Sabtu, 28 Juni 2025

SUTERA MANDAR DALAM NAFAS PEMBANGUNAN KALIMANTAN TIMUR

Oleh: Safardy Bora

Dalam helai-helai halus Lipa Sa`be Mandar—sarung sutera Mandar—tertenun tidak hanya benang, tetapi sejarah, harga diri, dan peradaban. Kain tradisional yang berasal dari dataran Mandar ini bukan sekadar hasil olah tangan para perempuan kampung yang setia menjaga wasiat leluhur, melainkan juga lambang keagungan budaya yang menyatu dalam semangat nasionalisme, ketahanan sosial, serta narasi perjuangan lintas generasi.

Lipa Sa`be bukan sekadar kain; ia adalah narasi kolektif masyarakat Mandar tentang keanggunan, keberanian, dan keteguhan hati. Pada masa lalu, Puang Depu, seorang perempuan bangsawan dari Tinambung, menjadikan sarung sutera Mandar sebagai simbol perlawanan terhadap kolonialisme. Hari ini, makna simbolik itu hidup di tanah Borneo, namun dalam wajah baru: perjuangan di medan pembangunan, pengabdian di jalur politik, dan dedikasi dalam pemerintahan yang adil.

Tiga tokoh Kalimantan Timur dari keluarga besar Bani Mas’ud:
Dr. Ir. H. Hasanuddin Mas’ud, S.Hut., M.E,
Dr. H. Rahmad Mas’ud, S.E., M.E,
dan Dr. H. Rudy Mas’ud, S.E., M.E,
adalah representasi kontemporer dari semangat yang dahulu terpatri dalam kain Lipa Sa`be: ketekunan dalam pengabdian, keberanian mengambil risiko, dan komitmen untuk membela kepentingan rakyat, dengan tetap berpijak pada nilai-nilai budaya dan agama.

Hasanuddin Mas’ud: Entrepreneur Visioner dalam Arus Legislasi
Dr. Ir. H. Hasanuddin Mas’ud adalah seorang entrepreneur visioner yang menanamkan akar usahanya di bidang minyak dan perkapalan, properti, dan agribisnis di Kalimantan Timur. Jiwa wirausahanya lahir dari kedalaman tradisi Mandar—berani, jujur, dan ulet. Dari medan usaha inilah ia tumbuh menjadi tokoh masyarakat yang tangguh dan dipercaya memimpin DPRD Kalimantan Timur sebagai ketuanya.

Sebagai entrepreneur, ia tak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mengusung prinsip keadilan sosial dan pembangunan berkelanjutan. Kepemimpinannya di lembaga legislatif membawa semangat dunia usaha ke dalam kebijakan publik: efisiensi, inovasi, dan keberpihakan pada ekonomi kerakyatan. Dalam dirinya, teranyam benang Mandar yang menyatukan keberanian tradisi dan strategi modern.

Rahmad Mas’ud: Menenun Kota Balikpapan dengan Gagasan Besar
Dr. H. Rahmad Mas’ud, selain pengusaha minyak dan perkapalan ia juga seorang Wali Kota Balikpapan, ia telah menjadi simbol kepemimpinan generasi baru yang memadukan akar budaya dengan manajemen kota modern. Dalam periode kepemimpinannya, Balikpapan tidak hanya tumbuh sebagai kota industri energi, tetapi juga menjadi kota yang ramah lingkungan, inklusif, dan sarat penghormatan terhadap kearifan lokal.

Rahmad Mas’ud meyakini bahwa kota bukan sekadar tumpukan beton, melainkan ruang hidup yang harus ditenun dengan rasa keadilan sosial dan keindahan budaya. Baginya, sutera Mandar bukan hanya warisan, tetapi juga filosofi: kuat, lentur, dan menyejukkan.

Rudy Mas’ud: Dari Parlemen ke Kursi Gubernur Kalimantan Timur
Dr. H. Rudy Mas’ud menapaki jalan politiknya sebagai Anggota DPR RI Komisi VII, tempat ia memperjuangkan aspirasi Kalimantan Timur dalam bidang energi, teknologi, dan pembangunan strategis. Di Senayan, ia dikenal sebagai legislator muda dengan suara tegas dan pendekatan solutif.

Namun langkahnya tidak berhenti di parlemen. Dengan dukungan kuat dari masyarakat lintas etnis, jaringan kultural, serta basis akar rumput, Rudy Mas’ud kemudian terpilih secara demokratis sebagai Gubernur Kalimantan Timur. Kemenangannya bukan hanya kemenangan politik, tetapi juga peristiwa budaya—karena untuk pertama kalinya, nilai-nilai Mandar kembali hadir secara nyata dalam kursi eksekutif tertinggi provinsi.

Sebagai Gubernur, Rudy mengusung misi besar: menjadikan Kalimantan Timur tidak hanya sebagai gerbang Ibu Kota Negara, tetapi juga sebagai episentrum pertumbuhan hijau, inklusif, dan berbasis komunitas. Ia menenun strategi pembangunan yang berpihak pada rakyat, dan memadukan daya budaya dengan ketangguhan birokrasi.

Dari Sarung ke Strategi: Makna Budaya yang Terus Bergerak
Apa yang diwariskan oleh Lipa Sa`be hari ini bukan hanya kain, melainkan etos kerja, keberanian memimpin, dan keteguhan moral. Tiga tokoh ini—Hasanuddin, Rahmad, dan Rudy—adalah bukti nyata bahwa warisan budaya bukanlah benda mati. Ia hidup dalam keputusan-keputusan penting, dalam keberpihakan kepada rakyat, dan dalam jejak langkah pembangunan.

Dalam konteks Kalimantan Timur, di mana geopolitik, demografi, dan ekologinya berubah begitu cepat, ketiga tokoh ini telah menjadi penjaga harmoni antara masa lalu dan masa depan. Mereka menenun ulang identitas daerah dalam bingkai nasionalisme yang beradab, santun, dan modern.

Penutup: Sutera yang Tak Pernah Kusut
Sama seperti sutera Mandar yang lembut namun kuat, peran para pemimpin muda Bani Mas’ud di Kalimantan Timur menunjukkan bahwa nilai-nilai luhur budaya bisa menjadi fondasi kepemimpinan modern. Dalam simpul-simpul strategis pembangunan daerah, mereka hadir bukan sekadar sebagai entrepreneur atau politisi, tetapi sebagai penjaga marwah: pemimpin yang menghidupkan kembali nilai-nilai lokal untuk menjawab tantangan global.

Sebagaimana Puang Depu mempertahankan tanah Mandar dengan lipa sa`be-nya, para pemimpin ini pun berdiri tegak membela tanah Kalimantan Timur, bukan dengan senjata, tetapi dengan gagasan, keberanian, dan keteladanan.

Salam budaya dan penghormatan kepada tanah leluhur.

Jumat, 27 Juni 2025

UPACARA TRADISI || Pelattigiang Mallari Ada' di Mandar

Dalam poses pernikahan adat Mandar terdapat beberapa tahap sebelum 
dilaksanakannya pernikahan serta ada pula beberapa tahap setelah dilaksanakannya 
pernikahan dan seluruh rangkaian acara memiliki makna tersendiri. Salah satu tradisi 
yang ada pada adat pernikahan suku Mandar yaitu mallattigi. Pada jaman terdahulu 
mallattigi adalah suatu prosesi upacara/ritual dalam pelaksanaan pernikahan adat di 
Mandar yang dilakukan oleh raja beserta dewan adat sebagai simbol pemberian berkah dan restu kepada kedua calon mempelai yang disaksikan langsung keluarga 
besar kedua calon mempelai beserta seluruh tamu undangan yang hadir. Tetapi pada 
dewasa kini proses ini telah dilaksanakan hampir seluruh masyarakat Mandar pada 
umumnya. Proses mallattigi merupakan proses yang memuat nilai religi dan syarat 
akan makna kearifan lokal. Perbedaan proses mallattigi dibedakan berdasarkan 
pelaku. Di Mandar Jika pelaku merupakan anak keturunan bangsawan maka proses 
pelattigiang di istilahkan dengan pelattigiang mallari ada’. Prosesi mallari ada’ ini 
diawali dengan barisan pembawa kotak dan beberapa benda pusaka lainnya yang 
merupakan perangkat atau alat kepunyaan arayang (bangsawan) beserta seluruh 
anggota adat. Para pembawa perlengkapan akan menuju ruang pelaksanaan ritual 
pellattigiang. Mallattigi sendiri merupakan acara yang dilakukan dengan 
mendudukkan kedua pengantin di tempat yang sudah disediakan sambil meletakkan 
telapak tangannya di atas bantal diantarai oleh salah satu orang yang dituakan atau 
orang terdekat kedua belah pihak calon pengantin kemudian secara berturut-turut 
dilakukan pemberian daun pacar/inai yang dilaksanakan oleh para anggota hadat.
Urutan pelaksanaan tersebut secara tersusun dilakukan menurut level tradisi setempat, 
dan selalu dimulai oleh Kadi setempat. 
Kadi adalah seorang hakim yang keputusannya berlandaskan syariat Islam. 
Salah satu tugas Kadi menikahkan kedua mempelai dan memastikan rukun-rukun 
nikah dalam urusan pernikahan berdasarkan aturan Islam. Upacara ini merupakan 
rangkaian prosesi pernikahan yang diadakan sebelum akad nikah dimulai. Prosesi ini 
juga dikenal dengan istilah mallari ada’ bagi kalangan Kerajaan Balanipa Mandar. 
Terkhusus mempelai yang melaksanakan mallari ada’ dilaksanakan di rumah 
mempelai perempuan sebelum akad nikah. Secara umum, bagi calon pengantin laki-
laki, mallattigi dapat dilkasanakan di rumah sebelum patindorang (prosesi mengantar), kecuali jika prosesi pernikahan berlangsung secara adat. Sedangkan bagi 
calon pengantin perempuan, mallattigi dilaksanakan dalam kamarnya, kecuali jika dihadiri Puang dan Mara'dia.
Dalam tahap pelaksanaan upacara Mallari ada’ , yang mendapatkan kesempatan 
memberikan proses pelattigiang antara lain : Mara'dia Matoa, Mara’di Towaine 
Mara’dia Sara’, Pabbicara Kayyang, Pabbicara Kenje, Puang Limboro, Puang 
Lembang, dan puang Tenggelang.
Perlu diketahui bahwa dalam kondisi sekarang Upacara Tradisi Pelattigiang bergantung kepada siapa yang akan dilanttigi dan siapa seharusnya yang layak melattigi atau "To Mallatigi." Berhubungan dengan prosesi itu, maka tidak ada seorangpun (termaduk MC) yang berkewenangan untuk mengatur siapa yang harus ditunjuk urutan pertama dalam Mallattigi Calon Pengantin.
Biarlah para Tomaka Mallattigi yang saling mempersilakan dan tahu diri siapa seharusnya yang layak di urutan pertama sesuai kadar kebangsawanannya.

By. YM. Sjahrir Tamsi.

MUHARRANG DAN BASSI ||Ijab Kabul Kebudayaan Mandar

Catatan Muhammad Munir 

Tanggal 1 Muharam dalam kalender kaum muslimin sedunia dicatat sebagai hari Tahun Baru Islam. Tapi di Mandar, Tanggal 1 Muharram dianggap tidak saja sebagai tahun baru tapi lebih dari itu, bulan Muharram dianggap bulan paling sakral. Itu makanya bulan ini di roma (disambut) dengan ritual doa dan makanan khas yang manis manis yang dilaksanakan di rumah rumah warga. 

Demikian juga pada 10 Muharram, ruangan masjid-masjid akan menjadi lautan makanan dan minuman yang manis-manis. Mereka tak perlu faham tentang Hari Asyura, tahun baru Islam bahkan tak mendengar tentang Peristiwa Berdarah bernama Karbala. Mereka tak pernah faham itu, sebab ritual ini adalah warisan yang ditinggalkan oleh moyangnya secara diam-diam. Dan mereka patuh. 

Maka jangan pernah membid'ahkan mereka, terlebih mengkafirkan ritualnya, sebab di tanggal yang sama mereka akan mengeluarkan semua benda pusaka miliknya untuk di bersihkan (disossor). Sebagian lain jika ada pusaka yang dijual, pasti mereka akan membelinya (jika cocok dengan isi kantongnya). 

Bahwa besi bagi orang Mandar adalah saudara kandung dan maka itu perlakuannya terhadap besi seperti halnya memperlakukan dirinya sendiri. Inipun lahir tanpa harus faham bahwa dalam Al-Quran Allah menamai salah satu surahnya, Al-Hadid atau Tentang Besi. Cinta orang Mandar kepada besi lahir dengan sendirinya karena moyangnya menghargai besi dan mewariskannya secara turun temurun. 

Adakah yang salah dari ritual dan amaliyah mereka terhadap besi dan lakinya pada bulan Muharram ? Mereka memjadikan Muharram sebagai pertemuan dengan besi besi kesayangannya, mereka menghitung hari-hari kedepan dengan Muharran. Lalu muncul istilah Allo Masara (keresahan), Allo Monge' (identik dengan sakit) dan Allo Mate (hari yang terhubung dengan kematian).

Dahsyatnya, 20 Huruf Hijaiyah tambah dua aksara (Lam dan Hamzah) sebagai pelengkap dari hitungan 28 + 2 sehingga terjadi akumulasi angka 30 sebagai representasi bilangan bulan hijriah. Inilah yang disebut dengan putika yang didalamnya ada putika tsalasiyah, putika ajuma, bilangan amessa bahkan menjadi dasar bilangan manu-manu' dalam tradisi budaya agraris dan dikembangkan dalam putika posasi' ketika budaya maritim semakin berkembang. Navigasi orang Mandar membaca langit membelah laut adalah relasi spiritual mereka dari aksara Arab atau Abjad Hijaiyah. Ini menjadi bagian dari ilmu falaq. 

Hal yang menarik diantara faham-faham tradisional terkait putika itu mengamggap peristiwa hijrahnya Rasulullah dan memginap di gua Tsur bersama Abu Bakar Ash-Ashiddiq itu adalah bagian dari putika pencarian hari baik Rasulullah agar kaum Muhajirin selamat sampai ke Yastrib. Huruf Tsa digambarkan dengan bentuk perahu yang memiliki titik (tatti') sebanyak tiga itu adalah gambaran kaum Anshar yang menyambut Rasulullah dan Muhajirin ketika sampai di Kota Yastrib. 

Kembali ke besi yang ternyata Allah membahasakannya dengan sangat dahsyat. Itu bisa dibaca dalam Surah Al-Hadid ayat 25 (سورة الحديد آية ٢٥) dalam Al-Quran berbunyi:
لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ ۖ وَأَنزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ ۚ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ 
Artinya: "Sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasulNya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa." 
Ayat ini menjelaskan bahwa Allah SWT telah mengutus para nabi dan rasul dengan membawa mukjizat dan kitab suci, serta neraca keadilan agar manusia dapat berlaku adil. Selain itu, Allah SWT juga menciptakan besi yang memiliki kekuatan dan berbagai manfaat bagi manusia. Ayat ini juga menegaskan bahwa Allah SWT ingin mengetahui siapa yang menolong agama-Nya dan rasul-rasul-Nya, meskipun Allah tidak terlihat oleh mata manusia. 

Disini letak orang Mandar mengapa dalam dunia lait mereka dilabeli ulung, dalam dunia silat mereka pun digelar pendekar dan dalam dunia pusaka mereka jadi maesteo besi yang tak saja mempelakukannya layaknya manusia tapi lebih dari itu, mereka bisa berkomunikasi dengan besi menurut apa yang diinginkan oleh keduanya. Meteka sampai mengambil keputusan final Bassi Siasiri' Ura', Sipetawe Uli'. Inilah kunci dari ijab kabul kebudayaan orang Mandar dengan besi dan Muharrang. 

Tim PUSAKAKU || Pusat Studi Sosial & Kajian Kebudayaan

Kamis, 26 Juni 2025

PYM. H. ANDI MATTULADA ||Mattulada Arajang Binuang (Kepala Swapraja Binuang terakhir)


Kiriman Abd. Rajab Ashari 

H. Andi Mattulada Arajang Binuang merupakan putra dari pasangan Madjalekka Daeng Patompo Arajang Binuang dan Samanangi. Dari garis Silsilah jalur ibu beliau yaitu Samanangi merupakan anak dari Maraqdia Tomadio bernama Tongai digelar "Maraqdia Tomissu", beliau juga pernah menjabat Maraqdia Matoa Balanipa. Samanangi memiliki beberapa saudara diantaranya Karru Daenna Petti Maraqdia Tomadio dan Nangnga (Ibu dari Andi Pasilong Pabbicara Kaiyyang Balanipa).

Tongai Maraqdia Tomadio mempunyai beberapa saudara diantaranya Madewari menjabat Maraqdia Nepo (Ayahanda dari Paselleri Maraqdia Tapango dan Aco Djalawali Maraqdia Mapilli) dan Laowang Daenna Ma'de menjabat Maraqdia Mapilli (Ayahanda dari Aco Puanna Bewang Maraqdia Mapilli). Ketiganya adalah putra dari Tandibali Ammana Ma'ju menjabat Maraqdia Tomadio. 

Ibunda Ammana Ma'ju digelar Towalu di Tomadio bersaudara dengan ibunda Mandawari Arajang Balanipa yg juga digelar "Maraqdia Melloli" bernama Saparu serta ibunda dari Tokape Arajang Balanipa digelar Towalu di Lekopadis. Ketiganya (Towalu di Tomadio, Towalu di Lekopadis, Saparu) adalah anak dari Pammarica yang pernah menjabat Arajang Balanipa, Mamuju dan Binuang.

Dengan kata lain Tandibali Ammana Ma'ju Maraqdia Tomadio (Kakek Buyut PYM. H. Andi Mattulada ) bersepupu satu kali dengan Mandawari Arajang Balanipa dan Tokape yang juga pernah menjabat  Arajang Balanipa kemudian diasingkan ke Pacitan.

PYM. H. Andi Mattulada mulai memerintah pada tanggal 28 Agustus 1928 hingga Swapraja Binuang bergabung ke dalam NKRI. 

Al-Fatihah untuk beliau 🤲

SUMBER : 
1. Manuscript (Lontaraq) milik Keluarga H. Andi Mattulada 
2. Manuscript (Lontaraq) milik Ahmad Palinrungi 
3. Manuscript (Lontaraq) koleksi Depdikbud 
4. Silsilah Arajang Balanipa ditulis oleh Puang Manda (Kepala Swapraja Balanipa Terakhir)
5. Susunan Keluarga Besar Balanipa ditulis oleh Baharuddin Laheranna.
6. Dokumen Belanda tentang Raja-raja Binuang dan masa jabatannya ditulis oleh Het Zelf Bestuur van Binoeang, G.I Schrijver pada tanggal 25 Januari 1940.