahnya konsolidasi elite daerah.

Salah satu kunci keberhasilan Sulawesi Barat adalah soliditas para tokoh dan pemangku kepentingan daerahnya. Perbedaan kepentingan lokal dikesampingkan demi satu tujuan besar yaitu pembentukan provinsi. Mereka bergerak dalam satu barisan, satu narasi, dan satu peta jalan perjuangan.

Sebaliknya, di Luwu Raya, energi perjuangan terfragmentasi. Masing-masing wilayah lebih sibuk mengurus pemekaran kabupaten sendiri tanpa kesadaran kolektif bahwa semua itu seharusnya disusun dalam satu desain besar menuju provinsi. Akibatnya, perjuangan menjadi sporadis dan kehilangan arah strategis.

Sulawesi Barat tidak memulai perjuangannya dengan teriak “provinsi” di ruang publik. Mereka memulai dari pemenuhan syarat formil secara disiplin dan terukur. 

Pada tahun 2002, Kabupaten Polewali Mamasa dimekarkan menjadi Polewali Mandar dan Mamasa. Setahun kemudian, Kabupaten Mamuju dimekarkan menjadi Mamuju dan Mamuju Utara (kini Pasangkayu). Dengan demikian, sebelum tuntutan provinsi diajukan, lima kabupaten telah terbentuk dan siap secara administratif. Inilah yang luput dilakukan oleh Luwu Raya.

Pemekaran wilayah di Luwu Raya sejak akhir 90an sejatinya terlihat progresif. Kabupaten Luwu dimekarkan menjadi Luwu dan Luwu Utara (1999), Kota Palopo dimekarkan dari Luwu (2002), lalu Luwu Timur dimekarkan dari Luwu Utara (2003).
Namun bila ditelaah lebih dalam, pemekaran ini tidak berbasis pada satu grand design menuju provinsi. Pembagian wilayah dilakukan tanpa pola yang saling menguatkan.

Kabupaten Luwu, misalnya, setelah Palopo dimekarkan, menyisakan wilayah eks Walenrang–Lamasi (Walmas) yang terpisah secara geografis dan lemah secara fiskal. Kondisi ini membuat upaya pembentukan kabupaten baru di wilayah tersebut menjadi rapuh sejak awal.
Pemekaran kabupaten akhirnya berhenti sebagai tujuan itu sendiri, bukan sebagai alat strategis untuk membangun provinsi.

Dua jalan yang masih mungkin jika Luwu Raya masih serius ingin menjadi provinsi :

Pertama, pembentukan Kabupaten Luwu Tengah yang benar-benar layak. Ini tidak bisa hanya bertumpu pada wilayah eks Walmas meskipun jumlah kecamatannya telah mencukupi setelah di mekarkan menjadi beberapa kecamatan. Pemekaran kabupaten tidak boleh sekadar administratif, tetapi harus mempertimbangkan potensi ekonomi dan keberlanjutan fiskal. Karena itu, pengaturan ulang tapal batas Kabupaten Luwu Utara harus di lakukan dgn mengambil tapal batas baru di sepanjang DAS Sungai Rongkong. Langkah ini, sekaligus membagi beban ketertinggalan antara  Rampi dan Seko di Luwu Utara. Rampi menjadi titik fokus pengentasan ketertinggalan oleh Luwu Utara, Seko menjadi titik fokus pengentasan ketertinggalan oleh Luwu Tengah. (Catatan : Luwu Utara adalah kabupaten dgn wilayah terluas tapi sekaligus berkategori termiskin di Sulawesi Selatan) 

Kedua, mendorong integrasi Tanah Toraja dan Toraja Utara. Opsi ini menuntut pengorbanan besar, terutama soal identitas dan nama provinsi. Nama Mengapa Luwu Raya Gagal Mekar, Sementara Sulawesi Barat Berhasil Tahun 2004?

Pemekaran wilayah sejatinya bukan soal siapa yang paling kaya sumber daya, melainkan siapa yang paling matang secara politik dan taktis dalam memperjuangkannya. Fakta ini tampak jelas ketika membandingkan nasib Sulawesi Barat dan Luwu Raya.

Sulawesi Barat resmi menjadi provinsi pada tahun 2004, di masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri. Padahal, pada periode yang bersamaan, Luwu Raya juga mengajukan diri untuk dimekarkan dari Sulawesi Selatan. Namun sejarah mencatat, hanya Sulawesi Barat yang berhasil.

Pertanyaannya kemudian, mengapa? 
Jawabannya tidak terletak pada potensi daerah. Secara objektif, Luwu Raya justru jauh lebih unggul baik dari sisi sumber daya alam, sejarah politik, posisi geografis, maupun basis ekonomi. Kegagalan Luwu Raya lebih disebabkan oleh ketidakmatangan strategi dan lemahnya konsolidasi elite daerah.

Salah satu kunci keberhasilan Sulawesi Barat adalah soliditas para tokoh dan pemangku kepentingan daerahnya. Perbedaan kepentingan lokal dikesampingkan demi satu tujuan besar yaitu pembentukan provinsi. Mereka bergerak dalam satu barisan, satu narasi, dan satu peta jalan perjuangan.

Sebaliknya, di Luwu Raya, energi perjuangan terfragmentasi. Masing-masing wilayah lebih sibuk mengurus pemekaran kabupaten sendiri tanpa kesadaran kolektif bahwa semua itu seharusnya disusun dalam satu desain besar menuju provinsi. Akibatnya, perjuangan menjadi sporadis dan kehilangan arah strategis.

Sulawesi Barat tidak memulai perjuangannya dengan teriak “provinsi” di ruang publik. Mereka memulai dari pemenuhan syarat formil secara disiplin dan terukur. 

Pada tahun 2002, Kabupaten Polewali Mamasa dimekarkan menjadi Polewali Mandar dan Mamasa. Setahun kemudian, Kabupaten Mamuju dimekarkan menjadi Mamuju dan Mamuju Utara (kini Pasangkayu). Dengan demikian, sebelum tuntutan provinsi diajukan, lima kabupaten telah terbentuk dan siap secara administratif. Inilah yang luput dilakukan oleh Luwu Raya.

Pemekaran wilayah di Luwu Raya sejak akhir 90an sejatinya terlihat progresif. Kabupaten Luwu dimekarkan menjadi Luwu dan Luwu Utara (1999), Kota Palopo dimekarkan dari Luwu (2002), lalu Luwu Timur dimekarkan dari Luwu Utara (2003).
Namun bila ditelaah lebih dalam, pemekaran ini tidak berbasis pada satu grand design menuju provinsi. Pembagian wilayah dilakukan tanpa pola yang saling menguatkan.

Kabupaten Luwu, misalnya, setelah Palopo dimekarkan, menyisakan wilayah eks Walenrang–Lamasi (Walmas) yang terpisah secara geografis dan lemah secara fiskal. Kondisi ini membuat upaya pembentukan kabupaten baru di wilayah tersebut menjadi rapuh sejak awal.
Pemekaran kabupaten akhirnya berhenti sebagai tujuan itu sendiri, bukan sebagai alat strategis untuk membangun provinsi.

Dua jalan yang masih mungkin jika Luwu Raya masih serius ingin menjadi provinsi :

Pertama, pembentukan Kabupaten Luwu Tengah yang benar-benar layak. Ini tidak bisa hanya bertumpu pada wilayah eks Walmas meskipun jumlah kecamatannya telah mencukupi setelah di mekarkan menjadi beberapa kecamatan. Pemekaran kabupaten tidak boleh sekadar administratif, tetapi harus mempertimbangkan potensi ekonomi dan keberlanjutan fiskal. Karena itu, pengaturan ulang tapal batas Kabupaten Luwu Utara harus di lakukan dgn mengambil tapal batas baru di sepanjang DAS Sungai Rongkong. Langkah ini, sekaligus membagi beban ketertinggalan antara  Rampi dan Seko di Luwu Utara. Rampi menjadi titik fokus pengentasan ketertinggalan oleh Luwu Utara, Seko menjadi titik fokus pengentasan ketertinggalan oleh Luwu Tengah. (Catatan : Luwu Utara adalah kabupaten dgn wilayah terluas tapi sekaligus berkategori termiskin di Sulawesi Selatan) 

Kedua, mendorong integrasi Tanah Toraja dan Toraja Utara. Opsi ini menuntut pengorbanan besar, terutama soal identitas dan nama provinsi. Nama “Provinsi Luwu Raya” kemungkinan harus dilepas dan diganti menjadi Provinsi Luwu Toraja (LUTOR). Ini adalah kompromi politik yang berat, namun rasional dan saling menguntungkan. Tanpa kompromi semacam ini, sulit membayangkan Toraja bersedia bergabung, dan sulit pula bagi Luwu Raya memenuhi syarat provinsi secara mandiri.

Sejarah Sulawesi Barat memberi pelajaran penting bahwa provinsi tidak lahir dari emosi dan demonstrasi dgn memblokade akses jalan Nasional berhari-hari, melainkan dari strategi, kesabaran, dan persatuan elite. Selama Luwu Raya belum berani bersatu, menyusun peta jalan yang rapi, dan berkorban demi tujuan besar, maka pemekaran provinsi akan terus menjadi wacana bukan kenyataan.

Kini pilihan ada di tangan para tokoh dan pemangku kuasa. Mau belajar dari sejarah atau mengulang kesalahan yang sama.

#luwuraya #propinsiluwuraya #sulawesibarat #sulawesiselatan #nrdaeng #ceritapakda #catatanpakda

Jumat, 16 Januari 2026

Darah Mandar - Zainal Arifin Mochtar DIKUKUHKAN GURU BESARFAKULTAS HUKUM UGM

Oleh : Almadar Fattah  

Kabar membanggakan datang dari Jogjakarta, Darah Mandar, Zainal Arifin Mochtar, yang akrab disapa Uceng, resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM). Prosesi pengukuhan berlangsung khidmat di Balai Senat, Gedung Pusat UGM, pada Kamis (15/1). Pengukuhan ini tidak hanya menjadi capaian akademik pribadi, tetapi juga kebanggaan bagi masyarakat Mandar dan Sulawesi Barat, karena menunjukkan bahwa putra daerah mampu berkiprah dan berkontribusi nyata di tingkat nasional melalui dunia akademik dan pemikiran hukum.

Dalam prosesi pengukuhan tersebut tampak hadir sejumlah tokoh nasional, di antaranya Wakil Presiden ke-10 dan ke-11 Republik Indonesia, Jusuf Kalla (JK), mantan Menko Polhukam Mahfud MD, mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, mantan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, mantan penyidik KPK Novel Baswedan, hingga Ketua DPD RI GKR Hemas. Kehadiran para tokoh lintas latar belakang ini semakin menegaskan kapasitas, integritas, serta pengaruh pemikiran Zainal Arifin Mochtar dalam dunia hukum dan kehidupan kebangsaan.

Anies Baswedan yang ditemui awak media turut menyampaikan ucapan selamat kepada Zainal Arifin Mochtar (Uceng). Menurutnya, pengukuhan ini merupakan sebuah puncak baru dalam pengabdian kepada keilmuan, sekaligus penegasan atas dedikasi panjang Uceng dalam mengembangkan pemikiran hukum yang kritis dan berintegritas. Anies menilai capaian tersebut bukan hanya prestasi personal, tetapi juga kontribusi penting bagi dunia akademik dan kehidupan berbangsa.

Sosok Uceng dikenal memiliki keahlian yang kuat, wawasan yang luas, serta keberanian untuk mengungkapkan pikiran dan menegur setiap penyimpangan. Keberanian inilah yang menjadi pembeda utama seorang kecendekiawan sejati, tidak hanya menguasai ilmu, tetapi juga berani berdiri di atas nilai dan kebenaran. Sikap tersebut menjadikan Uceng bukan sekadar akademisi, melainkan intelektual yang menghadirkan ilmu sebagai alat menjaga nurani, etika, dan keadilan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bagi Uceng, kecendekiawanan bukan semata-mata untuk kemajuan ilmu pengetahuan, melainkan juga sebagai penjaga nurani republik. Ilmu harus hadir untuk memastikan negara ini tetap berjalan di jalur yang baik dan benar, dengan hukum yang tegak, kekuasaan yang diawasi, serta kepentingan rakyat yang diutamakan. Inilah makna kecendekiawanan sejati: ilmu yang berpihak pada kebenaran, berani mengingatkan, dan konsisten menjaga arah perjalanan republik.

Ayah Uceng adalah KH. Mochtar Husain, seorang ulama besar dari Tanah Mandar yang dikenal luas dengan julukan “Singa Podium”. Julukan tersebut mencerminkan ketegasan, keberanian, serta kekuatan retorika beliau dalam berdakwah dan menyuarakan kebenaran. 

Sosok KH. Mochtar Husain menjadi teladan moral dan intelektual yang jejak nilainya turut mengalir dalam perjalanan hidup dan pemikiran Uceng hingga kini.

Warisan nilai keilmuan, integritas, dan keberanian moral dari sosok KH. Mochtar Husain inilah yang turut membentuk karakter Uceng sebagai intelektual yang berani bersuara, teguh pada prinsip, dan konsisten menjaga nilai-nilai kebenaran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Profil Uceng
Zainal Arifin Mochtar atau yang akrab disapa Uceng lahir di Makassar, 8 Desember 1978. Ia menempuh pendidikan tinggi Strata Satu (S1) Ilmu Hukum di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan lulus pada tahun 2003. Setelah itu, Uceng melanjutkan studi ke luar negeri dengan menempuh jenjang Strata Dua (S2) di Northwestern University, Chicago, Amerika Serikat, dan berhasil meraih gelar Master of Law (LL.M) pada tahun 2006.

Selain itu, Zainal Arifin Mochtar juga memperkaya kapasitas akademiknya dengan mengikuti berbagai program internasional. Ia menyelesaikan kursus Summer School Administrative Law hasil kerja sama Universitas Gadjah Mada–Maastricht University, Belanda, pada tahun 2006. Selain itu, ia juga mengikuti Summer School American Legal System di Georgetown Law School, Washington, Amerika Serikat.

Latar belakang pendidikan tersebut menjadi fondasi kuat bagi Uceng dalam mengembangkan pemikiran hukum yang kritis, berintegritas, dan konsisten memperjuangkan tegaknya prinsip negara hukum.

Pengalaman akademik lintas negara tersebut semakin memperkuat perspektif dan kedalaman pemikiran Zainal dalam bidang hukum administrasi dan sistem hukum, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Kamis, 15 Januari 2026

FAKTA ISRA' MI'RAJ


Awaluddin Kadir Masser 

Jika di Bumi terdapat BAITULLAH Kiblat Umat Islam di dunia dalam beribadah. Maka dilangit ada BAITUL MAKMUR Kiblat Penduduk Langit dalam beribadah. 

------------

Isra' : adalah Perjalanan dari Masjidil Haram ke Baitul Maqdis sesungguhnya Perjalanan Horisontal spritual yg berlangsung dibumi yg memberikan hikmah masjid to masjid adalah pusat peradaban sosial, budaya, politik dan ekonomi dengan seluruh kapasitas dan entitas dari mana kita, siapa kita

Mi'raj : adalah perjalanan vertikal (pendakian) Iman yang menukik ke langit menembus hingga Baitul Makmur dan perjalanan isra mi'raj ini terjadi dalam kapasitas seorang Hamba bukan perjalanan Dinas dengan Jabatan Nabi dan Rasul. Dan Mi'rajnya manusia seperti kita ini adalah Shalat yang tdk ada perbedaan dalam posisi Shaf dimasjid masjid Allah dimuka bumi. Perjalanan Dinas dengan Jabatan memungkinkan manusia terjebak pada keangkuhan posisioning Jabatan struktural dan fungsional yg mungkin mendegradasi kepentingan kepentingan Mustadha'afin (orang orang lemah) maka dia Rasulullah Muhammad Saw sebagai Hamba diperjalankan bertemu dengan Tuhannya yg privalage itu tdk diberikan kepada Malaikat. (Subhanallah).

Sidratul Muntaha : Sesungguhnya secara simbolik Batas pencapaian akhir yg diperlihatkan Allah SWT kepada hambanya utk mempersaksikan Kebesaran Allah utk menerima perintah Shalat. Hanya dengan shalat ini Muhammad umatmu bisa survive dalam melangsungkan kehidupannya dengan selamat dan maslahat dunia akhirat. Kalau tidak akan timbul kekacauan dimuka bumi. Inna shalata tanha anil fahsya'i wal mungkar.

Langit 1-7 : Perjuangan mondar mandir Nabi Muhammad di tujuh pintu langit sejatinya sebuah semangat yg harus dimiliki seorang hamba untuk terus menganalisis, memperbaiki dengan bimbingan wahyu bhw menuju jalan kebaikan itu butuh perjuangan yg tidak mudah penuh dg tantangan. 

Wallahu a'lam bishawab.

Menemukan Kembali Gairah “Band” di Sulawesi Barat.


Catatan Sahabuddin Mahganna

Sejak VOC 1602 menduduki hindia Belanda, musik dan beberapa instrumen Eropa menjadi energi baru yang digandrungi. Dua abad setelahnya, anak lelaki bersaudara dari timur Maluku menjadi selebritis lewat Timor Rythem Brothers 1945, diilhami oleh musik Rock an Rool dari Amerika serikat juga instrumental The Shadows, The Ventures dan Strings-A-Longs yang memukau. Dari Soerabaya, keluarga Tielmen melakukan perjalanan ke Belanda untuk melakuka rekaman pada 1956-1960, kemudian merubah dirinya menjadi The Four Tielman Brothers 1957, lalu The Tielman Brothers hingga sukses menggoyang negeri kincir angin, dan tercatat menjadi kelompok Band Rock atau Idorock pertama secara internasional, semangat itu memacu aliran-aliran Band di seluruh dunia untuk kemudian juga ber-aksi seperti The Bithels (Liverpool 1960), The Rolling Stones (Inggris 1960), dan itu termasuk Indonesia pasca kemerdekaan.

 Pengaruh Tielman di negeri tanah subur nan permai seperti Koes bersaudara 1958, menjadi cikal bakal Band Koes Plus, AKA di Surabaya 1967. Paling mengesankan ketika dipertengahan dasawarsa 1970-an, God Bless 1972 dan Massada 1973 segera memetik reputasi dengan gaya aksi panggung (Live Act) yang cemerlang, memiliki basis penggemar yang loyal, dan ini boleh jadi berpengaruh ke daerah-daerah. Menurut tahun yang sama, kelompok-kelompok di Sulawesi terkhusus di Sulawesi Barat, masuk dalam daftar aliran Hawaiaan, Keroncong dan Gambus, memasuki situasi yang terkondisikan pada instrumen kolaboratif secara hibrid yang alami. Kita diperkenalkan dengan kelompok musik Rewata’a Rio yang gemar memadukan musiknya dengan aliran lagu-lagu Stambul, dan “Pikko” kelompok Gambus bernuansa Keroncong 1960-an, atau menguji kreativitasnya dalam ramuan seperti Gambus dalam Keroncong dengan menggunakan beberapa alat Eropa seperti Juck, Akulele, Contra Bass, Sello dan Petikan Guitar Losquin.

 Di tahun antara 1970-1980 an, hiburan rakyat (Band) menjadi catatan disekian banyak pertunjukan, para pengagum musik di Sulawesi Barat memperlihatkan pengaruh eksistensi yang signifikan dengan menculnya kelompok gambus Surayya, yang kelak menjadi cikal bakal Band Surya, Karya Jaya menuju Karisma Band. Senandung Resota Majene 1985, lalu 1990 Karisma pun berdiri. Pada titik itu, tercatat Band populer yakni Surya dan Kaisar di Polewali Mamasa (Sekarang Polewali Mandar), sementara itu tidak jarang Band-band luar Polewali Mamasa seperti Toleransi dan Al-Warda dari Sidrap, Sarapo Band 1-2 di Pindrang, semakin memperlebar, memperkaya dan semarak penuh gairah. Hal itu pun secara tidak langsung untuk menguji keahlian dan lebih memacu semangat para players dan pimpinan produksi Band-band di Sulawesi Barat. Sayangnya amplikasi elektrik meredup oleh rentetan waktu, baik itu dari sudut artistik maupun penyajian, pelaku mulai resah pada pengutamaan karya instan atau mengubah Band yang dipormat dengan banyak pemain secara Enseble, menjadikan Elektrik Tone lebih digandrungi. Materialistik elektriktone memanjakan para penikmatnya dan menguntungkan.

 Di sisi lain, dengan munculnya kelompok Tammengundur telah memadukan tradisi, keyboard tunggal, dan Band, berhasil meramu pertunjukan dengan beberapa model sajian, tidak terkecuali drama komedi maupun pakem tradisional yang seolah-olah penonton bisa menyaksikan hiburan serba lengkap, memaksa manajemennya kewalahan dalam mengatur jadwal, dan sisa player-player itu pun mengalihkan dirinya untuk ke akustik dan You Tube, melakukan kreatifitas bebas demi mendapat perhatian. Sementara pecinta teknologi praktis semakin bergairah hingga meminimalisir pertunjukan chaiya-chayya (karaokean). Dari sini membuka naluri dan hasrat penyanyi amatiran untuk menjadi artis satu malam, satu dua lagu pemuas keresahan menurut orang-orang dulu yang kecewa atau gagal oleh karena surat panggilan tidak tergubris dan terbuang begitu saja. Di era digital sekarang ini, status teknologi jauh meningkat, menunjukkan daya saing yang berat bagi kaum-kaum Band.

 Fakta-fakta di atas, betapa hiburan Band menjadi dirindukan, seakan kita memiliki rezeki jika sempat melihatnya saat itu. Meski hanya satu dua kelompok yang masih bertahan, tetap tidak bisa bersaing, padahal indahnya sajian itu oleh karena semua sisi gambar maupun bunyi bisa disaksikan secara langsung. Pada tahun-tahun berikutnya, Band kembali digelorakan, bagaimana upaya komunitas-komunitas seperti One dO Art secara mandiri telah menggelar konser bertajuk Mahakarya, menggunakan Band eksplorasi dengan paduan tradisi, rock dan pop kreatif serta sedikit orkestra 2017, sementara Band-Band muda seperti Nilam, Adelweis, Impossible, Kaze, Teletabis, Black Hole, Manakarra dll. Mereka gemar membumikan kreatifitasnya, kendatipun hanya berada dijalur festival. Numerus 90 pada tahun 2021 manabur benih-benih juga menggelar lewat festival, dan yang paling mengesankan sebab pesertanya kembali menghadirkan player-player lama, menggugah hati untuk mengingat masa lalu meski permainanya tidak sehebat dulu. Banyak festival Band kreatif 2022 oleh dinas pariwisata di taman budaya provinsi Sulawesi Barat, digagas oleh Ir. Irbad Kaimuddin, yang tidak lain bahwa beliau ternyata adalah mantan pelaku Band 90 an. Dengan kembalinya liyan ini, bukan tidak mungkin studio-studio yang sempat gulung tikar akan segera mengatur jadwal.

 Band disajikan dengan tekstur professional dalam menjamu penikmatnya dan tidak mustahil akan kembali dengan segala bentuknya. Sementara Keyboard tunggal, chaiyya-chayya dan parodi Tammengundur adalah penomena nyata yang mungkin tidak akan luput dari sejarah. Meski telah mengalami pergeseran, namun inovasi pelakunya kita meski yakin mereka akan semakin kreatif. Kreatifitas anak-anak Band di tanah Mala’bi’ ini mencuat hebat, tidak ketinggalan Band Orkes 90-an seperti Mamat GS, semangat mudanya bangkit bersama kelompok Pramuda yang baru dibentuk. Maju terus, sebab kita baru saja menemukan kembali gairah Band di Sulawesi Barat setelah lama vakum.

Sumber: 
Bar Barendregt and Els Bogaerts 2007
Rusman Pikko. 2019
Hatta Jaya. 2021
Mamat GS. 2022
Poto: Band Nagersi di Sale'a Todang, Pimpinan Baharuddin Mahmud, Hatta Mahendra menjadi gitaris.
Penulis: salah satu penyanyi cilik nya

Minggu, 14 Desember 2025

Catatan Kajian Tasawuf








Catatan 
Hamzah Ismail

Kajian Tasawuf
Tema: Menyelami Samudera Al-Ḥaqīqah Al-Muḥammadiyyah dengan Zikir Rūḥ Bersama: Annangguru Syeikh K.H. Muhammad Ilham Saleh dan Abuya Arrazy Hasyim, Tempat: PP Darul Ulum Syeikh K.H. Muhammad Saleh, Saleppa, Majene
Waktu: 14 Desember 2025, pukul 13.00 - selesai

Ketika Dua Tokoh Spiritual Bertemu: Keindahan-lah yang Selalu Tampak

Tentang Persiapan Pelaksanaan Kegiatan

Kehadiran Syeikh Buya Arrazy Hasyim --seorang ulama muda dan dai nasional yang dikenal luas-- merupakan anugerah dari Allah Swt. Buya Arrazy menekuni dan mengajarkan fikih, ushul fikih, serta tasawuf dalam koridor Ahlus Sunnah wal Jama‘ah. Ia masyhur melalui kajian-kajian keislaman yang sistematis dan mendalam, baik secara luring maupun melalui media digital, dengan gaya penyampaian argumentatif serta rujukan kuat pada kitab-kitab turats.

Kehadirannya di PP Darul Ulum Saleppa sejatinya berada di luar perencanaan awal. Pada mulanya, agenda kunjungan Buya Arrazy di Sulawesi Barat pada penghujung tahun ini tidak mencantumkan Pondok Pesantren Darul Ulum sebagai titik kegiatan. Perubahan terjadi belakangan, setelah satu agenda di wilayah Mamuju batal dilaksanakan, sehingga pihak manajemen perjalanan Buya Arrazy di Tanah Mandar kemudian menetapkan Saleppa sebagai titik tambahan.

Hal tersebut tercermin dalam publikasi kegiatan. Sejumlah baliho yang tersebar ke publik tidak mencantumkan agenda Kajian Tasawuf bersama Annangguru K.H. Muhammad Ilham Saleh dan Abuya Arrazy Hasyim. Hanya satu baliho berukuran cukup besar yang terpasang di pusat Kota Majene, itupun merupakan inisiatif jamaah Tarekat Qadiriyah Majene.

Dalam rapat perdana persiapan penyambutan Buya Arrazy di PP Darul Ulum Saleppa, yang juga dihadiri penulis, Bapak Muhammad selaku pimpinan rapat menyampaikan bahwa kehadiran Buya Arrazy di pesantren ini bersifat tambahan agenda. Pernyataan tersebut dikuatkan oleh Annangguru K.H. Muhammad Ilham Saleh yang menegaskan, “Kita ini membantu pihak yang menangani Buya Arrazy di Tanah Mandar, sekadar mencukupkan titik.”

Meski tidak dirancang secara matang sejak awal, pelaksanaan Kajian Tasawuf ala Tarekat Qadiriyah di Saleppa Majene akhirnya berjalan dengan baik dan sukses. Hal ini tidak lepas dari dukungan ikhlas jamaah Qadiriyah Majene yang dibantu sepenuhnya jamaah Qadiriyah Tinambung. Urusan logistik tertangani dengan aman dan lancar.

Untuk kelengkapan media penyiaran agar kajian dapat disimak oleh seluruh jamaah, jamaah Qadiriyah Tinambung menyediakan sarana pendukung, termasuk dua unit televisi berukuran besar milik STAIN Majene. Fasilitas ini memungkinkan jamaah yang berada di luar ruang utama tetap dapat mengikuti kajian melalui layar.

Melalui tulisan ini, mewakili Annangguru K.H. Muhammad Ilham Saleh dan Panitia Pelaksana, penulis menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu menyukseskan kegiatan kajian ini, khususnya kepada pihak Kampus STAIN Majene.

Mengurai Keindahan Pertemuan Annangguru Ilham Saleh dan Buya Arrazy

Sejak Minggu pagi, suasana di Markas Besar PP Darul Ulum Saleppa Majene mulai tampak sibuk. Panitia bekerja mempersiapkan segala keperluan, sementara jamaah berdatangan secara perlahan dan memadati halaman depan pesantren. Di tengah aktivitas pemasangan dua unit televisi besar, tampak pula satu unit mobil panitia yang mendistribusikan konsumsi berupa nasi kotak bagi para peserta kajian.

Pada waktu yang sama, melalui media sosial (Facebook), terpantau Abuya Arrazy Hasyim tengah mengisi Tabligh Akbar di Masjid At-Taubah Imam Lapeo dengan tema “Meneladani Sifat Rasulullah Saw: Jalan Mudah Menuju Surga.” Agenda Kajian Tasawuf di PP Darul Ulum Saleppa memang dijadwalkan berlangsung setelah kegiatan Abuya Arrazy di Lapeo selesai. Usai acara tersebut, beliau dijadwalkan bertolak ke Saleppa dan makan siang di lokasi pesantren.

Tepat ba‘da Zuhur, Buya Arrazy bersama istri dan rombongan tiba di Saleppa. Penulis yang sebelumnya mengikuti salat berjamaah di masjid yang berada tepat di depan markas PP Darul Ulum, mendengar lantunan hadrah dan selawat yang dikumandangkan para santri sesaat setelah salam. Doa pun disudahi seadanya, sebab kekhawatiran muncul –ruang kajian bisa penuh terisi jamaah, sementara penulis memiliki tugas khusus dari Annangguru Ilham Saleh.

Penulis memang ditugaskan secara khusus sebagai penanya dalam forum Kajian Tasawuf tersebut. Karena itu, penulis segera mengambil tempat di bagian depan, tidak jauh dari Annangguru K.H. Muhammad Ilham Saleh dan Buya Arrazy Hasyim.

Pada momentum ini, tampak jelas bagaimana Annangguru K.H. Muhammad Ilham Saleh memberi ruang seluas-luasnya kepada murid-muridnya untuk memperluas wawasan dan memperdalam ilmu. Beliau membuka kesempatan interaksi dengan para ulama, kiai, dan tokoh-tokoh yang hadir di Saleppa, sebagai bagian dari proses pembelajaran spiritual dan intelektual.

Saat tiba, Buya Arrazy tidak langsung memasuki ruang kajian. Beliau terlebih dahulu menuju lantai bawah untuk menikmati jamuan makan siang. Sekitar dua puluh orang turut makan bersama beliau, termasuk Annangguru K.H. Muhammad Ilham Saleh. Tampak pula mendampingi Buya Arrazy dari Lapeo, seorang kiai muda keturunan Imam Lapeo, Dr. Ahmad Multazam, yang selanjutnya akan menemani perjalanan Buya Arrazy ke Kalukku, Mamuju.

Menariknya, setelah makan bersama, terjadi peristiwa yang sarat makna. Buya Arrazy menyampaikan keengganannya untuk turun mengisi kajian sebelum menerima ijazah Tarekat Qadiriyah dari Annangguru K.H. Muhammad Ilham Saleh. Nampan makan yang semula berada di hadapan mereka pun digeser. Buya Arrazy kemudian bergerak mendekat ke arah Annangguru dengan cara ngesot –bergerak maju sambil duduk dan menyeret tubuh di lantai. Kedua lutut dirapatkan, tangan berjabat, lalu Annangguru tampak membisikkan sesuatu ke telinga Buya Arrazy. Adegan tersebut tampak sebagai sebuah proses talqin yang khidmat dan penuh keheningan spiritual.

Dalam proses memberi dan menerima ini, terpancar keindahan yang nyaris tak terlukiskan –sebuah tiara spiritual yang hanya dapat dipertunjukkan oleh para tokoh yang telah menukik jauh ke kedalaman dunia sufistik. Dunia yang sarat dengan keindahan dalam teks, kata, dan laku simbolik.

Terima kasih Guru, Annangguru K.H. Muhammad Ilham Saleh atas kepercayaan yang diberikan kepada penulis sebagai penanya dalam forum Kajian Tasawuf itu. Terima kasih pula kepada Buya Arrazy Hasyim yang berkenan menutup acara dengan meletakkan statemen tegas: “Fanalah Muhammad, nyatalah Ahmad, fanalah Ahmad, nyatalah Ahad” lalu membagi zikir atau wirid pamungkas: “Ahad dzatullah, Ahmad Nurullah, Muhammad Nurullah, Al-Mahdi Khalifatullah,” sebagaimana penulis mohonkan sebagai penutup rangkaian pertanyaan yang kemudian diijazahkan untuk seluruh jamaah yang hadir mengikuti kajian.

Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih.

Tinambung, 15 Desember 2025

Al-faqir,
Hamzah Ismail

Sabtu, 06 Desember 2025

Dr. ABD. RAHMAN HAMID || Seminar Hasil Penelitian Mahasiswa UIN RIL -Membaca Dunia Maritim Indonesia




Bandarlampung, 5 Desember 2025, mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab UIN Raden Intan Lampung menggelar seminar hasil penelitian di Perpustakaan Nasional RI, Arsip Nasional RI, dan Museum Bahari Jakarta. Seminar dilaksanakan di Ruang Seminar Fakultas Adab, merupakan bagian dari laporan praktikum mata kuliah (1) Sejarah Maitim Indonesia dan (2) Bahasa Sumber dengan dua dosen pengampu yaitu: Dr. Abd Rahman Hamid dan Agus Mahfudin Setiawan, M.Hum.    

Ketika membuka acara, Ketua Prodi SPI mengatakan bahawa kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan mahasiswa menelusuri sumber-sumber sejarah maritim yang tersedia di tiga instansi tersebut. Setelah seminar ini, setiap kelompok akan mengirimkan artikelnya ke jurnal nasional.  

“Dengan menerbitkan artikel di jurnal nasional, selain untuk memenuhi luaran mata kuliah, juga yang terpenting adalah untuk menambah jumlah publikasi mahasiswa sebelum menyelesaikan studi di Prodi SPI”, terang Dr. Hamid. 

Semester lalu, setelah praktikum mata kuliah di Banten, mahasiswa telah menghasilkan 6 judul artikel yang terbit di jurnal nasional. Jadi, kalau semester ini bisa terbit lagi satu artikel, maka sudah ada dua artikel yang dihasilkan sampai semester lima  ini”, kata Dr. Abd Rahman Hamid.       

Sementara itu, dosen pengampu mata kuliah Bahasa Sumber, Agus Mahfudin Setiawan, M.Hum, mengapresiasi semangat tinggi mahasiswa dalam proses pengumpulan sumber sejarah di Jakarta. “Sumber tulisan ini sudah bagus, sisa ditingkatkan lagi arah dan fokus artikel masing-masing. Jadi, artikel ini perlu diperbaiki lagi agar lebih fokus pada tema kajian”, terangnya.  

Seminar ini dihadiri oleh 45 mahasiswa Prodi SPI dengan menampilkan 10 topik kajian yang dibagi menjadi dua sesi diskusi. Lima topik pada sesi pertama membahas mengenai pelabuhan di Lampung (Telukbetung dan Oosthaven), Emmahaven (pelabuhan Padang), pelabuhan Sabang (Aceh), pelabuhan Surabaya, dan pelabuhan Makassar. Sesi ini dipandu oleh Amira Zahida Mumtaz. 

Dua pelabuhan Lampung yang berada di Telukbetung menjadi cikal bakal lahirnya Kota Bandar Lampung. Aktivitas pelabuhan Telukbetung melahirkan Kota Telukbetung, sebagai kota lama Lampung. Sementara aktivitas Oosthaven (Panjang) melahirkan kota baru Tanjungkarang. 

Selanjutnya, lima topik sesi kedua mengkaji mengenai pelabuhan di Kalimantan Timur dan Selatan, pelabuhan Ende (Nusa Tenggara), pelabuhan di Maluku (Ambon dan Ternate), pelayaran laut nasional Indonesia (PELNI), dan peranan Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) dalam revolusi Indonesia. Sesi ini dipandu oleh Reisya Aulia Khabiba. 

Selain menampilkan artikel hasil kajian, dalam seminar ini juga ditampilkan video dokumenter perjalanan praktikum Sejarah Maritim Indonesia dan Bahasa Sumber yang dilaksanakan di Jakarta pada  4 – 6 November 2025. 

Belajar sejarah tidak cukup dengan membaca buku-buku sejarah saja, tetapi juga perlu praktik lapangan untuk menelusuri sumber-sumber sejarah dan menuliskannya menjadi narasi sejarah berupa artikel untuk dipublikasikan ke jurnal nasional, kata Ketua Prodi SPI Dr. Abd Rahman Hamid menutup seminar ini.

Kamis, 04 Desember 2025

Dr. ABD. RAHMAN HAMID ||Dosen UIN RIL Paparkan Sejarah Emigrasi Pertanian di Lampung


Pesawaran, 4 Desember 2025, Dosen UIN Raden Intan Lampung, Dr. Abd Rahman Hamid menjadi narasumber seminar yang digelar oleh Museum Ketransmigrasi Lampung dengan tema “Kajian Mata Pencaharian Masyarakat Transmigrasi”.  

Kegiatan ini dilaksanakan selama tiga hari (2-4 Desember) dengan menghadirkan enam narasumber, dua di antaranya pada hari ketiga adalah Dr. Abd Rahman Hamid dan Kian Amboro, M.Pd. 

Hari ini, Abd Rahman Hamid mengisi acara dengan topik “Emigrasi Pertanian Jawa di Lampung 1902-1941”, dengan moderator Ni Putuh Galih Pratiwi, M.Hum. 

“Saya menemukan banyak orang Jawa, nama-nama kampung Jawa, dan budaya Jawa di Lampung. Untuk tahu Bahasa Jawa, bisa belajar di Lampung. Di mana-mana terdengar orang berbahasa Jawa”, kata Ketua Prodi Sejarah Peradaban Islam UIN RIL saat mengawali presentasinya, yang dihadiri 50 peserta (dosen dan mahasiswa) dari lima kampus di Provinsi Lampung yaitu: UNILA, UM Metro, STKIP PGRI Bandar Lampung, UIN RIL, dan UM Pringsewu.   

Berangkat dari isu tersebut, Hamid menjelaskan mengenai sejarah emigrasi pertanian Jawa di Lampung pada masa kolonial, 1902-1941. Menurutnya, ada tiga konsep yang sering digunakan untuk menggambarkan perpindahan penduduk Jawa ke luar Jawa yaitu: kolonisatie, emigratie, dan transmigratie. Konsep pertama punya konotasi negatif, selaran dengan konsep kolonialisme. Kalau mengikuti pilar politik etis, maka yang tepat adalah konsep emigratie (emigrasi), terang Dr. Hamid.  

Menurut Hamid, program emigrasi sebagai satu solusi untuk mengatasi masalah kesejahteraan penduduk di Jawa sejak akhir abad ke-18 akibat kepadatan penduduknya. Namun, gairah orang Jawa untuk pindah ke luar Jawa masih minim, karena mereka sangat terikat dengan tanah dan kebudayaan leluhurnya di Jawa. 

Karena itulah, maka lahirlah sistem “bedol desa” dalam pemindahan penduduk, yakni memindahkan semua penduduk dari satu desa tertentu di Jawa ke luar Jawa dan ditempat di lokasi yang sama di Tanah Sabrang, sehigga mereka merasakan susana Jawa di Tanah Sabrang. Dengan kata lain, para emigran itu tidak terasing dari lingkungan sosial dan kebudayaan Jawa. Singkatnya, “Cut dan paste Jawa di Lampung”, kata Dr. Hamid.  

Tidak cukup dengan sistem bedol desa, untuk menarik perhatian dan meyakinkan orang Jawa pindah ke Lampung, maka promosi atau propaganda sangat penting dilakukan. Hal itu dilakukan dengan tiga cara: (1) penyuluhan oleh aparat pemerintah di Jawa, (2) emigran lama pulang kampung atau dibawa pulang oleh pemerintah untuk promosi emigrasi pertanian di Jawa, dan (3) pemutaran film “Tanah Sabrang” karya Mannur Franken di Jawa antara tahun 1938-1941 tentang kondisi Lampung yang tanahnya subur, hasil padinya bagus, dan sistem bawon. 

Semuanya menggambarkan tentang Tanah Sabrang Lampung yang penuh harapan hidup atau kesejahteraan yang lebih baik. “Kalau ingin hidup lebih sejahtera, maka pindahlah ke Lampung”, begitulah kesan yang disampakan kepada calon emigran di Tanah Jawa.      

Emigrasi pertanian ke Lampung dimulai tahun 1905 di bawah pimpinan Asisten Residen Sukabumi, H.G. Heijting yang didampingi oleh Asisten Wedana Mas Ronodimedjo, 2 mantri irigasi, dan 40 penebang bergergaji. Lokasi pertamanya adalah Gedong Tataan. 

Setelah itu, rombongan emigrasi diperluas ke daerah lain masing-masing: Bengkulu (1909), Palembang (1911), Sumatera Timur (1918), Kalimantan (1920), Sulawesi (1937), dan Sumatera Tengah (1940). 

Menurut Dr. Hamid, dipilihnya Lampung sebagai lokasi emigrasi pertanian pertama karena tiga hal: (1) dekat dengan Tanah Jawa, (2) biaya lebih murah dan termasuk jalur utama pelayaran kapal KPM, dan (3) punya dua pelabuhan baik di Teluk Lampung (Telukbetung dan Oosthaven) sebagai pintu masuk ke Sumatera. 

Sebagai tim penulis Sejarah Indonesia (SI), yang disponsori oleh Kementerian Kebudayaan RI, sejarah emigrasi Lampung menjadi satu bagian penting dalam Buku SI jilid 6 (Masa Pergerakan Kebangsaan hingga akhir Penjajahan Jepang) yang akan dilauching tahun ini oleh Kementerian Kebudayaan, kata Dr. Hamid.  

Ketua Prodi SPI UIN Lampung ini menyimpulkan tiga hal terkait sejarah emigrasi di Lampung yaitu: (1) emigrasi melahirkan masyarakat dan kampung-kampung Jawa baru di Lampung, (2) emigrasi membawa kamajuan serta perubahan sosial berupa perluasan makna filosofis Lampung yakni “Sai Bumi Ruwa Jurai” dalam pembentukan Masyarakat Lampung, yang semula dimaknai sebagai Satu Tanah Lampung bagi dua kelompok Lampung (Saibatin dan Pepadun) menjadi Satu Lampung bagi orang Lampung dan bukan orang Lampung, (3) emigrasi juga mewariskan segregasi sosial di Lampung. 

Pada akhir paparannya, Dr. Hamid menyampaikan tiga saran (rekomendsi) yaitu: (1) perlu kajian toponimi wilayah emigrasi Lampung, (2) pengayaan koleksi Museum Transmigrasi dengan sumber-sumber Sejarah Emigrasi dari ANRI, PNRI, dst, dan (3) pemutaran “Film Tanah Sabrang” sebagai memori kolektif emigrasi di Lampung. 

Diskusi ini sangat dinamis yang ditandai respons dari lima peserta yaitu: Adi Wiranata (Dosen UM Metro), Nova Anisa Azzahra (mahasiswa UNILA), Angun Puspita (mahasiswa STKIP Bandar Lampung), Rianto (mahasiswa UM Metro), dan Sofio Rahman (mahasiswa UM Metro). 



Rabu, 26 November 2025

ABD. RAHMAN HAMID || Dosen UIN RIL Narasumber FGD BRIN

Jakarta, 26 November 2025, Dosen UIN Raden Intan Lampung, Dr. Abd Rahman Hamid kembali menjadi Narasumber kegiatan yang dihelat oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), setelah sebelumnya mengisi acara AB Lapian Memorial Lecture (23 September 2025), dengan tema utama “Cerita dalam Hidangan: Tradisi Lisan Kuliner sebagai Potensi Wisata Gastronomi Berkelanjutan”.  

Focus Group Discussion (FGD) ini dilaksanakan selama tiga hari (24-26 November) dengan menghadirkan enam narasumber utama yaitu: KH Ahmad Baso, Dr. Anhar Gonggong, Dr. Suriadi Mappangara, Prof. Dr. Muhlis Hadrawi, Dr. Abd Rahman Hamid, dan Dr. Mukhlis PaEni. 

Abd Rahman Hamid mengisi acara pada hari ketiga dengan topik “Gastronomi dan Jalur Rempah: Peran Perempuan dalam Merawat Tradisi Maritim Buton dan Mandar”, dengan moderator Risma Widiawati, M.Si. 

“Tradisi kemaritiman sering kali dianggap milik laki-laki saja. Namun, apakah tradisi itu bisa bertahan tanpa kehadiran perempuan?”, jelas Ketua Prodi Sejarah Peradaban Islam UIN RIL saat mengawali presentasinya, yang dihadiri 30 peneliti Pusat Riset Khasanah Keagamaan dan Peradaban secara luring dan 45 peserta secara daring.  

Berangkat dari isu tersebut, Hamid menjelaskan mengenau peranan perempuan dalam  merawat kelangsungan tradisi maritim serta transformasi gastronomi pelaut menjadi identitas orang Buton dan Mandar.  

Menurut Hamid, perempuan Buton dan Mandar memiliki peran penting dalam menjaga kelangsungan aktivitas pelayaran pelaut, mulai dari menyediakan bekal untuk suaminya hingga memproduksi beragam komoditas niaga seperti kain tenun, parang dan pesau besi, menyikap goreng dari kelapa, dan menenun kain layar perahu.
 
Yang menarik adalah bahwa kedua suku bangsa bahari Indonesia ini memiliki jenis kuliner yang sama yang terbuat dari singkong, yakni soami/kasoami/sangkola (Buton) dan jepa (Mandar). 

Menurutnya, kesamaan itu disebabkan oleh dua faktor: pertama, kondisi kehidupan di laut atau atas perahu sama yang dipengaruhi oleh faktor gelombang, arus laut, dan angin. Kedua, para pelaut memerlukan kuliner yang mudah dikonsumsi dan adaptif terhadap kondisi kehidupan di atas perahu, baik saat angin kencang maupun angin tenang. Inilah kecemerlangan perempuan dalam memastikan keselamatan suami mereka dan sekaligus merawat tradisi maritim. 


Awalnya merupakan kuliner pelaut, lalu dikonsumsi semua kalangan, dan sekarang menjadi simbol identitas orang Buton dan Mandar. Gastromi itu juga menjadi petunjuk mengenai persebaran (diaspora) Buton dan Mandar di Indonesia. Bahkan, ia disebut soft diplomacy lintas budaya di Tanah Air, terang Hamid. 

Elaborasi ini menjadi sumber inspirasi untuk studi lanjut mengenai kehidupan para pelaut lainnya di Indonesia. “Tanpa kehadiran perempuan, tidak mungkin tradisi maritim bisa bertahan berabad lamanya”, kata Hamid menutup presentasinya.

Peserta diskusi begitu antusias mengikuti acara yang ditandai respons dari delapan peserta yaitu Kang Dede, Prof. Dr. Saleh, Andi Baso, Lamansi, Dudung Yuwono, Wardiah Hamid, Prof. Dr. Idham Kholid Bodi, dan Syamsu Rijal. 

Diskusi ini ditutup oleh Kepala Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban, Wuri Handoko, yang juga kandidat Doktor Arkeologi Universitas Indonesia. Beliau menyampaikan terima kasih kepada seluruh narasumber yang telah berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada para peneliti, serta berharap bahwa kelak dibentuk satu pusat kajian Gastronomi Nusantara di lingkungan BRIN.

Selasa, 18 November 2025

Kepada: Para Penari di Atas Kuburan

Oleh: Hamzah Ismail

Belakangan ini media sosial dihebohkan oleh ulah sekelompok remaja perempuan yang menari tepat di atas sebuah makam. Bukan makam sembarangan, itu adalah pusara I Manyambungi, atau yang lebih dikenal dengan Todilaling, raja pertama Kerajaan Balanipa.

Peristiwa tersebut segera memantik kegaduhan di jagad maya. Banyak warga Mandar marah, tersinggung, bahkan menganggap perbuatan itu sebagai bentuk penghinaan terhadap sejarah dan leluhur. Sepanjang ingatan kolektif masyarakat Mandar selama berabad-abad, kejadian seperti itu belum pernah terjadi sebelumnya.

Barangkali para remaja putri itu terinspirasi oleh narasi-narasi yang berkembang tentang wafatnya I Manyambungi. Dimana saat jenazah Todilaling hendak dimasukkan ke dalam liang lahat, sekelompok penari mengikuti iringan pemakamannya. Mereka menari bukan sebagai hiburan, melainkan sebagai ritual pengabdian terakhir. Diceritakan bahwa para penari itu rela mati dan ikut terkubur bersama I Manyambungi, sebagai simbol kesetiaan yang tidak putus oleh kematian. 

Namun, apa yang dahulu terbingkai dalam makna ritual, kesakralan, dan ketundukan pada nilai adat, kini bergeser menjadi tontonan dalam format hiburan digital. Waktu memang terus maju, tetapi tidak semua nilai ikut bergerak seiring zaman. Ada batas-batas yang tak boleh diloncati: batas antara hormat dan abai, antara tradisi dan sensasi --viralisme.

Kadang ‘viralisme’ hadir tanpa kemampuan membedakan mana yang pantas dikonsumsi publik dan mana yang harus dijaga kesuciannya. Maka benturan antara tradisi dan sensasi sering berujung pada kegaduhan, bukan pemahaman.

Di hadapan makam seorang raja, pendiri Kerajaan Balanipa, setiap langkah seharusnya mengandung doa; setiap gerak tubuh seharusnya mengingatkan pada jasa dan keberaniannya. Sebab di sana ada lipatan sejarah, mengandung dalam rahimnya berlaksa-laksa pengetahuan dan khazanah kearifan lokal. Menghormatinya adalah jalan paling bijak. 

Kepada kelompok remaja perempuan yang terlanjur menari-nari di atasnya, kalian yang belum paham betul batas antara yang mana bisa dan yang mana tidak bisa, datanglah kembali ke puncak Napo sana. Bersimpuhlah di pusaranya. Tak perlu sibuk meminta maaf kepada mereka yang hidup. 

Datanglah lagi ke sana: Hadirkan hatimu, luruskan niatmu. Tak usah risau. Kalian tak bakal terkutuk. Sebab, dibalik pusara itu, La Puang, manusia bijak itu, dari balik pusaranya pasti Ia sungguh paham bahwa dunianya dengan duniamu kini sungguh jauh berbeda. 

Tapi setelah, itu kalian belajarlah lebih dalam lagi. Bahwa Mandar, adalah ‘lahan’ pengabdian yang tak akan pernah habis digali dan diselami. Mandar, adalah sumber inspirasi. Berkaryalah. Ambillah banyak-banyak nilai dari puncak Napo sana, internalisasikan nilai-nilai itu ke dalam setiap diri kalian. 

Menarilah terus, tapi saya ingatkan: 
Jangan lagi menari di pusara La Puang, I Manyambungi, Todilaling. Berilah rasa hormat penuh dan total kepadanya.

Karena, kalian terlanjur pernah menari-nari di puncak bukit itu, maka di kesempatan pertama, kupinta: datanglah kembali –segera- ke pusara agung itu: Minta maaflah.

Tinambung, 18/11/2025

Minggu, 16 November 2025

TODILALING || Sang Raja yang Tidurnya Dijaga Empat Banua




Penulis: Safardy Bora

Ada nama yang bila diucapkan, udara seolah menahan napasnya sebentar: Todilaling.
Di Balanipa, terutama di kampung-kampung yang masih setia pada jejak leluhur, nama itu bukan sekadar sebutan seorang raja—ia adalah gema masa lampau yang tetap memantulkan cahaya hingga sekarang.

Di masa ketika kabut turun lebih cepat daripada ayam jantan, dan punggung gunung berdiri sebagai dinding sunyi tempat para leluhur menitipkan pesan, hiduplah seorang pemimpin yang kelak menyatukan empat banua dalam satu garis takdir: I Manyambungi—Todilaling, raja pertama Balanipa.

Kisah tentang dirinya tidak hanya hidup dalam lontara. Ia berjalan dari bibir ke telinga, dari ritual ke malam-malam cerita, dari denting gendang ke detak batin yang mencari asal-usulnya. Setiap kali namanya disebut, ada sesuatu yang membuat orang menunduk—seperti ada angin yang datang membawa pesan dari abad-abad yang hilang.
---
I. Jejak Lama yang Tak Pernah Redup

1. Pemakaman yang Menahan Waktu

Orang tua Mandar menyimpan kisah tentang peristiwa paling sunyi dalam hidup Todilaling: saat ia kembali ke tanah.
Tetapi ia tidak ditinggalkan sendirian.

Empat belas sosok—dalam banyak cerita: tujuh lelaki dan tujuh perempuan—ikut “turun” bersamanya.
Tidak sebagai korban, melainkan sebagai tanda bakti;
sebagai bayangan yang menjaga tidurnya, sebagai perisai terakhir dalam perjalanan menuju alam tak bernama.

Maka, lahirlah sakralitas itu.
Todilaling tak lagi hanya raja; ia menjadi pusat kosmos kecil yang memantulkan wibawa dan misteri.

2. Gendang Yang Berjalan di Udara

Ada cerita yang tidak dicatat oleh akademisi, tetapi disimpan oleh mereka yang hatinya masih pekat oleh masa lampau.

Beberapa malam setelah penguburannya, dari arah puncak gunung terdengar bunyi lirih—mirip gendang kecil yang dipukul pelan, atau nyanyian yang tidak selesai.
Tidak jelas dari mana datangnya, tetapi cukup untuk membuat orang merapatkan sarung dan menatap gelap.

Dari sanalah keyakinan muncul: bahwa Todilaling dijaga tidak hanya oleh manusia. Ada yang lebih tinggi, lebih sunyi, lebih sulit dijelaskan—yang menutup seluruh perjalanan hidupnya dengan kesyahduan.

3. Ketika Persatuan Dirawat di Bawah Satu Nama

Todilaling adalah sosok yang membuat Appe Banua Kaiyyang bersumpah untuk hidup dalam satu payung persatuan.
Pada masa ketika persekutuan lebih rapuh daripada seutas tali nipah, kesanggupan untuk menyatukan empat banua bukan hanya kecakapan politik—melainkan semacam berkah.

Maka wajar bila masyarakat melihatnya sebagai pemimpin yang bertuah;
bukan sekadar pemegang kekuasaan, tetapi penata harmoni antara manusia dan semesta.
---
II. Gunung Lapuang  Napo: Tempat Di Mana Waktu Tidak Terlalu Cepat

Gunung Lapuang Napo masih berdiri seperti dulu—memayungi makam tua Todilaling di puncaknya. Dari sana, langit tampak lebih dekat dan udara membawa aroma tanah yang mengingat musim-musim lama.

Kini, makam itu menjadi ruang belajar, ruang hening, ruang mengenang.
Pelajar datang dengan buku catatan.
Peziarah datang dengan doa.
Pejabat datang membawa kamera dan hormat.
Komunitas budaya datang menjaga apa yang tersisa.

Tetapi gunung itu juga menyimpan cerita yang pelan-pelan mulai dilewati waktu:

Jalur Lama Para Peziarah

Dahulu, sebelum ada jalan yang layak, para peziarah berjalan dari Lamasariang → Oting - Pandebulawang →  Lapuang.

Kendaraan hanya bisa berhenti sampai Oting.
Setelah itu, jalan berubah menjadi deretan batu cadas besar yang tidak bisa dilewati roda empat.
Orang berjalan kaki, menembus tanah liat berkapur yang licin bila hujan, keras bila kemarau.

Ke makam Todilaling, orang tidak hanya datang—
mereka menempuhnya.
Dan karena ditempuh dengan susah payah, setiap langkah berubah menjadi doa.
---
III. Todilaling dalam Zaman Baru

Kini, kisah Todilaling tidak lagi hanya tinggal di gunung.
Ia turun ke panggung seni:
ditarikan, diperankan, dipentaskan—sebagai upaya generasi muda untuk menjaga agar cerita leluhur tidak hilang ditelan cahaya lampu kota.

Penelitian pun hadir, menggambarkan bagaimana masyarakat memaknai makam itu: sebagai ruang budaya, ruang religius, ruang sejarah, atau ketiganya sekaligus.
Hasilnya satu: memori kolektif tentang Todilaling hidup—meski bentuknya berubah.

Tetapi ada tantangan baru:
ketika makam menjadi bagian dari wisata, bagaimana menjaga kesakralan agar tidak larut oleh lalu-lalang manusia?

Komunitas lokal harus mampu menjawabnya dengan tenang:
merawat, bukan menjual;
membuka akses, tetapi menjaga makna.
---

IV. Makna Todilaling Hari Ini

Kesakralan Todilaling tidak lagi bergantung pada mistik.
Ia hidup dalam tiga ruang yang tetap berdenyut:

• Ruang memori
Menjadi benang merah identitas Mandar.

• Ruang ritual
Ziarah, hening, doa.

• Ruang pendidikan
Menjadi teks, penelitian, pembelajaran bagi generasi baru yang mungkin tidak lagi hafal nama gunung, tetapi tetap ingin mengenal leluhurnya.
---

Penutup

Ketika kita menyebut nama Todilaling hari ini, yang kita panggil bukan hanya seorang raja dari masa lampau.
Kita sedang memanggil sejarah yang menjaga dirinya sendiri; legenda yang tetap hidup karena diceritakan; dan identitas yang membentang dari puncak gunung di Napo hingga hati orang-orang Mandar yang terus mencari jejak asalnya.

Di sanalah sakralitas itu tinggal—
di antara batu cadas yang pernah diinjak para peziarah,
di antara kabut yang turun dari puncak,
dan di antara bisik-bisik yang menolak padam.
---


Samarinda, 17 November 2025

Selasa, 28 Oktober 2025

Caha Maha Cahaya ‘Dilarang Tampil’ Gara-gara: Arab Tanpa ‘Ain, Ahmad Tanpa Mim

Catatan Hamzah Ismail 

Pada tahun 1990-an, Teater Flamboyant Mandar berada pada puncak produktivitasnya. Saat itu, mereka tengah menyiapkan sebuah pertunjukan teater yang judulnya diambil langsung dari buku puisi karya Emha Ainun Nadjib (Mbah Nun), berjudul Cahaya Maha Cahaya.

Kebetulan, proses penciptaan karya pertunjukan tersebut mendapat perhatian langsung dari Mbah Nun. Ia bahkan mengirim seorang sutradara khusus untuk mendampingi proses awal produksi, yaitu Agung Waskito, yang sebelumnya sukses menyutradarai pementasan Lautan Jilbab.

Proses latihan berlangsung sekitar dua bulan. Menariknya, naskah dan tata musik pertunjukan digarap langsung selama proses latihan berlangsung. Tidak seperti pertunjukan teater pada umumnya yang berangkat dari naskah jadi, Cahaya Maha Cahaya justru lahir dari dinamika improvisasi para pemain dan arahan sutradara di ruang latihan.

Rencana awalnya, karya teater Cahaya Maha Cahaya ini akan dibawa berkeliling ke beberapa daerah setelah terlebih dahulu dipentaskan di Tinambung sebagai penampilan perdana. Setelah segala persiapan dinyatakan selesai, pentas perdana pun digelar di Eks Gedung Bioskop Harapan, Tinambung.

Layaknya pemutaran film, pertunjukan ini menjual tiket kepada penonton. Dan, Alhamdulillah, ratusan tiket berhasil terjual, sebuah capaian yang membanggakan bagi kelompok teater daerah pada masa itu. 

Keberhasilan pementasan di Tinambung menjadi pemantik semangat baru untuk membawa Cahaya Maha Cahaya melancong ke Parepare. Syarifuddin Razak ---yang kini dikenal sebagai Kepala Desa Tandung--- menjadi salah satu penggerak utama rencana tersebut. Ia berusaha membujuk sepupunya, Andi Samsani, agar membantu membuka jalan. Kebetulan, ayah Andi Samsani saat itu menjabat sebagai pejabat militer di Korem Parepare. Alhasil, Andi Samsani bersedia menjadi sponsor pribadi sekaligus satu-satunya penanggung logistik bagi keberangkatan dan pementasan Cahaya Maha Cahaya ke Parepare.

***

Setelah semua persiapan dirasa matang, tim Cahaya Maha Cahaya berangkat ke Pare-Pare menggunakan bus umum. Sekitar tiga puluh orang, terdiri dari pemain dan kru, ikut dalam perjalanan itu. Setibanya di Pare-Pare, mereka ditempatkan di salah satu rumah warga setempat.

Menariknya, pemain dan kru sempat berada di Pare-Pare selama beberapa hari sebelum bisa manggung. Mereka tidak bisa segera tampil karena proses perizinan belum selesai. Sambil menunggu, kegiatan mereka terbatas pada latihan kecil-kecilan, makan, dan tidur.

Tim produksi, yang dipimpin Andi Samsani, bergerak cepat untuk mengurus perizinan. Meski demikian, izin tidak dapat langsung diterbitkan karena ada dua kendala. Kendala utama ternyata terletak pada dua kalimat dalam naskah yang dibaca pihak berwenang; kata-kata itu terdengar janggal dan asing. 

Meski menghadapi hambatan, tim produksi terus mencari jalan. Mereka terlanjur berada di Pare-Pare dan Cahaya Maha Cahaya harus dipentaskan. Akhirnya, mereka bertemu dengan seorang perwira polisi asal Sendana yang juga sedang bertugas di Pare-Pare, Saeruddin Mandra, dan bersedia menjadi jaminan. Berkatnya, izin akhirnya diterbitkan dan pementasan pun diperbolehkan.

Dua kalimat yang sempat mengganjal proses perizinan itu adalah “Arab bila ‘ain dan “Ahmad bila mim,” sebuah terminologi dari khazanah tasawuf, yang merujuk pada “Arab tanpa ‘ain (Rab)” dan “Ahmad tanpa Mim (Ahad).” 

Padahal dalam naskah itu terdapat puisi yang jauh lebih berdaya juang, sebuah sajak dari buku Cahaya Maha Cahaya, berjudul Hizib.
Bismillah alam semesta,
Bismillah darah manusia, …

Tabeqq…
Tinambung, 25/10/2025

Minggu, 26 Oktober 2025

GARA-GARA NAMA EMHA DIPANJANGKAN



Catatan Hamzah Ismail 

Salah satu gawean besar Teater Flambonyant pada tahun 1990-an yang sempat menyedot perhatian media lokal maupun nasional adalah upaya mempertemukan Prof. Dr. H. Baharuddin Lopa, S.H., M.H. dengan Emha Ainun Nadjib.  Saat itu, Baharuddin Lopa sedang menjabat Sekjen Komnas HAM sekaligus Dirjen Lapas Departemen Kehakiman, sementara Emha Ainun Nadjib, tokoh nasional yang tengah dicekal rezim Orde Baru karena kritik-kritiknya yang tajam terhadap kekuasaan. Keduanya dijadwalkan bertemu dalam sebuah seminar bertema “Kebebasan Berekspresi”.

Beberapa hari menjelang hari “H”, panitia dikejutkan oleh kabar bahwa Emha Ainun Nadjib tidak diperkenankan berbicara dalam seminar tersebut. Alasannya: panitia disebut belum memiliki izin resmi. Pihak keamanan meminta agar izin kegiatan harus dikeluarkan langsung oleh Kapolda Sulawesi Selatan, padahal izin dari Polres Polewali Mamasa sudah di tangan panitia selama seminggu.

Menanggapi situasi itu, panitia segera berkoordinasi dengan pihak kepolisian. Ternyata benar: panitia diarahkan untuk mengurus izin ke Polda. Namun waktu yang tersisa sudah terlalu mepet. Akhirnya, panitia memutuskan untuk nekat melanjutkan acara hanya dengan izin dari Polres Polmas. Apa pun risikonya, seminar harus tetap jalan.

Kasus ini cepat menyebar ke media. Jawa Pos memuat berita berjudul “Emha dan Baharuddin Lopa Akan Bersanding di Mandar”, sedangkan Republika ---yang kala itu menjadi pesaing serius Kompas--- menjadikannya sebagai tajuk rencana.

Berita pencekalan itu membuat tokoh-tokoh Mandar turun tangan. Bahkan Bupati Polmas, Andi Kube Dauda, ikut melobi Kapolres. Pak Kube Dauda merasa tak enak, sebab salah satu pembicara yang akan dihadirkaan, Baharuddin Lopa, putra Mandar yang menjabat di tingkat nasional.

Sebagai ketua panitia pelaksana, saya bersama rekan-rekan mendapat arahan dari beberapa tokoh Mandar ---Husni Djamaluddin, Subaer Rukkawali, dan Puang Mappa (Andi Mappatunru). Kami diminta mundur selangkah: seminar tetap berlangsung, Emha tetap dihadirkan, tetapi tidak boleh berbicara.

Kami setuju, namun mengusulkan alternatif lain: Emha ditampilkan sebagai pembaca Qalam Ilahi. Kami yakin, bila ia mengaji, ia pasti akan berbicara banyak, setidaknya mengulas ayat-ayat yang ia baca.

Sayangnya, rencana itu batal. Tokoh-tokoh Mandar yang mendampingi kami bersikeras agar Emha tidak tampil sama sekali ---cukup hadir di dalam ruangan. Kami pun, lagi-lagi, mengalah.

Malam hari, selepas Isya, sekitar lima ratusan peserta memadati gedung di Gunung Mita. Seminar dimulai. Husni Djamaluddin bertindak sebagai moderator. Dua pembicara tampil di panggung: Baharuddin Lopa dan Subaer Rukkawali. Sementara itu, Emha Ainun Nadjib duduk di barisan depan, di samping Mara’dia H. Abdul Malik Pattana I Yendeng, seperti peserta biasa.

Di luar gedung, suasana tegang. Aparat kepolisian berjaga ketat, dipimpin langsung oleh Wakapolres. Puluhan intel berpakaian preman lalu-lalang, mengawasi panitia dan peserta. 

Sempat ada panitia yang nyaris beradu urat leher dengan Wakapolres, tetapi Paramisi Ma’dua, tokoh disegani, segera menahannya sebelum benturan terjadi.

Usai seminar di Gedung Mita Tinambung, rombongan berpindah ke rumah Puang Mappa di Kandeapi, hanya beberapa ratus meter dari lokasi acara. Di rumah itulah ---tanpa mikrofon, tanpa izin, tanpa panggung resmi--- Baharuddin Lopa, Emha Ainun Nadjib, Husni Djamaluddin, Subaer Rukkawali, Alisjahbana, dan sejumlah tokoh lainnya, serta puluhan pemuda Mandar menggelar pertemuan bebas. Mereka berbicara dengan semerdeka-merdekanya, sementara intel aparat masih mondar-mandir di jalan depan rumah.

Lalu, mengapa izin seminar dari Polres Polmas itu bisa terbit pada awalnya, yang belakangan hendak dibatalkan sepihak?

Rahasianya sederhana.

Ketika panitia mengajukan permohonan izin ke Polres Polmas, kami mencantumkan belasan nama pembicara. Nama Emha Ainun Nadjib kami letakkan di urutan ketiga dari terakhir, lalu dipanjangkan menjadi “Muhammad Ainun Nadjib.”

Harapannya sederhana: nama itu tidak dikenali. Sebab, penulisan lengkap “Muhammad Ainun Nadjib” tidak lazim digunakan.

Dari Emha menjadi Muhammad, tampak sepele, tapi cukup untuk mengecoh siapa pun yang tidak betul-betul mengenal sosoknya.

Dan benar saja: izin itu pun terbit tanpa masalah.

Tabeeqqq.
Tinambung, 26 Oktober 2025, dini hari.

Keterangan Foto: 
1. Emha Ainun Bersama Mara'dia Balanipa H. Abdul Malik Pattana I Yendeng
2. Emha Ainun Nadjib bersama Prof. Dr. H. Baharuddin Lopa, SH, MH

Minggu, 12 Oktober 2025

Saat Bunda Cammana ‘Memerintah’ Malaikat'

Ketika dua orang ‘murid’ Al Mukarram Bunda Cammana, keduanya ASN, mendapat kepercayaan dari atasannya, diberi amanah menjadi tomawuwenna kappung, dua orang itu mendapat kepecayaan menjadi camat masing-masing di dua kecamatan. Sebutlah (nama samaran) murid petama bernama Hasbullah, dan murid kedua bernama Abdul Gaffar. 

Hasbullah saat pertama kali berangkat ke tempat tugasnya yang baru, terlebih dahulu ia singgah untuk ‘pamit’ dan berharap mendapatkan ‘jimat’ keselamatan dari Al Mukarram Bunda Cammana. 

Pagi sekali Hasbullah tiba di rumah Bunda. 

Baru saja Hasbullah masuk ke ruang tamu dan kursi yang didudukinya belumlah terasa hangat, di luar dugaan, tiba-tiba Bunda berseru ke ruang dapurnya, agar Hasna puteri beliau, segera mengangkat kappar, dan membawanya ke ruang tengah. 

Bunda : “Ka’na, akkke’i iting mai kappar, Nak o!”

Hasna bersegera menyahuti ‘perintah’ Bunda. Seketika tergelarlah kappar, berisi aneka macam penganan, sokkol, loka tiraq, beserta beberapa kelengkapannya, ternyata Bunda Cammana secara mandiri telah menyiapkan ‘ritual’ mambaca-baca sebagai proses syukuran atas capaian muridnya, tanpa memberi tahu sebelumnya. 

Hasbullah pun diminta untuk mengambil posisi tepat berhadapan dengan Bunda Cammana. Hasbullah sungguh tidak menduga, jika ia akan ‘dirayakan’ oleh Bunda Cammana, sesaat sebelum ia melakukan tugas pertama di kantornya yang baru. Hasbullah hanya bisa diam, sambil berkaca-kaca matanya. 

Sungguh diluar dugaan, ia akan dipelakukan seperti itu, sebab Hasbullah bukan kali ini saja ia mendapat amanah, setidaknya sudah tiga kali mutasi jabatan formal pemerintahan, tapi satu pun, tidak pernah ada niat, baik dari dirinya sendiri maupun dari keluarga (istri dan anak-anaknya) untuk melakukan ‘perayaan’ yang sama sebelum ia bekerja di tempat tugas yang baru.

Undung kemudian dibakar, wangi kemenyan pun merebak harumnya kemana-mana, memenuhi segala ruangan. Prosesi mambaca-baca sebagai tanda syukuran pun di mulai. Doa dan shalawat mengalir lirih dari mulut Bunda Cammana. Hasbullah ikut larut di dalamnya, menirukan bunyi shalawat Bunda. 

Tiba di puncak doa, Bunda Cammana mengangkat, lalu menengadahkan tangannya mengarah langit, agak tinggi ia mengangkat tangannya. Lalu menyapa Allah, membujuk akan turunnya berkah Muhammad SAW., dan terakhir… Bunda ‘memerintah’ Malaikat, lirih Bunda berseru,

“Demi kuasa Allah, dan berkah Rasulullah Muhammad SAW, 
Wahai seluruh Malikat, wahai Kiramun Katibin, 
jagalah dua anakku, Hasbullah dan Abdul Gaffar,
selama keduanya bekerja di tempat tugasnya yang baru.”

Hasbullah tercengang mengamati cara Bunda Cammana menyeru langit seperti itu, bahwa Tuhan, Nabi dan Malaikat, tampak terasa amat dekat baginya. Menyerunya, tidak perlu teriak-teriak, apalagi keras, cukup dengan bisikan lirih dan sedikit airmata.

Lalu kepada Hasbullah, disodorkan sebuah paket kecil, sekira ukurannya tiga kali empat. Tampak benar bagian paling luar dari paket itu, foto Tosalamaq Imam Lapeo. Hasbullah menyalami dan mencium tangan Bunda Cammana, saat menerima paket itu. 

Salaman lalu cium tangan, menurut Hasbullah adalah penanda “halalnya sebuah pemberian dan berkahnya sebuah penerimaan.” 

Hmmm…. Diam-diam Hasbullah, merasakan adanya energi tambahan… 

Keterangan Foto: Mbah Nun bersama Bunda Cammana, di Limboro (rumah Bunda). Sumber foto: caknun.com

Rabu, 08 Oktober 2025

BUKU Ibu Agung Hj. Andi Depu (2018-2020)

Pengantar Penerbit 

Bagi seorang tokoh sejarah, perjuangan merupakan tuntutan dan panggilan hidup yang dipenuhi demi kemaslahatan bersama. Ada pun “ganjaran” berupa apresiasi, sikap hormat, bahkan penganugerahan sebuah gelar kepahlawanan adalah konsekwensi logis dari sikap perjuangan. Dalam konteks gelar Pahlawan Nasional yang diterima Ibu Agung Hj. Andi Depu, itu menunjukkan apresiasi tinggi dan penghormatan semua pihak, termasuk negara, atas perjuangan bersejarah seorang Arajang Mandar. Secara riil ini merujuk pada keyakinan bahwa “bangsa yang besar ialah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.”

Ibu Agung Hj. Andi Depu dengan gagah berani menunaikan darma baktinya sebagai pelopor dan pemimpin perjuangan di Sulawesi Barat, bahkan Sulawesi Selatan, dalam rentang yang panjang. Mulai menghadapi kolonial Belanda, militerisme Jepang hingga upaya mempertahankan kemerdekaan yang sudah diproklamasikan. Semua itu menuntut daya juang yang tinggi (militansi), konsistensi, visi kebangsaan, dan tak kalah penting sikap rela berkorban. Nilai-nilai itu niscaya menjadi rujukan dan suri tauladan bagi generasi yang hidup pada masa Andi Depu berjuang, generasi sekarang yang bisa melacak jejak perjuangannya secara referensial, maupun generasi yang akan datang melalui sumber-sumber sejarah yang diwariskan-salah satunya melalui buku yang menjadi tulang punggung dunia literasi. 

Muhammad Munir, penulis buku Ibu Agung Hj. Andi Depu, Pahlawan Nasional dari Mandar ini, menuliskan dengan lengkap dan relatif menyeluruh sosok Hj. Andi Depu. Menariknya, apa yang dikisahkan Muhammad Munir tidak langsung tentang peran Andi Depu dalam perjuangan, namun menceritakan juga kehidupannya sejak awal di tengah keluarga besarnya. Kisah-kisah di tengah keluarga ini merepresentasikan kehidupan bangsawan Mandar yang memiliki kepedulian pada penderitaan rakyat yang sedang terjajah. 

Oleh karena itu, muncullah perlawanan dan pemberontakan di mana-mana. Bagian ini menjadi lengkap karena jejak-jejak perlawanan rakyat Mandar dikisahkan dalam bab awal, sehingga bisa dibaca sebagai latar kemunculan militansi Hj. Andi Depu, bahwa ia tidak sendiri. Kepahlawanan Andi Depu tidak muncul dari “ruang hampa”, namun didukung oleh semesta lingkungan tempat ia tinggal dan  dirajakan, yakni Tanah Mandar yang dikenal sebagai Pitu Ulunna Salu dan Pitu Ba’banna Binanga. Lewat cara ini kita dapat menundukkan kepala menghikmati kenyataan bahwa sosok kepahlawanan Hj. Andi Depu niscaya merepresentasikan sikap kepahlawanan para pejuang Mandar dan akhirnya seluruh masyarakat Mandar. 

Sebagai buku sejarah, penulisnya sadar betul bahwa unsurunsur sejarah menjadi bingkai sekaligus landasan dari keseluruhan kisah. Menurut Nugroho Notosusanto (1984), sejarah mempunyai dua arti, yakni (1) sejarah sebagai peristiwa-peristiwa) pada masa lampau dan (2) sejarah sebagai kisah dari peristiwa-peristiwa) itu. Dengan kata lain, sejarah dapat berarti sejarah sebagai peristiwa dan sejarah sebagai kisah.

Nah, Muhammad Munir berhasil mentransformasikan peristiwa masa lampau melalui kemampuan berkisah yang baik. Ia mengolah sumber-sumber sejarah yang dikumpulkan dengan intens, dengan melibatkan Tim Kreatif dan dilengkapi banyak foto yang memiliki nilai dokumentasi tinggi, sehingga kehadirannya bukan sekedar pelengkap, tapi bagian tak terpisahkan dari narasi sejarah, termasuk proses pengajuan Andi Depu sebagai Pahlawan Nasional, yang dilakukan sangat antusias oleh masyarakat Mandar.  

Akhirulkalam, tak ada gading yang tak retak. Kami mohon maaf atas segala kekurangan, dan mengharapkan kritik/saran dari para pembaca sekalian.

Senin, 06 Oktober 2025

TAMMALELE || Sang Budayawan Nyentrik

Oleh : Ilham Sopu

Nama Tammalele yang akrab dipanggil A'ba Lele adalah nama yang sangat familier di daerah Mandar. Setiap berbicara budaya, seni, sosiolog, antropologi sekaitan dengan mandar, nama ini tidak pernah luput dari perbincangan. Dialog-dialog, diskusi-diskusi, seminar-seminar, pertemuan-pertemuan budaya, diskusi-diskusi pojok, diskusi-diskusi kampung, nama Tammalele selalu melekat dalam pertemuan tersebut. A'ba Lele adalah budayawan yang lahir  dari alam, universitasnya alam, budayawan yang lahir secara otodidak. Ia lahir di kappung Pambusuang di tahun 60 an. 

Di awal kehidupannya di kappung Pambusuang, A'ba Lele banyak ditempa dengan cerita-cerita ala Pambusuang yang biasanya berpusat di barung-barung di berbagai sudut kampung. Pambusuang kaya dengan berbagai tempat-tempat diskusi yang mengupas berbagai materi-materi diskusi yang muncul secara spontan, dan diperbincangkan di tempat-tempat pertemuan seperti "barung-barung", di tempat inilah yang menjadi ciri khas Pambusuang masa lalu dan sampai saat ini.

A'ba Lele bukan hanya mahir dalam bicara budaya, seni, tapi juga sangat menguasai term-term keagamaan klasik yang banyak diperbincangkan orang dengan analisis sosial kesejarahan Pambusuang pada masa dulu, dia banyak tau sejarah para annangguru di Pambusuang, pemikiran-pemikirannya, dan berbagai latar belakang keahlian para annangguru, serta perdebatan-perdebatan keilmuan antara satu annangguru dengan annangguru yang lain.

Perdebatan atau diskusi dengan sesama annangguru adalah hal yang sering terjadi di Pambusuang, dan itu secara tidak terjadwal, dimanapun mereka berkumpul, seperti di tempat-tempat hajatan, di pasar, di pinggir laut, di barung-barung, di sudut-sudut rumah, hampir selalu terjadi diskusi yang materinya lebih banyak berkaitan dengan masalah keagamaan. Lewat diskusi-diskusi seperti ini A'ba Lele kecil, banyak menyerap percikan-percikan pemikiran annangguru yang berdiskusi pada waktu itu. Disinilah tempat belajar A'ba Lele mengais ilmu-ilmu keagamaan dan model-model berdiskusi ala Pambusuang.

Model pembelajaran keagamaan yang didapatkan A'ba Lele bukanlah model formal, tapi lebih banyak model-model non formal lewat diskusi-diskusi ala kampung yang marak terjadi di berbagai tempat di Pambusuang pada waktu itu. Di tahun 80 an, A'ba Lele banyak menghabiskan waktunya untuk mengajar ilmu sejarah di pesantren Nuhiyah Pambusuang, sekaligus juga memanfaatkan untuk memperdalam ilmu-ilmu keagamaan kepada KH Abdurrahman, pimpinan pesantren Nuhiyah Pambusuang yang dikenal sebagai annangguru yang banyak mengkader generasi-generasi pelanjut keilmuan keagamaan di Pambusuang.

Disamping penguasaan metode-metode debat ala Pambusuang, A'ba Lele juga aktif mengikuti perkembangan keilmuan nasional lewat tokoh-tokoh nasional yang menjadi rujukannya, seperti Emha Ainun Najib yang lebih akrab dipanggil Cak Nun, seorang budayawan yang mumpuni, sekaligus seorang Kiai. A'ba Lele banyak mengais ilmu lewat Cak Nun, melalui interaksi langsung maupun lewat buku-buku Cak Nun yang banyak beredar di tahun 80 an sampai 90 an, hampir semua buku-buku Cak Nun menjadi koleksinya dan betul-betul menguasai pemikiran-pemikiran Cak Nun.

Pemikiran-pemikiran keagamaan A'ba Lele lebih banyak diraup dari pemikiran keagamaan Cak Nun, sehingga A'ba Lele ini bisa disebut anak pemikiran ideologis Cak Nun, dan memang tempat tinggal A'ba Lele sekarang ini, ada terbentuk komunitas pencinta Cak Nun tepatnya di Tinambung, yang dikenal sebagai kampung yang banyak melahirkan budayawan-budayawan handal di tanah mandar, seperti budayawan atau panglima puisi Husni Jamaluddin.

A'ba Lele saat ini, lebih banyak menghabiskan waktunya untuk memberikan pencerahan kebudayaan kepada generasi-generasi muda di wilayah Sulbar khusus Balanipa Majene, hampir semua kegiatan-kegiatan budaya seni dan keilmuan lainnya A'ba selalu menjadi rujukan utama dalam memberikan kontribusi untuk generasi pelanjut terkait dengan kemajuan kebudayaan di tanah Mandar. Kehadiran berbagai tokoh-tokoh budaya nasional, di Sulbar A'ba Lele selalu menjadi rujukan pendamping sebagai pembicara untuk mendampingi tokoh-tokoh nasional tersebut.

Dan sudah banyak kader-kader ideologis A'ba Lele yang ada di Sulbar bahkan ditingkat nasional, untuk melanjutkan pemikiran-pemikirannya. Jejak-jejak pemikiran budaya A'ba Lele sudah banyak tersebar dimana-mana di wilayah Sulbar, dan pemikiran itu sebagai aset Sulbar sebagai rujukan dalam membangun sulbar khususnya yang terkait pembangunan kebudayaan di Sulawesi Barat, saatnya sekarang pemerintahan Sulbar untuk bisa memberi apresiasi terhadap berbagai sumbangan pemikiran kebudayaan terhadap A'ba Lele.

(Bumi Pambusuang, 6 Oktober 2025)