Rabu, 08 Oktober 2025

MERAWAT SEJARAH || Buku I Calo Ammana Wewang (1954 - 1987)

Djangan Sekali-kali Meninggalkan Sedjarah! Demi­kian bunyi salah satu pidato Bung Karno Presiden pertama Republik Indonesia. Pidato ini disampaikan pada 17 Agustus 1966 dan merupakan pidato kepre­sidenan Bung Karno yang terakhir. Pada 1967, Bung Karno bukan lagi presiden.

Menurut sejarawan Rushdy Hoesein banyak orang yang salah mengutip singkatan Jas Merah dari pidato Presiden pertama Indonesia Sukarno (Bung Karno). Banyak orang menyebut Jas Merah sebagai singkatan dari ‘Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah’. “Padahal yang betul adalah ‘Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah’. Ada makna yang berbeda antara ‘melupakan’ dengan ‘meninggalkan’,”. 

Rushdy kemudian mencontohkan dia memiliki kunci rumah. Setiap pergi meninggalkan rumahnya dia tidak akan pernah meninggalkan kunci rumahnya, meskipun mungkin suatu ketika lupa membawa. (Republika, Rabu 15 Mai 2019).

Menulis buku tentang sejarah Bangsa Indonesia saat ini merupakan sebuah langkah untuk merawat ingatan sekaligus memenuhi pesan Bung Karno un­tuk tetap merawat ingatan atau bisa juga disebut mewariskan ingatan kepada generasi sekarang atau yang akan datang, serta menulis sejarah perjuangan.

Buku yang ditulis oleh saudara Muhammad Munir ini salah satu upaya yang kami sebutkan di atas. Penulisan buku melalui metode riset dan wawancara serta mengumpulkan dokumentasi terkait tokoh se­perti I Calo Ammana Wewang, sebagai salah satu kusuma bangsa, yang berdiri di garis depan membela tanah air dan bangsa dalam upaya menindasan yang dilakukan oleh orang yang disebutkan dalam syair lagu di Mandar sebagai To Kara Matanna, Mettapiang Talinganna, Mekkalanjo Purunna atau Belanda.

Tidak tanggung-tanggung, dalam penelusuran pe­nulis, tidak hanya mengumpulkan data di wilayah Mandar, Sulawesi Barat, tapi juga melakukan perjalanan sampai ke Negeri Laskar Pelangi atau Bangka Belitung daerah yang menjadi pembuangan tokoh dalam buku ini, sebagai bentuk hukuman dari Belanda.

Sebuah pencapaian yang harus diapresiasi dengan menerbitkannya menjadi buku. Meskipun masih tersisa rumpang pada sajian buku ini, tentunya ruang itu atau yang masih kurang bisa dijadikan sebagai arena diskusi dan sebagai wadah untuk memperkaya isi buku dalam terbitan selanjutnya di kemudian hari.

Akhirnya pembaca yang Budiman, selamat mem­baca buku ini, semoga bisa menjadi referensi bagi siapa saja yang tetap ingin dan mau merawat pesan Bung Karno - Djangan Sekali-kali Meninggalkan Sedjarah!-. Artinya bahwa dengan membacanya pun adalah langkah untuk tidak meninggalkan sejarah.
Selamat membaca.

Polewali, 10 Oktober 2021

Wahyudi Muslimin
Ceo Gerbang Visual

Tidak ada komentar:

Posting Komentar