Minggu, 28 Desember 2025

KEMAH LITERASI|| Malam, Kata, dan Cerita


Catatan Supriadi, S.Pd. 
(Direktur Pisakaku) 

Berangkat dari sebuah percakapan telepon, gagasan tentang kegiatan kemah literasi kami ramu seperti sedang jatuh cinta pada pandangan pertama. Zulfihadi, baru saja memberi tawaran untuk mengajak kami berkemah di MLC Baluno Majene bersama dengan Fadil. Kami Menyusun tema, bermalam merangkai kata, meramu cerita : lahirlah tema yang kami sepakati adalah malam, kata, dan cerita. Saya dan Fadil tentu akan mencoba memberi kesan sebagai perwakilan Gen Z, memang kelahiran kami sama dan memang termasuk Generasi Z, dan Bum = Refleksi 2025 : Resolusi 2026. Saya buatlah segala perlengkapan informasi ke sosial media, flyer dan cara daftar beserta grup whatsapp. Bumi Mandarnsesia mendaftar lebih awal, disusul oleh Lentera Labuang, perwakilan SMKS Suparman Wonomulyo, Allo Tidoa’. Pun sebelumnya kami juga harus menyebut Lembaga Komunitas kami, Pusat Studi Sosial dan Kajian Kebudayaan (PUSAKAKU), Fadil Lino Pustaka, dan Bang Zul sebagai tuan rumah MLC Baluno. 

Sabtu, 27 Desember – 28 Desember 2026. Awal rencana, saya akan membawa istri saya sekalian liburan Bersama. Entah pada bagian mana ia kembali menurunkan niatnya untuk ikut. Disamping itu, Fadil menelpon untuk memberi kabar bahwa tak bisa ikut lantaran kesehatannya terganggu, yaaaa blio memang seorang pemuda yang progresif yang hampir-hampir lupa bahwa tubuhnya butuh istirahat dari kesibukan hal-hal baik. Kendatipun demikian, waktu berjalan tanpa melalaikan jadwal yang telah kami sepakati. 
Sampailah saya di Baluno, meski dengan perasaan kecewa karena senja yang ingin sekali kami nikmati itu telah terbenam jauh meninggalkan. Saya bersama seorang teman begitu penasaran, apa yang yang ditawarkan oleh MLC Baluno ini ? Kenapa kami harus ada disini. Penasaran itu menjelma menjadi pertanyaan, pertanyaan yang membuat malam berlalu begitu cepat. Bagaimana mungkin hal yang ditanyakan itu benar-benar menjadi kesan yang sangat berharga. 

Kami berlima, saling sapa, saling tanya. Tentang Literasi, tentang Mangrove, tentang segala hal yang telah dilalui, tentang segala hal yang akan dilalui. Mandarras sebagai salah satu bahan diskusi yang begitu panjang, tetapi tak cukup ruang untuk saya tuliskan disini secara gamblang. Tetapi program yang digaungkan oleh Sulawesi Barat ini benar-benar menguras pikiran kami, sehingga kami bersepakat untuk melihat lebih jauh, mengawasi lebih dalam, bahkan mencoba memberi suara : Mandarras Sulawesi Barat harus punya target, kapan ia harus naik level ? 
Bagaimanapun panjangnya diskusi kami, tetapi selalu diakhiri omong kosong. Yaa, benar, sebab kami hanya masuk dalam lingkar peduli. Mempedulikan sesuatu yang tidak masuk dalam pengaruh. Meski selalu diakhiri omong kosong, tetapi dalam hati tetap memberi suara bahwa Literasi benar-benar menjadi penawar dari segala penyakit di planet ini. 

Malam minggu yang berharga itu perlahan lenyap dalam mimpi, kami istirahat untuk mengumpulkan tenaga karena besok pagi masih ada agenda pengenalan dan penanaman mangrove. 

Terimakasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar