Mursyid Syukri, 13 Mei 2026
Dalam lintasan sejarah peradaban manusia, sistem pendidikan tidak selalu hadir dalam bentuk sekolah, ruang kelas, buku, maupun perangkat teknologi sebagaimana yang dikenal pada masa kini. Jauh sebelum hadirnya alat tulis, sebelum masyarakat mengenal buku, pensil, dan media digital, leluhur telah memiliki cara tersendiri dalam mentransfer ilmu pengetahuan kepada generasi penerusnya. Di tanah Mandar, salah satu sistem pendidikan tradisional yang diwariskan turun-temurun adalah Mandarras.
Mandarras merupakan sebuah metode pengulangan pengetahuan secara terus-menerus agar ilmu yang diterima tidak mudah hilang dari ingatan. Kata Mandarras dalam pemahaman masyarakat Mandar bukan sekadar mengulang ucapan, melainkan sebuah proses pendidikan yang dilakukan berkali-kali hingga pengetahuan tersebut melekat dalam kesadaran, dipahami secara mendalam, lalu diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sistem ini menjadi bukti bahwa leluhur Mandar telah memiliki konsep pendidikan yang kuat berbasis ingatan, pengalaman, dan penghayatan nilai.
Aktivitas Mandarras telah berlangsung sejak ratusan tahun silam. Jika dilakukan kilas balik terhadap kehidupan masyarakat Mandar pada masa lampau, tentu tidak ditemukan sarana pendidikan modern sebagaimana sekarang. Tidak ada buku catatan, papan tulis, maupun media elektronik. Namun, keterbatasan tersebut tidak menjadikan masyarakat kehilangan arah dalam membangun peradaban ilmu pengetahuan. Para orang tua dan tokoh adat pada masa itu menggunakan metode lisan sebagai sarana utama pendidikan. Nilai-nilai kehidupan, petuah adat, norma sosial, hingga tuntunan moral diwariskan melalui Pappasang.
Pappasang merupakan pesan-pesan kebijaksanaan leluhur yang sarat dengan nilai etika, spiritualitas, sosial, dan kemanusiaan. Penyampaiannya dilakukan secara berulang-ulang dalam berbagai suasana kehidupan, baik pada kegiatan keluarga, hajatan adat, musyawarah, maupun dalam aktivitas keseharian masyarakat. Melalui pengulangan tersebut, generasi muda tidak hanya mendengar, tetapi perlahan memahami, mengingat, dan menjadikan nilai-nilai itu sebagai bagian dari karakter hidup mereka. Inilah hakikat Mandarras sebagai sistem pendidikan berbasis penguatan memori dan pembentukan perilaku.
Secara ilmiah, metode Mandarras memiliki kesesuaian dengan teori pendidikan modern mengenai repetition learning atau pembelajaran berulang. Dalam kajian psikologi kognitif, pengulangan informasi secara terus-menerus terbukti mampu memperkuat daya ingat jangka panjang. Informasi yang diulang berkali-kali akan lebih mudah tersimpan dalam memori otak dan lebih mudah dipanggil kembali ketika dibutuhkan. Oleh karena itu, Mandarras sesungguhnya merupakan bentuk pendidikan tradisional yang memiliki dasar pedagogis yang kuat meskipun lahir dari pengalaman budaya masyarakat.
Keunggulan Mandarras terletak pada proses internalisasi nilai. Pengetahuan tidak berhenti pada tahap mendengar, tetapi dilanjutkan pada proses memahami dan mengamalkan. Pengulangan yang dilakukan secara terus-menerus menjadikan ilmu tidak terasa asing, melainkan menyatu dalam aktivitas kehidupan masyarakat. Karena itulah generasi Mandar pada masa lalu dikenal memiliki daya ingat kuat terhadap petuah leluhur, adat istiadat, dan tata nilai sosial yang diwariskan turun-temurun.
Namun demikian, perkembangan zaman menghadirkan tantangan baru terhadap keberlangsungan sistem pendidikan berbasis Mandarras. Kemajuan teknologi informasi yang begitu pesat telah mengubah pola belajar generasi masa kini. Kehadiran smartphone dan internet memberikan kemudahan luar biasa dalam mengakses informasi. Pengetahuan dapat diperoleh hanya melalui sentuhan layar dalam hitungan detik. Akan tetapi, kemudahan tersebut di sisi lain menghadirkan persoalan baru, yakni melemahnya proses penguatan daya ingat dan konsentrasi belajar.
Generasi saat ini cenderung bergantung pada perangkat digital sebagai tempat penyimpanan pengetahuan. Informasi tidak lagi banyak disimpan dalam ingatan, melainkan diserahkan kepada mesin pencari dan media digital. Selain itu, penggunaan smartphone tidak hanya berfungsi sebagai sarana pendidikan, tetapi juga dipenuhi berbagai hiburan dan arus informasi yang beragam. Akibatnya, fokus generasi muda terhadap proses pendalaman ilmu menjadi semakin terbagi. Pengetahuan mudah diperoleh, tetapi tidak seluruhnya dipahami secara mendalam.
Fenomena tersebut menunjukkan pentingnya menghadirkan kembali nilai-nilai Mandarras dalam sistem pendidikan masa kini. Mandarras bukanlah upaya menolak kemajuan teknologi, melainkan usaha menyeimbangkan antara kecanggihan digital dengan kemampuan berpikir, mengingat, dan memahami ilmu secara mendalam. Generasi hari ini memerlukan pendidikan yang tidak hanya cepat memperoleh informasi, tetapi juga mampu mengolah, menghayati, dan mengaktualisasikan ilmu pengetahuan dalam kehidupan nyata.
Dalam konteks pembangunan sumber daya manusia di Sulawesi Barat, program Mandarras yang kembali digaungkan oleh Pemerintah Provinsi menjadi langkah strategis dalam membangun pola pikir generasi Mandar. Program tersebut dapat menjadi gerakan budaya pendidikan yang menekankan pentingnya penguatan karakter, ketekunan belajar, kedisiplinan berpikir, dan pengulangan ilmu sebagai fondasi kecerdasan masyarakat. Mandarras dapat diintegrasikan dalam lingkungan keluarga, sekolah, komunitas adat, hingga ruang-ruang sosial masyarakat.
Pada akhirnya, Mandarras bukan hanya warisan budaya, melainkan identitas intelektual masyarakat Mandar. Ia mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan tidak cukup hanya diketahui, tetapi harus dipahami melalui proses yang berulang, direnungkan, dan diamalkan dalam kehidupan. Di tengah derasnya arus teknologi modern, Mandarras hadir sebagai pengingat bahwa kekuatan utama manusia tetap terletak pada kemampuan berpikir, mengingat, dan memaknai ilmu pengetahuan secara bijaksana. Dengan demikian, menghidupkan kembali Mandarras berarti menjaga keberlanjutan nilai pendidikan leluhur sekaligus membangun generasi Mandar yang berkarakter, berpengetahuan, dan berakar kuat pada kearifan budayanya sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar