Senin, 02 November 2026

TRANSFORMASI PENGETAHUAN LOKAL MANDAR: REKONSTRUKSI USSUL DAN NILAI TRADISI DALAM EKOSISTEM PENDIDIKAN MODERN

Catatan Kebudayaan Supriadi S.Pd. 

Seminar Budaya bertajuk "Ussul dan Sekolah Lontara" Gedung Pola Kantor Bupati Polewali Mandar menghadirkan pemikiran komprehensif mengenai bagaimana pengetahuan lokal Mandar dipahami, dirawat, dan diintegrasikan ke dalam ekosistem kebudayaan serta pendidikan masa depan. Rangkaian pemikiran dari para narasumber ini merajut satu benang merah yang utuh: bahwa kebudayaan Mandar bukanlah artefak masa lalu yang mati dan sekadar dipajang di museum, melainkan sebuah pengetahuan hidup yang harus menjadi kompas etika, pendorong kreativitas, serta fondasi pembentukan karakter generasi mendatang. 

Perjalanan memahami kearifan Mandar dimulai dari Ussul, yakni tindakan dan kebiasaan yang menyimpan doa, motivasi, serta pengharapan batiniah bagi masa depan. Dalam kacamata tasawuf, Ussul dipahami sebagai Majmu' al-adabiyah atau kumpulan adab dan etika yang menjadi sumber dari segenap perilaku masyarakat Mandar. Nilai batin ini terpancar kuat dalam tradisi bahari sebagaimana terekam dalam manuskrip tua Lontara' Pallopi-lopiang karya (Pua Hawang) dari Pamboang. Naskah pelayaran tersebut memuat doa-doa keselamatan, petunjuk mengarungi lautan, hingga penggunaan azimat pelindung perahu yang memperlihatkan aliansi harmonis antara kearifan lokal maritim dan Islam kultural. Selain itu, kearifan Ussul mewujud dalam sistem perhitungan waktu Putika (Kutika) dan Bilangang, yang mendidik masyarakat untuk senantiasa melangkah dengan perencanaan matang, menjauhi marabahaya (monge'/mate), dan menjemput keberkahan sebelum memulai usaha, mendirikan rumah, menabur benih, atau melangsungkan pernikahan. Putika saya jadikan sebagai judul skripsi yang dengan sangat bangga saya meraih skripsi terbaik tahun 2021. Berkat didikan dan ajaran dari seorang guru (Muhammad Munir), skripsi “Analisis Putika Sebagai Nilai Spritualitas Masyarakat Mandar : Studi Kepercayaan Masyarakat Mandar” saya selesaikan dengan harapan bahwa nilai-nilai budaya harus kita lestarikan. 

Namun, agar kearifan Ussul dan tradisi tua ini tidak berhenti sebatas pengarsipan pasif atau seremoni panggung belaka, arah navigasi kebudayaan harus digeser menuju pemajuan ekosistem seni budaya yang hidup dan berkelanjutan. Kebudayaan Mandar terbangun atas enam lapisan pengetahuan yang saling menggerakkan mulai dari nilai inti seperti malaqbiq, siri', lokko', dan sibaliparriq, bahasa lokal (kalindaqdaq, pappasang), keterampilan fisik (sandeq, tenun), hingga ekspresi seni. Untuk mengatasi kerentanan sistemik seperti terputusnya rantai regenerasi, Ussul dan Sekolah Lontara dihadirkan sebagai mesin utama pewarisan pengetahuan melalui metode belajar langsung dari naskah kuno, berguru pada orang-orang yang benar-benar paham budaya, dan praktik karya secara langsung. 

Pada akhirnya, seluruh nilai luhur dan ekosistem pengetahuan tersebut menemukan ruang aktualisasi terbesarnya melalui jalur pendidikan formal dan masyarakat. Pendidikan modern tidak boleh hanya berhenti pada pencapaian nilai akademik atau kecerdasan kognitif semata, melainkan wajib diimbangi dengan pembentukan karakter yang berakar pada budaya lokal. Nilai-nilai Siri' (harga diri dan integritas), Mappatabe (adab dan kesantunan), Sipamandar (ketangguhan mental), serta kebersahajaan diintegrasikan secara sistematis ke dalam mata pelajaran, pembiasaan sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, hingga pemanfaatan media digital. Meskipun dihadapkan pada tantangan globalisasi dan maraknya budaya populer, sinergi yang kokoh antara sekolah, keluarga, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan budayawan akan memastikan bahwa generasi muda Polewali Mandar mampu tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, adaptif, dan berdaya saing global tanpa sedikit pun kehilangan identitas dan akar budayanya.

Sekian dan terima kasih
___________


Tidak ada komentar:

Posting Komentar