Oleh: Syamsumarlin, Lc (Eks ketua KKS Cairo periode 2002-2003)
Haru sekaligus gembira Ketika membaca berita di media social. Prof. DR. Lukman Arake, Lc, MA dilantik sebagai Rektor IAIN Bone periode 2026 – 2030. Tidak terasa air mata saya meleleh dengan sendirinya dan mengantarkan saya membuat catatan sederhana ini.
Apa yang Istimewa dari Prof. DR. Lukman Arake?. Sekilas biasa saja. Sebelumnya, beberapa Rektor yang kebetulan alumni Al Azhar juga sudah dilantik baik di UIM, bahkan Rektor IAIN Kudus, 4 tahun lebih muda dari beliau juga dilantik 2 tahun yang lalu.
Tentu saja tidak terlepas dari pandangan subjektifitas sebagai sesama alumni Al Azhar, sesama alumni Darudda’wah wal Irsyad dan lebih khusus lagi sesama diaspora Mandar yang menimba ilmu di Univ. Al Azhar. Tetapi di balik itu, ada kesabaran dan ketekunan yang menjadi catatan tersendiri
Lukman Arake lahir di Rea Barat, berdarah Bugis Mandar, tetapi kemudian besar dan menetap di Desa Makkombong, Kec. Matakali. Desa yang mungkin sangat nadir di pendengaran kita. Mengaji secara tradisional di guru guru mengaji Rea Barat dan punya cita cita besar. Pada tahun 1985 dia melanjutkan Pendidikan di Pondok Pesantren DDI Mangkoso, baik tingkatan Tsanawiyah dan Aliyah selama 6 tahun. Bak skenario yang sudah diracik, dia kemudian melanjutkan pendidikan ke Universitas Al Azhar pada tahun 1993.
Saya teringat, sewaktu saya tiba di Cairo pada tahun 1996, beberapa senior berprestasi didaulat untuk memberikan bimbingan praktis kepada kami selaku mahasiswa baru. Untuk ke Ushuluddin-an didapuk oleh Dr. Abd. Rahman Arsyad (sekarang dosen di Universitas Kutai Kartanegara), kedirasatan oleh Prof. DR. Muammar Bakri (Rektor UIM Makassar), Kesyariahan oleh Prof. DR. Lukman Arake, begitupula Prof. Dr. Afifuddin Haritsah juga tentang Ke ushuluddinan. Mereka semua adalah mahasiswa-mahasiswa hebat yang mewarnai dinamika kemahasiswaan di Cairo pada waktu itu.
Dari nama-nama di atas, satu persatu meninggalkan Cairo dan melanjutkan jenjang Pendidikan lanjutan di tanah air. Opsi melanjutkan jenjang S2 di Universitas Al Azhar adalah pilihan berat, dibutuhkan kalkulasi khusus dan hanya dilakukan oleh orang orang khusus. Beasiswa Al Azhar juga hanya mengakomodir Pendidikan pada strata S1 saja. Pada periode perideo tersebut, sakralitas S2 sangat terasa. Jika satu mata kuliah yang error, maka semuanya harus diulang Kembali pada tahun berikutnya. Yang paling miris, ada kesan penjatahan. Standar kelulusan dilihat dari nilai tertinggi. Tertinggi berikutnya akan diikutkan pada term kedua. Jarang sekali yang bisa menyelesaikan program magister dalam rentang waktu 4-5 tahun. Biasanya 6 s.d 7 tahun. Pertimbangan pertimbangan ini yang membuat banyak yang memilih jalan pintas, lanjut di tempat kuliah yang lain. Lukman Arake mengambil jalan sunyi ini, melanjutkan Pendidikan S2 Univ. Al Azhar dengan penuh ketekunan. Kesulitan ekonomi akibat krisis moneter pada Tahun 1997 juga berdampak pada mahasiswa Mesir, banyak yang memilih Kembali ke tanah air. Harapan satu satunya untuk mempertahankan kontinuitas kuliah adalah melalui jasa pengurusan jamaah haji. Pada tahun 1999, karena keasyikan mencari biaya tambahan di musim haji, ada kejadian memilukan. Beberapa mahasiswa ditangkap oleh pihak keamanan Kerajaan Saudi Arabia, termasuk Kanda Prof. Lukman. Waktu itu, mahasiswa Mesir yang bekerja diklaim ekspatriat (pemukim illegal), Alhamdulillah, setelah memperlihatkan visa semuanya bisa terselesaikan dengan baik. Terkadang, untuk mempertahankan hidup, mahasiswa mendaftar di beberapa lembaga tahfizh yang menyediakan beasiswa.
Pada tahun 2005, beliau pulang ke tanah air setelah 12 tahun tahun berada di negeri kinanah. Titel magister sudah ditangan dan pada saat yang sama sedang mengikuti program S3 di Universitas Al Azhar. Waktu itu saya sebagai kepala KUA Kec. Matakali berusaha memfasilitasi beliau dengan pemangku kekuasaan di Polewali Mandar saat itu. Karena beliau adalah asset yang sangat berharga. Putra daerah yang murni dengan biaya sendiri menuntut ilmu di negeri Kinanah. Sayang, gayung tak bersambut. Hingga kemudian dia memilih Kembali ke Cairo menyelesaikan Pendidikan S3 nya. Sekali lagi, ini adalah pilihan berat. Melanjutkan S3 di Universitas al Azhar. Untuk pengesahan judul saja, harus keliling 15 Universitas cabang Al Azhar di Mesir. S3 nya pun diselesaikan dengan judul disertasi “Al Fiqhus Assiyasiy Al Islamiy lil aqalliyat, pada tanggal 21 Agustus 2008 dengan predikat Mumtaz ma'a syaraf al Ula.
Setelah menyelesaikan Pendidikan S3 di Cairo, takdir mempertemukannya dengan Bapak Prof. Nasaruddin Umar yang waktu itu sebagai Dirjen Bimas Islam dan Penyelenggaraan Haji. Beliau diamanahi untuk menjadi Dewan Hakim pada MTQ Nasional tahun 2007 dan diamanahi untuk membina Pondok Pesantren Al Ikhlash, besutan Bapak Prof. DR. Nasaruddin Umar di Kec. Ujung Bone.
Beliau mengikuti semua proses dari awal, sebagai dosen honorer, terangkat menjadi ASN pada 2011, merangkak dari pangkat ke pangkat berikutnya. Hingga menjadi Guru Besar dan akhirnya menjadi orang nomor 1 di IAIN Bone.
Beliau si anak hilang, permata dari tanah Mandar yang memberikan kilaunya ditanah Bone dan secara umum di Sulawesi Selatan. Dari beliau, kita harus belajar tentang kesabaran yang terkadang di luar nalar, menghargai proses dan belajar menerima takdir. Kita terkadang terkilau melihat keberhasilan seseorang, tetapi tidak melihat usaha yang dibaliknya. Ada kisah pilu, tangis dan terkadang dengan tetesan darah.
Selamat, Prof. Dr. Lukman Arake, Lc, MA. Pakar Siyasah Syar’iyah dari tanah Mandar. Saatnya memberikan Khidmah terbaik bagi nusa, bangsa dan agama.
Mamuju, 13 Mei 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar