Jumat, 18 Juli 2025

Membuka Harapan dari Bumi Sulbar


Membuka Harapan dari Bumi Sulbar: Apresiasi atas Langkah Strategis Gubernur SDK dalam Ketahanan Pangan

Catatan Safardy Bora

Alhamdulillah, di tengah riuhnya tantangan global dan keluh kesah pangan dunia yang tak kunjung usai, dari tanah Sulawesi Barat, kita menyaksikan seberkas cahaya muncul. Sebuah langkah berani, nyata, dan penuh harap ditempuh oleh Gubernur Sulbar, Dr. Suhardi Duka. Dalam rapat koordinasi yang digelar 17 Juli 2025, beliau bukan hanya menekankan urgensi perluasan area tanam, tetapi juga bersedia turun langsung menembus sekat-sekat administratif dan struktural demi membuka ruang kehidupan: sawah-sawah baru, pangan bagi rakyat.

Langkah Gubernur SDK memerintahkan Dinas Pertanian untuk tidak ragu mengajukan potensi cetak sawah meski berada dalam kawasan hutan lindung (selama tidak termasuk kawasan konservasi) patut diapresiasi sebagai upaya inovatif dan taktis. Di sinilah peran seorang pemimpin diuji—bukan semata mengelola regulasi, melainkan menavigasi jalan keluar dari keruwetan kebijakan demi kepentingan publik.

Namun demikian, agar langkah ini tidak menjadi letupan sesaat yang kehilangan arah, ada baiknya kita menimbang beberapa pendekatan strategis agar program cetak sawah berjalan dengan baik, lestari, dan berdaya guna:

1. Pemetaan Potensi Berbasis Data Spasial dan Sosial Setiap wilayah memiliki riwayat ekologis dan sosialnya sendiri. Perlu pendekatan berbasis peta tutupan lahan (land cover) terkini, peta tanah, dan kerawanan bencana, dikombinasikan dengan data sosial—siapa yang akan mengolah, bagaimana sistem pengairannya, dan apa dampak sosialnya. Kementerian ATR/BPN, KLHK, dan BIG memiliki sumber daya data yang bisa disinergikan dengan Pemprov Sulbar.


2. Revitalisasi Irigasi dan Inovasi Tata Air Mikro Cetak sawah tidak boleh dipisahkan dari soal air. Bukan sekadar membuka lahan, tapi membangun sistem pengairan yang sesuai dengan topografi Sulbar yang banyak berbukit dan berlembah. Teknologi embung kecil, pompanisasi tenaga surya, hingga sistem irigasi tetes untuk kawasan marginal dapat menjadi solusi alternatif.


3. Kemitraan dengan TNI dan Perguruan Tinggi Cetak sawah pernah berhasil di masa lalu karena ada dukungan penuh dari TNI sebagai pelaksana di lapangan. Demikian pula, pelibatan perguruan tinggi seperti Unasman, Unsulbar, dan Polbangtan bisa memperkaya pendekatan dengan riset-riset inovatif dan pendampingan teknologi tepat guna.


4. Transparansi dan Partisipasi Masyarakat Keberhasilan program ini sangat ditentukan oleh seberapa dalam masyarakat diajak terlibat. Keterbukaan informasi, pendekatan musyawarah desa, dan pola bagi hasil yang adil akan membuat para petani merasa memiliki dan menjaga sawah barunya seperti menjaga anak sendiri.


5. Diversifikasi Pangan Lokal Walau beras menjadi target utama, Gubernur SDK juga dapat menjadikan momentum ini sebagai jalan masuk untuk mengangkat kembali pangan lokal Sulbar: jagung gigi kuda, ubi, sorgum, sagu, dan talas. Ketahanan pangan bukan hanya soal stok beras, tetapi tentang keragaman sumber gizi.



Langkah Gubernur SDK sejatinya merupakan tanggapan serius terhadap tantangan besar Indonesia: food insecurity. FAO (2023) mencatat bahwa setidaknya 58 juta rakyat Indonesia berada dalam kondisi moderate food insecurity. Maka dari itu, langkah Sulbar mencetak sawah bukan sekadar proyek pertanian, melainkan strategi peradaban: mempertahankan kedaulatan bangsa dari ancaman lapar.

Dan di akhir renungan, kita kembali pada satu hikmah: tanah yang subur tidak hanya diukur dari tingkat kesuburan lahannya, tetapi dari keberanian pemimpinnya menanam harapan di tengah sempitnya kemungkinan.

Teruskan, Gubernur SDK. Sulbar sedang menanam masa depannya.

Salam Dari Kaltim 

Safardy Bora

(Edisi ke-1) Lamasariang, Riwayat Sebuah Dusun

Di ujung selatan poros Sulawesi, ketika aspal belum sepenuhnya menaklukkan jalan tanah, berdirilah sebuah dusun bernama Lamasariang. Sebuah nama yang berhembus lembut dari lidah-lidah tua, seolah membawa aroma tanah basah dan desir angin laut. Konon, nama itu lahir karena kampung ini dulu dipenuhi pohon lamasariang, yang dalam bahasa Indonesia disebut lontar—pohon perkasa dengan batang menjulang dan daun bagai kipas raksasa, yang memberi naungan dan kehidupan.

Lamasariang bukan sekadar titik di peta, ia adalah denyut kehidupan yang tenang, tempat setiap hari berjalan pelan tanpa tergesa. Jalan nasional yang kini ramai dulu hanyalah lorong panjang berdebu, tempat anak-anak berlarian tanpa alas kaki, dan para ibu menjemur jagung di halaman rumah, ditata rapi di atas tikar pandan yang harum matahari.

Penduduk Lamasariang datang dari berbagai penjuru: Napo Saleko, Napo Buyung, Samasandu, Mosso, Cendra, Galung, Lambepanda’, Puttotor, Pandebulawang, hingga Saliwo’o. Mereka membawa cerita dan darah masing-masing, namun menyatu dalam satu harmoni. Perbedaan tak menjadi jarak; justru ia menjahit kebersamaan yang hangat, sehangat senja yang merunduk di balik pohon kelapa.

Di rumah-rumah, setiap hari terdengar ketukan bertalu-talu dari alat tenun. Suara itu berasal dari tangan-tangan terampil para ibu dan gadis Lamasariang yang menenun sarung sutra Mandar. Profesi ini bukan sekadar mata pencaharian, tetapi warisan budaya yang dijaga dengan cinta. Irama ketukan kayu dan benang yang meregang adalah musik kehidupan, yang mengalun lembut di antara dinding bambu dan semilir angin laut.

Kehidupan mereka sederhana, bertumpu pada huma dan ladang, menanam jagung, ubi kayu, dan bawang kampung di bukit-bukit berbatu. Tanah itu kebanyakan milik maradia, pa’bicara, atau papuangan, yang dengan bijak memelihara hak ulayat. Bila ada yang pindah rumah, acara itu selalu dilakukan setelah salat Jumat, agar banyak tangan ikut mengangkat rumah panggung bersama-sama—sebuah tradisi gotong royong yang sarat makna persaudaraan.

Di setiap rumah panggung, kehidupan berdenyut pelan. Dinding anyaman bambu, atap rumbia yang sesekali menetes ketika hujan lebat, menjadi saksi bisu tawa anak-anak dan percakapan orang tua tentang musim tanam bawang. Malam-malamnya sunyi, hanya lampu minyak yang berkelip, ditemani suara serangga yang bernyanyi di antara rumpun pisang.

Gadis-gadis, para ibu, dan remaja mandi pagi dan sore di lembang-lembang alami yang diberi nama indah: Pokki, Ca’bu, dan Ganda Gandang. Airnya jernih, memantulkan cahaya matahari dan bayangan pepohonan yang rimbun. Di sanalah mereka bercengkerama, tertawa lepas, dan berbagi cerita, menjadikan setiap percikan air sebagai tanda kehidupan yang riang.

Jika ada hajatan pernikahan atau pesta tamat mengaji, suasana kampung berubah menjadi semarak. Sarapo mulai didirikan, panci-panci besar bergelantungan, dan aroma kue tradisional seperti marridi pupu dan maccucur menyebar ke udara. Setengah bulan sebelum acara, rumah keluarga yang akan berpesta sudah ramai oleh sanak saudara, semua datang untuk membantu, menjadikan kebersamaan itu sebagai pesta sesungguhnya.

Kampung ini pernah dipimpin oleh tokoh-tokoh yang namanya tak lekang oleh waktu. Ada Pak Suyuti Tamma, yang disebut orang sebagai Kapala Suyuti, sosok yang tegas namun bersahaja. Setelahnya, Abdul Wahab alias Puanna i Icicci, yang akrab disapa Kapala Matoa, memimpin dengan kearifan adat. Hingga akhirnya, menjelang perubahan zaman, Irsyad Wahab menutup babak terakhir sebagai kepala desa sebelum Lamasariang beralih menjadi kelurahan Balanipa.

Meski pemimpin silih berganti, satu hal tak berubah: kerukunan. Orang Lamasariang hidup seperti air yang mengalir—bening dan tenang. Gotong royong adalah nafas kehidupan; ladang digarap bersama, hajatan dirayakan bersama, duka pun dipikul bersama. Tidak ada yang terlalu kaya, tidak ada pula yang terlampau miskin. Semua cukup, sebagaimana kampung mengajarkan arti kecukupan.

Namun bagiku, Lamasariang bukan sekadar kampung; ia adalah halaman pertama dari sebuah buku kehidupan. Di sanalah aku belajar tentang arti persaudaraan, kesederhanaan, dan harapan. Di balik setiap pohon kelapa, di setiap jalur lorong tanah, ada kenangan yang terpatri. Dan setiap kali aku menoleh ke belakang, aku mendengar suara masa lalu yang berbisik: “Ingatlah kami, sebab kami adalah bagian dari dirimu.”

Catatan harian, awal perjalanan hidupku
Safardy Bora

Jejak Emas yang Hilang dari Pandebulawang

Safardy Bora

Di antara bayang-bayang sejarah Mandar yang megah dan samar, nama Ha'dani atau Dani—putra dari Puangna Massi bin Daengna Nakka—masih bergema lembut di sela-sela desir angin Saleko. Ia dilahirkan sekitar awal 1900-an, pada masa di mana langit masih bersih dari deru pesawat kolonial, namun bumi telah dijejak derap pasukan asing. Dani dikenal bukan hanya sebagai seorang pua patiamah, pewaris darah terhormat, tetapi juga sebagai petani kaya yang menyatu dengan tanah dan emas.

Menurut penuturan cucunya, Safardy Bora, melalui cerita ibunya yang masih membekas hangat di ingatannya, sang Dani bukan petani biasa. Ia menanam emas di dalam hidupnya. Dari emas Pulu Sodzo—emas murni berkilau seumpama cahaya subuh di antara sela anyaman tikar bambu—hingga emas Passambo, berbentuk bulatan pipih yang dulu disimpan para perempuan bangsawan dalam selendang kecil di balik baju lamba-lamba mereka. Bahkan anak-anak perempuan pun kala itu memiliki kepingan emas kecil—indopong dan bali-bali'—sebagai tanda kehormatan dan warisan budaya.

Namun kekayaan itu bukan hanya perhiasan. Ia adalah simbol martabat, hasil keringat, dan kecintaan yang diwariskan turun-temurun. Sayang, sejarah bukan hanya kumpulan kejayaan. Ia juga luka yang menganga.

Ketika bayangan Belanda menebal di Mandar, Saleko tak luput dari incaran. Rumah Dani, yang berdiri di kawasan Saleko—kampung para pandai emas yang harum namanya sejak abad-abad silam—dibakar. Tidak hanya atap dan dindingnya yang hangus, tetapi juga martabat dan harta yang tersimpan di dalamnya. Sunusi, sang anak menantu, ditangkap pasukan Belanda rumah itu. Ia saksi mata dari sebuah penghapusan jejak.

Gelang lenyap, cincin raib, dan perhiasan anak-anak perempuan yang dulu digenggam seperti doa malam kini tinggal kenangan. Begitu pula dengan emas pulu sodzo dan passambo, seperti hilang tertelan waktu. Sejak kejadian itu, Pandebulawang tak lagi terdengar sebagai pusat penempaan emas. Bara di tungku padam. Palu dan landasan diam seribu bahasa. Generasi berikutnya tumbuh tanpa gemerincing logam mulia.

Namun sejarah tidak pernah benar-benar padam. Ia hidup dalam ingatan, dalam cerita cucu yang menulis, dan dalam bisik-bisik tanah tua yang masih menyimpan serpih jejak emas Pandebulawang.