Pengantar Penerbit
Bagi seorang tokoh sejarah, perjuangan merupakan tuntutan dan panggilan hidup yang dipenuhi demi kemaslahatan bersama. Ada pun “ganjaran” berupa apresiasi, sikap hormat, bahkan penganugerahan sebuah gelar kepahlawanan adalah konsekwensi logis dari sikap perjuangan. Dalam konteks gelar Pahlawan Nasional yang diterima Ibu Agung Hj. Andi Depu, itu menunjukkan apresiasi tinggi dan penghormatan semua pihak, termasuk negara, atas perjuangan bersejarah seorang Arajang Mandar. Secara riil ini merujuk pada keyakinan bahwa “bangsa yang besar ialah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.”
Ibu Agung Hj. Andi Depu dengan gagah berani menunaikan darma baktinya sebagai pelopor dan pemimpin perjuangan di Sulawesi Barat, bahkan Sulawesi Selatan, dalam rentang yang panjang. Mulai menghadapi kolonial Belanda, militerisme Jepang hingga upaya mempertahankan kemerdekaan yang sudah diproklamasikan. Semua itu menuntut daya juang yang tinggi (militansi), konsistensi, visi kebangsaan, dan tak kalah penting sikap rela berkorban. Nilai-nilai itu niscaya menjadi rujukan dan suri tauladan bagi generasi yang hidup pada masa Andi Depu berjuang, generasi sekarang yang bisa melacak jejak perjuangannya secara referensial, maupun generasi yang akan datang melalui sumber-sumber sejarah yang diwariskan-salah satunya melalui buku yang menjadi tulang punggung dunia literasi.
Muhammad Munir, penulis buku Ibu Agung Hj. Andi Depu, Pahlawan Nasional dari Mandar ini, menuliskan dengan lengkap dan relatif menyeluruh sosok Hj. Andi Depu. Menariknya, apa yang dikisahkan Muhammad Munir tidak langsung tentang peran Andi Depu dalam perjuangan, namun menceritakan juga kehidupannya sejak awal di tengah keluarga besarnya. Kisah-kisah di tengah keluarga ini merepresentasikan kehidupan bangsawan Mandar yang memiliki kepedulian pada penderitaan rakyat yang sedang terjajah.
Oleh karena itu, muncullah perlawanan dan pemberontakan di mana-mana. Bagian ini menjadi lengkap karena jejak-jejak perlawanan rakyat Mandar dikisahkan dalam bab awal, sehingga bisa dibaca sebagai latar kemunculan militansi Hj. Andi Depu, bahwa ia tidak sendiri. Kepahlawanan Andi Depu tidak muncul dari “ruang hampa”, namun didukung oleh semesta lingkungan tempat ia tinggal dan dirajakan, yakni Tanah Mandar yang dikenal sebagai Pitu Ulunna Salu dan Pitu Ba’banna Binanga. Lewat cara ini kita dapat menundukkan kepala menghikmati kenyataan bahwa sosok kepahlawanan Hj. Andi Depu niscaya merepresentasikan sikap kepahlawanan para pejuang Mandar dan akhirnya seluruh masyarakat Mandar.
Sebagai buku sejarah, penulisnya sadar betul bahwa unsurunsur sejarah menjadi bingkai sekaligus landasan dari keseluruhan kisah. Menurut Nugroho Notosusanto (1984), sejarah mempunyai dua arti, yakni (1) sejarah sebagai peristiwa-peristiwa) pada masa lampau dan (2) sejarah sebagai kisah dari peristiwa-peristiwa) itu. Dengan kata lain, sejarah dapat berarti sejarah sebagai peristiwa dan sejarah sebagai kisah.
Nah, Muhammad Munir berhasil mentransformasikan peristiwa masa lampau melalui kemampuan berkisah yang baik. Ia mengolah sumber-sumber sejarah yang dikumpulkan dengan intens, dengan melibatkan Tim Kreatif dan dilengkapi banyak foto yang memiliki nilai dokumentasi tinggi, sehingga kehadirannya bukan sekedar pelengkap, tapi bagian tak terpisahkan dari narasi sejarah, termasuk proses pengajuan Andi Depu sebagai Pahlawan Nasional, yang dilakukan sangat antusias oleh masyarakat Mandar.
Akhirulkalam, tak ada gading yang tak retak. Kami mohon maaf atas segala kekurangan, dan mengharapkan kritik/saran dari para pembaca sekalian.