Senin, 02 September 2024

PIP-KIP RATIH || Itu Diperjuangkan, Bukan Bonus Wakil Rakyat


Catatan Muhammad Munir

Ratih Megasari Singkarru yang lolos sebagai wakil rakyat di Senayan pada Pemilu 2019-2024 dan kembali melenggang dengan aman pada Pemilu 2024 kemarin. Terpilihnya Ratih adalah representasi dari harapan masyarakat dari dapil Sulbar. Hal menarik dari sosok putri H. Hendra Singkarru ini adalah program yang digiring ke Sulbar, yakni PIP-KIP yang pada periode pertamanya berhasil meloloskan sekitar 1 Triliun untuk dinikmati langsung oleh masyarakat.

Jangan bilang program ini sudah menjadi kewajiban Ratih sebagai wakil rakyat, sebab dari dapil ini bukan hanya Ratih yang ada di Senayan. Pertanyaannya apakah program beasiswa itu akan tetap ada andai tidak ada Ratih di Senayan?. Program ini butuh nyali dan upaya maksimal untuk bisa dinikmati oleh masyarakat Sulbar. Upaya Ratih ini yang harus diapresiasi, bahwa keberaniannya menggalang program ini tentu tidak mudah dan bukan hanya dengan modal sebagai anggota DPR saja.

Program yang dikawal oleh Ratih ini memiliki pengaruh besar terhadap penerima manfaat, sehingga kembali mengantarkannya ke Senayan, termasuk adiknya, Andri Prayoga Singkarru kecipratan dan bertahan di Gedung DPD RI untuk periode keduanya sebagai Senator. Bahkan Pemilu kemarin tercipta Ratih efek yang memposisikan Nasdem menjadi partai pemenang kedua di Polman.

Ratusan ribu orang di Sulbar tentu bukan angka yang sedikit. Dan harapan kita dari program ini, masyarakat tak perlu takut anaknya tidak lanjut pendidikannya. Semua mempunyai kesempatan yang sama memperoleh pendidikan yang layak sebagaimana kesempatan yang dinikmati oleh anak pejabat. Mereka yang menerima tentu berusaha untuk bisa membalas jasa Ratih dalam bentuk suara dalam pemilu. Itu faktanya.

Tiba di tahun kelima, Ratih mulai digoyang, disorot oleh mata tajam lawan-lawan politiknya. Terlebih bertepatan dengan momentum Pilkada Bupati dan Gubernur Sulbar. Ratih seketika dianggap sebagai momok yang menakutkan dan bisa mengancam popularitas dan elektabilitasnya di Pilkada. Ratih tak boleh dibiarkan terus melakukan blusukan ke semua-sekolah dan kampus-kampus di Sulbar. Tapi faktanya, Ratih disambut oleh semua lembaga pendidikan dengan sangat hormat. Kehadirannya bahkan lebih ditunggu oleh rakyat dibanding dengan artis-artis yang dibayar oleh kandidat.

Goyangan terhadap Ratih semakin diperkuat ketika Dirga AP Singkarru resmi mendaftar sebagai Calon Bupati dengan menggandeng Iskandar Muda sebagai wakilnya. Pasangan ini tentu saja menjadi pusat perhatian para politisi mengingat dua sosok ini tak memiliki beban masa lalu di pemerintahan. Dirga dan Iskandar Muda justru dihadang oleh beban masa depan Polman. Ragukah pasangan ini bertarung dengan para pembesar dan orang-orang besar yang kini menjadi rivalnya? Bukan putra Singkarru jika keraguan itu ada, bukan putra Barlop jika Iskandar harus takut.

Singkarru kini menjelma menjadi klan baru dan bertumbuh dengan pesat. Nasdem Sulbar kini ditangan Dirga A.P. Singkarru, kedua adiknya Ratih dan Andri masih dihitung sebagai politisi yang pro rakyat. Ayahnya, H. Hendra S. Singkarru adalah pengusaha kaya, politisi dan mantan Anggota DPR RI yang disegani baik kawan maupun lawan lawan. Wajar saja bahwa kehadiran Dirga-Iskandar membuat lawannya ketar-ketir dan melakukan upaya yang tak lagi bertimbang rasionalitas. "Family Singkarru tak berhak menjadi pemimpin", itu kata mereka sebagian.

Tapi adakah efek goyangan itu sampai merontokkan pagar dan gedung Hotel Ratih? Adakah Rumah Aspirasi seketika rubuh? Apakah konstituen meninggalkannya? Apakah ibu-ibu pengajian Ratih Al-Kafah berhenti bertaklim dan berdzikir? Ampuhkah mantra-matra berupa rilis tulisan lawan itu menembus doa pelajar yang menuntut ilmu itu?. Saya yakin tidak, sebab para pencari ilmu itu dilindungi oleh sayap-sayap malaikat, tentu saja yang memfasilitasi pendidikannya juga akan ikut menerima alla'birang doa yang akan ma'appu' setiap langkah dan pergerakan politik dari Family Singkarru ini.


SDK-JSM || Assitalliang di Palippis

Reportase Muhammad Munir

Minggu, 1 September 2024. Ketika Bintang gemintang menggelantung diatas langit lazuardi. Angin sepoi rekah dari bibir-bibir alam yang rancu. Sebuah rumah berarsitektur moderen menjulang ke langit. Dari serambi belakang rumah nampak view laut Teluk Mandar serupa permadani yang menghampar. Rumah Putih, menjadi salah satu properti keindahan yang melingkupi obyek wisata pantai Palippis. Rumah itu lahir dari gagasan seorang Syamsul Samad, politisi muda Partai Demokrat yang karirnya cukup cemerlang di dunia politik. 

Palippis adalah salah satu situs purba yang kemudian menemukan takdirnya sebagai sumbu peradaban awal di Mandar. Dari sinilah ritus Puang Sodho, Pa'bicara Kayyang pertama Balanipa mulai ditulis. Dari sini pula, I Manyambungi pertama kali meretas kekuatan Kerajaan Passokkorang dengan membantai Tomakaka' I Kayyang Palasang. Dengan demikian, Palippis tentu tak boleh hanya dimaknai sebagai obyek wisata, lebih dari itu Palippis adalah sumbu peradaban tua yang ditandai dengan singkapan keramik spesifikasi Yuan (1300-1400 M) serta temuan gerabah berhias yang menunjukkan bahwa Palippis adalah kampung kuno pada ribuan tahun lalu. 

Malam ini kemudian menjadi tempat berkumpulnya ratusan relawan yang mengusung SDK-JSM maju di Pilkada Gubernur Sulbar 2024-2029. Saya menyebutnya sebentuk Assitalliang di Palippis karena hadirnya dua sosok penting dalam garis perjuangan yakni Suhardi Duka dan Jendral Salim S. Mengga sebagai Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Barat. Acara bertajuk konsolidasi ini juga dihadiri oleh Syamsul Samad (Ketua Tim Relawan) selaku ahlul bait yang didapuk sebagai pemandu jalannya lalu lintas diskusi antara tim dengan SDK dan JSM. Ary Iftikhar Koje dan sejumlah politisi Anggota DPRD Kabupaten dan Propinsi dari partai pengusung juga nampak hadir membersamai. 

Maka jadilah gemuruh gelombang semangat membuncah untuk menitipkan harapan pada calon nakhoda baru bagi perahu yang bernama Sulawesi Barat. SDK dan JSM memantik para relawan dengan sangat piawai membentangkan kerangka strategi pemenangan. Demikian juga JSM tampil khas  memberi wejangan bahwa kemenangan harus diraih dengan santun dan bermartabat. Rakyat harus diperlakukan sedemikian baik, sebab kita yang membutuhkan keterlibatan mereka dalam mengawal kemenangan. SDK dan JSM adalah alasan untuk merekatkan persatuan dan kesatuan. 'Kali ini kita harus bisa memenangkan pertarungan". Pantik SDK dengan membeberkan beberapa klan besar di Polman yang kerap mengisi perhelatan politik daerah ini. "Klan Manggabarani, Mengga dan Masdar. Kini muncul klan baru bernama Singkarru. Klan Manggabarani telah redup, sisa klan Masdar, Mengga dan Singkarru. Dua diantaranya adalah koalisi kita untuk menjadi pemenang".  Pungkas SDK yang disambut pekikan Allahu Akbar dan kata Amin dari 300 relawan yang hadir. 

Acara berlangsung cukup alot dan seru dengan hadirnya sejumlah pemuda potensi yang ikur mewarnai jalannya acara. Ada Hamka, Allink Tapol, Hervol, Elly, dan lainnya memberikan kritik saran yang membangun. Termasuk saya juga ikut nimbrung menyampaikan titipan harapan untuk pemajuan kebudayaan dan pengembangan literasi di Sulbar. Kendati mungkin dianggap terlalu prematur disampaikan, namun konsep visi misi SDK -JSM mesti mengikat program ini agar ketika terpilih, keduanya akan abadi layaknya para pemimpin di Pitu Ulunna Salu dan Pitu Ba'bana Binanga yang pola laku dan pesannya yang tak lekang oleh zaman. 

Itulah makanya, saya kerap menyiapkan waktu untuk hadir sebagai penyaksi beberapa peristiwa penting dalam kancah perjuangan SDK-JSM. Baik itu di Polman, Mamuju dan Insyaallah ditempat lainnya. Saya ingin merasakan dan menikmati dinamika dan dialektika politik yang mereka bangun. Saya ingin menuliskan berbagai momen penting yang nantinya jejak mereka dibaca oleh masyarakat Sulawesi Barat. Ini torehan tentang Palippis, SDK dan JSM yang kelak menjadi episentrum lahirnya calon pemimpin yang berkarakter seperti SDK, yang kharismatik layaknya JSM. Sukses selalu dalam pantauan dewata dia, Tuhan semesta alam. 



PROGRAM ANGGOTA DPR RI DISOROT || Efek Pilkada Serentak

Catatan Muhammad Munir 

Secara umum, mereka yang lolos sebagai wakil rakyat di Senayan adalah representasi dari harapan masyarakat dari dapil sang wakil. Mereka yang lolos kemudian berusaha untuk bisa menggiring program kerakyatan ke dapil masing-masing. Tentu saja, yang bisa menggiring program pro rakyat itu tak memiliki peluang yang sama, sebab mereka yang menjadi wakil rakyat itu juga tak semua fokus untuk memikirkan kepentingan rakyat. Tak jarang kita menemukan wakil rakyat yang turun hanya gagah-gagahan dihadapan rakyat yang mencoblosnya pada saat pemilu. 

Sepanjang yang saya fahami, dari Pemilu 2009, setidajnya terdapat H. Hendra Singkarru yang booming dengan program PPIP dan kegiatan lain terkait pertanian. Lalu muncul nama Andi Ruskati Rajab dengan program PKH-nya. Belakangan muncul SDK dengan program saprodi dan saprotan yang diakui sangat bermanfaat membantu para petani dalam meningkatkan pendapatan perkapita masyarakat Sulbar. Demikian juga Ratih Megasari Singkarru yang concern memperjuangkan beasiswa bagi masyarakat yang tak punya kemampuan membiayai anak-anaknya melanjutkan pendidikannya mulai dari SD sampai ke jenjang perguruan tinggi. Program PIP-KIP menjadikan putri Hendra Singkarru berada dalam sorotan mata tajam lawan politiknya.  

Adakah yang salah jika mereka tampil sebagai wakil rakyat dengan membawa sejumlah program yang bermanfaat bagi masyarakat yang diwakilinya? Nyaris tak ada yang komplain ketika mereka turun dengan label PPIP PKH, dan Saprotan atau lainnya. Itu sebelum era Pemilu dan Pilkada. Ketika perhelatan Pileg dan Pilkada akan digelar, program pro rakyat ini disorot, dihujat dari berbagai arah. Lucunya, Ratih Megasari Singkarru menjadi pesakitan. Ia terhukumi menjadi pelaku politisasi program pemerintah. Terutama saat tahapan Pilkada setentak dimulai. Program PIP seakan  tak punya manfaat, sebagian lagi menggiring opini bahwa PIP KIP hanya janji dan tak mampu direalisasi. Siapa palakunya? Tentu saja pelakunya adalah media yang punya relasi dengan paslon diluar dukungan Dirga AP Singkarru dan Iskandar. Termasuk juga pasangan SDK dan JSM ikut tersandra karena Nasdem menjadi salah satu pengusung di Pilgub Sulbar. Media media itu tumbuh bak jamur memberitakan hal yang sama dengan narasi yang tak balance. Mereka mencari informan yang disulap seolah jadi korban janji pemilu Singkarru Family. 

Sebegitu tinggikah efek Ratih dan programnya terhadap potensi kemenangan Dirga dan SDK?. Bisa jadi iya, sebab program ini berkelindang dengan peningkatan elektabilitas pemilih melalui program beasiswa KIP (Kartu Indonesia Pintar) dan PIP (Program Indonesia Pintar) di Kabupaten Polewali Mandar. Hal tersebut bisa dilihat dari persentase penerima beasiswa dibandingkan dengan total jumlah penduduk dan Daftar Pemilih Tetap (DPT). Contoh kecil persentase penerima beasiswa terhadap jumlah penduduk yang ada di Polman. Asumsi dasar penerima 40.000 siswa (angka perkiraan) jumlah penduduk Kabupaten Polewali Mandar  495.371 jiwa. 40.000 : 495.371) X 100 = 8,08%. 

Jika penerima beasiswa: 40.000 siswa dengan jumlah DPT: 345.281. Kalkulasinya adalah 40.000: 345.281) X 100 = 11,58%. Ini jika dikalikan dengan jumlah penerima saja. Bagaimana jika bapak dan ibu penerima beasiswa itu ternyata ikut sama anaknya ikut mendukung? Maka kalkulasi kemenangan ini tentu akan membuat lawan ketar ketir dan menghalalkan segala cara untuk meretas pergerakan yang terpusat di Rumah Aspirasi Ratih Megasari. 

Kondisi ini akan semakin menjadi jadi menjelang 27 November 2024. Tapi apakah rakyat (penerima PIP) akan termakan dengan berita kampungan macam itu?. Saya yakin itu tak akan terjadi dan endingnya, mereka adalah paslon yang tak punya kreatifitas yang mumpuni dibanding dengan paslon Dirga-Iskandar 
SDK - JSM. 

Akhirnya saya ingin mengatakan, carilah cara yang lebih elegan dan bermanfaat untuk bisa menjadi pemenang dalam kontestasi Pilkada tahun ini. Jangan ada lagi black campagn yang sesungguhnya hanya akan merugikan diri dan paslon yang telah didaftarkan ke pihak penyelenggara.