Oleh Azis Hisham Maulana
MAJENE — Perjalanan hidup KH Muhammad Syibli Sahabuddin merupakan kisah tentang pengabdian yang melintasi dunia pendidikan, organisasi keagamaan, tarekat, hingga politik nasional. Sosok yang akrab disapa Annangguru Syibli itu tumbuh dalam tradisi keilmuan Islam, melanjutkan pendidikan hingga Pakistan, memimpin perguruan tinggi di Polewali Mandar, dan mengemban amanah sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) selama dua periode.
Kini, perjalanan panjang tersebut sampai pada penghujungnya. Pada Senin (12/10/2026), jenazah Annangguru Syibli diberangkatkan dari Makassar menuju Majene untuk dimakamkan di Lembang, di samping makam sang ayah, Prof KH Sahabuddin.
Kepergiannya meninggalkan jejak seorang tokoh yang selama puluhan tahun berada di persimpangan pendidikan, kehidupan keagamaan, dan dinamika politik Sulawesi Barat.
𝙈𝙚𝙣𝙚𝙢𝙥𝙪𝙝 𝙋𝙚𝙣𝙙𝙞𝙙𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙝𝙞𝙣𝙜𝙜𝙖 𝙋𝙖𝙠𝙞𝙨𝙩𝙖𝙣
Muhammad Syibli Sahabuddin lahir di Polewali pada 20 Agustus 1968. Ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang lekat dengan pendidikan dan tradisi keilmuan Islam.
Pendidikan dasarnya ditempuh di SDN Busaeri Ternate dan diselesaikan pada 1981. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di MTs Pondok Pesantren Modern IMMIM Makassar hingga 1984, sebelum menamatkan pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Makassar pada 1987.
Pengalaman belajar di pesantren menjadi bagian penting dalam pembentukan dirinya. Namun, perjalanan akademiknya tidak berhenti di lingkungan pendidikan dalam negeri.
Pada 1988, Syibli melanjutkan studi ke International Islamic University (IIU), Islamabad, Pakistan. Keputusan tersebut membawanya ke lingkungan akademik dan pergaulan internasional yang lebih luas.
Di tengah kesibukannya menempuh pendidikan, ia juga aktif dalam organisasi mahasiswa Muslim. Syibli tercatat pernah menjabat Sekretaris Jenderal ASEAN Muslim Student Association (AMSA) pada 1988–1989.
Pengalaman itu memperlihatkan bahwa keterlibatannya dalam organisasi telah tumbuh sejak usia muda, ketika ia masih menempuh pendidikan.
Setelah dari Pakistan, Syibli melanjutkan studi di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 1991. Ia kemudian kembali menempuh pendidikan pascasarjana di kampus yang sama pada 2002.
Perjalanan pendidikan tersebut mempertemukannya dengan beragam lingkungan keilmuan, mulai dari pesantren di Makassar, perguruan tinggi Islam di Pakistan, hingga kehidupan akademik di Jakarta.
Bekal itulah yang kemudian menyertai langkahnya ketika memasuki dunia pendidikan tinggi, organisasi keagamaan, dan politik.
𝙈𝙚𝙡𝙖𝙣𝙟𝙪𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙅𝙚𝙟𝙖𝙠 𝙎𝙖𝙣𝙜 𝘼𝙮𝙖𝙝 𝙙𝙞 𝘿𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙋𝙚𝙣𝙙𝙞𝙙𝙞𝙠𝙖𝙣
Nama Syibli tidak dapat dilepaskan dari Universitas Al Asyariah Mandar (Unasman), perguruan tinggi yang memiliki hubungan erat dengan perjalanan pengabdian keluarganya.
Ayahnya, Prof KH Sahabuddin, dikenal sebagai ulama Mandar sekaligus pendiri Yayasan Al Asyariah Mandar.
Cikal bakal Unasman berawal dari dua lembaga pendidikan tinggi, yakni Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) dan Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIP), yang berdiri pada 1975. Kedua lembaga tersebut kemudian bergabung menjadi Universitas Al Asyariah Mandar pada 2004.
Di kampus inilah Syibli mengambil peran dalam pengembangan institusi pendidikan tinggi di Polewali Mandar.
Pada 2004, ia dipercaya menjadi Direktur Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unasman. Setahun kemudian, ia menjabat sebagai rektor untuk periode 2005–2009.
Sebagai rektor, Syibli berada dalam posisi strategis untuk mengelola dan mengembangkan perguruan tinggi yang sedang menjalani tahap awal sebagai universitas.
Kiprahnya menunjukkan bahwa pengabdian Syibli tidak hanya berlangsung dalam kegiatan dakwah dan pembinaan umat. Ia juga terlibat langsung dalam dunia akademik, pengelolaan perguruan tinggi, serta pengembangan kelembagaan pendidikan.
Setelah menyelesaikan masa jabatannya sebagai rektor, hubungannya dengan Unasman tetap berlanjut. Ia kemudian dikenal sebagai Ketua Yayasan Al Asyariah Mandar, lembaga yang menaungi perguruan tinggi tersebut.
Dengan demikian, pengabdiannya di dunia pendidikan berlangsung melalui dua jalur, yakni memimpin kampus dan berperan dalam yayasan yang menaunginya.
Bahkan, dalam rangkaian perjalanan terakhirnya, jenazah Syibli dijadwalkan disalatkan di masjid kampus Unasman sebelum dibawa ke Lembang untuk dimakamkan.
Tempat tersebut bukan sekadar lingkungan perguruan tinggi. Unasman menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan pengabdian Syibli sekaligus warisan pendidikan yang berkaitan erat dengan keluarganya.
𝘿𝙖𝙧𝙞 𝙊𝙧𝙜𝙖𝙣𝙞𝙨𝙖𝙨𝙞 𝙈𝙖𝙝𝙖𝙨𝙞𝙨𝙬𝙖 𝙝𝙞𝙣𝙜𝙜𝙖 𝙋𝙞𝙢𝙥𝙞𝙣𝙖𝙣 𝙉𝙐 𝙎𝙪𝙡𝙗𝙖𝙧
Selain pendidikan, organisasi menjadi ruang lain yang membentuk perjalanan Syibli.
Ketika berada di Jakarta, ia tercatat sebagai pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Ciputat pada 1990. Ia juga pernah menjadi pengurus Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor pada 1997.
Keterlibatan dalam organisasi mahasiswa dan kepemudaan itu menjadi bagian dari perjalanan panjangnya di lingkungan organisasi Islam.
Langkahnya kemudian berlanjut di Nahdlatul Ulama (NU). Syibli pernah menjabat Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Sulawesi Barat selama periode 2007–2019.
Ia memimpin kepengurusan NU tingkat provinsi selama lebih dari satu dekade. Dalam posisi tersebut, tanggung jawabnya tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan program organisasi, tetapi juga penguatan peran NU dalam kehidupan keagamaan dan kemasyarakatan di Sulawesi Barat.
Pengalaman panjang di lingkungan organisasi membuat Syibli dikenal bukan hanya sebagai ulama, melainkan juga sebagai organisator yang terlibat dalam pengelolaan dan kepemimpinan kelembagaan.
Perjalanan itu memperlihatkan kesinambungan antara latar pendidikan Islam yang ditempuhnya, aktivitas organisasi sejak muda, dan pengabdiannya dalam struktur keagamaan.
𝙈𝙚𝙣𝙚𝙧𝙪𝙨𝙠𝙖𝙣 𝙏𝙧𝙖𝙙𝙞𝙨𝙞 𝙏𝙖𝙧𝙚𝙠𝙖𝙩 𝙌𝙖𝙙𝙞𝙧𝙞𝙮𝙖𝙝
Di luar jabatan formal, Syibli dikenal sebagai mursyid Tarekat Qadiriyah.
Dalam tradisi tarekat, mursyid merupakan pembimbing spiritual yang mendampingi pengikutnya dalam menjalani amalan dan pembinaan keagamaan.
Peran tersebut memiliki kaitan erat dengan latar belakang keluarganya. Sang ayah, Prof KH Sahabuddin, dikenal sebagai ulama Tanah Mandar yang juga memimpin Tarekat Qadiriyah.
Setelah ayahnya meninggal dunia pada 2004, Syibli disebut meneruskan kepemimpinan dalam tarekat tersebut.
Dengan demikian, pengabdiannya di bidang spiritual bukanlah perjalanan yang berdiri sendiri. Ada tradisi keagamaan keluarga yang turut membentuk jalan pengabdiannya.
Di tengah masyarakat Mandar, sebutan Annangguru merupakan panggilan penghormatan bagi guru agama atau ulama. Sebutan itu melekat pada Syibli seiring kiprahnya dalam kehidupan keagamaan masyarakat.
Namun, perannya tidak hanya terbatas pada pembinaan spiritual. Ia juga menjalani tanggung jawab dalam pendidikan tinggi, organisasi keagamaan, dan kehidupan politik.
Berbagai peran tersebut menjadikan perjalanan Syibli memiliki dimensi yang luas, dari pembinaan umat hingga keterlibatan dalam urusan publik.
𝙎𝙚𝙥𝙪𝙡𝙪𝙝 𝙏𝙖𝙝𝙪𝙣 𝙈𝙚𝙢𝙗𝙖𝙬𝙖 𝘼𝙨𝙥𝙞𝙧𝙖𝙨𝙞 𝙎𝙪𝙡𝙖𝙬𝙚𝙨𝙞 𝘽𝙖𝙧𝙖𝙩 𝙙𝙞 𝘿𝙋𝘿 𝙍𝙄
Perjalanan Syibli kemudian meluas ke tingkat nasional melalui jalur politik.
Ia terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia dari daerah pemilihan Sulawesi Barat untuk dua periode berturut-turut, yakni 2009–2014 dan 2014–2019.
Selama sekitar sepuluh tahun, Syibli menjadi bagian dari lembaga perwakilan yang membawa kepentingan daerah ke tingkat nasional.
Keberadaannya di DPD RI memperluas ruang pengabdiannya. Jika di perguruan tinggi ia berhadapan dengan persoalan pendidikan, sementara di organisasi keagamaan ia terlibat dalam pembinaan umat, di lembaga negara ia menjalankan peran dalam memperjuangkan kepentingan daerah sesuai kewenangan senator.
Dua periode di Senayan juga menandai perjalanan seorang tokoh Sulawesi Barat yang tidak hanya berkiprah di lingkungan lokal, tetapi turut terlibat dalam dinamika politik nasional.
Setelah menyelesaikan masa pengabdiannya sebagai senator pada 2019, Syibli tetap melanjutkan aktivitas politik di daerah.
Ia kemudian memimpin Dewan Pimpinan Wilayah Partai Kebangkitan Bangsa (DPW PKB) Sulawesi Barat.
Jabatan tersebut menjadi babak berikutnya dalam perjalanan politiknya. Kali ini, perannya berada dalam kepemimpinan partai yang menjadi salah satu saluran perjuangannya di tingkat daerah.
Perpindahan dari lembaga perwakilan menuju kepemimpinan partai menunjukkan bahwa aktivitas politik tetap menjadi bagian dari perjalanan hidupnya setelah menuntaskan dua periode di DPD RI.
𝙒𝙖𝙧𝙞𝙨𝙖𝙣 𝙆𝙚𝙡𝙪𝙖𝙧𝙜𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙍𝙚𝙠𝙖𝙢 𝙅𝙚𝙟𝙖𝙠 𝙋𝙚𝙣𝙜𝙖𝙗𝙙𝙞𝙖𝙣
Latar belakang keluarga memberikan konteks penting untuk memahami perjalanan Syibli.
Ia merupakan putra Prof KH Sahabuddin, tokoh yang dikenal memiliki peran dalam pengembangan pendidikan dan kehidupan keagamaan di Tanah Mandar.
Pengaruh lingkungan keluarga juga terlihat dari keterlibatan sejumlah anggota keluarga dalam dunia pendidikan tinggi, di antaranya Chuduriah Sahabuddin dan Prof. Wasilah Sahabuddin.
Kehidupan dalam keluarga yang dekat dengan pendidikan dan tradisi keilmuan Islam menjadi bagian dari lingkungan tempat Syibli bertumbuh.
Meski demikian, perjalanan hidupnya tidak hanya dapat dilihat sebagai kelanjutan nama besar sang ayah. Ia juga membangun rekam jejak melalui pendidikan yang ditempuh, pengalaman organisasi, kepemimpinan perguruan tinggi, pengabdian sebagai ulama, hingga keterlibatannya dalam politik.
Ia pernah memimpin Unasman, menjadi Ketua Tanfidziyah PWNU Sulawesi Barat, menjalani dua periode sebagai anggota DPD RI, serta memimpin PKB Sulawesi Barat.
Rentang peran itu memperlihatkan bagaimana Syibli menjalani sejumlah ruang pengabdian yang berbeda tanpa sepenuhnya meninggalkan latar pendidikan dan keagamaan yang membentuk dirinya.
Bagi masyarakat Mandar, namanya tidak hanya berkaitan dengan jabatan politik. Ia juga terhubung dengan dunia pendidikan Islam, tradisi tarekat, dan perjalanan organisasi keagamaan di Sulawesi Barat.
𝙈𝙖𝙠𝙖𝙨𝙨𝙖𝙧, 𝙋𝙤𝙡𝙚𝙬𝙖𝙡𝙞, 𝙙𝙖𝙣 𝙇𝙚𝙢𝙗𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙋𝙚𝙧𝙟𝙖𝙡𝙖𝙣𝙖𝙣 𝙏𝙚𝙧𝙖𝙠𝙝𝙞𝙧
Pada Senin (12/10/2026), perjalanan hidup Annangguru Syibli memasuki babak terakhir.
Ia mengembuskan napas terakhir setelah menjalani perawatan di RSUP Wahidin Sudirohusodo, Makassar. Jenazahnya kemudian dijadwalkan dibawa menuju Majene, dengan singgah di Universitas Al Asyariah Mandar untuk disalatkan sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat pemakaman di Lembang.
Tiga tempat tersebut memiliki makna tersendiri dalam perjalanan hidupnya.
Makassar menjadi kota tempat ia berpulang. Polewali Mandar menyimpan jejak pengabdiannya di dunia pendidikan melalui Unasman. Sementara Lembang menjadi tempat peristirahatan terakhirnya, berdampingan dengan makam sang ayah yang menjadi salah satu tokoh penting dalam perjalanan pendidikan dan keagamaan keluarga Sahabuddin.
Kepulangannya ke Lembang seolah mempertemukan kembali perjalanan seorang anak dengan jejak pengabdian ayahnya.
Semasa hidup, Syibli menempuh pendidikan hingga Pakistan, memimpin perguruan tinggi, mengabdi dalam organisasi keagamaan, meneruskan tradisi Tarekat Qadiriyah, serta membawa mandat politik Sulawesi Barat ke tingkat nasional.
Kini, seluruh perjalanan itu menjadi bagian dari rekam jejak yang ditinggalkannya.
Annangguru Syibli Sahabuddin bukan hanya seorang mantan senator atau pimpinan partai politik. Ia juga seorang ulama yang mengabdikan diri dalam pendidikan dan kehidupan keagamaan masyarakat Mandar.
Kepergiannya menandai berakhirnya perjalanan seorang tokoh yang bergerak di antara dunia ilmu, spiritualitas, dan politik.
Di Lembang, ia akan beristirahat di samping sang ayah. Sementara jejak pengabdiannya tetap menjadi bagian dari perjalanan pendidikan, organisasi keagamaan, dan kehidupan masyarakat Sulawesi Barat.[*]