Oleh : Almadar Fattah
Apa yang disampaikan Budayawan A'BA TAMMALELE, baru-baru ini di media sosial tentang pentingnya membangun nalar dan naluri patut diapresiasi sebagai pesan yang bernilai. Sepenggal frasa yang ia sampaikan dapat dijadikan bahan renungan sekaligus sumber edukasi bagi generasi muda.
Di tengah derasnya arus informasi saat ini, masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan menerima kabar dengan cepat. Kecepatan tanpa kebijaksanaan justru sering membawa orang pada kesalahan dalam memahami kenyataan.
Hari ini, informasi datang tanpa henti melalui layar gawai. Berita, opini, komentar, dan berbagai pandangan bercampur menjadi satu arus yang sulit dibendung. Jika tidak disikapi dengan hati-hati, masyarakat mudah terseret dalam kebingungan dan kesalahpahaman.
Hari ini, informasi datang tanpa henti melalui layar gawai. Berita, opini, komentar, dan berbagai pandangan bercampur menjadi satu arus yang sulit dibendung. Jika tidak disikapi dengan hati-hati, masyarakat mudah terseret dalam kebingungan dan kesalahpahaman.
Karena itu, ajakan untuk membangun nalar menjadi sangat penting. Nalar adalah kemampuan akal untuk berpikir jernih, menimbang benar dan salah, serta memisahkan fakta dari opini yang menyesatkan.
Dengan nalar yang sehat, seseorang tidak mudah percaya begitu saja terhadap setiap informasi yang beredar. Ia akan memeriksa sumber, memahami konteks, dan mempertimbangkan dampak sebelum mengambil sikap.
Nalar juga melatih manusia agar tidak gegabah dalam menilai orang lain. Ia mengajarkan sikap tenang, teliti, dan mampu melihat persoalan dari berbagai sudut pandang sebelum mengambil kesimpulan.
Di sisi lain, membangun naluri juga tidak kalah penting. Naluri adalah kepekaan batin yang membuat manusia mampu merasakan keadaan di sekitarnya. Ia menuntun seseorang untuk peduli terhadap sesama dan peka terhadap penderitaan orang lain.
Naluri yang sehat melahirkan empati. Seseorang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga memahami kesulitan orang lain dan terdorong untuk membantu ketika dibutuhkan.
Ketika nalar dan naluri berjalan seiring, lahirlah pribadi yang utuh. Ia cerdas dalam berpikir, tetapi tetap lembut dalam merasa. Ia mampu berbicara dengan logika, namun tetap bertindak dengan hati nurani.
Pribadi seperti ini tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam. Ia tahu kapan harus bersikap tegas dan kapan harus menunjukkan kelembutan. Dalam setiap tindakan, ada pertimbangan akal sekaligus sentuhan rasa kemanusiaan.
Pesan tersebut sangat relevan di era media sosial saat ini. Banyak orang mudah terpancing emosi, terburu-buru membagikan kabar, dan cepat menghakimi tanpa memahami persoalan secara utuh. Fenomena ini menunjukkan pentingnya pendidikan karakter di ruang digital.
Ajakan A'BA TAMMALELE menjadi pengingat bahwa kecerdasan tanpa nurani bisa menyesatkan. Sebaliknya, kepekaan tanpa nalar juga dapat membuat seseorang kehilangan arah dalam mengambil keputusan. Karena itu, keduanya harus berjalan bersama.
Membangun nalar dan naluri berarti membangun manusia seutuhnya: tajam dalam berpikir, lembut dalam merasa, serta tepat dalam bertindak. Pesan sederhana yang disampaikan A'BA TAMMALELE ini sesungguhnya mengandung makna besar bagi masa depan kehidupan bersama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar