Tampilkan postingan dengan label Loterasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Loterasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 November 2025

Kepada: Para Penari di Atas Kuburan

Oleh: Hamzah Ismail

Belakangan ini media sosial dihebohkan oleh ulah sekelompok remaja perempuan yang menari tepat di atas sebuah makam. Bukan makam sembarangan, itu adalah pusara I Manyambungi, atau yang lebih dikenal dengan Todilaling, raja pertama Kerajaan Balanipa.

Peristiwa tersebut segera memantik kegaduhan di jagad maya. Banyak warga Mandar marah, tersinggung, bahkan menganggap perbuatan itu sebagai bentuk penghinaan terhadap sejarah dan leluhur. Sepanjang ingatan kolektif masyarakat Mandar selama berabad-abad, kejadian seperti itu belum pernah terjadi sebelumnya.

Barangkali para remaja putri itu terinspirasi oleh narasi-narasi yang berkembang tentang wafatnya I Manyambungi. Dimana saat jenazah Todilaling hendak dimasukkan ke dalam liang lahat, sekelompok penari mengikuti iringan pemakamannya. Mereka menari bukan sebagai hiburan, melainkan sebagai ritual pengabdian terakhir. Diceritakan bahwa para penari itu rela mati dan ikut terkubur bersama I Manyambungi, sebagai simbol kesetiaan yang tidak putus oleh kematian. 

Namun, apa yang dahulu terbingkai dalam makna ritual, kesakralan, dan ketundukan pada nilai adat, kini bergeser menjadi tontonan dalam format hiburan digital. Waktu memang terus maju, tetapi tidak semua nilai ikut bergerak seiring zaman. Ada batas-batas yang tak boleh diloncati: batas antara hormat dan abai, antara tradisi dan sensasi --viralisme.

Kadang ‘viralisme’ hadir tanpa kemampuan membedakan mana yang pantas dikonsumsi publik dan mana yang harus dijaga kesuciannya. Maka benturan antara tradisi dan sensasi sering berujung pada kegaduhan, bukan pemahaman.

Di hadapan makam seorang raja, pendiri Kerajaan Balanipa, setiap langkah seharusnya mengandung doa; setiap gerak tubuh seharusnya mengingatkan pada jasa dan keberaniannya. Sebab di sana ada lipatan sejarah, mengandung dalam rahimnya berlaksa-laksa pengetahuan dan khazanah kearifan lokal. Menghormatinya adalah jalan paling bijak. 

Kepada kelompok remaja perempuan yang terlanjur menari-nari di atasnya, kalian yang belum paham betul batas antara yang mana bisa dan yang mana tidak bisa, datanglah kembali ke puncak Napo sana. Bersimpuhlah di pusaranya. Tak perlu sibuk meminta maaf kepada mereka yang hidup. 

Datanglah lagi ke sana: Hadirkan hatimu, luruskan niatmu. Tak usah risau. Kalian tak bakal terkutuk. Sebab, dibalik pusara itu, La Puang, manusia bijak itu, dari balik pusaranya pasti Ia sungguh paham bahwa dunianya dengan duniamu kini sungguh jauh berbeda. 

Tapi setelah, itu kalian belajarlah lebih dalam lagi. Bahwa Mandar, adalah ‘lahan’ pengabdian yang tak akan pernah habis digali dan diselami. Mandar, adalah sumber inspirasi. Berkaryalah. Ambillah banyak-banyak nilai dari puncak Napo sana, internalisasikan nilai-nilai itu ke dalam setiap diri kalian. 

Menarilah terus, tapi saya ingatkan: 
Jangan lagi menari di pusara La Puang, I Manyambungi, Todilaling. Berilah rasa hormat penuh dan total kepadanya.

Karena, kalian terlanjur pernah menari-nari di puncak bukit itu, maka di kesempatan pertama, kupinta: datanglah kembali –segera- ke pusara agung itu: Minta maaflah.

Tinambung, 18/11/2025

Minggu, 04 Februari 2024

FOOTNOTE HISTORIS: BAGAI PAGAR MAKAN TANAMAN

 Oleh: Prof. Dr. Ahmad M. Sewang 

Beberapa dekade lalu, saya ketemu almarhun Bapak Prof. Dr. Baharuddin Lopa, SH di rumahnya sepupu H. Hilaluddin bin Ismail di Jiyad, Mekah al-Mukarramah. Pertanyaan pertama yang saya ajukan bahwa saya dengar di tanah air bahwa dalam penyusun kabinet Presiden Soeharto bahwa "Bapak disebut-sebut masuk dalam kabinet untuk mengisi fortofolio kejaksaan". Beliau spontan menjawab, "Untung saya tidak terpilih masuk kabinet, andai saya terpilih, orang pertama saya tangkap adalah Pak Harto". Saya begitu kaget bercampur khawatir mendengar jawaban itu, sehingga saya tidak pernah membocorkan pada siapa pun kecuali saya tulis hari ini, karena keduanya sudah dipanggil Allh swt. Jadi saya sudah merasa aman. Selanjutnya, saya hanya ingin mendengar alasan Beliau berpandangan demikian. Beliau beralasan bahwa seharusnya Pak Harto sebagai kepala negara menjadi contoh teladan di tengah masyarakatnya yang masih susah tetapi dia mencontohkan yang buruk dengan mempraktekkan KKN

Kisah kedua. Biasanya selesai Jumatan, saya masih duduk beberapa menit selesai salat sunat menungguh jamaah, siapa tahu ada masalah kemasjidan yang ingin diadukan sebagai Ketum DPP IMMIM. Benar saja ada seorang jaksa dari Majene yang singgah berjamaah di masjid jalan Macan mengisahkan bukan kemasjidan, tetapi pengalamannya selama bertugas. Menurutnya, suatu saat ketika Prof. Baharuddin Lopa jadi Kalanwil Kejaksaan di Sulawesi Selatan ia menerima tamu. Setelah tamu itu  pulang dan kantor pun mulai di tutup. Barlop singkatan dari Baharuddin Lopa sudah siap-siap pulang. Barlop memanggil sopir dan memberitahunya "tadi saya lihat mobil kekurangan bensin karena itu kita singgah di pompa bensin dahulu mengisinya", tapi sopir bilang "sudah diisi, Pak!". Barlop bertanya kaget, "Siapa yang mengisinya"?. Sang sopir menjawabnya, "Itu tamunya tadi yang baru pulang." Barlop bereaksi, "Tetapi kita tetap ke pompa bensin!" Sambil memeritahkan untuk  mengeluarkan dahulu bensin yang diisi tadi, lalu isi ulang bensin mobil ini." Demikian kebersihan hati Barlop yang tidak ingin dikotori dengan korupsi sekecil apa pun. 

Kenyataan sekarang bahwa dua kisah di atas dianggap kisah kayangan seakan hanya terjadi di dunia khayal. Seakan kisah para bidadari yang turun lewat pelangi dari Pulau kayangan di hari mendung untuk mandi, tetapi seorang calon pangeran mengintipnya kemudian menyembunyikan pakaiannya, menyebabkan salah seorang bidadari itu tidak bisa lagi kembali ke peraduannya di Pulau Kayangan. 

Dua kisah di atas adakah kisah nyata yang sungguh terjadi dalam kenyataan dan merupakan reaksi keras Barlop melihat kondisi negaranya yang seharusnya gemah ripah loh jinawi, tetapi ulah penyelenggara negara  yang tidak jujur membuat tujuan bernegara tambah jauh.

Banyak penguasa sekarang yang punya wewenang menegakkan aturan justru merekalah melanggar aturan itu sendiri. Ini yang disindir. Nenek moyang kita pada judul artikel ini, "Bagai pagar makan tanaman," sebagai contoh:
1. Satpol PP yang seharusnya memberi contoh, bersikap netral dalam pemilu, justru ramai-ramai terang-terangan memihak,
2. Jalanan pusat kota di Medan, Sumarera Utara, yang tidak boleh dipasangi peragaan alat kampanye, justru yang tahu aturan, merekalah  yang melanggarnya.
3. Gus Miftah  sebagai ulama di Pamekasan, Madura. Seharusnya tidak money politics karena dilarang, justru terang-terangan 
membagi-bagikan  uang secara terbuka sambil menyebut nama paslon yang didukungnya.
4. Mendatangkan aparat desa di istanah yang membawa kecurigaan yang seharusnya bisa dihindari, apa lagi dekat pemilu.
5. Cap Pree Day seharusnya tidak digunakan kampanye tetapi digunakan kampanye bagi-bagi susu.
6. Alangkah legowonya jika Presiden sendiri secara tebuka memberi teladan dan berkata, "Saya berbesar hati menerima apa pun hasil pemilu. Saya sama dengan presiden sebelumnya tidak akan cawe-cawe."
7. Pelanggaran ini masih panjang jika ingin ditulis semua. Orang sekarang nampaknya lebih suka melanggar daripada ikut aturan. Ini mungkin disebut orang, Qiamat semakin dekat. Di sinilah kita memerlukan orang yang jujur, sederhana, dan berhati bersih. Kita perlu 10 orang semacam 0Barlop baru untuk memperbaiki negara ini.

Sekali lagi laksanakan pemilu  dengan penuh jurdil agar bisa meninggalkan legecy positif. Kalau tidak, akan kena sindiran nenek moyang, "Bagai Pagar Makan Tanaman." "Jangan terpengaruh apa yang ditulis orang sekarang, tetapi ingatlah apa yang ditulis sejarawan yang akan datang."

Wasalam,
Kompleks GPM, 8 Januari 2024