Senin, 12 Oktober 2026

MENGENANG ANNANGGURU KH. Muhammad Syibli Sahabuddin Jejak Ilmu, Pengabdian, dan Keteladanan


Oleh : Almadar Fattah 

Innalillahi wa innailaihi raji’un. Duka mendalam menyelimuti Tanah Mandar dan seluruh Sulawesi Barat atas berpulangnya Annangguru KH. Muhammad Syibli Sahabuddin. Kepergian beliau bukan sekadar kehilangan seorang ulama, melainkan juga kehilangan sosok yang telah menorehkan jejak pengabdian dalam dunia keagamaan, pendidikan, sosial, dan politik. Nama beliau menjadi bagian dari perjalanan panjang Sulawesi Barat, dengan segala ikhtiar dan pengabdian yang telah dipersembahkan bagi masyarakat.

Annangguru KH. Muhammad Syibli Sahabuddin dikabarkan berpulang ke rahmatullah pada Ahad malam, 11 Oktober 2026, pukul 21.45 WITA, di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar. Kabar duka itu meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarga, para santri, sahabat, kolega, serta masyarakat yang mengenal sosok beliau. Di tengah keheningan malam, kepergian seorang ulama karismatik ini mengingatkan kita bahwa setiap manusia memiliki batas perjalanan, tetapi nilai-nilai kebaikan yang ditanamkannya dapat terus hidup melampaui usia.

Semasa hidupnya, Annangguru KH. Muhammad Syibli Sahabuddin dikenal sebagai ulama yang memiliki keluasan peran. Beliau tidak hanya menekuni jalan dakwah dan pendalaman spiritual, tetapi juga mengambil bagian dalam membangun pendidikan serta memperjuangkan aspirasi masyarakat melalui ruang pengabdian publik. Perjalanan hidupnya memperlihatkan bahwa ilmu tidak semestinya berhenti di ruang pengajian, melainkan perlu menjelma menjadi tindakan nyata yang memberi manfaat bagi kehidupan bersama.

Dalam dunia pendidikan, beliau pernah mengemban amanah sebagai Rektor Universitas Al Asyariah Mandar (Unasman) pada periode 2006–2009. Amanah tersebut menempatkan beliau dalam perjalanan pengembangan perguruan tinggi di Tanah Mandar. Pendidikan, pada hakikatnya, bukan sekadar urusan memindahkan pengetahuan dari satu generasi kepada generasi berikutnya, melainkan juga membentuk karakter, menumbuhkan kesadaran, dan menyiapkan manusia agar mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan akar nilai dan kebudayaannya.

Pengabdian beliau kemudian berlanjut di tingkat nasional. Annangguru KH. Muhammad Syibli Sahabuddin terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) dari daerah pemilihan Sulawesi Barat selama dua periode, yakni 2009–2014 dan 2014–2019. Kepercayaan masyarakat tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan pengabdiannya sebagai tokoh daerah yang membawa aspirasi Sulawesi Barat ke ruang perwakilan nasional. Jabatan itu sekaligus memperlihatkan persinggungan antara nilai-nilai keulamaan dan tanggung jawab dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Di lingkungan Nahdlatul Ulama, beliau juga dikenal melalui pengabdiannya sebagai Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Sulawesi Barat pada periode 2009–2024. Dalam organisasi keagamaan, kepemimpinan bukan hanya tentang menjalankan struktur dan mengelola program, tetapi juga merawat persaudaraan, menjaga kesinambungan tradisi, serta memperkuat peran ulama dalam membimbing kehidupan umat. Jejak pengabdian tersebut menjadi bagian dari perjalanan organisasi Islam di Sulawesi Barat yang terus berhadapan dengan tantangan sosial dan perubahan zaman.

Dalam perjalanan politik, Annangguru KH. Muhammad Syibli Sahabuddin juga mengemban amanah sebagai Ketua Dewan Pengurus Wilayah Partai Kebangkitan Bangsa Sulawesi Barat sejak 2017. Peran ini menambah dimensi lain dalam perjalanan hidupnya, memperlihatkan keterlibatan beliau dalam ruang politik dan organisasi. Bagi seorang tokoh publik, jabatan merupakan amanah yang selalu terikat dengan tanggung jawab kepada masyarakat. Sementara bagi masyarakat, warisan seorang pemimpin tidak hanya diukur dari jabatan yang pernah diduduki, tetapi juga dari rekam jejak, gagasan, dan kontribusi yang dapat dikenang.

Namun, untuk memahami sosok Annangguru KH. Muhammad Syibli Sahabuddin secara lebih mendalam, perhatian tidak dapat dilepaskan dari perjalanan spiritualnya. Beliau dikenal sebagai tokoh tasawuf di Tanah Mandar sekaligus ulama dan mursyid Tarekat Qadiriyah. Dalam tradisi tasawuf, perjalanan spiritual mengajarkan manusia untuk menundukkan kesombongan, membersihkan hati, memperhalus akhlak, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Nilai-nilai tersebut menjadi pengingat bahwa kedalaman ilmu agama semestinya berjalan beriringan dengan kerendahan hati dan kemuliaan perilaku.

Perjalanan pengabdian beliau bahkan telah melintasi batas daerah dan negara. Pada 1988–1989, beliau pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal ASEAN Muslim Student Association (AMSA) di Islamabad, Pakistan. Beliau juga tercatat pernah menjadi pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Ciputat pada 1990 dan Pengurus Pusat Gerakan Pemuda Ansor di Jakarta pada 1997. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa perjalanan intelektual dan organisasinya telah terbentuk sejak usia muda, melalui perjumpaan dengan lingkungan pendidikan, gerakan mahasiswa, dan jaringan kepemudaan Islam.

Annangguru KH. Muhammad Syibli Sahabuddin berpulang pada usia 58 tahun. Usia itu mungkin terasa singkat jika diukur dari panjangnya waktu, tetapi makna pengabdian tidak selalu ditentukan oleh berapa lama seseorang hidup. Ada manusia yang kehadirannya meninggalkan jejak dalam pemikiran, ada yang dikenang melalui perjuangannya, dan ada pula yang namanya tetap disebut karena peran yang pernah dijalankannya dalam kehidupan masyarakat. Dalam diri beliau, perjalanan keulamaan, pendidikan, organisasi, dan politik menjadi bagian dari catatan yang patut dikenang sekaligus dipelajari secara jernih oleh generasi penerus.

Kini, ketika Annangguru KH. Muhammad Syibli Sahabuddin telah kembali ke hadirat Allah SWT, yang tersisa bagi kita bukan hanya kesedihan, melainkan juga tanggung jawab untuk merawat nilai-nilai baik yang pernah diperjuangkannya. Tanah Mandar dan Sulawesi Barat kehilangan seorang ulama dan tokoh publik, tetapi ilmu, keteladanan, serta rekam pengabdian yang terdokumentasi dengan baik dapat terus menjadi sumber pembelajaran bagi generasi mendatang. Sebab, kematian mengakhiri perjalanan jasmani, tetapi kebaikan yang diwariskan dapat terus menemukan jalannya di dalam ingatan dan kehidupan manusia. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah beliau, mengampuni segala khilafnya, melapangkan kuburnya, dan menempatkannya di sisi terbaik-Nya. Selamat jalan, Annangguru. Semoga ilmu menjadi cahaya, pengabdian menjadi jejak, dan keteladanan menjadi warisan yang tak lekang oleh waktu. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Penulis : Pemerhati Sastra & Budaya Tahun 90-an di Makassar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar