UPAYA untuk terus bergerak dalam ruang lingkup literasi merambat seperti akar yang terus berjalan mencari simpul-simpul pergerakan dalam ruang tulis dan menulis. Gerakan literasi seperti sebuah pergerakan revolusi yang bekerja secara serentak hampir di seluruh penjuru tanah air. Mandar, Sulawesi Barat merupakan salah satu daerah yang juga banyak melahirkan pegiat literasi, cukup melejit menembus langit nusantara dan membahana di seantero negeri ini. Gerakan literasi di Sulawesi Barat terus berkecambah lalu menumbuhkan tunas-tunas literasi, sehingga mampu memberikan spirit baru bagi generasi di bumi Todilaling ini.
Saya selalu merasa bahagia ketika melihat sosok generasi yang memiliki minat menulis, terlebih jika ia memiliki kemauan menerbitkan naskah tulisannya menjadi buku. Demikian halnya dengan Adinda Mutmainnah Syam, Dosen Hukum Tata Negara Universitas Sulawesi Barat yang menyodorkan naskahnya berjudul: Moral Ekologi Sulawesi Barat. Hal menarik dari buku ini adalah tema yang diusung yakni tentang Ekologi yang tak lain hubungan antara makhluk hidup (biotic) dan lingkungan sekitarnya (abiotik). Lebih spesifik lagi mencakup studi tentang interaksi antara organisme, populasi, komunitas, dan ekosistem, serta proses-proses yang terjadi di dalamnya.
Mengapa buku ini menarik, sebab penyajianya dalam bentuk cerita (cerpen) yang bertema lingkungan. Bukan karya ilmiah popular meski tentu digarapnya secara akademis. Kreatifitas penulis ini penting diapresiasi oleh siapapun, sebab selama ini isu-isu lingkungan di Sulawesi Barat masih menjadi tema yang hanya hadir dalam diskusi maupun seminar lingkungan. Belum sampai pada tataran aksentasi sebagaimana yang diharapkan. Hutan kita masih menjadi obyek pembalakan. Menanam sejuta pohon tapi ratusan bahkan ribuan hektar digunduli oleh oknum yang tak bertanggung jawab.
Manusia Mandar (baca: Sulawesi Barat) adalah bangsa yang menjadikan alam dan lingkungan sebagai patron utama dalam melahirkan kebijakan dalam pemerintahan tradisional (Kerajaan). Ini bisa dibaca pada sebuah pappasang yang menyebut “Tarrare di allo, Tam,matindo di bongi, Mandandang Mata di merrandangna daung aju (pertanian maju), di madinginna lita’ (keamana terjamin), di malimbonna rura (perikanan melimpah, diajarianna banne tau (kesehatan ibu dan anak) dan atepuanna agama (tolerasnsi beragama)”. Tak sampai distu, masyarakat Mandar mengenal pimali (pamali) sebagai alat untuk mendoktrin generasinya agar tidak mengabaikan persoalan lingkungan. Hal ini bisa ditemukan dalam narasi cerpen-cerpen penulis di buku ini.
Bahasan Moral Ekologi sesungguhnya telah menjadi tema sentral dalam perumusan kebijakan para pemimpin di Mandar. Ussul dan Pemali adalah dua unsur yang melekat pada proses itu, ditambah pappejappu menjadi perekat keduanya. Inilah kunci dari keberhasilan pemimpin masa lampau sehingga peradaban yang dibangunnya menjadi rahmat bagi manusia dan alam. Sasi’, Lita’ Buttu, anna tau dimasukkan dalam pengambilan sumpah para pemimpin dan itu menjadi parameter dalam mengukur keberhasilan mereka. Satu saja dari kempat unsur itu tak terurus, maka seorang pemimpin harus menerima konsekwesi yang berujung pada pemecatan bahkan sampai pada proses eksekusi.
Hal lain yang menarik disikapi dari kelahiran buku ini adalah penyajian materi lingkungan yang latarnya diangkat dari kearifan local Mandar terkait ussul, pemali dan pappejappu dalam balutan sastra. Sastra sebagai sebuah hasil rekayasa kebudayaan, pada akhirnya tidak bisa melepaskan diri dari dialektika kebudayaan, bahkan menjadi salah satu alat (property) kebudayaan. Sebab itulah sehingga karya sastra tidak lagi berdiri sendiri menjadi sebuah karya seni (jika sastra adalah karya seni) atau karya intelektual, atau sekedar menjadi sesuatu yang enak didengar jika dibacakan.
Penulis buku ini berlatar sarjana hukum, tapi menulis sastra tentang lingkunagn tentu bukan hal biasa. Ini luar biasa. Maka, marilah berdialektika dengan sastra secara internal sebelum kita beranjak manapaki realitas yang kompleks. Kita bangun kematangan. Kita pahami sastra sebagai medium cakrawala semesta. Sehingga kita mampu memahami pendalaman tabiat sosail dan kampung halaman dimanapun kita berada. Atau minimal kita mampu mengenali diri sendiri yang mewujud dalam karya.
Selamat dan Sukses dan teruslah berkarya.
Biodata Penulis