Senin, 28 Juli 2025

(Edisi ke-5) Mamoko dzi Lembang

Sepulang sekolah di SD Negeri Lamasariang, kami bocah-bocah bergegas pulang dengan langkah riang. Matahari sudah condong ke barat, sinarnya memantul di daun kelapa yang bergoyang ditiup angin siang. Di rumah,  sudah tersaji makan siang sederhana: ande madzinging, pissang rottana mimbumbung di pindang. Di sudut meja saya mambualle` pa`annang pattombong, isinya  kappar  buritt` tombong, hanya ada temba-tembang jo’jo yang sudah berendam minyak Mandar, lengkap dengan tiga atau empat biji cabai rawit setan—disebut setan karena pedasnya melampaui batas.

Setelah perut terisi, kami pun bersiap. Sabir, Sudirman, Pinggi, Kaco More, Burhan, dan Saprianto berlari-lari kecil ke rumah Kama Canduru di Timbo. Kami pun berangkat, menapaki jalan tanah dan batu padas yang membelah kebun kelapa. Sepanjang perjalanan,  Lamasariang ke Timbo melewati bakar tallu rumah Kindo Maarifah dan Ngali, melewati jamabatan tomissang molo, mata kami dimanjakan oleh hamparan hijau, suara burung-burung, dan cahaya mentari yang menari di atas batang pohon . Di antara semak, kami saling berlomba, tertawa terbahak hingga napas tersengal. Dunia terasa luas, dan kami hanyalah bocah-bocah yang sedang bersekutu dengan kebahagiaan.
Canduru sudah menunggu bersama adiknya, Tanda. Kami saling menyapa, tertawa lepas, lalu mengikat janji untuk petualangan sore itu: Mamoko dzi Lembang. Di pinggir kampung, suara ayam berkokok bersahut dengan desir angin, Siang itu, langit biru meneteskan cahaya di sela pohon-pohon di pinggir kampung. Punna bakar berdiri teduh, daun lebarnya menari, buah bakar menggantung bagai lentera hijau. Di dekatnya, punna tomissang merimbun, rantingnya digoyang angin, menyimpan aroma manis dari buah yang mulai ranum. Sementara di sepanjang tanah di sana , punna anjoro menjulang, pelepahnya melambai seperti lambaian laut, menyimpan air kehidupan dalam buah yang bergelayut. Di bawah bayang pohon-pohon itu, siang hari terasa ramah, seakan kampung ini bernafas damai dalam pelukan alam.

Sampailah kami di lembang, sebuah bendungan alami yang dijaga oleh anyaman daun kelapa. Obor-obor kecil, atau sulo, tertata rapi menahan air agar tak mengalir bebas. Airnya jernih, berkilau bagai kaca, memantulkan bayang pepohonan yang menjulang di sekitarnya. Gemercik air mengalun di antara bebatuan, seolah menyanyikan lagu lama yang hanya dipahami oleh mereka yang tumbuh di kampung ini.

Di dalam bendungan, ikan, kepiting, dan udang menunggu saatnya dipanen. Air yang tertahan dialirkan ke sisi lain, ditampung dalam bak buatan alami yang ditimbai airnya. Ada yang menguras dengan gayung, ada pula yang terjun langsung, memulai petualangan mamoko—menangkap ikan, kepiting, dan udang dengan tangan kosong. Kami bersorak, tertawa, dan saling menggoda. Lumpur menempel di kaki, tapi wajah kami bersih oleh tawa.

Yang paling seru adalah saat Sudirman menangis menjerit,  karena nasikki i bu’ang!” Teriakan itu menjadi aba-aba untuk kami saling mengejar sambil ciprat-menyipratkan air. Tubuh kami basah kuyup,  hanya celana melekat di kulit, tapi tidak ada yang peduli. Kami larut dalam kegembiraan yang tak bisa dibeli oleh apa pun, apalagi oleh layar kaca atau gawai yang kini merajai dunia anak-anak.

Sore menjelang, langit Timbo  berubah jingga. Kami pun mengumpulkan hasil tangkapan, lalu kembali ke rumah Canduru. Di sana, kindo Canduru sudah siap dengan tungku api, menyambut kami dengan senyum. Udang, ikan, dan kepiting itu dimasak, ada juga loka piapi dan lameayu piapi—dua hidangan khas yang membuat aroma dapur menyeruak ke setiap sudut rumah panggung. Kami duduk melingkar, tangan kecil ini lahap menyantap setiap suapan, ditemani gelak tawa dan cerita-cerita lucu.

Ketika senja turun perlahan, kami pulang dengan langkah gontai tapi hati penuh bahagia. Jalan tanah  batu padas  senja hari masih  terasa hangat di telapak kaki. Di kejauhan, di mesjid lamasariang sudah pelloa pala, menandai hari yang hampir selesai. seolah menyimpan rahasia masa kecil yang tak akan pernah kami lupakan.

Lamasariang  itu adalah surga kecil yang tak ternilai. Di sana, kami belajar tentang kebersamaan, tentang tawa yang tulus, dan tentang betapa indahnya hidup yang sederhana. Dan ketika langit berubah gelap, kami menatap bintang pertama di cakrawala dengan hati yang damai, seolah mendengar bisikan leluhur: “Jagalah tanahmu, cintai kampungmu, karena di sanalah bahagia bermula.”

Begitulah Mamoko dzi Lembang—bukan sekadar cerita masa kecil, melainkan kenangan yang akan selalu hidup di relung jiwa kami. Sebuah kisah tentang alam, persaudaraan, dan cinta yang tak lekang oleh waktu. Lamasariang, engkau selalu indah dalam ingatan.

(Episode ke-4) Pa'ambi Beke

Safardy Bora

Dulu, di Lamasariang—tempat kecil yang tak pernah kecil dalam kenangan—aku hidup bersama aroma tanah basah dan bau kandang kambing yang menyatu dalam pagi. Waktu seolah berputar lambat di sana. Dan aku adalah bocah yang bangga, memelihara beke di bawah rumah panggung kami yang renta tapi hangat. Itulah dunia kecilku—berpagar kayu seadanya, berpintu kayu lapuk yang dibuka dan ditutup dengan simpul tali.

Kandang itu tak luas, tapi cukup buat beberapa ekor beke yang sering kurawat. Ada palung makan yang dibuat dari batang kayu yang sengaja dipahat oleh kama’u. Tempat makan itu tak pernah kosong, sebab aku, kama'u, atau kindo'u akan selalu mencari ande beke, daun-daun hijau ayu ranni kesukaan kambing, dari kebun atau hutan. Kami setiap waktu sore sepulang sekolah menerobos kebun-kebun mengambil ande beke, pokoknya asal beke makan, asal tak ketahuan pemiliknya— mesti sebagian besar ande beke itu memang Spanyol, separuh nyolong.

Kami sering menyusuri lembang Matti’,di ba'ba cendra tempat rimbun dan sejuk tapi menyimpan bahaya. Di balik semak, bisa saja seekor ular piton diam-diam menunggu. Tapi demi beke yang menunggu di kolong rumah, kaki tetap melangkah. Kadang ke Pandebulawang, apalagi kalau sekolah libur. Itu sudah semacam tugas negara: ikut kama dan kindo ke kebun. Kama’u, waktu masih hidup, beliau-lah yang selalu pulang membawa ande beke nasoppo setiap hari. Kalau beliau terlambat pulang, beke akan meraung-raung  tamba’i, meronta di namboyang.

Tapi kadang malas juga datang diam-diam. Jika sudah begitu, maka dua punna camba di poros jalan utama Majene–Polewali, tepat di depan rumah Amma Pisa, menjadi sasaran utama. Pohon camba itu raksasa. Batangnya tak bisa kupeluk, bahkan dengan dua pasang tangan anak-anak pun belum cukup mengelilinginya. Tapi entah bagaimana, aku bisa naik sampai ke puncaknya. Memanjat, bergelantungan, berpindah dari ranting ke ranting, seperti ada tangan tak kasat mata yang menuntun. Kalau dipikir sekarang, benar-benar tak masuk akal. Seolah ada yang mengendalikan. Itu bukan sekadar keberanian bocah. Itu adalah kuasa Allah yang nyata, menjaga anak kecil dengan sejumput niat dan setumpuk tanggung jawab di dadanya.

Kambing kami tak makan siang, cukup malam. Satu kali sehari. Tapi kadang-kadang, kalau ada  rato wakar,  ditatta’, setelah itu diberi minum dari seduhan air garam, disajikan sebagai camilan siang. Tapi keseruan sejatinya bukan di situ. Yang paling heboh adalah saat musim kawin. Suara beke jantan meraung keras memanggil betina, keseruan  berikut jika naulelei barona gulang. Kadang irri-irri tak karuan. Dan kalau sudah karaoi bongi, gaduh tengah malam, tetangga satu kampung bangun mendengar beke menjerit.

Tapi semua itu tak membuat lelahku sia-sia. Memelihara beke tak pernah membuatku merasa kecil. Bahkan sebaliknya, itu semacam lambang tanggung jawab. Aku melakukan semua dengan ikhlas. Tidak berharap pamrih, tak mengharap ucapan terima kasih. Kalau kebetulan ada paalli beke, pembeli kambing datang dari Tammejarra, lalu kambingku dibeli, ya Alhamdulillah. Tapi kalau tidak, ya sudah. Uangnya pun kadang tak sampai ke tanganku. Kindo'u yang mengurus semua. Tapi aku tahu, beke membantu dapur kami tetap berasap.

Keluargaku bukan keluarga berada. Kami hanya petani biasa. Hidup pas-pasan. Kadang uang belanja tidak cukup untuk seminggu. Maka memelihara beke bukan hanya hobi, tapi bagian dari bertahan hidup. Suka duka itu aku jalani tanpa keluh. Kalau aku menangis, itu bukan karena beratnya beban, tapi karena kaki tersandung akar atau terkena duri saat cari ande beke. Atau karena kena parare, ulat bulu gatal yang kadang ikut nempel di ande beke yang menempel di daun pisang. Kalau sampai kambing makan itu, dia akan menjerit, sekeras-kerasnya, seolah dunia hendak runtuh.

Yang paling heboh juga saat ada kegiatan di sekolah, bagaimana pun mengambil makanan kambing musti sore menjelang petang.Sasarannya cuma satu: punna ayu wagzang di tengah kubur Puang Padza yang selalu membuat bulu kuduk berdiri. Sendirian pula di bawah langit merah, bayangan pohon seolah menjelma wajah. Tapi aku tetap melangkah, demi beke yang menanti.

Dulu, memelihara kambing adalah bentuk kebanggaan. Itu adalah tanda bahwa aku anak yang bisa dipercaya, anak lelaki yang mulai menapaki tanggung jawab kecilnya di dunia. Dan beke bukan sekadar hewan ternak, tapi kawan, sahabat yang diam tapi mengerti. Saat dia mengembik pelan karena lapar, aku merasa seperti dipanggil oleh rasa cinta.

Tak semua anak punya kesempatan itu. Tak semua bisa merasakan bagaimana rasanya meramu kasih sayang dari tumpukan daun hijau, atau mendengar suara kambing malam-malam sebagai pengantar tidur. Aku pernah, dan aku bangga. Dari bawah rumah itu, dari kandang kecil itu, aku belajar tentang ketulusan, keikhlasan, dan kerja keras.

Kini, semua itu hanya tinggal kenangan. Tapi setiap kali aroma rerumputan basah menerpa hidungku, atau kudengar embikan dari kejauhan, hatiku dibawa pulang. Kembali ke masa ketika aku kecil di Lamasariang. Masa ketika satu ekor beke bisa membuat dunia terasa lengkap. Masa ketika cinta tidak butuh kata-kata besar, cukup satu embikan yang kutanggapi dengan setangkai raasande beke.

Dan malam ini, aku menulis sambil menahan haru. Di dunia yang serba cepat dan penuh perhitungan ini, ingatan tentang beke adalah oase. Aku tak bisa kembali menjadi anak kecil yang memeluk batang camba, memanjat sampai ke pucuknya, tapi aku tahu—di dalam dadaku, aku belum pernah benar-benar turun. Masih ada bagian dari diriku yang menggenggam ranting, yang berjalan menyusuri hutan, yang duduk di kolong rumah sambil menatap kambing kecil dengan mata penuh harapan.

Mungkin itulah yang disebut pulang. Bukan ke rumah-rumah yang kita bangun di kota, tapi ke rumah dalam kenangan—yang dindingnya terbuat dari kasih, dan lantainya dari keikhlasan. Dan beke—si kecil yang sering kita sebut remeh—telah mengajari aku lebih banyak tentang hidup, daripada banyak buku yang kutamatkan setelah dewasa.

Catatan perjalananku...
Lamasariang yang begitu indah ...