Tampilkan postingan dengan label Opinj. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opinj. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Januari 2026

Menemukan Kembali Gairah “Band” di Sulawesi Barat.


Catatan Sahabuddin Mahganna

Sejak VOC 1602 menduduki hindia Belanda, musik dan beberapa instrumen Eropa menjadi energi baru yang digandrungi. Dua abad setelahnya, anak lelaki bersaudara dari timur Maluku menjadi selebritis lewat Timor Rythem Brothers 1945, diilhami oleh musik Rock an Rool dari Amerika serikat juga instrumental The Shadows, The Ventures dan Strings-A-Longs yang memukau. Dari Soerabaya, keluarga Tielmen melakukan perjalanan ke Belanda untuk melakuka rekaman pada 1956-1960, kemudian merubah dirinya menjadi The Four Tielman Brothers 1957, lalu The Tielman Brothers hingga sukses menggoyang negeri kincir angin, dan tercatat menjadi kelompok Band Rock atau Idorock pertama secara internasional, semangat itu memacu aliran-aliran Band di seluruh dunia untuk kemudian juga ber-aksi seperti The Bithels (Liverpool 1960), The Rolling Stones (Inggris 1960), dan itu termasuk Indonesia pasca kemerdekaan.

 Pengaruh Tielman di negeri tanah subur nan permai seperti Koes bersaudara 1958, menjadi cikal bakal Band Koes Plus, AKA di Surabaya 1967. Paling mengesankan ketika dipertengahan dasawarsa 1970-an, God Bless 1972 dan Massada 1973 segera memetik reputasi dengan gaya aksi panggung (Live Act) yang cemerlang, memiliki basis penggemar yang loyal, dan ini boleh jadi berpengaruh ke daerah-daerah. Menurut tahun yang sama, kelompok-kelompok di Sulawesi terkhusus di Sulawesi Barat, masuk dalam daftar aliran Hawaiaan, Keroncong dan Gambus, memasuki situasi yang terkondisikan pada instrumen kolaboratif secara hibrid yang alami. Kita diperkenalkan dengan kelompok musik Rewata’a Rio yang gemar memadukan musiknya dengan aliran lagu-lagu Stambul, dan “Pikko” kelompok Gambus bernuansa Keroncong 1960-an, atau menguji kreativitasnya dalam ramuan seperti Gambus dalam Keroncong dengan menggunakan beberapa alat Eropa seperti Juck, Akulele, Contra Bass, Sello dan Petikan Guitar Losquin.

 Di tahun antara 1970-1980 an, hiburan rakyat (Band) menjadi catatan disekian banyak pertunjukan, para pengagum musik di Sulawesi Barat memperlihatkan pengaruh eksistensi yang signifikan dengan menculnya kelompok gambus Surayya, yang kelak menjadi cikal bakal Band Surya, Karya Jaya menuju Karisma Band. Senandung Resota Majene 1985, lalu 1990 Karisma pun berdiri. Pada titik itu, tercatat Band populer yakni Surya dan Kaisar di Polewali Mamasa (Sekarang Polewali Mandar), sementara itu tidak jarang Band-band luar Polewali Mamasa seperti Toleransi dan Al-Warda dari Sidrap, Sarapo Band 1-2 di Pindrang, semakin memperlebar, memperkaya dan semarak penuh gairah. Hal itu pun secara tidak langsung untuk menguji keahlian dan lebih memacu semangat para players dan pimpinan produksi Band-band di Sulawesi Barat. Sayangnya amplikasi elektrik meredup oleh rentetan waktu, baik itu dari sudut artistik maupun penyajian, pelaku mulai resah pada pengutamaan karya instan atau mengubah Band yang dipormat dengan banyak pemain secara Enseble, menjadikan Elektrik Tone lebih digandrungi. Materialistik elektriktone memanjakan para penikmatnya dan menguntungkan.

 Di sisi lain, dengan munculnya kelompok Tammengundur telah memadukan tradisi, keyboard tunggal, dan Band, berhasil meramu pertunjukan dengan beberapa model sajian, tidak terkecuali drama komedi maupun pakem tradisional yang seolah-olah penonton bisa menyaksikan hiburan serba lengkap, memaksa manajemennya kewalahan dalam mengatur jadwal, dan sisa player-player itu pun mengalihkan dirinya untuk ke akustik dan You Tube, melakukan kreatifitas bebas demi mendapat perhatian. Sementara pecinta teknologi praktis semakin bergairah hingga meminimalisir pertunjukan chaiya-chayya (karaokean). Dari sini membuka naluri dan hasrat penyanyi amatiran untuk menjadi artis satu malam, satu dua lagu pemuas keresahan menurut orang-orang dulu yang kecewa atau gagal oleh karena surat panggilan tidak tergubris dan terbuang begitu saja. Di era digital sekarang ini, status teknologi jauh meningkat, menunjukkan daya saing yang berat bagi kaum-kaum Band.

 Fakta-fakta di atas, betapa hiburan Band menjadi dirindukan, seakan kita memiliki rezeki jika sempat melihatnya saat itu. Meski hanya satu dua kelompok yang masih bertahan, tetap tidak bisa bersaing, padahal indahnya sajian itu oleh karena semua sisi gambar maupun bunyi bisa disaksikan secara langsung. Pada tahun-tahun berikutnya, Band kembali digelorakan, bagaimana upaya komunitas-komunitas seperti One dO Art secara mandiri telah menggelar konser bertajuk Mahakarya, menggunakan Band eksplorasi dengan paduan tradisi, rock dan pop kreatif serta sedikit orkestra 2017, sementara Band-Band muda seperti Nilam, Adelweis, Impossible, Kaze, Teletabis, Black Hole, Manakarra dll. Mereka gemar membumikan kreatifitasnya, kendatipun hanya berada dijalur festival. Numerus 90 pada tahun 2021 manabur benih-benih juga menggelar lewat festival, dan yang paling mengesankan sebab pesertanya kembali menghadirkan player-player lama, menggugah hati untuk mengingat masa lalu meski permainanya tidak sehebat dulu. Banyak festival Band kreatif 2022 oleh dinas pariwisata di taman budaya provinsi Sulawesi Barat, digagas oleh Ir. Irbad Kaimuddin, yang tidak lain bahwa beliau ternyata adalah mantan pelaku Band 90 an. Dengan kembalinya liyan ini, bukan tidak mungkin studio-studio yang sempat gulung tikar akan segera mengatur jadwal.

 Band disajikan dengan tekstur professional dalam menjamu penikmatnya dan tidak mustahil akan kembali dengan segala bentuknya. Sementara Keyboard tunggal, chaiyya-chayya dan parodi Tammengundur adalah penomena nyata yang mungkin tidak akan luput dari sejarah. Meski telah mengalami pergeseran, namun inovasi pelakunya kita meski yakin mereka akan semakin kreatif. Kreatifitas anak-anak Band di tanah Mala’bi’ ini mencuat hebat, tidak ketinggalan Band Orkes 90-an seperti Mamat GS, semangat mudanya bangkit bersama kelompok Pramuda yang baru dibentuk. Maju terus, sebab kita baru saja menemukan kembali gairah Band di Sulawesi Barat setelah lama vakum.

Sumber: 
Bar Barendregt and Els Bogaerts 2007
Rusman Pikko. 2019
Hatta Jaya. 2021
Mamat GS. 2022
Poto: Band Nagersi di Sale'a Todang, Pimpinan Baharuddin Mahmud, Hatta Mahendra menjadi gitaris.
Penulis: salah satu penyanyi cilik nya

Sabtu, 27 Desember 2025

Catatan dari Perhelatan “Cakrawala Budaya"

Testimoni Kebudayaan, Uwake Cultur Foundation, Boyang Kaiyyang Kandeapi, 26 Desember 2025 ---Bagian Pertama

Terstimoni Kebudayaan: Dua Belas Orang Berorasi Dalam Semalam

Oleh: Hamzah Ismail

Sebagai penanda kegiatan akhir tahun, Uwake Cultur Foundation menggelar sebuah hajatan kebudayaan bertajuk “Cakrawala Budaya”, dengan kemasan yang cukup unik: “Testimoni Kebudayaan.” Forum ini memberi ruang bagi belasan tokoh budayawan dan seniman se-Sulawesi Barat untuk tampil berorasi, menyampaikan kesaksian, refleksi, sekaligus kegelisahan mereka tentang kebudayaan yang sedang dan akan dihidupkan bersama.

Berbeda dengan Cakrawala Budaya --agenda bulanan Uwake-- yang selama ini diisi dengan diskusi kebudayaan dan penampilan musik oleh Lingkar Musik Uwake, edisi Desember 2025 tampil sebagai peristiwa yang menyimpang dari kebiasaan. Tak ada diskusi, hanya diselingi pertunjukan musik. 

Keunikan lainnya, kegiatan ini berlangsung hanya dalam satu malam. Namun justru dalam keterbatasan waktu itulah, testimoni-testimoni kebudayaan menjelma sebagai catatan kolektif: ringkas, padat, dan sarat makna --sebuah penegasan bahwa peristiwa kebudayaan tak selalu membutuhkan panggung besar dan durasi panjang, melainkan hidupnya kerelaan untuk bersaksi, merawat ingatan, dan menghadirkan sejarah serta kebudayaan ke hadapan publik secara apa adanya.

Kesempatan tampil pertama diberikan kepada Dr. Suradi Yassil, penulis dan budayawan senior yang kini berusia delapan puluh tahun. Dalam testimoninya, Suradi sejak awal menekankan pembedaan mendasar antara kebudayaan dan kesenian, sebagai landasan penting dalam memahami praktik budaya secara utuh. Ia kemudian menautkan pandangan tersebut dengan refleksi atas eksistensi dirinya, sekaligus mengisahkan praktik-praktik cerdas yang ia jalani dalam mendidik anak sebagai bagian dari laku kebudayaan sehari-hari.

Kesempatan kedua diberikan kepada seniman dan tokoh pendidik, Dr. Suparman Sopu, yang kini berdomisili di Mamuju. Dalam testimoninya, ia menegaskan pentingnya mengingat kembali tiga M: Muhasabah Kebudayaan, Muraqabah Kebudayaan, dan Mujahadah Kebudayaan. 

Muhasabah Kebudayaan, menurutnya, mengajak menengok kembali perjalanan yang telah dilalui serta capaian-capaian positif yang telah dikerjakan. Ia memberi apresiasi kepada Uwake yang dinilainya berhasil menembus ruang teknologi canggih melalui karya musik yang memadukan tradisi dan modernitas, seperti hadirnya unsur sande’ dan bahasa Mandar dalam lagu-lagu Pak Ishaq yang diterima luas. Suparman juga menekankan kuatnya suasana religi dalam syair-syair yang selalu bermula dari Bismillah, karena akar sejarah dan budaya adalah bahwa  I Manyambungi penganut Agama Islam. 

Terkait teknologi dan AI, ia menegaskan bahwa pembaruan kebudayaan dapat dilakukan tanpa meninggalkan keaslian. Pada sisi Muraqabah, ia menekankan kesadaran identitas Mandar sebagai Mandar. Sementara Mujahadah Kebudayaan dimaknainya sebagai kesungguhan menghadapi tantangan, seraya mengutip pesan leluhur Mandar tentang keberanian menerjang ombak dan angin kencang.

Pen-testimoni kebudayaan ketiga adalah Ajbar Abdul Kadir, sosok yang kerap mengidentikkan dirinya sebagai “anak kampung” dan kini menjadi politisi andal Mandar, satu dari empat wakil Sulawesi Barat yang duduk di DPR RI. Ia memulai testimoninya dengan memaparkan data bahwa negara-negara dengan tingkat ekonomi tinggi umumnya juga memiliki tingkat inovasi yang tinggi. Menurut Ajbar, salah satu fondasi pentingnya adalah budaya egalitarisme –kesetaraan--yang melahirkan kebebasan, mengubah cara pandang sistem nilai, serta menyediakan ruang tumbuh berbasis relasi setara. Budaya ini tidak hanya meningkatkan kualitas manusia, tetapi juga kesejahteraan. 

Terinspirasi gagasan Tan Malaka dalam Menuju Republik Indonesia, Ajbar memaknai republik sebagai revolusi kebudayaan untuk menyiapkan generasi yang mampu menyerap nilai dan beradaptasi dengan perubahan global. Ia menegaskan bahwa inovasi tidak semata ditentukan kecerdasan intelektual, melainkan oleh ruang tumbuh yang adil, jujur, kompetitif secara fair, dan berlandaskan semangat belajar. Karena itu, ruang-ruang kebudayaan perlu hadir konsisten dalam ranah demokrasi, dengan pijakan pada independensi etis yang berorientasi pada kebenaran.

Tiba giliran penulis, yang juga diberi kepecayaan untuk juga menyampaikan testimoni kebudayaan. Hmmmm. Pada kesempatan itu, penulis menyampaikan tentang adanya tiga lapis keasadaran hubungan antara manusia (alawe), alam semesta (nawang), dan pranata hukum (akkeadang). Jauh sebelum membaca disertasi Darmawan Masud Rahman, “Puang dan Daeng: Kajian Sistem Nilai Budaya Orang Balanipa Mandar” yang di dalamnya membincang tentang hubungan alawe, nawang dan akkeadang, sebelumnya penulis pernah mendapatkannya dari salah seorang tokoh intelektul Mandar, yang juga seorang sufi, Subaer Rukkawali. Secara berturut-turut penulis sampaikan bahwa tiga lapis kesadaran yang berasal dari khazanah kebudayaan Mandar itu adalah “Alawe mimbolong di atauang, atauang mimbolong di alawe”, lalu “Alawe mimbolong di nawang, nawang mimbolong di alawe” kemudian “Alawe mimbolong di akkeadang, akkeadang mimbolong di alawe”. Saat orang Mandar mampu menginternalisasi tiga lapis keasadaran itu ke dalam dirinya, maka outputnya adalah terwujudnya Tau Tongang (manusia seutuhnya). Manusia seutuhnya dicirikan oleh sikap mala’bi’. Mala’bi’ pau, kedzo dan gau’. Tau Tongang, akan selalu menjaga dua hal: “Ma’asayanni Lita” dan “Ma’asayanni Pa’banua”.

Tabeeqqqq.
Tinbambung, 28/12/2025

#agendaakhirtahun
#testimonikebudayaan
#14orangorasidalamsemalam