Jumat, 20 September 2024

(009) Drs. H. ANWAR ADNAN SALEH || Meniti Pengabdian Merintis Kemandirian


Editor : Awaluddin M. Hatma
Penerbit : PSKPI (Pusat Kemitraan Pembangunan Indonesia) 
Tahun : 2008
360 Halaman 
Penerbit  

Drs. H. Anwar Adnan Saleh (AAS) Gubernur Sulawesi Barat yang pertama, terpilih melalui pemilihan langung 20 Juli 2006, memiliki sederet pengalaman panjang sebagai Birokrat (PNS), pengusaha dan politisi. Di pundak beliaulah rakyat menitipkan berjuta harapan demi kemajuan, kesejahteraan, keadilan dan kesetaraan yang ingin dicapai bersama di Sulbar. 

Berbekal pengalaman yang dilakoninya selama kurang lebih 30 tahun menjadi birokrasi, pengusaha dan politisi. Pengabdian AAS dibidang pemerintahan berawal dari terangkatnya AAS sebagai PNS tahun 1971 setelah menamatkan pendidikan APDN di Makassar tahun 1970. Selanjutnya menyelesaikan pendidikan pada IIP tahun 1978 di Jakarta, karirnya sebagai PNS terus menanjak dengan diangkat sebagai kepala sub direktorat pemerintahan pada pemerintah tingkat II Buton Sulawesi Tenggara (1976-1982), kepala bidang sosial budaya Bappeda Tingkat I Sulawesi Tenggara (1985), serta menjadi kepala perwakilan pemerintah provinsi Sulawesi Tenggara di Jakarta, (1982-1985), dan pindah menjadi pegawai negeri sipil pada departemen dalam negeri tahun 1989. Didunia usaha AAS memimpin beberapa perusahaan multi nasional yang bergerak dibidang maritim (1989-2004), sedangkan dalam ranah politik AAS memulai karir sebagai Ketua DPD II KNPI Buton (1977-1980), Ketua DPD II AMPI Buton (1978-1984), Wkl. Ketua DPD II Golkar Buton (1977-1982), DPP AMPI (1984-1994-dua periode), Ketua PPK KOSGORO 1957 (2003-2008), Bendahara LPK DPP Partai Golkar (2001-2004), dan dipercaya menjadi anggota legislatif tingkat pusat (DPR RI) dari Partai Golkar (1999-2004). 

Dengan sederet pengalaman di atas, mengantarkan AAS sebagai Gubernur pertama Provinsi Sulawesi Barat, dengan amanah yang diemban tersebut AAS memiliki cita-cita mulia dalam membangun pemerintahan Sulbar melalui penataan kelembagaan dan peningkatan SDM aparat, yang menjadi pelaksana dan pelayan masyarakat Sulbar, dan dapat diyakini mewujudkan masyarakat Sulbar yang adil dan sejahtera. 

Jejak visi dan idealisme AAS dalam membangun Sulbar kedepan, telah terekam dalam seminar yang diselenggarakan tahun 2002 di Makassar (KAPP Sulbar). Bahwa tujuan utama membentuk sebuah provinsi adalah untuk memperpendek rentang kendali pemerintahan, mendekatkan pelayanan kepada masyarakat serta mewujudkan kesejahteraan dan kesetaraan agar sejajar dengan daerah-daerah lainnya. Menurut AAS diperlukan langkah-langkah terobosan serta strategi yang visioner untuk mendesain pola pembangunan yang berpijak pada potensi SDA dan kultur masyarakat setempat agar pembangunan senantiasa berorientasi pada peningkatan kesejahteraan rakyat. Kiranya tepat sekali setelah mengemban amanah sebagai Gubernur pertama AAS mencanangkan 4 (empat) agenda utama percepatan pembangunan Subbar, sebagaimana tertuang dalam RPJMD 2006-2011. 

Dalam rangka 60 tahun AAS, editor bersama tim berusaha menghadirkan sosok AAS, Gubernur milik rakyat dalam sebuah buku biografi singkat yang berisi rekaman perjalanan hidup, visi dan idealisme dalam berbagai media daerah dan nasional serta pernak-perniknya melalui pandangan, komentar, tanggapan rekan kerja, mitra bisnis serta sahabat atau kolega beliau selama ini. Kehadiran buku ini dirasakan penting untuk mengenal lebih jauh sang Gubernur pilihan rakyat yang meniti pengabdian dan karir di duerah lain sebelum kembali ke tanah leluhurnya untuk mengabdikan diri mewujudkan visi dan misi kepemimpinannya, Buku yang berjudul Meniti Penyabdian Merintis Kemandirian menggambarkan sosok AAS tokoh yang konsisten mengabdikan diri demi kemaslahatan bersama, Perjuangan AAS mengarungi bahtera kehidupan dimulai dari daerah kecil dan terpencil kemudian bergulat dengan ritme kehidupan nasional baik sebagai PNS, pengusaha dan politisi lalu kembali meniti pengabdian di daerah tertinggal provinsi Sulawesi Barat, 

Kiranya biografi singkat ini dapat menggambarkan sekelumit perjalanan hidup seorang anak bangsa yang suskes menjadi Gubernur pertama di Sulawesi Barat. Bercermin pada sosok AAS, telah menjadi hukum alam bahwa kesuksesan seseorang ditempuh melalui perjuangan yang panjang sesuai dinamika perjalanan sang waktu. Perlu diketahui bahwa buku ini dipersiapkan dalam waktu yang cukup lama kurang lebih 5 (lima) tahun. Namun demikian konsistensi dan aktualitasnya tetap terjaga. Akhirnya tim editor mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua tokoh nasional dan daerah yang telah berpartisipasi dalam mengisi lembaran buku ini dengan pandangan, tanggapan dan komentar tentang sosok H. Anwar Adnan Saleh. Semoga buku ini memberi warna dan menjadi oase dalam perbukuan nasional serta dapat menjadi cermin bagi generasi muda dalam meniti pengabdiannya kepada masyarakat, bangsa dan negara, Amien. 

Jakarta, Agustus 2008 
Editor 

AWALUDDIN M. HATMA,, et al 

(008) BIOGRAFI Hj. ROSMIANI ACHMAD || Kiprah Gender Perempuan Mandar


Penulis : Haliadi Sadi 
Penernit : Yayasan Mitra Sains
Tahun : 2002
150 Halaman

Di umurnya yang sangat remaja, empat belasan tahun Rosmiani Achmad telah tampil sebagai organisator dan orator ulung di daerah Mandar. Ketika pindah ke Makassar aktualisasi kegiatan keorganisasian beliau menjadi semakin nyata. Dimulai dengan aktivitas dalam organisasi kewanitaan yang berorientasi politik, Gerwapsii, lalu mejadi politisi ril mewakili kaun wanita di Dewan Perwakilan Rakyat Kota Makassar, sampai akhirnya menjadi pimpinan organisasi wanita departemental binaan pemerintat yaitu Dharma Wanita di Kalimantan Timur. 

Dengan alur hidap yang sarat pengalaman keorganisasian, timbul pertanyaan mengenai bagaima tanggung jawab.Rosmiani sebagai perempuan yang, sebagaimara lazimnya dalam keluarga bangsa kita, menjadi tiang keluarga baik dalam mendidik anak maupun urusan dapur dan hal-hal lainnya. Ternyata dengan lima anak, dua wanita dan tiga lelaki, Rosmiani bersama suami berhasil membesarkan mereka dalam kesederhanaan sebagai seorang istri pegawai negeri, yang seperti istri PNS lainnya, harus berjuang membanting tulang dan kreatif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Dengan kekuatan batin yang teguh dan saling percaya yang hampir absolut, Rosmiani dan suami akhirnya berhasil membawa anak-anaknya menjadi:orang yang mencapai tingkat pendidikan yang tinggi. Apa kunci sukses organisasi dan keluarga Rosmiani Achmad?. 

Sebagai keluarga yang sepenuhnya berlatar belakang budaya Mandar. ada penjelesan Darmawan Mas'ud, budaya Mandar tentang pola hidup-masyarakat yang berbasis adat dan kebiasaan di tanah Mandar. Ada konsep hidup yang disebut Sibaliparri yang dianut.oleh sebagiari besar masyarakat lokal disana. Sibaliparri adalah way of life yang mengandung beberapa nilai yang sangat prinsipil dalam memelihara keutuhan keluarga serta sekaligus membawanya kepada kemajuan yang optimal. 

Nilai-nilai tersebut antara lain adalah saling pengertian (mutual understanding), persamaan (equity), pembagian wewenang dan tanggung jawab (power sharing), kerja bersama (mutual cooperation) dan lain-lain. Tampaknya prinsip inilah yang menjadi acuan Rosmiani Achmad dalam menjalani hidup ini. 

(007) HUSNI DJAMALUDDIN YANG SAYA KENAL || Catatan Dari Teman-Teman


Penerbit : PT. Media Pustaka Jaya 
Tahun : 2004
268 Halaman 

PENGANTAR 

Luapan kebahagiaan tak terhingga, buku Husni Djamaluddin yang Saya Kenal bisa rampung dan disajikan ke hadapan pembaca. Buku ini merupakan kumpulan tulisan berbagai kalangan dari beragam sudut pandang. Harapan kami, buku ini dapat mengungkap kekuatan dan kelemahan sosok Husni Djamaluddin sebagai wartawan, kolomnis, sastrawan, maupun dalam pergaulannya sebagai makhluk sosial dan politik. 

Tulisan ini bersumber dari keluarga, teman-teman seperjuangan dan sejawat Husni Djamaluddin yang dikenal sebagai pendiri Dewan Kesenian Makassar (DKM), aktivis angkatan 66, Sekjen Komando Kesatuan Aksi Pengganyangan Gestapu PKI Wilayah Sulawesi Selatan, dan mantan anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan 19921997. Terakhir, mengemban amanah sebagai Ketua Umum Dewan Perjuangan Pembentukan Sulawesi Barat. 

Lima bulan lebih kami intens berproses, mondar-mandir menghubungi nara sumber sekaligus mengumpulkan bahan-bahan untuk penerbitan dua buah buku Husni Djamalaluddin. Untuk buku ini, semula kami merencanakan seratus tulisan yang bisa terkumpul. Namun, karena padatnya kesibukan para nara sumber, sehingga hanya separuh lebih yang dapat disajikan. Tapi kami yakin, kumpulan tulisan ini cukup mewakili, sebagai langkah awal untuk mengenal dan memahami sosok Husni Djamaluddin. 

Tulisan ini, kami sajikan berdasarkan abjad. Sebagian tulisan kami beri judul dan mengeditnya atas permintaan dan restu nara sumbernya demi keselarasan sajian. Sebenarnya, hingga detik akhir pra cetak, kami masih dijanjikan kiriman tulisan dari sejumlah teman Husni Djamaluddin. Namun, dengan penuh hormat, karena keterbatasan waktu, kami dituntut segera mencetaknya, mengingat makin dekatnya jadwal peluncuran yang direncanakan tepat pada 40 hari wafatnya Husni Djamaluddin, 4 Desember 2004. Rencana awal, buku ini dipersiapkan menyambut momen “70 Tahun Husni Djamaluddin”. Selain buku ini, juga akan diluncurkan dua buah buku lainnya, masing-masing berjudul Adakah Kita Masih Bertanya? dan kumpulan puisi Indonesia, Masihkah Engkau Tanah Airku? terbitan Pustaka Jaya, Jakarta. 

Husni Djamaluddin bersama tim kecilnya, telah merencanakan sederet kegiatan menyambut hari peluncuran buku ini yang semula sudah direncanakan dengan matang pada tanggal 10 Nopember 2004. Jadwal ini pun diundur, karena Husni Djamaluddin masih harus melewati masa kritis dan perawatan intensif di RSPAD Jakarta. Kini, walau Tuhan telah mememanggilnya, tapi jelang saat-saat terakhir Husni Djamaluddin, ia selalu tersenyum membaca sebagian besar isi buku ini sembari menikmati proses finishing buku-bukunya. 

Walhasil, perkenankan kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak dan Ibu yang telah menyumbangkan tulisan. Tak lupa kami memohon maaf, jika dalam proses awal hingga akhir buku ini terdapat kekurangan. Kami akan sangat bangga dan berterima kasih, jika buku ini mendapat tanggapan, koreksi, dan kritik dari berbagai pihak. 

Jakarta, 30 Oktober 2004. 

Hormat dan salam, 
Zulfikar Yunus 

TESTIMONI:

Dan, Allahu Akbar, Husni Djamaluddin memperoleh derajat untuk didatangi oleh Kota Ilmu.... Pantas namanya Sebaik-baik (Husni) Keindahan (Djamal) Kasih Sayang Allah / Agama (ud-Din) 

(Emha Ainun Nadjib) 

Sebagai alumnus S-5, tamatan 5hospital penting, zikrul-maut sudah basah di lidah dan bibir Husni. Wiridnya antara lain membaca shalawat Rasul 202 kali sehari. Penyair yang pernah tiga kali bertemu Rasulullah 
Muhammad saw di dalam mimpi sebelum shalat subuh ini (pengalaman rohani luar biasa hadiah bagi seorang Muslim, bahkan Kiyai-kiyai pun belum tentu mengalaminya) 

(Taufiq Ismail) 

Bung Husni, sang “benang putih” yang siap dicelup dalam berbagai warna ... “saya ini cermin, kata Bung Husni, kepada saya di suatu waktu. Sebagai pelaku budaya Mandar yang benang putih itu Husni merumuskan: "jika wajah anda cemberut ke dalam cermin, wajah cemberut itu pula yang anda dapat. Tersenyumlah ke dalam cermin, maka sang cermin memberimu senyum. “Sang cermin selalu siap didahului. la tak mencari, ia dicari.” 

(Rahman Arge) 

(006) DINAMIKA POLITIK PEMBENTUKAN PROVINSI SULAWESI BARAT

Penulis : M. Thamrin Mattulada 
Penerbit : Pustaka Sawerigading 
Cetakan Pertama : 2017 

Kajian tentang dinamika dalam proses pembentukan Provnsi Sulawesi Barat memang tetap menyisakan ruang-ruang penting untuk terus digali dan diangkat sebagai bagian dari perjalanan panjang perjuangan miasyarakat Mandar untuk berdiri menjadi daerah otonom yang terpisah dari Provinsi Sulawesi Selatan, sebagai provinsi induknya. Kenginan yang semangatnya telah digagas bertahun-tahun itu akhimya berhasil terwujud. 

Tentu saja, proses untuk memisahkan dari daerah induknya itu tidaklah berjalan mulus. Perjalanan panjang dan berliku itu dihadang berbagai tantangan, baik dari luar, maupun dari dalam. Berbagai kepentingan saling mendukung, sekaligus saling menghambat, saling sejalan sekaligus saling bersilangan. Namun semua itu menjadi bumbu dalam proses perjuangan pembentukan Provinsi Sulawesi Barat yang sekarang telah dinikmati masyarakatnya. 

Berbagai proses panjang dan berliku itu tentu harus didokumensikan dengan baik dari berbagai aspek kajian dan penyajian. Karenanya, buku ini hadir sebagai salah satu upaya dalam mendokumentasikan perjuangan pembentukan Provinsi Sulawesi Barat tersebut. 

Berbagai dinamika, khususnya dinamika politik disajikan dengan baik dalam buku ini. Penulis mencoba menguraikan dan menganalisa tentang proses panjang perjuangan pemisahan/pemekaran daerah Sulawesi Barat dari induknya, Provinsi Sulawesi Selatan pada 2004. Termasuk berbagai peristiwa diungkap dan diurai dengan baik dalam buku ini. 

@sorotan

(005) PUANG & DAENG || Sistem Nilai Budaya Orang Balanipa-Mandar

Buku Puang dan Daeng adalah 
sebuah karya monumental yang ditinggalkan oleh mendiang alm. Prof. Dr. Darmawan Mas'ud. Disebut demikian, karena buku ini adalah tulisan terlengkap tentang Mandar dari sudut pandang kebudayaan. Melalui
Idiom puang dan daeng, penulis menjelaskan kepada kita tentang kebudayaan Mandar secara utuh. 

Sebagai putera Mandar, penulis merasa terpanggil untuk menjelaskan kebudayaan Mandar kepada dunia akademik. Ini penting, karena pada saat Itu Mandar hanyalah sebuah sub kultur dari kultur besar yang disebut Bugis-Makassar. Ini terlihat dari berbagai tempat. Penulis tidak 
melepaskan Mandar dari sudut pandang ke-Bugis-an dan ke-Makassar-an, Cerita tentang Mandar seolah menjadi 'pelengkap' dari Identitas Bugis-Makassar. Bisa jadi, kala karya Ini dipresentasikan sebagai disertasi doktoral, orang menilainya sebagai bagian dari kebudayaan Sulawesi Selatan dan itu berarti menjadi sub dari (salah satu) kuitur besar, Bugis-Makassar. 

Akan tetapi, ketika Provinsi Sulawesi Barat dideklarasikan. Buku Ini menemukan momentum yang lebih tepat dan dahsyat. Kajian Ini bukan lagi kajian sub-kultur tetapi kajian dari kultur besar yang disebut Mandar. Penulis sudah meletakkan kajian yang sangat lengkap tentang Mandar. Seluruh sudut kebudayaan Mandar bisa ditemukan disini. Dengan Kerajaan Balanipa sebagai pintu masuknya.

(004) DI BELANDA TAK SEORANG PUN MEMPERCAYAI SAYA || Maarten Hidskes


Pada bulan Juni 1946 Piet Hidskes mendaftarkan diri sebagai sukarelawan pada Depot Specale Troepen (DST, Depot Pasukan Khusus), korps elite dari Koninkliik NederlandscnIndisch Leger (Pasukan Hindia-Belanda) di bawah komando Kapten Westerling yang menerima carte blanche untuk menumpas pemberontakan di Indonesia dan melakukan aksi-aksi pembersihan. Setelah mengikuti pelatihan selama enam bulan, Hidskes ditempatkan di Sulawesi Selatan. 

Dia kemudian terlibat dalam "Peristiwa Sulawesi Selatan''. Hidskes tidak menceritakan kepada siapapun apa yang terjadi di sana. Siapa yang akan mempercayainya? 

Ketika dia meninggal dunia pada tahun 1992, cerita itu dia bawa masuk ke liang lahat. Kenapa dia selama lima puluh tahun membungkam diri tentang semua pengalamannya di Sulawesi Selatan? Sejauh mana keterlibatannya dalam pelaksanaan aksi-aksi pasukan Westerling dilakukannya dengan sukarela? 

Anaknya, Maarten Hidskes, memutuskan untuk menyelidiki peran ayahnya di Sulawesi sampai mendasar. Dia mendapatkan kepercayaan dari beberapa mantan tentara komando dan regu pasukan ayahnya, menganalisis surat-surat yang dikirim ayahnya dari Hindia, dan mempelajari laporan-laporan intelijen tentang teror di Sulawesi. Dengan cara yang mengharukan, Maarten berhasil menyusun rekonstruksi masa lalu perang dari ayahnya. 

Maarten sampai ke Mandar pada tahun 2018 untuk membuktikan bagaimana sepak terjang ayahnya ketika berada di Mandar pada tahun 1947 sebagai salah satu dari pasukan Westerling.

(003) SEJARAH PERJUANGAN PEMBENTUKAN PROVINSI SULAWESI BARAT || Prof. Dr. Idham, M. Pd. dan Dr. Saprillah, M.Si.


Buku ini lahir dari keinginan penulis untuk mendokumentasikan momentum “kelahiran” Sulawesi Barat, sebagai bagian dari sejarah penting masyarakat Mandar. Penting, karena kelahiran Sulawesi Barat merupakan cita-cita yang telah dikonstruksi sejak lama oleh para pejuang kemerdekaan yang berasal dari Mandar. Bukan gerakan politik reaksioner sebagai eforia reformasi yang menumbuhkan semangat pemekaran di berbagai daerah di Indonesia. 

Ide tentang Sulawesi Barat adalah ide menyejarah, telah dipikirkan oleh generasi pejuang Mandar. Basis historisitasnya adalah persekutuan kerajaan-kerajaan di pitu ulunna salu (tujuh kerajaan di hulu sungai) dan kerajaan-kerajaan di pitu bagbana binanga (tujuh kerajaan di muara sungai). Persekutuan ini merupakan persekutuan kerajaan yang paling solid di zamannya. Mereka saling membangun interaksi sosial, ekonomi, dan ketahanan politik. 

Menulis sejarah Sulawesi Barat — dengan demikian — adalah upaya untuk melestarikan ide tentang Mandar yang sempat hilang ketika harus dilebur dalam Provinsi Sulawesi Selatan. Cita rasa Mandar sebagai suku yang memiliki sejarah peradaban yang panjang seperti kehilangan konteks (out of context), bahkan daerah-daerah Mandar menjadi daerah terbelakang dibanding daerah lain di Sulawesi Selatan. 

Secara metodologis, penulis menggunakan metode pendekatan sejarah sosial, yang berupaya mengungkapkan secara menyeluruh proses sosial politik perjuangan pembentukan Provinsi Sulawesi Barat. Kesulitan terbesar yang penulis alami adalah upaya verifikasi data. Data yang sebagian besar diperoleh melalui wawancara memiliki tingkat subyektifitas yang sangat tinggi. Beberapa narasumber “berupaya” menonjolkan diri sebagai arus utama perjuangan. Hal ini lumrah, karena perjuangan pembentukan Sulawesi Barat memang dapat terealisasi dengan baik. Ini menyebabkan banyak orang yang merasa memiliki “jasa” dalam proseg pembentukannya. Oleh karena itu, penulis berupaya melakukan verifikasi data dengan melakukan cross check data dengan berbagai pihak yang terlibat secara langsung dalam perjuangan pembentukan Provinsi Sulawesi Barat. 

Untuk menghindari penonjolan individu, penulis berupaya untuk mereduksi sebanyak mungkin penceritaan alur melalui perspektif individu dan menghindari penyebutan nama secara berlebihan. Kalaupun ada nama yang disebut di dalam buku ini, itu lebih karena konteks penulisan mengharuskan melibatkan nama mereka sebagai pelaku dalam proses politik tersebut. Menghilangkan nama — dalam situasi ini — justru dapat mengurangi validitas data dan menghilangkan konteks penelitian. 

Penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada H. Muh. Jamil Barambangi (Kepala Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Sulawesi Barat kala itu) yang berinisiatif dan memprakarsai penelitian ini. Selain itu, beliau juga berkenan untuk menjadi editor sebelum tulisan ini diterbitkan. Ucapan terima kasih yang tak terhingga juga disampaikan kepada pengurus Forum Sipamandar, KAPPSULBAR dan Pokja-Pokjanya, KKM-N, DP3-SB, BPP-SB, Tim Pansus Pembentukan Provinsi Sulawesi Barat, para mantan aktivis Mahasiswa, dan semua pihak yang terkait dalam penulisan buku ini. 

Akhirnya, penulis juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada Drs. H. Muzakkir Kulasse, MM (Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Barat) yang telah bersedia menerbitkan kembali (cetakan kedua) buku 

Makassar, 17 Juni 2015 
Penulis