Minggu, 12 Oktober 2025

Saat Bunda Cammana ‘Memerintah’ Malaikat'

Ketika dua orang ‘murid’ Al Mukarram Bunda Cammana, keduanya ASN, mendapat kepercayaan dari atasannya, diberi amanah menjadi tomawuwenna kappung, dua orang itu mendapat kepecayaan menjadi camat masing-masing di dua kecamatan. Sebutlah (nama samaran) murid petama bernama Hasbullah, dan murid kedua bernama Abdul Gaffar. 

Hasbullah saat pertama kali berangkat ke tempat tugasnya yang baru, terlebih dahulu ia singgah untuk ‘pamit’ dan berharap mendapatkan ‘jimat’ keselamatan dari Al Mukarram Bunda Cammana. 

Pagi sekali Hasbullah tiba di rumah Bunda. 

Baru saja Hasbullah masuk ke ruang tamu dan kursi yang didudukinya belumlah terasa hangat, di luar dugaan, tiba-tiba Bunda berseru ke ruang dapurnya, agar Hasna puteri beliau, segera mengangkat kappar, dan membawanya ke ruang tengah. 

Bunda : “Ka’na, akkke’i iting mai kappar, Nak o!”

Hasna bersegera menyahuti ‘perintah’ Bunda. Seketika tergelarlah kappar, berisi aneka macam penganan, sokkol, loka tiraq, beserta beberapa kelengkapannya, ternyata Bunda Cammana secara mandiri telah menyiapkan ‘ritual’ mambaca-baca sebagai proses syukuran atas capaian muridnya, tanpa memberi tahu sebelumnya. 

Hasbullah pun diminta untuk mengambil posisi tepat berhadapan dengan Bunda Cammana. Hasbullah sungguh tidak menduga, jika ia akan ‘dirayakan’ oleh Bunda Cammana, sesaat sebelum ia melakukan tugas pertama di kantornya yang baru. Hasbullah hanya bisa diam, sambil berkaca-kaca matanya. 

Sungguh diluar dugaan, ia akan dipelakukan seperti itu, sebab Hasbullah bukan kali ini saja ia mendapat amanah, setidaknya sudah tiga kali mutasi jabatan formal pemerintahan, tapi satu pun, tidak pernah ada niat, baik dari dirinya sendiri maupun dari keluarga (istri dan anak-anaknya) untuk melakukan ‘perayaan’ yang sama sebelum ia bekerja di tempat tugas yang baru.

Undung kemudian dibakar, wangi kemenyan pun merebak harumnya kemana-mana, memenuhi segala ruangan. Prosesi mambaca-baca sebagai tanda syukuran pun di mulai. Doa dan shalawat mengalir lirih dari mulut Bunda Cammana. Hasbullah ikut larut di dalamnya, menirukan bunyi shalawat Bunda. 

Tiba di puncak doa, Bunda Cammana mengangkat, lalu menengadahkan tangannya mengarah langit, agak tinggi ia mengangkat tangannya. Lalu menyapa Allah, membujuk akan turunnya berkah Muhammad SAW., dan terakhir… Bunda ‘memerintah’ Malaikat, lirih Bunda berseru,

“Demi kuasa Allah, dan berkah Rasulullah Muhammad SAW, 
Wahai seluruh Malikat, wahai Kiramun Katibin, 
jagalah dua anakku, Hasbullah dan Abdul Gaffar,
selama keduanya bekerja di tempat tugasnya yang baru.”

Hasbullah tercengang mengamati cara Bunda Cammana menyeru langit seperti itu, bahwa Tuhan, Nabi dan Malaikat, tampak terasa amat dekat baginya. Menyerunya, tidak perlu teriak-teriak, apalagi keras, cukup dengan bisikan lirih dan sedikit airmata.

Lalu kepada Hasbullah, disodorkan sebuah paket kecil, sekira ukurannya tiga kali empat. Tampak benar bagian paling luar dari paket itu, foto Tosalamaq Imam Lapeo. Hasbullah menyalami dan mencium tangan Bunda Cammana, saat menerima paket itu. 

Salaman lalu cium tangan, menurut Hasbullah adalah penanda “halalnya sebuah pemberian dan berkahnya sebuah penerimaan.” 

Hmmm…. Diam-diam Hasbullah, merasakan adanya energi tambahan… 

Keterangan Foto: Mbah Nun bersama Bunda Cammana, di Limboro (rumah Bunda). Sumber foto: caknun.com