CATATAN SEJARAH:
SANDEQ RACE BUKANLAH SANDEQ SILUMBA
Pelestarian Lebih Penting daripada Sekadar Lomba
Oleh: Abdul Watif Waris I 24 September 2026
Jauh sebelum Provinsi Sulawesi Barat lahir, jauh sebelum anggaran daerah ada, kami — sekelompok pencinta bahari — sudah memulai sesuatu yang lahir dari keprihatinan, bukan sekadar kegembiraan.
BENIH YANG DITANAM DARI KEPEDULIAN
Sahabat kecil saya mondok di Pesantren IMMIM, Mahfud Sappe — fotografer dunia asal Segeri Pangkep — lah yang pertama kali menyadari hal mendesak: perahu sandeq kian jarang terlihat di laut. Waktu itu foto karyanya terpilih sebagai salah satu dari 10 foto terbaik dunia, dan ia membawa sandeq hadir secara fisik sebagai maskot pameran di Prancis — bukan untuk pesta, melainkan untuk mengingatkan dunia: warisan ini nyaris punah.
Pulang ke tanah air, bersama rombongan passandeq dari Rangas Majene, ia bermaksud memotret sandeq saat berlayar — agar orang melihatnya hidup, bukan hanya di lembar foto. Di perairan Pambusuang dan Majene, saat lomba segitiga digelar, Mahfud bersama kawan-kawan hadir memotret. Bersama kami pula Horst Libner — peneliti asal Jerman yang tekun mencatat setiap hal tentang sandeq sebelum terlupakan.
Melihat hasil jepretan, Mahfud mengajukan gagasan:
"Mengapa tidak dilombakan secara etape, berlayar dari Majene → Polewali → Ujung Lero → Garongkong → hingga Makassar?"
Itulah lahirnya SANDEQ RACE.
BUKAN LOMBA UNTUK LOMBA — TUJUAN UTUHNYA PELESTARIAN
Perlu ditegaskan: Sandeq Race bukan diadakan sekadar untuk berlomba. Tujuan utamanya jauh lebih mendesak — memantik kembali kehidupan perahu sandeq yang nyaris punah.
Saat itu, perahu cadik khas Mandar ini makin jarang dibuat, makin jarang berlayar. Jumlahnya saat ini tersisa tak cukup bilangan jari tangan. Maka Sandeq Race digelar agar perahu-perahu itu kembali dibangun, kembali diturunkan ke laut, kembali diwariskan ke anak-anak — agar warisan budaya bahari Mandar yang berpotensi diakui dunia tidak lenyap.
Pada masa-masa awal, lomba ini juga menjadi ajang pesan rakyat: atas inisiatif sendiri, para peserta menuliskan "SULBAR" di buritan perahu. Ketika bersandar di Pantai Losari, Makassar — itu adalah suara tanpa kata: tanah di sebelah barat ini berhak berdiri sendiri. Semua berlangsung tanpa satu rupiah pun APBD, jauh sebelum Sulbar berdiri.
SANDEQ SILUMBA: EVEN BARU, BUKAN PENGGANTI NAMA
Setelah Suhardi Duka terpilih menjadi Gubernur Sulbar tahun 2025, muncul kegiatan bernama "Sandeq Silumba", dibiayai APBD Sulbar.
Pemerintah menyebut Sandeq Silumba sebagai perubahan nama atau transformasi dari Sandeq Race. Sebagai salah seorang yang terlibat dalam kelahiran Sandeq Race, saya mempunyai pandangan berbeda. Bagi saya, Sandeq Silumba adalah kegiatan baru yang mengadopsi sejumlah format Sandeq Race, tetapi tidak identik dengan sejarah, semangat, dan model pengorganisasian Sandeq Race pada masa awal.
Ini even yang berbeda dan baru. Memang mengadopsi sistem dan aturan yang kami susun — namun asal, maksud, dan sumber dana berbeda. Yang lahir dari keprihatinan masyarakat tanpa anggaran, kini dijalankan pemerintah dengan APBD.
APRESIASI TANPA MELUPAKAN HAKIKAT
Semakin banyak even sandeq digelar, patut diapresiasi. Namun akan jauh lebih afdal — tepat dan berkenan — jika Pemprov Sulbar yang menggunakan APBD memberi penekanan terbesar pada pelestarian budayanya, bukan sekadar kemeriahan lomba.
Disclimer; 80-an Sandeq yang ikut lomba adalah Sandeq yg didesain khusus untuk lomba. Perahu Sandeq yang sesungguhnya nyaris punah
- Bangun perahu, latih pembuat perahu, ajarkan anak-anak mengayuh — itu pelestarian sejati
- Lomba hanyalah puncak gunung; fondasinya adalah memastikan sandeq tetap hidup di perairan kita
- Uang APBD adalah amanat rakyat — sebaiknya ditujukan agar warisan ini tak kembali menipis hingga nyaris hilang
DANA NEGARA WAJIB TERBUKA — FAKTA SPSE BICARA SENDIRI
Karena menggunakan APBD, pengadaan Sandeq Silumba harus tunduk pada aturan pengadaan barang/jasa pemerintah serta prinsip transparansi, keterbukaan, persaingan, keadilan dan akuntabilitas. Untuk penyelenggaraan Sandeq Silumba 2026, Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat menggunakan mekanisme tender melalui SPSE.
Data SPSE memberikan sejumlah informasi yang menurut saya patut dijelaskan kepada publik. Paket “Belanja Jasa Penyelenggaraan Acara – Sandeq Silumba” dibuat pada 19 Agustus 2026, sedangkan pengumuman tender baru dimulai 1 September. Pemenang diumumkan 11 September. Dari 12 perusahaan yang tercatat sebagai peserta, hanya satu perusahaan yang tercatat memasukkan penawaran.
Riwayat SPSE juga menunjukkan bahwa masa sanggah yang semula dijadwalkan 12–17 September kemudian diubah. Jadwal akhirnya mencantumkan masa sanggah pada 14 September pukul 08.00–08.05 dan SPPBJ dapat dimulai pukul 08.10. Alasan perubahan yang tercatat dalam SPSE adalah karena hanya terdapat satu peserta yang memasukkan penawaran.
Fakta-fakta tersebut belum dengan sendirinya membuktikan adanya pelanggaran ataupun pengaturan pemenang. Namun karena kegiatan ini menggunakan uang publik, dasar perubahan jadwal tersebut, proses penyusunan HPS, ruang lingkup pekerjaan penyedia, dan waktu sebenarnya penyedia mulai bekerja layak dijelaskan secara terbuka.
Jika sejumlah pekerjaan persiapan substantif telah berlangsung sebelum paket pengadaan dibuat, bagian mana dari pekerjaan tersebut yang kemudian menjadi kewajiban penyedia dalam kontrak senilai sekitar Rp942 juta? Apakah pekerjaan sebelum tender sepenuhnya dilakukan panitia/pemerintah, atau ada bagian yang kemudian masuk ke dalam kontrak penyedia?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar