Minggu, 16 November 2025

TODILALING || Sang Raja yang Tidurnya Dijaga Empat Banua




Penulis: Safardy Bora

Ada nama yang bila diucapkan, udara seolah menahan napasnya sebentar: Todilaling.
Di Balanipa, terutama di kampung-kampung yang masih setia pada jejak leluhur, nama itu bukan sekadar sebutan seorang raja—ia adalah gema masa lampau yang tetap memantulkan cahaya hingga sekarang.

Di masa ketika kabut turun lebih cepat daripada ayam jantan, dan punggung gunung berdiri sebagai dinding sunyi tempat para leluhur menitipkan pesan, hiduplah seorang pemimpin yang kelak menyatukan empat banua dalam satu garis takdir: I Manyambungi—Todilaling, raja pertama Balanipa.

Kisah tentang dirinya tidak hanya hidup dalam lontara. Ia berjalan dari bibir ke telinga, dari ritual ke malam-malam cerita, dari denting gendang ke detak batin yang mencari asal-usulnya. Setiap kali namanya disebut, ada sesuatu yang membuat orang menunduk—seperti ada angin yang datang membawa pesan dari abad-abad yang hilang.
---
I. Jejak Lama yang Tak Pernah Redup

1. Pemakaman yang Menahan Waktu

Orang tua Mandar menyimpan kisah tentang peristiwa paling sunyi dalam hidup Todilaling: saat ia kembali ke tanah.
Tetapi ia tidak ditinggalkan sendirian.

Empat belas sosok—dalam banyak cerita: tujuh lelaki dan tujuh perempuan—ikut “turun” bersamanya.
Tidak sebagai korban, melainkan sebagai tanda bakti;
sebagai bayangan yang menjaga tidurnya, sebagai perisai terakhir dalam perjalanan menuju alam tak bernama.

Maka, lahirlah sakralitas itu.
Todilaling tak lagi hanya raja; ia menjadi pusat kosmos kecil yang memantulkan wibawa dan misteri.

2. Gendang Yang Berjalan di Udara

Ada cerita yang tidak dicatat oleh akademisi, tetapi disimpan oleh mereka yang hatinya masih pekat oleh masa lampau.

Beberapa malam setelah penguburannya, dari arah puncak gunung terdengar bunyi lirih—mirip gendang kecil yang dipukul pelan, atau nyanyian yang tidak selesai.
Tidak jelas dari mana datangnya, tetapi cukup untuk membuat orang merapatkan sarung dan menatap gelap.

Dari sanalah keyakinan muncul: bahwa Todilaling dijaga tidak hanya oleh manusia. Ada yang lebih tinggi, lebih sunyi, lebih sulit dijelaskan—yang menutup seluruh perjalanan hidupnya dengan kesyahduan.

3. Ketika Persatuan Dirawat di Bawah Satu Nama

Todilaling adalah sosok yang membuat Appe Banua Kaiyyang bersumpah untuk hidup dalam satu payung persatuan.
Pada masa ketika persekutuan lebih rapuh daripada seutas tali nipah, kesanggupan untuk menyatukan empat banua bukan hanya kecakapan politik—melainkan semacam berkah.

Maka wajar bila masyarakat melihatnya sebagai pemimpin yang bertuah;
bukan sekadar pemegang kekuasaan, tetapi penata harmoni antara manusia dan semesta.
---
II. Gunung Lapuang  Napo: Tempat Di Mana Waktu Tidak Terlalu Cepat

Gunung Lapuang Napo masih berdiri seperti dulu—memayungi makam tua Todilaling di puncaknya. Dari sana, langit tampak lebih dekat dan udara membawa aroma tanah yang mengingat musim-musim lama.

Kini, makam itu menjadi ruang belajar, ruang hening, ruang mengenang.
Pelajar datang dengan buku catatan.
Peziarah datang dengan doa.
Pejabat datang membawa kamera dan hormat.
Komunitas budaya datang menjaga apa yang tersisa.

Tetapi gunung itu juga menyimpan cerita yang pelan-pelan mulai dilewati waktu:

Jalur Lama Para Peziarah

Dahulu, sebelum ada jalan yang layak, para peziarah berjalan dari Lamasariang → Oting - Pandebulawang →  Lapuang.

Kendaraan hanya bisa berhenti sampai Oting.
Setelah itu, jalan berubah menjadi deretan batu cadas besar yang tidak bisa dilewati roda empat.
Orang berjalan kaki, menembus tanah liat berkapur yang licin bila hujan, keras bila kemarau.

Ke makam Todilaling, orang tidak hanya datang—
mereka menempuhnya.
Dan karena ditempuh dengan susah payah, setiap langkah berubah menjadi doa.
---
III. Todilaling dalam Zaman Baru

Kini, kisah Todilaling tidak lagi hanya tinggal di gunung.
Ia turun ke panggung seni:
ditarikan, diperankan, dipentaskan—sebagai upaya generasi muda untuk menjaga agar cerita leluhur tidak hilang ditelan cahaya lampu kota.

Penelitian pun hadir, menggambarkan bagaimana masyarakat memaknai makam itu: sebagai ruang budaya, ruang religius, ruang sejarah, atau ketiganya sekaligus.
Hasilnya satu: memori kolektif tentang Todilaling hidup—meski bentuknya berubah.

Tetapi ada tantangan baru:
ketika makam menjadi bagian dari wisata, bagaimana menjaga kesakralan agar tidak larut oleh lalu-lalang manusia?

Komunitas lokal harus mampu menjawabnya dengan tenang:
merawat, bukan menjual;
membuka akses, tetapi menjaga makna.
---

IV. Makna Todilaling Hari Ini

Kesakralan Todilaling tidak lagi bergantung pada mistik.
Ia hidup dalam tiga ruang yang tetap berdenyut:

• Ruang memori
Menjadi benang merah identitas Mandar.

• Ruang ritual
Ziarah, hening, doa.

• Ruang pendidikan
Menjadi teks, penelitian, pembelajaran bagi generasi baru yang mungkin tidak lagi hafal nama gunung, tetapi tetap ingin mengenal leluhurnya.
---

Penutup

Ketika kita menyebut nama Todilaling hari ini, yang kita panggil bukan hanya seorang raja dari masa lampau.
Kita sedang memanggil sejarah yang menjaga dirinya sendiri; legenda yang tetap hidup karena diceritakan; dan identitas yang membentang dari puncak gunung di Napo hingga hati orang-orang Mandar yang terus mencari jejak asalnya.

Di sanalah sakralitas itu tinggal—
di antara batu cadas yang pernah diinjak para peziarah,
di antara kabut yang turun dari puncak,
dan di antara bisik-bisik yang menolak padam.
---


Samarinda, 17 November 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar