Catatan: Muhammad Munir
Minggu, 3 Mei 2026 akan digelar sebuah diskusi lepas yang dinisiasi oleh WAG BIJA DAENG PALULING Sulawesi Barat yang mengusung tema Tomanurung || Merawat Martabat Leluhur. Acara ini menghadirkan pembicara dari tokoh pemerhati budaya dan sejarah Mandar.
Mereka antara lain pemerhati sejarah dan budaya Mandar: Dr. H. M. Farid Wajdi, M.Pd (Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan, Pembangunan Daerah Sulbar); Drs. Darmansyah, M.Hum (Ketua DPRD Majene 2014 - 2019); Andi Pirsan dan Muhammad Munir sebagai Moderator & Notulen. Selain itu, pemrakarsa juga menghadirkan dua panelis yang tak asing lagi di tanah Mandar, yakni Tammalele dan Thamrin S.Pd., M.Pd yang tak lain adalah Kepala Perpustakaan Unsulbar.
TOMANURUNG
Tomanurung itu tokoh kunci dalam mitologi dan sistem Kerajaan di Sulawesi (baca: Mandar, Bugis, Makassar dan Toraja). Tomanurung bagi sebagian orang memaknai "orang yang turun" atau "dia yang turun dari langit". Dalam kepercayaan masyarakat Sulawesi, Tomanurung adalah sosok suci yang turun dari dunia atas ke bumi untuk memerintah dan menata kehidupan manusia.
A. Muis Mandra dan tokoh sejarah lainnya di Mandar mengkonsepsikan Tomaurung dalaj empat nama dan karakter, yakni Tokombong di Bura, Tobisse di Talkang, Tomonete di Tarauwe dan Tonisesse di Tingalor. Nyaris semua suku dan kerjaan besar di Sulawesi percaya bahwa Tomanurung adalah asal usul para raja dan bangsawan. Karena itu, hanya keturunan Tomanurung yang dianggap ditakdirkan memerintah. Kalau yang memerintah bukan keturunannya, diyakini akan timbul masalah pada negerinya.
Kajian lain tentang konsepsi Tomanurung adalah kategori mitos _human endogenic_ atau asal-usul manusia atau raja. Sosok Tomanurung ini dipakai sebagai legitimasi kekuasaan kendati ada yang menganggap Tomanurung hanya mitos atau _invention of politics_, tetapi eksistensinya tetap jadi awal lahirnya penguasa/raja.
Hal yang tak boleh diabaikan adalah perilaku masyarakat yang menghubungkan Tomanurung dalam berbagai simbol kerajaan seperti bendera, pusaka, dan ritual penobatan. Bendera dianggap punya roh leluhur dan jadi "pelindung" dalam perang maupun upacara raja.
Intinya, Tomanurung = leluhur gaib yang turun dari langit, adalah cikal bakal raja-raja dan babgsawan. Meski kemudian konsep ini dipahami berbaur antara mitos, agama lokal, dan politik. Dan sampai saat ini, silsilah raja-raja dan bangsawan masih dilacak ke Tomanurung, dan naskah keluarga biasanya dibacakan sebelum pernikahan bangsawan untuk memastikan kedua pihak sama-sama berdarah biru (sambona kappar)
MENJAGA MARTABAT LELUHUR
Agenda diskusi ini mengusung Menjaga Martabat Leluhur. Kata mattabat dimaknai sebagai nilai dasar yang melekat pada setiap manusia. Ada tiga inti martabat yang dianugerahkan Tuhan pada setiap kelhiran manusia yakni: Pertama, melekat sejak lahir. Bukan karena pintar, kaya, atau berkuasa. Bayi, lansia, tahanan, semua tetap punya; Kedua, Setara. Martabatmu sama dengan martabat orang lain. Tidak ada manusia yang “lebih manusia” dari yang lain; Ketiga, Wajib dihormati. Karena melekat dan setara, orang lain wajib memperlakukanmu sebagai manusia, bukan alat. Kita dituntut untuk memperlakukan orang lain begitu.
Martabat yang membuat orang tetap bisa berkata “aku tetap manusia”. Martabat ini juga yang menbuat orang menolak tunduk saat dijajah atau dipermalukan sebagaimana yang diajarkan dan dontohkan oleh para pejuang yang mendahului kita.
Singkatnya: Martabat itu alasan kenapa setiap orang pantas diperlakukan sebagai manusia seutuhnya. Bukan hadiah, bukan prestasi. Menjaga martabat leluhur itu adalah cara kita menghormati orang-orang yang hidup sebelum kita, supaya nama baik, nilai, dan perjuangan mereka tidak tercoreng di era sekarang
Sampai disini, Leluhur kita tak mungkin bangkit bisa bela diri lagi. Martabat mereka sekarang ada di tangan kita lewat kata, sikap, dan keputusan sehari-hari. Manusia Mala'bi' adalah mereka yang mampu menyayangi luluare'na satteng lalona ma'sayabgngi alawena.
Dengan kita bangga mewariskan kearifan para leluhur kita pada generasi selanjutnya, maka kita telah menjaga martabat leluhur kita.
Terpulang kepada kita semua, aspek mana dari leluhur kita yang penting diwariskan? Apakah Silsilah, pusaka, atau nilai ?
Mari Berdiskusi !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar