Senin, 12 Oktober 2026

Jejak Pengabdian Annangguru Sybli Sahabuddin, dari Pakistan ke Senayan hingga Kembali ke Tanah Mandar

Oleh Azis Hisham Maulana 

MAJENE — Perjalanan hidup KH Muhammad Syibli Sahabuddin merupakan kisah tentang pengabdian yang melintasi dunia pendidikan, organisasi keagamaan, tarekat, hingga politik nasional. Sosok yang akrab disapa Annangguru Syibli itu tumbuh dalam tradisi keilmuan Islam, melanjutkan pendidikan hingga Pakistan, memimpin perguruan tinggi di Polewali Mandar, dan mengemban amanah sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) selama dua periode.

Kini, perjalanan panjang tersebut sampai pada penghujungnya. Pada Senin (12/10/2026), jenazah Annangguru Syibli diberangkatkan dari Makassar menuju Majene untuk dimakamkan di Lembang, di samping makam sang ayah, Prof KH Sahabuddin.

Kepergiannya meninggalkan jejak seorang tokoh yang selama puluhan tahun berada di persimpangan pendidikan, kehidupan keagamaan, dan dinamika politik Sulawesi Barat.

𝙈𝙚𝙣𝙚𝙢𝙥𝙪𝙝 𝙋𝙚𝙣𝙙𝙞𝙙𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙝𝙞𝙣𝙜𝙜𝙖 𝙋𝙖𝙠𝙞𝙨𝙩𝙖𝙣

Muhammad Syibli Sahabuddin lahir di Polewali pada 20 Agustus 1968. Ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang lekat dengan pendidikan dan tradisi keilmuan Islam.

Pendidikan dasarnya ditempuh di SDN Busaeri Ternate dan diselesaikan pada 1981. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di MTs Pondok Pesantren Modern IMMIM Makassar hingga 1984, sebelum menamatkan pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Makassar pada 1987.

Pengalaman belajar di pesantren menjadi bagian penting dalam pembentukan dirinya. Namun, perjalanan akademiknya tidak berhenti di lingkungan pendidikan dalam negeri.

Pada 1988, Syibli melanjutkan studi ke International Islamic University (IIU), Islamabad, Pakistan. Keputusan tersebut membawanya ke lingkungan akademik dan pergaulan internasional yang lebih luas.

Di tengah kesibukannya menempuh pendidikan, ia juga aktif dalam organisasi mahasiswa Muslim. Syibli tercatat pernah menjabat Sekretaris Jenderal ASEAN Muslim Student Association (AMSA) pada 1988–1989.

Pengalaman itu memperlihatkan bahwa keterlibatannya dalam organisasi telah tumbuh sejak usia muda, ketika ia masih menempuh pendidikan.

Setelah dari Pakistan, Syibli melanjutkan studi di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 1991. Ia kemudian kembali menempuh pendidikan pascasarjana di kampus yang sama pada 2002.

Perjalanan pendidikan tersebut mempertemukannya dengan beragam lingkungan keilmuan, mulai dari pesantren di Makassar, perguruan tinggi Islam di Pakistan, hingga kehidupan akademik di Jakarta.

Bekal itulah yang kemudian menyertai langkahnya ketika memasuki dunia pendidikan tinggi, organisasi keagamaan, dan politik.

𝙈𝙚𝙡𝙖𝙣𝙟𝙪𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙅𝙚𝙟𝙖𝙠 𝙎𝙖𝙣𝙜 𝘼𝙮𝙖𝙝 𝙙𝙞 𝘿𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙋𝙚𝙣𝙙𝙞𝙙𝙞𝙠𝙖𝙣

Nama Syibli tidak dapat dilepaskan dari Universitas Al Asyariah Mandar (Unasman), perguruan tinggi yang memiliki hubungan erat dengan perjalanan pengabdian keluarganya.

Ayahnya, Prof KH Sahabuddin, dikenal sebagai ulama Mandar sekaligus pendiri Yayasan Al Asyariah Mandar.

Cikal bakal Unasman berawal dari dua lembaga pendidikan tinggi, yakni Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) dan Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIP), yang berdiri pada 1975. Kedua lembaga tersebut kemudian bergabung menjadi Universitas Al Asyariah Mandar pada 2004.

Di kampus inilah Syibli mengambil peran dalam pengembangan institusi pendidikan tinggi di Polewali Mandar.

Pada 2004, ia dipercaya menjadi Direktur Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unasman. Setahun kemudian, ia menjabat sebagai rektor untuk periode 2005–2009.

Sebagai rektor, Syibli berada dalam posisi strategis untuk mengelola dan mengembangkan perguruan tinggi yang sedang menjalani tahap awal sebagai universitas.

Kiprahnya menunjukkan bahwa pengabdian Syibli tidak hanya berlangsung dalam kegiatan dakwah dan pembinaan umat. Ia juga terlibat langsung dalam dunia akademik, pengelolaan perguruan tinggi, serta pengembangan kelembagaan pendidikan.

Setelah menyelesaikan masa jabatannya sebagai rektor, hubungannya dengan Unasman tetap berlanjut. Ia kemudian dikenal sebagai Ketua Yayasan Al Asyariah Mandar, lembaga yang menaungi perguruan tinggi tersebut.

Dengan demikian, pengabdiannya di dunia pendidikan berlangsung melalui dua jalur, yakni memimpin kampus dan berperan dalam yayasan yang menaunginya.

Bahkan, dalam rangkaian perjalanan terakhirnya, jenazah Syibli dijadwalkan disalatkan di masjid kampus Unasman sebelum dibawa ke Lembang untuk dimakamkan.

Tempat tersebut bukan sekadar lingkungan perguruan tinggi. Unasman menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan pengabdian Syibli sekaligus warisan pendidikan yang berkaitan erat dengan keluarganya.

𝘿𝙖𝙧𝙞 𝙊𝙧𝙜𝙖𝙣𝙞𝙨𝙖𝙨𝙞 𝙈𝙖𝙝𝙖𝙨𝙞𝙨𝙬𝙖 𝙝𝙞𝙣𝙜𝙜𝙖 𝙋𝙞𝙢𝙥𝙞𝙣𝙖𝙣 𝙉𝙐 𝙎𝙪𝙡𝙗𝙖𝙧

Selain pendidikan, organisasi menjadi ruang lain yang membentuk perjalanan Syibli.

Ketika berada di Jakarta, ia tercatat sebagai pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Ciputat pada 1990. Ia juga pernah menjadi pengurus Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor pada 1997.

Keterlibatan dalam organisasi mahasiswa dan kepemudaan itu menjadi bagian dari perjalanan panjangnya di lingkungan organisasi Islam.

Langkahnya kemudian berlanjut di Nahdlatul Ulama (NU). Syibli pernah menjabat Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Sulawesi Barat selama periode 2007–2019.

Ia memimpin kepengurusan NU tingkat provinsi selama lebih dari satu dekade. Dalam posisi tersebut, tanggung jawabnya tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan program organisasi, tetapi juga penguatan peran NU dalam kehidupan keagamaan dan kemasyarakatan di Sulawesi Barat.

Pengalaman panjang di lingkungan organisasi membuat Syibli dikenal bukan hanya sebagai ulama, melainkan juga sebagai organisator yang terlibat dalam pengelolaan dan kepemimpinan kelembagaan.

Perjalanan itu memperlihatkan kesinambungan antara latar pendidikan Islam yang ditempuhnya, aktivitas organisasi sejak muda, dan pengabdiannya dalam struktur keagamaan.

𝙈𝙚𝙣𝙚𝙧𝙪𝙨𝙠𝙖𝙣 𝙏𝙧𝙖𝙙𝙞𝙨𝙞 𝙏𝙖𝙧𝙚𝙠𝙖𝙩 𝙌𝙖𝙙𝙞𝙧𝙞𝙮𝙖𝙝

Di luar jabatan formal, Syibli dikenal sebagai mursyid Tarekat Qadiriyah.

Dalam tradisi tarekat, mursyid merupakan pembimbing spiritual yang mendampingi pengikutnya dalam menjalani amalan dan pembinaan keagamaan.

Peran tersebut memiliki kaitan erat dengan latar belakang keluarganya. Sang ayah, Prof KH Sahabuddin, dikenal sebagai ulama Tanah Mandar yang juga memimpin Tarekat Qadiriyah.

Setelah ayahnya meninggal dunia pada 2004, Syibli disebut meneruskan kepemimpinan dalam tarekat tersebut.

Dengan demikian, pengabdiannya di bidang spiritual bukanlah perjalanan yang berdiri sendiri. Ada tradisi keagamaan keluarga yang turut membentuk jalan pengabdiannya.

Di tengah masyarakat Mandar, sebutan Annangguru merupakan panggilan penghormatan bagi guru agama atau ulama. Sebutan itu melekat pada Syibli seiring kiprahnya dalam kehidupan keagamaan masyarakat.

Namun, perannya tidak hanya terbatas pada pembinaan spiritual. Ia juga menjalani tanggung jawab dalam pendidikan tinggi, organisasi keagamaan, dan kehidupan politik.

Berbagai peran tersebut menjadikan perjalanan Syibli memiliki dimensi yang luas, dari pembinaan umat hingga keterlibatan dalam urusan publik.

𝙎𝙚𝙥𝙪𝙡𝙪𝙝 𝙏𝙖𝙝𝙪𝙣 𝙈𝙚𝙢𝙗𝙖𝙬𝙖 𝘼𝙨𝙥𝙞𝙧𝙖𝙨𝙞 𝙎𝙪𝙡𝙖𝙬𝙚𝙨𝙞 𝘽𝙖𝙧𝙖𝙩 𝙙𝙞 𝘿𝙋𝘿 𝙍𝙄

Perjalanan Syibli kemudian meluas ke tingkat nasional melalui jalur politik.

Ia terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia dari daerah pemilihan Sulawesi Barat untuk dua periode berturut-turut, yakni 2009–2014 dan 2014–2019.

Selama sekitar sepuluh tahun, Syibli menjadi bagian dari lembaga perwakilan yang membawa kepentingan daerah ke tingkat nasional.

Keberadaannya di DPD RI memperluas ruang pengabdiannya. Jika di perguruan tinggi ia berhadapan dengan persoalan pendidikan, sementara di organisasi keagamaan ia terlibat dalam pembinaan umat, di lembaga negara ia menjalankan peran dalam memperjuangkan kepentingan daerah sesuai kewenangan senator.

Dua periode di Senayan juga menandai perjalanan seorang tokoh Sulawesi Barat yang tidak hanya berkiprah di lingkungan lokal, tetapi turut terlibat dalam dinamika politik nasional.

Setelah menyelesaikan masa pengabdiannya sebagai senator pada 2019, Syibli tetap melanjutkan aktivitas politik di daerah.

Ia kemudian memimpin Dewan Pimpinan Wilayah Partai Kebangkitan Bangsa (DPW PKB) Sulawesi Barat.

Jabatan tersebut menjadi babak berikutnya dalam perjalanan politiknya. Kali ini, perannya berada dalam kepemimpinan partai yang menjadi salah satu saluran perjuangannya di tingkat daerah.

Perpindahan dari lembaga perwakilan menuju kepemimpinan partai menunjukkan bahwa aktivitas politik tetap menjadi bagian dari perjalanan hidupnya setelah menuntaskan dua periode di DPD RI.

𝙒𝙖𝙧𝙞𝙨𝙖𝙣 𝙆𝙚𝙡𝙪𝙖𝙧𝙜𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙍𝙚𝙠𝙖𝙢 𝙅𝙚𝙟𝙖𝙠 𝙋𝙚𝙣𝙜𝙖𝙗𝙙𝙞𝙖𝙣

Latar belakang keluarga memberikan konteks penting untuk memahami perjalanan Syibli.

Ia merupakan putra Prof KH Sahabuddin, tokoh yang dikenal memiliki peran dalam pengembangan pendidikan dan kehidupan keagamaan di Tanah Mandar.

Pengaruh lingkungan keluarga juga terlihat dari keterlibatan sejumlah anggota keluarga dalam dunia pendidikan tinggi, di antaranya Chuduriah Sahabuddin dan Prof. Wasilah Sahabuddin.

Kehidupan dalam keluarga yang dekat dengan pendidikan dan tradisi keilmuan Islam menjadi bagian dari lingkungan tempat Syibli bertumbuh.

Meski demikian, perjalanan hidupnya tidak hanya dapat dilihat sebagai kelanjutan nama besar sang ayah. Ia juga membangun rekam jejak melalui pendidikan yang ditempuh, pengalaman organisasi, kepemimpinan perguruan tinggi, pengabdian sebagai ulama, hingga keterlibatannya dalam politik.

Ia pernah memimpin Unasman, menjadi Ketua Tanfidziyah PWNU Sulawesi Barat, menjalani dua periode sebagai anggota DPD RI, serta memimpin PKB Sulawesi Barat.

Rentang peran itu memperlihatkan bagaimana Syibli menjalani sejumlah ruang pengabdian yang berbeda tanpa sepenuhnya meninggalkan latar pendidikan dan keagamaan yang membentuk dirinya.

Bagi masyarakat Mandar, namanya tidak hanya berkaitan dengan jabatan politik. Ia juga terhubung dengan dunia pendidikan Islam, tradisi tarekat, dan perjalanan organisasi keagamaan di Sulawesi Barat.

𝙈𝙖𝙠𝙖𝙨𝙨𝙖𝙧, 𝙋𝙤𝙡𝙚𝙬𝙖𝙡𝙞, 𝙙𝙖𝙣 𝙇𝙚𝙢𝙗𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙋𝙚𝙧𝙟𝙖𝙡𝙖𝙣𝙖𝙣 𝙏𝙚𝙧𝙖𝙠𝙝𝙞𝙧

Pada Senin (12/10/2026), perjalanan hidup Annangguru Syibli memasuki babak terakhir.

Ia mengembuskan napas terakhir setelah menjalani perawatan di RSUP Wahidin Sudirohusodo, Makassar. Jenazahnya kemudian dijadwalkan dibawa menuju Majene, dengan singgah di Universitas Al Asyariah Mandar untuk disalatkan sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat pemakaman di Lembang.

Tiga tempat tersebut memiliki makna tersendiri dalam perjalanan hidupnya.

Makassar menjadi kota tempat ia berpulang. Polewali Mandar menyimpan jejak pengabdiannya di dunia pendidikan melalui Unasman. Sementara Lembang menjadi tempat peristirahatan terakhirnya, berdampingan dengan makam sang ayah yang menjadi salah satu tokoh penting dalam perjalanan pendidikan dan keagamaan keluarga Sahabuddin.

Kepulangannya ke Lembang seolah mempertemukan kembali perjalanan seorang anak dengan jejak pengabdian ayahnya.

Semasa hidup, Syibli menempuh pendidikan hingga Pakistan, memimpin perguruan tinggi, mengabdi dalam organisasi keagamaan, meneruskan tradisi Tarekat Qadiriyah, serta membawa mandat politik Sulawesi Barat ke tingkat nasional.

Kini, seluruh perjalanan itu menjadi bagian dari rekam jejak yang ditinggalkannya.

Annangguru Syibli Sahabuddin bukan hanya seorang mantan senator atau pimpinan partai politik. Ia juga seorang ulama yang mengabdikan diri dalam pendidikan dan kehidupan keagamaan masyarakat Mandar.

Kepergiannya menandai berakhirnya perjalanan seorang tokoh yang bergerak di antara dunia ilmu, spiritualitas, dan politik.

Di Lembang, ia akan beristirahat di samping sang ayah. Sementara jejak pengabdiannya tetap menjadi bagian dari perjalanan pendidikan, organisasi keagamaan, dan kehidupan masyarakat Sulawesi Barat.[*]

ULAMA TAREKAT QADIRIYAH ANNANGGURU DR. K.H. MUHAMMAD SYIBLI SAHABUDDIN BERPULANG

Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji‘uun.

Oleh: Syarif Syamsul

Kabar duka menyelimuti masyarakat Mandar, Sulawesi Barat, termasuk kami yang berada di Kalimantan, khususnya Balikpapan. Annangguru K.H. Muhammad Syibli Sahabuddin, ulama yang meneruskan pengajaran Tarekat Qadiriyah di Tanah Mandar, telah berpulang ke rahmatullah hari ini.

Kepergian beliau bukan sekadar kehilangan seorang ulama, melainkan juga bagian dari berakhirnya perjalanan pengabdian seorang guru yang selama hidupnya menjaga kesinambungan tradisi keilmuan dan spiritual umat. Bagi para murid dan masyarakat yang mengenalnya, kepergian Annangguru Syibli menjadi duka mendalam sekaligus pengingat tentang tanggung jawab merawat warisan ilmu yang ditinggalkannya.

Nama Annangguru K.H. Muhammad Syibli Sahabuddin memiliki tempat tersendiri dalam perjalanan Tarekat Qadiriyah di Tanah Mandar. Beliau merupakan putra Prof. Dr. K.H. Sahabuddin, ulama yang meneruskan pengajaran Qadiriyah dari Annangguru K.H. Muhammad Shaleh. Setelah ayahandanya wafat, Annangguru Syibli melanjutkan mata rantai pengajaran tersebut, menjaga agar tradisi spiritual yang diwariskan para pendahulunya tetap hidup di tengah masyarakat.

Dalam tradisi Mandar, panggilan Annangguru bukan sekadar bentuk penghormatan kepada orang yang memiliki pengetahuan agama. Sebutan itu juga mencerminkan kedudukan seorang guru sebagai pembimbing umat, penanam adab, dan penuntun dalam memahami nilai-nilai kehidupan berdasarkan ajaran Islam.

Terlebih dalam tradisi tarekat, tugas seorang guru tidak berhenti pada penyampaian amalan dan tuntunan zikir. Ada tanggung jawab membimbing murid untuk membersihkan hati, memperbaiki akhlak, mengendalikan hawa nafsu, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. Semua itu merupakan perjalanan panjang yang menuntut kesabaran, keikhlasan, dan kesungguhan dalam mengamalkan ajaran agama.

Karena itu, wafatnya seorang guru tarekat menghadirkan amanah yang tidak ringan bagi para penerusnya. Tradisi keilmuan harus terus dihidupkan melalui pengajaran, pengamalan, dan keteladanan agar nilai-nilai yang diajarkan tetap memberi manfaat bagi generasi berikutnya.

Kini, ketika Annangguru Syibli telah kembali ke hadirat Allah SWT, keluarga, murid, dan masyarakat Mandar tentu merasakan kehilangan yang mendalam. Namun, di balik kesedihan itu, terdapat tanggung jawab untuk melanjutkan ikhtiar menjaga kesinambungan pengajaran Tarekat Qadiriyah, merawat persaudaraan, serta memastikan bahwa ajaran kebaikan yang diwariskan para ulama tetap menjadi bagian dari kehidupan umat.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an, Surah Ali Imran ayat 185: “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.”

Ayat ini menegaskan bahwa kehidupan dunia memiliki batas dan setiap manusia akan kembali kepada Sang Pencipta. Kedudukan, keluasan ilmu, maupun besarnya pengabdian tidak menjadikan seseorang luput dari kematian. Namun, berakhirnya usia tidak berarti seluruh manfaat kehidupan seseorang ikut terhenti. Ilmu yang bermanfaat, amal saleh, dan kebaikan yang ditanamkan kepada sesama dapat terus hidup melalui orang-orang yang menerima, mengamalkan, dan meneruskannya.

Rasulullah SAW juga bersabda bahwa apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendoakannya. Pesan ini mengingatkan kita bahwa salah satu warisan paling berharga dari seorang ulama adalah ilmu yang membimbing manusia menuju kebaikan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Bagi masyarakat Mandar, Annangguru Syibli merupakan bagian dari perjalanan panjang para ulama yang mengabdikan hidupnya untuk agama dan umat. Sementara bagi kami yang berada jauh dari Tanah Mandar, kabar kepergian beliau menghadirkan kesedihan tersendiri. Jarak geografis tidak memutus ikatan batin dengan tanah kelahiran, tradisi keagamaan, dan para guru yang menjadi bagian dari perjalanan spiritual masyarakat.

Selamat jalan, Annangguru.

Semoga Allah SWT mengampuni segala khilaf beliau, menerima amal ibadah dan pengabdiannya, melapangkan alam kuburnya, menerangi tempat peristirahatannya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.

Kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga Allah SWT menganugerahkan kesabaran dan ketabahan. Kepada para murid serta penerusnya, semoga diberikan keikhlasan dan kekuatan untuk menjaga amanah keilmuan yang telah diwariskan.

Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.

𝔻𝕚 𝔸𝕟𝕥𝕒𝕣𝕒 𝕃𝕒𝕟𝕥𝕒𝕚 𝕊𝕒𝕥𝕦 𝕕𝕒𝕟 𝕃𝕒𝕟𝕥𝕒𝕚 𝔼𝕞𝕡𝕒𝕥 (Kenanganku tentang Annangguru Syibli Sahabuddin)


Oleh Farham Rahmat 

Ada pertemuan saya dengan beliau yang berlangsung begitu singkat, tetapi kenangannya jauh lebih lama daripada waktu yang mewadahinya. Tidak di ruang-ruang besar, tidak di sidang-sidang penting, tidak di podium yang tinggi, juga tidak dalam percakapan panjang yang sengaja dikonsep.

Pertemuan dengan beliau pada tahun 2018, di tempat sederhana, yaitu di dalam lift, di antara lantai satu dan lantai empat, ketika Annangguru Syibli Sahabuddin menyampaikan kalimat yang kelak terus hidup dalam ingatanku.

Waktu itu, saya menjadi staf ahli seorang Anggota DPD RI dari Sulawesi Tengah, berinisial NDB. Sebuah amanah yang saya terima atas rekomendasi seorang senior, Andi Zulkarnain. Masih teringat jelas, bagaimana langkah awal itu memasuki dunia yang dipenuhi urusan politik dan birokrasi, namun di moment yang sama juga mempertemukan saya dengannya yang menyimpan keluasan pengalaman, kebijaksanaan, dan pandangan hidup ukhrawi.

Gedung DPD MPR RI menjadi salah satu ruang tempat saya belajar memahami dunia tersebut. Di sana, keputusan-keputusan dibicarakan, aspirasi diperjuangkan, dan kepentingan masyarakat dibawa ke dalam percakapan resmi negara. Segala sesuatu tampak berjalan dalam tata cara sidang, rapat, dokumen, agenda, dan berbagai prosedur.

Namun, di balik semua itu, ada pertanyaan yang lebih mendasar, untuk apa kekuasaan dijalankan, dan nilai apa yang seharusnya menuntun orang-orang di dalamnya?

Saya tidak menyangka, sebuah jawaban atas pertanyaan itu saya temukan saat percakapan singkat bersama Annangguru Syibli yang saat itu menjabat sebagai DPD RI dari Sulawesi Barat.

Hari itu, Sidang Paripurna telah usai. Orang-orang mulai meninggalkan ruang sidang, membawa berkas, percakapan, dan pikiran masing-masing. Saya pun bergerak menuju lift, di sana bertemu dengan Annangguru Syibli.

Di dalam lift itu, Annangguru menyampaikan sebuah pesan yang hingga kini tetap saya ingat: "Birokrasi tidak boleh kosong dari nilai-nilai agama," demikian ingatanku.

Kalimat itu sederhana, tidak berbelit-belit. Namun, seolah beliau sedang mengingatkan bahwa birokrasi jangan disalahfahami hanya bicara soal aturan, jabatan, kewenangan, dan administrasi. Di dalamnya harus ada nilai yang menjaga manusia agar tidak kehilangan arah.

Birokrasi bisa saja memiliki prosedur yang lengkap dan detail, tetapi bisa juga kehilangan empati. Apa pun itu, maksud dari semua itu adalah pelayanan kepada manusia. Ia bisa tampak tertib di atas kertas, tetapi tidak boleh kehilangan kejujuran ketika berhadapan dengan kepentingan.

Di situlah nilai-nilai agama menemukan tempatnya. Tidak sebatas kalimat-kalimat suci yang terdengar menenangkan dalam pidato. Nilai agama semestinya menjelma menjadi integritas, amanah, keadilan, kejujuran, dan keberanian untuk menempatkan kepentingan publik di atas kepentingan pribadi.

Saat mengenang kembali waktu  itu, saya menyadari bahwa tidak semua pelajaran datang melalui peristiwa besar. Ada yang hadir dalam percakapan singkat, dalam perjumpaan tanpa rencana, bahkan dalam perjalanan beberapa lantai sebuah gedung. Annangguru Syibli Sahabuddin adalah bagian dari kenangan itu.

Belakangan saya baru tahu bahwa pijakan itu tertera jelas dalam kitab Al-Mawardi, al-Ahkam al-Sulthaniyyah. Saya membacanya saat mengawal Muhammad Zain di Mamasa. 

Secara umum, kitab itu bicara tentang kepemimpinan menjadi kewajiban syar'i untuk menjaga agama dalam mengatur urusan dunia (khilafatun nubuwwah fi hirasatid din wa siyasatid dunya). Di sana, ada kontrak sosial, pemimpin wajib menegakkan keadilan dan melindungi rakyat, sedangkan rakyat wajib taat.

Begitu juga Al-Ghazali, dalam buku adab berpolitik terjemah dari Al-Tibr al-Masbuk fi Nashihat al-Muluk. Politik tidak lepas dari etika dan agama. Agama dan kekuasaan ibarat dua saudara kembar (ad-din wal mulk tawamani). 

Penguasa harus adil, rendah hati, dekat dengan ulama, tidak zalim, dan menjauhi hawa nafsu serta kemewahan. Penguasa dipandang sebagai bayangan Tuhan di bumi, sehingga wajib ditaati (selama menjaga keadilan dan syariat).

Begitu juga Muhammad Iqbal, memandang bahwa Islam adalah kesatuan agama dan politik, dikenal dengan Demokrasi spiritual, yaitu kedaulatan tertinggi milik Allah, sedangkan rakyat mengelolanya lewat musyawarah dan ijtihad kolektif, yang harus dilakukan oleh parlemen (ijma' modern).

Innalillahi wa inna ilaihi roji'un.
Selamat Jalan Annangguru, pesan-pesan hikmahmu akan selalu menjadi pengingat dalam mengarungi kehidupan.

Al-Fatihah

MENGENANG ANNANGGURU KH. Muhammad Syibli Sahabuddin Jejak Ilmu, Pengabdian, dan Keteladanan


Oleh : Almadar Fattah 

Innalillahi wa innailaihi raji’un. Duka mendalam menyelimuti Tanah Mandar dan seluruh Sulawesi Barat atas berpulangnya Annangguru KH. Muhammad Syibli Sahabuddin. Kepergian beliau bukan sekadar kehilangan seorang ulama, melainkan juga kehilangan sosok yang telah menorehkan jejak pengabdian dalam dunia keagamaan, pendidikan, sosial, dan politik. Nama beliau menjadi bagian dari perjalanan panjang Sulawesi Barat, dengan segala ikhtiar dan pengabdian yang telah dipersembahkan bagi masyarakat.

Annangguru KH. Muhammad Syibli Sahabuddin dikabarkan berpulang ke rahmatullah pada Ahad malam, 11 Oktober 2026, pukul 21.45 WITA, di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar. Kabar duka itu meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarga, para santri, sahabat, kolega, serta masyarakat yang mengenal sosok beliau. Di tengah keheningan malam, kepergian seorang ulama karismatik ini mengingatkan kita bahwa setiap manusia memiliki batas perjalanan, tetapi nilai-nilai kebaikan yang ditanamkannya dapat terus hidup melampaui usia.

Semasa hidupnya, Annangguru KH. Muhammad Syibli Sahabuddin dikenal sebagai ulama yang memiliki keluasan peran. Beliau tidak hanya menekuni jalan dakwah dan pendalaman spiritual, tetapi juga mengambil bagian dalam membangun pendidikan serta memperjuangkan aspirasi masyarakat melalui ruang pengabdian publik. Perjalanan hidupnya memperlihatkan bahwa ilmu tidak semestinya berhenti di ruang pengajian, melainkan perlu menjelma menjadi tindakan nyata yang memberi manfaat bagi kehidupan bersama.

Dalam dunia pendidikan, beliau pernah mengemban amanah sebagai Rektor Universitas Al Asyariah Mandar (Unasman) pada periode 2006–2009. Amanah tersebut menempatkan beliau dalam perjalanan pengembangan perguruan tinggi di Tanah Mandar. Pendidikan, pada hakikatnya, bukan sekadar urusan memindahkan pengetahuan dari satu generasi kepada generasi berikutnya, melainkan juga membentuk karakter, menumbuhkan kesadaran, dan menyiapkan manusia agar mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan akar nilai dan kebudayaannya.

Pengabdian beliau kemudian berlanjut di tingkat nasional. Annangguru KH. Muhammad Syibli Sahabuddin terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) dari daerah pemilihan Sulawesi Barat selama dua periode, yakni 2009–2014 dan 2014–2019. Kepercayaan masyarakat tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan pengabdiannya sebagai tokoh daerah yang membawa aspirasi Sulawesi Barat ke ruang perwakilan nasional. Jabatan itu sekaligus memperlihatkan persinggungan antara nilai-nilai keulamaan dan tanggung jawab dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Di lingkungan Nahdlatul Ulama, beliau juga dikenal melalui pengabdiannya sebagai Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Sulawesi Barat pada periode 2009–2024. Dalam organisasi keagamaan, kepemimpinan bukan hanya tentang menjalankan struktur dan mengelola program, tetapi juga merawat persaudaraan, menjaga kesinambungan tradisi, serta memperkuat peran ulama dalam membimbing kehidupan umat. Jejak pengabdian tersebut menjadi bagian dari perjalanan organisasi Islam di Sulawesi Barat yang terus berhadapan dengan tantangan sosial dan perubahan zaman.

Dalam perjalanan politik, Annangguru KH. Muhammad Syibli Sahabuddin juga mengemban amanah sebagai Ketua Dewan Pengurus Wilayah Partai Kebangkitan Bangsa Sulawesi Barat sejak 2017. Peran ini menambah dimensi lain dalam perjalanan hidupnya, memperlihatkan keterlibatan beliau dalam ruang politik dan organisasi. Bagi seorang tokoh publik, jabatan merupakan amanah yang selalu terikat dengan tanggung jawab kepada masyarakat. Sementara bagi masyarakat, warisan seorang pemimpin tidak hanya diukur dari jabatan yang pernah diduduki, tetapi juga dari rekam jejak, gagasan, dan kontribusi yang dapat dikenang.

Namun, untuk memahami sosok Annangguru KH. Muhammad Syibli Sahabuddin secara lebih mendalam, perhatian tidak dapat dilepaskan dari perjalanan spiritualnya. Beliau dikenal sebagai tokoh tasawuf di Tanah Mandar sekaligus ulama dan mursyid Tarekat Qadiriyah. Dalam tradisi tasawuf, perjalanan spiritual mengajarkan manusia untuk menundukkan kesombongan, membersihkan hati, memperhalus akhlak, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Nilai-nilai tersebut menjadi pengingat bahwa kedalaman ilmu agama semestinya berjalan beriringan dengan kerendahan hati dan kemuliaan perilaku.

Perjalanan pengabdian beliau bahkan telah melintasi batas daerah dan negara. Pada 1988–1989, beliau pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal ASEAN Muslim Student Association (AMSA) di Islamabad, Pakistan. Beliau juga tercatat pernah menjadi pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Ciputat pada 1990 dan Pengurus Pusat Gerakan Pemuda Ansor di Jakarta pada 1997. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa perjalanan intelektual dan organisasinya telah terbentuk sejak usia muda, melalui perjumpaan dengan lingkungan pendidikan, gerakan mahasiswa, dan jaringan kepemudaan Islam.

Annangguru KH. Muhammad Syibli Sahabuddin berpulang pada usia 58 tahun. Usia itu mungkin terasa singkat jika diukur dari panjangnya waktu, tetapi makna pengabdian tidak selalu ditentukan oleh berapa lama seseorang hidup. Ada manusia yang kehadirannya meninggalkan jejak dalam pemikiran, ada yang dikenang melalui perjuangannya, dan ada pula yang namanya tetap disebut karena peran yang pernah dijalankannya dalam kehidupan masyarakat. Dalam diri beliau, perjalanan keulamaan, pendidikan, organisasi, dan politik menjadi bagian dari catatan yang patut dikenang sekaligus dipelajari secara jernih oleh generasi penerus.

Kini, ketika Annangguru KH. Muhammad Syibli Sahabuddin telah kembali ke hadirat Allah SWT, yang tersisa bagi kita bukan hanya kesedihan, melainkan juga tanggung jawab untuk merawat nilai-nilai baik yang pernah diperjuangkannya. Tanah Mandar dan Sulawesi Barat kehilangan seorang ulama dan tokoh publik, tetapi ilmu, keteladanan, serta rekam pengabdian yang terdokumentasi dengan baik dapat terus menjadi sumber pembelajaran bagi generasi mendatang. Sebab, kematian mengakhiri perjalanan jasmani, tetapi kebaikan yang diwariskan dapat terus menemukan jalannya di dalam ingatan dan kehidupan manusia. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah beliau, mengampuni segala khilafnya, melapangkan kuburnya, dan menempatkannya di sisi terbaik-Nya. Selamat jalan, Annangguru. Semoga ilmu menjadi cahaya, pengabdian menjadi jejak, dan keteladanan menjadi warisan yang tak lekang oleh waktu. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Penulis : Pemerhati Sastra & Budaya Tahun 90-an di Makassar.

Jumat, 25 September 2026

SANDEQ RACE BUKANLAH SANDEQ SILUMBA


CATATAN SEJARAH:

SANDEQ RACE BUKANLAH SANDEQ SILUMBA
 
Pelestarian Lebih Penting daripada Sekadar Lomba
 
Oleh: Abdul Watif Waris I 24 September 2026

Jauh sebelum Provinsi Sulawesi Barat lahir, jauh sebelum anggaran daerah ada, kami — sekelompok pencinta bahari — sudah memulai sesuatu yang lahir dari keprihatinan, bukan sekadar kegembiraan.
 
BENIH YANG DITANAM DARI KEPEDULIAN
 
Sahabat kecil saya mondok di Pesantren IMMIM, Mahfud Sappe — fotografer dunia asal Segeri Pangkep — lah yang pertama kali menyadari hal mendesak: perahu sandeq kian jarang terlihat di laut. Waktu itu foto karyanya terpilih sebagai salah satu dari 10 foto terbaik dunia, dan ia membawa sandeq hadir secara fisik sebagai maskot pameran di Prancis — bukan untuk pesta, melainkan untuk mengingatkan dunia: warisan ini nyaris punah.
 
Pulang ke tanah air, bersama rombongan passandeq dari Rangas Majene, ia bermaksud memotret sandeq saat berlayar — agar orang melihatnya hidup, bukan hanya di lembar foto. Di perairan Pambusuang dan Majene, saat lomba segitiga digelar, Mahfud bersama kawan-kawan hadir memotret. Bersama kami pula Horst Libner  — peneliti asal Jerman yang tekun mencatat setiap hal tentang sandeq sebelum terlupakan.
 
Melihat hasil jepretan, Mahfud mengajukan gagasan:
 
"Mengapa tidak dilombakan secara etape, berlayar dari Majene → Polewali → Ujung Lero → Garongkong → hingga Makassar?"
 
Itulah lahirnya SANDEQ RACE.
 
BUKAN LOMBA UNTUK LOMBA — TUJUAN UTUHNYA PELESTARIAN
 
Perlu ditegaskan: Sandeq Race bukan diadakan sekadar untuk berlomba. Tujuan utamanya jauh lebih mendesak — memantik kembali kehidupan perahu sandeq yang nyaris punah.
 
Saat itu, perahu cadik khas Mandar ini makin jarang dibuat, makin jarang berlayar. Jumlahnya saat ini tersisa tak cukup bilangan jari tangan. Maka Sandeq Race digelar agar perahu-perahu itu kembali dibangun, kembali diturunkan ke laut, kembali diwariskan ke anak-anak — agar warisan budaya bahari Mandar yang berpotensi diakui dunia tidak lenyap.
 
Pada masa-masa awal, lomba ini juga menjadi ajang pesan rakyat: atas inisiatif sendiri, para peserta menuliskan "SULBAR" di buritan perahu. Ketika bersandar di Pantai Losari, Makassar — itu adalah suara tanpa kata: tanah di sebelah barat ini berhak berdiri sendiri. Semua berlangsung tanpa satu rupiah pun APBD, jauh sebelum Sulbar berdiri.

SANDEQ SILUMBA: EVEN BARU, BUKAN PENGGANTI NAMA
 
Setelah Suhardi Duka terpilih menjadi Gubernur Sulbar tahun 2025, muncul kegiatan bernama "Sandeq Silumba", dibiayai APBD Sulbar.
 
Pemerintah menyebut Sandeq Silumba sebagai perubahan nama atau transformasi dari Sandeq Race. Sebagai salah seorang yang terlibat dalam kelahiran Sandeq Race, saya mempunyai pandangan berbeda. Bagi saya, Sandeq Silumba adalah kegiatan baru yang mengadopsi sejumlah format Sandeq Race, tetapi tidak identik dengan sejarah, semangat, dan model pengorganisasian Sandeq Race pada masa awal.
 
Ini even yang berbeda dan baru. Memang mengadopsi sistem dan aturan yang kami susun — namun asal, maksud, dan sumber dana berbeda. Yang lahir dari keprihatinan masyarakat tanpa anggaran, kini dijalankan pemerintah dengan APBD.
 
APRESIASI TANPA MELUPAKAN HAKIKAT
 
Semakin banyak even sandeq digelar, patut diapresiasi. Namun akan jauh lebih afdal — tepat dan berkenan — jika Pemprov Sulbar yang menggunakan APBD memberi penekanan terbesar pada pelestarian budayanya, bukan sekadar kemeriahan lomba. 

Disclimer; 80-an Sandeq yang ikut lomba adalah Sandeq yg didesain khusus untuk lomba. Perahu Sandeq yang sesungguhnya nyaris punah
 
- Bangun perahu, latih pembuat perahu, ajarkan anak-anak mengayuh — itu pelestarian sejati
​
- Lomba hanyalah puncak gunung; fondasinya adalah memastikan sandeq tetap hidup di perairan kita
​
- Uang APBD adalah amanat rakyat — sebaiknya ditujukan agar warisan ini tak kembali menipis hingga nyaris hilang 

DANA NEGARA WAJIB TERBUKA — FAKTA SPSE BICARA SENDIRI
 
Karena menggunakan APBD, pengadaan Sandeq Silumba harus tunduk pada aturan pengadaan barang/jasa pemerintah serta prinsip transparansi, keterbukaan, persaingan, keadilan dan akuntabilitas. Untuk penyelenggaraan Sandeq Silumba 2026, Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat menggunakan mekanisme tender melalui SPSE.

Data SPSE memberikan sejumlah informasi yang menurut saya patut dijelaskan kepada publik. Paket “Belanja Jasa Penyelenggaraan Acara – Sandeq Silumba” dibuat pada 19 Agustus 2026, sedangkan pengumuman tender baru dimulai 1 September. Pemenang diumumkan 11 September. Dari 12 perusahaan yang tercatat sebagai peserta, hanya satu perusahaan yang tercatat memasukkan penawaran.

Riwayat SPSE juga menunjukkan bahwa masa sanggah yang semula dijadwalkan 12–17 September kemudian diubah. Jadwal akhirnya mencantumkan masa sanggah pada 14 September pukul 08.00–08.05 dan SPPBJ dapat dimulai pukul 08.10. Alasan perubahan yang tercatat dalam SPSE adalah karena hanya terdapat satu peserta yang memasukkan penawaran.

Fakta-fakta tersebut belum dengan sendirinya membuktikan adanya pelanggaran ataupun pengaturan pemenang. Namun karena kegiatan ini menggunakan uang publik, dasar perubahan jadwal tersebut, proses penyusunan HPS, ruang lingkup pekerjaan penyedia, dan waktu sebenarnya penyedia mulai bekerja layak dijelaskan secara terbuka.

Jika sejumlah pekerjaan persiapan substantif telah berlangsung sebelum paket pengadaan dibuat, bagian mana dari pekerjaan tersebut yang kemudian menjadi kewajiban penyedia dalam kontrak senilai sekitar Rp942 juta? Apakah pekerjaan sebelum tender sepenuhnya dilakukan panitia/pemerintah, atau ada bagian yang kemudian masuk ke dalam kontrak penyedia?

Kamis, 14 Mei 2026

BELAJAR MENGHARGAI PROSES || Balajar Dari Kisah Prof. Luke

Oleh: Syamsumarlin, Lc (Eks ketua KKS Cairo periode 2002-2003)
Haru sekaligus gembira Ketika membaca berita di media social. Prof. DR. Lukman Arake, Lc, MA dilantik sebagai Rektor IAIN Bone periode 2026 – 2030. Tidak terasa air mata saya meleleh dengan sendirinya dan mengantarkan saya membuat catatan sederhana ini.

Apa yang Istimewa dari Prof. DR. Lukman Arake?. Sekilas biasa saja. Sebelumnya, beberapa Rektor yang kebetulan alumni Al Azhar juga sudah dilantik baik di UIM, bahkan  Rektor IAIN Kudus, 4 tahun lebih muda dari beliau juga dilantik 2 tahun yang lalu.

Tentu saja tidak terlepas dari pandangan subjektifitas sebagai sesama alumni Al Azhar, sesama alumni Darudda’wah wal Irsyad dan lebih khusus lagi sesama diaspora Mandar yang menimba ilmu di Univ. Al Azhar. Tetapi di balik itu, ada kesabaran dan ketekunan yang menjadi catatan tersendiri

Lukman Arake lahir di Rea Barat, berdarah Bugis Mandar, tetapi kemudian besar dan menetap di Desa Makkombong, Kec. Matakali. Desa yang mungkin sangat nadir di pendengaran kita. Mengaji secara tradisional di guru guru mengaji Rea Barat dan punya cita cita besar. Pada tahun 1985 dia melanjutkan Pendidikan di Pondok Pesantren DDI Mangkoso, baik tingkatan Tsanawiyah dan Aliyah selama 6 tahun. Bak skenario yang sudah diracik, dia kemudian melanjutkan pendidikan ke Universitas Al Azhar pada tahun 1993.

Saya teringat, sewaktu saya tiba di Cairo pada tahun 1996, beberapa senior berprestasi didaulat untuk memberikan bimbingan praktis kepada kami selaku mahasiswa baru. Untuk ke Ushuluddin-an didapuk oleh Dr. Abd. Rahman Arsyad (sekarang dosen di Universitas Kutai Kartanegara), kedirasatan oleh Prof. DR. Muammar Bakri (Rektor UIM Makassar),  Kesyariahan oleh Prof. DR. Lukman Arake, begitupula Prof. Dr. Afifuddin Haritsah juga tentang Ke ushuluddinan. Mereka semua adalah mahasiswa-mahasiswa hebat yang mewarnai dinamika kemahasiswaan di Cairo pada waktu itu.

Dari nama-nama di atas, satu persatu meninggalkan Cairo dan melanjutkan jenjang Pendidikan lanjutan di tanah air. Opsi melanjutkan jenjang S2 di Universitas Al Azhar adalah pilihan berat, dibutuhkan kalkulasi khusus dan hanya dilakukan oleh orang orang khusus. Beasiswa Al Azhar juga hanya mengakomodir Pendidikan pada strata S1 saja. Pada periode perideo tersebut, sakralitas S2 sangat terasa. Jika satu mata kuliah yang error, maka semuanya harus diulang Kembali pada tahun berikutnya. Yang paling miris, ada kesan penjatahan. Standar kelulusan dilihat dari nilai tertinggi. Tertinggi berikutnya akan diikutkan pada term kedua. Jarang sekali yang bisa menyelesaikan program magister dalam rentang waktu 4-5 tahun. Biasanya 6 s.d 7 tahun. Pertimbangan pertimbangan ini yang membuat banyak yang memilih jalan pintas, lanjut  di tempat kuliah yang lain. Lukman Arake mengambil jalan sunyi ini, melanjutkan Pendidikan S2 Univ. Al Azhar dengan penuh ketekunan. Kesulitan ekonomi akibat krisis moneter pada Tahun 1997 juga berdampak pada mahasiswa Mesir, banyak yang memilih Kembali ke tanah air. Harapan satu satunya untuk mempertahankan kontinuitas kuliah adalah melalui jasa pengurusan jamaah haji. Pada tahun 1999, karena keasyikan mencari biaya tambahan di musim haji, ada kejadian memilukan. Beberapa mahasiswa ditangkap oleh pihak keamanan Kerajaan Saudi Arabia, termasuk Kanda Prof. Lukman. Waktu itu, mahasiswa Mesir yang bekerja diklaim ekspatriat (pemukim illegal), Alhamdulillah, setelah memperlihatkan visa semuanya bisa terselesaikan dengan baik. Terkadang, untuk mempertahankan hidup, mahasiswa mendaftar di beberapa lembaga tahfizh yang menyediakan beasiswa. 

Pada tahun 2005, beliau pulang ke tanah air setelah 12 tahun tahun berada di negeri kinanah. Titel magister sudah ditangan dan pada saat yang sama sedang mengikuti program S3 di Universitas Al Azhar.  Waktu itu saya sebagai kepala KUA Kec. Matakali berusaha memfasilitasi beliau dengan pemangku kekuasaan di Polewali Mandar saat itu. Karena beliau adalah asset yang sangat berharga. Putra daerah yang murni dengan biaya sendiri menuntut ilmu di negeri Kinanah. Sayang, gayung tak bersambut. Hingga kemudian dia memilih Kembali ke Cairo menyelesaikan Pendidikan S3 nya. Sekali lagi, ini adalah pilihan berat. Melanjutkan S3 di Universitas al Azhar. Untuk pengesahan judul saja, harus keliling 15 Universitas cabang Al Azhar di Mesir. S3 nya pun diselesaikan dengan judul disertasi “Al Fiqhus Assiyasiy Al Islamiy lil aqalliyat, pada tanggal 21 Agustus 2008 dengan predikat Mumtaz ma'a syaraf al Ula. 

Setelah menyelesaikan Pendidikan S3 di Cairo, takdir mempertemukannya dengan Bapak Prof. Nasaruddin Umar yang waktu itu sebagai Dirjen Bimas Islam dan Penyelenggaraan Haji. Beliau diamanahi untuk menjadi Dewan Hakim pada MTQ Nasional tahun 2007 dan diamanahi untuk membina Pondok Pesantren Al Ikhlash, besutan Bapak Prof. DR. Nasaruddin Umar di Kec. Ujung Bone.

Beliau mengikuti semua proses dari awal, sebagai dosen honorer, terangkat menjadi ASN pada 2011, merangkak dari pangkat ke pangkat berikutnya. Hingga menjadi Guru Besar dan akhirnya menjadi orang nomor 1 di IAIN Bone.  

Beliau si anak hilang, permata dari tanah Mandar yang memberikan kilaunya ditanah Bone dan secara umum di Sulawesi Selatan. Dari beliau, kita harus belajar tentang kesabaran yang terkadang di luar nalar, menghargai proses dan belajar menerima takdir. Kita terkadang terkilau melihat keberhasilan seseorang, tetapi tidak melihat usaha yang dibaliknya. Ada kisah pilu, tangis dan terkadang dengan tetesan darah.

Selamat, Prof. Dr. Lukman Arake, Lc, MA. Pakar Siyasah Syar’iyah dari tanah Mandar. Saatnya memberikan Khidmah terbaik bagi nusa, bangsa dan agama.

 

Mamuju, 13 Mei 2026


MANDARRAS || Sistem Pendidikan Leluhur Mandar

Mursyid Syukri, 13 Mei 2026

Dalam lintasan sejarah peradaban manusia, sistem pendidikan tidak selalu hadir dalam bentuk sekolah, ruang kelas, buku, maupun perangkat teknologi sebagaimana yang dikenal pada masa kini. Jauh sebelum hadirnya alat tulis, sebelum masyarakat mengenal buku, pensil, dan media digital, leluhur telah memiliki cara tersendiri dalam mentransfer ilmu pengetahuan kepada generasi penerusnya. Di tanah Mandar, salah satu sistem pendidikan tradisional yang diwariskan turun-temurun adalah Mandarras.
Mandarras merupakan sebuah metode pengulangan pengetahuan secara terus-menerus agar ilmu yang diterima tidak mudah hilang dari ingatan. Kata Mandarras dalam pemahaman masyarakat Mandar bukan sekadar mengulang ucapan, melainkan sebuah proses pendidikan yang dilakukan berkali-kali hingga pengetahuan tersebut melekat dalam kesadaran, dipahami secara mendalam, lalu diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sistem ini menjadi bukti bahwa leluhur Mandar telah memiliki konsep pendidikan yang kuat berbasis ingatan, pengalaman, dan penghayatan nilai.
Aktivitas Mandarras telah berlangsung sejak ratusan tahun silam. Jika dilakukan kilas balik terhadap kehidupan masyarakat Mandar pada masa lampau, tentu tidak ditemukan sarana pendidikan modern sebagaimana sekarang. Tidak ada buku catatan, papan tulis, maupun media elektronik. Namun, keterbatasan tersebut tidak menjadikan masyarakat kehilangan arah dalam membangun peradaban ilmu pengetahuan. Para orang tua dan tokoh adat pada masa itu menggunakan metode lisan sebagai sarana utama pendidikan. Nilai-nilai kehidupan, petuah adat, norma sosial, hingga tuntunan moral diwariskan melalui Pappasang.
Pappasang merupakan pesan-pesan kebijaksanaan leluhur yang sarat dengan nilai etika, spiritualitas, sosial, dan kemanusiaan. Penyampaiannya dilakukan secara berulang-ulang dalam berbagai suasana kehidupan, baik pada kegiatan keluarga, hajatan adat, musyawarah, maupun dalam aktivitas keseharian masyarakat. Melalui pengulangan tersebut, generasi muda tidak hanya mendengar, tetapi perlahan memahami, mengingat, dan menjadikan nilai-nilai itu sebagai bagian dari karakter hidup mereka. Inilah hakikat Mandarras sebagai sistem pendidikan berbasis penguatan memori dan pembentukan perilaku.
Secara ilmiah, metode Mandarras memiliki kesesuaian dengan teori pendidikan modern mengenai repetition learning atau pembelajaran berulang. Dalam kajian psikologi kognitif, pengulangan informasi secara terus-menerus terbukti mampu memperkuat daya ingat jangka panjang. Informasi yang diulang berkali-kali akan lebih mudah tersimpan dalam memori otak dan lebih mudah dipanggil kembali ketika dibutuhkan. Oleh karena itu, Mandarras sesungguhnya merupakan bentuk pendidikan tradisional yang memiliki dasar pedagogis yang kuat meskipun lahir dari pengalaman budaya masyarakat.
Keunggulan Mandarras terletak pada proses internalisasi nilai. Pengetahuan tidak berhenti pada tahap mendengar, tetapi dilanjutkan pada proses memahami dan mengamalkan. Pengulangan yang dilakukan secara terus-menerus menjadikan ilmu tidak terasa asing, melainkan menyatu dalam aktivitas kehidupan masyarakat. Karena itulah generasi Mandar pada masa lalu dikenal memiliki daya ingat kuat terhadap petuah leluhur, adat istiadat, dan tata nilai sosial yang diwariskan turun-temurun.
Namun demikian, perkembangan zaman menghadirkan tantangan baru terhadap keberlangsungan sistem pendidikan berbasis Mandarras. Kemajuan teknologi informasi yang begitu pesat telah mengubah pola belajar generasi masa kini. Kehadiran smartphone dan internet memberikan kemudahan luar biasa dalam mengakses informasi. Pengetahuan dapat diperoleh hanya melalui sentuhan layar dalam hitungan detik. Akan tetapi, kemudahan tersebut di sisi lain menghadirkan persoalan baru, yakni melemahnya proses penguatan daya ingat dan konsentrasi belajar.
Generasi saat ini cenderung bergantung pada perangkat digital sebagai tempat penyimpanan pengetahuan. Informasi tidak lagi banyak disimpan dalam ingatan, melainkan diserahkan kepada mesin pencari dan media digital. Selain itu, penggunaan smartphone tidak hanya berfungsi sebagai sarana pendidikan, tetapi juga dipenuhi berbagai hiburan dan arus informasi yang beragam. Akibatnya, fokus generasi muda terhadap proses pendalaman ilmu menjadi semakin terbagi. Pengetahuan mudah diperoleh, tetapi tidak seluruhnya dipahami secara mendalam.
Fenomena tersebut menunjukkan pentingnya menghadirkan kembali nilai-nilai Mandarras dalam sistem pendidikan masa kini. Mandarras bukanlah upaya menolak kemajuan teknologi, melainkan usaha menyeimbangkan antara kecanggihan digital dengan kemampuan berpikir, mengingat, dan memahami ilmu secara mendalam. Generasi hari ini memerlukan pendidikan yang tidak hanya cepat memperoleh informasi, tetapi juga mampu mengolah, menghayati, dan mengaktualisasikan ilmu pengetahuan dalam kehidupan nyata.
Dalam konteks pembangunan sumber daya manusia di Sulawesi Barat, program Mandarras yang kembali digaungkan oleh Pemerintah Provinsi menjadi langkah strategis dalam membangun pola pikir generasi Mandar. Program tersebut dapat menjadi gerakan budaya pendidikan yang menekankan pentingnya penguatan karakter, ketekunan belajar, kedisiplinan berpikir, dan pengulangan ilmu sebagai fondasi kecerdasan masyarakat. Mandarras dapat diintegrasikan dalam lingkungan keluarga, sekolah, komunitas adat, hingga ruang-ruang sosial masyarakat.
Pada akhirnya, Mandarras bukan hanya warisan budaya, melainkan identitas intelektual masyarakat Mandar. Ia mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan tidak cukup hanya diketahui, tetapi harus dipahami melalui proses yang berulang, direnungkan, dan diamalkan dalam kehidupan. Di tengah derasnya arus teknologi modern, Mandarras hadir sebagai pengingat bahwa kekuatan utama manusia tetap terletak pada kemampuan berpikir, mengingat, dan memaknai ilmu pengetahuan secara bijaksana. Dengan demikian, menghidupkan kembali Mandarras berarti menjaga keberlanjutan nilai pendidikan leluhur sekaligus membangun generasi Mandar yang berkarakter, berpengetahuan, dan berakar kuat pada kearifan budayanya sendiri.

Selasa, 12 Mei 2026

Pesan Bijak A'BA TAMMALELE Untuk Generasi Muda

Oleh : Almadar Fattah 

Apa yang disampaikan Budayawan A'BA TAMMALELE, baru-baru ini di media sosial tentang pentingnya membangun nalar dan naluri patut diapresiasi sebagai pesan yang bernilai. Sepenggal frasa yang ia sampaikan dapat dijadikan bahan renungan sekaligus sumber edukasi bagi generasi muda.

Di tengah derasnya arus informasi saat ini, masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan menerima kabar dengan cepat. Kecepatan tanpa kebijaksanaan justru sering membawa orang pada kesalahan dalam memahami kenyataan.

Hari ini, informasi datang tanpa henti melalui layar gawai. Berita, opini, komentar, dan berbagai pandangan bercampur menjadi satu arus yang sulit dibendung. Jika tidak disikapi dengan hati-hati, masyarakat mudah terseret dalam kebingungan dan kesalahpahaman.

Hari ini, informasi datang tanpa henti melalui layar gawai. Berita, opini, komentar, dan berbagai pandangan bercampur menjadi satu arus yang sulit dibendung. Jika tidak disikapi dengan hati-hati, masyarakat mudah terseret dalam kebingungan dan kesalahpahaman.

Karena itu, ajakan untuk membangun nalar menjadi sangat penting. Nalar adalah kemampuan akal untuk berpikir jernih, menimbang benar dan salah, serta memisahkan fakta dari opini yang menyesatkan.

Dengan nalar yang sehat, seseorang tidak mudah percaya begitu saja terhadap setiap informasi yang beredar. Ia akan memeriksa sumber, memahami konteks, dan mempertimbangkan dampak sebelum mengambil sikap.

Nalar juga melatih manusia agar tidak gegabah dalam menilai orang lain. Ia mengajarkan sikap tenang, teliti, dan mampu melihat persoalan dari berbagai sudut pandang sebelum mengambil kesimpulan.

Di sisi lain, membangun naluri juga tidak kalah penting. Naluri adalah kepekaan batin yang membuat manusia mampu merasakan keadaan di sekitarnya. Ia menuntun seseorang untuk peduli terhadap sesama dan peka terhadap penderitaan orang lain.

Naluri yang sehat melahirkan empati. Seseorang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga memahami kesulitan orang lain dan terdorong untuk membantu ketika dibutuhkan.

Ketika nalar dan naluri berjalan seiring, lahirlah pribadi yang utuh. Ia cerdas dalam berpikir, tetapi tetap lembut dalam merasa. Ia mampu berbicara dengan logika, namun tetap bertindak dengan hati nurani.

Pribadi seperti ini tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam. Ia tahu kapan harus bersikap tegas dan kapan harus menunjukkan kelembutan. Dalam setiap tindakan, ada pertimbangan akal sekaligus sentuhan rasa kemanusiaan.

Pesan tersebut sangat relevan di era media sosial saat ini. Banyak orang mudah terpancing emosi, terburu-buru membagikan kabar, dan cepat menghakimi tanpa memahami persoalan secara utuh. Fenomena ini menunjukkan pentingnya pendidikan karakter di ruang digital.

Ajakan A'BA TAMMALELE menjadi pengingat bahwa kecerdasan tanpa nurani bisa menyesatkan. Sebaliknya, kepekaan tanpa nalar juga dapat membuat seseorang kehilangan arah dalam mengambil keputusan. Karena itu, keduanya harus berjalan bersama.

Membangun nalar dan naluri berarti membangun manusia seutuhnya: tajam dalam berpikir, lembut dalam merasa, serta tepat dalam bertindak. Pesan sederhana yang disampaikan A'BA TAMMALELE ini sesungguhnya mengandung makna besar bagi masa depan kehidupan bersama.

Sabtu, 02 Mei 2026

PENGANTAR DISKUSI TOMANURUNG || Merawat Martabat Leluhur



Catatan:  Muhammad Munir 

Minggu, 3 Mei 2026 akan digelar sebuah diskusi lepas yang dinisiasi oleh WAG BIJA DAENG PALULING Sulawesi Barat yang mengusung tema Tomanurung || Merawat Martabat Leluhur. Acara ini menghadirkan pembicara dari tokoh pemerhati budaya dan sejarah Mandar. 

Mereka antara lain pemerhati sejarah dan budaya Mandar:  Dr. H. M. Farid Wajdi, M.Pd (Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan, Pembangunan Daerah Sulbar); Drs. Darmansyah, M.Hum (Ketua DPRD Majene 2014 - 2019); Andi Pirsan dan Muhammad Munir sebagai Moderator & Notulen. Selain itu, pemrakarsa juga menghadirkan dua panelis yang tak asing lagi di tanah Mandar, yakni Tammalele dan Thamrin S.Pd., M.Pd yang tak lain adalah Kepala Perpustakaan Unsulbar. 


TOMANURUNG

Tomanurung itu tokoh kunci dalam mitologi dan sistem Kerajaan di Sulawesi (baca: Mandar, Bugis, Makassar dan Toraja). Tomanurung bagi sebagian orang memaknai "orang yang turun" atau "dia yang turun dari langit". Dalam kepercayaan masyarakat Sulawesi, Tomanurung adalah sosok suci yang turun dari dunia atas ke bumi untuk memerintah dan menata kehidupan manusia.

A. Muis Mandra dan tokoh sejarah lainnya di Mandar mengkonsepsikan Tomaurung dalaj empat nama dan karakter, yakni  Tokombong di Bura, Tobisse di Talkang, Tomonete di Tarauwe dan Tonisesse di Tingalor. Nyaris semua suku dan kerjaan besar di Sulawesi percaya bahwa Tomanurung adalah asal usul para raja dan bangsawan. Karena itu, hanya keturunan Tomanurung yang dianggap ditakdirkan memerintah. Kalau yang memerintah bukan keturunannya, diyakini akan timbul masalah pada negerinya.

Kajian lain tentang konsepsi Tomanurung adalah kategori mitos _human endogenic_ atau asal-usul manusia atau raja. Sosok Tomanurung ini dipakai sebagai legitimasi kekuasaan kendati ada yang menganggap Tomanurung hanya mitos atau _invention of politics_, tetapi  eksistensinya tetap jadi awal lahirnya penguasa/raja.

Hal yang tak boleh diabaikan adalah perilaku masyarakat yang menghubungkan Tomanurung dalam berbagai simbol kerajaan seperti bendera, pusaka, dan ritual penobatan. Bendera dianggap punya roh leluhur dan jadi "pelindung" dalam perang maupun upacara raja.

Intinya, Tomanurung = leluhur gaib yang turun dari langit, adalah cikal bakal raja-raja dan babgsawan. Meski kemudian konsep ini dipahami berbaur antara mitos, agama lokal, dan politik. Dan sampai saat ini, silsilah raja-raja dan bangsawan masih dilacak ke Tomanurung, dan naskah keluarga biasanya dibacakan sebelum pernikahan bangsawan untuk memastikan kedua pihak sama-sama berdarah biru (sambona kappar)


MENJAGA MARTABAT LELUHUR

Agenda diskusi ini mengusung Menjaga Martabat Leluhur. Kata mattabat  dimaknai sebagai nilai dasar yang melekat pada setiap manusia. Ada tiga inti martabat yang dianugerahkan Tuhan pada setiap kelhiran manusia yakni: Pertama, melekat sejak lahir. Bukan karena pintar, kaya, atau berkuasa. Bayi, lansia, tahanan, semua tetap punya; Kedua, Setara. Martabatmu sama dengan martabat orang lain. Tidak ada manusia yang “lebih manusia” dari yang lain; Ketiga, Wajib dihormati. Karena melekat dan setara, orang lain wajib memperlakukanmu sebagai manusia, bukan alat. Kita dituntut untuk memperlakukan orang lain begitu. 

Martabat yang membuat orang tetap bisa berkata “aku tetap manusia”. Martabat ini juga yang menbuat orang menolak tunduk saat dijajah atau dipermalukan sebagaimana yang diajarkan dan dontohkan oleh para pejuang yang mendahului kita. 

Singkatnya: Martabat itu alasan kenapa setiap orang pantas diperlakukan sebagai manusia seutuhnya. Bukan hadiah, bukan prestasi. Menjaga martabat leluhur itu adalah cara kita menghormati orang-orang yang hidup sebelum kita, supaya nama baik, nilai, dan perjuangan mereka tidak tercoreng di era sekarang 

Sampai disini, Leluhur kita tak mungkin bangkit bisa bela diri lagi. Martabat mereka sekarang ada di tangan kita lewat kata, sikap, dan keputusan sehari-hari. Manusia Mala'bi' adalah mereka yang mampu menyayangi luluare'na satteng lalona ma'sayabgngi alawena. 

Dengan kita bangga mewariskan kearifan para leluhur kita pada generasi selanjutnya, maka kita telah menjaga martabat leluhur kita. 

Terpulang kepada kita semua, aspek mana dari leluhur kita yang penting diwariskan? Apakah Silsilah, pusaka, atau nilai ? 

Mari Berdiskusi !



Senin, 27 April 2026

APA PENTINGNYA MENULIS BUDAYA LOKAL

Catatan Mursyid Syukri

Sebelum mengikuti kegiatan Bimbingan Teknis Kepenulisan Berbasis Konten Budaya Lokal yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Sulawesi Barat, kami terlebih dahulu menerima undangan yang dibagikan melalui grup WhatsApp panitia. Dari sekian banyak informasi yang tersaji dalam undangan tersebut, ada satu frasa yang begitu kuat menarik perhatian: Penulisan Konten Budaya Lokal. Dua kata sederhana budaya dan lokal namun menyimpan ruang makna yang luas sekaligus mendalam.

Dari titik itulah muncul perenungan: sebenarnya apa yang dimaksud dengan budaya lokal, dan mengapa ia perlu ditulis?

Dalam keseharian, kita sering mendengar istilah adat dan budaya digunakan seolah-olah keduanya memiliki arti yang sama. Bagi sebagian generasi, ketika berbicara tentang adat, yang terlintas adalah simbol-simbol seperti Puang, Mara’dia, Pappuangan, Daeng, dan Tomakaka. Padahal, itu semua sejatinya adalah bagian dari struktur dalam sistem adat bukan keseluruhan makna budaya itu sendiri.

Di sisi lain, ketika menyebut budaya, yang muncul dalam ingatan adalah berbagai tradisi seperti Sayyang Pattu’du, To Tamma’ Messawe’, Pakkacaping, Passayang-sayang, hingga Parrawana. Namun, sesungguhnya hal-hal tersebut adalah ekspresi atau wujud dari budaya, bukan definisi utuhnya. Dari sinilah terlihat bahwa masih ada kerancuan dalam memahami esensi antara adat dan budaya.

Adat dapat dipahami sebagai aturan, norma, dan sistem nilai yang mengatur kehidupan masyarakat. Sementara budaya adalah keseluruhan cara hidup meliputi gagasan, rasa, cipta, hingga karya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Adat adalah bagian dari budaya, dan budaya adalah ruang besar tempat adat itu hidup dan berkembang.

Lalu, di tengah pemahaman tersebut, mengapa menulis budaya lokal menjadi penting?

Pertama, menulis adalah cara untuk menjaga ingatan kolektif. Budaya yang hanya hidup dalam lisan perlahan bisa hilang ditelan zaman. Namun ketika ia ditulis, ia memiliki jejak yang bisa dibaca, dipelajari, dan diwariskan. Terlebih di wilayah Lita' Mandar, yang masih minim literatur tertulis tentang budaya lokal, penulisan menjadi sebuah kebutuhan mendesak.

Kedua, menulis budaya lokal adalah bentuk pelestarian identitas. Di tengah arus globalisasi yang begitu deras, generasi muda sering kali lebih akrab dengan budaya luar dibandingkan budayanya sendiri. Dengan menulis, kita tidak hanya mengenalkan budaya kepada orang lain, tetapi juga memperkuat jati diri kita sebagai bagian dari masyarakat lokal.

Ketiga, menulis membuka ruang refleksi dan pemaknaan ulang. Tradisi yang selama ini hanya dijalani tanpa dipahami, melalui tulisan bisa dikaji kembali maknanya. Mengapa tradisi itu ada? Nilai apa yang terkandung di dalamnya? Apakah masih relevan dengan kehidupan saat ini? Semua pertanyaan itu bisa dijawab melalui proses menulis.

Keempat, menulis budaya lokal adalah bentuk kontribusi nyata dalam dunia literasi. Ia bukan sekadar aktivitas menuangkan kata, tetapi juga menjadi upaya membangun peradaban berbasis pengetahuan lokal. Dari tulisan-tulisan itulah, lahir narasi besar tentang kekayaan budaya daerah yang selama ini mungkin tersembunyi.

Pada akhirnya, pertanyaan “Apa pentingnya menulis budaya lokal?” bukan lagi sekadar wacana, tetapi menjadi panggilan kesadaran. Bahwa menulis adalah cara kita merawat warisan, menjaga identitas, dan menyampaikan nilai-nilai luhur kepada generasi yang akan datang.

Sebab jika bukan kita yang menulis budaya kita sendiri, maka siapa lagi? Dan jika tidak dimulai sekarang, maka kapan lagi?

Mursyid Syukri (27 April 2026)

BIMTEK KEPENULISAN KONTEN BERBASIS BUDAYA LOKAL

Catatan Mursyid Syukri

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Sulawesi Barat terus menunjukkan perannya sebagai garda terdepan dalam menghidupkan budaya literasi yang berakar pada nilai-nilai kearifan lokal. Pada Selasa, 27 April 2026, instansi ini mengajak para generasi muda dari berbagai komunitas literasi, Taman Bacaan Masyarakat (TBM), sekolah, hingga perguruan tinggi di wilayah Sulawesi Barat untuk mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) Kepenulisan Berbasis Konten Budaya Lokal.

Kegiatan ini dilaksanakan dalam dua skema pertemuan, yakni luring (luar jaringan) dan daring (dalam jaringan), sebagai bentuk adaptasi terhadap kebutuhan akses yang lebih luas. Peserta luring hadir langsung di Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Sulawesi Barat yang berlokasi di Jalan Martadinata, Simboro, Mamuju. Sementara itu, peserta lainnya mengikuti secara daring melalui tautan yang telah disediakan oleh panitia, sehingga kegiatan ini mampu menjangkau peserta dari berbagai daerah di wilayah Mandar.

Bimtek ini menghadirkan para pemateri yang merupakan sastrawan dan penyair Sulawesi Barat, yaitu Bustan Baris Maras, Adi Arwan Alimin, dan Mira Pasilong. Kegiatan ini dipandu oleh moderator yang penuh semangat dan inspiratif, Imelda Adhy Yanthy, yang mampu menghidupkan suasana diskusi serta memperkuat interaksi antara peserta dan narasumber.

Salah satu rangkaian kegiatan yang paling berkesan adalah Parade Pembacaan Puisi oleh para narasumber. Suasana menjadi semakin hidup ketika Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Sulawesi Barat, Mustari Mula, turut ambil bagian dengan membacakan puisi berjudul “Indonesia, Kami Menggugat”. Puisi tersebut sengaja dipilih sebagai bentuk refleksi sekaligus pesan kuat bahwa kegiatan Bimtek ini merupakan upaya nyata dalam membangun budaya literasi dan memperkuat jaringan sastra serta penulis di wilayah Lita' Mandar.

Parade pembacaan puisi ini juga menjadi bagian penting dalam rangka memperingati Hari Puisi Nasional, yang sengaja dihadirkan oleh panitia untuk menanamkan kecintaan terhadap sastra di kalangan generasi muda. Setelah pembukaan dan pembacaan puisi, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi yang sarat akan wawasan, pengalaman, serta teknik kepenulisan yang aplikatif.

Hal yang paling menarik dari kegiatan ini adalah arah pembelajaran yang berfokus pada kepenulisan berbasis budaya lokal. Para peserta didorong untuk menggali, mendokumentasikan, dan mengangkat nilai-nilai budaya sebagai sumber inspirasi dalam berkarya. Ini menjadi sangat penting, terutama di wilayah Lita' Mandar yang hingga kini masih minim literatur yang mengangkat nuansa budaya lokal secara mendalam.

Kegiatan ini benar-benar menjadi ruang yang kaya akan “nutrisi ilmu”, memberikan bekal penting bagi para peserta dalam mengembangkan kemampuan menulis yang tidak hanya baik secara teknis, tetapi juga kuat dalam identitas budaya. Antusiasme peserta terlihat begitu tinggi, baik yang hadir secara langsung maupun yang mengikuti secara daring. Diskusi yang aktif, semangat belajar yang tinggi, serta interaksi yang hangat menjadi bukti bahwa kegiatan ini memberikan dampak positif bagi perkembangan literasi di Sulawesi Barat.

Melalui kegiatan ini, diharapkan akan lahir generasi penulis baru dari Lita' Mandar yang mampu mengangkat dan melestarikan budaya lokal melalui karya-karya tulis yang bermakna, sekaligus memperkuat identitas daerah di tengah arus globalisasi.

Mursyid Syukri (27 April 2026)

Sabtu, 25 April 2026

ANWAR SADAT || Dari Konsistensi Ke Prestasi Pengakuan Layak

Oleh : Almadar Fattah 

Pencapaian akademik kembali diraih oleh dunia pendidikan tinggi keagamaan di Indonesia, khususnya di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Majene. Salah satu dosennya, Prof. Dr. H. Anwar Sadat, M.Ag., resmi menerima Surat Keputusan (SK) Guru Besar dalam bidang Ilmu Sosiologi Hukum Islam, sebuah capaian prestisius yang menandai puncak perjalanan akademiknya.

Penyerahan SK tersebut dilakukan secara simbolik oleh Menteri Agama Republik Indonesia melalui mekanisme daring, bersama dengan 94 guru besar lainnya dalam lingkup Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Indonesia. Momentum ini menjadi bagian dari pengakuan nasional atas dedikasi para akademisi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.

Acara penyerahan berlangsung khidmat di tengah Rapat Senat Terbuka STAIN Majene yang dirangkaikan dengan peringatan Dies Natalis ke-IX serta prosesi Wisuda Sarjana. Suasana akademik yang penuh semangat semakin memperkuat makna pencapaian tersebut bagi civitas akademika.

Perjalanan panjang Prof. Anwar Sadat menuju gelar Guru Besar tidaklah instan. Ia memulainya dari ketekunan dalam menempuh pendidikan tinggi hingga meraih kualifikasi akademik yang mumpuni di bidangnya.

Tidak hanya berhenti pada pendidikan formal, ia juga aktif mengembangkan diri melalui berbagai aktivitas akademik, mulai dari mengajar, meneliti, hingga mengabdi kepada masyarakat. Kiprah tersebut dijalaninya dengan konsisten dan penuh dedikasi.

Pengalamannya sebagai pengajar dan peneliti juga ditempa di berbagai perguruan tinggi di Kota Makassar, termasuk di kampus almamaternya, UIN Alauddin Makassar. Dari sana, ia memperluas wawasan dan memperkaya pengalaman akademiknya.

Konsistensi dalam membaca, menulis, serta menghasilkan karya ilmiah menjadi kunci utama dalam perjalanan akademiknya. Berbagai publikasi dan penelitian yang dihasilkannya menjadi fondasi kuat untuk mencapai jabatan akademik tertinggi.

Dalam refleksinya, Prof. Anwar Sadat mengungkapkan bahwa motivasi terbesarnya adalah keinginan untuk terus memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang Hukum Islam dan Dirasah Islamiyah.

Selain itu, ia juga memiliki komitmen kuat dalam membimbing generasi muda agar mampu berprestasi dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Baginya, keberhasilan seorang akademisi tidak hanya diukur dari gelar, tetapi juga dari kontribusi sosialnya.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antar dosen dan lembaga pendidikan dalam menciptakan ekosistem akademik yang sehat dan produktif. Dukungan institusi dinilai menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian.

Setelah meraih gelar Guru Besar, Prof. Anwar Sadat berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas riset dan pembelajaran di kampus. Ia juga berencana memperkuat kerja sama lintas disiplin guna menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks.

Kepada para dosen muda, ia berpesan agar tetap tekun dalam menulis, meneliti, dan mengajar. Menurutnya, konsistensi adalah kunci utama dalam meraih kemajuan akademik sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi kemaslahatan umat.

Sambil menantikan hari pengukuhan resmi sebagai Guru Besar, Prof. Anwar Sadat menyampaikan rasa syukur atas pencapaian yang diraihnya. Ia berharap dapat terus berkarya dan mengabdi demi kemajuan agama, bangsa, dan negara.

Apa yang diraih oleh Anwar Sadat adalah sesuatu yang sangat pantas dan layak diapresiasi. Saya mengenal betul kiprahnya di bidang akademik, bahkan sebagian perjalanan beliau sebagai dosen telah saya ikuti dan tuangkan dalam berbagai tulisan. Konsistensi, ketekunan, serta dedikasinya dalam dunia pendidikan menjadi bukti nyata bahwa capaian ini bukanlah sesuatu yang instan, melainkan hasil dari proses panjang yang penuh komitmen.

Selamat dan sukses atas pencapaian yang membanggakan ini. Semoga apa yang diraih hari ini tidak hanya menjadi prestasi pribadi, tetapi juga mampu menjawab tantangan pendidikan tinggi di masa depan, serta memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan generasi mendatang.

Jumat, 10 April 2026

Menata Birokrasi di Awal Pemerintahan: Keniscayaan, Bukan Pelanggaran


Oleh: Hajrul Malik
(Tenaga Ahli Gubernur Sulawesi Barat Bidang Kerjasama Antar Lembaga) 

DISETIAP awal pemerintahan, selalu ada satu fase yang tak terhindarkan: penataan birokrasi. Fase ini kerap memicu polemik, terutama ketika menyentuh rotasi, mutasi, hingga penonaktifan jabatan (non-job) aparatur sipil negara (ASN).

Apa yang terjadi di Provinsi Sulawesi Barat hari ini sesungguhnya bukan anomali. la merupakan bagian dari dinamika transisi kepemimpinan-antara kebutuhan mempercepat kinerja pemerintahan dan kewajiban menjaga tertib administrasi dalam sistem nasional ASN.

Pertanyaannya, apakah penataan birokrasi di awal pemerintahan dapat dipandang sebagai pelanggaran, atau justru sebuah keniscayaan?

Setiap kepala daerah memikul mandat politik yang harus segera diterjemahkan ke dalam kerja pemerintahan. Dalam konteks itu, birokrasi bukan sekadar struktur administratif, melainkan mesin utama yang menentukan berhasil atau tidaknya agenda pembangunan.

Tanpa penataan birokrasi, program akan berjalan lambat, koordinasi tidak efektif, dan akselerasi pembangunan terhambat. Karena itu, langkah penataan kelembagaan yang dilakukan sejak awal pemerintahan harus dipahami sebagai fondasi untuk membangun pemerintahan yang bekerja.

Rotasi, mutasi, bahkan non-job bukanlah tujuan, melainkan konsekuensi logis dari proses penyesuaian organisasi.

Dalam kerangka hukum, kewenangan tersebut memiliki dasar yang jelas. Melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang ASN, kepala daerah sebagai Pejabat Pembina Kepegawaian (PPK) diberikan mandat untuk mengelola ASN, termasuk melakukan mutasi dan rotasi.

Dengan demikian, penataan birokrasi bukan tindakan di luar hukum, melainkan bagian dari fungsi manajerial pemerintahan yang sah.

Memang, dalam praktiknya terdapat prosedur administratif yang harus dilalui, termasuk koordinasi dengan Badan Kepegawaian Negara (BKN). Namun dinamika yang muncul dalam proses tersebut semestinya ditempatkan sebagai persoalan sinkronisasi administratif, bukan pelanggaran substansi kebijakan.

Perdebatan yang mengemuka sejatinya mencerminkan dua kepentingan yang sama-sama penting: sistem merit yang menjamin profesionalitas ASN, dan kebutuhan daerah yang menuntut kecepatan serta efektivitas pemerintahan.

Di satu sisi, sistem merit harus dijaga agar birokrasi tetap netral dan profesional. Namun di sisi lain, birokrasi tidak boleh menjadi struktur yang kaku dan menghambat gerak pemerintahan.

Di sinilah pentingnya keseimbangan.

Penataan birokrasi yang dilakukan Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat tidak dimaksudkan untuk keluar dari sistem merit, melainkan untuk mengoptimalkan kinerja organisasi sesuai kebutuhan riil daerah.

ASN memang memiliki sistem karier yang dilindungi. Namun pada saat yang sama, ASN adalah bagian dari organisasi yang dinamis dan dituntut untuk adaptif terhadap perubahan. Penempatan ASN tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan organisasi dan pelayanan publik.

Respons administratif dari Badan Kepegawaian Negara perlu dipahami secara proporsional.

Peran BKN sebagai pembina sistem ASN nasional tentu penting dan harus dihormati. Namun hubungan antara pemerintah daerah dan BKN seharusnya diposisikan sebagai kemitraan dalam menjaga keseimbangan antara regulasi dan kebutuhan daerah.


SEBUAH SURAT UNTUK UMMAT || Terus Terang Saya Bukan Siapa-Siapa

Catatan Nursalim Ismail 

Kepada Anda yang selama ini menyapa saya dengan penuh hormat,

Tulisan ini mungkin tidak penting bagi banyak orang. Tetapi bagi saya, ia adalah sesuatu yang sudah lama ingin disampaikan, meski sering tertunda oleh keraguan: apakah perlu diucapkan, atau cukup disimpan sebagai pergulatan pribadi saja.

Namun semakin lama, saya merasa bahwa diam justru dapat melahirkan kesalahpahaman yang pelan-pelan menjadi kebiasaan. Karena itu, izinkan saya berterus terang.

Dalam berbagai kesempatan, saya sering disapa dengan sebutan “Kiai”, juga dengan panggilan-panggilan kehormatan lainnya. Saya memahami sepenuhnya bahwa itu lahir dari niat baik. Dari penghormatan, dari kepercayaan, bahkan mungkin dari harapan.

Dan justru karena itulah, saya merasa tidak tenang. Bukan karena saya tidak menghargainya, tetapi karena saya merasa ada jarak yang terlalu jauh antara sapaan itu dengan keadaan diri saya yang sebenarnya.

Jika saya jujur pada diri sendiri, saya masih jauh dari gambaran yang selama ini dilekatkan pada seorang Kiai.

Dalam hal ilmu, saya sering merasa sedang berjalan di lorong yang panjang, dengan pemahaman yang masih terputus-putus. Apa yang saya sampaikan sering kali lebih merupakan hasil membaca sekilas, merenung seadanya, lalu mencoba merangkainya agar terasa renyah, dapat dipahami bersama. Dari kesadaran ini, semakin saya belajar, semakin saya sadar bahwa yang saya ketahui sangat sedikit.

Dalam hal menjaga diri, saya juga belum sampai pada keteguhan yang semestinya. Muru’ah yang seharusnya dijaga dengan ketat, dalam kenyataannya masih sering retak di dalam batin saya sendiri. Ucapan masih kerap memberi bekas luka, pikiran seringkali terbang melampaui adab kepantasan, bahkan tindakan seringkali muncul sebagai kepura-puraan. Ada bagian dari diri yang belum sepenuhnya bersih, yang masih mudah menilai, masih cepat meremehkan, bahkan kadang diam-diam merasa lebih dari orang lain. Hal-hal yang jika dipikirkan dengan jujur, justru menjauhkan dari makna keteladanan itu sendiri.

Dalam hal ibadah, saya pun tidak memiliki sesuatu yang layak dibanggakan. Saya belum menjadi orang yang kuat dalam sunyi, yang akrab dengan malam, yang menjadikan doa sebagai napas. Apa yang saya jalani masih sangat biasa, bahkan sering kali jauh dari disiplin yang saya tahu seharusnya dijaga.

Semua ini tidak saya tuliskan untuk merendahkan diri di hadapan siapa pun. Saya hanya sedang berusaha untuk tidak menyembunyikan diri dari diri saya sendiri.

Karena itu, ketika saya dipanggil dengan sebutan yang terlalu tinggi, saya khawatir pelan-pelan saya akan terbiasa mendengarnya, lalu tanpa sadar mempercayainya. Dan mungkin, di situlah kejujuran mulai berkurang sedikit demi sedikit.

Saya tidak ingin sampai di titik itu.

Saya lebih ingin tetap merasa sebagai orang yang sedang belajar, yang masih sering keliru, yang masih perlu diingatkan, yang masih jauh dari selesai.

Karena itu, izinkan saya menyampaikan satu hal dengan sederhana. Jika Anda berkenan menyapa saya, cukup panggil saya sebagai Ustadz.

Bagi saya, sapaan itu sudah lebih dari cukup. Bahkan, dalam kejujuran saya, itu pun masih terasa sebagai sesuatu yang harus terus saya upayakan agar pantas dipikul. Setidaknya, ia tidak terlalu jauh dari keadaan saya saat ini.

Saya memohon dengan penuh hormat, tidak lagi menggunakan sapaan-sapaan yang lebih tinggi seperti “Kiai”, “Anre Gurutta”, “Annangguru”, atau “Andongguru”. Bukan karena saya menolak penghormatan, tetapi karena saya sedang berusaha menjaga diri agar tidak tertipu oleh penghormatan itu sendiri.

Saya ingin tetap berada di posisi yang membuat saya terus merasa perlu belajar, bukan posisi yang membuat saya merasa sudah sampai.

Barangkali tulisan ini tidak akan mengubah apa-apa. Mungkin sebagian tetap akan memanggil seperti biasa. Dan itu tidak mengapa. Saya tidak sedang menuntut, hanya menyampaikan. Setidaknya, saya sudah mencoba jujur.

Dan mungkin, pada akhirnya, yang paling saya jaga bukanlah bagaimana saya dipanggil oleh manusia, tetapi bagaimana saya tidak kehilangan diri saya sendiri.

Terimakasih,- 

Mamuju, 9 April 2026.-

Rabu, 08 April 2026

BUKU BARU || Moral Ekologi Sulawesi Barat

Prolog Muhammad Munir 

UPAYA untuk terus bergerak dalam ruang lingkup literasi merambat seperti akar yang terus berjalan mencari simpul-simpul pergerakan dalam ruang tulis dan menulis. Gerakan literasi seperti sebuah pergerakan revolusi yang bekerja secara serentak hampir di seluruh penjuru tanah air. Mandar, Sulawesi Barat merupakan salah satu daerah yang juga banyak melahirkan pegiat literasi, cukup melejit menembus langit nusantara dan membahana di seantero negeri ini. Gerakan literasi di Sulawesi Barat terus berkecambah lalu menumbuhkan tunas-tunas literasi, sehingga mampu memberikan spirit baru bagi generasi di bumi Todilaling ini.
Saya selalu merasa bahagia ketika melihat sosok generasi yang memiliki minat menulis, terlebih jika ia memiliki kemauan menerbitkan naskah tulisannya menjadi buku. Demikian halnya dengan Adinda Mutmainnah Syam, Dosen Hukum Tata Negara Universitas Sulawesi Barat yang menyodorkan naskahnya berjudul: Moral Ekologi Sulawesi Barat. Hal menarik dari buku ini adalah tema yang diusung yakni tentang Ekologi yang tak lain hubungan antara makhluk hidup (biotic) dan lingkungan sekitarnya (abiotik). Lebih spesifik lagi mencakup studi tentang interaksi antara organisme, populasi, komunitas, dan ekosistem, serta proses-proses yang terjadi di dalamnya.  
Mengapa buku ini menarik, sebab penyajianya dalam bentuk cerita (cerpen) yang bertema lingkungan. Bukan karya ilmiah popular meski tentu digarapnya secara akademis. Kreatifitas penulis ini penting diapresiasi oleh siapapun, sebab selama ini isu-isu lingkungan di Sulawesi Barat masih menjadi tema yang hanya hadir dalam diskusi maupun seminar lingkungan. Belum sampai pada tataran aksentasi sebagaimana yang diharapkan. Hutan kita masih menjadi obyek pembalakan. Menanam sejuta pohon tapi ratusan bahkan ribuan hektar digunduli oleh oknum yang tak bertanggung jawab. 
Manusia Mandar (baca: Sulawesi Barat) adalah bangsa yang menjadikan alam dan lingkungan sebagai patron utama dalam melahirkan kebijakan dalam pemerintahan tradisional (Kerajaan). Ini bisa dibaca pada sebuah pappasang yang menyebut “Tarrare di allo, Tam,matindo di bongi, Mandandang Mata di merrandangna daung  aju (pertanian maju), di madinginna lita’ (keamana terjamin), di malimbonna rura (perikanan melimpah, diajarianna banne tau (kesehatan ibu dan anak)  dan atepuanna agama (tolerasnsi beragama)”. Tak sampai distu, masyarakat Mandar mengenal pimali (pamali) sebagai alat untuk mendoktrin generasinya agar tidak mengabaikan persoalan lingkungan. Hal ini bisa ditemukan dalam narasi cerpen-cerpen penulis di buku ini. 
Bahasan Moral Ekologi sesungguhnya telah menjadi tema sentral dalam perumusan kebijakan para pemimpin di Mandar. Ussul dan Pemali adalah dua unsur yang melekat pada proses itu, ditambah pappejappu menjadi perekat keduanya. Inilah kunci dari keberhasilan pemimpin masa lampau sehingga peradaban yang dibangunnya menjadi rahmat bagi manusia dan alam. Sasi’, Lita’ Buttu, anna tau dimasukkan dalam pengambilan sumpah para pemimpin dan itu menjadi parameter dalam mengukur keberhasilan mereka. Satu saja dari kempat unsur itu tak terurus, maka seorang pemimpin harus menerima konsekwesi yang berujung pada pemecatan bahkan sampai pada proses eksekusi. 
Hal lain yang menarik disikapi dari kelahiran buku ini adalah penyajian materi lingkungan yang latarnya diangkat dari kearifan local Mandar terkait ussul, pemali dan pappejappu dalam balutan sastra. Sastra sebagai sebuah hasil rekayasa kebudayaan, pada akhirnya tidak bisa melepaskan diri dari dialektika kebudayaan, bahkan menjadi salah satu alat (property) kebudayaan. Sebab itulah sehingga karya sastra tidak lagi berdiri sendiri menjadi sebuah karya seni (jika sastra adalah karya seni) atau karya intelektual, atau sekedar menjadi sesuatu yang enak didengar jika dibacakan. 
Penulis buku ini berlatar sarjana hukum, tapi menulis sastra tentang lingkunagn tentu bukan hal biasa. Ini luar biasa. Maka, marilah berdialektika dengan sastra secara internal sebelum kita beranjak manapaki realitas yang kompleks. Kita bangun kematangan. Kita pahami sastra sebagai medium cakrawala semesta. Sehingga kita mampu memahami pendalaman tabiat sosail dan kampung halaman dimanapun kita berada. Atau minimal kita mampu mengenali diri sendiri yang mewujud dalam karya.
Selamat dan Sukses dan teruslah berkarya. 



Biodata Penulis