Tampilkan postingan dengan label Literasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Literasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Februari 2026

SALIM MENGGA || Ketika Sunyi Menjadi Warisan

Penulis: Safardy Bora

Di Pambusuang, laut tidak pernah benar-benar diam. Ia berulang kali memecah sunyinya sendiri, seolah sedang melatih seorang anak lelaki untuk kelak mengerti arti kesabaran. Anak itu bernama Salim Sayyid Mengga. Ia tumbuh tanpa banyak kata, belajar bahwa hidup tidak selalu perlu dijelaskan, cukup dijalani dengan lurus.
Ketika ia meninggalkan kampung halaman, tidak ada pesta perpisahan. Hanya doa yang disimpan rapat, dan langkah yang sengaja tidak dipercepat. Di Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, ia belajar tentang barisan, tentang taat, dan tentang cara menahan diri. Tahun 1974, ia lulus—bukan sebagai pemenang, melainkan sebagai seseorang yang siap memikul beban yang panjang.
Puluhan tahun kemudian, seragam itu telah menyerap banyak keringat dan sunyi. Ia memimpin tanpa menghardik, memberi perintah tanpa meninggikan suara. Dari Kavaleri hingga ke pucuk amanah sebagai Panglima Kodam Pattimura, ia berjalan perlahan, seolah takut menginjak sesuatu yang bukan haknya. Pangkat Mayor Jenderal melekat padanya seperti usia: datang dengan sendirinya, tanpa diminta.
Saat masa dinas selesai, Salim tidak berhenti mengabdi. Ia hanya menurunkan nada. Dari medan latihan ke ruang sidang, dari aba-aba ke musyawarah. Dua periode ia duduk di DPR RI, menjaga perkara negeri dengan kehati-hatian seorang prajurit yang paham bahwa kata-kata pun bisa melukai. Ia berbicara sedikit, mendengar lebih lama.
Ketika ia dipercaya menjadi Wakil Gubernur Sulawesi Barat, ia kembali memilih bekerja di balik layar. Menyambung yang hampir putus, menenangkan yang mulai gaduh. Ia tahu, kekuasaan tidak selalu perlu ditampakkan; sering kali ia cukup hadir agar yang lain merasa aman.
Orang-orang menyebutnya menyejukkan, tetapi barangkali kata itu terlalu ringan. Ia adalah ketenangan yang tidak menghakimi, kehadiran yang tidak menekan. Ia tidak memburu dikenang, bahkan tidak tampak bersiap untuk pergi.
Namun pada 31 Januari 2026, waktu memanggilnya pulang. Di Makassar, napasnya berhenti dengan damai, seolah ia memang telah lama bersiap. Kabar kepergiannya menyebar pelan, seperti hujan yang turun tanpa guntur—tidak gaduh, tetapi membuat dada sesak.
Pagi 1 Februari 2026, Taman Makam Pahlawan Kalibata menerima tubuh yang telah selesai menjaga negeri. Langit Jakarta menunduk, dan orang-orang berjalan dengan kepala tertahan. Tanah dibuka dengan penuh hormat, doa-doa dibacakan dengan suara yang patah di tengah jalan. Ketika jasad itu diturunkan, sunyi mendadak terasa berat, seolah ada sesuatu yang ikut dikuburkan bersama—keteladanan yang tak pernah meminta tepuk tangan.
Bendera dilipat perlahan. Tangis tidak pecah, hanya menetes. Sebab sebagian kehilangan memang tidak cocok ditangisi keras-keras. Ia lebih layak dikenang dalam diam.
Salim Sayyid Mengga tidak meninggalkan gemuruh nama. Ia meninggalkan rasa kehilangan yang tenang, yang baru terasa ketika kita sadar: ada orang-orang yang selama ini menjaga tanpa terlihat, dan ketika mereka pergi, barulah kita mengerti betapa sunyi dunia tanpa kehadiran mereka.
Di tanah itulah ia kini berbaring. Di antara para pahlawan. Bukan karena pangkat atau jabatan, melainkan karena ia telah menjalani hidupnya dengan setia—dan pulang tanpa menyisakan kebisingan.*

Senin, 26 Januari 2026

Mengapa Luwu Raya Gagal Mekar Tahun 2004, Sementara Sulawesi Barat Berhasil ?




Catatan N R Daeng 

Pemekaran wilayah sejatinya bukan soal siapa yang paling kaya sumber daya, melainkan siapa yang paling matang secara politik dan taktis dalam memperjuangkannya. Fakta ini tampak jelas ketika membandingkan nasib Sulawesi Barat dan Luwu Raya.

Sulawesi Barat resmi menjadi provinsi pada tahun 2004, di masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri. Padahal, pada periode yang bersamaan, Luwu Raya juga mengajukan diri untuk dimekarkan dari Sulawesi Selatan. Namun sejarah mencatat, hanya Sulawesi Barat yang berhasil.

Pertanyaannya kemudian, mengapa? 
Jawabannya tidak terletak pada potensi daerah. Secara objektif, Luwu Raya justru jauh lebih unggul baik dari sisi sumber daya alam, sejarah politik, posisi geografis, maupun basis ekonomi. Kegagalan Luwu Raya lebih disebabkan oleh ketidakmatangan strategi dan lemahnya konsolidasi elite daerah.

Salah satu kunci keberhasilan Sulawesi Barat adalah soliditas para tokoh dan pemangku kepentingan daerahnya. Perbedaan kepentingan lokal dikesampingkan demi satu tujuan besar yaitu pembentukan provinsi. Mereka bergerak dalam satu barisan, satu narasi, dan satu peta jalan perjuangan.

Sebaliknya, di Luwu Raya, energi perjuangan terfragmentasi. Masing-masing wilayah lebih sibuk mengurus pemekaran kabupaten sendiri tanpa kesadaran kolektif bahwa semua itu seharusnya disusun dalam satu desain besar menuju provinsi. Akibatnya, perjuangan menjadi sporadis dan kehilangan arah strategis.

Sulawesi Barat tidak memulai perjuangannya dengan teriak “provinsi” di ruang publik. Mereka memulai dari pemenuhan syarat formil secara disiplin dan terukur. 

Pada tahun 2002, Kabupaten Polewali Mamasa dimekarkan menjadi Polewali Mandar dan Mamasa. Setahun kemudian, Kabupaten Mamuju dimekarkan menjadi Mamuju dan Mamuju Utara (kini Pasangkayu). Dengan demikian, sebelum tuntutan provinsi diajukan, lima kabupaten telah terbentuk dan siap secara administratif. Inilah yang luput dilakukan oleh Luwu Raya.

Pemekaran wilayah di Luwu Raya sejak akhir 90an sejatinya terlihat progresif. Kabupaten Luwu dimekarkan menjadi Luwu dan Luwu Utara (1999), Kota Palopo dimekarkan dari Luwu (2002), lalu Luwu Timur dimekarkan dari Luwu Utara (2003).
Namun bila ditelaah lebih dalam, pemekaran ini tidak berbasis pada satu grand design menuju provinsi. Pembagian wilayah dilakukan tanpa pola yang saling menguatkan.

Kabupaten Luwu, misalnya, setelah Palopo dimekarkan, menyisakan wilayah eks Walenrang–Lamasi (Walmas) yang terpisah secara geografis dan lemah secara fiskal. Kondisi ini membuat upaya pembentukan kabupaten baru di wilayah tersebut menjadi rapuh sejak awal.
Pemekaran kabupaten akhirnya berhenti sebagai tujuan itu sendiri, bukan sebagai alat strategis untuk membangun provinsi.

Dua jalan yang masih mungkin jika Luwu Raya masih serius ingin menjadi provinsi :

Pertama, pembentukan Kabupaten Luwu Tengah yang benar-benar layak. Ini tidak bisa hanya bertumpu pada wilayah eks Walmas meskipun jumlah kecamatannya telah mencukupi setelah di mekarkan menjadi beberapa kecamatan. Pemekaran kabupaten tidak boleh sekadar administratif, tetapi harus mempertimbangkan potensi ekonomi dan keberlanjutan fiskal. Karena itu, pengaturan ulang tapal batas Kabupaten Luwu Utara harus di lakukan dgn mengambil tapal batas baru di sepanjang DAS Sungai Rongkong. Langkah ini, sekaligus membagi beban ketertinggalan antara  Rampi dan Seko di Luwu Utara. Rampi menjadi titik fokus pengentasan ketertinggalan oleh Luwu Utara, Seko menjadi titik fokus pengentasan ketertinggalan oleh Luwu Tengah. (Catatan : Luwu Utara adalah kabupaten dgn wilayah terluas tapi sekaligus berkategori termiskin di Sulawesi Selatan) 

Kedua, mendorong integrasi Tanah Toraja dan Toraja Utara. Opsi ini menuntut pengorbanan besar, terutama soal identitas dan nama provinsi. Nama Mengapa Luwu Raya Gagal Mekar, Sementara Sulawesi Barat Berhasil Tahun 2004?

Pemekaran wilayah sejatinya bukan soal siapa yang paling kaya sumber daya, melainkan siapa yang paling matang secara politik dan taktis dalam memperjuangkannya. Fakta ini tampak jelas ketika membandingkan nasib Sulawesi Barat dan Luwu Raya.

Sulawesi Barat resmi menjadi provinsi pada tahun 2004, di masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri. Padahal, pada periode yang bersamaan, Luwu Raya juga mengajukan diri untuk dimekarkan dari Sulawesi Selatan. Namun sejarah mencatat, hanya Sulawesi Barat yang berhasil.

Pertanyaannya kemudian, mengapa? 
Jawabannya tidak terletak pada potensi daerah. Secara objektif, Luwu Raya justru jauh lebih unggul baik dari sisi sumber daya alam, sejarah politik, posisi geografis, maupun basis ekonomi. Kegagalan Luwu Raya lebih disebabkan oleh ketidakmatangan strategi dan lemahnya konsolidasi elite daerah.

Salah satu kunci keberhasilan Sulawesi Barat adalah soliditas para tokoh dan pemangku kepentingan daerahnya. Perbedaan kepentingan lokal dikesampingkan demi satu tujuan besar yaitu pembentukan provinsi. Mereka bergerak dalam satu barisan, satu narasi, dan satu peta jalan perjuangan.

Sebaliknya, di Luwu Raya, energi perjuangan terfragmentasi. Masing-masing wilayah lebih sibuk mengurus pemekaran kabupaten sendiri tanpa kesadaran kolektif bahwa semua itu seharusnya disusun dalam satu desain besar menuju provinsi. Akibatnya, perjuangan menjadi sporadis dan kehilangan arah strategis.

Sulawesi Barat tidak memulai perjuangannya dengan teriak “provinsi” di ruang publik. Mereka memulai dari pemenuhan syarat formil secara disiplin dan terukur. 

Pada tahun 2002, Kabupaten Polewali Mamasa dimekarkan menjadi Polewali Mandar dan Mamasa. Setahun kemudian, Kabupaten Mamuju dimekarkan menjadi Mamuju dan Mamuju Utara (kini Pasangkayu). Dengan demikian, sebelum tuntutan provinsi diajukan, lima kabupaten telah terbentuk dan siap secara administratif. Inilah yang luput dilakukan oleh Luwu Raya.

Pemekaran wilayah di Luwu Raya sejak akhir 90an sejatinya terlihat progresif. Kabupaten Luwu dimekarkan menjadi Luwu dan Luwu Utara (1999), Kota Palopo dimekarkan dari Luwu (2002), lalu Luwu Timur dimekarkan dari Luwu Utara (2003).
Namun bila ditelaah lebih dalam, pemekaran ini tidak berbasis pada satu grand design menuju provinsi. Pembagian wilayah dilakukan tanpa pola yang saling menguatkan.

Kabupaten Luwu, misalnya, setelah Palopo dimekarkan, menyisakan wilayah eks Walenrang–Lamasi (Walmas) yang terpisah secara geografis dan lemah secara fiskal. Kondisi ini membuat upaya pembentukan kabupaten baru di wilayah tersebut menjadi rapuh sejak awal.
Pemekaran kabupaten akhirnya berhenti sebagai tujuan itu sendiri, bukan sebagai alat strategis untuk membangun provinsi.

Dua jalan yang masih mungkin jika Luwu Raya masih serius ingin menjadi provinsi :

Pertama, pembentukan Kabupaten Luwu Tengah yang benar-benar layak. Ini tidak bisa hanya bertumpu pada wilayah eks Walmas meskipun jumlah kecamatannya telah mencukupi setelah di mekarkan menjadi beberapa kecamatan. Pemekaran kabupaten tidak boleh sekadar administratif, tetapi harus mempertimbangkan potensi ekonomi dan keberlanjutan fiskal. Karena itu, pengaturan ulang tapal batas Kabupaten Luwu Utara harus di lakukan dgn mengambil tapal batas baru di sepanjang DAS Sungai Rongkong. Langkah ini, sekaligus membagi beban ketertinggalan antara  Rampi dan Seko di Luwu Utara. Rampi menjadi titik fokus pengentasan ketertinggalan oleh Luwu Utara, Seko menjadi titik fokus pengentasan ketertinggalan oleh Luwu Tengah. (Catatan : Luwu Utara adalah kabupaten dgn wilayah terluas tapi sekaligus berkategori termiskin di Sulawesi Selatan) 

Kedua, mendorong integrasi Tanah Toraja dan Toraja Utara. Opsi ini menuntut pengorbanan besar, terutama soal identitas dan nama provinsi. Nama “Provinsi Luwu Raya” kemungkinan harus dilepas dan diganti menjadi Provinsi Luwu Toraja (LUTOR). Ini adalah kompromi politik yang berat, namun rasional dan saling menguntungkan. Tanpa kompromi semacam ini, sulit membayangkan Toraja bersedia bergabung, dan sulit pula bagi Luwu Raya memenuhi syarat provinsi secara mandiri.

Sejarah Sulawesi Barat memberi pelajaran penting bahwa provinsi tidak lahir dari emosi dan demonstrasi dgn memblokade akses jalan Nasional berhari-hari, melainkan dari strategi, kesabaran, dan persatuan elite. Selama Luwu Raya belum berani bersatu, menyusun peta jalan yang rapi, dan berkorban demi tujuan besar, maka pemekaran provinsi akan terus menjadi wacana bukan kenyataan.

Kini pilihan ada di tangan para tokoh dan pemangku kuasa. Mau belajar dari sejarah atau mengulang kesalahan yang sama.

#luwuraya #propinsiluwuraya #sulawesibarat #sulawesiselatan #nrdaeng #ceritapakda #catatanpakda

Jumat, 16 Januari 2026

Darah Mandar - Zainal Arifin Mochtar DIKUKUHKAN GURU BESARFAKULTAS HUKUM UGM

Oleh : Almadar Fattah  

Kabar membanggakan datang dari Jogjakarta, Darah Mandar, Zainal Arifin Mochtar, yang akrab disapa Uceng, resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM). Prosesi pengukuhan berlangsung khidmat di Balai Senat, Gedung Pusat UGM, pada Kamis (15/1). Pengukuhan ini tidak hanya menjadi capaian akademik pribadi, tetapi juga kebanggaan bagi masyarakat Mandar dan Sulawesi Barat, karena menunjukkan bahwa putra daerah mampu berkiprah dan berkontribusi nyata di tingkat nasional melalui dunia akademik dan pemikiran hukum.

Dalam prosesi pengukuhan tersebut tampak hadir sejumlah tokoh nasional, di antaranya Wakil Presiden ke-10 dan ke-11 Republik Indonesia, Jusuf Kalla (JK), mantan Menko Polhukam Mahfud MD, mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, mantan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, mantan penyidik KPK Novel Baswedan, hingga Ketua DPD RI GKR Hemas. Kehadiran para tokoh lintas latar belakang ini semakin menegaskan kapasitas, integritas, serta pengaruh pemikiran Zainal Arifin Mochtar dalam dunia hukum dan kehidupan kebangsaan.

Anies Baswedan yang ditemui awak media turut menyampaikan ucapan selamat kepada Zainal Arifin Mochtar (Uceng). Menurutnya, pengukuhan ini merupakan sebuah puncak baru dalam pengabdian kepada keilmuan, sekaligus penegasan atas dedikasi panjang Uceng dalam mengembangkan pemikiran hukum yang kritis dan berintegritas. Anies menilai capaian tersebut bukan hanya prestasi personal, tetapi juga kontribusi penting bagi dunia akademik dan kehidupan berbangsa.

Sosok Uceng dikenal memiliki keahlian yang kuat, wawasan yang luas, serta keberanian untuk mengungkapkan pikiran dan menegur setiap penyimpangan. Keberanian inilah yang menjadi pembeda utama seorang kecendekiawan sejati, tidak hanya menguasai ilmu, tetapi juga berani berdiri di atas nilai dan kebenaran. Sikap tersebut menjadikan Uceng bukan sekadar akademisi, melainkan intelektual yang menghadirkan ilmu sebagai alat menjaga nurani, etika, dan keadilan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bagi Uceng, kecendekiawanan bukan semata-mata untuk kemajuan ilmu pengetahuan, melainkan juga sebagai penjaga nurani republik. Ilmu harus hadir untuk memastikan negara ini tetap berjalan di jalur yang baik dan benar, dengan hukum yang tegak, kekuasaan yang diawasi, serta kepentingan rakyat yang diutamakan. Inilah makna kecendekiawanan sejati: ilmu yang berpihak pada kebenaran, berani mengingatkan, dan konsisten menjaga arah perjalanan republik.

Ayah Uceng adalah KH. Mochtar Husain, seorang ulama besar dari Tanah Mandar yang dikenal luas dengan julukan “Singa Podium”. Julukan tersebut mencerminkan ketegasan, keberanian, serta kekuatan retorika beliau dalam berdakwah dan menyuarakan kebenaran. 

Sosok KH. Mochtar Husain menjadi teladan moral dan intelektual yang jejak nilainya turut mengalir dalam perjalanan hidup dan pemikiran Uceng hingga kini.

Warisan nilai keilmuan, integritas, dan keberanian moral dari sosok KH. Mochtar Husain inilah yang turut membentuk karakter Uceng sebagai intelektual yang berani bersuara, teguh pada prinsip, dan konsisten menjaga nilai-nilai kebenaran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Profil Uceng
Zainal Arifin Mochtar atau yang akrab disapa Uceng lahir di Makassar, 8 Desember 1978. Ia menempuh pendidikan tinggi Strata Satu (S1) Ilmu Hukum di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan lulus pada tahun 2003. Setelah itu, Uceng melanjutkan studi ke luar negeri dengan menempuh jenjang Strata Dua (S2) di Northwestern University, Chicago, Amerika Serikat, dan berhasil meraih gelar Master of Law (LL.M) pada tahun 2006.

Selain itu, Zainal Arifin Mochtar juga memperkaya kapasitas akademiknya dengan mengikuti berbagai program internasional. Ia menyelesaikan kursus Summer School Administrative Law hasil kerja sama Universitas Gadjah Mada–Maastricht University, Belanda, pada tahun 2006. Selain itu, ia juga mengikuti Summer School American Legal System di Georgetown Law School, Washington, Amerika Serikat.

Latar belakang pendidikan tersebut menjadi fondasi kuat bagi Uceng dalam mengembangkan pemikiran hukum yang kritis, berintegritas, dan konsisten memperjuangkan tegaknya prinsip negara hukum.

Pengalaman akademik lintas negara tersebut semakin memperkuat perspektif dan kedalaman pemikiran Zainal dalam bidang hukum administrasi dan sistem hukum, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Kamis, 15 Januari 2026

FAKTA ISRA' MI'RAJ


Awaluddin Kadir Masser 

Jika di Bumi terdapat BAITULLAH Kiblat Umat Islam di dunia dalam beribadah. Maka dilangit ada BAITUL MAKMUR Kiblat Penduduk Langit dalam beribadah. 

------------

Isra' : adalah Perjalanan dari Masjidil Haram ke Baitul Maqdis sesungguhnya Perjalanan Horisontal spritual yg berlangsung dibumi yg memberikan hikmah masjid to masjid adalah pusat peradaban sosial, budaya, politik dan ekonomi dengan seluruh kapasitas dan entitas dari mana kita, siapa kita

Mi'raj : adalah perjalanan vertikal (pendakian) Iman yang menukik ke langit menembus hingga Baitul Makmur dan perjalanan isra mi'raj ini terjadi dalam kapasitas seorang Hamba bukan perjalanan Dinas dengan Jabatan Nabi dan Rasul. Dan Mi'rajnya manusia seperti kita ini adalah Shalat yang tdk ada perbedaan dalam posisi Shaf dimasjid masjid Allah dimuka bumi. Perjalanan Dinas dengan Jabatan memungkinkan manusia terjebak pada keangkuhan posisioning Jabatan struktural dan fungsional yg mungkin mendegradasi kepentingan kepentingan Mustadha'afin (orang orang lemah) maka dia Rasulullah Muhammad Saw sebagai Hamba diperjalankan bertemu dengan Tuhannya yg privalage itu tdk diberikan kepada Malaikat. (Subhanallah).

Sidratul Muntaha : Sesungguhnya secara simbolik Batas pencapaian akhir yg diperlihatkan Allah SWT kepada hambanya utk mempersaksikan Kebesaran Allah utk menerima perintah Shalat. Hanya dengan shalat ini Muhammad umatmu bisa survive dalam melangsungkan kehidupannya dengan selamat dan maslahat dunia akhirat. Kalau tidak akan timbul kekacauan dimuka bumi. Inna shalata tanha anil fahsya'i wal mungkar.

Langit 1-7 : Perjuangan mondar mandir Nabi Muhammad di tujuh pintu langit sejatinya sebuah semangat yg harus dimiliki seorang hamba untuk terus menganalisis, memperbaiki dengan bimbingan wahyu bhw menuju jalan kebaikan itu butuh perjuangan yg tidak mudah penuh dg tantangan. 

Wallahu a'lam bishawab.

Minggu, 28 Desember 2025

KEMAH LITERASI|| Malam, Kata, dan Cerita


Catatan Supriadi, S.Pd. 
(Direktur Pisakaku) 

Berangkat dari sebuah percakapan telepon, gagasan tentang kegiatan kemah literasi kami ramu seperti sedang jatuh cinta pada pandangan pertama. Zulfihadi, baru saja memberi tawaran untuk mengajak kami berkemah di MLC Baluno Majene bersama dengan Fadil. Kami Menyusun tema, bermalam merangkai kata, meramu cerita : lahirlah tema yang kami sepakati adalah malam, kata, dan cerita. Saya dan Fadil tentu akan mencoba memberi kesan sebagai perwakilan Gen Z, memang kelahiran kami sama dan memang termasuk Generasi Z, dan Bum = Refleksi 2025 : Resolusi 2026. Saya buatlah segala perlengkapan informasi ke sosial media, flyer dan cara daftar beserta grup whatsapp. Bumi Mandarnsesia mendaftar lebih awal, disusul oleh Lentera Labuang, perwakilan SMKS Suparman Wonomulyo, Allo Tidoa’. Pun sebelumnya kami juga harus menyebut Lembaga Komunitas kami, Pusat Studi Sosial dan Kajian Kebudayaan (PUSAKAKU), Fadil Lino Pustaka, dan Bang Zul sebagai tuan rumah MLC Baluno. 

Sabtu, 27 Desember – 28 Desember 2026. Awal rencana, saya akan membawa istri saya sekalian liburan Bersama. Entah pada bagian mana ia kembali menurunkan niatnya untuk ikut. Disamping itu, Fadil menelpon untuk memberi kabar bahwa tak bisa ikut lantaran kesehatannya terganggu, yaaaa blio memang seorang pemuda yang progresif yang hampir-hampir lupa bahwa tubuhnya butuh istirahat dari kesibukan hal-hal baik. Kendatipun demikian, waktu berjalan tanpa melalaikan jadwal yang telah kami sepakati. 
Sampailah saya di Baluno, meski dengan perasaan kecewa karena senja yang ingin sekali kami nikmati itu telah terbenam jauh meninggalkan. Saya bersama seorang teman begitu penasaran, apa yang yang ditawarkan oleh MLC Baluno ini ? Kenapa kami harus ada disini. Penasaran itu menjelma menjadi pertanyaan, pertanyaan yang membuat malam berlalu begitu cepat. Bagaimana mungkin hal yang ditanyakan itu benar-benar menjadi kesan yang sangat berharga. 

Kami berlima, saling sapa, saling tanya. Tentang Literasi, tentang Mangrove, tentang segala hal yang telah dilalui, tentang segala hal yang akan dilalui. Mandarras sebagai salah satu bahan diskusi yang begitu panjang, tetapi tak cukup ruang untuk saya tuliskan disini secara gamblang. Tetapi program yang digaungkan oleh Sulawesi Barat ini benar-benar menguras pikiran kami, sehingga kami bersepakat untuk melihat lebih jauh, mengawasi lebih dalam, bahkan mencoba memberi suara : Mandarras Sulawesi Barat harus punya target, kapan ia harus naik level ? 
Bagaimanapun panjangnya diskusi kami, tetapi selalu diakhiri omong kosong. Yaa, benar, sebab kami hanya masuk dalam lingkar peduli. Mempedulikan sesuatu yang tidak masuk dalam pengaruh. Meski selalu diakhiri omong kosong, tetapi dalam hati tetap memberi suara bahwa Literasi benar-benar menjadi penawar dari segala penyakit di planet ini. 

Malam minggu yang berharga itu perlahan lenyap dalam mimpi, kami istirahat untuk mengumpulkan tenaga karena besok pagi masih ada agenda pengenalan dan penanaman mangrove. 

Terimakasih.

Sabtu, 27 Desember 2025

Catatan dari Perhelatan “Cakrawala Budaya"

Testimoni Kebudayaan, Uwake Cultur Foundation, Boyang Kaiyyang Kandeapi, 26 Desember 2025 ---Bagian Pertama

Terstimoni Kebudayaan: Dua Belas Orang Berorasi Dalam Semalam

Oleh: Hamzah Ismail

Sebagai penanda kegiatan akhir tahun, Uwake Cultur Foundation menggelar sebuah hajatan kebudayaan bertajuk “Cakrawala Budaya”, dengan kemasan yang cukup unik: “Testimoni Kebudayaan.” Forum ini memberi ruang bagi belasan tokoh budayawan dan seniman se-Sulawesi Barat untuk tampil berorasi, menyampaikan kesaksian, refleksi, sekaligus kegelisahan mereka tentang kebudayaan yang sedang dan akan dihidupkan bersama.

Berbeda dengan Cakrawala Budaya --agenda bulanan Uwake-- yang selama ini diisi dengan diskusi kebudayaan dan penampilan musik oleh Lingkar Musik Uwake, edisi Desember 2025 tampil sebagai peristiwa yang menyimpang dari kebiasaan. Tak ada diskusi, hanya diselingi pertunjukan musik. 

Keunikan lainnya, kegiatan ini berlangsung hanya dalam satu malam. Namun justru dalam keterbatasan waktu itulah, testimoni-testimoni kebudayaan menjelma sebagai catatan kolektif: ringkas, padat, dan sarat makna --sebuah penegasan bahwa peristiwa kebudayaan tak selalu membutuhkan panggung besar dan durasi panjang, melainkan hidupnya kerelaan untuk bersaksi, merawat ingatan, dan menghadirkan sejarah serta kebudayaan ke hadapan publik secara apa adanya.

Kesempatan tampil pertama diberikan kepada Dr. Suradi Yassil, penulis dan budayawan senior yang kini berusia delapan puluh tahun. Dalam testimoninya, Suradi sejak awal menekankan pembedaan mendasar antara kebudayaan dan kesenian, sebagai landasan penting dalam memahami praktik budaya secara utuh. Ia kemudian menautkan pandangan tersebut dengan refleksi atas eksistensi dirinya, sekaligus mengisahkan praktik-praktik cerdas yang ia jalani dalam mendidik anak sebagai bagian dari laku kebudayaan sehari-hari.

Kesempatan kedua diberikan kepada seniman dan tokoh pendidik, Dr. Suparman Sopu, yang kini berdomisili di Mamuju. Dalam testimoninya, ia menegaskan pentingnya mengingat kembali tiga M: Muhasabah Kebudayaan, Muraqabah Kebudayaan, dan Mujahadah Kebudayaan. 

Muhasabah Kebudayaan, menurutnya, mengajak menengok kembali perjalanan yang telah dilalui serta capaian-capaian positif yang telah dikerjakan. Ia memberi apresiasi kepada Uwake yang dinilainya berhasil menembus ruang teknologi canggih melalui karya musik yang memadukan tradisi dan modernitas, seperti hadirnya unsur sande’ dan bahasa Mandar dalam lagu-lagu Pak Ishaq yang diterima luas. Suparman juga menekankan kuatnya suasana religi dalam syair-syair yang selalu bermula dari Bismillah, karena akar sejarah dan budaya adalah bahwa  I Manyambungi penganut Agama Islam. 

Terkait teknologi dan AI, ia menegaskan bahwa pembaruan kebudayaan dapat dilakukan tanpa meninggalkan keaslian. Pada sisi Muraqabah, ia menekankan kesadaran identitas Mandar sebagai Mandar. Sementara Mujahadah Kebudayaan dimaknainya sebagai kesungguhan menghadapi tantangan, seraya mengutip pesan leluhur Mandar tentang keberanian menerjang ombak dan angin kencang.

Pen-testimoni kebudayaan ketiga adalah Ajbar Abdul Kadir, sosok yang kerap mengidentikkan dirinya sebagai “anak kampung” dan kini menjadi politisi andal Mandar, satu dari empat wakil Sulawesi Barat yang duduk di DPR RI. Ia memulai testimoninya dengan memaparkan data bahwa negara-negara dengan tingkat ekonomi tinggi umumnya juga memiliki tingkat inovasi yang tinggi. Menurut Ajbar, salah satu fondasi pentingnya adalah budaya egalitarisme –kesetaraan--yang melahirkan kebebasan, mengubah cara pandang sistem nilai, serta menyediakan ruang tumbuh berbasis relasi setara. Budaya ini tidak hanya meningkatkan kualitas manusia, tetapi juga kesejahteraan. 

Terinspirasi gagasan Tan Malaka dalam Menuju Republik Indonesia, Ajbar memaknai republik sebagai revolusi kebudayaan untuk menyiapkan generasi yang mampu menyerap nilai dan beradaptasi dengan perubahan global. Ia menegaskan bahwa inovasi tidak semata ditentukan kecerdasan intelektual, melainkan oleh ruang tumbuh yang adil, jujur, kompetitif secara fair, dan berlandaskan semangat belajar. Karena itu, ruang-ruang kebudayaan perlu hadir konsisten dalam ranah demokrasi, dengan pijakan pada independensi etis yang berorientasi pada kebenaran.

Tiba giliran penulis, yang juga diberi kepecayaan untuk juga menyampaikan testimoni kebudayaan. Hmmmm. Pada kesempatan itu, penulis menyampaikan tentang adanya tiga lapis keasadaran hubungan antara manusia (alawe), alam semesta (nawang), dan pranata hukum (akkeadang). Jauh sebelum membaca disertasi Darmawan Masud Rahman, “Puang dan Daeng: Kajian Sistem Nilai Budaya Orang Balanipa Mandar” yang di dalamnya membincang tentang hubungan alawe, nawang dan akkeadang, sebelumnya penulis pernah mendapatkannya dari salah seorang tokoh intelektul Mandar, yang juga seorang sufi, Subaer Rukkawali. Secara berturut-turut penulis sampaikan bahwa tiga lapis kesadaran yang berasal dari khazanah kebudayaan Mandar itu adalah “Alawe mimbolong di atauang, atauang mimbolong di alawe”, lalu “Alawe mimbolong di nawang, nawang mimbolong di alawe” kemudian “Alawe mimbolong di akkeadang, akkeadang mimbolong di alawe”. Saat orang Mandar mampu menginternalisasi tiga lapis keasadaran itu ke dalam dirinya, maka outputnya adalah terwujudnya Tau Tongang (manusia seutuhnya). Manusia seutuhnya dicirikan oleh sikap mala’bi’. Mala’bi’ pau, kedzo dan gau’. Tau Tongang, akan selalu menjaga dua hal: “Ma’asayanni Lita” dan “Ma’asayanni Pa’banua”.

Tabeeqqqq.
Tinbambung, 28/12/2025

#agendaakhirtahun
#testimonikebudayaan
#14orangorasidalamsemalam

Minggu, 21 Desember 2025

AKHIR TAHUN DAN PEMBUKTIAN JANJI || SDK Perkuat Tata Kelola Birokrasi Bersih




Oleh: Hajrul Malik 
Tenaga Ahli Gubernur Sulawesi Barat

Akhir tahun selalu memberi ruang jeda. Jeda untuk menoleh ke belakang, menakar apa yang telah dijalani, sekaligus menimbang arah yang hendak dituju. Di ruang inilah pelantikan pejabat pimpinan tinggi pratama (Eselon II) di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat menemukan maknanya—bukan sekadar seremoni birokrasi, melainkan bagian dari proses panjang membangun tata kelola pemerintahan yang lebih bersih dan beradab.

Ucapan selamat tentu patut disampaikan kepada para pejabat yang baru dilantik. Kepercayaan yang diberikan bukan datang tiba-tiba. Ia melalui proses seleksi, termasuk wawancara terbuka, yang menghadirkan harapan publik akan birokrasi yang diisi oleh mereka yang memang layak, bukan sekadar dekat. Di tengah iklim skeptisisme publik terhadap birokrasi, proses semacam ini menjadi penting untuk menjaga rasa keadilan dan kepercayaan.

Dalam pengalaman pemerintahan, jabatan Eselon II adalah simpul kerja. Di sanalah visi gubernur diuji dalam praktik, dan kebijakan diuji dalam realitas. Tidak semua hal bisa diselesaikan dengan pidato atau dokumen perencanaan. Dibutuhkan kepemimpinan yang mau mendengar, berani memutuskan, dan siap bekerja lintas batas kewenangan.

Tantangan Sulawesi Barat tidak ringan. Soal pelayanan dasar, ekonomi rakyat, hingga pengelolaan sumber daya daerah menuntut birokrasi yang tidak bekerja sendiri-sendiri. Pelantikan ini diharapkan memperkuat sinergi antar-perangkat daerah, sekaligus mengikis sekat-sekat ego sektoral yang selama ini kerap menghambat laju kerja pemerintahan.

Di titik inilah publik menggantungkan harapan agar para pejabat yang dilantik mampu menggerakkan Pancadaya Gubernur secara lebih nyata. Pancadaya bukan sekadar arah kebijakan, tetapi kompas kerja. Ia membutuhkan keberanian menerjemahkan visi menjadi program yang saling terhubung dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Sebagai bagian dari sistem, saya melihat bahwa upaya membangun birokrasi bersih bukan pekerjaan instan. Ia membutuhkan konsistensi, keteladanan, dan keberanian untuk menjaga proses tetap berada di rel yang benar. Seleksi terbuka dan penempatan berbasis kompetensi adalah langkah awal yang penting, meski tentu belum sempurna.

Akhir tahun ini memberi satu catatan: janji tata kelola birokrasi yang bersih yang disampaikan SDK tidak berhenti pada narasi. Ia mulai menemukan bentuk dalam kebijakan dan proses. Tugas berikutnya adalah memastikan bahwa semangat ini terus dijaga, diperluas, dan diwujudkan dalam kerja nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat Sulawesi Barat.

Menutup tahun, harapan itu sederhana namun mendasar: birokrasi yang bekerja dengan hati, melayani tanpa pamrih, dan setia pada amanah publik. Dari sanalah kepercayaan tumbuh, dan dari sanalah pembangunan menemukan maknanya.

Selamat bekerja bapak bapak dan ibu ibu. Selamat bergabung di circle Pancadaya...

Selasa, 16 Desember 2025

STANDAR BARU || Proses Seleksi Jabatan Publik

Oleh: Suhardi Duka

Seperti yang sering disuarakan oleh Pak Wakil Gubernur, Salim S Mengga. Bahwa daerah ini sangat membutuhkan sosok pejabat yang tak sekadar punya kualifikasi dan kompetensi profesional. Jauh lebih mendesak untuk saat ini, kita membutuhkan figur dengan rentang moral yang juga baik. 

Bukan berarti kualitas serta kemampuan individu tak penting, tapi bagi saya, sama seperti agama yang akhlak dulu baru belajar ilmu. Di dunia birokrasi pun seperti itu, mental dulu baru kita bicara kompetensi.

Penataan birokrasi memang telah digenjot di fase awal masa jabatan saya dan Pak Salim. Dari menginisiasi perampingingan perangkat daerah, hingga penempatan para pejabat di pos-pos jabatan tertentu.

Tentu saja dampaknya belum dapat diukur hari ini. Tapi, satu yang pasti, di tengah beratnya tantangan yang dihadapi, reformasi birokrasi adalah satu dari sekian prioritas di masa kepemimpinan kami berdua.

Bagi saya, mindset birokrasi kita memang masih perlu didudukkan ke titik yang semestinya. Sebab suka atau tidak, laju mesin birokrasi belum sampai pada fase seperti yang diharapkan. Seperti sebuah anomali, sebab jika melihat standar administratif dari para birokrat di Sulawesi Barat, sebagian besar dari jabatan-jabatan strategis itu telah diisi oleh mereka yang menggendong gelar akademik cukup mentereng.

Visi Sulawesi Barat maju dan sejahtera sebagai titik yang hendak kita tuju, termasuk termasuk poin-poin pengimplementasian-nya, wajib dijadikan nafas utama dalam setiap gerak birokrasi di Sulawesi Barat. Bukan hanya sebatas didukung, mesin birokrasi wajib hukumnya untuk menjalankannya secara kongkret. 

Sebab diksi 'mendukung visi misi', menurut saya menyimpan makna seolah-olah roda birokrasi dengan visi yang hendak dituju tak bergerak secara simultan. 

Mari sejenak kita introspeksi diri. Jika hanya bekerja sesuai dengan aturan. Mau hasilnya bagus, atau tidak, pokoknya bekerja sesuai dengan aturan. Tak memikirkan untuk bagaimana memperbaiki aturan. Tak membangun budaya kinerja secara rapi. Berorientasi hasil, manfaat belum. Masih output, outcome belum. 

Jika masih seperti itu, berarti memang benar, ada yang keliru dari mindset birokrasi kita. 

Semakin beratnya tantangan zaman ditambah problematika hidup di tengah masyarakat yang juga kian kompleks, mesin birokrasi dituntut untuk mampu menghadirkan nilai lebih pada setiap pelayanannya. Bukan sekadar bekerja sesuai aturan atau sebatas mengugurkan kewajiban saja.

Angin digitalisasi yang semakin kencang mau tak mau mesti jadi salah satu instrumen dalam mempermudah kinerja birokrasi. Fasiltas itu hendaknya jadi salah satu piranti utama dalam menciptakan value pada setiap gerak birokrasi kita.

Jika mindset bekerjanya hanya sekadar formalitas belaka, lantas apa yang membedakan aparatur kita dengan kecanggihan teknologi hari ini ?. Boleh jadi, piranti digital itu jauh lebih hebat ketimbang deretan aparatur kita.

Apa yang disampaikan Pak Salim di atas, bagi saya punya makna yang sangat mendalam. Saya duga keras beliau hendak mengatakan bahwa kecanggihan teknologi hari ini mesti tetap dalam kendali manusia. Unsur 'rasa' manusia (dengan mental yang baik) harus hadir dalam setiap derap langkah birokrasi kita. Manusia-lah yang menghadirkan value, bukan deretan piranti digital itu.

Proses seleksi terbuka untuk pos jabatan tertinggi di 12 OPD yang saat ini masih bergulir menyisakan 36 nama calon. Sebagai wujud penerapan prinsip akuntabilitas dan transparansi, saya menginisiasi untuk proses wawancara kepada para calon dilakukan secara terbuka, disiarkan secara langsung.

Dengan begitu, publik dapat terlibat secara langsung dalam melakukan evaluasi untuk visi, misi, pengetahuan, dan kemampuan manajerial dari calon pejabat. Selain itu publik pun punya ruang yang lega dalam mengawal proses tersebut. Memungkinkan hadirnya pengawasan independen terhadap setiap prosesnya sekaligus memastikan prosesnya berjalan objektif dan juga adil.

Saya, Pak Salim bersama Sekda yang secara langsung mewawancarai para kandidat tersebut. Sebuah langkah baru, satu terobosan untuk menghindari lahirnya praduga sekaligus meminimalisir potensi transaksi politik atau lobi-lobi di balik layar. Secara bersamaan, proses yang dilakukan secara terbuka itu bakal mengurangi ruang gerak untuk praktik koruptif atau nepotisme, sejalan dengan semangat reformasi. 

Sekali lagi saya tegaskan, saya, pak Salim ingin bekerja dengan dukungan penuh dari seluruh lapisan masyarakat. Membuka proses wawancara itu juga jadi cara yang saya yakini bakal berefek pada lahirnya partisipasi dan pemantauan publik yang tinggi untuk proses tersebut. 

Satu standar baru dalam sebuah proses seleksi jabatan publik yang saya yakini mampu merangsang kesadaran masyarakat tentang tanggung jawab moral dan sosialnya sekaligus upaya untuk membangun kepercayaan publik pada sistem pemerintahan yang saya dan pak Salim usung. (*)

Minggu, 14 Desember 2025

Catatan Kajian Tasawuf








Catatan 
Hamzah Ismail

Kajian Tasawuf
Tema: Menyelami Samudera Al-Ḥaqīqah Al-Muḥammadiyyah dengan Zikir Rūḥ Bersama: Annangguru Syeikh K.H. Muhammad Ilham Saleh dan Abuya Arrazy Hasyim, Tempat: PP Darul Ulum Syeikh K.H. Muhammad Saleh, Saleppa, Majene
Waktu: 14 Desember 2025, pukul 13.00 - selesai

Ketika Dua Tokoh Spiritual Bertemu: Keindahan-lah yang Selalu Tampak

Tentang Persiapan Pelaksanaan Kegiatan

Kehadiran Syeikh Buya Arrazy Hasyim --seorang ulama muda dan dai nasional yang dikenal luas-- merupakan anugerah dari Allah Swt. Buya Arrazy menekuni dan mengajarkan fikih, ushul fikih, serta tasawuf dalam koridor Ahlus Sunnah wal Jama‘ah. Ia masyhur melalui kajian-kajian keislaman yang sistematis dan mendalam, baik secara luring maupun melalui media digital, dengan gaya penyampaian argumentatif serta rujukan kuat pada kitab-kitab turats.

Kehadirannya di PP Darul Ulum Saleppa sejatinya berada di luar perencanaan awal. Pada mulanya, agenda kunjungan Buya Arrazy di Sulawesi Barat pada penghujung tahun ini tidak mencantumkan Pondok Pesantren Darul Ulum sebagai titik kegiatan. Perubahan terjadi belakangan, setelah satu agenda di wilayah Mamuju batal dilaksanakan, sehingga pihak manajemen perjalanan Buya Arrazy di Tanah Mandar kemudian menetapkan Saleppa sebagai titik tambahan.

Hal tersebut tercermin dalam publikasi kegiatan. Sejumlah baliho yang tersebar ke publik tidak mencantumkan agenda Kajian Tasawuf bersama Annangguru K.H. Muhammad Ilham Saleh dan Abuya Arrazy Hasyim. Hanya satu baliho berukuran cukup besar yang terpasang di pusat Kota Majene, itupun merupakan inisiatif jamaah Tarekat Qadiriyah Majene.

Dalam rapat perdana persiapan penyambutan Buya Arrazy di PP Darul Ulum Saleppa, yang juga dihadiri penulis, Bapak Muhammad selaku pimpinan rapat menyampaikan bahwa kehadiran Buya Arrazy di pesantren ini bersifat tambahan agenda. Pernyataan tersebut dikuatkan oleh Annangguru K.H. Muhammad Ilham Saleh yang menegaskan, “Kita ini membantu pihak yang menangani Buya Arrazy di Tanah Mandar, sekadar mencukupkan titik.”

Meski tidak dirancang secara matang sejak awal, pelaksanaan Kajian Tasawuf ala Tarekat Qadiriyah di Saleppa Majene akhirnya berjalan dengan baik dan sukses. Hal ini tidak lepas dari dukungan ikhlas jamaah Qadiriyah Majene yang dibantu sepenuhnya jamaah Qadiriyah Tinambung. Urusan logistik tertangani dengan aman dan lancar.

Untuk kelengkapan media penyiaran agar kajian dapat disimak oleh seluruh jamaah, jamaah Qadiriyah Tinambung menyediakan sarana pendukung, termasuk dua unit televisi berukuran besar milik STAIN Majene. Fasilitas ini memungkinkan jamaah yang berada di luar ruang utama tetap dapat mengikuti kajian melalui layar.

Melalui tulisan ini, mewakili Annangguru K.H. Muhammad Ilham Saleh dan Panitia Pelaksana, penulis menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu menyukseskan kegiatan kajian ini, khususnya kepada pihak Kampus STAIN Majene.

Mengurai Keindahan Pertemuan Annangguru Ilham Saleh dan Buya Arrazy

Sejak Minggu pagi, suasana di Markas Besar PP Darul Ulum Saleppa Majene mulai tampak sibuk. Panitia bekerja mempersiapkan segala keperluan, sementara jamaah berdatangan secara perlahan dan memadati halaman depan pesantren. Di tengah aktivitas pemasangan dua unit televisi besar, tampak pula satu unit mobil panitia yang mendistribusikan konsumsi berupa nasi kotak bagi para peserta kajian.

Pada waktu yang sama, melalui media sosial (Facebook), terpantau Abuya Arrazy Hasyim tengah mengisi Tabligh Akbar di Masjid At-Taubah Imam Lapeo dengan tema “Meneladani Sifat Rasulullah Saw: Jalan Mudah Menuju Surga.” Agenda Kajian Tasawuf di PP Darul Ulum Saleppa memang dijadwalkan berlangsung setelah kegiatan Abuya Arrazy di Lapeo selesai. Usai acara tersebut, beliau dijadwalkan bertolak ke Saleppa dan makan siang di lokasi pesantren.

Tepat ba‘da Zuhur, Buya Arrazy bersama istri dan rombongan tiba di Saleppa. Penulis yang sebelumnya mengikuti salat berjamaah di masjid yang berada tepat di depan markas PP Darul Ulum, mendengar lantunan hadrah dan selawat yang dikumandangkan para santri sesaat setelah salam. Doa pun disudahi seadanya, sebab kekhawatiran muncul –ruang kajian bisa penuh terisi jamaah, sementara penulis memiliki tugas khusus dari Annangguru Ilham Saleh.

Penulis memang ditugaskan secara khusus sebagai penanya dalam forum Kajian Tasawuf tersebut. Karena itu, penulis segera mengambil tempat di bagian depan, tidak jauh dari Annangguru K.H. Muhammad Ilham Saleh dan Buya Arrazy Hasyim.

Pada momentum ini, tampak jelas bagaimana Annangguru K.H. Muhammad Ilham Saleh memberi ruang seluas-luasnya kepada murid-muridnya untuk memperluas wawasan dan memperdalam ilmu. Beliau membuka kesempatan interaksi dengan para ulama, kiai, dan tokoh-tokoh yang hadir di Saleppa, sebagai bagian dari proses pembelajaran spiritual dan intelektual.

Saat tiba, Buya Arrazy tidak langsung memasuki ruang kajian. Beliau terlebih dahulu menuju lantai bawah untuk menikmati jamuan makan siang. Sekitar dua puluh orang turut makan bersama beliau, termasuk Annangguru K.H. Muhammad Ilham Saleh. Tampak pula mendampingi Buya Arrazy dari Lapeo, seorang kiai muda keturunan Imam Lapeo, Dr. Ahmad Multazam, yang selanjutnya akan menemani perjalanan Buya Arrazy ke Kalukku, Mamuju.

Menariknya, setelah makan bersama, terjadi peristiwa yang sarat makna. Buya Arrazy menyampaikan keengganannya untuk turun mengisi kajian sebelum menerima ijazah Tarekat Qadiriyah dari Annangguru K.H. Muhammad Ilham Saleh. Nampan makan yang semula berada di hadapan mereka pun digeser. Buya Arrazy kemudian bergerak mendekat ke arah Annangguru dengan cara ngesot –bergerak maju sambil duduk dan menyeret tubuh di lantai. Kedua lutut dirapatkan, tangan berjabat, lalu Annangguru tampak membisikkan sesuatu ke telinga Buya Arrazy. Adegan tersebut tampak sebagai sebuah proses talqin yang khidmat dan penuh keheningan spiritual.

Dalam proses memberi dan menerima ini, terpancar keindahan yang nyaris tak terlukiskan –sebuah tiara spiritual yang hanya dapat dipertunjukkan oleh para tokoh yang telah menukik jauh ke kedalaman dunia sufistik. Dunia yang sarat dengan keindahan dalam teks, kata, dan laku simbolik.

Terima kasih Guru, Annangguru K.H. Muhammad Ilham Saleh atas kepercayaan yang diberikan kepada penulis sebagai penanya dalam forum Kajian Tasawuf itu. Terima kasih pula kepada Buya Arrazy Hasyim yang berkenan menutup acara dengan meletakkan statemen tegas: “Fanalah Muhammad, nyatalah Ahmad, fanalah Ahmad, nyatalah Ahad” lalu membagi zikir atau wirid pamungkas: “Ahad dzatullah, Ahmad Nurullah, Muhammad Nurullah, Al-Mahdi Khalifatullah,” sebagaimana penulis mohonkan sebagai penutup rangkaian pertanyaan yang kemudian diijazahkan untuk seluruh jamaah yang hadir mengikuti kajian.

Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih.

Tinambung, 15 Desember 2025

Al-faqir,
Hamzah Ismail

Sabtu, 06 Desember 2025

Dr. ABD. RAHMAN HAMID || Seminar Hasil Penelitian Mahasiswa UIN RIL -Membaca Dunia Maritim Indonesia




Bandarlampung, 5 Desember 2025, mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab UIN Raden Intan Lampung menggelar seminar hasil penelitian di Perpustakaan Nasional RI, Arsip Nasional RI, dan Museum Bahari Jakarta. Seminar dilaksanakan di Ruang Seminar Fakultas Adab, merupakan bagian dari laporan praktikum mata kuliah (1) Sejarah Maitim Indonesia dan (2) Bahasa Sumber dengan dua dosen pengampu yaitu: Dr. Abd Rahman Hamid dan Agus Mahfudin Setiawan, M.Hum.    

Ketika membuka acara, Ketua Prodi SPI mengatakan bahawa kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan mahasiswa menelusuri sumber-sumber sejarah maritim yang tersedia di tiga instansi tersebut. Setelah seminar ini, setiap kelompok akan mengirimkan artikelnya ke jurnal nasional.  

“Dengan menerbitkan artikel di jurnal nasional, selain untuk memenuhi luaran mata kuliah, juga yang terpenting adalah untuk menambah jumlah publikasi mahasiswa sebelum menyelesaikan studi di Prodi SPI”, terang Dr. Hamid. 

Semester lalu, setelah praktikum mata kuliah di Banten, mahasiswa telah menghasilkan 6 judul artikel yang terbit di jurnal nasional. Jadi, kalau semester ini bisa terbit lagi satu artikel, maka sudah ada dua artikel yang dihasilkan sampai semester lima  ini”, kata Dr. Abd Rahman Hamid.       

Sementara itu, dosen pengampu mata kuliah Bahasa Sumber, Agus Mahfudin Setiawan, M.Hum, mengapresiasi semangat tinggi mahasiswa dalam proses pengumpulan sumber sejarah di Jakarta. “Sumber tulisan ini sudah bagus, sisa ditingkatkan lagi arah dan fokus artikel masing-masing. Jadi, artikel ini perlu diperbaiki lagi agar lebih fokus pada tema kajian”, terangnya.  

Seminar ini dihadiri oleh 45 mahasiswa Prodi SPI dengan menampilkan 10 topik kajian yang dibagi menjadi dua sesi diskusi. Lima topik pada sesi pertama membahas mengenai pelabuhan di Lampung (Telukbetung dan Oosthaven), Emmahaven (pelabuhan Padang), pelabuhan Sabang (Aceh), pelabuhan Surabaya, dan pelabuhan Makassar. Sesi ini dipandu oleh Amira Zahida Mumtaz. 

Dua pelabuhan Lampung yang berada di Telukbetung menjadi cikal bakal lahirnya Kota Bandar Lampung. Aktivitas pelabuhan Telukbetung melahirkan Kota Telukbetung, sebagai kota lama Lampung. Sementara aktivitas Oosthaven (Panjang) melahirkan kota baru Tanjungkarang. 

Selanjutnya, lima topik sesi kedua mengkaji mengenai pelabuhan di Kalimantan Timur dan Selatan, pelabuhan Ende (Nusa Tenggara), pelabuhan di Maluku (Ambon dan Ternate), pelayaran laut nasional Indonesia (PELNI), dan peranan Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) dalam revolusi Indonesia. Sesi ini dipandu oleh Reisya Aulia Khabiba. 

Selain menampilkan artikel hasil kajian, dalam seminar ini juga ditampilkan video dokumenter perjalanan praktikum Sejarah Maritim Indonesia dan Bahasa Sumber yang dilaksanakan di Jakarta pada  4 – 6 November 2025. 

Belajar sejarah tidak cukup dengan membaca buku-buku sejarah saja, tetapi juga perlu praktik lapangan untuk menelusuri sumber-sumber sejarah dan menuliskannya menjadi narasi sejarah berupa artikel untuk dipublikasikan ke jurnal nasional, kata Ketua Prodi SPI Dr. Abd Rahman Hamid menutup seminar ini.

Kamis, 04 Desember 2025

Kontribusi Saran untuk DOB Kota Mamuju

Catatan Hajrul Malik

Mamuju, 4 Desember 2025 — Dalam rangkaian Focus Group Discussion (FGD) Studi Kelayakan Pembentukan Daerah Otonom Baru (DOB) Kota Mamuju, saya berkesempatan memberikan masukan strategis sebagai Tenaga Ahli Gubernur Sulawesi Barat. FGD ini dilaksanakan oleh Universitas Brawijaya selaku tim pengkaji akademik, bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Mamuju, dan berlangsung di Ballroom Matos Mamuju.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Gubernur Sulawesi Barat yang membuka acara secara resmi, serta Bupati Mamuju, tokoh masyarakat, Wakil Ketua dan sejumlah anggota DPRD Sulawesi Barat, anggota DPRD Mamuju, dan perwakilan DPR RI. Kehadiran unsur Biro Otonomi Daerah Kemendagri turut memberikan bobot penting terhadap arah pembahasan.

Dalam forum ini, saya menyampaikan beberapa saran utama yang dianggap relevan untuk memperkuat kelayakan DOB Kota Mamuju, di antaranya:

1. Urgensi penataan governance Ibu Kota Provinsi agar lebih adaptif terhadap tekanan layanan publik dan pertumbuhan urban yang semakin cepat.

2. Pentingnya penyusunan Masterplan Kota Mamuju 2035, yang memadukan perencanaan ruang, potensi ekonomi, layanan dasar, serta mitigasi bencana sebagai identitas kota yang modern dan tangguh.

3. Penguatan analisis fiskal dan proyeksi PAD, sehingga Kota Mamuju sebagai DOB memiliki dasar kemampuan keuangan yang memadai untuk lima tahun pertama penyelenggaraan pemerintahan.

4. Penegasan nilai strategis Mamuju sebagai kota penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN), sehingga pembentukan kota baru ini sejalan dengan arah kebijakan pembangunan nasional.

Forum ini tidak hanya menghimpun pendapat, tetapi juga mempertemukan pandangan pemerintah pusat, daerah, akademisi, dan masyarakat untuk merumuskan langkah yang paling tepat bagi masa depan Mamuju.

Saya percaya bahwa dengan kajian ilmiah yang kuat dari Universitas Brawijaya dan komitmen semua pemangku kepentingan, ikhtiar menuju DOB Kota Mamuju akan berjalan lebih terarah, inklusif, dan bermanfaat bagi percepatan pembangunan Sulawesi Barat.

Semoga kontribusi kecil ini menjadi bagian dari upaya besar memajukan Mamuju menuju status kota yang modern, berdaya saing, dan melayani warga dengan lebih baik.


#DOBKotaMamuju
#MamujuMenujuKota
#SulbarMaju
#FGDKotaMamuju
#UniversitasBrawijaya
#PemkabMamuju
#PemerintahSulbar
#TenagaAhliGubernur
#MamujuKeren


Rabu, 26 November 2025

ABD. RAHMAN HAMID || Dosen UIN RIL Narasumber FGD BRIN

Jakarta, 26 November 2025, Dosen UIN Raden Intan Lampung, Dr. Abd Rahman Hamid kembali menjadi Narasumber kegiatan yang dihelat oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), setelah sebelumnya mengisi acara AB Lapian Memorial Lecture (23 September 2025), dengan tema utama “Cerita dalam Hidangan: Tradisi Lisan Kuliner sebagai Potensi Wisata Gastronomi Berkelanjutan”.  

Focus Group Discussion (FGD) ini dilaksanakan selama tiga hari (24-26 November) dengan menghadirkan enam narasumber utama yaitu: KH Ahmad Baso, Dr. Anhar Gonggong, Dr. Suriadi Mappangara, Prof. Dr. Muhlis Hadrawi, Dr. Abd Rahman Hamid, dan Dr. Mukhlis PaEni. 

Abd Rahman Hamid mengisi acara pada hari ketiga dengan topik “Gastronomi dan Jalur Rempah: Peran Perempuan dalam Merawat Tradisi Maritim Buton dan Mandar”, dengan moderator Risma Widiawati, M.Si. 

“Tradisi kemaritiman sering kali dianggap milik laki-laki saja. Namun, apakah tradisi itu bisa bertahan tanpa kehadiran perempuan?”, jelas Ketua Prodi Sejarah Peradaban Islam UIN RIL saat mengawali presentasinya, yang dihadiri 30 peneliti Pusat Riset Khasanah Keagamaan dan Peradaban secara luring dan 45 peserta secara daring.  

Berangkat dari isu tersebut, Hamid menjelaskan mengenau peranan perempuan dalam  merawat kelangsungan tradisi maritim serta transformasi gastronomi pelaut menjadi identitas orang Buton dan Mandar.  

Menurut Hamid, perempuan Buton dan Mandar memiliki peran penting dalam menjaga kelangsungan aktivitas pelayaran pelaut, mulai dari menyediakan bekal untuk suaminya hingga memproduksi beragam komoditas niaga seperti kain tenun, parang dan pesau besi, menyikap goreng dari kelapa, dan menenun kain layar perahu.
 
Yang menarik adalah bahwa kedua suku bangsa bahari Indonesia ini memiliki jenis kuliner yang sama yang terbuat dari singkong, yakni soami/kasoami/sangkola (Buton) dan jepa (Mandar). 

Menurutnya, kesamaan itu disebabkan oleh dua faktor: pertama, kondisi kehidupan di laut atau atas perahu sama yang dipengaruhi oleh faktor gelombang, arus laut, dan angin. Kedua, para pelaut memerlukan kuliner yang mudah dikonsumsi dan adaptif terhadap kondisi kehidupan di atas perahu, baik saat angin kencang maupun angin tenang. Inilah kecemerlangan perempuan dalam memastikan keselamatan suami mereka dan sekaligus merawat tradisi maritim. 


Awalnya merupakan kuliner pelaut, lalu dikonsumsi semua kalangan, dan sekarang menjadi simbol identitas orang Buton dan Mandar. Gastromi itu juga menjadi petunjuk mengenai persebaran (diaspora) Buton dan Mandar di Indonesia. Bahkan, ia disebut soft diplomacy lintas budaya di Tanah Air, terang Hamid. 

Elaborasi ini menjadi sumber inspirasi untuk studi lanjut mengenai kehidupan para pelaut lainnya di Indonesia. “Tanpa kehadiran perempuan, tidak mungkin tradisi maritim bisa bertahan berabad lamanya”, kata Hamid menutup presentasinya.

Peserta diskusi begitu antusias mengikuti acara yang ditandai respons dari delapan peserta yaitu Kang Dede, Prof. Dr. Saleh, Andi Baso, Lamansi, Dudung Yuwono, Wardiah Hamid, Prof. Dr. Idham Kholid Bodi, dan Syamsu Rijal. 

Diskusi ini ditutup oleh Kepala Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban, Wuri Handoko, yang juga kandidat Doktor Arkeologi Universitas Indonesia. Beliau menyampaikan terima kasih kepada seluruh narasumber yang telah berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada para peneliti, serta berharap bahwa kelak dibentuk satu pusat kajian Gastronomi Nusantara di lingkungan BRIN.

Rabu, 19 November 2025

TITIK TERANG || Penari di Atas Kuburan

Oleh: Hamzah Ismail

Heboh penari di atas kuburan dua tiga hari terakhir, mulai menemui titik terang. Menurut info A1 dari sumber yang layak dipercaya, aksi ini bagian dari tugas pengembangan tari Pattuqduq oleh seorang mahasiswa. Mereka menari di atas kuburan itu, ternyata menjadi bagian dari riset mereka. 

Menjadi miris, sebab selain mendapat kecaman keras di medsos, ternyata mahasiswa tersebut juga mendapat teguran dari kampusnya, bahkan diancam tidak diikutkan ujian jika tidak segera datang ke Mandar meminta maaf.

Dalam hubungan itu, menyikapi kejadian tersebut kita mesti lebih mengedepankan kejernihan pikiran. Peristiwa ini tidak lagi dijadikan ajang memojokkan atau menghakimi. Kepada mahasiswa itu tetap perlu diberi ruang untuk belajar sambil mendudukan halnya secara proporsional, dengan penuh pengertian dan empati bahwa ia sedang berada dalam tahap pembelajaran, dan kesalahan dalam eksperimen seninya adalah bagian wajar dari proses itu. Olehnya, meski ia tak segera datang menghadap minta maaf, kita mestinya lebih awal mengulurkan tangan memberi maaf.

Kejadian ini menjadi pengingat bahwa dalam proses pengembangan seni, budaya, dan pendidikan, ruang belajar, kesadaran, pengertian, dan komunikasi harus berjalan beriringan, agar ekspresi kreatif tetap menghormati warisan budaya tanpa menghilangkan kesempatan belajar.
 
Dalam pandangan kami, masalah ini menjadi begitu heboh hanya karena terlewatinya sebuah proses sederhana: bicara-bicara (komunikasi). Bukankah, apa pun masalahnya, banyak hal bisa berjalan dan terselesaikan hanya dengan dialog yang terbuka – bicara-bicara?

Klir dan selesai, menurut saya.

Tabeqqq
Tinambung, 19/11/2025
@sorotan

Selasa, 18 November 2025

Penari Menari diatas Makam Rajanya

Catatan Rahmat Polanagau 

1-2 hari ini berita Penari di makam sakral lagi viral dan saya kira itu tidak mengherankan. Ragam paradoks didalamnya mendorong letupan itu.
Pada postingan ini saya sertakan dua gambar, satu adalah video viral yang saya svreenshoot dan satunya lagi lukisan saya di tahun 2008, saya berpikir belajar /study sendiri untuk karya naturalis. (Referensinya adalah karya salah satu maestro lukis nasional) saya merubah sesuatu didalamnya agar karya ini tak dikejar sebagai plagiat (ini adalah study dan itu lumrah saja). Saya tidak akan membicarakan itu hanya sebagai ilustrasi saja.

Jadi begini, hehehh 
Mensoalkan Penari di makam sakral itu, untuk semua yang kebetulan membaca.

Apakah dimungkinkan dalam moment tertentu pada pikiran kita memahami bahwa tari adalah laku ritual, simbolisasi kesadaran yang estetis, yang mendorong sinkronitas wujud dan rasa pada kesakralan sesuatu. lalu berharap bahwa para penari itu telah merepresentasikan penghormatan diri pada kemuliaan raja, budaya dan sejarah. Andai seperti itu bukankah notabene itu adalah hasrat mayoritas Orang Mandar yang menghargai sejarah dan eksintensinya.
Para pengamat dan penggiat seni serta kritikus seni pertunjukan harus mengambil ruang untuk memposisikan ini dengan teori teori pendekatan kritik dalam seni pertunjukan.

Pada sisi lain jika para penari yang dikemudikan koreografernya itu mengaktualisasi karya itu sebagai karya yang bersifat artifisial (murni ekspresi simbolik dan estetis,.dalam artian bukan sebagai ritual kepercayaan maka niscaya akan menjadi sesuatu yang kontradiktif ketika Ia mengambil alih ruang sejarah budaya dan spiritual yang Sakral dan disakralkan serta terframe sebagai bagian identitas masyarakatnya.. Perbedaan yang bergesekan adalah sebuah keniscayaan.

Titik temu penerimaan atau persepakatan mungkin bisa hanya jika para pelaku tari itu menyadari kebebasan sebagai ketidak bebasan dalam keliaran baik sebelum dan sesudah karya itu meng-ada. Kejadian ini sudah tidak bisa di rewind lagi, Ia hanya bisa direposisi dalam persepsi dan perspektif setelah dilakukan kajian mendalam yang tentu dari beberapa elemen yang dimungkinkan peduli dan terlibat.

Sebagai individu dalam dunia seni (seni rupa) sangat menyayangkan kejadian ini. Dengan stimulan yang kuat (media cepat dan tanpa limit) mayoritas masyarakat tentu akan lebih condong berasumsi bahwa kehadiran dari karya yang di tempatkan di situs sakral itu adalah realitas dari isi pikiran yang banal, yang birahi pada popularitas dengan pilihan sensasional dan sangat kontroversial.

Kreatifitas tak terbatas dan dunia memungkinkan eksplorasi yang bebas diruang kejujuran dan kebebasan dalam konteks Seni,  tapi laku hidup sebisanya harus tetap berpihak pada sikap Sadar Ruang. Kebebasan manusia adalah kebebasan yang dibatasi manusia lainnya. Batas batas sikap adalah kunci balance dan harmoni dalam tatanan yang telah diidealkan pada masyarakat tertentu.

Ini semacam kecelakaan ekspresi, seperti aktifitas grafitti "orang orang baru" pada dinding sakral abadi dihadapan para khalayak pemiliknya 🙂. Tapi apapun problemnya jika nilai luhur budaya diimplementasikan maka kebijaksanaan adalah jawabannya. Meski demikian jika dimungkinkan buatkanlah aturan khusus aktifitas yang dibolehkan di situs itu sebagai acuan sekaligus dengan sanksi bagi pelanggarnya.

Tak semua harus berubah dan diubah ada hal hal yang sudah cukup dalam ruang identitas makro.

Buat mereka penari dan koreografernya, Selamat berkarya, pilih jalan yang pintar dan baik selagi masih berkutat dalam seni yang Gandrung  keartistikan. 

#videoviral
#penaridiatasmakam
#artscultureproblematic
#smallrespons
#RSVAletters

Minggu, 16 November 2025

TODILALING || Sang Raja yang Tidurnya Dijaga Empat Banua




Penulis: Safardy Bora

Ada nama yang bila diucapkan, udara seolah menahan napasnya sebentar: Todilaling.
Di Balanipa, terutama di kampung-kampung yang masih setia pada jejak leluhur, nama itu bukan sekadar sebutan seorang raja—ia adalah gema masa lampau yang tetap memantulkan cahaya hingga sekarang.

Di masa ketika kabut turun lebih cepat daripada ayam jantan, dan punggung gunung berdiri sebagai dinding sunyi tempat para leluhur menitipkan pesan, hiduplah seorang pemimpin yang kelak menyatukan empat banua dalam satu garis takdir: I Manyambungi—Todilaling, raja pertama Balanipa.

Kisah tentang dirinya tidak hanya hidup dalam lontara. Ia berjalan dari bibir ke telinga, dari ritual ke malam-malam cerita, dari denting gendang ke detak batin yang mencari asal-usulnya. Setiap kali namanya disebut, ada sesuatu yang membuat orang menunduk—seperti ada angin yang datang membawa pesan dari abad-abad yang hilang.
---
I. Jejak Lama yang Tak Pernah Redup

1. Pemakaman yang Menahan Waktu

Orang tua Mandar menyimpan kisah tentang peristiwa paling sunyi dalam hidup Todilaling: saat ia kembali ke tanah.
Tetapi ia tidak ditinggalkan sendirian.

Empat belas sosok—dalam banyak cerita: tujuh lelaki dan tujuh perempuan—ikut “turun” bersamanya.
Tidak sebagai korban, melainkan sebagai tanda bakti;
sebagai bayangan yang menjaga tidurnya, sebagai perisai terakhir dalam perjalanan menuju alam tak bernama.

Maka, lahirlah sakralitas itu.
Todilaling tak lagi hanya raja; ia menjadi pusat kosmos kecil yang memantulkan wibawa dan misteri.

2. Gendang Yang Berjalan di Udara

Ada cerita yang tidak dicatat oleh akademisi, tetapi disimpan oleh mereka yang hatinya masih pekat oleh masa lampau.

Beberapa malam setelah penguburannya, dari arah puncak gunung terdengar bunyi lirih—mirip gendang kecil yang dipukul pelan, atau nyanyian yang tidak selesai.
Tidak jelas dari mana datangnya, tetapi cukup untuk membuat orang merapatkan sarung dan menatap gelap.

Dari sanalah keyakinan muncul: bahwa Todilaling dijaga tidak hanya oleh manusia. Ada yang lebih tinggi, lebih sunyi, lebih sulit dijelaskan—yang menutup seluruh perjalanan hidupnya dengan kesyahduan.

3. Ketika Persatuan Dirawat di Bawah Satu Nama

Todilaling adalah sosok yang membuat Appe Banua Kaiyyang bersumpah untuk hidup dalam satu payung persatuan.
Pada masa ketika persekutuan lebih rapuh daripada seutas tali nipah, kesanggupan untuk menyatukan empat banua bukan hanya kecakapan politik—melainkan semacam berkah.

Maka wajar bila masyarakat melihatnya sebagai pemimpin yang bertuah;
bukan sekadar pemegang kekuasaan, tetapi penata harmoni antara manusia dan semesta.
---
II. Gunung Lapuang  Napo: Tempat Di Mana Waktu Tidak Terlalu Cepat

Gunung Lapuang Napo masih berdiri seperti dulu—memayungi makam tua Todilaling di puncaknya. Dari sana, langit tampak lebih dekat dan udara membawa aroma tanah yang mengingat musim-musim lama.

Kini, makam itu menjadi ruang belajar, ruang hening, ruang mengenang.
Pelajar datang dengan buku catatan.
Peziarah datang dengan doa.
Pejabat datang membawa kamera dan hormat.
Komunitas budaya datang menjaga apa yang tersisa.

Tetapi gunung itu juga menyimpan cerita yang pelan-pelan mulai dilewati waktu:

Jalur Lama Para Peziarah

Dahulu, sebelum ada jalan yang layak, para peziarah berjalan dari Lamasariang → Oting - Pandebulawang →  Lapuang.

Kendaraan hanya bisa berhenti sampai Oting.
Setelah itu, jalan berubah menjadi deretan batu cadas besar yang tidak bisa dilewati roda empat.
Orang berjalan kaki, menembus tanah liat berkapur yang licin bila hujan, keras bila kemarau.

Ke makam Todilaling, orang tidak hanya datang—
mereka menempuhnya.
Dan karena ditempuh dengan susah payah, setiap langkah berubah menjadi doa.
---
III. Todilaling dalam Zaman Baru

Kini, kisah Todilaling tidak lagi hanya tinggal di gunung.
Ia turun ke panggung seni:
ditarikan, diperankan, dipentaskan—sebagai upaya generasi muda untuk menjaga agar cerita leluhur tidak hilang ditelan cahaya lampu kota.

Penelitian pun hadir, menggambarkan bagaimana masyarakat memaknai makam itu: sebagai ruang budaya, ruang religius, ruang sejarah, atau ketiganya sekaligus.
Hasilnya satu: memori kolektif tentang Todilaling hidup—meski bentuknya berubah.

Tetapi ada tantangan baru:
ketika makam menjadi bagian dari wisata, bagaimana menjaga kesakralan agar tidak larut oleh lalu-lalang manusia?

Komunitas lokal harus mampu menjawabnya dengan tenang:
merawat, bukan menjual;
membuka akses, tetapi menjaga makna.
---

IV. Makna Todilaling Hari Ini

Kesakralan Todilaling tidak lagi bergantung pada mistik.
Ia hidup dalam tiga ruang yang tetap berdenyut:

• Ruang memori
Menjadi benang merah identitas Mandar.

• Ruang ritual
Ziarah, hening, doa.

• Ruang pendidikan
Menjadi teks, penelitian, pembelajaran bagi generasi baru yang mungkin tidak lagi hafal nama gunung, tetapi tetap ingin mengenal leluhurnya.
---

Penutup

Ketika kita menyebut nama Todilaling hari ini, yang kita panggil bukan hanya seorang raja dari masa lampau.
Kita sedang memanggil sejarah yang menjaga dirinya sendiri; legenda yang tetap hidup karena diceritakan; dan identitas yang membentang dari puncak gunung di Napo hingga hati orang-orang Mandar yang terus mencari jejak asalnya.

Di sanalah sakralitas itu tinggal—
di antara batu cadas yang pernah diinjak para peziarah,
di antara kabut yang turun dari puncak,
dan di antara bisik-bisik yang menolak padam.
---


Samarinda, 17 November 2025

Sabtu, 15 November 2025

MAJENE || MENGGORES BUDAYA DI LEMBARAN KREATIFITAS

Oleh : Muh. Arsalin Aras

Majene bukan sekadar titik di peta, Majene adalah tungku tempat api tradisi ditempa menjadi cahaya inovasi. Dalam setiap anyaman bambu, dalam dentingan gendang dan dalam setiap petikan Kecapi Mandar, tersimpan “panas” yang menunggu dibentuk menjadi karya yang menghangatkan seluruh negeri.

Majene bukan sekedar ejaan dalam lafadz, Majene adalah kanvas hidup dimana setiap goresan budaya menjadi jejak yang menandai perjalanan waktu. Seperti pena yang menorehkan tinta pada lembaran kosong, Majene kuasa menggoreskan tradisi, cerita dan harapan menjadi karya yang tak lekang oleh angin perubahan.

Majene, tanah yang mengalir antara sungai Mahakam dan Samudra Hindia, bukan sekadar titik geografis. Majene adalah lembaran kosong yang menunggu goresan budaya yang menorehkan identitas, harapan dan impian. Ketika kreativitas menjadi pena, budaya menjadi spirit bersama, Majene menuliskan babak baru dalam peta ekonomi kreatif.

Lembaran Kreatif sebagai ruang Kolaborasi

“ Budaya adalah lembaran, kreativitas adalah pena, ketika keduanya bersatu, yang tercipta bukan sekadar gambar, melainkan nyanyian jiwa sebuah kampung.”

Dalam kerangka itu, setiap anyaman bambu, setiap dentingan petikan kecapi adalah goresan yang menegaskan identitas. Menjadikan Majene sebuah “ lembaran kreatif ” memberi ruang bagi api tradisi untuk tetap menyala, sekaligus memberi kebebasan bagi generasi muda menulis bab baru dengan warna‑warna inovasi.
Majene adalah ruang goresan budaya jejak leluhur yang tak terhapus sekaligus sebagai lembaran kreatif dan ruang terbuka bagi ide‑ide baru.

"Sebuah goresan tidak menghapus lembaran, ia menambah cerita pada tiap serat.”
Dalam konteks Majene, setiap inovasi tidak menghilangkan warisan, melainkan menambah lapisan makna pada budaya yang sudah ada.

Majene hari ini sedang menuliskan dirinya di lembaran kreatif dengan goresan budaya yang tak lekang oleh waktu. Jika Kita terus memberi ruang bagi pena‑pena muda, lembaran itu akan menjadi karya agung yang menginspirasi bukan hanya Sulawesi Barat, tetapi seluruh nusantara. Mari Kita gores bersama, supaya setiap helaan napas budaya Majene menjadi tinta yang mengalir ke seluruh dunia.

Budaya sebagai Bahan Baku, Kreatifitas Sebagai Pena

Budaya adalah cerminan jati diri sebuah bangsa, sebuah mozaik yang terdiri dari beragam warna dan motif yang membentuk identitas unik setiap komunitas. Namun, budaya bukan hanya warisan statis yang dibiarkan teronggok di museum sejarah. Ia adalah bahan baku dinamis yang terus-menerus diolah, dihidupkan, dan diinterpretasikan ulang melalui kreativitas.

Di era global ini, kreativitas menjadi sarana penting untuk mengekspresikan kembali nilai-nilai budaya, mengemasnya dalam bentuk mozaik indah yang relevan dengan zaman dan membagikannya kepada dunia. Kreativitas adalah pena yang mampu menerjemahkan esensi budaya ke dalam berbagai bentuk ekspresi—seni, musik, film, fashion, bahkan teknologi.

Melalui kreativitas, budaya tidak hanya dipertahankan, tetapi juga dikembangkan menjadi sesuatu yang baru dan menarik. Misalnya, batik yang dulu hanya dikenakan dalam acara-acara formal, kini menjelma menjadi motif fashion modern yang dipakai di berbagai kesempatan. 

Kreativitas dalam mengolah budaya juga harus diimbangi dengan pemahaman mendalam tentang akar budayanya sendiri. Tanpa ini, kreativitas bisa menjadi sekadar imitasi tanpa makna, atau bahkan mengaburkan esensi budaya yang ingin dilestarikan. Oleh karena itu, penting untuk selalu menempatkan budaya sebagai fondasi utama dalam setiap karya kreatif.

Dengan memandang budaya sebagai bahan baku dan kreativitas sebagai pena, Kita tidak hanya melestarikan warisan leluhur di Majene, tetapi juga menciptakan sesuatu yang baru dan inspiratif untuk masa depan.

Kampung Krearif Tempa Budaya

Kampung kreatif bukan sekadar istilah yang muncul di media sosial. Ia adalah konsep pemberdayaan yang menempatkan budaya, seni dan inovasi sebagai fondasi utama pembangunan ekonomi di tingkat paling bawah. Di era digital dan persaingan global, kampung kreatif menawarkan alternatif berkelanjutan bagi desa‑desa di Majene yang masih bergantung pada sektor agraris tradisional. Dengan mengoptimalkan potensi lokal, kampung kreatif dapat menjadi katalis pertumbuhan yang inklusif dan berdaya saing.

Setiap kampung memiliki warisan budaya—kerajinan tangan, musik tradisional, kuliner khas atau cerita rakyat yang belum sepenuhnya dimanfaatkan. Melalui pelatihan vokasi, perajin lokal dapat meningkatkan kualitas produk, menambahkan nilai estetika, dan mengakses pasar daring.

Keberhasilan kampung kreatif di Majene, bergantung pada jaringan antara pelaku seni, UMKM, pemerintah, dan akademisi. Kafe tematik, coworking space, dan galeri pop‑up menjadi ruang pertemuan informal di mana ide‑ide dapat dipertukarkan. Pemerintah daerah Majene dapat memfasilitasi inkubator budaya dengan menyediakan ruang kerja, peralatan, dan mentor dari kalangan profesional.

Kampung kreatif adalah jawaban konkret atas tantangan urbanisasi, pengangguran, dan hilangnya identitas budaya. Dengan mengintegrasikan seni, teknologi, dan kolaborasi lintas sektor, wilayah Majene dapat bertransformasi menjadi pusat inovasi yang tidak hanya meningkatkan kesejahteraan warga, tetapi juga memperkenalkan kekayaan budaya Majene kepada dunia.

Dengan “menempa” budaya, Kita tidak hanya melestarikan, tetapi juga mengembangkannya menjadi sesuatu yang dinamis dan adaptif. Budaya bukan sekadar benda mati di museum, melainkan bahan baku yang bisa diolah menjadi karya-karya baru anak muda Majene yang relevan dengan zaman.

Melalui tempa budaya, warga Majene bisa menciptakan perpaduan menarik antara tradisi dan modernitas. Misalnya, musik tradisional yang dipadukan dengan teknologi digital, atau tarian klasik yang dikemas dalam bentuk pertunjukan kontemporer. Dengan cara ini, budaya Majene tidak hanya dipertahankan, tetapi juga menjadi lebih menarik bagi generasi muda.

Namun, tempa budaya juga memerlukan pemahaman mendalam tentang esensi budaya itu sendiri. Kita harus tahu mana yang bisa diubah dan mana yang harus dipertahankan. Jika tidak, akan berisiko kehilangan makna sebenarnya dari budaya tersebut.

Majene memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, setiap wilayahnya memiliki cerita, tradisi dan keunikan tersendiri. Dengan tempa budaya,  Majene bisa mengubah kekayaan ini menjadi aset yang tidak hanya membanggakan, tetapi juga menguntungkan secara ekonomi dan sosial.

Penutup

Membangun kampung kreatif di Majene berarti mengubah warisan budaya menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Dengan strategi yang terarah dan kolaborasi yang kuat, Majene tidak hanya menjadi tempat tinggal, melainkan “tempat budaya” yang menginspirasi, mempekerjakan dan menarik minat dunia.

Majene adalah tungku peradaban, tempat api tradisi ditempa menjadi cahaya inovasi. Dalam setiap anyaman bambu, dalam setiap denting kecapinya tersimpan “panas” yang menunggu dibentuk menjadi karya yang menghangatkan seluruh negeri.

" Sebuah kampung yang kreatif adalah palu, budaya adalah besi, dan warganya adalah pandi yang menaklukkan masa depan. "

Membangun kampung kreatif di Majene berarti memberi ruang pada api itu untuk terus menyala, bukan hanya melompat ke dalam kilauan modernitas. Setiap lokakarya, setiap pameran kecil, setiap postingan di media sosial adalah pukulan palu yang membentuk identitas baru—identitas yang tetap berakar pada tanah, sungai, dan cerita leluhur.

Akhirnya, mari kita lihat Majene sebagai " tempat di mana budaya dijadikan besi, kreativitas dijadikan palu, dan masyarakat menjadi pandai besi masa depan.” Dengan falsafah ini, Majene tidak hanya menggambarkan pembangunan, melainkan mengundang warga luar Majene merasakan denyut jantung sebuah tempa yang tak pernah berhenti di Majene.

Jumat, 14 November 2025

JEPA || SIMBOL KEBERSAMAAN DAN IDENTITAS BUDAYA MANDAR

Oleh : Muh. Arsalin Aras.

Seperti yang dikatakan oleh Claude Levi-Strauss, bahwa " makanan adalah bahasa yang tidak berbohong ", adalah bermakna bahwa bagaimana makanan dapat menjadi bahasa yang mengungkapkan identitas budaya dan kebersamaan.

Jean-Paul Sartre, menyebutkan bahwa  " manusia adalah kebebasan ", merupakan contoh bagaimana kebebasan manusia dapat diekspresikan melalui pilihan makanan dan cara makan, yang pada gilirannya membentuk identitas budaya dan kebersamaan dalam masyarakat.

Ungkapan Roland Barthes, bahwa " makanan adalah sistem semiotik ", bermakna bagaimana makanan dapat menjadi sistem semiotik yang mengungkapkan makna dan nilai-nilai budaya, serta membentuk identitas dan kebersamaan masyarakat.

Warisan dan Identitas Budaya

Jepa, kuliner khas Mandar, bukan hanya sekedar hidangan tradisional, tetapi juga merupakan simbol kebersamaan, kekuatan, dan ketahanan masyarakat Mandar.

Jepa telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Mandar selama berabad-abad, dan telah diwariskan kepada generasi Mandar hari ini. Jepa merupakan makanan yang dibuat secara bersama-sama, sehingga menciptakan rasa kebersamaan dan gotong royong sebagai perekat masyarakat Mandar dimanapun berada.

Jepa juga merupakan simbol identitas budaya Mandar yang kuat dan membedakan masyarakat Mandar dengan masyarakat lainnya di Nusantara. Jepa merupakan bagian dari tradisi dan budaya Mandar yang telah diwariskan dari generasi ke generasi, karenanya, kuliner Jepa harus terus dilestarikan dan dikembangkan keberadaannya sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.

Jepa, kuliner khas Mandar, bukan semata warisan kekayaan budaya, bukan hanya sebatas hidangan tradisional, tetapi sebagai simbol dan ekspresi kebersamaan dan kekeluargaan masyarakat Mandar dimanapun berada kini.

Jepa telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Mandar dengan aroma dan kekhasannya yang menggugah selera penikmatnya. Jepa merupakan kuliner yang dibuat dan diolah dalam kebersamaan sehingga menciptakan sikap gotong royong sebagai bagian tradisi dan kekayaan budaya Indonesia.

Jepa harus terus dilestarikan dan mengembangkannya sebagai kekayaan budaya, agar generasi mendatang dapat menikmati dan menghargai kelezatan dan keunikan Jepa.

Ekspresi Kultural Mandar

Terbuat dari parutan Ubi kayu yang telah dikupas kulitnya dan dicuci bersih, kemudian hasil parutannya dibungkus dengan kain bersih kemudian diperas menggunakan Pangepeq, alat peras tradisional Mandar yang terbuat dari kayu, proses pemerasan ini dimaksudkan untuk menghilangkan kandungan racun pada ubi kayu, setelah dipisahkan air perasannya, ubi kayu tersebut diurai merata dengan campuran parutan kelapa untuk memberi rasa gurih dan aroma khas menjadi sebuah adonan, kemudian dipanggang diatas Panjepangang dengan tungku dari tanah liat yang menggunakan kayu bakar sebagai pemanasnya.

Jepa seringkali dikonsumsi dengan Bau Peapi, namun ada pula yang menghidangkan dengan gula merah sebagai sarapan di pagi hari dengan secangkir kopi hangat.
Kuliner khas Mandar ini mudah didapatkan di pasar-pasar tradisional maupun pusat-pusat kuliner di Kabupaten Majene dan Polewali Mandar.

Jepa, sebagai warisan Budaya Tak Benda, kini menjadi iconik Makanan Khas Mandar di United Nation, Educational, Scientific and Cultural Organization ( UNESCO ) oleh Pemerintah Propinsi Sulawesi Barat melalui Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVIII.

Jepa, kuliner khas Mandar, bukan hanya sekedar hidangan tradisional, tetapi juga wujud ekspresi kultural yang mendalam dari masyarakat Mandar. Jepa merupakan simbol kebersamaan, identitas budaya, dan kekuatan masyarakat Mandar dalam menghadapi tantangan dan kesulitan.

Dalam konteks kultural, Jepa merupakan ekspresi kultural yang menunjukkan kemampuan masyarakat Mandar dalam mengolah bahan-bahan alami menjadi makanan yang lezat menggugah selera.

Nilai Ontologis, Kesejarahan dan Budaya

Jepa, kuliner khas Mandar, bukan hanya sekedar hidangan khas tradisional, tetapi juga merupakan simbol ontologis, kesejarahan, dan budaya yang mendalam dari masyarakat Mandar. Jepa merupakan ekspresi kultural yang menunjukkan kemampuan masyarakat Mandar dalam mengolah bahan-bahan alami menjadi makanan yang lezat dan bergizi.

Jepa merupakan simbol yang menunjukkan hubungan antara manusia dan alam. Jepa terbuat dari bahan-bahan alami yang tersedia di lingkungan sekitar Kita, sehingga menunjukkan bahwa manusia tidak dapat dipisahkan dari alam. Jepa juga merupakan simbol kebersamaan dan gotong royong masyarakat Mandar dalam proses pembuatan dan penyajiannya.

Jepa merupakan identitas yang menunjukkan sejarah dan tradisi masyarakat Mandar. Jepa telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Mandar selama berabad-abad, dan telah diwariskan dari generasi ke generasi sebagai simbol kekuatan dan ketahanan masyarakat Mandar dalam menghadapi tantangan dan kesulitan.

Dalam konteks budaya, Jepa merupakan penanda yang menunjukkan identitas budaya Mandar yang kuat dan membedakan masyarakat Mandar dengan masyarakat lainnya. Jepa merupakan bagian dari tradisi dan budaya Mandar yang telah diwariskan dari Nenek Moyang Orang Mandar terdahulu.

Warisan Budaya Yang Patut Dilestarikan

Makanan tradisional merupakan salah satu aspek penting dalam kebudayaan suatu masyarakat. Makanan tidak hanya sekedar sebagai kebutuhan pokok, tetapi juga sebagai simbol kebersamaan, identitas budaya, dan ekspresi kultural. Salah satu contoh kuliner tradisional yang memiliki makna mendalam adalah Jepa, kuliner khas Mandar yang terbuat dari ubi kayu ( singkong ) dan parutan kelapa. Jepa bukan hanya sekedar hidangan tradisional, tetapi juga bermakna ontologis, ekspresi kultural, dan identitas budaya Mandar yang patut dilestarikan.

Jepa merupakan kuliner khas Mandar yang dibuat secara bersama-sama, melibatkan keluarga dan tetangga, sehingga menciptakan rasa kebersamaan dan gotong royong. Proses pembuatannya yang unik dan rasa yang khas membuat Jepa menjadi salah satu makanan tradisional yang sangat dinantikan di Mandar. Jepa juga merupakan identitas budaya Mandar, yang menunjukkan kekayaan dan keanekaragaman budaya masyarakat Mandar.

Dalam perspektif ontologis, Jepa menunjukkan hubungan antara manusia dan alam. Jepa terbuat dari bahan alami yang tersedia di lingkungan sekitar, sehingga menunjukkan bahwa manusia tidak dapat dipisahkan dari alam. Jepa juga bermakna kebersamaan dan gotong royong, yang menunjukkan bahwa manusia tidak dapat hidup sendirian dan memerlukan bantuan orang lain.

Makanan khas Jepa menunjukkan kemampuan ekspresi kultural masyarakat Mandar dalam mengolah bahan-bahan alami menjadi makanan yang lezat, juga merupakan salah satu contoh bagaimana budaya dan tradisi lokal dapat dipertahankan dan diangkat sebagai identitas bangsa.
Dalam konteks identitas budaya, Jepa adalah identitas budaya Mandar yang menunjukkan kekayaan dan keanekaragaman budaya masyarakat Mandar di Nusantara.

Penutup

Kuliner tradisional merupakan salah satu aspek penting dalam kebudayaan suatu masyarakat, tidak hanya sekedar sebagai kebutuhan pokok, tetapi juga sebagai simbol kebersamaan, identitas budaya, dan ekspresi kultural. Salah satu contoh kuliner tradisional yang memiliki makna mendalam adalah Jepa.

Jepa merupakan simbol identitas budaya Mandar, Jepa adalah simbol kebersamaan, bukan hanya sebagai kuliner, tetapi juga merupakan simbol ontologis kebudayaan Mandar yang patut dilestarikan dan dijaga. Kita harus terus melestarikan dan mengembangkan tradisi dan budaya lokal seperti Jepa, sehingga Kita dapat mempertahankan identitas budaya sendiri dan mewariskannya kepada generasi mendatang.

Jepa, kuliner tradisional Mandar, adalah " rumah yang tidak hanya terbuat dari batu dan kayu, tetapi juga dari cinta dan kebersamaan " ungkap Kahlil Gibran.

Seperti kata Jalaluddin Rumi, " Kita tidak lahir sendirian, Kita hidup bersama, dan Kita mati bersama ", maka Jepa menjadi simbol kebersamaan dan kekuatan masyarakat Mandar. 

Dan sebagaimana ungkapan Tere Liye, " Kita harus menjaga warisan budaya Kita, karena itu adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan ", maka mari Kita lestarikan dan kembangkan warisan budaya Mandar, agar generasi mendatang dapat menikmati dan menghargai kelezatan dan keunikan Jepa, serta memahami makna dan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya."

#panganlokal
#jepawarisandunia
#jeparoadtoUNESCO
#jepacasavabread
#dukungjepajadiich