Tampilkan postingan dengan label Pilkada. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pilkada. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Juli 2024

CAGUB SULBAR || Apa Yang Anda Fikirkan?




Catatan Muhammad Munir

PILKADA SERENTAK 2024 diketahui bahwa Pilgub dan Pilbup akan berlangsung 27 November 2024 dan tahapannya saat ini sedang berjalan yang dilaksanakan Komisi Penyelenggara Umum (KPU) Sulbar dan KPU Kabupaten.

Sejumlah Calon Gubernur dan Wakil Gubernur serta Calon Bupati dan Wakil Bupati kian santer sosialisasi dan memburu rekomendasi partai pengusung. Untuk Pilgub Sulbar, sejumlah nama yang siap berkontestasi semakin gencar. Tercatat SDK (Suhardi Duka) mantan Bupati Mamuju 2 periode dan Anggota DPR RI dengan tanpa ragu menggandeng Mayjend (Purn. TNI) Salim S. Mengga sebagai wakilnya. Ada juga Prof. Husain Syam, Mantan Rektor UNM dua periode yang menggadang-gadang Arwan Aras, Mantan Anggota DPR RI yang juga putra HM. Aras Tammauni. Termasuk dua bersaudara dari klan Masdar juga dikabarkan akan berkontestasi di pesta 5 tahunan ini.

ABM atau Ali Baal Masdar, mantan Gubernur Sulbar (2017-2022) ini dipastikan akan maju lewat usungan Partai Gerindra, meski belum menampakkan tanda-tanda tentang siapa yang akan menjadi pasangannya. Namun hingga tulisan ini dinaikkan, "ABM pasti maju dan siap memanangkan Pilgub untuk periode keduanya sebagai Gubernur Sulbar (2024-2029)", kata salah seorang tim keluarganya kepada penulis via WA. Sementara Andi Ibrahim Masdar, mantan Bupati Polman yang dikenal lewat tagline AIM dan Sulbar Jago ini dengan percaya diri menyatakan maju berpasangan dengan H. Ramlan Badawi yang juga mantan Bupati dua periode dari Kabupaten Mamasa. Pasangan ini dikabarkan maju lewat usungan Partai Amanat Nasional, yang untuk Sulbar diketuai sendiri oleh Ramlan Badawi.

Para pengamat politik memprediksi bahwa SDK - Salim akan sangat mudah melenggang ke kursi Sulbar 01 jika ABM dan AIM benar-benar menjadi rival perebutan suara di Polman. Alasannya, karena suara di Polman dipastikan terpecah dan terbagi ke ABM, AIM, Salim dan Husain Syam. Tapi ini prediksi yang tentu sangat terbuka ruang bantahan bagi yang lain. Bagaimanapun, keberadaan seorang ABM yang notabene masih tergolong petahana tentu memiliki sejumlah strategi untuk kembali memenangi rivalnya di Pilkada 2017 yakni SDK. Kekuatan politik ABM di hampir semua wilayah kabupaten di Sulbar, masih sangat optimis bisa meraih kemenangan. Kekuatan Politik SDK di Mamuju tentu akan terpecah dengan munculnya Husain Syam-Arwan.

Tulisan ini tidak akan fokus membahas sejumlah nama dan peta kekuatan masing-masing calon yang telah menyatakan diri siap berkontestasi di Pilgub 2024. Ada hal yang lebih penting dan mendesak untuk dibincang selain masuk dalam pusaran kepentingan para kandidat. Provinsi Sulawesi Barat tahun ini tepat 20 Tahun usianya. Ditahun ini juga, Ibu Kota Negara (IKN) akan resmi pindah ke Kalimantan. Sejauh mana kita sebagai rakyat berfikir untuk membenahi Sulbar dan mempersiapkan diri menjadi bagian dari IKN yang notabene menjadi peluang dan tantangan.

Para Calon Gubernur pasti akan sangat percaya diri menyampaikan visi misinya untuk menyambut peluang itu. Tapi apakah benar mereka telah mematangkan semua konsep kebijakan yang menguntungkan rakyat Sulbar terkait keberadaan IKN?. Jurkam-jurkam kampanye Cagub pasti akan mengatup semua pikiran-pikiran kita dalam orasinya. Lihatlah Sulbar hari ini diusianya yang ke-20 tahun. Apa yang telah siap dan akan dipersiapkan untuk mengambil peluang dari IKN?. Sampai saat ini, perubahan nama belakang dari Selatan ke Barat ini saya melihat yang berbeda hanya kantor jawatan baru dengan perangkat OPD yang tentu menjadi kasur empuk bagi kepala-kepala dinas. Lahirnya Sulbar tidak dibarengi dengan perubahan pada bidang-bidang kehidupan lainnya. Termasuk infrastruktur, sarana transportasi, akses jalan, ekonomi kerakyatan, daur hidup kebudayaan, dunia literasi dan layanan publik ditengarai tidak mengalami tanda-tanda perbaikan yang signifikan.

Itu bisa dilihat dari jalur koridor-koridor ekonomi Kalukku - Kalumpang - Seko (Mamuju - Luwu), Salutambung - Urekang (Malunda - Ulumanda), Somba - Besoangin (Sendana - Tutar), Tinambung - Alu - Tutar ; Luyo - Besoangin; Lampa - Matangnga - Mehalaan - Mambi dan Matangng ke Lenggo (Polman - Mamasa); Mamasa - Toraja dan lainnya masih terkesan sama kondisinya pada 20, 30 tahun lalu. Fakta keberadaan Bandara Tampapadang Mamuju tak banyak menolong, karena orang yang mau ke Sulbar tetap merasa aman dan lancar melalui Bandara Hasanuddin Makassar. Bidang pendidikan maupun layanan kesehatan juga demikian. Kuliah di Makassar lebih trend dan diidamkan ketimbang di Mamuju, Manene dan Polewali. Berobat di rumah sakit Makassar masih menjadi pilihan akibat kurangnya peralatan dan tenaga ahli di Sulbar.

Belum lagi pelabuhan yang diharapkan belum memadai layaknya Parepare dan Makassar. Lihat juga industri kreatif dan ekonomi kerakyatan yang belum bisa menjanjikan karena tidak adanya personal garansi yang bisa menciptakan pasarnya. Lihatlah sa'be Mandar, Sekomandi dan Sambu' serta lainnya. Bidang kebudayaan juga begitu yang lebih banyak difestivalkan ketimbang ditulis dan dibukukan. Termasuk sejumlah arsip penting tentang sejarah Mandar masih yang bisanya diakses ke Makassar dan Jakarta bahkan Belanda.

Fakta-fakta yang saya sebut diatas mestinya jelas dan sebagai rakyat harus fahami itu. Para pemimpin yang telah lalu mulai dari Anwar Adnan Saleh sampai saat ini masih jauh panggang dari api. Pilkada ini harus menjadi momentum untuk kita mengukur tentang harapan kita terhadap calon Gubernur. Mereka mesti belajar banyak pada sejumlah program dan kebijakan selama 20 tahun terakhir. Belajar sebagai rakyat dan sebagai pemimpin dibutuhkan sebagai parameter untuk mengukur aplikasi motorik dan apersepsi kita bisa menerima atau tidak. Calon Gubernur kita tidak usah banyak menggurui dan menjanji. Cukup mereka belajar membuang toxic yang tdk produktif, agar ruang giga di kepalanya memiliki daya tampung yang memadai tentang apa yang mendesak hari ini dilakukan untuk Sulbar.

Adakah diantara Calon Gubernur yang siap dan telah melakukan persiapan terkakt persoalan Sulbar dari dulu sampai sekarang? Ayo tunjukkan dan panjangkan file nalar kita semua untuk mengawal pilkada ini menghasilkan pemimpin yang faham dengan kebutuhan Sullbar. 

CALONG || Sebagai Ikon Jingle dan Maskot Pilkada Polewali Mandar 2024.


By: Sahabuddin Mahganna

Instrumen bunyi yang mengindikasikan kesederhanaan para pelakunya. Perkenalan pertama pada tahun 1998 hingga memainkannya, dan yang menjadi sorotan utama sebab ketika benda itu melantun di Yogyakarta pada perhelatan musikalisasi puisi di Piramid Center 2003, para pelaku seni dan budayawan secara nasional ternyata begitu asing padanya, dan sejak itulah, saya memulai penelitian kecil di wilayah pesisir Mandar dan menggugah hasrat untuk menyelidiki secara ketat. 

Calong, sebuah nama yang melekat sesuai penyebutan populer bagi penunggu tanaman (petani) tradisional. Di Mandar, alat ini mampu mencatat sejarah karena kedekatan psikologi pelaku yang begitu menguntungkan di eranya, selain menghibur juga menjadi pengusir hama tanpa harus melenyapkan nyawa. 

Keistimewaan Calong (instrumen musik tradisional Mandar) ditunjang dengan keterlibatannya mem-bersama-i masyarakat dan berkembang-sekarang, seolah menjadi magnet baru. Tidak jarang bahwa media musik ini sudah sering tampil di perhelatan penting baik itu lokal, nasional maupun internasional, alunannya memukau, menjadi karakter tersendiri untuk pilihan kategori kebudayaan bunyi di Indonesia. 

Apapun itu, meski jenisnya bukanlah satu satunya di dunia, namun bukan berarti Calong tidak bisa bergeser dari bentuk-bentuk sebelumnya yang sudah populer dalam catatan musik tradisi, sehingga ini pulalah yang menghantarkan alunannya menjadi pembeda dan berhasil menyabet peringkat terbaik, sebut saja di festival musik tradisi anak-anak nasional di Jakarta 2009 dan 2014, menjadi duta Indonesia di Indigenous Pribumi Asli dari sembilan negara yang terkumpul  di Malaysia 2015.

Secara kolosal pun, ketika tahun 2006 dan tahun-tahun setelahnya, Calong begitu berarti pada pertunjukan penting untuk daerah, membanggakan mereka seolah-olah wilayah ini telah menemukan sebuah pembeda dan karakter meski dianggap sebuah hasil domistikasi ritmis (hibrid), dengan kata lain, meniru secara referensi. Dan pembuktian itu dilakukan pada abad-abad silam ketika paham islam belum masuk di wilayah ini. 

Kini, para juri, kurator dan KPU Polewali Mandar telah memilih ikon Calong dari hasil sayembara sebagai maskot untuk Pilkada tahun 2024. Pilihan ini bukan tanpa alasan sebab kurasi nya memang begitu panjang, hingga mengalahkan dari sekian banyak peserta. Desain maskot Calong untuk Polewali Mandar, cukup berpengaruh dalam deskripsi pilisofinya yang tercatat sebagai simbol bangsa yang harmoni, mewakili empat arah mata angin (appe sulapa) dan yang paling penting adalah Calong teridentifikasi sebagai bagian dari nilai dan sejarah. Bukan itu saja, Calong diyakini akan menjadi pembeda dari bentuk-bentuk yang sudah terpilih di Indonesia, lalu boleh jadi digunakan sebagai spirit baru yang memang benar-benar punya daya tarik sebagai bagian dari identitas wilayah. 

Selain itu, jingle yang juga merupakan hasil dari sayembara, pemenangnya telah dipilih sebab mampu melewati dari persaingan ketat, memenuhi syarat inti yang dilayangkan oleh panitia dengan relevansi tema, originalisasi  karya, unsur musikal karakter wilayah, dan kemampuan mengolah bunyi yang harmoni, tentu saja dari lirik yang sangat mengajak kepada semua pihak untuk berpartisipasi dalam pemilihan bupati dan wakil Polewali Mandar 2024.

Penentuan jingle ini secara keseluruhan telah ditentukan dengan pertimbangan yang matang dan obyektivitas nya yakin tidak diragukan tanpa ada tekanan dan intervensi dari pihak manapun. Diharapkan mampu membuat masyarakat tergugah dalam memilih pasangan yang betul betul dari hati, sebab antara Maskot dan Jingle telah memadu dan siap untuk diluncurkan. 

Akhirnya selamat kepada pemenang, Ahmad Ridhai Asis (Maskot) dan Aksi Madewa (Jingle) berkarya lah terus demi kemajuan daerah.


Rabu, 28 Februari 2024

DARI POLMAN A MENUJU PARLEMEN SULBAR


CALEG DARI DAPIL POLMAN A MENUJU PARLEMEN SULBAR


Sampai tulisan ini dinaikkan, sesuai pantauan penulis atas layar tangkapan di real count KPU untuk Pileg DPRD Sulbar Dapil Sulbar II atau Kabupaten Polman A di situs resmi KPU pemilu2024.kpu.go.id Senin 26 Februari 2024 pukul 17.00 WIB 


Berikut data perolehan suara pileg DPRD Sulbar Dapil Sulbar II (Kabupaten Polman A) versi Real Count KPU https://pemilu2024.kpu.go.id/ Senin 26 Februari 2024 pukul 17.00 WIB suara masuk 746 dari 761 TPS 98.03 persen.


1. 25.496/1 Golkar - IRFAN PAHRI PUTRA, S.I.Kom. 6.952

2. 18.945/1 PKS - Jalaluddin 5.089

3. 15.753/1 PAN - H. AHMAD JUNAEDI, S.I.P., M.IP. 7.905

4. 14.967/1 NASDEM - ARY IFTIKHAR SHIHAB 4.359

5. 14.594/1 GERINDRA - RAHMAT ICHWAN BAHTIAR 6.794

6. 13.444/1 PDIP - ABDUL HALIM 8.760

7. 8.727/1 DEMOKRAT - GUSRINALDY SANI CATUR PUTRA HUSAIN, S.H., M.H. 4.276

8. 25.496/3= 8.498 GOLKAR - MASDAR MAHMUDDIN, S.Pd., M.Si. 5.456.

Minggu, 25 Februari 2024

SELAMAT JADI WAKIL RAKYAT POLEWALI MANDAR 2024-2029




Setelah melalui proses panjang dan tahapan yang berliku, akhirnya muncul para Caleg yang dinyatakan lolos mengisi personalia Anggota DPRD Polman pada Pemilu 2024-2029: 

Dapil Polman III (Campalagian, Luyo dan Tutar) 
1. Fahri (Golkar)
2. Yusuf Tato (Golkar)
3. Sarina (Nasdem)
4. Hamsah Syamsuddin (Gerindra)
5. Drs. Abd. Muin (Demokrat)
6. Rahmadi (PDI)
7. Rudi (Perindo)
8. A. Aliawanti (PPP)
9. Alif Subhan (PAN)
10. H. Ibrahim (PKB)

Untuk Dapil lain silahkan periksa foto yang terlampir diatas. 


Sabtu, 17 Februari 2024

Hasil Pemilu DPRD SULBAR


PEMILU 2024 yang digelar pada Rabu, 14 Februari 2024 lalu kini menghasilkan calon yang hampir pasti dinyatakan melenggang ke Parlemen Sulbar.