Tampilkan postingan dengan label Tradisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tradisi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 September 2026

SANDEQ RACE BUKANLAH SANDEQ SILUMBA


CATATAN SEJARAH:

SANDEQ RACE BUKANLAH SANDEQ SILUMBA
 
Pelestarian Lebih Penting daripada Sekadar Lomba
 
Oleh: Abdul Watif Waris I 24 September 2026

Jauh sebelum Provinsi Sulawesi Barat lahir, jauh sebelum anggaran daerah ada, kami — sekelompok pencinta bahari — sudah memulai sesuatu yang lahir dari keprihatinan, bukan sekadar kegembiraan.
 
BENIH YANG DITANAM DARI KEPEDULIAN
 
Sahabat kecil saya mondok di Pesantren IMMIM, Mahfud Sappe — fotografer dunia asal Segeri Pangkep — lah yang pertama kali menyadari hal mendesak: perahu sandeq kian jarang terlihat di laut. Waktu itu foto karyanya terpilih sebagai salah satu dari 10 foto terbaik dunia, dan ia membawa sandeq hadir secara fisik sebagai maskot pameran di Prancis — bukan untuk pesta, melainkan untuk mengingatkan dunia: warisan ini nyaris punah.
 
Pulang ke tanah air, bersama rombongan passandeq dari Rangas Majene, ia bermaksud memotret sandeq saat berlayar — agar orang melihatnya hidup, bukan hanya di lembar foto. Di perairan Pambusuang dan Majene, saat lomba segitiga digelar, Mahfud bersama kawan-kawan hadir memotret. Bersama kami pula Horst Libner  — peneliti asal Jerman yang tekun mencatat setiap hal tentang sandeq sebelum terlupakan.
 
Melihat hasil jepretan, Mahfud mengajukan gagasan:
 
"Mengapa tidak dilombakan secara etape, berlayar dari Majene → Polewali → Ujung Lero → Garongkong → hingga Makassar?"
 
Itulah lahirnya SANDEQ RACE.
 
BUKAN LOMBA UNTUK LOMBA — TUJUAN UTUHNYA PELESTARIAN
 
Perlu ditegaskan: Sandeq Race bukan diadakan sekadar untuk berlomba. Tujuan utamanya jauh lebih mendesak — memantik kembali kehidupan perahu sandeq yang nyaris punah.
 
Saat itu, perahu cadik khas Mandar ini makin jarang dibuat, makin jarang berlayar. Jumlahnya saat ini tersisa tak cukup bilangan jari tangan. Maka Sandeq Race digelar agar perahu-perahu itu kembali dibangun, kembali diturunkan ke laut, kembali diwariskan ke anak-anak — agar warisan budaya bahari Mandar yang berpotensi diakui dunia tidak lenyap.
 
Pada masa-masa awal, lomba ini juga menjadi ajang pesan rakyat: atas inisiatif sendiri, para peserta menuliskan "SULBAR" di buritan perahu. Ketika bersandar di Pantai Losari, Makassar — itu adalah suara tanpa kata: tanah di sebelah barat ini berhak berdiri sendiri. Semua berlangsung tanpa satu rupiah pun APBD, jauh sebelum Sulbar berdiri.

SANDEQ SILUMBA: EVEN BARU, BUKAN PENGGANTI NAMA
 
Setelah Suhardi Duka terpilih menjadi Gubernur Sulbar tahun 2025, muncul kegiatan bernama "Sandeq Silumba", dibiayai APBD Sulbar.
 
Pemerintah menyebut Sandeq Silumba sebagai perubahan nama atau transformasi dari Sandeq Race. Sebagai salah seorang yang terlibat dalam kelahiran Sandeq Race, saya mempunyai pandangan berbeda. Bagi saya, Sandeq Silumba adalah kegiatan baru yang mengadopsi sejumlah format Sandeq Race, tetapi tidak identik dengan sejarah, semangat, dan model pengorganisasian Sandeq Race pada masa awal.
 
Ini even yang berbeda dan baru. Memang mengadopsi sistem dan aturan yang kami susun — namun asal, maksud, dan sumber dana berbeda. Yang lahir dari keprihatinan masyarakat tanpa anggaran, kini dijalankan pemerintah dengan APBD.
 
APRESIASI TANPA MELUPAKAN HAKIKAT
 
Semakin banyak even sandeq digelar, patut diapresiasi. Namun akan jauh lebih afdal — tepat dan berkenan — jika Pemprov Sulbar yang menggunakan APBD memberi penekanan terbesar pada pelestarian budayanya, bukan sekadar kemeriahan lomba. 

Disclimer; 80-an Sandeq yang ikut lomba adalah Sandeq yg didesain khusus untuk lomba. Perahu Sandeq yang sesungguhnya nyaris punah
 
- Bangun perahu, latih pembuat perahu, ajarkan anak-anak mengayuh — itu pelestarian sejati
​
- Lomba hanyalah puncak gunung; fondasinya adalah memastikan sandeq tetap hidup di perairan kita
​
- Uang APBD adalah amanat rakyat — sebaiknya ditujukan agar warisan ini tak kembali menipis hingga nyaris hilang 

DANA NEGARA WAJIB TERBUKA — FAKTA SPSE BICARA SENDIRI
 
Karena menggunakan APBD, pengadaan Sandeq Silumba harus tunduk pada aturan pengadaan barang/jasa pemerintah serta prinsip transparansi, keterbukaan, persaingan, keadilan dan akuntabilitas. Untuk penyelenggaraan Sandeq Silumba 2026, Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat menggunakan mekanisme tender melalui SPSE.

Data SPSE memberikan sejumlah informasi yang menurut saya patut dijelaskan kepada publik. Paket “Belanja Jasa Penyelenggaraan Acara – Sandeq Silumba” dibuat pada 19 Agustus 2026, sedangkan pengumuman tender baru dimulai 1 September. Pemenang diumumkan 11 September. Dari 12 perusahaan yang tercatat sebagai peserta, hanya satu perusahaan yang tercatat memasukkan penawaran.

Riwayat SPSE juga menunjukkan bahwa masa sanggah yang semula dijadwalkan 12–17 September kemudian diubah. Jadwal akhirnya mencantumkan masa sanggah pada 14 September pukul 08.00–08.05 dan SPPBJ dapat dimulai pukul 08.10. Alasan perubahan yang tercatat dalam SPSE adalah karena hanya terdapat satu peserta yang memasukkan penawaran.

Fakta-fakta tersebut belum dengan sendirinya membuktikan adanya pelanggaran ataupun pengaturan pemenang. Namun karena kegiatan ini menggunakan uang publik, dasar perubahan jadwal tersebut, proses penyusunan HPS, ruang lingkup pekerjaan penyedia, dan waktu sebenarnya penyedia mulai bekerja layak dijelaskan secara terbuka.

Jika sejumlah pekerjaan persiapan substantif telah berlangsung sebelum paket pengadaan dibuat, bagian mana dari pekerjaan tersebut yang kemudian menjadi kewajiban penyedia dalam kontrak senilai sekitar Rp942 juta? Apakah pekerjaan sebelum tender sepenuhnya dilakukan panitia/pemerintah, atau ada bagian yang kemudian masuk ke dalam kontrak penyedia?

Rabu, 18 September 2024

TAK CUKUP BACA QURAN, TAPI HARUS NGAJI

Catatan Muhammad Munir

Kemarin, di sebuah mushallah yang jauh dari hingar bingar perkotaan. Peringatan 12 Rabiul Awal ikut diperingati sebagai momentum kelahiran Nabiyullah Muhammad SAW. Setelah rangkaian dzikir, shalawat dan asyrakal badru dilantunkan. Doa dilangitkan seiring tampilnya seorang ustadz yang tampilannya khas nusantara dengan peci, sarung dan sorban. 

Bacaannya fasih, artikulasinya jelas saat berbicara dengan bahasa Mandar. Kefasihan itu terlihat saat mengutip sebuah ayat: Athi'ullah, Wa Athi'urrasul Wa ulil amri minkum. Taatlah kamu kepada Allah, Kepada Rasulnya, dan kepada pemimpin diantara kamu sekalian. Hal sedikit membuat saya tersedak ketika dengan mudah ia mengatakan bahwa tidak termasuk taat pada poin ketiga kalau pabali-bali kepada Pak Dusun, Pak Desa dan seterusnya. Ustadz ini bahkan menegasikan bahwa tidak turut pada Kepala kampung termasuk sebuah pengingkaran   terhadap ayat wa ulil amri minkum. 

Saya yang ikut hadir dengan pakaian kaos oblong tapi berpeci dan bersarung hanya sugiging ditempat menyaksikan seorang ustadz tapi kurang ngaji. Bisa-bisanya ia menyamakan makna ulil amri dengan umara. "Maafkan aku Tuhan, kenapa sampai hari ini masih banyak ustadz yang tergolong kondang tapi tak faham substansi sebuah ayat yang dijaikan tema ceramah". Batinku lirih. Jika semua ustadz yang kerap jadi pilihan warga saat ada acara penting begini, bagaimana masa depan umat kedepan?. 

Dalam kecamuk batin yang membuncah itu, saya coba istighfar untuk sekedar menenangkan diri atas sebuah ketidakmampuan yang dipertontonkan seorang yang kategori panutan umat. Bisa-bisanya ia tanpa beban menerjemahkan ulil amri setingkat kepala dusun, desa dan seterusnya. Saya kemudian tersadar, bahwa menuntut semua ustadz pernah ngaji kitab gundul dan talakki adalah sebuah ego yang dipaksakan. Saya tak mungkin juga menegurnya, sebab ini persoalan etika, bukan persoalan kulil haqqa walaw kana murran. 

Secara, ayat ini kadang jadi langganan ustadz tim sukses yang umumnya direkrut oleh calon petahana. Dan umumnya, ayat ini seringkali jadi bahasan meski jelas pelakunya tak faham bahasa. Umara dan Ulil Amri secara bahasa sangat jelas, pemerintah dan pemimpin. Disini dibituhkan pemahaman bahasa yang matang sebab akan sangat berbahaya jika rujukannya hanya modal terjemahan saja. 

Umara jelas pemimpin yang bisa dirujukkan ke kepala dusun sampai kepala negara. Tapi ulil amri meski terjemahannya adalah pemimpin, tapi ia dibatasi oleh kata Waw pada setiap awal kata dalam ayat itu. Waw yang digunakan pada ayat itulah yang membatasi makna pemimpin dalam kontes ulil amri. Sangat jelas waw itu mengisyaratkan pembatasan sekaligus memberi syarat atas pemimpin yang dimaksudkan. Wa ulil amri minkum ini bersyarat karena Waw yang digunakan adalah waw ruthubiyah, bukan waw maiyah maupun waw athfiyah (menurut salah satu annangguru kitta' di Campalagian). Syarat yang dimaksud pada ayat itu adalah pemimpin yang maksum, dan di Indonesia tak ada pemimpin yang bisa dinisbatkan. 

Kondisi ini mesti menjadi gerakan kolektif untuk terus mawas diri dengan upaya pembodohan yang justru dilakukan oleh tokoh agama bergelar ustadz. Tak boleh ada pembiaran terhadap oknum ustadz yang mengandalkan terjemahan, sebab sejatinya ustadz harus punya ilmu dan pemahaman yang mumpuni. 

Botto, 12 Rabiul Awal 1446 H.

Kamis, 04 April 2024

BUNYI MANDAR ITU APA? (Bagian 1)

BUNYI MANDAR ITU APA? (Bagian 1)
(Loa Dalam Makna Ganda)
Oleh: Sahabuddin Mahganna

Syuman Saeha menggelitik dengan pertanyaan, lalu saya menjadikan judul di atas, ini menarik. Mandar yang boleh jadi melakukan atas dasar aksi, melakukan tindakan, atau gerakan spekulatif, lalu menjadi nyata dan serius dalam menjalaninya, sebagai percobaan untuk menemukan sebuah kehidupan. Aksi dalam hal ini bukan dipahami atau dibatasi pada bentuk permainan dan pertunjukan saja, melainkan tindak atau laku secara langsung, terbuka dan terpercaya. Aksi-aksi itu kemudian nyata hingga menemukan kebenaran.

Ketika pendahulu Mandar melakukan ekspedisi, membuka lahan baru dan mencoba untuk menerapkan tata nilai dan aturan, kemudian disepakati sebagai jalan untuk menentukan sikap orang Mandar. Tentu saya akan mengarah atau melibatkan orang dalam memahami bunyi Mandar, meski ini sangat rumit menjelaskan dan sedikit dilema. Pelibatan dalam hal ini, orangnya yang berbunyi, begitupun jika menaruh kata-di-“jelas menadai wilayah”. Siapa orang Mandar? dan di mana wilayahnya? Jika ada orang Mandar menempati suatu wilayah maka tentu punya bahasa.

Busrah Basir ditemani dengan rekannya Bustan Basir, telah menafsir bahasa Mandar adalah suatu bunyi, dalam tulisnya secara teknis merujuk pada catatan Kridalaksana dalam Abdul Chaer (2003), bahwa bunyi adalah kesan pada pusat saraf sebagai akibat dari getaran gendang telinga yang bereaksi karena perubahan-perubahan dalam tekanan udara. Lanjut ia tambahkan bahwa bunyi tersebut dapat bersumber pada gesekan atau benturan benda-benda, alat suara pada binatang dan manusia, namun menurutnya terjadi pengklasifikasian terhadap bunyi, bahwa yang terjadi pada manusia atau lambing bahasa adalah bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia, dan jika tidak dihasilkan dalam ucap pada manusia, bukan kategori bunyi bahasa. 

Kalimat-kalimat dalam bahasa Mandar yang diucapkan kadang kita temukan bermakna ganda, sebut saja ketika tinjauannya berada pada dua pernyataan pragmatik oleh George Yule (1996), bahwa pragmatik adalah suatu kajian bahasa yang berkenaan syarat-syarat yang mengakibatkan serasi atau tidaknya yang dikomunikasikan, kemudian yang kedua bahwa pragmatik adalah telaah makna tuturan (utterence), yang menggumuli makna yang terikat oleh konteks (konteks-Dependent). Dari pragmatik ini, seakan bunyi orang Mandar adalah bunyi berbau sikap dan sifat. 

Tindak tutur orang Mandar dalam Lokusi yakni tindak tutur yang dilakukan untuk melakukan sesuatu, merupakan makna dasar dari tindak tutur tersebut (The Act Of Saying Something). Sebagai contoh Mammisi Uwai ( Air ini Manis) tidak ada maksud apa-apa sekadar menyatakan sesuatu itu. Kemudian Ilokusi berkata sesuatu, atau mengatakan sesuatu, sekaligus menindakkan sesuatu (The Act Doing Something). Pada kaitan ini, boleh jadi kalimat “Nawwatomitia ri’e pelloana to Mandar” adalah bahasa yang bermakna (Ini Bunyi Orang Mandar) sementara kata (Loa/Pau) dan lakunya orang Mandar adalah Kebenaran.

Pandangan ini, ilokusi tidak semata melihat loa atau Pau sebagai ucapan dalam arti secara langsung, melainkan sebagai pemaknaan atau bunyi tak terlihat, atau hanya pendengaran yang mampu menangkapnya kemudian menelaah apa maksud perkataan itu. Sementara dalam audio, manusia harus puas pada kepentingan rasa, sama ketika meninjau kebenaran sikap dan sifat, sasarannya kembali kepada rasa. Dan dengan pendekatan rasa inilah, memahami loa secara ilokusi sebagai sesuatu yang abstrak. Loa dalam pandangan sikap dan sifat, itu sangat tergantung pada bunyi lontaran, tidak bisa diterjemahkan atau dimengerti secara langsung, namun rasalah yang menentukan, sehingga boleh jadi pemahaman loa secara ilokusi dalam kalimat “nawwatomi tia ri’e pelloanan to Mandar”, ketentuannya merujuk pada perlakukan sikap dan sifat yang lurus, sama seperti Loa atau bunyi yang tak pernah ditemukan kebohongannya. (bersambung)

Kamis, 29 Februari 2024

RITUAL MACCERA' PARE (Tradisi Bercorak Sedekah)

MACCERA' PARE adalah ritual yang dilaksanakan oleh para petani padi pada setiap usai panen sampai sebelum kembali turun sawah. Ritual ini dianggap wajib dilaksanakan oleh para petani. 

Bentuk ritual ini sederhana, cukup menyediakan satu ekor ayam kampung yang disembelih. Saat menyembelih ayamnya, darah yang menetes ditampung dengan wadah tempurung kelapa. Darah itu dibiarkan mengering dan disimpan bersama Indo pare. 

Para petani mengajak para tetangga dan menyediakan jamuan nakan. Doa dipimpin oleh Sando Pare atau dipercayakan kepada Imam Masjid atau tokoh agama yang telah diundang. 

Pada prinsipnya, ritual ini merupakan acara syukuran yang dipoleh dalam bentuk sedekah dengan menjamu para tetangga yang diundang. 

PUTIKA DAN SPIRITUALITAS ORANG MANDAR


Manusia Mandar hidup pada dua bentuk geografis yakni pada pesisir pantai dan pedalaman. Dalam hal ini, Mandar merupakan salah satu suku yang hidup dan berkembang dalam dua dimensi kebudayaan yaitu Budaya Maritim dan Budaya Agraris. 

Mereka yang hidup di daerah-daerah pantai memilih mata pencaharian sebagai nelayan menangkap ikan untuk mereka konsumsi atau mereka jual dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Demikian halnya masyarakat yang tinggal di pedalaman, mereka mengolah tanah jadi sawah atau perkebunan, hasilnya sebagian mereka simpan untuk dikonsumsi dan sisanya dijual. Kedua mata pencaharian ini sangat tergantung pada alam dan musim yang berganti; musim kemarau dan musim penghujan. 

Kondisi ini membuat masyarakat Mandar dalam melakukan aktifitasnya selalu berpatokan pada gejala-gejala alam. Sisi keberuntungan, kondisi alam dan posisi bumi pada matahari, bulan, dan bintang sangat mempengaruhi alam pikiran mereka.

Dengan mencermati gejala-gejala alam dan posisi bumi dengan tata surya lainnya mereka mencatatkan pengalaman-pengalamannya dengan aksara lontara’. Lontara’ lah yang memberikan petunjuk waktu baik dan yang kurang baik.  Pencatatan pengalaman itulah yang kemudian dikenal dengan Lontara’ Putika.

Selasa, 06 Februari 2024

PAMENANGAN

PAMENANGAN adalah salah satu parewa gallang yang banyak di produksi di Mandar karena memang benda ini sangat dibutuhkan dalam berbagai ritual adat terutama peristiwa pernikahan. Bentuknya seperti tropi yang umumnya berdiameter 26 cm dengan tinggi sekitar 22 cm. 

Dalam prosesi pernikahan adat di Mandar, Pamenangan ini dibawa pada saat pelamaran dan saat metindor. Itulah makanya terdapat istilah Pamenangan Tonganna dikalangan muda mudi di Mandar. 

Adapun benda yang berada diatas pamenangan disebut Salappa' yang berfungsi sebagai penyimpanan uang belanja kepada keluarga mempelai wanita. 

Minggu, 04 Februari 2024

Membaca Teater Tradisi Lewat Pertunjukan To Manurung dan I Pundakko.

Oleh: Sahabuddin Mahganna. 

Tomanurung dalam kisah Tokombong di wura dan To wisse ri tallang, diperkenalkan ke ruang publik lewat pertunjukan teater tradisi di Taman Budaya dan Museum (TBM) Sulawesi Barat Butut Ciping 1 Desember 2023. Garapan dua seniman Mandar Rifai Husdar dan Dalif berhasil memukau penontonnya, membangkitkan kembali gairah tontonan teater yang telah sekian lama redup di tanah ini, kendati demikian dan tidak juga begitu, sebab masih tetap ada segelintir orang yang punya kepedulian menghidupkan teater-teater meskipun di lorong-lorong, yang tidak menjadi tiba-tiba seniman ketika ada "anu".

Evoria yang disaksikan secara langsung itu, dan betapa sangat saya tertinggal karena lama berteduh di Uwake Cultur Foundation, hujan deras mengalahkan niat mem-bersama-i sejarah dan peristiwa yang baru saja berlangsung, memilih mengikuti arus diskusi, sekadar mengisi kejenuhan. Bersama Rahmat Muchtar asyik mengobrol tanpa arah yang jelas tema pembicaraan, tidak berselang lama, Syuman Saeha, Subaer Sunar, Muliady dan teman lainnya yang juga terjebak hujan itu, telah bergabung. 

Diskusi kemudian lebih mengerucut ke kajian Tomanurung dan tata kelola pertunjukan, nyatanya sangat penting untuk dipahami dengan baik dan diteruskan ke generasi dengan menyorot sudut pandang yang berbeda. 

Pemahaman tentang konsepsi Tomanurung sebagai manusia dewa, manusia pilihan, manusia yang memiliki sematan atau predikat khusus, dijunjung, didengar, serta menjadi contoh, sehingga dia bukan manusia biasa, setiap itemnya musti hati-hati dalam mewakilkan untuk beberapa hal, apalagi sebuah permainan dalam teater. 

Salah satu contoh kecil yang dilontarkan Subaer Sunar, kesaktian arung Palakka jika dibayangkan, meskipun keseharian kita hanya mengenalnya dalam catatan sejarah. 15 generasi ke atas baru dapat tau manurungnge Mallajang ri ase'na tasi' loppoe. punya nama dan makam, dan menghilang di atas lautan (1330 an). Tau Manurung kedua, La Umase Petta Panre Bassie 1423 dan seterusnya termasuk beberapa nama di Mandar. Dalam cerita berbagai suku kelahiran Tomanurung selalu dikaitkan dengan tallang (bambu), yang berarti ada proses lahir, hadir yang berbeda dengan manusia biasa. 

Pentas malam itu dalam penokohan lahirnya menjadi "manusia" biasa dengan proses biologis, tanpa sedikit menelaah bagaimana proses sesungguhnya. "Tomanurung, tidak satupun yang pernah menyaksikan secara langsung  kejadiannya", konon predikat itu tersematkan pada sesuatu (manusia). Tomanurung bukan pribadi biasa, lahir bukan atau tidak diketahui Bapak dan ibu seperti Isa  AS. Tomanurung sebagai pribadi yang ditempati Nur (biologis pasti bersentuhan dengan Nur, dengan kata lain bukan persentuhan jantan dan betina.  Karena alasan inilah sehingga jenis kelaminnya pun, ada yang menyatakan tak tunggal. Khusus perdebatan tentang jenis kelamin, dalam perspektif Bugis, ada contoh BISSU. Bissu bukan bencong, tapi tidak lelaki, tidak perempuan. 

Untuk lebih memudahkan barangkali kata "to manurung" harusnya terjadi pemenggalan antara to dan manurung itu sendiri. Manurung adalah predikat tidak terlihat oleh kasat mata, dan menjadi nampak jika dia tersematkan pada obyek (to), itupun orang-orang khusus yang sanggup memahaminya. Itulah sebabnya, kemungkinan pendahulu kita lebih memilih menamai sesuatu dengan bahasa yang berbeda, ini untuk menghindari beberapa kejadian yang akan menimpa dirinya. Wallahu Alam Bisssawab. 

Meski tidak mengapresiasi secara utuh, produksi pentas dan pemanggungan terlihat berjarak dengan publikasi dengan tulisan tradisi, kata tradisional dalam pentas mungkin masih agak kaku. Teater tradisi menurut pakemnya yakni teater tradisi rakyat dan istana, cirinya umum menggunakan bahasa daerah, dilakukan secara improvisasi, ada unsur nyanyian dan tarian, diiringi tetabuhan (musik daerah), diwarnai dengan dagelan/banyolan, ada keakraban antara pemain dan penonton, serta suasananya santai. Syuman Saeha mengatakan kalau kita merujuk ke Mandar, di sini sangat sedikit yang dapat dijadikan sebagai literatur, paling hanya Koayang, dan Kacaping dari unsur pertunjukannya saja, juga Lake (meski malu malu kucing) sedikit mendekati. Mengangkat cerita rakyat ke atas panggung teater, tidak serta merta dapat disebut sebagai teater tradisi, karena garapan tersebut hanya mengambil satu unsur dari sekian unsur yang mengusung teater tradisi. 

Ruang dan waktu yang dibangun lewat digital, mengindikasi jalur lain dari pakemnya atau boleh jadi sudah menjadi bagian dari pengembangan. Jika demikian, problemnya berarti standar penilaian tentang tradisi yang dimaksud TBM beda dengan pemahaman mayoritas publik. Sebagai fasilitator, ini bagian tanggung jawab bersama dengan para senimannya, paling tidak berdasar pada telaah dan riset . Taman budaya, selain menghibur, harus mencerdaskan dan menjadi ruang eksperimen serta menciptakan ruang pertumbuhan pemikiran kesenian.

Pementasan teater To Manurung dan I Pundakko, dalam catatan ini tidak sedang membahas kekeliruan, hanya saja keramaian atau banyaknya penonton bukan satu satunya ukuran keberhasilan sebuah pertunjukan, bukan pula dipahami adalah suatu kebenaran yang mutlak, sebab generasi yang akan datang khususnya para pemain yang polos itu, memungkinkan bisa salah kaprah dikemudian hari. 

Dengan ini, selamat untuk para yang terlibat, kepada para penonton, terkhusus buat pemerintah, dalam hal ini UPTD Taman Budaya dan Museum Sulawesi Barat yang sudah memberi ruang untuk para seniman.

Senin, 13 November 2023

KULIWA

KULIWA merupakan ritual yang banyak dilaksanakan oleh masyarakat Mandar entah di pesisir maupung di pegunungan. Kuliwa dalam pandangan masyarakat terkesan menjadikannya sebagai sesuatu yang hukumnya ‘wajib’ dilaksanakan. Kuliwa sesungguhnya adalah simbol pernyataan syukur kepada sang pencipta atas sebuah pencapaian atau reski dari-Nya.

Pada masyarakat pesisir, kuliwa dilaksanakan ketika akan “meresmikan” sesuatu, baik benda maupun kegiatan, misalnya: meresmikan perahu, alat tangkap (jala dan gae) dan ketika memulai kegiatan penangkapan. Mereka meyakini, jika tidak melakukan kuliwa ketika akan memulai turun ke laut (pelayaran pertama), maka boleh jadi akan ada sesuatu hal yang merisaukan hati di dalam pelayaran.

Dalam prakteknya, kuliwa dilaksanakan ketika akan ‘meresmikan’ sesuatu, baik benda maupun kegiatan, misalnya: meresmikan perahu, alat tangkap dan ketika memulai kegiatan penangkapan (setelah lama tidak melaut). Nelayan biasa juga melakukan kuliwa dalam pertengahan musim motangnga ketika pada beberapa operasi pertama mereka tidak memperoleh hasil.

Kuliwa dilaksanakan di kediaman punggawa posasi’ yang dipimpin oleh seorang pemuka agama (panrita) dan dihadiri oleh awak kapal (sawi kappal). Jika meresmikan perahu, acara kuliwa (pembacaan barasanji) dilaksanakan di atas perahu. Demikian juga ketika meresmikan roppong yang telah selesai dibuat, tapi praktek kuliwa untuk roppong sudah lama tidak dilaksanakan. Acara inti dalam kegiatan kuliwa adalah pembacaan barasanji yang dipimpin oleh seorang pemuka agama. Selesai membaca barasanji, dilanjutkan dengan pembacaan do’a kepada Allah SWT untuk memohon keselamatan dan rezeki. Kemudian acara dilanjutkan dengan menyantap hidangan yang telah disediakan.[1]

Pada sebagian besar masyarakat pegunungan, kuliwa dilakukan pada saat mendapatkan anugerah berupa pembelian barang berharga seperti mesin atau kendaraan bermotor. Kuliwa dilakukan dengan menggelar ritual do’a selamatan untuk barang yang mereka baru saja beli. Bagi kedaraan atau mesin biasanya menggunakan makanan yang manis-manis. Ini merupakan ussul agar dalam menggunakan barang tersebut selalu diberkati oleh Allah hal-hal yang menyenangkan dan terjauhkan dari hal-hal yang merisaukan.
SC : JEJAK-JEJAK MANDAR (kamus, sejarah, kebudayaan & ensiklopedia tokoh.


 

Sabtu, 21 September 2019

Mandar Writers And Culture Forum 2019



“Ajarkan sastra kepada anak-anakmu karena itu dapat mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani” Demikian Umar Bin Khattab RA berwasiat. Andai sebagian besar manusia ‘menyukai’ sastra, maka bisa dibayangkan betapa dunia ini akan dipenuhi oleh manusia-manusia pemberani namun berhati lembut, bak Umar bin Khattab. Sayang sekali, hanya segelintir orang yang tertarik pada dunia sastra.
Di tengah ruwetnya persoalan bangsa, di tengah hancurnya moral bangsa, dari kenakalan, hingga korupsi yang masih saja menggerogoti negara ini,  sastra hadir, diantaranya untuk mengembalikan ruh bangsa yang telah nyaris mati. Maka telah menjadi tugas kita, para pelaku sastra, untuk menyebarluaskan nilai-nilai moral yang tertuang dalam karya-karya sastra dalam beragam bentuk.
Di zaman pra dan awal kemerdekaan, banyak karya-karya fenomenal yang mampu mempengaruhi pola pikir dan pola sikap masyarakat. Sebutkan beberapa roman, diantaranya Siti Nurbaya. Bahkan sampai saat ini ungkapan ‘ini bukan zaman siti Nurbaya’ masih sering diucapkan sebagai kalimat penolakan atas suatu perjodohan. Pertanyaannya, mampukah kita, dewasa ini, di tengah rendahnya budaya literasi masyarakat, juga menghasilkan karya yang mengisnpirasi?
Sastra bukan sekedar roman picisan yang hanya membuat pembaca berurai air mata atau tersenyum bahagia. Sastra bukan sekedar kisah yang kalau tidak happy ending pasti sad ending. Lebih dari itu, sastra sejatinya berangkat dari keresahan hati akan realitas sosial yang terjadi. Sastra adalah cerminan masyarakat di mana sebuah karya sastra berasal.  
Maka, tidak bisa dipungkiri, sastra memegang peranan penting terhadap pemulihan-pemulihan kondisi sosial yang kita alami sekarang. Karena itulah, membudayakan sastra, mengajak para generasi untuk cinta membaca dan menulis, atau sekedar menikmati sajian-sajian budaya, adalah salah satu yang harus dilakukan demi terwujudnya masyarakat beradab dan berbudaya.
Untuk tujuan itulah sehingga MANDAR RITER ADN CULTURE FORUM I 2019 digagas dan dihelat untuk wilayah Sulawesi Barat. MWCF I 2019 dilkasanakan bekerjasama dengan beberapa komunitas literasi Kegiatan ini merupakan forum pertemun para penulis dan pekerja-pekerja kreatif di Sulawesi Barat sebagai sebuah perayaan atas karya-karya yang telah dihasilkan. Kegiatan ini rencananya akan dilaksanakan setiap tahun. MWFF diharapkan menjadi ruang berkreasi menuangkan imajinasi menjadi sebuah karya yang menginspirasi.


NAMA KEGIATAN
Mandar Writers and Culture Forum I (MWCF I) 2019

TEMA KEGIATAN
Putika: Spiritual, Sosiologis dan Masa Depan Mandar

TUJUAN KEGIATAN
Kegiatan MWCF I 2019 bertujuan :
1.      Memberikan ruang bagi Penulis-penulis di Sulawesi Barat untuk berkreasi.
2.      Memperkenalkan budaya literasi bagi masyarakat Sulawesi Barat.

WAKTU PELAKSANAAN KEGIATAN
Mandar Writers and Culture Forum I (MWCF) I 2019 akan dilaksanakan pada tanggal 25- 28 Oktober 2019

Kontak Person 
Muhammad Munir : 
WA 082113008787
telp. 085228777027