Selasa, 10 Februari 2026

PROFIL SINGKAT ||KH.Mahmoeddin Atjo Kanna Marilalalng


Profil Singkat KH.Mahmoeddin Atjo Kanna Marilalalng. 
(1933-1999), Sang Ulama, Birokrat, Tokoh Pendidik dan Politisi 

Lahir di Majene 31 Desember 1933. 
✅ Pendidikan Formal.
Menamatkan Sekolah SR di Majene dan PGA 6 Thn di Surabaya Jawa Timur, pernah belajar ke Anregurutta Abd Rahman Ambo Dalle di Pare-Pare. Meraih Sarjana Muda di IAIN Alauddin Makassar. 
✅ Belajar kitab kuning ke beberapa Ulama diantaranya ke Annangguru Shaleh, dan ke pamannya  KH. Muhtar Badawi dan KH. Muh.Idris. dan beberapa ulama di Sulawesi Selatan dan Jawa Timur. 
✅ Jabatan di Birokrasi: 
Kepala Kantor Inspeksi Pendidikan Islam Kab. Polmas (1962-1970). Kepala Kantor Perwakilan Departemen Agama Polmas (1970-1971), Kepala Kantor Departemen Agama Pertama Polmas (1971-1985), Kepala Kantor Departemen Agama Sidrap (1985-1987), Kepala Departemen Agama Kodya Ujung Pandang (1987-1991), Pengawas Departemen Agama Sulawesi Selatan (1991-1996). 
Pernah ditawari menjadi Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Departemen Agama Propinsi Maluku dan Bali, namun ditolak karena pertimbangan keluarga. 
✅Organisasi : Ketua MUI Polmas Pertama, Anggota Partai Golkar Polmas dan Sulawesi Selatan. 
Pernah terpilih menjadi Anggota DPRD Sulawesi Selatan namun karena kondisi sakit (stroke) akhirnya diserahkan ke kader Golkar lainnya.
✅Pendiri Yayasan Pendidikan Islam Polmas (YAPIS).
✅ Mengajar : Guru Agama tahun 1960-an, Widyaswara dan Penatar P4. 
✅ Kontribusi pada Pendidikan Islam di Mandar : Sebagai pelopor pengangkatan Guru Agama di Polmas, mulai thn 1970-1985. Pendiri Yayasan Yapis. 
✅ Keluarga. KH. Mahmoeddin Atjo masih memiliki hubungan kekerabatan dari Raden Mas Suryo Dilogo Penganjur Islam di Wilayah Pamboang dan Syekh Zakariah Hasan Al Yamani, Penyiar Islam di Wilayah Sendana. 
✅ Memiliki 10 anak dari Istri Pertama dan 2 anak dari istri kedua.

Sumber: Aco Musaddad

Senin, 02 Februari 2026

SALIM MENGGA || Ketika Sunyi Menjadi Warisan

Penulis: Safardy Bora

Di Pambusuang, laut tidak pernah benar-benar diam. Ia berulang kali memecah sunyinya sendiri, seolah sedang melatih seorang anak lelaki untuk kelak mengerti arti kesabaran. Anak itu bernama Salim Sayyid Mengga. Ia tumbuh tanpa banyak kata, belajar bahwa hidup tidak selalu perlu dijelaskan, cukup dijalani dengan lurus.
Ketika ia meninggalkan kampung halaman, tidak ada pesta perpisahan. Hanya doa yang disimpan rapat, dan langkah yang sengaja tidak dipercepat. Di Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, ia belajar tentang barisan, tentang taat, dan tentang cara menahan diri. Tahun 1974, ia lulus—bukan sebagai pemenang, melainkan sebagai seseorang yang siap memikul beban yang panjang.
Puluhan tahun kemudian, seragam itu telah menyerap banyak keringat dan sunyi. Ia memimpin tanpa menghardik, memberi perintah tanpa meninggikan suara. Dari Kavaleri hingga ke pucuk amanah sebagai Panglima Kodam Pattimura, ia berjalan perlahan, seolah takut menginjak sesuatu yang bukan haknya. Pangkat Mayor Jenderal melekat padanya seperti usia: datang dengan sendirinya, tanpa diminta.
Saat masa dinas selesai, Salim tidak berhenti mengabdi. Ia hanya menurunkan nada. Dari medan latihan ke ruang sidang, dari aba-aba ke musyawarah. Dua periode ia duduk di DPR RI, menjaga perkara negeri dengan kehati-hatian seorang prajurit yang paham bahwa kata-kata pun bisa melukai. Ia berbicara sedikit, mendengar lebih lama.
Ketika ia dipercaya menjadi Wakil Gubernur Sulawesi Barat, ia kembali memilih bekerja di balik layar. Menyambung yang hampir putus, menenangkan yang mulai gaduh. Ia tahu, kekuasaan tidak selalu perlu ditampakkan; sering kali ia cukup hadir agar yang lain merasa aman.
Orang-orang menyebutnya menyejukkan, tetapi barangkali kata itu terlalu ringan. Ia adalah ketenangan yang tidak menghakimi, kehadiran yang tidak menekan. Ia tidak memburu dikenang, bahkan tidak tampak bersiap untuk pergi.
Namun pada 31 Januari 2026, waktu memanggilnya pulang. Di Makassar, napasnya berhenti dengan damai, seolah ia memang telah lama bersiap. Kabar kepergiannya menyebar pelan, seperti hujan yang turun tanpa guntur—tidak gaduh, tetapi membuat dada sesak.
Pagi 1 Februari 2026, Taman Makam Pahlawan Kalibata menerima tubuh yang telah selesai menjaga negeri. Langit Jakarta menunduk, dan orang-orang berjalan dengan kepala tertahan. Tanah dibuka dengan penuh hormat, doa-doa dibacakan dengan suara yang patah di tengah jalan. Ketika jasad itu diturunkan, sunyi mendadak terasa berat, seolah ada sesuatu yang ikut dikuburkan bersama—keteladanan yang tak pernah meminta tepuk tangan.
Bendera dilipat perlahan. Tangis tidak pecah, hanya menetes. Sebab sebagian kehilangan memang tidak cocok ditangisi keras-keras. Ia lebih layak dikenang dalam diam.
Salim Sayyid Mengga tidak meninggalkan gemuruh nama. Ia meninggalkan rasa kehilangan yang tenang, yang baru terasa ketika kita sadar: ada orang-orang yang selama ini menjaga tanpa terlihat, dan ketika mereka pergi, barulah kita mengerti betapa sunyi dunia tanpa kehadiran mereka.
Di tanah itulah ia kini berbaring. Di antara para pahlawan. Bukan karena pangkat atau jabatan, melainkan karena ia telah menjalani hidupnya dengan setia—dan pulang tanpa menyisakan kebisingan.*