Sabtu, 27 Desember 2025

Catatan dari Perhelatan “Cakrawala Budaya"

Testimoni Kebudayaan, Uwake Cultur Foundation, Boyang Kaiyyang Kandeapi, 26 Desember 2025 ---Bagian Pertama

Terstimoni Kebudayaan: Dua Belas Orang Berorasi Dalam Semalam

Oleh: Hamzah Ismail

Sebagai penanda kegiatan akhir tahun, Uwake Cultur Foundation menggelar sebuah hajatan kebudayaan bertajuk “Cakrawala Budaya”, dengan kemasan yang cukup unik: “Testimoni Kebudayaan.” Forum ini memberi ruang bagi belasan tokoh budayawan dan seniman se-Sulawesi Barat untuk tampil berorasi, menyampaikan kesaksian, refleksi, sekaligus kegelisahan mereka tentang kebudayaan yang sedang dan akan dihidupkan bersama.

Berbeda dengan Cakrawala Budaya --agenda bulanan Uwake-- yang selama ini diisi dengan diskusi kebudayaan dan penampilan musik oleh Lingkar Musik Uwake, edisi Desember 2025 tampil sebagai peristiwa yang menyimpang dari kebiasaan. Tak ada diskusi, hanya diselingi pertunjukan musik. 

Keunikan lainnya, kegiatan ini berlangsung hanya dalam satu malam. Namun justru dalam keterbatasan waktu itulah, testimoni-testimoni kebudayaan menjelma sebagai catatan kolektif: ringkas, padat, dan sarat makna --sebuah penegasan bahwa peristiwa kebudayaan tak selalu membutuhkan panggung besar dan durasi panjang, melainkan hidupnya kerelaan untuk bersaksi, merawat ingatan, dan menghadirkan sejarah serta kebudayaan ke hadapan publik secara apa adanya.

Kesempatan tampil pertama diberikan kepada Dr. Suradi Yassil, penulis dan budayawan senior yang kini berusia delapan puluh tahun. Dalam testimoninya, Suradi sejak awal menekankan pembedaan mendasar antara kebudayaan dan kesenian, sebagai landasan penting dalam memahami praktik budaya secara utuh. Ia kemudian menautkan pandangan tersebut dengan refleksi atas eksistensi dirinya, sekaligus mengisahkan praktik-praktik cerdas yang ia jalani dalam mendidik anak sebagai bagian dari laku kebudayaan sehari-hari.

Kesempatan kedua diberikan kepada seniman dan tokoh pendidik, Dr. Suparman Sopu, yang kini berdomisili di Mamuju. Dalam testimoninya, ia menegaskan pentingnya mengingat kembali tiga M: Muhasabah Kebudayaan, Muraqabah Kebudayaan, dan Mujahadah Kebudayaan. 

Muhasabah Kebudayaan, menurutnya, mengajak menengok kembali perjalanan yang telah dilalui serta capaian-capaian positif yang telah dikerjakan. Ia memberi apresiasi kepada Uwake yang dinilainya berhasil menembus ruang teknologi canggih melalui karya musik yang memadukan tradisi dan modernitas, seperti hadirnya unsur sande’ dan bahasa Mandar dalam lagu-lagu Pak Ishaq yang diterima luas. Suparman juga menekankan kuatnya suasana religi dalam syair-syair yang selalu bermula dari Bismillah, karena akar sejarah dan budaya adalah bahwa  I Manyambungi penganut Agama Islam. 

Terkait teknologi dan AI, ia menegaskan bahwa pembaruan kebudayaan dapat dilakukan tanpa meninggalkan keaslian. Pada sisi Muraqabah, ia menekankan kesadaran identitas Mandar sebagai Mandar. Sementara Mujahadah Kebudayaan dimaknainya sebagai kesungguhan menghadapi tantangan, seraya mengutip pesan leluhur Mandar tentang keberanian menerjang ombak dan angin kencang.

Pen-testimoni kebudayaan ketiga adalah Ajbar Abdul Kadir, sosok yang kerap mengidentikkan dirinya sebagai “anak kampung” dan kini menjadi politisi andal Mandar, satu dari empat wakil Sulawesi Barat yang duduk di DPR RI. Ia memulai testimoninya dengan memaparkan data bahwa negara-negara dengan tingkat ekonomi tinggi umumnya juga memiliki tingkat inovasi yang tinggi. Menurut Ajbar, salah satu fondasi pentingnya adalah budaya egalitarisme –kesetaraan--yang melahirkan kebebasan, mengubah cara pandang sistem nilai, serta menyediakan ruang tumbuh berbasis relasi setara. Budaya ini tidak hanya meningkatkan kualitas manusia, tetapi juga kesejahteraan. 

Terinspirasi gagasan Tan Malaka dalam Menuju Republik Indonesia, Ajbar memaknai republik sebagai revolusi kebudayaan untuk menyiapkan generasi yang mampu menyerap nilai dan beradaptasi dengan perubahan global. Ia menegaskan bahwa inovasi tidak semata ditentukan kecerdasan intelektual, melainkan oleh ruang tumbuh yang adil, jujur, kompetitif secara fair, dan berlandaskan semangat belajar. Karena itu, ruang-ruang kebudayaan perlu hadir konsisten dalam ranah demokrasi, dengan pijakan pada independensi etis yang berorientasi pada kebenaran.

Tiba giliran penulis, yang juga diberi kepecayaan untuk juga menyampaikan testimoni kebudayaan. Hmmmm. Pada kesempatan itu, penulis menyampaikan tentang adanya tiga lapis keasadaran hubungan antara manusia (alawe), alam semesta (nawang), dan pranata hukum (akkeadang). Jauh sebelum membaca disertasi Darmawan Masud Rahman, “Puang dan Daeng: Kajian Sistem Nilai Budaya Orang Balanipa Mandar” yang di dalamnya membincang tentang hubungan alawe, nawang dan akkeadang, sebelumnya penulis pernah mendapatkannya dari salah seorang tokoh intelektul Mandar, yang juga seorang sufi, Subaer Rukkawali. Secara berturut-turut penulis sampaikan bahwa tiga lapis kesadaran yang berasal dari khazanah kebudayaan Mandar itu adalah “Alawe mimbolong di atauang, atauang mimbolong di alawe”, lalu “Alawe mimbolong di nawang, nawang mimbolong di alawe” kemudian “Alawe mimbolong di akkeadang, akkeadang mimbolong di alawe”. Saat orang Mandar mampu menginternalisasi tiga lapis keasadaran itu ke dalam dirinya, maka outputnya adalah terwujudnya Tau Tongang (manusia seutuhnya). Manusia seutuhnya dicirikan oleh sikap mala’bi’. Mala’bi’ pau, kedzo dan gau’. Tau Tongang, akan selalu menjaga dua hal: “Ma’asayanni Lita” dan “Ma’asayanni Pa’banua”.

Tabeeqqqq.
Tinbambung, 28/12/2025

#agendaakhirtahun
#testimonikebudayaan
#14orangorasidalamsemalam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar