Jumat, 03 Januari 2025

ARY IFTIKHAR SHIHAB || Wajah Baru di Parlemen Sulbar


ARY IFTIKHAR SHIHAB adalah salah satu wajah baru yang mengisi parlemen Sulbar sejak dilantik Kamis, 26 September 2024 lalu. Lelaki yang akrab disapa Koje’ ini resmi menjadi Anggota DPRD Sulbar Periode 2024-2029 dari Fraksi Partai Nasdem Dapil Sulbar 2 (Polman A). Dalam proses pemenangan SDK-JSM pada Pilkada kemarin, Koje’ menjadi salah satu pemantik kemenangan karena jaringan anak muda yang tergabung dalam komunitas “Sama Rata” dan konstituen pendukungnya di berbagai kecamatan yang ada di Polman A, khususnya petani dan pecinta ayam bangkok. 

Sejak awal terjun ke dunia politik, sosok Koje’ seakan menjadi medan magnet. Itu terbukti ketika mencaleg di Partai Demokrat pada Pemilu 2019 berhasil meraih suara yang cukup signifikan, meski Husain Hainur menutup aksesnya untuk melenggang ke parlemen Sulbar. Kecewakah Koje’ atas kenyataan ini?. Ternyata tidak, Ia bahkan semakin intens membangun komunikasi dengan masyarakat berbagai kalangan. Ia memesrai banyak anak muda produktif sehingga ketika tahapan Pemilu 2024 dimulai, ia mendaftarkan dirinya sebagai Caleg Propinsi Sulawesi Barat di Partai Nasdem. 

Di Nasdem-lah garis takdir yang tergurat di dahinya terkuak dan mencatatkan namanya sebagai salah satu Anggota DPRD Sulbar 2024. Dalam darahnya, mengalir sebagai dzurriyah nabi bermarga Ash-Shihab. Marga yang terkenal di Indonesia lewat nama besar Prof. Dr. AGH. Muhammad Quraysh Shihab, Lc. MA (ulama ahli tafsir dan mantan Menteri Agama RI). Marga Shihab mungkin tak setenar pam Al-Attas di Mandar, tapi Koje’ pantas dipanggil habib atau Saiyye’. Sayyid adalah kelompok sosial yang selalu mempertahankan genealogy dan sistem kafa’ah (kawin seketurunan) bagi keturunan yang berjenis kelamin wanita yang digelari dengan panggilan Syarifah. 

Akan halnya di Mandar, keluarga sayyid ini menempati posisi yang tak kalah terhormatnya dengan bangsawan Mandar. sebagaimana S. Mengga, yang menjadi kakek dari Ary Iftikhar Shihab. Nashab Koje’ di Mandar tersambung langsung ke S. Mengga yakni dari salah satu anak S. Mengga yang bernama Syarifah Asiah. Syarifah Asiah ini putri S. Mengga dari istrinya yang bernama Hj. Nyilang. Syarifah Asiah bersaudara kandung dengan Jendral Salim S. Mengga dan Ir. Aladin S. Mengga. 
Syarifah Asiah S. Mengga ini dipersunting oleh Prof. Dr. KH. Umar Shihab. Dari pernikahan inilah lahir Ary Iftikhar Shihab atau Koje’. 

Prof. Umar Shihab bersaudara dengan Prof. Quraish Shihab dan Prof. Dr. H. Alwi Abdurrahaman Shihab yang juga tercatat pernah menjadi Menko Kesra dan Menteri Luar Neger RI. Prof. Umar Shihab sendiri adalah tokoh penting yang pernah menjabat Ketua MDI Sulsel dan Ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia) Pusat. Itulah makanya, Koje bersepupu satu kali dengan Najwa Shihab, Tokoh Literasi Nasional yang pernah menjadi Duta Baca Indonesia. 

Baik Marga Al-Attas dan Ash-Shihab memiliki nashab dan sanad keilmuan yang tersambung ke Hadramaut Yaman, Dari sini manusia-manusia terhormat yang dikenal sebagai Hadrami terekam dalam sejarah melakukan migrasi besar-besaran ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia sejak abad ke-18 dan 19. 

Migrasi ini dipicu oleh berbagai factor termasuk ekonomi, politik dan perubahan iklim. Mereka berasimilasi dengan masyarakat setempat dan seringkali menikahi penduduk lokal sehingga menghasilkan komunitas Hadhrami-Indonesia yang cukup besar.

Mereka ini kemudian berdiaspora ke berbagai wilayah nusantara, termasuk Sulawesi yang didalamnya ada Mandar. Marga Sayyid ini dipercaya sebagai turunan Nabi Muhammad melalui cucunya, Hasan dan Husain. Karena status inilah mereka dihormati dalam masyarakat Islam sebagai pemimpin agama, ulama atau intelektual bahkan sebagai pemimpin daerah seperti Gubernur, Bupati dan Anggota DPR. Dari sisi ini, Koje menjadi wakil rakyat salah satunya atas pertimbangan nashabnya.

***
         
Koje’ lahir di Makassar, 10 Januari 1977. Nama Koje’ lekat sebagai panggilan akrabnya sesungguhnya terinsipirasi dari sebuah film di TVRI Nasional yang diputar setelah siaran Dunia Dalam Berita. Film itu berjudul Detektif Koje yang pemeran utamanya berperawakan botak yang mirip dengan dirinya saat itu. Itulah makanya Ary Iftikhar lekat dengan panggilan Koje sejak usia 5 tahun. Koje menyelesaikan pendidikan dasar dan lanjutannya di Makassar. 

Setamat SMA, ia pindah ke Jakarta. Ia sempat ke Amerika mengambil kejuruan. Setelah itu, ia kembali dan memilih melanjutkan pendidikannya di Fakultas Tehnik Sipil Unissula (Universitas Sultan Agung Semarang. Setelah menyelesaikan kuliah, ia sempat terjun ke dunia bisnis dan merintis usaha suplai kelapa untuk perusahaan santan kara, santan kelapa siap pakai. 

Tahun 2008, ia memilih tinggal di Polman pasca meninggalnya kakeknya, S. Mengga akhir 2007. Di Polewali ia memilih menjadi petani dan berbaur dengan masyarakat petani. Dari sinilah muncul niatan terjun ke dunia politik. Ia merasa prihatin dengan kondisi dan sejumlah persoalan yang melingkuip dunia pertanian. Setelah merasa siap untuk bertarung dalam kontastasi pemilu, ia mulai dengan mencaleg di Demokrat tahun 2019 meski belum berhasil. Ia kembali mencoba di Partai Nasdem pada Pemilu 2024 dan berhasil. 

Sejak itu, pria yang tinggal di BTN Polewali Residen Madatte ini menjalani hari-harinya sebagai wakil rakyat. 
Termasuk menjadi Ketua Tim Koalisi Partai Pasangan SDK-JSM pada Pilgub Sulbar 2024.            

SYAMSUL SAMAD || Loyalitas Tanpa Batas


H. SYAMSUL SAMAD, demikian nama yang lekat pada sosok politisi muda yang saat ini menjadi nakhoda DPC Partai Demokrat Polewali Mandar. Keberadaannya di Tim Pemenangan SDK tak diragukan bahwa ia adalah kader yang benar-benar menjaga komitmen. Rumah Putih Palippis yang tak lain rumah pribadinya menjadi markas perjuangan, tidak saja bagi tim koalisi tapi juga relawan dan simpatisan menjadikannya sebagai tempat diskusi, kongkow-kongkow antara sesama pendukung SDK- JSM.

Saya mengenalnya sejak dari 2009 dari seringnya kami ketemu saat berkunjung ke Kantor DPRD Polewali Mandar. Meski kami berlainan partai, tapi komunikasi tak menghalangi untuk berdiskusi tentang kondisi masyarakat Polewali Mandar. Begitupun saat menjadi Anggota DPRD Sulbar, komunikasi kami terus terjalin.

Pria yang lahir di Desa Bala Kecamatan Balanipa, 4 Oktober 1980 ini punya garis takdir yang cukup cemerlang. Betapa tidak, pada tahun 2009 ia merintis karier politiknya di Partai Demokrat. Bermodal kost politik 20 jutaan, ia berhasil meraup suara 1.300 dan mengantarnya sebagai Anggota DPRD Polewali Mandar periode 2009-2014. Di Polman, hanya satu periode ia jalani dan beranjak ke level propinsi. Keputusan ini termasuk berani dan beresiko, tapi bukan Syamsul jika ia tak siap ditampar oleh resiko. 

Baginya, bertarung di tingkat kabupaten dan propinsi sama saja, sebab penetunya adalah konstituen yang kerap ia bina selama menjadi Anggota DPRD Polman. Sebagai aktifis, ia faham betul kalkulasi politik dan startegi kemenangan yang mesti ia jaga. Hasilnya kemudian, sebanyak 4.200 suara mengantarnya menjadi salah satu dari 45 Anggota DPRD Sulbar periode 2014-2019. 

Pada Pemilu 2019-2024 juga demikian ia kembali dengan mudah meraup suara dari dapil Polman B dan mengantarnya menjadi Anggota DPRD Sulbar untuk kedua kalinya dengan perolehan suara yang signifikan, yakni 6.700 suara. Lolos sebagai wakil rakyat dua periode tentu bukan hal mudah, sebab tak jarang politisi lain hanya mampu bertahan 1 periode saja. Tapi Syamsul yang nyaris diterima semua kalangan justru enjoy dan terus mendapat dukungan rakyat. Kondisi ini memberinya peluang kembali lolos pada Pemilu 2024 dengan mengantongi suara 11.850. Ia kemudian kembali dilantik pada 26 September 2014 di untuk periode yang ketiga kalinya. 

***

Jangan pernah berfikir bahwa Syamsul yang akrab disapa Ancu ini adalah anak orang kaya atau pejabat tinggi. Ia lahir dari seorang ayah bernama Abdul Samad dengan ibu yang bernama Musdalifah. Pasangan suami istri menggantungkan hidupnya sebagai petani biasa di Desa Bala (dulu Desa Pambusuang). Syamsul adalah anak kedua dari 5 bersaudara, yakni Hasnah Samad, Syamsul Samad, Darmawati Samad, Kasmawati Samad dan Ahmad Samad. Ketika bencana banjir besar 1987 melanda Polewali Mamasa (sekarang Polewali Mandar) kondisi ekonomi masyarakat berada pada titik nadir. Kondisi ini membuat Abdul Samad memilih hijrah ke Karossa Mamuju. 

Tujuannya tentu untuk mengubah nasib dengan tetap menjadi petani. Ia dibantu oleh istrinya berjualan garam dan serabutan di pasar Karossa. Itulah makanya, Syamsul Samad menempuh pendidikan dasarnya di SD Karossa yang kebetulan berada di dekat rumahnya. Setamat di SD, ia kemudian lanjut ke SMP Karossa. Disini perjuangan Syamsul mulai dipertaruhkan. Betapa tidak, setiap hari ia harus berjalan kaki sejauh 6 km untuk sampai ke sekolahnya. Ini dilakukan karena orang tuanya tak mampu membelikannya sepeda. Jangankan sepeda, untuk kebutuhan kesehariannya saja sudah tertatih. 

Tapi Syamsul beruntung memiliki orang tua yang berfikir maju. Bagi Pak Samad, pendidikan bagi anak-anaknya adalah nomor satu. Tak boleh ada anaknya yang tak sekolah hanya karena kendala ekonomi. Syamsul yang nota bene anak kedua tentu tak memiliki kesempatan bermanja-manja. Betapa pun kesulitan yang mendera keluarganya, ia tjuga punya tekad untuk tetap bersekolah. Untuk menyiasati kehidupannya, Syamsul bahkan tak jarang harus numpang kerja di bengkel, jadi kernet mobil penumpang jurusan Karossa-Mamuju. Itu ia lakukan sampai tamat SMP.

Setelah tamat SMP, Syamsul memilih merantau ke Parapare. Disana ia mendaftar ke SMA 1 Parepare, sebuah sekolah unggulan yang siswanya rata-rata anak orang kaya. Sekolahnya memiliki 23 kelas yang setiap kelasnya diisi dengan 40 orang siswa. Menurut Syamsul, diantara seribuan siswa di sekolahnya, hanya dia yang menggunakan sepeda. Di Parepare, Syamsul menumpang di rumah salah seorang keluarganya selama setahun, setelah itu ia memilih in the kost dan hidup mandiri. Itu ia lakukan karena tak ingin merepotkan keluarganya, termasuk ia tak banyak lagi berharap pada orang tuanya di Karossa. 

Dalam kondisi begtu, Syamsul tak kehilangan akal untuk tetap bisa melanjutkan sekolahnya. Itulah makanya, Syamsul menyiasati kehidupannya di Parepare dengan pergi ke pasar dan membuka permainan catur tiga langkah. Dari sini, ia menghandel permainan dengan lawan tandingnya yang harus membayar baru bisa jadi penantangnya. Pola permainannya, jika penantangnya mampu mengalahkannya dalam tiga langkah, maka ia akan membayar senilai yang telah ditentukan. Syamsul memang telah menguasai rahasia permainan ini sehingga bisa dipastikan ia dapat uang, sebab ia memiliki rahasia permainan yang tak memungkinkan lawannya menang. Dalam kondisi susah, manusia memang cenderung kreatif, demikianlah yang terjadi pada Syamsul Samad. 

***
Fase kehidupan Syamsul semakin menantang setamat ia di SMA 1 Parepare. Ia melanjutkan pendidikannya dengan mengambil Diploma-3 di STAIN Parepare tapi kemudian memilih pulang ke Bala dan melanjutkan studinya di Unasman. Gelar sarjana berhasil ia dapatkan sembari aktif di berbagai organisasi, salah satunya adalah HMI. Ia tercatat sebagai Ketua HMI Cabang Polemaju pada tahun 2005-2007 dan Ketua Karateker Cabang HMI Persiapan Polman pada 2007. Pada jenjang organisasi, ia dikenal teruji dan matang. 

Dari dunia pergerakan Syamsul mulai memasuki dunia politik, Secara, aktifis memang cenderung mencari dunia yang bisa dengan mudah mengembangkan jati dirinya untuk bermanfaat bagi banyak orang. Itu yang menjadi pilihan Syamsul Samad. Sebelumnya, ia memang pernah mendaftar STPDN tapi gagal karena tidak ada yang back up, itupun ia gugur  pada tahap akhir, yakni sesi wawancara. Begitulah jalan hidup seorang Syamsul yang hidupnya dibiarkan mengalir bagai air saja. 

Melabuhkan pilihan politik di Partai Politik terhitung mulai tahun 2007. Saat itu, Andi Mappangara, Anggota DPRD Polman Periode 2004-2009 mengajaknya untuk mengambil bagian dalam Muscab Partai Demokrat. Peran Syamsul dalam proses ini sangat menentukan bagi kemenangan Mappangara sebagai Ketua DPC Partai Demokrat. Alasan itu kemudian membuat Syamsul didapuk jadi sekretaris. Dari sinilah, ia membangun komunikasi dengan para aktifis untuk berjuang dalam Pemilu 2009. Benar saja, Syamsul yang terdaftar sebagai Caleg Partai Demokrat Dapil 4 ini lolos menjadi Anggota DPRD Polman Periode 2009-2014.  

Terpilih sebagai Anggota DPRD Polman awalnya merasa lucu. Betapa tidak, ia yang sebelumnya sering muncul di Kantor DPRD dan Kantor Bupati membawa proposal kegiatan kini bisa sejajar dengan anggota dewan dan para pejabat teras di daerah ini. Terlebih saat itu, ia dipercaya menjadi Ketua Komisi I yang memungkinkan lebih intens bertemu dengan mereka. Ia juga semakin dikenal oleh masyarakat. Ia memang tak banyak dikenal oleh masyarakat waktu itu, sebab sejak kecil ia dibesarkan di luar daerah. 

Hal yang mendesak dilakukan olehnya adalah membina para pemuda kampung melalui sepakbola, selebihnya ia focus mengubah mind-set para pemuda dan warga sekitar. Terbukti, Syamsul berhasil mengantarkan mereka menjadi generasi yang penuh manfaat bagi sesame.

Mereka semakin maju cara berfikirnya melalui pendekatan Syamsul Samad. 
Sosok Syamsul juga dikenal konsisten dan komitmen memperjuangkan nasib rakyat atau konstituen yang jadi basis perjuangannya. Hal inilah yang menjadi alasan bagi Syamsul sehingga memutuskan untuk maju sebagai Caleg DPRD Sulbar pada Pemilu 2014-2019. Keputusan politiknya itu membuahkan hasil, bahkan kini memasuki periode ketiganya mengemban amanah rakyat di Dapil Sulbar 3 atau Polman B. 

Sejak berada di DPRD Sulbar, Syamsul dikenal banyak memiliki konstribusi dalam mengeksekusi berbagai aspirasi masyarakat yang diserapnya. Termasuk menjadi Ketua Komisi dan Ketua Pansus/Panja terkait Tata Tertib DPRD Sulbar dan Perubahan Struktur Kelembagaan. Ia juga dipercaya menjadi Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Polewali Mandar sejak tahun 2018 sampai sekarang.  
    
***

Sukses didunia politik tak membuatnya lupa untuk terus belajar dan melanjutkan pendidikannya. Pendidikan adalah prinsip dan amanah dari ayahnya sehingga ia tercatat sebagai alumni pasca sarjana (S-2)UNIBOS-Universitas Bosowa (dulu Universitas 45) Makassar dan saat ini merupakan candidat doctor program studi Pembangunan UNHAS Makassar. 

Syamsul melepas masa lajangnya ketika masih menjadi anggota DPRD Polman, tepatnya tanggal 5 Mei 2012. Ia berhasil mempersunting mojang Samasundu bernama Marwah, S.Pd., M.Pd. Dari pernikahannya tersebut, ia dikaruniai 2 orang putra dan satu orang putri, masing-masing bernama Muhammad Andra Moissani Manggala SS; Muhammad Arya Gadi Fadhlulah SS; dan Alea Giyandra Putri SS. 

Kini Syamsul bersama keluarga tinggal di sebuah rumah berarsitektur modern dan artistic yang terletak di bilangan Jalan Trans Sulawesi Palippis. Ruamh kediamnnya ini dikenal dengan Rumah Putih Palippis. Dari rumah ini juga strategi pemenangan pasangan SDK-JSM dimatangkan.     

SURAIDAH SUHARDI || Membangun Pribadi Berkarakter Masa Depan

Dr. Hj. Sitti Suraidah Suhardi, M.Si, demikian nama lengkap dari politisi yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Sulbar periode 2024-2029. Sebelumnya, ia adalah Ketua DPRD Sulbar periode 2019-2024. Bergesernya jabatan itu disebabkan Demokrat mengalami penyusutan perolehan suara di beberapa dapil hingga Golkar menyalipnya. 

Suraidah lahir di Makassar, 30 Juli 1986. Ia adalah putri kedua dari Suhardi Duka dengan Hj. Harsinah Dg. Ngasseng. Ia lahir di tahun yang bertepatan dengan keputusan SDK pulang ke Mamuju untuk membangun kariernya yang saat itu telah mengantongi SK sebagai PNS di Depatemen Penerangan. SDK menikah dengan Harsinah saat masih berstatus mahasiswa, tepatnya pada tanggal 25 Mei 1983. Praktis anak pertamanya yakni Sitti Sutinah dan Sitti Suraidah lahir di Makassar. Itulah makanya, Suraidah dan Sutinah menempuh pendidikan dasarnya di SDN Binanga, meski keduanya lahir di Makassar.  

Jenjang pendidikan lanjutannya ia tempuh di SLTPN 1 Mamuju (2001) kemudian lanjut ke SMA Nahdiyat Makassar (selesai tahun 2004). Adapun jenjang pendidikan S1-nya ia tempuh di STIE Muhammadiyah Mamuju (2010) dan lanjut S2-nya di Universitas Indonesia Timur Makassar (2013) dan puncaknya, Suraidah menyandang gelar doktoralnya di UIN Alauddin Makassar pada tahun 2022. 

Suraidah tumbuh dan berkembang menjadi anak yang tangguh, suaranya lantang dan tegas, tatapan matanya tajam. Meski dibalik itu, ia memiliki kebiasaan sakit ketika ditinggal oleh ayahnya keluar daerah. Bahkan, SDK harus menjahit baju khusus yang diperlihatkan kepada Suraidah ketika ia perjalanan dinas. Lewat baju itu, kerinduan Suraidah kepada ayahnya tak meradang dan merasa nyaman dengan baju bapaknya itu. Mungkin karena itu, SDK menjadikan putrinya sebagai politisi, bukan sebagai ASN. 




Tahun 2006, Suraidah mendaftar sebagai ASN tapi tidak diluluskan oleh ayahnya yang saat itu menjabat sebagai Bupati. Disinilah integritas SDK benar benar terfaktualkan. Sebagai bupati, ia bisa saja meluluskan anaknya, tapi urung dilakukan untuk menjaga integritasnya. Berbeda dengan Sutinah, SDK memberi peluang kepadanya untuk mengabdi sebagai ASN, meski akhirnya ia dipertemukan takdirnya sebagai politisi dan menjadi perempuan bupati yang pertama di Mamuju. 

SDK merasa yakin bahwa Suraidah cocok menjadi politisi karena sikapnya yang pemberani dan bisa diandalkan. Itu dibuktikan ketika ada kegiatan SDK yang tak bisa dihadiri, Suraidah menjadi sosok pengganti dan diterima baik oleh masyarakat. Suraidah akhirnya dijahitkan baju warna biru khusus untuk menghadiri undangan yang mewakili ayahnya seperti membawakan sambutan dalam berbagai acara seperti pernikahan, khitanan dan acara keagamaan lainnya. Bahkan tak jarang, Suraidah yang menemui tamu SDK ketika tak ada di rumah.   

Ketika usianya menginjak 20 tahun, Suraidah memutuskan untuk terjun ke dunia politik, meski pada saat yang sama ia lulus sebagai ASN setelah mengabdi selama 4 tahun (2006-2009) sebagai tenaga kontrak aspri wakil bupati. Pada saat Suraidah lulus ASN, ia juga telah membuat pilihan untuk mengikuti jejak ayahnya berorganisasi di KNPI, menjadi pimpinan partai Demokrat Mamuju dan mulai mencalonkan diri sebagai Caleg DPRD Mamuju pada tahun 2009. Ia lolos dan menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Mamuju periode 2009-2014. Pada Pemilu 2014, ia kembali mencalonkan diri dan berhasil mengantarkan Demokrat sebagai partai pemenang di Mamuju. Kemenangan ini membuatnya duduk sebagai Ketua DPRD Mamuju sekaligus sebagai Ketua DPC. Partai Demokrat di Mamuju yang dijabatnya sejak 2007.

Setelah dua periode di DPRD Mamuju, Suraidah kemudian mencalonkan diri sebagai Caleg DPRD Sulbar pada Pemilu 2019. Lagi-lagi keberuntungan berpihak padanya. Demokrat menjadi pemenang Pemilu di Sulawesi Barat dan mendapuknya sebagai Ketua DPRD Sulawesi Barat 2019-2024. Posisi sebagai Ketua DPRD Sulbar tak mampu dipertahankan pada Pemilu 2024, lantara Golkar berhasil menyalip perolehan suara Partai Demokrat. Meski demikian, Suaridah mendapat posisi sebagai Wakil Ketua bersama Amelia Aras sebagai ketua DPRD Sulbar.

Ketika SDK menyelesaikan pengabdiannya sebagai Bupati Mamuju, Suaridah ditawari untuk jadi Calon Bupati Mamuju. Saat itu SDK banyak mendengar suara dari masyarakat. Ia mendapatkan masukan ada di antara keluarganya maju, apakah anak atau saudara. Pilihan jatuh kepadanya, tapi Suraidah bilang, “Pak saya lebih suka di legislatif. Saya sudah enjoy di sana. Saya ga’ bisa bangun pagi, harus berkantor tiap hari.” Ucap Suraidah sebagaimana dikutip Tina dalam buku Sarman Sahuding (Kompas, 2023). Cerita Sutinah ini menegaskan bahwa Suraidah itu tak punya ambisi jadi kepala daerah. Maka pilihan kemudian jatuh padanya. Tina yang saat itu telah menjadi Kepala Dinas membuat keputusan mengikuti petunjuk garis tangannya semata. Bahwa harus masuk ke politik dan berlaga di palagan politik pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kabupaten Mamuju, itu juga pilihan yang harus dia jalani selanjutnya. Terbukti, Tina kini menjadi Bupati dua periode dan tercatat sebagai perempuan pertama yang jadi Bupati Mamuju.   

Begitulah jalan panjang karir politik seorang Suraidah yang cenderung menanjak seiring pada proses penyelesaian studinya sampai ke jenajang S3 dan berhak menyandang gelar doktor. Ia berhasil menamatkan pendidikan S3-nya dalam kurung waktu 2 tahun 11 bulan 29 hari tepat pada tanggal 29 Desember 2022. Ia mengambil judul “Komunikasi Politik Elektorat di Sulawesi Barat” dengan predikat cumlaude di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. Dalam skala Sulbar, SDK benar-benar sukses menjadikan putra putrinya sebagai sosok yang menginspirasi.

Sampai kini, selain menjadi unsur pimpinan di DPRD Sulbar, Suraidah juga sibuk diberbagai organisasi yang sebagian besar mendapuknya sebagai ketua. Diantara organisasi yang maksud itu adalah Perempuan Demokrat Republik Indonesia (PDRI) Propinsi Sulawesi Barat; MPW ICMI Orwil Sulawesi Barat; DPC Demokrat Mamuju, DPW Srikandi Pemuda Pancasiila Sulawesi Barat; Dewan Kehormatan PMI Sulawesi Barat; KNPI Mamuju.

Selain organisasi yang mendaulatnya sebagai ketua, namanya juga menjadi Anggota Mabida Gerakan Pramuka Sulbar; Pengurus DPP KNPI; Pengurus DPN Asosiasi DPRD Kabupaten Se Indonesia; Pengurus Pemuda Pancasila MPW Sulawesi Barat; Wakil Ketua Kwacab Gerakan Pramuka Mamuju; Anggota Mabicab Gerakan Pramuka Mamuju; dan Anggota Radio Antara Penduduk Indonesia (RAPI) Daerah Sulawesi Barat (JZ34IDA). 

Atas segala bentuk pencapaian dan prestasinya tersebut, wajar jika kemudian jika ia diganjar dengan berbagai penghargaan. Diantara penghargaan yang pernah ia terima antara lain sebagai Gender Champion dari Bupati Mamuju (2023); Mitra Kerja BKKBN dari Kepala BKKBN Pusat (2022); Media Awards dari Harian Sulbar Express (2018); Pemberian Gelar Kehormatan dari Kesultanan Surakarta (2017).