Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Januari 2026

Menemukan Kembali Gairah “Band” di Sulawesi Barat.


Catatan Sahabuddin Mahganna

Sejak VOC 1602 menduduki hindia Belanda, musik dan beberapa instrumen Eropa menjadi energi baru yang digandrungi. Dua abad setelahnya, anak lelaki bersaudara dari timur Maluku menjadi selebritis lewat Timor Rythem Brothers 1945, diilhami oleh musik Rock an Rool dari Amerika serikat juga instrumental The Shadows, The Ventures dan Strings-A-Longs yang memukau. Dari Soerabaya, keluarga Tielmen melakukan perjalanan ke Belanda untuk melakuka rekaman pada 1956-1960, kemudian merubah dirinya menjadi The Four Tielman Brothers 1957, lalu The Tielman Brothers hingga sukses menggoyang negeri kincir angin, dan tercatat menjadi kelompok Band Rock atau Idorock pertama secara internasional, semangat itu memacu aliran-aliran Band di seluruh dunia untuk kemudian juga ber-aksi seperti The Bithels (Liverpool 1960), The Rolling Stones (Inggris 1960), dan itu termasuk Indonesia pasca kemerdekaan.

 Pengaruh Tielman di negeri tanah subur nan permai seperti Koes bersaudara 1958, menjadi cikal bakal Band Koes Plus, AKA di Surabaya 1967. Paling mengesankan ketika dipertengahan dasawarsa 1970-an, God Bless 1972 dan Massada 1973 segera memetik reputasi dengan gaya aksi panggung (Live Act) yang cemerlang, memiliki basis penggemar yang loyal, dan ini boleh jadi berpengaruh ke daerah-daerah. Menurut tahun yang sama, kelompok-kelompok di Sulawesi terkhusus di Sulawesi Barat, masuk dalam daftar aliran Hawaiaan, Keroncong dan Gambus, memasuki situasi yang terkondisikan pada instrumen kolaboratif secara hibrid yang alami. Kita diperkenalkan dengan kelompok musik Rewata’a Rio yang gemar memadukan musiknya dengan aliran lagu-lagu Stambul, dan “Pikko” kelompok Gambus bernuansa Keroncong 1960-an, atau menguji kreativitasnya dalam ramuan seperti Gambus dalam Keroncong dengan menggunakan beberapa alat Eropa seperti Juck, Akulele, Contra Bass, Sello dan Petikan Guitar Losquin.

 Di tahun antara 1970-1980 an, hiburan rakyat (Band) menjadi catatan disekian banyak pertunjukan, para pengagum musik di Sulawesi Barat memperlihatkan pengaruh eksistensi yang signifikan dengan menculnya kelompok gambus Surayya, yang kelak menjadi cikal bakal Band Surya, Karya Jaya menuju Karisma Band. Senandung Resota Majene 1985, lalu 1990 Karisma pun berdiri. Pada titik itu, tercatat Band populer yakni Surya dan Kaisar di Polewali Mamasa (Sekarang Polewali Mandar), sementara itu tidak jarang Band-band luar Polewali Mamasa seperti Toleransi dan Al-Warda dari Sidrap, Sarapo Band 1-2 di Pindrang, semakin memperlebar, memperkaya dan semarak penuh gairah. Hal itu pun secara tidak langsung untuk menguji keahlian dan lebih memacu semangat para players dan pimpinan produksi Band-band di Sulawesi Barat. Sayangnya amplikasi elektrik meredup oleh rentetan waktu, baik itu dari sudut artistik maupun penyajian, pelaku mulai resah pada pengutamaan karya instan atau mengubah Band yang dipormat dengan banyak pemain secara Enseble, menjadikan Elektrik Tone lebih digandrungi. Materialistik elektriktone memanjakan para penikmatnya dan menguntungkan.

 Di sisi lain, dengan munculnya kelompok Tammengundur telah memadukan tradisi, keyboard tunggal, dan Band, berhasil meramu pertunjukan dengan beberapa model sajian, tidak terkecuali drama komedi maupun pakem tradisional yang seolah-olah penonton bisa menyaksikan hiburan serba lengkap, memaksa manajemennya kewalahan dalam mengatur jadwal, dan sisa player-player itu pun mengalihkan dirinya untuk ke akustik dan You Tube, melakukan kreatifitas bebas demi mendapat perhatian. Sementara pecinta teknologi praktis semakin bergairah hingga meminimalisir pertunjukan chaiya-chayya (karaokean). Dari sini membuka naluri dan hasrat penyanyi amatiran untuk menjadi artis satu malam, satu dua lagu pemuas keresahan menurut orang-orang dulu yang kecewa atau gagal oleh karena surat panggilan tidak tergubris dan terbuang begitu saja. Di era digital sekarang ini, status teknologi jauh meningkat, menunjukkan daya saing yang berat bagi kaum-kaum Band.

 Fakta-fakta di atas, betapa hiburan Band menjadi dirindukan, seakan kita memiliki rezeki jika sempat melihatnya saat itu. Meski hanya satu dua kelompok yang masih bertahan, tetap tidak bisa bersaing, padahal indahnya sajian itu oleh karena semua sisi gambar maupun bunyi bisa disaksikan secara langsung. Pada tahun-tahun berikutnya, Band kembali digelorakan, bagaimana upaya komunitas-komunitas seperti One dO Art secara mandiri telah menggelar konser bertajuk Mahakarya, menggunakan Band eksplorasi dengan paduan tradisi, rock dan pop kreatif serta sedikit orkestra 2017, sementara Band-Band muda seperti Nilam, Adelweis, Impossible, Kaze, Teletabis, Black Hole, Manakarra dll. Mereka gemar membumikan kreatifitasnya, kendatipun hanya berada dijalur festival. Numerus 90 pada tahun 2021 manabur benih-benih juga menggelar lewat festival, dan yang paling mengesankan sebab pesertanya kembali menghadirkan player-player lama, menggugah hati untuk mengingat masa lalu meski permainanya tidak sehebat dulu. Banyak festival Band kreatif 2022 oleh dinas pariwisata di taman budaya provinsi Sulawesi Barat, digagas oleh Ir. Irbad Kaimuddin, yang tidak lain bahwa beliau ternyata adalah mantan pelaku Band 90 an. Dengan kembalinya liyan ini, bukan tidak mungkin studio-studio yang sempat gulung tikar akan segera mengatur jadwal.

 Band disajikan dengan tekstur professional dalam menjamu penikmatnya dan tidak mustahil akan kembali dengan segala bentuknya. Sementara Keyboard tunggal, chaiyya-chayya dan parodi Tammengundur adalah penomena nyata yang mungkin tidak akan luput dari sejarah. Meski telah mengalami pergeseran, namun inovasi pelakunya kita meski yakin mereka akan semakin kreatif. Kreatifitas anak-anak Band di tanah Mala’bi’ ini mencuat hebat, tidak ketinggalan Band Orkes 90-an seperti Mamat GS, semangat mudanya bangkit bersama kelompok Pramuda yang baru dibentuk. Maju terus, sebab kita baru saja menemukan kembali gairah Band di Sulawesi Barat setelah lama vakum.

Sumber: 
Bar Barendregt and Els Bogaerts 2007
Rusman Pikko. 2019
Hatta Jaya. 2021
Mamat GS. 2022
Poto: Band Nagersi di Sale'a Todang, Pimpinan Baharuddin Mahmud, Hatta Mahendra menjadi gitaris.
Penulis: salah satu penyanyi cilik nya

Minggu, 28 Desember 2025

KEMAH LITERASI|| Malam, Kata, dan Cerita


Catatan Supriadi, S.Pd. 
(Direktur Pisakaku) 

Berangkat dari sebuah percakapan telepon, gagasan tentang kegiatan kemah literasi kami ramu seperti sedang jatuh cinta pada pandangan pertama. Zulfihadi, baru saja memberi tawaran untuk mengajak kami berkemah di MLC Baluno Majene bersama dengan Fadil. Kami Menyusun tema, bermalam merangkai kata, meramu cerita : lahirlah tema yang kami sepakati adalah malam, kata, dan cerita. Saya dan Fadil tentu akan mencoba memberi kesan sebagai perwakilan Gen Z, memang kelahiran kami sama dan memang termasuk Generasi Z, dan Bum = Refleksi 2025 : Resolusi 2026. Saya buatlah segala perlengkapan informasi ke sosial media, flyer dan cara daftar beserta grup whatsapp. Bumi Mandarnsesia mendaftar lebih awal, disusul oleh Lentera Labuang, perwakilan SMKS Suparman Wonomulyo, Allo Tidoa’. Pun sebelumnya kami juga harus menyebut Lembaga Komunitas kami, Pusat Studi Sosial dan Kajian Kebudayaan (PUSAKAKU), Fadil Lino Pustaka, dan Bang Zul sebagai tuan rumah MLC Baluno. 

Sabtu, 27 Desember – 28 Desember 2026. Awal rencana, saya akan membawa istri saya sekalian liburan Bersama. Entah pada bagian mana ia kembali menurunkan niatnya untuk ikut. Disamping itu, Fadil menelpon untuk memberi kabar bahwa tak bisa ikut lantaran kesehatannya terganggu, yaaaa blio memang seorang pemuda yang progresif yang hampir-hampir lupa bahwa tubuhnya butuh istirahat dari kesibukan hal-hal baik. Kendatipun demikian, waktu berjalan tanpa melalaikan jadwal yang telah kami sepakati. 
Sampailah saya di Baluno, meski dengan perasaan kecewa karena senja yang ingin sekali kami nikmati itu telah terbenam jauh meninggalkan. Saya bersama seorang teman begitu penasaran, apa yang yang ditawarkan oleh MLC Baluno ini ? Kenapa kami harus ada disini. Penasaran itu menjelma menjadi pertanyaan, pertanyaan yang membuat malam berlalu begitu cepat. Bagaimana mungkin hal yang ditanyakan itu benar-benar menjadi kesan yang sangat berharga. 

Kami berlima, saling sapa, saling tanya. Tentang Literasi, tentang Mangrove, tentang segala hal yang telah dilalui, tentang segala hal yang akan dilalui. Mandarras sebagai salah satu bahan diskusi yang begitu panjang, tetapi tak cukup ruang untuk saya tuliskan disini secara gamblang. Tetapi program yang digaungkan oleh Sulawesi Barat ini benar-benar menguras pikiran kami, sehingga kami bersepakat untuk melihat lebih jauh, mengawasi lebih dalam, bahkan mencoba memberi suara : Mandarras Sulawesi Barat harus punya target, kapan ia harus naik level ? 
Bagaimanapun panjangnya diskusi kami, tetapi selalu diakhiri omong kosong. Yaa, benar, sebab kami hanya masuk dalam lingkar peduli. Mempedulikan sesuatu yang tidak masuk dalam pengaruh. Meski selalu diakhiri omong kosong, tetapi dalam hati tetap memberi suara bahwa Literasi benar-benar menjadi penawar dari segala penyakit di planet ini. 

Malam minggu yang berharga itu perlahan lenyap dalam mimpi, kami istirahat untuk mengumpulkan tenaga karena besok pagi masih ada agenda pengenalan dan penanaman mangrove. 

Terimakasih.

Sabtu, 27 Desember 2025

Catatan dari Perhelatan “Cakrawala Budaya"

Testimoni Kebudayaan, Uwake Cultur Foundation, Boyang Kaiyyang Kandeapi, 26 Desember 2025 ---Bagian Pertama

Terstimoni Kebudayaan: Dua Belas Orang Berorasi Dalam Semalam

Oleh: Hamzah Ismail

Sebagai penanda kegiatan akhir tahun, Uwake Cultur Foundation menggelar sebuah hajatan kebudayaan bertajuk “Cakrawala Budaya”, dengan kemasan yang cukup unik: “Testimoni Kebudayaan.” Forum ini memberi ruang bagi belasan tokoh budayawan dan seniman se-Sulawesi Barat untuk tampil berorasi, menyampaikan kesaksian, refleksi, sekaligus kegelisahan mereka tentang kebudayaan yang sedang dan akan dihidupkan bersama.

Berbeda dengan Cakrawala Budaya --agenda bulanan Uwake-- yang selama ini diisi dengan diskusi kebudayaan dan penampilan musik oleh Lingkar Musik Uwake, edisi Desember 2025 tampil sebagai peristiwa yang menyimpang dari kebiasaan. Tak ada diskusi, hanya diselingi pertunjukan musik. 

Keunikan lainnya, kegiatan ini berlangsung hanya dalam satu malam. Namun justru dalam keterbatasan waktu itulah, testimoni-testimoni kebudayaan menjelma sebagai catatan kolektif: ringkas, padat, dan sarat makna --sebuah penegasan bahwa peristiwa kebudayaan tak selalu membutuhkan panggung besar dan durasi panjang, melainkan hidupnya kerelaan untuk bersaksi, merawat ingatan, dan menghadirkan sejarah serta kebudayaan ke hadapan publik secara apa adanya.

Kesempatan tampil pertama diberikan kepada Dr. Suradi Yassil, penulis dan budayawan senior yang kini berusia delapan puluh tahun. Dalam testimoninya, Suradi sejak awal menekankan pembedaan mendasar antara kebudayaan dan kesenian, sebagai landasan penting dalam memahami praktik budaya secara utuh. Ia kemudian menautkan pandangan tersebut dengan refleksi atas eksistensi dirinya, sekaligus mengisahkan praktik-praktik cerdas yang ia jalani dalam mendidik anak sebagai bagian dari laku kebudayaan sehari-hari.

Kesempatan kedua diberikan kepada seniman dan tokoh pendidik, Dr. Suparman Sopu, yang kini berdomisili di Mamuju. Dalam testimoninya, ia menegaskan pentingnya mengingat kembali tiga M: Muhasabah Kebudayaan, Muraqabah Kebudayaan, dan Mujahadah Kebudayaan. 

Muhasabah Kebudayaan, menurutnya, mengajak menengok kembali perjalanan yang telah dilalui serta capaian-capaian positif yang telah dikerjakan. Ia memberi apresiasi kepada Uwake yang dinilainya berhasil menembus ruang teknologi canggih melalui karya musik yang memadukan tradisi dan modernitas, seperti hadirnya unsur sande’ dan bahasa Mandar dalam lagu-lagu Pak Ishaq yang diterima luas. Suparman juga menekankan kuatnya suasana religi dalam syair-syair yang selalu bermula dari Bismillah, karena akar sejarah dan budaya adalah bahwa  I Manyambungi penganut Agama Islam. 

Terkait teknologi dan AI, ia menegaskan bahwa pembaruan kebudayaan dapat dilakukan tanpa meninggalkan keaslian. Pada sisi Muraqabah, ia menekankan kesadaran identitas Mandar sebagai Mandar. Sementara Mujahadah Kebudayaan dimaknainya sebagai kesungguhan menghadapi tantangan, seraya mengutip pesan leluhur Mandar tentang keberanian menerjang ombak dan angin kencang.

Pen-testimoni kebudayaan ketiga adalah Ajbar Abdul Kadir, sosok yang kerap mengidentikkan dirinya sebagai “anak kampung” dan kini menjadi politisi andal Mandar, satu dari empat wakil Sulawesi Barat yang duduk di DPR RI. Ia memulai testimoninya dengan memaparkan data bahwa negara-negara dengan tingkat ekonomi tinggi umumnya juga memiliki tingkat inovasi yang tinggi. Menurut Ajbar, salah satu fondasi pentingnya adalah budaya egalitarisme –kesetaraan--yang melahirkan kebebasan, mengubah cara pandang sistem nilai, serta menyediakan ruang tumbuh berbasis relasi setara. Budaya ini tidak hanya meningkatkan kualitas manusia, tetapi juga kesejahteraan. 

Terinspirasi gagasan Tan Malaka dalam Menuju Republik Indonesia, Ajbar memaknai republik sebagai revolusi kebudayaan untuk menyiapkan generasi yang mampu menyerap nilai dan beradaptasi dengan perubahan global. Ia menegaskan bahwa inovasi tidak semata ditentukan kecerdasan intelektual, melainkan oleh ruang tumbuh yang adil, jujur, kompetitif secara fair, dan berlandaskan semangat belajar. Karena itu, ruang-ruang kebudayaan perlu hadir konsisten dalam ranah demokrasi, dengan pijakan pada independensi etis yang berorientasi pada kebenaran.

Tiba giliran penulis, yang juga diberi kepecayaan untuk juga menyampaikan testimoni kebudayaan. Hmmmm. Pada kesempatan itu, penulis menyampaikan tentang adanya tiga lapis keasadaran hubungan antara manusia (alawe), alam semesta (nawang), dan pranata hukum (akkeadang). Jauh sebelum membaca disertasi Darmawan Masud Rahman, “Puang dan Daeng: Kajian Sistem Nilai Budaya Orang Balanipa Mandar” yang di dalamnya membincang tentang hubungan alawe, nawang dan akkeadang, sebelumnya penulis pernah mendapatkannya dari salah seorang tokoh intelektul Mandar, yang juga seorang sufi, Subaer Rukkawali. Secara berturut-turut penulis sampaikan bahwa tiga lapis kesadaran yang berasal dari khazanah kebudayaan Mandar itu adalah “Alawe mimbolong di atauang, atauang mimbolong di alawe”, lalu “Alawe mimbolong di nawang, nawang mimbolong di alawe” kemudian “Alawe mimbolong di akkeadang, akkeadang mimbolong di alawe”. Saat orang Mandar mampu menginternalisasi tiga lapis keasadaran itu ke dalam dirinya, maka outputnya adalah terwujudnya Tau Tongang (manusia seutuhnya). Manusia seutuhnya dicirikan oleh sikap mala’bi’. Mala’bi’ pau, kedzo dan gau’. Tau Tongang, akan selalu menjaga dua hal: “Ma’asayanni Lita” dan “Ma’asayanni Pa’banua”.

Tabeeqqqq.
Tinbambung, 28/12/2025

#agendaakhirtahun
#testimonikebudayaan
#14orangorasidalamsemalam

Sabtu, 06 Desember 2025

Dr. ABD. RAHMAN HAMID || Seminar Hasil Penelitian Mahasiswa UIN RIL -Membaca Dunia Maritim Indonesia




Bandarlampung, 5 Desember 2025, mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab UIN Raden Intan Lampung menggelar seminar hasil penelitian di Perpustakaan Nasional RI, Arsip Nasional RI, dan Museum Bahari Jakarta. Seminar dilaksanakan di Ruang Seminar Fakultas Adab, merupakan bagian dari laporan praktikum mata kuliah (1) Sejarah Maitim Indonesia dan (2) Bahasa Sumber dengan dua dosen pengampu yaitu: Dr. Abd Rahman Hamid dan Agus Mahfudin Setiawan, M.Hum.    

Ketika membuka acara, Ketua Prodi SPI mengatakan bahawa kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan mahasiswa menelusuri sumber-sumber sejarah maritim yang tersedia di tiga instansi tersebut. Setelah seminar ini, setiap kelompok akan mengirimkan artikelnya ke jurnal nasional.  

“Dengan menerbitkan artikel di jurnal nasional, selain untuk memenuhi luaran mata kuliah, juga yang terpenting adalah untuk menambah jumlah publikasi mahasiswa sebelum menyelesaikan studi di Prodi SPI”, terang Dr. Hamid. 

Semester lalu, setelah praktikum mata kuliah di Banten, mahasiswa telah menghasilkan 6 judul artikel yang terbit di jurnal nasional. Jadi, kalau semester ini bisa terbit lagi satu artikel, maka sudah ada dua artikel yang dihasilkan sampai semester lima  ini”, kata Dr. Abd Rahman Hamid.       

Sementara itu, dosen pengampu mata kuliah Bahasa Sumber, Agus Mahfudin Setiawan, M.Hum, mengapresiasi semangat tinggi mahasiswa dalam proses pengumpulan sumber sejarah di Jakarta. “Sumber tulisan ini sudah bagus, sisa ditingkatkan lagi arah dan fokus artikel masing-masing. Jadi, artikel ini perlu diperbaiki lagi agar lebih fokus pada tema kajian”, terangnya.  

Seminar ini dihadiri oleh 45 mahasiswa Prodi SPI dengan menampilkan 10 topik kajian yang dibagi menjadi dua sesi diskusi. Lima topik pada sesi pertama membahas mengenai pelabuhan di Lampung (Telukbetung dan Oosthaven), Emmahaven (pelabuhan Padang), pelabuhan Sabang (Aceh), pelabuhan Surabaya, dan pelabuhan Makassar. Sesi ini dipandu oleh Amira Zahida Mumtaz. 

Dua pelabuhan Lampung yang berada di Telukbetung menjadi cikal bakal lahirnya Kota Bandar Lampung. Aktivitas pelabuhan Telukbetung melahirkan Kota Telukbetung, sebagai kota lama Lampung. Sementara aktivitas Oosthaven (Panjang) melahirkan kota baru Tanjungkarang. 

Selanjutnya, lima topik sesi kedua mengkaji mengenai pelabuhan di Kalimantan Timur dan Selatan, pelabuhan Ende (Nusa Tenggara), pelabuhan di Maluku (Ambon dan Ternate), pelayaran laut nasional Indonesia (PELNI), dan peranan Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) dalam revolusi Indonesia. Sesi ini dipandu oleh Reisya Aulia Khabiba. 

Selain menampilkan artikel hasil kajian, dalam seminar ini juga ditampilkan video dokumenter perjalanan praktikum Sejarah Maritim Indonesia dan Bahasa Sumber yang dilaksanakan di Jakarta pada  4 – 6 November 2025. 

Belajar sejarah tidak cukup dengan membaca buku-buku sejarah saja, tetapi juga perlu praktik lapangan untuk menelusuri sumber-sumber sejarah dan menuliskannya menjadi narasi sejarah berupa artikel untuk dipublikasikan ke jurnal nasional, kata Ketua Prodi SPI Dr. Abd Rahman Hamid menutup seminar ini.

Rabu, 26 November 2025

ABD. RAHMAN HAMID || Dosen UIN RIL Narasumber FGD BRIN

Jakarta, 26 November 2025, Dosen UIN Raden Intan Lampung, Dr. Abd Rahman Hamid kembali menjadi Narasumber kegiatan yang dihelat oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), setelah sebelumnya mengisi acara AB Lapian Memorial Lecture (23 September 2025), dengan tema utama “Cerita dalam Hidangan: Tradisi Lisan Kuliner sebagai Potensi Wisata Gastronomi Berkelanjutan”.  

Focus Group Discussion (FGD) ini dilaksanakan selama tiga hari (24-26 November) dengan menghadirkan enam narasumber utama yaitu: KH Ahmad Baso, Dr. Anhar Gonggong, Dr. Suriadi Mappangara, Prof. Dr. Muhlis Hadrawi, Dr. Abd Rahman Hamid, dan Dr. Mukhlis PaEni. 

Abd Rahman Hamid mengisi acara pada hari ketiga dengan topik “Gastronomi dan Jalur Rempah: Peran Perempuan dalam Merawat Tradisi Maritim Buton dan Mandar”, dengan moderator Risma Widiawati, M.Si. 

“Tradisi kemaritiman sering kali dianggap milik laki-laki saja. Namun, apakah tradisi itu bisa bertahan tanpa kehadiran perempuan?”, jelas Ketua Prodi Sejarah Peradaban Islam UIN RIL saat mengawali presentasinya, yang dihadiri 30 peneliti Pusat Riset Khasanah Keagamaan dan Peradaban secara luring dan 45 peserta secara daring.  

Berangkat dari isu tersebut, Hamid menjelaskan mengenau peranan perempuan dalam  merawat kelangsungan tradisi maritim serta transformasi gastronomi pelaut menjadi identitas orang Buton dan Mandar.  

Menurut Hamid, perempuan Buton dan Mandar memiliki peran penting dalam menjaga kelangsungan aktivitas pelayaran pelaut, mulai dari menyediakan bekal untuk suaminya hingga memproduksi beragam komoditas niaga seperti kain tenun, parang dan pesau besi, menyikap goreng dari kelapa, dan menenun kain layar perahu.
 
Yang menarik adalah bahwa kedua suku bangsa bahari Indonesia ini memiliki jenis kuliner yang sama yang terbuat dari singkong, yakni soami/kasoami/sangkola (Buton) dan jepa (Mandar). 

Menurutnya, kesamaan itu disebabkan oleh dua faktor: pertama, kondisi kehidupan di laut atau atas perahu sama yang dipengaruhi oleh faktor gelombang, arus laut, dan angin. Kedua, para pelaut memerlukan kuliner yang mudah dikonsumsi dan adaptif terhadap kondisi kehidupan di atas perahu, baik saat angin kencang maupun angin tenang. Inilah kecemerlangan perempuan dalam memastikan keselamatan suami mereka dan sekaligus merawat tradisi maritim. 


Awalnya merupakan kuliner pelaut, lalu dikonsumsi semua kalangan, dan sekarang menjadi simbol identitas orang Buton dan Mandar. Gastromi itu juga menjadi petunjuk mengenai persebaran (diaspora) Buton dan Mandar di Indonesia. Bahkan, ia disebut soft diplomacy lintas budaya di Tanah Air, terang Hamid. 

Elaborasi ini menjadi sumber inspirasi untuk studi lanjut mengenai kehidupan para pelaut lainnya di Indonesia. “Tanpa kehadiran perempuan, tidak mungkin tradisi maritim bisa bertahan berabad lamanya”, kata Hamid menutup presentasinya.

Peserta diskusi begitu antusias mengikuti acara yang ditandai respons dari delapan peserta yaitu Kang Dede, Prof. Dr. Saleh, Andi Baso, Lamansi, Dudung Yuwono, Wardiah Hamid, Prof. Dr. Idham Kholid Bodi, dan Syamsu Rijal. 

Diskusi ini ditutup oleh Kepala Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban, Wuri Handoko, yang juga kandidat Doktor Arkeologi Universitas Indonesia. Beliau menyampaikan terima kasih kepada seluruh narasumber yang telah berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada para peneliti, serta berharap bahwa kelak dibentuk satu pusat kajian Gastronomi Nusantara di lingkungan BRIN.

Rabu, 19 November 2025

TITIK TERANG || Penari di Atas Kuburan

Oleh: Hamzah Ismail

Heboh penari di atas kuburan dua tiga hari terakhir, mulai menemui titik terang. Menurut info A1 dari sumber yang layak dipercaya, aksi ini bagian dari tugas pengembangan tari Pattuqduq oleh seorang mahasiswa. Mereka menari di atas kuburan itu, ternyata menjadi bagian dari riset mereka. 

Menjadi miris, sebab selain mendapat kecaman keras di medsos, ternyata mahasiswa tersebut juga mendapat teguran dari kampusnya, bahkan diancam tidak diikutkan ujian jika tidak segera datang ke Mandar meminta maaf.

Dalam hubungan itu, menyikapi kejadian tersebut kita mesti lebih mengedepankan kejernihan pikiran. Peristiwa ini tidak lagi dijadikan ajang memojokkan atau menghakimi. Kepada mahasiswa itu tetap perlu diberi ruang untuk belajar sambil mendudukan halnya secara proporsional, dengan penuh pengertian dan empati bahwa ia sedang berada dalam tahap pembelajaran, dan kesalahan dalam eksperimen seninya adalah bagian wajar dari proses itu. Olehnya, meski ia tak segera datang menghadap minta maaf, kita mestinya lebih awal mengulurkan tangan memberi maaf.

Kejadian ini menjadi pengingat bahwa dalam proses pengembangan seni, budaya, dan pendidikan, ruang belajar, kesadaran, pengertian, dan komunikasi harus berjalan beriringan, agar ekspresi kreatif tetap menghormati warisan budaya tanpa menghilangkan kesempatan belajar.
 
Dalam pandangan kami, masalah ini menjadi begitu heboh hanya karena terlewatinya sebuah proses sederhana: bicara-bicara (komunikasi). Bukankah, apa pun masalahnya, banyak hal bisa berjalan dan terselesaikan hanya dengan dialog yang terbuka – bicara-bicara?

Klir dan selesai, menurut saya.

Tabeqqq
Tinambung, 19/11/2025
@sorotan

Selasa, 18 November 2025

Penari Menari diatas Makam Rajanya

Catatan Rahmat Polanagau 

1-2 hari ini berita Penari di makam sakral lagi viral dan saya kira itu tidak mengherankan. Ragam paradoks didalamnya mendorong letupan itu.
Pada postingan ini saya sertakan dua gambar, satu adalah video viral yang saya svreenshoot dan satunya lagi lukisan saya di tahun 2008, saya berpikir belajar /study sendiri untuk karya naturalis. (Referensinya adalah karya salah satu maestro lukis nasional) saya merubah sesuatu didalamnya agar karya ini tak dikejar sebagai plagiat (ini adalah study dan itu lumrah saja). Saya tidak akan membicarakan itu hanya sebagai ilustrasi saja.

Jadi begini, hehehh 
Mensoalkan Penari di makam sakral itu, untuk semua yang kebetulan membaca.

Apakah dimungkinkan dalam moment tertentu pada pikiran kita memahami bahwa tari adalah laku ritual, simbolisasi kesadaran yang estetis, yang mendorong sinkronitas wujud dan rasa pada kesakralan sesuatu. lalu berharap bahwa para penari itu telah merepresentasikan penghormatan diri pada kemuliaan raja, budaya dan sejarah. Andai seperti itu bukankah notabene itu adalah hasrat mayoritas Orang Mandar yang menghargai sejarah dan eksintensinya.
Para pengamat dan penggiat seni serta kritikus seni pertunjukan harus mengambil ruang untuk memposisikan ini dengan teori teori pendekatan kritik dalam seni pertunjukan.

Pada sisi lain jika para penari yang dikemudikan koreografernya itu mengaktualisasi karya itu sebagai karya yang bersifat artifisial (murni ekspresi simbolik dan estetis,.dalam artian bukan sebagai ritual kepercayaan maka niscaya akan menjadi sesuatu yang kontradiktif ketika Ia mengambil alih ruang sejarah budaya dan spiritual yang Sakral dan disakralkan serta terframe sebagai bagian identitas masyarakatnya.. Perbedaan yang bergesekan adalah sebuah keniscayaan.

Titik temu penerimaan atau persepakatan mungkin bisa hanya jika para pelaku tari itu menyadari kebebasan sebagai ketidak bebasan dalam keliaran baik sebelum dan sesudah karya itu meng-ada. Kejadian ini sudah tidak bisa di rewind lagi, Ia hanya bisa direposisi dalam persepsi dan perspektif setelah dilakukan kajian mendalam yang tentu dari beberapa elemen yang dimungkinkan peduli dan terlibat.

Sebagai individu dalam dunia seni (seni rupa) sangat menyayangkan kejadian ini. Dengan stimulan yang kuat (media cepat dan tanpa limit) mayoritas masyarakat tentu akan lebih condong berasumsi bahwa kehadiran dari karya yang di tempatkan di situs sakral itu adalah realitas dari isi pikiran yang banal, yang birahi pada popularitas dengan pilihan sensasional dan sangat kontroversial.

Kreatifitas tak terbatas dan dunia memungkinkan eksplorasi yang bebas diruang kejujuran dan kebebasan dalam konteks Seni,  tapi laku hidup sebisanya harus tetap berpihak pada sikap Sadar Ruang. Kebebasan manusia adalah kebebasan yang dibatasi manusia lainnya. Batas batas sikap adalah kunci balance dan harmoni dalam tatanan yang telah diidealkan pada masyarakat tertentu.

Ini semacam kecelakaan ekspresi, seperti aktifitas grafitti "orang orang baru" pada dinding sakral abadi dihadapan para khalayak pemiliknya 🙂. Tapi apapun problemnya jika nilai luhur budaya diimplementasikan maka kebijaksanaan adalah jawabannya. Meski demikian jika dimungkinkan buatkanlah aturan khusus aktifitas yang dibolehkan di situs itu sebagai acuan sekaligus dengan sanksi bagi pelanggarnya.

Tak semua harus berubah dan diubah ada hal hal yang sudah cukup dalam ruang identitas makro.

Buat mereka penari dan koreografernya, Selamat berkarya, pilih jalan yang pintar dan baik selagi masih berkutat dalam seni yang Gandrung  keartistikan. 

#videoviral
#penaridiatasmakam
#artscultureproblematic
#smallrespons
#RSVAletters

Kepada: Para Penari di Atas Kuburan

Oleh: Hamzah Ismail

Belakangan ini media sosial dihebohkan oleh ulah sekelompok remaja perempuan yang menari tepat di atas sebuah makam. Bukan makam sembarangan, itu adalah pusara I Manyambungi, atau yang lebih dikenal dengan Todilaling, raja pertama Kerajaan Balanipa.

Peristiwa tersebut segera memantik kegaduhan di jagad maya. Banyak warga Mandar marah, tersinggung, bahkan menganggap perbuatan itu sebagai bentuk penghinaan terhadap sejarah dan leluhur. Sepanjang ingatan kolektif masyarakat Mandar selama berabad-abad, kejadian seperti itu belum pernah terjadi sebelumnya.

Barangkali para remaja putri itu terinspirasi oleh narasi-narasi yang berkembang tentang wafatnya I Manyambungi. Dimana saat jenazah Todilaling hendak dimasukkan ke dalam liang lahat, sekelompok penari mengikuti iringan pemakamannya. Mereka menari bukan sebagai hiburan, melainkan sebagai ritual pengabdian terakhir. Diceritakan bahwa para penari itu rela mati dan ikut terkubur bersama I Manyambungi, sebagai simbol kesetiaan yang tidak putus oleh kematian. 

Namun, apa yang dahulu terbingkai dalam makna ritual, kesakralan, dan ketundukan pada nilai adat, kini bergeser menjadi tontonan dalam format hiburan digital. Waktu memang terus maju, tetapi tidak semua nilai ikut bergerak seiring zaman. Ada batas-batas yang tak boleh diloncati: batas antara hormat dan abai, antara tradisi dan sensasi --viralisme.

Kadang ‘viralisme’ hadir tanpa kemampuan membedakan mana yang pantas dikonsumsi publik dan mana yang harus dijaga kesuciannya. Maka benturan antara tradisi dan sensasi sering berujung pada kegaduhan, bukan pemahaman.

Di hadapan makam seorang raja, pendiri Kerajaan Balanipa, setiap langkah seharusnya mengandung doa; setiap gerak tubuh seharusnya mengingatkan pada jasa dan keberaniannya. Sebab di sana ada lipatan sejarah, mengandung dalam rahimnya berlaksa-laksa pengetahuan dan khazanah kearifan lokal. Menghormatinya adalah jalan paling bijak. 

Kepada kelompok remaja perempuan yang terlanjur menari-nari di atasnya, kalian yang belum paham betul batas antara yang mana bisa dan yang mana tidak bisa, datanglah kembali ke puncak Napo sana. Bersimpuhlah di pusaranya. Tak perlu sibuk meminta maaf kepada mereka yang hidup. 

Datanglah lagi ke sana: Hadirkan hatimu, luruskan niatmu. Tak usah risau. Kalian tak bakal terkutuk. Sebab, dibalik pusara itu, La Puang, manusia bijak itu, dari balik pusaranya pasti Ia sungguh paham bahwa dunianya dengan duniamu kini sungguh jauh berbeda. 

Tapi setelah, itu kalian belajarlah lebih dalam lagi. Bahwa Mandar, adalah ‘lahan’ pengabdian yang tak akan pernah habis digali dan diselami. Mandar, adalah sumber inspirasi. Berkaryalah. Ambillah banyak-banyak nilai dari puncak Napo sana, internalisasikan nilai-nilai itu ke dalam setiap diri kalian. 

Menarilah terus, tapi saya ingatkan: 
Jangan lagi menari di pusara La Puang, I Manyambungi, Todilaling. Berilah rasa hormat penuh dan total kepadanya.

Karena, kalian terlanjur pernah menari-nari di puncak bukit itu, maka di kesempatan pertama, kupinta: datanglah kembali –segera- ke pusara agung itu: Minta maaflah.

Tinambung, 18/11/2025

Sabtu, 15 November 2025

MAJENE || MENGGORES BUDAYA DI LEMBARAN KREATIFITAS

Oleh : Muh. Arsalin Aras

Majene bukan sekadar titik di peta, Majene adalah tungku tempat api tradisi ditempa menjadi cahaya inovasi. Dalam setiap anyaman bambu, dalam dentingan gendang dan dalam setiap petikan Kecapi Mandar, tersimpan “panas” yang menunggu dibentuk menjadi karya yang menghangatkan seluruh negeri.

Majene bukan sekedar ejaan dalam lafadz, Majene adalah kanvas hidup dimana setiap goresan budaya menjadi jejak yang menandai perjalanan waktu. Seperti pena yang menorehkan tinta pada lembaran kosong, Majene kuasa menggoreskan tradisi, cerita dan harapan menjadi karya yang tak lekang oleh angin perubahan.

Majene, tanah yang mengalir antara sungai Mahakam dan Samudra Hindia, bukan sekadar titik geografis. Majene adalah lembaran kosong yang menunggu goresan budaya yang menorehkan identitas, harapan dan impian. Ketika kreativitas menjadi pena, budaya menjadi spirit bersama, Majene menuliskan babak baru dalam peta ekonomi kreatif.

Lembaran Kreatif sebagai ruang Kolaborasi

“ Budaya adalah lembaran, kreativitas adalah pena, ketika keduanya bersatu, yang tercipta bukan sekadar gambar, melainkan nyanyian jiwa sebuah kampung.”

Dalam kerangka itu, setiap anyaman bambu, setiap dentingan petikan kecapi adalah goresan yang menegaskan identitas. Menjadikan Majene sebuah “ lembaran kreatif ” memberi ruang bagi api tradisi untuk tetap menyala, sekaligus memberi kebebasan bagi generasi muda menulis bab baru dengan warna‑warna inovasi.
Majene adalah ruang goresan budaya jejak leluhur yang tak terhapus sekaligus sebagai lembaran kreatif dan ruang terbuka bagi ide‑ide baru.

"Sebuah goresan tidak menghapus lembaran, ia menambah cerita pada tiap serat.”
Dalam konteks Majene, setiap inovasi tidak menghilangkan warisan, melainkan menambah lapisan makna pada budaya yang sudah ada.

Majene hari ini sedang menuliskan dirinya di lembaran kreatif dengan goresan budaya yang tak lekang oleh waktu. Jika Kita terus memberi ruang bagi pena‑pena muda, lembaran itu akan menjadi karya agung yang menginspirasi bukan hanya Sulawesi Barat, tetapi seluruh nusantara. Mari Kita gores bersama, supaya setiap helaan napas budaya Majene menjadi tinta yang mengalir ke seluruh dunia.

Budaya sebagai Bahan Baku, Kreatifitas Sebagai Pena

Budaya adalah cerminan jati diri sebuah bangsa, sebuah mozaik yang terdiri dari beragam warna dan motif yang membentuk identitas unik setiap komunitas. Namun, budaya bukan hanya warisan statis yang dibiarkan teronggok di museum sejarah. Ia adalah bahan baku dinamis yang terus-menerus diolah, dihidupkan, dan diinterpretasikan ulang melalui kreativitas.

Di era global ini, kreativitas menjadi sarana penting untuk mengekspresikan kembali nilai-nilai budaya, mengemasnya dalam bentuk mozaik indah yang relevan dengan zaman dan membagikannya kepada dunia. Kreativitas adalah pena yang mampu menerjemahkan esensi budaya ke dalam berbagai bentuk ekspresi—seni, musik, film, fashion, bahkan teknologi.

Melalui kreativitas, budaya tidak hanya dipertahankan, tetapi juga dikembangkan menjadi sesuatu yang baru dan menarik. Misalnya, batik yang dulu hanya dikenakan dalam acara-acara formal, kini menjelma menjadi motif fashion modern yang dipakai di berbagai kesempatan. 

Kreativitas dalam mengolah budaya juga harus diimbangi dengan pemahaman mendalam tentang akar budayanya sendiri. Tanpa ini, kreativitas bisa menjadi sekadar imitasi tanpa makna, atau bahkan mengaburkan esensi budaya yang ingin dilestarikan. Oleh karena itu, penting untuk selalu menempatkan budaya sebagai fondasi utama dalam setiap karya kreatif.

Dengan memandang budaya sebagai bahan baku dan kreativitas sebagai pena, Kita tidak hanya melestarikan warisan leluhur di Majene, tetapi juga menciptakan sesuatu yang baru dan inspiratif untuk masa depan.

Kampung Krearif Tempa Budaya

Kampung kreatif bukan sekadar istilah yang muncul di media sosial. Ia adalah konsep pemberdayaan yang menempatkan budaya, seni dan inovasi sebagai fondasi utama pembangunan ekonomi di tingkat paling bawah. Di era digital dan persaingan global, kampung kreatif menawarkan alternatif berkelanjutan bagi desa‑desa di Majene yang masih bergantung pada sektor agraris tradisional. Dengan mengoptimalkan potensi lokal, kampung kreatif dapat menjadi katalis pertumbuhan yang inklusif dan berdaya saing.

Setiap kampung memiliki warisan budaya—kerajinan tangan, musik tradisional, kuliner khas atau cerita rakyat yang belum sepenuhnya dimanfaatkan. Melalui pelatihan vokasi, perajin lokal dapat meningkatkan kualitas produk, menambahkan nilai estetika, dan mengakses pasar daring.

Keberhasilan kampung kreatif di Majene, bergantung pada jaringan antara pelaku seni, UMKM, pemerintah, dan akademisi. Kafe tematik, coworking space, dan galeri pop‑up menjadi ruang pertemuan informal di mana ide‑ide dapat dipertukarkan. Pemerintah daerah Majene dapat memfasilitasi inkubator budaya dengan menyediakan ruang kerja, peralatan, dan mentor dari kalangan profesional.

Kampung kreatif adalah jawaban konkret atas tantangan urbanisasi, pengangguran, dan hilangnya identitas budaya. Dengan mengintegrasikan seni, teknologi, dan kolaborasi lintas sektor, wilayah Majene dapat bertransformasi menjadi pusat inovasi yang tidak hanya meningkatkan kesejahteraan warga, tetapi juga memperkenalkan kekayaan budaya Majene kepada dunia.

Dengan “menempa” budaya, Kita tidak hanya melestarikan, tetapi juga mengembangkannya menjadi sesuatu yang dinamis dan adaptif. Budaya bukan sekadar benda mati di museum, melainkan bahan baku yang bisa diolah menjadi karya-karya baru anak muda Majene yang relevan dengan zaman.

Melalui tempa budaya, warga Majene bisa menciptakan perpaduan menarik antara tradisi dan modernitas. Misalnya, musik tradisional yang dipadukan dengan teknologi digital, atau tarian klasik yang dikemas dalam bentuk pertunjukan kontemporer. Dengan cara ini, budaya Majene tidak hanya dipertahankan, tetapi juga menjadi lebih menarik bagi generasi muda.

Namun, tempa budaya juga memerlukan pemahaman mendalam tentang esensi budaya itu sendiri. Kita harus tahu mana yang bisa diubah dan mana yang harus dipertahankan. Jika tidak, akan berisiko kehilangan makna sebenarnya dari budaya tersebut.

Majene memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, setiap wilayahnya memiliki cerita, tradisi dan keunikan tersendiri. Dengan tempa budaya,  Majene bisa mengubah kekayaan ini menjadi aset yang tidak hanya membanggakan, tetapi juga menguntungkan secara ekonomi dan sosial.

Penutup

Membangun kampung kreatif di Majene berarti mengubah warisan budaya menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Dengan strategi yang terarah dan kolaborasi yang kuat, Majene tidak hanya menjadi tempat tinggal, melainkan “tempat budaya” yang menginspirasi, mempekerjakan dan menarik minat dunia.

Majene adalah tungku peradaban, tempat api tradisi ditempa menjadi cahaya inovasi. Dalam setiap anyaman bambu, dalam setiap denting kecapinya tersimpan “panas” yang menunggu dibentuk menjadi karya yang menghangatkan seluruh negeri.

" Sebuah kampung yang kreatif adalah palu, budaya adalah besi, dan warganya adalah pandi yang menaklukkan masa depan. "

Membangun kampung kreatif di Majene berarti memberi ruang pada api itu untuk terus menyala, bukan hanya melompat ke dalam kilauan modernitas. Setiap lokakarya, setiap pameran kecil, setiap postingan di media sosial adalah pukulan palu yang membentuk identitas baru—identitas yang tetap berakar pada tanah, sungai, dan cerita leluhur.

Akhirnya, mari kita lihat Majene sebagai " tempat di mana budaya dijadikan besi, kreativitas dijadikan palu, dan masyarakat menjadi pandai besi masa depan.” Dengan falsafah ini, Majene tidak hanya menggambarkan pembangunan, melainkan mengundang warga luar Majene merasakan denyut jantung sebuah tempa yang tak pernah berhenti di Majene.

Jumat, 14 November 2025

JEPA || SIMBOL KEBERSAMAAN DAN IDENTITAS BUDAYA MANDAR

Oleh : Muh. Arsalin Aras.

Seperti yang dikatakan oleh Claude Levi-Strauss, bahwa " makanan adalah bahasa yang tidak berbohong ", adalah bermakna bahwa bagaimana makanan dapat menjadi bahasa yang mengungkapkan identitas budaya dan kebersamaan.

Jean-Paul Sartre, menyebutkan bahwa  " manusia adalah kebebasan ", merupakan contoh bagaimana kebebasan manusia dapat diekspresikan melalui pilihan makanan dan cara makan, yang pada gilirannya membentuk identitas budaya dan kebersamaan dalam masyarakat.

Ungkapan Roland Barthes, bahwa " makanan adalah sistem semiotik ", bermakna bagaimana makanan dapat menjadi sistem semiotik yang mengungkapkan makna dan nilai-nilai budaya, serta membentuk identitas dan kebersamaan masyarakat.

Warisan dan Identitas Budaya

Jepa, kuliner khas Mandar, bukan hanya sekedar hidangan tradisional, tetapi juga merupakan simbol kebersamaan, kekuatan, dan ketahanan masyarakat Mandar.

Jepa telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Mandar selama berabad-abad, dan telah diwariskan kepada generasi Mandar hari ini. Jepa merupakan makanan yang dibuat secara bersama-sama, sehingga menciptakan rasa kebersamaan dan gotong royong sebagai perekat masyarakat Mandar dimanapun berada.

Jepa juga merupakan simbol identitas budaya Mandar yang kuat dan membedakan masyarakat Mandar dengan masyarakat lainnya di Nusantara. Jepa merupakan bagian dari tradisi dan budaya Mandar yang telah diwariskan dari generasi ke generasi, karenanya, kuliner Jepa harus terus dilestarikan dan dikembangkan keberadaannya sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.

Jepa, kuliner khas Mandar, bukan semata warisan kekayaan budaya, bukan hanya sebatas hidangan tradisional, tetapi sebagai simbol dan ekspresi kebersamaan dan kekeluargaan masyarakat Mandar dimanapun berada kini.

Jepa telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Mandar dengan aroma dan kekhasannya yang menggugah selera penikmatnya. Jepa merupakan kuliner yang dibuat dan diolah dalam kebersamaan sehingga menciptakan sikap gotong royong sebagai bagian tradisi dan kekayaan budaya Indonesia.

Jepa harus terus dilestarikan dan mengembangkannya sebagai kekayaan budaya, agar generasi mendatang dapat menikmati dan menghargai kelezatan dan keunikan Jepa.

Ekspresi Kultural Mandar

Terbuat dari parutan Ubi kayu yang telah dikupas kulitnya dan dicuci bersih, kemudian hasil parutannya dibungkus dengan kain bersih kemudian diperas menggunakan Pangepeq, alat peras tradisional Mandar yang terbuat dari kayu, proses pemerasan ini dimaksudkan untuk menghilangkan kandungan racun pada ubi kayu, setelah dipisahkan air perasannya, ubi kayu tersebut diurai merata dengan campuran parutan kelapa untuk memberi rasa gurih dan aroma khas menjadi sebuah adonan, kemudian dipanggang diatas Panjepangang dengan tungku dari tanah liat yang menggunakan kayu bakar sebagai pemanasnya.

Jepa seringkali dikonsumsi dengan Bau Peapi, namun ada pula yang menghidangkan dengan gula merah sebagai sarapan di pagi hari dengan secangkir kopi hangat.
Kuliner khas Mandar ini mudah didapatkan di pasar-pasar tradisional maupun pusat-pusat kuliner di Kabupaten Majene dan Polewali Mandar.

Jepa, sebagai warisan Budaya Tak Benda, kini menjadi iconik Makanan Khas Mandar di United Nation, Educational, Scientific and Cultural Organization ( UNESCO ) oleh Pemerintah Propinsi Sulawesi Barat melalui Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVIII.

Jepa, kuliner khas Mandar, bukan hanya sekedar hidangan tradisional, tetapi juga wujud ekspresi kultural yang mendalam dari masyarakat Mandar. Jepa merupakan simbol kebersamaan, identitas budaya, dan kekuatan masyarakat Mandar dalam menghadapi tantangan dan kesulitan.

Dalam konteks kultural, Jepa merupakan ekspresi kultural yang menunjukkan kemampuan masyarakat Mandar dalam mengolah bahan-bahan alami menjadi makanan yang lezat menggugah selera.

Nilai Ontologis, Kesejarahan dan Budaya

Jepa, kuliner khas Mandar, bukan hanya sekedar hidangan khas tradisional, tetapi juga merupakan simbol ontologis, kesejarahan, dan budaya yang mendalam dari masyarakat Mandar. Jepa merupakan ekspresi kultural yang menunjukkan kemampuan masyarakat Mandar dalam mengolah bahan-bahan alami menjadi makanan yang lezat dan bergizi.

Jepa merupakan simbol yang menunjukkan hubungan antara manusia dan alam. Jepa terbuat dari bahan-bahan alami yang tersedia di lingkungan sekitar Kita, sehingga menunjukkan bahwa manusia tidak dapat dipisahkan dari alam. Jepa juga merupakan simbol kebersamaan dan gotong royong masyarakat Mandar dalam proses pembuatan dan penyajiannya.

Jepa merupakan identitas yang menunjukkan sejarah dan tradisi masyarakat Mandar. Jepa telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Mandar selama berabad-abad, dan telah diwariskan dari generasi ke generasi sebagai simbol kekuatan dan ketahanan masyarakat Mandar dalam menghadapi tantangan dan kesulitan.

Dalam konteks budaya, Jepa merupakan penanda yang menunjukkan identitas budaya Mandar yang kuat dan membedakan masyarakat Mandar dengan masyarakat lainnya. Jepa merupakan bagian dari tradisi dan budaya Mandar yang telah diwariskan dari Nenek Moyang Orang Mandar terdahulu.

Warisan Budaya Yang Patut Dilestarikan

Makanan tradisional merupakan salah satu aspek penting dalam kebudayaan suatu masyarakat. Makanan tidak hanya sekedar sebagai kebutuhan pokok, tetapi juga sebagai simbol kebersamaan, identitas budaya, dan ekspresi kultural. Salah satu contoh kuliner tradisional yang memiliki makna mendalam adalah Jepa, kuliner khas Mandar yang terbuat dari ubi kayu ( singkong ) dan parutan kelapa. Jepa bukan hanya sekedar hidangan tradisional, tetapi juga bermakna ontologis, ekspresi kultural, dan identitas budaya Mandar yang patut dilestarikan.

Jepa merupakan kuliner khas Mandar yang dibuat secara bersama-sama, melibatkan keluarga dan tetangga, sehingga menciptakan rasa kebersamaan dan gotong royong. Proses pembuatannya yang unik dan rasa yang khas membuat Jepa menjadi salah satu makanan tradisional yang sangat dinantikan di Mandar. Jepa juga merupakan identitas budaya Mandar, yang menunjukkan kekayaan dan keanekaragaman budaya masyarakat Mandar.

Dalam perspektif ontologis, Jepa menunjukkan hubungan antara manusia dan alam. Jepa terbuat dari bahan alami yang tersedia di lingkungan sekitar, sehingga menunjukkan bahwa manusia tidak dapat dipisahkan dari alam. Jepa juga bermakna kebersamaan dan gotong royong, yang menunjukkan bahwa manusia tidak dapat hidup sendirian dan memerlukan bantuan orang lain.

Makanan khas Jepa menunjukkan kemampuan ekspresi kultural masyarakat Mandar dalam mengolah bahan-bahan alami menjadi makanan yang lezat, juga merupakan salah satu contoh bagaimana budaya dan tradisi lokal dapat dipertahankan dan diangkat sebagai identitas bangsa.
Dalam konteks identitas budaya, Jepa adalah identitas budaya Mandar yang menunjukkan kekayaan dan keanekaragaman budaya masyarakat Mandar di Nusantara.

Penutup

Kuliner tradisional merupakan salah satu aspek penting dalam kebudayaan suatu masyarakat, tidak hanya sekedar sebagai kebutuhan pokok, tetapi juga sebagai simbol kebersamaan, identitas budaya, dan ekspresi kultural. Salah satu contoh kuliner tradisional yang memiliki makna mendalam adalah Jepa.

Jepa merupakan simbol identitas budaya Mandar, Jepa adalah simbol kebersamaan, bukan hanya sebagai kuliner, tetapi juga merupakan simbol ontologis kebudayaan Mandar yang patut dilestarikan dan dijaga. Kita harus terus melestarikan dan mengembangkan tradisi dan budaya lokal seperti Jepa, sehingga Kita dapat mempertahankan identitas budaya sendiri dan mewariskannya kepada generasi mendatang.

Jepa, kuliner tradisional Mandar, adalah " rumah yang tidak hanya terbuat dari batu dan kayu, tetapi juga dari cinta dan kebersamaan " ungkap Kahlil Gibran.

Seperti kata Jalaluddin Rumi, " Kita tidak lahir sendirian, Kita hidup bersama, dan Kita mati bersama ", maka Jepa menjadi simbol kebersamaan dan kekuatan masyarakat Mandar. 

Dan sebagaimana ungkapan Tere Liye, " Kita harus menjaga warisan budaya Kita, karena itu adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan ", maka mari Kita lestarikan dan kembangkan warisan budaya Mandar, agar generasi mendatang dapat menikmati dan menghargai kelezatan dan keunikan Jepa, serta memahami makna dan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya."

#panganlokal
#jepawarisandunia
#jeparoadtoUNESCO
#jepacasavabread
#dukungjepajadiich

Minggu, 26 Oktober 2025

DUA SIMPUL KEKUATAN SOSIAL BERTEMU

Oleh : Almadar Fattah 

Konsep "dua simpul kekuatan sosial bertemu" antara ilmiah dan alamiah menggambarkan harmoni antara pengetahuan modern dan kearifan lokal. Ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan dapat berjalan seiring dengan nilai-nilai alamiah dan tradisi, sehingga menciptakan keseimbangan yang positif bagi masyarakat dan lingkungan. Sinergi ini sangat penting untuk menciptakan pembangunan yang berkelanjutan dan harmonis.

Pertemuan kedua tokoh ini sungguh menggambarkan harmoni antara modernitas dan tradisi di Sulawesi Barat. Gubernur Suhardi Duka dan Tomalaqbita Arayang Balanipa Bau Arifin Malik sepertinya memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan antara kemajuan zaman dan nilai-nilai luhur budaya lokal. Kerja sama antara konsep "pemegang pena" dan "pemegang payung" ini menunjukkan sinergi yang kuat untuk memajukan Sulawesi Barat sambil tetap menghormati akar sejarahnya. Semoga Sulawesi Barat terus berkembang dengan tetap menjaga keaslian budayanya.

Identitas daerah memang sangat terkait erat dengan akar budayanya. Dengan menjaga dan melestarikan budaya, kita dapat memastikan bahwa warisan leluhur tetap hidup dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Harmoni antara kemajuan dan pelestarian budaya ini sangat penting untuk membangun masyarakat yang kuat dan berakar. Budaya yang lestari akan terus menjadi sumber inspirasi dan kekuatan bagi generasi mendatang.

Semoga sinergi antara pemerintah dan Arayang Balanipa dapat terus terjalin dengan baik dalam menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya dan tradisi di Sulawesi Barat. Dengan kerja sama yang harmonis, nilai-nilai budaya dapat terus dipertahankan dan diwariskan kepada generasi mendatang, sehingga identitas budaya Sulawesi Barat tetap terjaga dan menjadi kebanggaan bagi masyarakatnya.

Konsep tersebut menunjukkan bahwa integrasi antara pengetahuan modern dan kearifan lokal dapat membawa dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan. Dengan menggabungkan kedua aspek ini, kita dapat menciptakan solusi yang lebih holistik dan berkelanjutan, serta memperkuat identitas budaya dan lingkungan. Sinergi ini sangat berharga dalam menghadapi tantangan zaman dan membangun masa depan yang lebih baik.

Nilai-nilai budaya dan tradisi memang sangat erat kaitannya dengan identitas suatu daerah dan masyarakatnya. Mereka membentuk karakter dan jati diri masyarakat, serta menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Dengan memelihara dan melestarikan nilai-nilai budaya dan tradisi, kita dapat memperkuat rasa kebersamaan dan kesatuan dalam masyarakat. Budaya dan tradisi adalah warisan berharga yang perlu dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Peradaban yang maju seringkali ditandai dengan penghargaan yang tinggi terhadap nilai-nilai budaya dan tradisi. Nilai-nilai ini menjadi fondasi moral dan etika yang membentuk karakter masyarakat. Semakin tinggi peradaban suatu daerah, semakin besar pula kesadaran akan pentingnya melestarikan dan mengembangkan warisan budaya dan tradisi sebagai bagian dari identitas dan kebanggaan kolektif.

(Kolumnis Berbagai Media Harian di Makassar Tahun 90an)

Minggu, 05 Oktober 2025

Ketika Tuhan Cemburu pada Baharuddin Lopa

Catatan Hamzah Ismail 

Ada sebuah kebiasaan yang nyaris menjadi ritual wajib bagi Baharuddin Lopa setiap kali pulang kampung ke Pambusuang: ia selalu memanggil seorang sepuh desa, bukan sekadar untuk berbasa-basi, melainkan untuk mendengar kisah dan petuah yang hanya bisa lahir dari orang-orang tua yang bijaksana dan memiliki rasa humor yang tinggi. Salah seorang sepuh itu bernama Kurudi, yang hampir seluruh ceritanya selalu menggunakan logika terbalik.

Suatu hari, begitu kakinya menjejak tanah kampung halaman, Baharuddin Lopa langsung menyuruh seorang perempuan muda menjemput Kurudi.

“Puaq, napanggilki Jaksa Tinggi (panggilan akrab Baharuddin Lopa),” ujar suruhan itu di depan Kurudi yang tampak terbaring di dipannya.

Padahal, sejak mendengar kabar bahwa Lopa pulang, Kurudi sengaja berpura-pura sakit. Ia menghela napas panjang, lalu berkata lirih tapi penuh siasat:

“Bilang sama Jaksa Tinggi, saya lagi sakit. Katakan juga, mulut saya ini sedang tidak berasap.” Suruhan itu bingung, tapi tetap membawa pesan apa adanya. 

Begitu mendengarnya, Baharuddin Lopa hanya tersenyum tipis, paham betul maksudnya.

“Belikan sebungkus rokok. Pakai uangmu dulu. Bawa ke rumah Kurudi,” perintahnya.

Tak lama, rokok itu sampai di tangan Kurudi. Sepuh itu bangkit, mengatur jalannya pelan-pelan, tetap dengan gaya orang sakit. Tetapi begitu sampai di rumah Baharuddin Lopa, matanya berbinar melihat sambutan hangat tuan rumah. Kopi hitam segera disuguhkan.

“Puaq, sakit apa?” tanya Lopa, nada suaranya dalam dan penuh perhatian.

Kurudi menghela asap rokok sebelum menjawab, “Kurang tidur, Nak. Semalam saya mimpi. Mimpi berdebat dengan Tuhan. Bayangkan, jari telunjuk-Nya hampir saja menyentuh mata saya.”
Alis Lopa terangkat. 

“Berdebat dengan Tuhan? Tentang apa, Puaq?” tanyanya, nada suaranya berubah, antara heran dan takjub.

Kurudi menatap Lopa lama, lalu menyunggingkan senyum tipis. “Tentang kamu, Nak. Sepertinya Tuhan sedang cemburu padamu. 

Ada tiga pasal yang saya perdebatkan dengan-Nya.”

Lopa merapatkan duduknya, tubuhnya tegak, matanya berbinar. Ia sudah terbiasa berhadapan dengan hakim, jaksa, dan penjahat kelas kakap. Tapi kali ini, ia seperti murid kecil yang menunggu gurunya bercerita.

Namun Kurudi sengaja menunda. Ia mengisap rokoknya dalam-dalam, lalu menoleh ke arah salah seorang perempuan di rumah.

“Ambilkan satu kaos baru untuk Puaq,” ujar Lopa tiba-tiba, seolah ingin menyiapkan hadiah untuk penutur kisah yang sedang menegangkan suasana.

Kurudi terkekeh kecil, lalu berkata, “Sabar dulu, Nak. Biar saya habiskan rokok ini.” Asap mengepul dari bibirnya, lalu ia mulai.

“Pasal pertama,” katanya pelan namun tegas, “Tuhan berkata padaku: kasih tahu itu Baharuddin Lopa. Dia terkenal jujur, padahal kejujuran itu dari Aku.”

Lopa menunduk sedikit, tangannya sigap mencatat di buku kecil yang selalu ia bawa.

“Pasal kedua,” lanjut Kurudi, suaranya semakin dalam, “Tuhan berkata: kasih tahu itu Baharuddin Lopa, dia suka memberi (malawo). Padahal sifat dermawan itu dari Aku.”

Kali ini Lopa mengangkat wajahnya. Ada sinar yang lembut di matanya, antara kagum sekaligus tertohok.

“Dan pasal ketiga,” Kurudi menarik napas panjang, menahan sebentar, lalu mengembuskan asap terakhir, 

“Tuhan berkata: kasih tahu itu Baharuddin Lopa, dia sangat pemberani ketika dikeroyok banyak orang, padahal keberanian itu pun berasal dari Aku.”

Setelah kata-kata itu meluncur, ruangan menjadi hening. Hanya bunyi detak jam dinding yang terdengar. Lopa terdiam, lalu perlahan tersenyum. Senyum lirih yang lahir dari kesadaran mendalam, bahwa dirinya bukan siapa-siapa, selain sarana bagi sifat-sifat Tuhan bekerja di dunia.

“Betul itu, Puaq,” ucapnya pelan. Suaranya hampir bergetar, seolah mengakui bahwa seluruh nama besar, seluruh keteguhan, seluruh keberanian yang melekat padanya hanyalah titipan.

Kurudi meletakkan rokok di asbak. Wajahnya sumringah, bukan karena kaos baru yang barusan diterimanya, melainkan karena berhasil membuat Baharuddin Lopa begitu penasaran atas perkara perdebatannya dengan Tuhan.

Sumber cerita: Tammalele

Foto: Saat Baharuddin Lopa (Sekjen Komnas HAM) bersama Emha Ainun Nadjib dalam sebuah seminar di Mandar (1997). Ketika itu Emha Ainun Nadjib sedang dicekal oleh rezim orba, dan tidak diperkenankan berbicara.

Selasa, 16 September 2025

Aji Galeng, Jejak Sejarah dari Paser Utara Kini Dibukukan


Laporan Safardy Bora 

Sosok Aji Galeng yang hidup pada akhir abad ke-18 hingga abad ke-19 (1790–1882) dikenal sebagai tokoh penting dalam sejarah Kalimantan Timur. Ia menjadi figur pemersatu antara Kesultanan Paser dan Kesultanan Kutai, sehingga perannya kerap dipandang sebagai salah satu tonggak awal terbentuknya peradaban di kawasan yang kini menjadi lokasi Ibu Kota Nusantara (IKN).

Warisan sejarah tersebut kini dituangkan dalam sebuah buku berjudul “Aji Galeng dari Paser Utara: Penjaga Negeri Peletak Peradaban”. Peluncuran buku ini dilakukan langsung oleh Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, di Gedung Otorita IKN, Selasa (16/9/2025).

Dalam pidatonya, Rudy menekankan bahwa karya sejarah adalah sarana menjaga ingatan kolektif masyarakat. Menurutnya, setiap generasi perlu mengenal akar budaya dan peradaban daerah agar tidak tercerabut dari jati diri.

Sejarah jangan pernah dilupakan. Buku ini bukan sekadar catatan, tetapi cermin identitas sekaligus sumber inspirasi bagi generasi hari ini maupun esok,” tutur Rudy.



Rudy yang menyandang gelar Raden Setia Sentana juga menegaskan, IKN tidak hadir di tanah kosong, melainkan berdiri di atas peradaban yang telah berakar ratusan tahun lamanya. Karena itu, ia mengapresiasi kerja keras Yayasan Aji Galeng, Departemen Ilmu Sejarah Universitas Indonesia, serta para penulis yang berkontribusi menyelesaikan buku ini.

Ia berharap daerah-daerah lain di Kaltim, seperti Kutai dan Kota Bangun, juga melahirkan karya serupa.

Banyak kekayaan sejarah kita yang patut ditulis, agar masyarakat tetap dekat dengan akar budayanya,” ujarnya.

Bagi Rudy, peluncuran buku ini tidak hanya bernilai akademik, tetapi juga menjadi pengingat pentingnya menjaga semangat persatuan. Kaltim yang dikenal sebagai miniatur Indonesia dengan keberagaman suku, agama, dan budaya disebutnya harus terus memperkuat kebangsaan, apalagi di tengah pembangunan IKN menuju kota berkelas dunia.

Acara peluncuran turut dihadiri para raja dan sultan dari berbagai kesultanan di Kalimantan Timur, kalangan akademisi, pejabat Otorita IKN, serta kepala OPD Pemprov Kaltim. Hadir pula Deputi Bidang Sosial, Budaya, dan Pemberdayaan Masyarakat OIKN, Alimuddin, Ketua Yayasan Aji Galeng Bambang Arwanto, serta perwakilan perguruan tinggi dari UI, UGM, Unmul, Uniba, hingga Unikarta.

Buku ini ditulis oleh Bambang Arwanto, seorang birokrat sekaligus Ketua Yayasan Aji Galeng, bersama sejarawan Kalimantan Timur Safardy Bora.