Sabtu, 08 November 2025

Pendidikan dan Industri Pencipta Masyarakat Berpengetahuan.

Catatan Hajrul Malik

Akhir pekan ini bersama wamenlu HM. Anis Matta ditengah aktivis pendidikan yang berkumpul dalam  wadah Share Edu Indonesia di Mercure Ancol, beliau memberikan beberapa arahan pada kami yang terus berikhtiar menciptakan spektrum baru pendidikan nasional dengan tema "transformasi pendidikan nasional menuju Indonesia Global. 

Inti dari pekerjaan kita bukan pada sekolah.
Sekolah hanyalah instrumen.
Yang menjadi inti adalah industri yang menciptakan masyarakat.

Sama halnya dengan politik — pekerjaan kita di sana bukan sekadar berpartai, tetapi membangun industri pemikiran, yang akan menjadi fondasi dalam mengelola negara.

Karena itu, antara dunia pendidikan dan dunia politik seharusnya bekerja bersama dalam satu ekosistem peradaban.
Sekolah mencetak manusia.
Partai mengarahkan arah gerak masyarakat.
Keduanya bertemu dalam satu tujuan: membangun masa depan bangsa.

Namun saya khawatir, jika cara berpikir yang tumbuh di sekolah masih berhenti pada transfer pengetahuan.
Karena pekerjaan itu sekarang sedang digantikan oleh mesin.

AI telah mengoleksi seluruh produk pengetahuan manusia.
Ia tidak tidur, tidak lelah, dan tidak lupa.
Jika mengajar hanya berarti mentransfer pengetahuan, maka guru pelan-pelan akan kehilangan maknanya.

Di sinilah tantangan besar pendidikan masa depan:
apa arti mengajar di tengah dunia yang seluruh sumber pengetahuannya sudah dikuasai mesin?

Maka pendidikan tidak bisa lagi berhenti pada pengetahuan.
Ia harus naik derajat — menjadi industri pembentukan manusia.
Yang kita hasilkan bukan sekadar orang tahu, tapi orang paham siapa dirinya, ke mana dia menuju, dan bagaimana dia berkontribusi bagi dunia.

Saya ingin mengingatkan, bahwa dalam sejarah kita dulu, dunia pendidikan dan dunia sosial pernah terbelah.
Ada masa ketika seorang muslim yang saleh dianggap terbelakang, dan yang maju dianggap tidak saleh.
Seolah-olah kesalehan dan kemajuan tidak bisa bersatu.

Tapi alhamdulillah, era itu sudah lewat.
Kita sekarang bisa menjadi pribadi yang saleh tanpa inferioritas.
Kita berdiri tegak di dunia modern tanpa kehilangan arah spiritual kita.

Hanya saja, kita masih berhadapan dengan kenyataan pahit:
meskipun kita memiliki prinsip “Al-Islamu ya‘lu wa la yu‘la ‘alaihi” — Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya — namun dalam kenyataan, kita masih kalah dalam teknologi, pengetahuan, bahkan militer.

Kita punya prinsip yang tinggi, tapi belum punya kekuatan yang setara.

Lalu apa sumbangan kita melalui Share Edu?

Salah satu prinsip besar dalam pendidikan Qurani adalah at-tarbiyah bil-ahdāṡ — pendidikan melalui peristiwa.
Al-Qur’an turun tidak sekaligus, tapi berangsur, menjawab tantangan demi tantangan berdasarkan konteks peristiwa.
Itulah sebabnya Al-Qur’an tidak pernah kehilangan relevansinya.

Setiap zaman bisa menemukan dirinya di dalam Al-Qur’an,
asalkan kita mau membacanya dengan kesadaran peristiwa —
membaca realitas dan ayat secara bersamaan.

Karena itu, tugas kita hari ini adalah menemukan kembali ilham baru dari Al-Qur’an, lalu menanamkannya ke dalam sistem pendidikan dan industri pengetahuan kita.

Kita akan terus menghadapi masalah yang relatif sama di seluruh dunia — kemiskinan, ketimpangan, perubahan teknologi, krisis lingkungan — tetapi yang akan membedakan kita hanyalah cara meresponsnya.

Kalau pendidikan kita tidak relevan dengan isu-isu global itu,
anak-anak kita akan tumbuh dalam isolasi intelektual.
Mereka hidup di zaman global, tapi berpikir dalam ruang sempit lokal.

Maka kita harus membangun learning society — masyarakat yang terus belajar, beradaptasi, dan tumbuh bersama perubahan dunia.

Jika semua ini kita padukan,
maka akan kita lihat bahwa revolusi besar masa depan akan ditentukan oleh perubahan dalam dunia pendidikan.

Pendidikan bukan lagi sekadar ruang belajar,
tetapi akan menjadi industri terbesar masa depan,
industri yang melahirkan peradaban baru.

Karena pada akhirnya,
perubahan dunia bukan ditentukan oleh mesin, tetapi oleh manusia yang berpikir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar