Senin, 16 Desember 2024

ORANG-ORANG WARAS YANG GILA


Oleh: Mukhtar

         Seorang filosof yang amat kritis  asal Indonesia, sering menggunakan terminologi " akal sehat" dalam mengelaborasi berbagai diskursus kebangsaan. Diskusinya tentang kebangsaan seringkali dibalut dengan  kacamata filsafat. Argumen-argumennya dibumbui dengan diksi yang sangat retorik. 

        Fikiran-fikirannya yang tajam terkait dengan persoalan kebangsaan, politik dan sosial,  digandrungi oleh kelompok akademik yang _notabene_ nya dianggap sebagai makhluk rasional yang bersarang di alam pemikiran kampus. 

         Mungkin tidak terlalu salah jika dia dianggap  satu-satunya filosof asal Indonesia yang sering mendeklarasikan tentang " akal sehat ". Sangking semangatnya membangun akal sehat sampai-sampai dijuluki sebagai " presiden akal sehat"

         Tesisnya tentang "akal sehat" bisa ditebak dilatari dengan situasi kemanusiaan di kalangan  tertentu yang sudah kehilangan akal sehat, bahkan melecehkan akal sehat. Penggunaan rasionalitas di berbagai segmen, akal sehat sudah tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. 

        Akal yang sudah terkontaminasi dengan watak materialis, hedonis, akan mengaburkan mata hati untuk melihat kebenaran. Akal sehat yang awalnya diciptakan secara natural untuk berfikir yang benar dan baik, bisa jadi akan berbalik seratus derajat jika tidak sering diberi nutrisi berupa pentingnya kesadaran moralitas.

        Mengapa banyak berseliweran di tempat yang dihuni oleh orang-orang yang waras bahkan memiliki tingkat kewarasan melebihi tingkat kewarasan orang-orang awam, justru terjerembab dalam perilaku " kegilaan" karena terputusnya  syaraf cahaya kebenaran  dari potensi ke-Tuhanan. 
 
        Keanehan-keanehan yang diadegankan oleh orang  waras tertentu, justru mengindikasikan bahwa perilaku itu adalah perilakunya orang yang tidak waras. Transformasi-transformasi wujud manusia betul-betul akan mengalami degradasi dan dekandensi sampai pada tingkat yang mengerikan jika akal sehat tidak dijaga baik-baik.

        Fenomena transformasi wujud manusia akan tampil dalam berbagai bentuk wajah.  Kewarasan akan berubah menjadi kegilaan, intelektualitas berubah menjadi kedunguan,  keadaban merubah menjadi sindikat, rendah hati akan menjadi keangkuhan, qona'ah akan berubah
Menjadi ketamakan, kejujuran akan berubah menjadi kemunafikan, kesalehan akan berubah menjadi kedurhakaan, kesyukuran akan merubah menjadi kekufuran. Kasih sayang akan berubah jadi kebengisan dan lain-lain.

         Lantas mengapa akal sehat tidak selamanya bercokol di kepala manusia. Manusia adalah  makhluk paradoksal yang telah dianugerahi potensi yang selalu menciptakan dialektika dalam dirinya yaitu pertarungan sengit antara malaikat dan iblis. Dalam bahasa agama _" Wahadai nahunnajdain"_( saya berikan anda dua jalan) demikian  kata Tuhan yang memberikan alternatif kepada manusia untuk memilih dua jalan apa jalan kanan atau ke kiri. Mau menjadi manusia waras atau mau menjadi manusia gila.

        Dalam redaksi yang sebangun: _" Faal hamaha fujura watawwaha"_( Allah memberi potensi untuk berbuat fujur dan takwa). Potensi untuk  mewaraskan akal dan potensi untuk menjadi gila juga adalah pilihan bebas manusia. Apakah kita mau mengembangkan potensi akal itu menjadi akal yang sehat atau membiarkan potensi akal itu tetap dalam wadah yang stagnan dengan tidak berusaha untuk mendidiknya,  sehingga dia tetap terkungkung dalam " penjara kejahilan".

        Mengasah dan mendidik akal sehat, Allah banyak menggunakan redaksi-redaksi yang berbeda yang semuanya bermuara pada pentingnya memelihara akal sehat, seperti:  _apalata'qilun, apala tatadabbarun, apalayanzdurun, Ulul albab._
 
     Kalau boleh ditafsir secara kontekstual bahwa   Kalimat-kalimat yang berbentuk pertanyaan (istifham) dari teks tersebut juga disertai dengan penegasan secara implisit bahwa Allah berfirman dan bertanya kepada manusia  " kalian sudah diberikan akal, mengapa kalian tidak menggunakannya sesuai dengan logika berfikir orang-orang yang sehat, apakah kalian sudah tidak waras?

    Namun harus digaris bawahi, bahwa Pertanyaan ini bukan ditujukan kepada orang gila yang stres karena terputus urat sarapnya, tetapi ditujukan kepada orang waras yang tidak menggunakan akal sehatnya di bawah bimbingan-Nya. Akalnya digunakan untuk berbuat manipulatif, menyelewengkan kebenaran di atas kepalsuan.

       Orang yang gila karena sarafnya terputus, jika melakukan  kesalahan atau melanggar hukum, maka dia bebas dari hukuman. Tetapi jika orang-orang  waras yang gila melakukan sindikat, Pasti tidak akan terbebas dari hukuman baik di dunia lebih-lebih di akhirat kelak.

       Pembertahankan potensi ke-Tuhanan dalam diri adalah hal yang sangat penting dalam situasi apapun. Sebab jangan sampai kecerdasan yang kita bangun selama bertahun-tahun akan runtuh seketika "ketika datang " gelombang sunami kegilaan" yang akan meluluhlantahkan harga diri seseorang.

_Wallahu 'alamu bishshawab_

Polewali, 16 Desember 2024

BELAJAR DARI FILOSOFI AYAM MENCARI MAKANAN

Oleh: Mukhtar

         Ayam adalah makhluk kecil yang punya kemampuan membaca ayat-ayat kauniyyah. Nalurinya dalam membaca pergantian sunnatullah, itu terlihat ketika matahari sudah mulai terbenam di ufuk barat. Ayam yang  seharian mencari makanan yang terdiri dari makhluk-makhluk melata yang biasanya bersarang   di batang kayu yang sudah lapuk, demikian pula melata lain yang nasibnya bersarang di sela-sela  tanah. 

      Waktu menjelang malam, kawanan ayam tersebut mulai meninggalkan medan pencariannya, lalu kemudian kembali ke sarangnya untuk beristirahat.  ayam mampu merasakan bahwa malam akan segara tiba. Dia segera ingin melepaskan lelahnya yang seharian beraktifitas.

        "Rumah" yang paling membuat ayam itu tenang adalah pohon- pohon yang tidak terlalu besar. Di situlah ayam bertengger menikmati waktu istirahatnya bersama  kawanannya. Sengaja memilih pohon yang tidak terlalu besar supaya tidak terlalu menguras sayapnya untuk terbang ke atas, di samping itu anak-anaknya yang belum punya kekuatan untuk terbang bisa mengikuti induknya yang mau beristirahat.

       Anak- anaknya yang masih kecil di boyong ke atas sambil mencari tempat yang memungkinkan bisa saling berdekatan dengan anak-anaknya.

     Ketika tiba waktu menjelang subuh  Suara-suara ayam menjadi alarm untuk membangunkan manusia untuk kembali mengingat Tuhannya. Ayam berkokok selalu tepat dalam mengeluarkan bunyinya. Dia selalu berbunyi di waktu menjelang subuh. Suaranya bukanlah suara biasa. Suaranya menyimpang Kesakralan dengan membawa berita langit kepada manusia.  Lantunan bunyi yang terdengar di subuh senyap, penanda bahwa malaikat sedang turun ke bumi. Artinya ayam menyaksikan pada saat malaikat turun. 

       Bahasa agama yang mengimformasikan tentang misteri suara ayam dapat dilihat riwayat yang  menyinggung tentang suara ayam,  namun kualitasnya belum bisa dipastikan kevalidannya  menurut pendekatan kaidah ilmu hadis sebelum dilakukan penelitian.  

     Adapun redaksi hadis tersebut, _" Idza sami' tum siyaha ddayyakati, pas alullaha min fadhlihi painnaha Ra,at malakan"_  ( Jika kalian mendengar ayam berkokok, maka berdoalah kepada Allah minta karunia-Nya, karena sesungguhnya ia melihat malaikat )
Dalam  riwayat lain " _sesungguhnya ayam itu juga melantunkan azan ketika malaikat pembawa Arsy melantunkan azam".  ayam berkata:"  _yaaghafiluun, uzdkurullah_" ( wahai orang-orang yang lupa, ingatlah Allah).

        Riwayat-riwayat yang berkaitan dengan kesakralan suara ayam di waktu tertentu, secara teologis dapat diyakini berdasarkan argumen bahwa semua makhluk yang diciptakan Tuhan memiliki misteri dan kelebihan masing-masing.

       Bukankah semua benda- benda, baik benda mati maupun benda hidup semuanya bertasbih memuji Allah "
_Tusabbahulahussamawatu ssab' u wal ardhu wa man fi hinna"_( langit yang tuju dan bumi, senangtiasa bertasbih dan apa yang ada di dalamnya). 

      Keunikan-keunikan yang terdapat pada ayam, di samping suaranya  yang mengingatkan manusia untuk berdzikir, kemampuannya membaca ayat-ayat kauniyyah pergantian siang dan malam,  juga  bisa dilihat  dari sisi  kreatifitasnya dalam mencari rezki.  Ayam adalah salah satu makhluk kecil yang memiliki kasab yang ulet mencari makanan. 
 Hidupnya tidak pernah diam di siang hari, kecuali jika sementara mengerami telurnya kurang lebih setengah bulan. 

    Ketika ayam turun dari pohon tempat ia bertengger, lalu ia kembali melakukan rutinitasnya menelusuri lorong-lorong ketidakpastian yang bisa diharapkan buat pengganjal perut, tapi sepertinya  dia begitu meyakini bahwa di sana ada secuil harapan yang menjanjikan.

    Hidup ini adalah setitik harapan. Andaikan bukan kita tidak digerakkan harapan, kemungkinan kita tidak akan mampu bertahan hidup. Hidup ini adalah kenyataan, maka orang harus senangtiasa berusaha sesuai jalan kita masing.   Hidup ini memang adalah gerak. Dalam mencari pengganjal perut yang halal,harus dilakukan dengan cara bergerak. Meskipun di suatu tempat terdapat sesuatu  yang tidak pasti, orang tidak boleh putus harapan untuk mencarinya. Mungkin butuh pengorbanan, penantian panjang dalam menelusuri "lorong-lorong ketidakpastian" seperti apa yang dilakukan oleh ayam.

     Rezki sudah dalam " skenario" yang di atas. Oleh karena itu, rezki tidak akan pernah salah alamat. Janganlah terlalu bernafsu untuk mengumpulkan harta sebanyak mungkin ( apalagi dengan cara yang tidak benar), tetapi 
kumpulkan harta yang berberkah walau sedikit.

_Wallahu 'alamu bishshawab_

Pinrang, 14 Desember 2024

KAMPUNG HALAMAN: || Titik Awal Memulai Hijrah

oleh: Mukhtar

    Kampung halaman adalah awal pertama mengenal bahasa ibu. Awal mengenal huruf "Alif"dan"ba", a, i, u. Huruf-huruf yang membesarkan dan mengharumkan nama seseorang.  Kampung halaman adalah awal meneguk air hikmah dari kedua orang tua kita. Pesan-pesan keadaban kita terima dari ke dua orang tua kita walau agak konservatif namun begitu holistik  dan prinsipil.  

       Orang tua memang tak berpendidikan tinggi, tapi pesan-pesannya adalah pesan-pesan keadaban dan tradisi yang menyiratkan pesan-pesan kenabian dan ke-Tuhanan.  

      Kampung halaman memang jauh dari kemoderenan, tergerus dengan lajunya peradaban, tapi nilai-nilai  dan prinsif masih terpelihara dengan baik. Suasananya begitu alami jauh dari kemunafikan.   Manusia kampung biasanya punya prinsif yang penting dapat makan, merokok, beribadah dan tidak menipu orang. 
 
      Suasana petang menjelang malam, suara-suara bak memanggil-manggil dari binatang bertanduk ( beke) terdengar di Sani - sini pertanda binatang itu sementara menunggu makanan, makhluk-makhluk kecil( irri-irris) seringkali terdengar di suasana malam sunyi senyap diiringi dengan gonggongan anjing yang menyeramkan, ditambah lagi dengan  suara-suara kodok  seperti basf gitar (tikkor) yang mengiri lantunan suara makhluk lain bak permainan orkes yang tidak beraturan. Sementara di pagi hari burung-burung  kecilpun (dongi) yang bertengger di atas ranting pohon, tak mau ketinggalan menghibur manusia kampung yang sudah selesai menyelenggarakan shalat subuh sambil menikmati gulungungan sendiri rokok yang terbuat dari tembakau ( bakal) dengan kopi pahit alami sebelum pergi ke kebun. Itulah alaminya suasana kampung yang membangkitkan kerinduan yang sudah berhijrah di negeri orang.

      Tak jarang seseorang  ketika sukses di negeri orang, suasana kampung menjadi pelipu lara untuk mengobati rasa rindu ke kampung halaman, sesekali memutar kembali rekaman masa-masa mengawali hidup di kampung, baik kisah yang mengandung penderitaan maupun kisah kebahagiaan masa kecil.

       Mungkin ada yang merasakan bahwa bahagia yang sesungguhnya adalah kebahagiaan semasa menikmati permainan di waktu kecil. Naluri anak kecil adalah main dan main, sampai-sampai belajar mengaji sambil main kejar-kejaran di dalam mesjid. Dalam shalatpun  biasa sambil bermain sehingga sesekali keluar suara seperti orang ketawa. 

         Naluri yang selalu bermain di masa kecil membuat nyaris tak pernah menyadari bahwa kedua orang tua adalah miskin. Seorang anak kecil yang bermata mainan mengikuti ibunya ke pasar, terkadang seorang ibu rela menyembunyikan kemelaratannya kepada anaknya dengan rela tidak jadi belanja mainan untuk anaknya yang menangis.

       Memutar kembali kampung halaman dapat mengikis keangkuhan seseorang di satu sisi dan dapat menjadi pelipu lara di kala kita rindu dengan kampung halaman.

     Ada apa dengan kampung halaman, kampung halaman adalah bagian sejarah hidup seseorang yang mempengaruhi langkah selanjutnya. Seseorang tidak bisa langsung menaiki tangga yang paling atas tanpa melewati anak tangga yang paling bawah, seseorang tidak bisa meraih kesuksesan tanpa melewati penderitaan. 

       Kampung halaman adalah alam yang pertama sekali mempormat pikiran kita. Alam kampung adalah sumber inspirasi.  Fakta kejumudan yang mewarnai alam kampung juga tak jarang  membangunkan " teologi kebebasan" untuk bisa melangkah lebih jauh.

       Realitas ketertinggalan dalam sebuah kampung, menghentakkan kaki salah seorang rektor universitas Islam negeri Alauddin Makassar untuk " melawan takdir"
Yang kemudian menjadi sebuah karya monumental. 
         Buku tersebut adalah kisah dari perjalanan anak manusia kampung yang kemudian menghijrakan dirinya ke alam kebebasan sehingga pada akhirnya telah berhasil menduduki jabatan akademik pada tahta yang paling di atas . 

    Satu lagi, Menteri agama dan sekaligus  menjadi imam besar mesjid istiqlal adalah salah satu dari sekian fakta mengagumkan dari seorang anak santri kampung( as' adiyah). Dia begitu gigih dan tabah melewati semua rintangan yang menghadangnya dari suasana kampung yang menjeratnya. Menurut riwayat,  pesan-pesan keadaban dari orang tuanya semasa kecil menjadi  bekal dalam memegang prinsipnya. Dan pada akhirnya, namanya begitu tenar, harum, melejit karena kedalaman ilmu dan akhlak yang melekat pada dirinya.

      Kedua tokoh tersebut , lahir dari kampung terpencil, kemudian hijrah untuk menggali mata air kehidupan yang ditaburi dengan penuh hikmah. 

      Catatan ini tidak cukup untuk mengukir suasana kampung,  yang jelas " kampung halaman adalah titi awal untuk memulai hijrah" hijrah dari kampung bukan berarti melupakannya, tetapi pergi untuk kembali berkisah bersama dan berkumpul dengan orang-orang kampung.

_Wallahu 'Alamu Bishshawaab_

Mombi-Alu, 12 Desember, 2024