Kamis, 01 Agustus 2024

ORANG MANDAR YANG LAHIR DI JOMBANG || Jejak Mbah Nun di Tanah Mandar

(Tulisan Hamzah Ismail di Majalah Sastra Sabana Yogyakarta, 2015)

Dalam berbagai hal orang Mandar seringkali melibatkan Mbah Nun. Misalnya, ketika terjadi pergantian kepemimpinan di Kanwil Agama Provinsi Sulawesi Selatan. Salah satu calonnya adalah orang Mandar. Terhadap calon dari Mandar ini banyak mendapatkan penolakan dari elit Sulawesi Selatan saat itu. Segala cara diupayakan oleh tokoh-tokoh Mandar, untuk menggolkan calon tersebut. Nyaris tidak membuahkan hasil.

Lalu ada beberapa pihak dari Teater Flamboyant, dan ada satu dua tokoh masyarakat Mandar, menyarankan untuk melibatkan Mbah Nun. Saat maksud itu disampaikan kepadanya, tanpa berpikir panjang, Mbah Nun mau terlibat dan langsung menulis surat yang ditujukan ke Menteri Agama, yang saat itu dijabat oleh Malik Fajar.

Demikian pula, saat terjadi suksesi kepemimpinan di Kabupaten Polewali Mamasa. Tiga tokoh sepuh Mandar, H. Abd. Malik Pattana Endeng, Abdullah Madjid (Mantan Bupati), dan S. Mengga (Mantan Bupati), bersepakat untuk mendorong calon dari sipil menjadi Bupati Polewali Mamasa. Mbah Nun-pun rela menemani mereka untuk menghadap ke Agum Gumelar, Panglima Kodam VII Wirabuwana. Kedekatan Agum Gumelar dengan Mbah Nun dibaca menjadi alasan pelibatan dirinya dalam urusan ini. Dan dari mana orang Mandar tahu bahwa Agum dan Mbah Nun dekat? Karena Mbah Nun pernah menulis di media yang mengapresiasi Agum Gumelar.

Pasca reformasi, dan kran pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) mulai terbuka, orang-orang Mandar pun mulai bergerak, berjuang untuk membentuk sebuah provinsi Sulawesi Barat. Mbah Nun, yang diyakini ‘didengar’ oleh orang pusat pun dilibatkan. Ia dinobatkan menjadi tim penasehat bersama sepuh Mandar lainnya.

Tatkala Gus Dur yang menjadi presiden, Mbah Nun memediasi pertemuan pejuang pembentukan Sulawesi Barat, dengan Gus Dur. Makin yakinlah orang-orang Mandar bahwa perjuangan pembentukan Sulawesi Barat yang sudah lama digelorakan akan mewujudkan hasil. Akhirnya September 2004, Provinsi Sulawesi Barat bisa terwujud.

Pertanyaannya adalah kenapa sepertinya Mbah Nun, tidak mengenali kata ‘Tidak’ bagi orang Mandar? Bahkan dalam berbagai kesempatan ia menyatakan bahwa kala berada di Mandar, dirinya adalah ‘mayat’, yang rela dibawa kemana saja. Inilah yang sampai sekarang menjadi pertanyaan besar baik di internal Mandar maupun luar Mandar.

Nurdin Hamma (76), Pimpinan Muhammadiyah Cabang Balanipa, salah seorang sepuh, seorang tokoh Mandar juga sungguh kagum kepada Mbah Nun, mencoba mengurai jawaban atas pertanyaan itu. Dalam pandangannya, Mbah Nun adalah guru Bangsa yang riil. Hampir seluruh wilayah Indonesia didatanginya, semata untuk mendidik manusia.

“Cak Nun adalah orang Mandar yang kebetulan lahir di Jombang. Kedatangnnya di Mandar lebih merupakan upaya menapaktilasi perjalanan sejarah panjang Indonesia. Hal itu mungkin dianggapnya penting, untuk mematrikan pada dirinya bahwa Indonesia ada di mana-mana di Nusantara ini, tanahnya luas dan subur namun rakyatnya bak penumpang yang ketinggalan kereta”, ungkap Nurdin Hamma.

Sekarang, mereka yang dulu, sekitar 30-an tahun lalu, hidupnya liar, mabuk-mabukkan dan sepanjang malam bernyanyi-nyanyi di pinggiran jalan, kini sudah memasuki usia yang matang, menuju setengah abad. Profesi mereka beraga. Pedagang, Guru, PNS, tukang ojek, dan sebagian kecil bergabung ke partai menjadi politisi.

Mereka sudah beranak pinak, dan sebagian dari mereka sudah ada yang anaknya sarjana. Mereka tetap saja hormat dan takzim kepada Mbah Nun. Sekarang mereka jarang menyebutnya Emha. Mereka menyebutnya Cak Nun.

“Cak Nun, adalah guru, kakak dan sahabat yang setia menjadi ‘keranjang sampah’ dari keluh-kesah kami. Segala sesuatu urusan kami selalu disandarkan kepada apa wejangan Cak Nun. Untuk memberi nama putra atau putrinya yang baru lahir, mintanya pun ke Cak Nun.”

“Beliau adalah bagian dari hidup kami.”

“Apa yang dulu diajarkan oleh Cak Nun kepada kami menjadi spirit kami dalam menjalani hidup. Kami bersyukur karena Cak Nun berkenan mengarahkan kami menjadi orang baik, itu cukup bagi kami. Tentu penilaian ini sifatnya subjektif, tapi setidaknya kami bangga hidup dengan apa adanya. Kami bisa hidup dengan tanpa mengganggu orang lain, tanpa merampas hak orang lain”.

“Kami sungguh cinta kepada Cak Nun, dan kecintaan itu pun kami wariskan kepada anak-anak kami”.

Tinambung, 4 Mei 2015

Sumber : https://www.caknun.com/2018/orang-mandar-yang-lahir-di-jombang-jejak-mbah-nun-di-tanah-mandar/3/

PRAYOGA WIJAYA || Titip Mandar Ke Betawi

Prayoga Wijaya, anak muda kelahiran Betawi Jakarta 1996 ini berada di Mandar pekan lalu. Ia menemui saya dan mengutarakan niatnya untuk menulis tentang budaya Mandar. Awalnya saya pikir ini adalah program kementerian pendidikan sebagaimana yang beberapa penulis tahun-tahun sebelumnya. Ternyata inisiatif pribadi. "Sulbar adalah provinsi ke-17 yang ia kunjungi dan saya menulis tentang budaya mereka, Bang'. Jelasnya ketika saya telisik motif penulisannya. 

Kepadanya saya mengukir apresiasi yang dalam "Ini sangat dahsyat dan tak semua orang bisa lakukan. Sebab kegiatan begini tentu menyita waktu, tenaga dan fikiran. Bukan hanya itu, budget yang disediakan dalam setiap perjalanan itu tentu tak sedikit". Ucapku. Usut punya usut, selain memang karena masih single, lulusan antropologi di sebuah universitas di Jakarta ini memang intens melakukan penjejakan budaya-budaya nusantara. "Saya harus fokus dalam 4 tahun kedepan, karena setelah itu, saya akan nikah Bang, Hehe". Pungkasnya dengan kesan bercanda. 

Prayoga menemui saya atas rekomendasi beberapa orang mahasiswa pencinta alam (Mapala) di Majene. Dari sana juga nomor kontak saya diperoleh sehingga bisa bertemu dan berdiskusi dengannya. Selama beberapa hari di Mandar, ia menemukan banyak hal-hal terkait kebudayaan. "Tapi saya bingung harus mulai dari yang mana. Kemarin saya dapat Sayyang Pattu'du'. Says pikir ini kayaknya cocok, Bang'. Akunya. Saya lalu menyarankan padanya agar fokus pada tema sastranya, yakni Kalinda'da'. Sayyang Pattu'du' sudah banyak ditulis bahkan di filmkan oleh para peneliti. Belum lagi liputan televisi nasional sudah tak terhitung. 
Kalinda'da adalah karya sastra yang unik di Mandar. Ia hanya bisa dilongok dalam ritual Khatam Quran. Kalinda'da' adalah pakem pattu'du' selain sayyang dan rebana. Kenapa saya bilang unik, karena ketika syair ini diadopsi ke dalam genre sayang-sayang, kacaping  dan rawana towaine, kalinda'da' tak lagi punya nama disana. Ia hanya ditemukan dalam lirik yang ternyata syair kalinda'da'. 

Mendengar penjelasan saya tentang Kalinda'da', ia tertarik. Terlebih narasi kalinda'da' juga bermuara pada ritual totamma', juga terkorelasi dengan sayyang pattu'du', Rawana Tommuane. Untuk menjadi pemantiknya, saya lalu sodorkan tiga buku yang terkait dengan kalinda'da' dan satu buku tentang musik tradisional Mandar. 

Semoga dengan diskusi dan 3 buku itu, Prayoga mampu meramu dan menemukan narasi yang tepat untuk memberikan kabar pada semua orang tentang Manusia Mandar dan kebudayaannya. Sebelum pamit, ia sempat menjelaskan bahwa nantinya, tulisannya itu bukan bentuk reportase tapi jurnal. Ketika saya tanya kenapa memilih jurnal, bukankah model tulisan reportase juga lebih menarik. Alasannya, saya tak ingin terjerat dalam komersialisasi budaya orang. Siapa sih saya, Bang. Saya tak punya kapasitas untuk mengajari orang tentang budaya, orang Mandar sendiri yang mesti mengajari mereka, melalui jurnal yang saya tulis. Beda toh, Bang". 
Selamat Berkarya. 

TAMMALELE YA TAMMALELE, Bukan Yang Lain !





TAMMALELE YA TAMMALELE, Bukan Yang Lain !
(Pengantar Pada Buku Sinisme Lele: Banyolan, Humor dan Pesan Moral Tammalele)  

Catatan Muhammad Munir

Tammalele, nama yang unik dan mengandung banyak filosofi bermakna serta mengundang berbagai macam interpretasi terkait sosok yang selalu kami panggil A'ba. Umurnya dipastikan telah setengah abad. Saya mengenal wajah dan sosok beliau sejak tahun 1999 kendati beliau mungkin tak pernah mengenalku, terlebih mungkin tak akan menyangka bahwa lebih satu dasawarsa kemudian, kami dipertemukan di sebuah rumah kontrakan yang  tepat berada di Depan Masjid Jami' Nurul Amin Desa Batulaya Kecamatan Tinambung. Rumah milik seorang polisi bernama Hammadia. 

Tahun 2015, adalah tahun dimana saya dilahirkan pertama kali di dunia kebudayaan. Tammalele yang sejak puluhan tahun kerap saya temui di berbagai tempat berbeda ini muncul di kediaman kami sesaat sebelum makan siang keluarga. Beliau bersama Pak Nurdin Hamma menghabiskan waktu berdiskusi sampai 2 jam sekaligus mengajak saya berbaur mengenal budaya Mandar secara spesifik. 

Pak Nurdin Hamma mengenalkan saya pada item kebudayaan bernama beru'beru' atau melati. Beru' Beru mungkin sama sistem pertumbuhannya di daerah lain, harumnya juga pasti tak berbeda. Tapi mengapa Beru' Beru' Tokandemeng begitu familiar di kalangan masyarakat Mandar?. Disinilah intinya kebudayaan dibincang. Beru' Beru' Tokandemeng hanyalah salah satu dari produk kebudayaan yang dikenal lebih pada pendekatan perlakuan manusianya yang mampu menjadikan sebuah obyek sebagai entitas dan identitas budaya. 

Dalam dunia bahari (nama bekennya, maritim) ternyata sama. Perahu di Mandar dan Pelaut Mandar dikenal sebagai pelaut ulung itu ternyata bukan pada bentuk, struktur dan konstruksinya saja, tetapi lebih pada perlakuan orang Mandar terhadap perahu, bahkan pada laut itu sendiri. Perahu didunia ini boleh jadi sama, sebab semua berlayar diperairan dan dinakhodai oleh manusia yang tentu saja memiliki kemampuan dan keahlian lebih dari yang dimiliki para sawi kappal. Ternyata bukan itu pembedanya, melainkan pada perlakuannya terhadap perahu dan alam dimana ia melayarkan perahu. 

Perlakuan terhadap sebuah obyek itulah yang menandai sebuah proses peradaban dibangun oleh masyarakat menjadi entitas dan identitas kebudayaan. Beru' Beru' To Kandemeng ternyata dipetik oleh para perempuan dengan sangat lembut dan disimpan pada wadah yang juga sangat spesial. Perahu dan laut pun bagi orang Mandar diperlakukan lebih manusiawi (Istilah kerennya, Napattau-i Lopinna) sehingga dalam prosesnya perahu tak hanya menjadi sebuah benda yang berbentuk, tapi juga diperlakukan layaknya sebagai manusia, mulai dari bentuk sampai ritualnya. Status perahu yang merupakan pemberian atau warisan dari orang tuanya akan diperlakukan layaknya orang tua. Adapun perahu yang dibelinya akan diposisikan sebagai saudara, demikian juga perahu yang dibuat secara pribadi dianggap sebagai anaknya. Disinilah perlakuan itu menentukan entitas dan identitas, sebab orang Mandar dalam memesrai lautan sangat memahami betul perahu yang sementara ia gunakan melaut. Perlakuannya pasti beda antara perahu sebagai bapak, saudara dan anak. Laut dalam hal ini juga diperlakukan layaknya menemui istrinya, sehingga bentuk perlakuan terhadap istri tercintanya selalu mengedepankan sikap dan bahasa yang santun dan romantis. Maka jangan heran bahwa gelombang sebesar apapun bagi orang Mandar mampu ia taklukkan dengan hanya bi'jar berupa mantra yang dirapalkan sebagai ungkapan rasa cinta pada sang kekasih!. 

Dari labirin kebudayaan inilah aku dilahirkan ketika angin sepoi berhembus dari bibir-bibir alam yang rancu. Sosok Pak Nurdin Hamma dan A'baTammalele itulah yang membidani kelahiran saya. Aku lahir bertumbuh layaknya seorang bayi yang jangankan tertawa, menangis pun belum tahu. Tammalelelah yang mengenalkan, mengajarkan, memahamkan dan menuntunku hingga sampai pada proses ini. Hari ini pun saya tetap masih berproses dan terus dipoles oleh beliau. 

Mengingat jejak persinggungan saya dengan A'baTammalele dalam narasi kebudayaan tentu tak berlebihan jika kemudian saya mendaulatnya sebagai sosok Ayah atau A'ba sekaligus mendapuknya sebagai guru besar sejarah dan kebudayaan. Sebagai orangtua, ia terus melakukan berbagai pencarian dan mengajakku menelusur, meneliti dan meriset ruang-ruang tertentu dimana saya dibutuhkan untuk hadir membaca batin para leluhur. A'ba kerap hadir dan memberikan nutrisi layaknya burung yang selalu menyuplai makanan pada anaknya dalam situasi apapun. 

Sampai disini, saya terkesan dengan kisah seekor burung yang meletakkan telurnya disebuah daerah bergurun. Empat biji telurnya diletakkan disarangnya dan dengan setia ia menjaganya. Ia mengeraminya beberapa hari sampai keempat telurnya tersebut menetas. Rasa cinta dan tanggung jawab pada kelangsungan hidup generasinya membuat ia tiap hari terbang jauh untuk sekedar mencari dan mengumpul bahan makanan untuk anak-anaknya. Letih, lelah tak ia rasakan demi melihat keempat anaknya tersebut bisa menikmati makanan hasil jerih payahnya. 

Hari terus berlalu, tak terasa ia merasakan usianya semakin bertambah, tubuhnya melemah. Ia sedih melihat anak-anaknya belum bisa cari makan. Sementara ia merasakan kemampuan untuk mencari makan buat anak-anaknya semakin menipis. Jika ia tak lagi bisa bekerja untuk anak-anaknya, lalu siapa yang akan menafkahi anaknya? Perasaan itu kian hari menderanya, sehingga untuk tidurpun ia rasakan semakin sulit. Galau menyerangnya, bila ia tak menemukan jalan keluarnya, itu berarti alamat kehidupannya akan berakhir tragis bersama keempat anaknya. Ia bahkan berfikir untuk membunuh dan memakan anak-anaknya. Tapi urung ia lakukan, sebab apa artinya hidup tanpa mereka, bukankah ia akan lebih tersiksa hidup seorang diri?.

Fikirannya itu selalu menghantui. Ia kian tak bisa berbuat apa-apa. Jika ia mati, itu berarti kematian buat anak-anaknya yang akan memutus mata rantai kehidupan dan kelangsungan hidup bagi spesiesnya akan berakhir. Hingga kemudian ia berfikir untuk membunuh dirinya, sebagai penyambung kehidupan anak-anaknya. Yah, tak ada pilihan lain selain harus mati untuk anak-anaknya.  

Maka dengan niat yang tulus dan berharap darah dan dagingnya akan cukup jadi menu santapan bagi anak-anaknya untuk kemudian bisa terbang mencari makanannya sendiri secara mandiri. Ia lalu mencabut bulu ekornya dan menikam dirinya. Darah segar memuncrat dan menjadi minuman buat anak-anaknya yang kehausan. Tubuhnya lunglai lalu kemudian tersungkur. Ia menghadap Tuhannya dengan sebuah kebahagiaan, karna mampu memberi yang terbaik buat anak-anaknya. Terbaik dan sangat dibutuhkan oleh anak-anaknya.

Darah dan daging tersebutlah yang mereka santap setiap pagi, siang, sore dan malam. Kandungan gizi dari daging ibunya itu menjadi semangat bagi keempat anak burung itu untuk belajar terbang dan beranjak dari tempat mereka. Mereka hidup dengan kemandirian untuk menjadi diri mereka, hidup dari sebuah proses pengorbanan seorang ibu.

Kisah yang mengharukan dan sangat membanggakan. Sebuah proses kreatif untuk mempersiapkan kelangsungan hidup generasinya. Kisah dari kehidupan burung yang rela mati demi menjadi sumber kehidupan buat anak-anaknya. Lalu adakah kita bisa menemukan ibu seperti itu dikehidupan manusia?
Adakah seorang pemimpin hari ini yang rela untuk sekedar mencabut bulunya demi kelangsungan hidup rakyatnya? Adakah seorang wakil rakyat yang rela mencabut bulunya demi kesejahteraan rakyat yang diwakilinya? Adakah seorang guru yang rela mencabut bulunya untuk mempertahankan kelangsungan ilmu pengetahuan? Adakah dari golongan manusia ini yang mampu mengorbankan kenikmatan yang dia miliki demi keberlangsungan hidup dan kemanusiaan?.

Pertanyaan yang dari awal saya rasakan hanya akan kita temukan di dunia para binatang ternyata masih ada dalam kehidupan yang sebenarnya. Dialah A'baTammalele dalam kehidupan manusia. Tammalele tentu bukan kisah dalam tuturan para pendongeng ketika seorang ayah atau kakek sedang berusaha mengantar anak atau cucunya dalam kepulasan dan mimpi-mimpinya saat terlelap. A'ba Lele telah mampu menunjukkan pada dunia, pada anak-anaknya, pada murid-muridnya. Dan tentu saja, karakter itu tak akan hilang dari sosok beliau sebab orangtianya telah menitahkan kata berupa doa suci lewat nama Tammalele, tak akan berubah sikap, tak akan lekang, tetap konsisten, komitmen merawat sejarah dan kelangsungan peradaban di Mandar.

Sehat Selalu A'ba !