Catatan Hamzah Ismail
Pada tahun 1990-an, Teater Flamboyant Mandar berada pada puncak produktivitasnya. Saat itu, mereka tengah menyiapkan sebuah pertunjukan teater yang judulnya diambil langsung dari buku puisi karya Emha Ainun Nadjib (Mbah Nun), berjudul Cahaya Maha Cahaya.
Kebetulan, proses penciptaan karya pertunjukan tersebut mendapat perhatian langsung dari Mbah Nun. Ia bahkan mengirim seorang sutradara khusus untuk mendampingi proses awal produksi, yaitu Agung Waskito, yang sebelumnya sukses menyutradarai pementasan Lautan Jilbab.
Proses latihan berlangsung sekitar dua bulan. Menariknya, naskah dan tata musik pertunjukan digarap langsung selama proses latihan berlangsung. Tidak seperti pertunjukan teater pada umumnya yang berangkat dari naskah jadi, Cahaya Maha Cahaya justru lahir dari dinamika improvisasi para pemain dan arahan sutradara di ruang latihan.
Rencana awalnya, karya teater Cahaya Maha Cahaya ini akan dibawa berkeliling ke beberapa daerah setelah terlebih dahulu dipentaskan di Tinambung sebagai penampilan perdana. Setelah segala persiapan dinyatakan selesai, pentas perdana pun digelar di Eks Gedung Bioskop Harapan, Tinambung.
Layaknya pemutaran film, pertunjukan ini menjual tiket kepada penonton. Dan, Alhamdulillah, ratusan tiket berhasil terjual, sebuah capaian yang membanggakan bagi kelompok teater daerah pada masa itu.
Keberhasilan pementasan di Tinambung menjadi pemantik semangat baru untuk membawa Cahaya Maha Cahaya melancong ke Parepare. Syarifuddin Razak ---yang kini dikenal sebagai Kepala Desa Tandung--- menjadi salah satu penggerak utama rencana tersebut. Ia berusaha membujuk sepupunya, Andi Samsani, agar membantu membuka jalan. Kebetulan, ayah Andi Samsani saat itu menjabat sebagai pejabat militer di Korem Parepare. Alhasil, Andi Samsani bersedia menjadi sponsor pribadi sekaligus satu-satunya penanggung logistik bagi keberangkatan dan pementasan Cahaya Maha Cahaya ke Parepare.
***
Setelah semua persiapan dirasa matang, tim Cahaya Maha Cahaya berangkat ke Pare-Pare menggunakan bus umum. Sekitar tiga puluh orang, terdiri dari pemain dan kru, ikut dalam perjalanan itu. Setibanya di Pare-Pare, mereka ditempatkan di salah satu rumah warga setempat.
Menariknya, pemain dan kru sempat berada di Pare-Pare selama beberapa hari sebelum bisa manggung. Mereka tidak bisa segera tampil karena proses perizinan belum selesai. Sambil menunggu, kegiatan mereka terbatas pada latihan kecil-kecilan, makan, dan tidur.
Tim produksi, yang dipimpin Andi Samsani, bergerak cepat untuk mengurus perizinan. Meski demikian, izin tidak dapat langsung diterbitkan karena ada dua kendala. Kendala utama ternyata terletak pada dua kalimat dalam naskah yang dibaca pihak berwenang; kata-kata itu terdengar janggal dan asing.
Meski menghadapi hambatan, tim produksi terus mencari jalan. Mereka terlanjur berada di Pare-Pare dan Cahaya Maha Cahaya harus dipentaskan. Akhirnya, mereka bertemu dengan seorang perwira polisi asal Sendana yang juga sedang bertugas di Pare-Pare, Saeruddin Mandra, dan bersedia menjadi jaminan. Berkatnya, izin akhirnya diterbitkan dan pementasan pun diperbolehkan.
Dua kalimat yang sempat mengganjal proses perizinan itu adalah “Arab bila ‘ain dan “Ahmad bila mim,” sebuah terminologi dari khazanah tasawuf, yang merujuk pada “Arab tanpa ‘ain (Rab)” dan “Ahmad tanpa Mim (Ahad).”
Padahal dalam naskah itu terdapat puisi yang jauh lebih berdaya juang, sebuah sajak dari buku Cahaya Maha Cahaya, berjudul Hizib.
Bismillah alam semesta,
Bismillah darah manusia, …
Tabeqq…
Tinambung, 25/10/2025