Sabtu, 19 Juli 2025

SUKU MANDAR DAN MAKASSAR || Cabang Pesisir dari Leluhur Da’a


Setelah komunitas ToAla mulai menyebar dan bercabang, terbentuklah kelompok Da’a, komunitas transisi yang hidup antara gunung dan laut, antara lembah dan pesisir. Mereka bukan petani murni seperti ToRaya (Toraja), dan bukan pelaut penuh seperti Bugis, tapi sangat adaptif dan cair secara sosial.

Dari rahim budaya Da’a inilah lahir dua cabang besar yang kelak menghuni pesisir barat dan selatan Sulawesi: Mandar dan Makassar.

🌴 1️⃣ Mandar: Anak Laut dari Pesisir Barat

Suku Mandar berkembang di wilayah pesisir barat Sulawesi, terutama di kawasan yang kini dikenal sebagai Polewali Mandar, Majene, dan Mamuju. Mereka lahir dari Da’a yang mulai menetap di pesisir dan memanfaatkan laut sebagai sumber kehidupan utama.

Ciri khas masyarakat Mandar:

- Pelaut dan nelayan ulung, tapi juga ahli pertanian sawah dan kebun di daratan.
- Memiliki sistem budaya yang lentur, tanpa sistem kasta seketat Toraja atau struktur kerajaan serigid Bugis.
- Budaya “Sayyang Pattudu’” (kuda menari) dan “Passandeq” (tradisi pelayaran) menjadi ikon budaya laut Mandar.

📜 Secara historis, Mandar terdiri dari 18 kerajaan kecil yang bersatu dalam satu federasi longgar dikenal dengan sebutan Pitu Ba’bana Binanga (7 kerajaan pesisir) dan Pitu Ulunna Salu (7 kerajaan pegunungan), ditambah 4 wilayah penyangga.

Ini menunjukkan bahwa masyarakat Mandar menjaga keseimbangan antara gunung dan laut, warisan khas dari komunitas Da’a.

⚓ 2️⃣ Makassar: Sang Strategis dari Selatan

Berbeda dengan Mandar yang menyatu dengan laut dan lembah, kelompok Makassar berkembang lebih jauh ke selatan di lembah subur, muara sungai, dan pelabuhan alami yang kini menjadi kota Makassar.

Ciri khas masyarakat Makassar:

- Berani dan strategis, membangun kerajaan besar seperti Gowa dan Tallo.
- Menjadi pusat perdagangan rempah, pelayaran, dan diplomasi di era pra-kolonial.
- Memiliki budaya hierarkis, dengan sistem bangsawan (karaeng) dan adat siri’ pacce yang kuat, mirip (dan sering tumpang tindih) dengan Bugis. Dua suku ini sering cekcok karena perkara identitas.

Makassar memang sangat dekat dengan Bugis dalam banyak hal bahkan seringkali bercampur tapi akar mereka tetap bisa dilacak ke cabang Da’a yang beradaptasi lebih cepat terhadap arus luar (India, Arab, Eropa) yang datang lewat laut.

Makassar bukan hanya pelaut, mereka adalah arsitek kota-kota pesisir, pelindung pelabuhan, dan pelaku politik cerdas yang memainkan peran besar di pentas sejarah Nusantara abad ke-16 dan 17.

🔄 Da’a: Sumber Cair yang Menciptakan Dua Karakter Pesisir

Mandar: lembut, tangguh, berakar di tanah dan laut.

Makassar: kuat, berstruktur, dan terbuka pada dunia luar.

Dua etnis ini mewarisi semangat Da’a, yakni mobilitas, keberanian, dan kemampuan bertahan dalam perubahan. Mereka bukan komunitas yang membangun piramida, tapi mereka membangun jaringan pelabuhan, jalur dagang, dan budaya maritim yang bertahan hingga kini.

MEMBUKA HARAPAN DARI BUMI SULBAR || Apresiasi atas Langkah Strategis Gubernur SDK dalam Ketahanan Pangan


Alhamdulillah, di tengah riuhnya tantangan global dan keluh kesah pangan dunia yang tak kunjung usai, dari tanah Sulawesi Barat, kita menyaksikan seberkas cahaya muncul. Sebuah langkah berani, nyata, dan penuh harap ditempuh oleh Gubernur Sulbar, Dr. Suhardi Duka. Dalam rapat koordinasi yang digelar 17 Juli 2025, beliau bukan hanya menekankan urgensi perluasan area tanam, tetapi juga bersedia turun langsung menembus sekat-sekat administratif dan struktural demi membuka ruang kehidupan: sawah-sawah baru, pangan bagi rakyat.

Langkah Gubernur SDK memerintahkan Dinas Pertanian untuk tidak ragu mengajukan potensi cetak sawah meski berada dalam kawasan hutan lindung (selama tidak termasuk kawasan konservasi) patut diapresiasi sebagai upaya inovatif dan taktis. Di sinilah peran seorang pemimpin diuji—bukan semata mengelola regulasi, melainkan menavigasi jalan keluar dari keruwetan kebijakan demi kepentingan publik.

Namun demikian, agar langkah ini tidak menjadi letupan sesaat yang kehilangan arah, ada baiknya kita menimbang beberapa pendekatan strategis agar program cetak sawah berjalan dengan baik, lestari, dan berdaya guna:

1. Pemetaan Potensi Berbasis Data Spasial dan Sosial Setiap wilayah memiliki riwayat ekologis dan sosialnya sendiri. Perlu pendekatan berbasis peta tutupan lahan (land cover) terkini, peta tanah, dan kerawanan bencana, dikombinasikan dengan data sosial—siapa yang akan mengolah, bagaimana sistem pengairannya, dan apa dampak sosialnya. Kementerian ATR/BPN, KLHK, dan BIG memiliki sumber daya data yang bisa disinergikan dengan Pemprov Sulbar.


2. Revitalisasi Irigasi dan Inovasi Tata Air Mikro Cetak sawah tidak boleh dipisahkan dari soal air. Bukan sekadar membuka lahan, tapi membangun sistem pengairan yang sesuai dengan topografi Sulbar yang banyak berbukit dan berlembah. Teknologi embung kecil, pompanisasi tenaga surya, hingga sistem irigasi tetes untuk kawasan marginal dapat menjadi solusi alternatif.


3. Kemitraan dengan TNI dan Perguruan Tinggi Cetak sawah pernah berhasil di masa lalu karena ada dukungan penuh dari TNI sebagai pelaksana di lapangan. Demikian pula, pelibatan perguruan tinggi seperti Unasman, Unsulbar, dan Polbangtan bisa memperkaya pendekatan dengan riset-riset inovatif dan pendampingan teknologi tepat guna.


4. Transparansi dan Partisipasi Masyarakat Keberhasilan program ini sangat ditentukan oleh seberapa dalam masyarakat diajak terlibat. Keterbukaan informasi, pendekatan musyawarah desa, dan pola bagi hasil yang adil akan membuat para petani merasa memiliki dan menjaga sawah barunya seperti menjaga anak sendiri.


5. Diversifikasi Pangan Lokal Walau beras menjadi target utama, Gubernur SDK juga dapat menjadikan momentum ini sebagai jalan masuk untuk mengangkat kembali pangan lokal Sulbar: jagung gigi kuda, ubi, sorgum, sagu, dan talas. Ketahanan pangan bukan hanya soal stok beras, tetapi tentang keragaman sumber gizi.



Langkah Gubernur SDK sejatinya merupakan tanggapan serius terhadap tantangan besar Indonesia: food insecurity. FAO (2023) mencatat bahwa setidaknya 58 juta rakyat Indonesia berada dalam kondisi moderate food insecurity. Maka dari itu, langkah Sulbar mencetak sawah bukan sekadar proyek pertanian, melainkan strategi peradaban: mempertahankan kedaulatan bangsa dari ancaman lapar.

Dan di akhir renungan, kita kembali pada satu hikmah: tanah yang subur tidak hanya diukur dari tingkat kesuburan lahannya, tetapi dari keberanian pemimpinnya menanam harapan di tengah sempitnya kemungkinan.

Teruskan, Gubernur SDK. Sulbar sedang menanam masa depannya.

Salam Dari Kaltim 

Safardy Bora

Revisi Kurikulum 2025 MENJAWAB TANTANGAN ABAD KE-21

Oleh : Almadar Fattah  

Revisi kurikulum merupakan salah satu upaya pemerintah untuk menjawab tantangan pendidikan pada abad ke-21. Pemerintah berupaya meningkatkan kualitas pendidikan dengan mempersiapkan murid untuk menghadapi tantangan global dan kebutuhan industri.

Sehingga revisi kurikulum 2025 memang menjadi topik yang hangat dibicarakan. Ada beberapa isu yang menjadi perhatian, diantaranya :
1. Revisi kurikulum 2025 menuai kontroversi karena dianggap tidak melibatkan semua pihak yang terkait, seperti guru, orang tua, dan siswa.
2. Ada sebagian  pihak merasa bahwa proses revisi kurikulum tidak transparan dan tidak ada kejelasan tentang apa yang diubah dan mengapa.
3. Beberapa pihak khawatir bahwa revisi kurikulum 2025 akan menurunkan kualitas pendidikan di Indonesia.
4. Ada beberapa guru dan siswa telah melakukan protes terhadap revisi kurikulum 2025 karena merasa bahwa perubahan tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan mereka.
Untuk itu, revisi kurikulum 2025 memang menjadi isu yang kompleks dan perlu dibahas lebih lanjut untuk mencapai solusi yang terbaik bagi pendidikan di Indonesia.

Dengan demikian, penting bagi pemerintah dan pihak terkait untuk mendengarkan kekhawatiran dan masukan dari guru dan siswa untuk memastikan bahwa revisi kurikulum 2025 dapat meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Revisi kurikulum tahun 2025 merupakan bagian dari reformasi pendidikan di Indonesia yang berfokus pada peningkatan kualitas pembelajaran. Kurikulum 2025 resmi ditetapkan sebagai kurikulum nasional melalui Permendikbudristek No. 13 Tahun 2025, dengan pendekatan deep learning untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Beberapa poin penting terkait revisi kurikulum 2025, pertama Capaian Pembelajaran (CP) terbaru 2025 mencakup kompetensi yang harus dicapai peserta didik pada setiap fase perkembangan di semua jenjang pendidikan, mulai dari PAUD hingga pendidikan menengah. Kedua  Fokus Pembaruan, seperti Pembelajaran Holistik: Mengintegrasikan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik, Penerapan Praktis: Memastikan murid dapat menerapkan kompetensi dalam kehidupan sehari-hari, dan Penerapan Praktis: Memastikan murid dapat menerapkan kompetensi dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga beberapa mata pelajaran mengalami perubahan, bahkan ada penambahan mata pelajaran baru. Namun, P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) dihapus. Keempat kurikulum ini mulai diterapkan pada tahun ajaran 2025/2026, namun sekolah yang belum siap masih dapat menggunakan Kurikulum 2013.

Revisi kurikulum 2025 di Indonesia bertujuan meningkatkan kualitas pembelajaran dengan beberapa perubahan utama : Pertama Perubahan Kerangka Dasar Kurikulum yang fokus pada pembelajaran mendalam yang relevan, berbasis nilai, dan berorientasi pada perkembangan karakter. Kedua Komponen Kurikulum, terdiri dari intrakurikuler (mata pelajaran wajib), kokurikuler (penguatan kompetensi), dan ekstrakurikuler (pengembangan potensi dan bakat). Ketiga Pendekatan Pembelajaran, berbasis pada pemahaman, aplikasi, dan refleksi untuk menciptakan pengalaman belajar yang bermakna.Keempat Struktur Kurikulum, disesuaikan dengan jenjang pendidikan, seperti PAUD, pendidikan dasar, dan menengah, dengan mata pelajaran wajib dan pilihan. Kelima Ekstrakurikuler, berorientasi pada kebutuhan peserta didik, bersifat pilihan, dan menyenangkan, dengan tujuan mengembangkan potensi, bakat, dan kepribadian.

Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 13 Tahun 2025 menjadi landasan hukum revisi kurikulum ini, yang bertujuan menyiapkan peserta didik untuk berkontribusi positif dalam masyarakat dan membangun bangsa yang maju.

Revisi kurikulum 2025 bertujuan menyiapkan peserta didik untuk berkontribusi positif dalam menghadapi tantangan global dengan membekali mereka dengan pengetahuan, keterampilan, dan karakter yang relevan. Beberapa tujuan revisi kurikulum ini antara lain, a) Meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif, mengembangkan keterampilan abad ke-21 seperti komunikasi, kolaborasi, dan pemecahan masalah. b)  Membentuk karakter yang kuat dan berintegritas. c) Meningkatkan kesadaran dan kepedulian terhadap isu-isu global dan lingkungan. d) Mempersiapkan peserta didik untuk menjadi warga negara yang aktif dan bertanggung jawab.

Dengan demikian, revisi kurikulum 2025 diharapkan dapat membantu peserta didik menjadi lebih siap dan tangguh dalam menghadapi tantangan global.

Revisi kurikulum yang sudah beberapa kali dilakukan belum tentu gagal, tapi mungkin ada beberapa faktor yang menyebabkan kualitas pendidikan belum meningkat signifikan.

Implementasi  Kurikulum yang dirancang dengan baik belum tentu diimplementasikan dengan baik di lapangan. Guru mungkin belum sepenuhnya memahami atau belum siap mengajar dengan metode baru.

Kualitas Guru, karena Guru memegang peranan penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Jika guru belum memiliki keterampilan dan pengetahuan yang memadai, maka kualitas pendidikan tidak akan meningkat.
Sumber Daya, kurangnya sumber daya, seperti fasilitas sekolah, teknologi, dan bahan ajar, dapat menghambat implementasi kurikulum yang efektif.

Keterlibatan Stakeholder, keterlibatan orang tua, masyarakat, dan pemerintah sangat penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Jika salah satu pihak tidak terlibat secara aktif, maka kualitas pendidikan tidak akan meningkat.

 Evaluasi dan Pemantauan, evaluasi dan pemantauan yang efektif sangat penting untuk mengetahui apakah kurikulum yang diterapkan sudah efektif atau belum.

Untuk meningkatkan kualitas pendidikan, perlu dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pendidikan, termasuk kurikulum, guru, sumber daya, dan stakeholder. Dengan demikian, dapat diketahui letak kesalahannya dan dilakukan perbaikan yang tepat.

Revisi kurikulum semestinya diimbangi dengan peningkatan kualitas guru dan fasilitas pendidikan yang memadai. Guru yang berkualitas dan fasilitas yang memadai dapat membantu meningkatkan efektivitas implementasi kurikulum baru.

Peningkatan kualitas guru dapat dilakukan melalui pelatihan dan pengembangan profesional, pemberian insentif dan penghargaan bagi guru yang berprestasi dan pembinaan dan pengawasan yang efektif.

Fasilitas pendidikan yang memadai juga sangat penting, seperti ruang kelas yang nyaman dan kondusi, teknologi dan peralatan pembelajaran yang memadai dan perpustakaan dan sumber belajar yang lengkap.

Kalau ini terpenuhi pemerintah dapat memastikan bahwa revisi kurikulum dapat diimplementasikan dengan efektif dan meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Di negara maju, fasilitas pendidikan memang sangat diutamakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Fasilitas pendidikan yang memadai dapat membantu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan efektif. Dengan fasilitas pendidikan yang memadai, murid dapat belajar dengan lebih efektif dan nyaman, sehingga dapat meningkatkan prestasi akademik dan kualitas pendidikan secara keseluruhan.

Fasilitas yang memadai, murid dapat merasa nyaman dan aman di sekolah, sehingga dapat fokus pada proses belajar dan meningkatkan prestasi akademik. Fasilitas yang memadai juga dapat membantu meningkatkan motivasi dan minat belajar siswa.Dengan demikian, murid dapat merasa nyaman dan bahagia di sekolah, sehingga dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan prestasi akademik.

Dengan fasilitas yang memadai, murid dapat merasa nyaman dan menganggap pendidikan sebagai bagian yang menyenangkan dari kehidupan mereka. Ketika murid merasa nyaman dan bahagia di sekolah, mereka lebih cenderung untuk menikmati proses belajar, mengembangkan minat dan bakat, meningkatkan prestasi akademik dan membangun hubungan yang positif dengan guru dan teman-teman serta mengembangkan keterampilan sosial dan emosional.

Dengan demikian, pendidikan dapat menjadi pengalaman yang positif dan bermakna bagi murid, sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang menjadi individu yang lebih baik.

Kurikulum 2025 di Indonesia mengalami beberapa perubahan signifikan. Diantaranya poin penting terkait perubahan ini adalah :

Pendekatan Pembelajaran Mendalam. Kurikulum ini menerapkan pendekatan pembelajaran mendalam yang menekankan pada penciptaan suasana belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Pendekatan ini bertujuan untuk meningkatkan keimanan, ketakwaan, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi.

Mata Pelajaran Baru.  Dua mata pelajaran baru yang diperkenalkan adalah Koding dan Kecerdasan Artifisial (AI). Mata pelajaran ini akan mulai diperkenalkan secara bertahap di kelas 5 SD, kelas 7 SMP, dan kelas 10 SMA/SMK pada tahun ajaran 2025/2026.

Ekstrakurikuler Wajib.  Semua jenjang pendidikan diwajibkan untuk melaksanakan ekstrakurikuler minimal Kepramukaan atau bentuk kepanduan lainnya untuk memperkuat pendidikan karakter dan menanamkan nilai-nilai kedisiplinan.

Struktur Kurikulum. Struktur kurikulum terbaru memuat jenis mata pelajaran dan jumlah alokasi jam intrakurikuler dan kokurikuler per tahun. Perubahan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan membuatnya lebih relevan dengan kebutuhan abad ke-21.

Fleksibilitas.  Kurikulum ini memberikan fleksibilitas bagi sekolah untuk mengembangkan bentuk-bentuk pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan dan konteks lokal. Sekolah juga dapat memilih model implementasi Muatan Lokal (Mulok) yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kebijakan sekolah.

Revisi kurikulum tahun 2025 bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia agar lebih relevan dengan kebutuhan abad ke-21. Dengan demikian, siswa dapat memiliki keterampilan dan kompetensi yang sesuai dengan tuntutan zaman.

Beberapa aspek yang dapat ditingkatkan dalam revisi kurikulum 2025 antara lain: Keterampilan abad ke-21, seperti keterampilan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi., Pendidikan karakter: seperti pendidikan kewarganegaraan, kepemimpinan, dan kesadaran sosial., Keterampilan teknologi: seperti koding, kecerdasan artifisial, dan penggunaan teknologi informasi., dan Pendidikan berbasis proyek: seperti pembelajaran berbasis proyek yang dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam memecahkan masalah dan bekerja sama.

Kritik konstruktifnya, kebijakan pendidikan seharusnya tidak bergantung pada selera atau kepentingan pribadi pemerintah yang memimpin, melainkan harus berbasis pada kebutuhan dan kepentingan masyarakat luas. Kebijakan pendidikan yang berkelanjutan dan berpandangan jangka panjang sangat penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan. 

Masukan konstruktifnya pemerintah harus dapat mengembangkan kebijakan pendidikan yang stabil dan berkelanjutan, meningkatkan kualitas pendidikan secara konsisten, mengurangi kesenjangan pendidikan antara daerah-daerah, dan mempersiapkan generasi muda untuk menghadapi tantangan global.

Kebijakan pendidikan yang berpandangan jangka panjang dan berbasis pada kebutuhan masyarakat dapat membantu meningkatkan kualitas pendidikan dan menciptakan masa depan yang lebih baik bagi generasi muda.

Semoga revisi kurikulum tahun 2025 bukan hanya sekedar memenuhi selera pemerintah, tetapi benar-benar bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Sehingga revisi kurikulum dapat membawa manfaat yang nyata bagi siswa, guru, dan masyarakat luas.

Harapan revisi kurikulum 2025 dapat menjadi langkah penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia dan menciptakan masa depan yang lebih baik bagi generasi muda.

(Pendidik & Aktif Menulis Berbagai Media Harian Di Makassar Tahun 90an)

(Edisi Ke-2) LAMASARIANG || Tanah Penjagaan, Masjid yang Berdiri dalam Ingatan


Episode Kedua
Lamasariang: Tanah Penjagaan, Masjid yang Berdiri dalam Ingatan

Lamasariang—nama itu tumbuh pelan-pelan dari tanah Mandar yang permai, seperti pohon yang menua di hati angin. Ia bukan sekadar sebutan kampung, melainkan gema dari masa silam, bisik dari leluhur yang menitipkan makna. Dari kata “lama” yang berarti tempat, dan “sariang” yang berarti penjagaan dalam bahasa tua, tersusunlah satu nama yang harum: tempat yang dijaga. Dijaga oleh lembang Punnagza yang mengalir setia, oleh rumah-rumah kayu di Manjopai yang bersandar pada waktu, oleh gumuk tenang Tammangalle, dan langit yang selalu menyorot simpang empat Karama dan Pandebulawang dengan tatapan biru yang panjang.

Tidak ada catatan resmi yang menuliskan sejak kapan kampung ini hidup. Tapi pohon-pohon lontar yang berdiri sabar di tepian tanah, dan debu jalan yang tak kunjung lelah dilalui kaki orang pulang, menjadi saksi bahwa Lamasariang sudah lama menampung kisah. Sebelum kepala desa pertama dikenal, kampung ini telah menjelma rumah—dengan rumah-rumah panggung dari kayu hasil tebasan peluh dari Oting dan Pandebulawang. Tempat ini menerima siapa saja yang ingin berteduh, seakan ia tahu: semua yang datang akan jatuh cinta.

Pada masa negeri masih belajar mengeja damai, pos tentara Resimen Infanteri 710 berdiri kokoh di Lamasariang, dipimpin oleh Andi Selle. Kala itu, kampung ini bukan sekadar hunian, melainkan titik strategis penghubung Makassar dan Mamuju. Setelah pasukan berpindah, tanah itu tidak tidur. Masyarakat menjadikannya tempat bermain layang-layang dan berkumpul sambil mappsitinda’ lake—tanda bahwa tanah bisa berubah fungsinya, tapi tidak kehilangan maknanya. Tak jauh dari situ, berdiri sebuah masjid tua. Ia tak ubahnya perahu besar yang diam menanti badai. Di sanalah doa-doa berkumpul, dan kelak, sebuah keajaiban lahir.

Gempa pada 11 April 1967 (magnitude 6,3) memicu tsunami di Teluk Mandar
Kemudian pada 14 Oktober 1969, bumi menggeliat tak biasa. Gempa besar kembali mengguncang Mandar —tercatat hingga 6,9 skala Richter. Tanah merekah, air sumur menghitam, dan udara seakan menggantung.  Masjid tua di lamasariang roboh perlahan. Tiang-tiang kayunya patah, atapnya rebah seperti doa yang belum sempat selesai. Namun dari reruntuhan, muncul sosok Pua Juhena, keluar dengan langkah tertatih tapi selamat. Tanda Abariah kecil menyaksikannya—dalam diam yang haru—dan hingga kini, kenangan itu masih utuh dalam cerita-cerita lisan.

Masjid itu mungkin tak lagi ada dalam bentuk semula, tapi kenangan tentang imam pertamanya, Puayi Guni, tetap kokoh di hati warga. Diperkirakan berdiri sebelum tahun 1959, beliau bukan hanya pemimpin shalat, tapi juga suluh dalam gelap. Setelahnya, muncul Pua Haris dari Karama, seorang annangguru yang mendidik dengan hati yang penuh teduh. Ada pula Abdul Jabbar Kamana i Musu, darah daging Puayi Guni, dan sosok-sosok yang tak kalah harum seperti Ru’ding Kama Suwedah Hatte’ dan Pua Juhenat Bindal—mereka adalah pondasi batin yang tak pernah benar-benar runtuh.

Di masa sebelum listrik masuk, Ramadhan tiba bagai syair gelap yang ditulis cahaya lampu petromax. Lampu gas digantung di kayu yang dirangkai dari rumah ke rumah—milik Kama Maniya, Kama Tanda, Kama Hamar, dan orang-orang mampu lainnya. Cahaya itu menerangi malam-malam puasa. Anak-anak kecil berlari di halaman, menanti denting beduk magrib. Suara mereka seperti mercon kecil yang memecah keheningan dengan tawa.

Di depan masjid, ada sumur tua, kolam yang tak lagi digunakan, dan pohon kelapa tua yang disebut Anjoro Kapal—karena batangnya pendek tidak menjulang seperti tiang kapal yang karam di pasir waktu. Di sana, anak-anak menunggu beduk ditabuh Pua Juhena. Ketika suara itu menggema, mereka pun berlarian pulang untuk berbuka. Malam hari sebelum tarawih, halaman berubah menjadi panggung riang. Anak-anak bermain petak umpet, sementara gadis-gadis menjajakan canggoreng batte dengan senyum malu-malu.

Di sisi lain masjid, dahulu ada pasar pagi yang ramai. Di sanalah denyut ekonomi kampung bergelora. Tak jauh dari situ, berdiri kandang kuda dan rumah penginapan bagi tamu jauh. Di antara mereka yang pernah menginap adalah Pak Ranti—polisi pertama yang ditugaskan di Tinambung. Lamasariang bukan sekadar titik di peta, melainkan pelabuhan bagi mereka yang butuh singgah, butuh pulang.

Saat waktu sahur tiba, Kama Suwedah menjadi yang pertama membangunkan kampung dengan suara toa  model corong minyak, dengan kaset-kaset mengaji klasik yang mengalun dari radio kecil. Suaranya tidak nyaring, tapi meresap. Ibu-ibu bangun perlahan, memasak dalam senyap yang ditemani embun. Nasi mengepul dalam kukusan, lauk-lauk sederhana tersaji dengan cinta yang hangat.

Subuh datang, dan anak-anak tak kembali ke ranjang. Mereka berkelompok, berjalan kaki ke Paayumang. Entah apa yang mereka cari, mungkin hanya suasana, mungkin hanya kebersamaan. Tapi langkah itu adalah pelajaran. Tentang hidup, tentang persaudaraan, tentang kampung yang mengajarkan arti menjadi manusia.

Kini masjid telah direnovasi. Tiangnya beton, dindingnya bersih berkeramik. Tapi banyak yang percaya: ruh masjid tetap milik zaman dahulu. Milik imam yang tak dikenal generasi sekarang, tapi doanya masih tercium di langit kampung. Jejak kaki Pua Juhena mungkin sudah hilang, tapi suara langkahnya masih terdengar jika kita menunduk dan benar-benar mendengarkan.

Lamasariang bukan hanya tempat yang dijaga, melainkan penjaga itu sendiri. Ia menjaga kenangan, menjaga persaudaraan, menjaga cinta dalam bentuk yang paling sederhana. Ia berdiri bukan karena semen, tapi karena keringat, karena bakti, dan karena kesetiaan pada tanah dan langit yang sama.

Sejarah tidak selalu ditulis di buku. Ia kadang mengalir dalam mata anak yang melihat ayahnya menggantung petromax, dalam suara lembut ibu yang menyiapkan sahur, dalam langkah kaki anak-anak menuju Paayumang. Lamasariang adalah rumah yang hidup dalam doa. Rumah yang tetap ada, meski waktu berlalu. Rumah yang akan selalu pulang, bahkan jika tubuh tak lagi bisa kembali.

Catatan Hidupku
Safardy Bora

Ketika PERAHU SANDEQ BERBICARA DAN MEMBUKA DIRI

Oleh : Almadar Fattah 

Perahu Sandeq memang sangat erat kaitannya dengan budaya dan kehidupan masyarakat Mandar di Sulawesi Barat. Perahu Sandeq merupakan simbol keberanian, ketangkasan, dan kearifan lokal dalam berlayar dan berinteraksi dengan alam laut. Selain itu, perahu ini juga menjadi bagian penting dari tradisi dan identitas masyarakat Mandar.

Perahu Sandeq memiliki desain yang ramping dan lancip di bagian depan, yang dapat diartikan sebagai simbol kesederhanaan dan kerendahan hati. Desain ini juga menunjukkan kearifan lokal dan filosofi hidup masyarakat Mandar yang menekankan pentingnya kesederhanaan dan kerendahan hati dalam menjalani kehidupan.

Tiang layar tunggal pada perahu Sandeq yang dibantu oleh beberapa ikatan yang membentang ke bawah menunjukkan efisiensi dan kesederhanaan dalam desain. Ini juga menggambarkan kearifan lokal dalam memanfaatkan sumber daya alam dan teknologi sederhana untuk mencapai tujuan, seperti berlayar dan mencari nafkah di laut.

Layar putih pada perahu Sandeq dapat diartikan sebagai simbol kesucian dan kemurnian dalam mencari nafkah di laut. Warna putih sering dikaitkan dengan kesucian, kejujuran, dan ketulusan, sehingga layar putih pada perahu Sandeq dapat menggambarkan harapan untuk mencari nafkah dengan cara yang halal dan baik.

Katir atau cagak pada perahu Sandeq yang membentang di sisi kiri dan kanan perahu sebagai penopang stabilitas dapat diartikan sebagai simbol keseimbangan dalam kehidupan.

Sama seperti perahu yang memerlukan keseimbangan untuk berlayar dengan stabil, kehidupan juga memerlukan keseimbangan antara berbagai aspek, seperti spiritual, material, emosi, dan sosial, untuk mencapai kestabilan dan harmoni.

Perahu Sandeq yang kecil dan lancip memungkinkan untuk bermanuver dengan lincah dan cepat di laut, serta dapat menjangkau perairan yang lebih dalam. Desain ini menunjukkan kearifan lokal dalam menciptakan kapal yang sesuai dengan kondisi geografis dan kebutuhan masyarakat Mandar.

Ayo kita lestarikan dan jaga perahu Sandeq sebagai warisan budaya maritim yang unik dan berharga bagi masyarakat Mandar. Melestarikan perahu Sandeq, kita juga melestarikan sejarah, tradisi, dan identitas budaya masyarakat Mandar yang kaya dan beragam. Mari kita banggakan dan lestarikan warisan budaya kita.

Perahu Sandeq memang merupakan perahu tradisional yang luar biasa, mampu menembus batas waktu dan tetap eksis di tengah kemajuan peradaban modern.

Keberadaan perahu Sandeq yang masih terjaga hingga saat ini merupakan bukti nyata dari ketekunan dan kebanggaan masyarakat Mandar dalam melestarikan warisan budaya leluhurnya. Perahu Sandeq tidak hanya menjadi simbol kebudayaan, tetapi juga menjadi ikon kekuatan dan ketahanan masyarakat Mandar dalam menghadapi perubahan zaman.

Dengan sentuhan bahasa modern, cerita dan keunikan perahu Sandeq dapat dipromosikan lebih luas dan dikenal oleh masyarakat global, sehingga warisan budaya ini dapat lebih dihargai dan dilestarikan.

Pengenalan perahu Sandeq melalui media sosial, dokumenter, dan promosi budaya dapat membantu meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat internasional terhadap kekayaan budaya Indonesia, khususnya budaya Mandar.

Perahu Sandeq tidak hanya mempertahankan keaslian tradisinya, tetapi juga siap menaklukkan samudra luas dengan adaptasi bahasa modern.

Untuk itu, Sandeq dapat tetap eksis dan dikenal luas di era global ini tanpa kehilangan esensi dan identitas budaya Mandar yang kuat. Perpaduan antara tradisi dan modernitas ini akan membuat perahu Sandeq semakin relevan dan dihargai di berbagai belahan dunia.

Tanah kelahiran Sandeq, yaitu Mandar, tetap menjadi sumber inspirasi dan jiwa yang kuat dalam menaklukkan dunia modern.

Warisan budaya dan tradisi yang kaya dari Mandar menjadi pondasi bagi Sandeq untuk terus berkembang dan beradaptasi dengan zaman, sambil tetap mempertahankan identitas dan keaslian budaya Mandar yang unik. Sehingga Sandeq dapat menjadi simbol kebanggaan bagi masyarakat Mandar dan Indonesia secara keseluruhan.

Sandeq dan Mandar tidak pernah terpaku pada satu bahasa tertentu, karena bahasa hanyalah alat untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan keunikan Sandeq kepada dunia modern.

Dengan menggunakan berbagai bahasa, Sandeq dapat menjangkau audiens yang lebih luas dan memperkenalkan keindahan budaya Mandar kepada masyarakat global, tanpa kehilangan esensi dan identitas budaya yang kuat.

Sandeq dengan sentuhan bahasa asing tetap akan mempertahankan keaslian dan keunikan budaya Mandarnya.

Bahasa luar hanya menjadi sarana untuk memperkenalkan Sandeq kepada dunia internasional, namun esensi dan jiwa Mandar tetap menjadi identitas utama Sandeq.  Sandeq dapat tetap eksis dan berkembang di era global tanpa kehilangan akar budayanya.

Sandeq tidak akan kehilangan esensi dan identitasnya hanya karena menggunakan bahasa luar, malahan Sandeq membutuhkan sentuhan bahasa modern untuk memperkenalkan dan mempertahankan jati dirinya kepada dunia luas.

Untuk itu, Sandeq dapat tetap relevan dan dikenal di era global ini, sambil tetap mempertahankan keaslian dan keunikan budaya Mandar yang kuat. Bahasa modern menjadi sarana untuk memperkuat identitas Sandeq, bukan melemahkannya.

Perahu Sandeq yang tradisional dapat menembus cakrawala modern dengan mempertahankan keaslian budayanya sambil mengadaptasi teknologi dan bahasa modern untuk meningkatkan visibilitas dan apresiasi global terhadap kekayaan budaya Mandar.

Sandeq tidak hanya menjadi simbol budaya masa lalu, tetapi juga menjadi ikon kebanggaan budaya yang relevan di era modern.

Perahu Sandeq membutuhkan sentuhan modern untuk meningkatkan visibilitas dan pengakuan internasional, namun tetap mempertahankan identitas budaya Mandar yang kuat.

Perahu Sandeq sang penakluk lautan perlu ada pengakuan UNESCO sebagai warisan budaya dunia, Perahu Sandeq dapat menjadi simbol kebanggaan nasional dan budaya Indonesia, serta meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat global terhadap kekayaan budaya Indonesia.

Perahu Sandeq dapat menjadi mercusuar bagi budaya Mandar untuk dikenal dan dihargai oleh dunia luar. Dengan sentuhan multi bahasa dan  dimempromosikan keunikan dan keindahan Sandeq, masyarakat Mandar dapat memperkenalkan kekayaan budayanya kepada masyarakat global, sehingga meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap budaya Mandar secara keseluruhan.

Perpaduan antara tradisi dan modernitas akan membuat perahu Sandeq semakin relevan dan dihargai di berbagai belahan dunia. Mari kita lestarikan dan jaga perahu Sandeq sebagai warisan budaya maritim yang unik dan berharga bagi masyarakat Mandar.. Itulah Perahu Sandeq, menjadi ikon kebanggaan budaya yang relevan di era modern.

(Aktif Menulis Berbagai Media Harian di Makassar Tahun 90an).