Rabu, 29 Oktober 2025

Bupati Resmi Lepas 30 Atlet Mamuju Menuju Kejurnas Catur Ke-50/2025

MAMUJU, SULBAR – Bupati Mamuju, St. Sutinah Suhardi secara resmi melepas kontingen atlet catur Kabupaten Mamuju yang akan berlaga pada Kejuaraan Nasional (KEJURNAS) Catur ke-50 Tahun 2025. 

Acara pelepasan berlangsung di Rujab Sapo'ta, Kamis (30/10/25).Di hadiri oleh jajaran pengurus Percasi, para pelatih, offisial serta para atlet yang akan mewakili daerah.

Ibu Bupati menyampaikan rasa bangga dan apresiasi yang tinggi kepada para atlet yang telah berlatih dengan penuh semangat untuk membawa nama baik Kabupaten Mamuju di tingkat nasional.

> “Saya sangat mengapresiasi semangat dan kerja keras para atlet muda Mamuju yang akan berlaga di Kejurnas Catur ke-50 nanti. Pemerintah Daerah akan terus mendukung dan mensupport setiap langkah perjuangan mereka, karena melalui olahraga kita dapat mengharumkan nama daerah di kancah nasional,” ujar Ibu Bupati. 

Ibu juga berpesan agar para atlet tetap menjunjung tinggi sportivitas, menjaga kekompakan, serta menampilkan kemampuan terbaik selama pertandingan berlangsung.

Sementara itu, pengurus Percasi Sulbar Ir. Alwinuddin, M.Si menyampaikan terima kasih atas perhatian dan dukungan Pemerintah Kabupaten Mamuju terhadap perkembangan olahraga catur di daerah.

> “Dukungan dari Ibu Bupati menjadi motivasi besar bagi kami untuk terus berprestasi. Kami optimistis atlet-atlet Mamuju mampu bersaing dan meraih hasil terbaik di Kejurnas nanti,” ungkapnya.

Kejurnas Catur ke-50 Tahun 2025 akan digelar di Mamuju, Sulawesi Barat, pada 7–13 November 2025, sekaligus dirangkaikan dengan Rapat Kerja Nasional (RAKERNAS) Percasi ke-45.

"Atlet Mamuju akan turun di beberapa kategori kelompok umur, mulai usia 7 tahun sampai kelompok veteran 60 tahun keatas. Mamuju 30 atlet, Majene 20, Polman 4, Mateng 6 dan Mamasa 8 atlet, keseluruhan kontingen Sulbar 68 atlet," ungkap Alwinuddin yg juga Kepala DLHK Mamuju itu. 

Dengan dukungan penuh dari Pemerintah Daerah dan masyarakat, diharapkan para atlet atlet Sulbar khususnya Mamuju dapat memberikan penampilan terbaik dan mengukir prestasi membanggakan di ajang nasional tersebut. (**)


Selasa, 28 Oktober 2025

Caha Maha Cahaya ‘Dilarang Tampil’ Gara-gara: Arab Tanpa ‘Ain, Ahmad Tanpa Mim

Catatan Hamzah Ismail 

Pada tahun 1990-an, Teater Flamboyant Mandar berada pada puncak produktivitasnya. Saat itu, mereka tengah menyiapkan sebuah pertunjukan teater yang judulnya diambil langsung dari buku puisi karya Emha Ainun Nadjib (Mbah Nun), berjudul Cahaya Maha Cahaya.

Kebetulan, proses penciptaan karya pertunjukan tersebut mendapat perhatian langsung dari Mbah Nun. Ia bahkan mengirim seorang sutradara khusus untuk mendampingi proses awal produksi, yaitu Agung Waskito, yang sebelumnya sukses menyutradarai pementasan Lautan Jilbab.

Proses latihan berlangsung sekitar dua bulan. Menariknya, naskah dan tata musik pertunjukan digarap langsung selama proses latihan berlangsung. Tidak seperti pertunjukan teater pada umumnya yang berangkat dari naskah jadi, Cahaya Maha Cahaya justru lahir dari dinamika improvisasi para pemain dan arahan sutradara di ruang latihan.

Rencana awalnya, karya teater Cahaya Maha Cahaya ini akan dibawa berkeliling ke beberapa daerah setelah terlebih dahulu dipentaskan di Tinambung sebagai penampilan perdana. Setelah segala persiapan dinyatakan selesai, pentas perdana pun digelar di Eks Gedung Bioskop Harapan, Tinambung.

Layaknya pemutaran film, pertunjukan ini menjual tiket kepada penonton. Dan, Alhamdulillah, ratusan tiket berhasil terjual, sebuah capaian yang membanggakan bagi kelompok teater daerah pada masa itu. 

Keberhasilan pementasan di Tinambung menjadi pemantik semangat baru untuk membawa Cahaya Maha Cahaya melancong ke Parepare. Syarifuddin Razak ---yang kini dikenal sebagai Kepala Desa Tandung--- menjadi salah satu penggerak utama rencana tersebut. Ia berusaha membujuk sepupunya, Andi Samsani, agar membantu membuka jalan. Kebetulan, ayah Andi Samsani saat itu menjabat sebagai pejabat militer di Korem Parepare. Alhasil, Andi Samsani bersedia menjadi sponsor pribadi sekaligus satu-satunya penanggung logistik bagi keberangkatan dan pementasan Cahaya Maha Cahaya ke Parepare.

***

Setelah semua persiapan dirasa matang, tim Cahaya Maha Cahaya berangkat ke Pare-Pare menggunakan bus umum. Sekitar tiga puluh orang, terdiri dari pemain dan kru, ikut dalam perjalanan itu. Setibanya di Pare-Pare, mereka ditempatkan di salah satu rumah warga setempat.

Menariknya, pemain dan kru sempat berada di Pare-Pare selama beberapa hari sebelum bisa manggung. Mereka tidak bisa segera tampil karena proses perizinan belum selesai. Sambil menunggu, kegiatan mereka terbatas pada latihan kecil-kecilan, makan, dan tidur.

Tim produksi, yang dipimpin Andi Samsani, bergerak cepat untuk mengurus perizinan. Meski demikian, izin tidak dapat langsung diterbitkan karena ada dua kendala. Kendala utama ternyata terletak pada dua kalimat dalam naskah yang dibaca pihak berwenang; kata-kata itu terdengar janggal dan asing. 

Meski menghadapi hambatan, tim produksi terus mencari jalan. Mereka terlanjur berada di Pare-Pare dan Cahaya Maha Cahaya harus dipentaskan. Akhirnya, mereka bertemu dengan seorang perwira polisi asal Sendana yang juga sedang bertugas di Pare-Pare, Saeruddin Mandra, dan bersedia menjadi jaminan. Berkatnya, izin akhirnya diterbitkan dan pementasan pun diperbolehkan.

Dua kalimat yang sempat mengganjal proses perizinan itu adalah “Arab bila ‘ain dan “Ahmad bila mim,” sebuah terminologi dari khazanah tasawuf, yang merujuk pada “Arab tanpa ‘ain (Rab)” dan “Ahmad tanpa Mim (Ahad).” 

Padahal dalam naskah itu terdapat puisi yang jauh lebih berdaya juang, sebuah sajak dari buku Cahaya Maha Cahaya, berjudul Hizib.
Bismillah alam semesta,
Bismillah darah manusia, …

Tabeqq…
Tinambung, 25/10/2025

Minggu, 26 Oktober 2025

GARA-GARA NAMA EMHA DIPANJANGKAN



Catatan Hamzah Ismail 

Salah satu gawean besar Teater Flambonyant pada tahun 1990-an yang sempat menyedot perhatian media lokal maupun nasional adalah upaya mempertemukan Prof. Dr. H. Baharuddin Lopa, S.H., M.H. dengan Emha Ainun Nadjib.  Saat itu, Baharuddin Lopa sedang menjabat Sekjen Komnas HAM sekaligus Dirjen Lapas Departemen Kehakiman, sementara Emha Ainun Nadjib, tokoh nasional yang tengah dicekal rezim Orde Baru karena kritik-kritiknya yang tajam terhadap kekuasaan. Keduanya dijadwalkan bertemu dalam sebuah seminar bertema “Kebebasan Berekspresi”.

Beberapa hari menjelang hari “H”, panitia dikejutkan oleh kabar bahwa Emha Ainun Nadjib tidak diperkenankan berbicara dalam seminar tersebut. Alasannya: panitia disebut belum memiliki izin resmi. Pihak keamanan meminta agar izin kegiatan harus dikeluarkan langsung oleh Kapolda Sulawesi Selatan, padahal izin dari Polres Polewali Mamasa sudah di tangan panitia selama seminggu.

Menanggapi situasi itu, panitia segera berkoordinasi dengan pihak kepolisian. Ternyata benar: panitia diarahkan untuk mengurus izin ke Polda. Namun waktu yang tersisa sudah terlalu mepet. Akhirnya, panitia memutuskan untuk nekat melanjutkan acara hanya dengan izin dari Polres Polmas. Apa pun risikonya, seminar harus tetap jalan.

Kasus ini cepat menyebar ke media. Jawa Pos memuat berita berjudul “Emha dan Baharuddin Lopa Akan Bersanding di Mandar”, sedangkan Republika ---yang kala itu menjadi pesaing serius Kompas--- menjadikannya sebagai tajuk rencana.

Berita pencekalan itu membuat tokoh-tokoh Mandar turun tangan. Bahkan Bupati Polmas, Andi Kube Dauda, ikut melobi Kapolres. Pak Kube Dauda merasa tak enak, sebab salah satu pembicara yang akan dihadirkaan, Baharuddin Lopa, putra Mandar yang menjabat di tingkat nasional.

Sebagai ketua panitia pelaksana, saya bersama rekan-rekan mendapat arahan dari beberapa tokoh Mandar ---Husni Djamaluddin, Subaer Rukkawali, dan Puang Mappa (Andi Mappatunru). Kami diminta mundur selangkah: seminar tetap berlangsung, Emha tetap dihadirkan, tetapi tidak boleh berbicara.

Kami setuju, namun mengusulkan alternatif lain: Emha ditampilkan sebagai pembaca Qalam Ilahi. Kami yakin, bila ia mengaji, ia pasti akan berbicara banyak, setidaknya mengulas ayat-ayat yang ia baca.

Sayangnya, rencana itu batal. Tokoh-tokoh Mandar yang mendampingi kami bersikeras agar Emha tidak tampil sama sekali ---cukup hadir di dalam ruangan. Kami pun, lagi-lagi, mengalah.

Malam hari, selepas Isya, sekitar lima ratusan peserta memadati gedung di Gunung Mita. Seminar dimulai. Husni Djamaluddin bertindak sebagai moderator. Dua pembicara tampil di panggung: Baharuddin Lopa dan Subaer Rukkawali. Sementara itu, Emha Ainun Nadjib duduk di barisan depan, di samping Mara’dia H. Abdul Malik Pattana I Yendeng, seperti peserta biasa.

Di luar gedung, suasana tegang. Aparat kepolisian berjaga ketat, dipimpin langsung oleh Wakapolres. Puluhan intel berpakaian preman lalu-lalang, mengawasi panitia dan peserta. 

Sempat ada panitia yang nyaris beradu urat leher dengan Wakapolres, tetapi Paramisi Ma’dua, tokoh disegani, segera menahannya sebelum benturan terjadi.

Usai seminar di Gedung Mita Tinambung, rombongan berpindah ke rumah Puang Mappa di Kandeapi, hanya beberapa ratus meter dari lokasi acara. Di rumah itulah ---tanpa mikrofon, tanpa izin, tanpa panggung resmi--- Baharuddin Lopa, Emha Ainun Nadjib, Husni Djamaluddin, Subaer Rukkawali, Alisjahbana, dan sejumlah tokoh lainnya, serta puluhan pemuda Mandar menggelar pertemuan bebas. Mereka berbicara dengan semerdeka-merdekanya, sementara intel aparat masih mondar-mandir di jalan depan rumah.

Lalu, mengapa izin seminar dari Polres Polmas itu bisa terbit pada awalnya, yang belakangan hendak dibatalkan sepihak?

Rahasianya sederhana.

Ketika panitia mengajukan permohonan izin ke Polres Polmas, kami mencantumkan belasan nama pembicara. Nama Emha Ainun Nadjib kami letakkan di urutan ketiga dari terakhir, lalu dipanjangkan menjadi “Muhammad Ainun Nadjib.”

Harapannya sederhana: nama itu tidak dikenali. Sebab, penulisan lengkap “Muhammad Ainun Nadjib” tidak lazim digunakan.

Dari Emha menjadi Muhammad, tampak sepele, tapi cukup untuk mengecoh siapa pun yang tidak betul-betul mengenal sosoknya.

Dan benar saja: izin itu pun terbit tanpa masalah.

Tabeeqqq.
Tinambung, 26 Oktober 2025, dini hari.

Keterangan Foto: 
1. Emha Ainun Bersama Mara'dia Balanipa H. Abdul Malik Pattana I Yendeng
2. Emha Ainun Nadjib bersama Prof. Dr. H. Baharuddin Lopa, SH, MH

DUA SIMPUL KEKUATAN SOSIAL BERTEMU

Oleh : Almadar Fattah 

Konsep "dua simpul kekuatan sosial bertemu" antara ilmiah dan alamiah menggambarkan harmoni antara pengetahuan modern dan kearifan lokal. Ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan dapat berjalan seiring dengan nilai-nilai alamiah dan tradisi, sehingga menciptakan keseimbangan yang positif bagi masyarakat dan lingkungan. Sinergi ini sangat penting untuk menciptakan pembangunan yang berkelanjutan dan harmonis.

Pertemuan kedua tokoh ini sungguh menggambarkan harmoni antara modernitas dan tradisi di Sulawesi Barat. Gubernur Suhardi Duka dan Tomalaqbita Arayang Balanipa Bau Arifin Malik sepertinya memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan antara kemajuan zaman dan nilai-nilai luhur budaya lokal. Kerja sama antara konsep "pemegang pena" dan "pemegang payung" ini menunjukkan sinergi yang kuat untuk memajukan Sulawesi Barat sambil tetap menghormati akar sejarahnya. Semoga Sulawesi Barat terus berkembang dengan tetap menjaga keaslian budayanya.

Identitas daerah memang sangat terkait erat dengan akar budayanya. Dengan menjaga dan melestarikan budaya, kita dapat memastikan bahwa warisan leluhur tetap hidup dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Harmoni antara kemajuan dan pelestarian budaya ini sangat penting untuk membangun masyarakat yang kuat dan berakar. Budaya yang lestari akan terus menjadi sumber inspirasi dan kekuatan bagi generasi mendatang.

Semoga sinergi antara pemerintah dan Arayang Balanipa dapat terus terjalin dengan baik dalam menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya dan tradisi di Sulawesi Barat. Dengan kerja sama yang harmonis, nilai-nilai budaya dapat terus dipertahankan dan diwariskan kepada generasi mendatang, sehingga identitas budaya Sulawesi Barat tetap terjaga dan menjadi kebanggaan bagi masyarakatnya.

Konsep tersebut menunjukkan bahwa integrasi antara pengetahuan modern dan kearifan lokal dapat membawa dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan. Dengan menggabungkan kedua aspek ini, kita dapat menciptakan solusi yang lebih holistik dan berkelanjutan, serta memperkuat identitas budaya dan lingkungan. Sinergi ini sangat berharga dalam menghadapi tantangan zaman dan membangun masa depan yang lebih baik.

Nilai-nilai budaya dan tradisi memang sangat erat kaitannya dengan identitas suatu daerah dan masyarakatnya. Mereka membentuk karakter dan jati diri masyarakat, serta menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Dengan memelihara dan melestarikan nilai-nilai budaya dan tradisi, kita dapat memperkuat rasa kebersamaan dan kesatuan dalam masyarakat. Budaya dan tradisi adalah warisan berharga yang perlu dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Peradaban yang maju seringkali ditandai dengan penghargaan yang tinggi terhadap nilai-nilai budaya dan tradisi. Nilai-nilai ini menjadi fondasi moral dan etika yang membentuk karakter masyarakat. Semakin tinggi peradaban suatu daerah, semakin besar pula kesadaran akan pentingnya melestarikan dan mengembangkan warisan budaya dan tradisi sebagai bagian dari identitas dan kebanggaan kolektif.

(Kolumnis Berbagai Media Harian di Makassar Tahun 90an)

Minggu, 12 Oktober 2025

Saat Bunda Cammana ‘Memerintah’ Malaikat'

Ketika dua orang ‘murid’ Al Mukarram Bunda Cammana, keduanya ASN, mendapat kepercayaan dari atasannya, diberi amanah menjadi tomawuwenna kappung, dua orang itu mendapat kepecayaan menjadi camat masing-masing di dua kecamatan. Sebutlah (nama samaran) murid petama bernama Hasbullah, dan murid kedua bernama Abdul Gaffar. 

Hasbullah saat pertama kali berangkat ke tempat tugasnya yang baru, terlebih dahulu ia singgah untuk ‘pamit’ dan berharap mendapatkan ‘jimat’ keselamatan dari Al Mukarram Bunda Cammana. 

Pagi sekali Hasbullah tiba di rumah Bunda. 

Baru saja Hasbullah masuk ke ruang tamu dan kursi yang didudukinya belumlah terasa hangat, di luar dugaan, tiba-tiba Bunda berseru ke ruang dapurnya, agar Hasna puteri beliau, segera mengangkat kappar, dan membawanya ke ruang tengah. 

Bunda : “Ka’na, akkke’i iting mai kappar, Nak o!”

Hasna bersegera menyahuti ‘perintah’ Bunda. Seketika tergelarlah kappar, berisi aneka macam penganan, sokkol, loka tiraq, beserta beberapa kelengkapannya, ternyata Bunda Cammana secara mandiri telah menyiapkan ‘ritual’ mambaca-baca sebagai proses syukuran atas capaian muridnya, tanpa memberi tahu sebelumnya. 

Hasbullah pun diminta untuk mengambil posisi tepat berhadapan dengan Bunda Cammana. Hasbullah sungguh tidak menduga, jika ia akan ‘dirayakan’ oleh Bunda Cammana, sesaat sebelum ia melakukan tugas pertama di kantornya yang baru. Hasbullah hanya bisa diam, sambil berkaca-kaca matanya. 

Sungguh diluar dugaan, ia akan dipelakukan seperti itu, sebab Hasbullah bukan kali ini saja ia mendapat amanah, setidaknya sudah tiga kali mutasi jabatan formal pemerintahan, tapi satu pun, tidak pernah ada niat, baik dari dirinya sendiri maupun dari keluarga (istri dan anak-anaknya) untuk melakukan ‘perayaan’ yang sama sebelum ia bekerja di tempat tugas yang baru.

Undung kemudian dibakar, wangi kemenyan pun merebak harumnya kemana-mana, memenuhi segala ruangan. Prosesi mambaca-baca sebagai tanda syukuran pun di mulai. Doa dan shalawat mengalir lirih dari mulut Bunda Cammana. Hasbullah ikut larut di dalamnya, menirukan bunyi shalawat Bunda. 

Tiba di puncak doa, Bunda Cammana mengangkat, lalu menengadahkan tangannya mengarah langit, agak tinggi ia mengangkat tangannya. Lalu menyapa Allah, membujuk akan turunnya berkah Muhammad SAW., dan terakhir… Bunda ‘memerintah’ Malaikat, lirih Bunda berseru,

“Demi kuasa Allah, dan berkah Rasulullah Muhammad SAW, 
Wahai seluruh Malikat, wahai Kiramun Katibin, 
jagalah dua anakku, Hasbullah dan Abdul Gaffar,
selama keduanya bekerja di tempat tugasnya yang baru.”

Hasbullah tercengang mengamati cara Bunda Cammana menyeru langit seperti itu, bahwa Tuhan, Nabi dan Malaikat, tampak terasa amat dekat baginya. Menyerunya, tidak perlu teriak-teriak, apalagi keras, cukup dengan bisikan lirih dan sedikit airmata.

Lalu kepada Hasbullah, disodorkan sebuah paket kecil, sekira ukurannya tiga kali empat. Tampak benar bagian paling luar dari paket itu, foto Tosalamaq Imam Lapeo. Hasbullah menyalami dan mencium tangan Bunda Cammana, saat menerima paket itu. 

Salaman lalu cium tangan, menurut Hasbullah adalah penanda “halalnya sebuah pemberian dan berkahnya sebuah penerimaan.” 

Hmmm…. Diam-diam Hasbullah, merasakan adanya energi tambahan… 

Keterangan Foto: Mbah Nun bersama Bunda Cammana, di Limboro (rumah Bunda). Sumber foto: caknun.com

Rabu, 08 Oktober 2025

BUKU Ibu Agung Hj. Andi Depu (2018-2020)

Pengantar Penerbit 

Bagi seorang tokoh sejarah, perjuangan merupakan tuntutan dan panggilan hidup yang dipenuhi demi kemaslahatan bersama. Ada pun “ganjaran” berupa apresiasi, sikap hormat, bahkan penganugerahan sebuah gelar kepahlawanan adalah konsekwensi logis dari sikap perjuangan. Dalam konteks gelar Pahlawan Nasional yang diterima Ibu Agung Hj. Andi Depu, itu menunjukkan apresiasi tinggi dan penghormatan semua pihak, termasuk negara, atas perjuangan bersejarah seorang Arajang Mandar. Secara riil ini merujuk pada keyakinan bahwa “bangsa yang besar ialah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.”

Ibu Agung Hj. Andi Depu dengan gagah berani menunaikan darma baktinya sebagai pelopor dan pemimpin perjuangan di Sulawesi Barat, bahkan Sulawesi Selatan, dalam rentang yang panjang. Mulai menghadapi kolonial Belanda, militerisme Jepang hingga upaya mempertahankan kemerdekaan yang sudah diproklamasikan. Semua itu menuntut daya juang yang tinggi (militansi), konsistensi, visi kebangsaan, dan tak kalah penting sikap rela berkorban. Nilai-nilai itu niscaya menjadi rujukan dan suri tauladan bagi generasi yang hidup pada masa Andi Depu berjuang, generasi sekarang yang bisa melacak jejak perjuangannya secara referensial, maupun generasi yang akan datang melalui sumber-sumber sejarah yang diwariskan-salah satunya melalui buku yang menjadi tulang punggung dunia literasi. 

Muhammad Munir, penulis buku Ibu Agung Hj. Andi Depu, Pahlawan Nasional dari Mandar ini, menuliskan dengan lengkap dan relatif menyeluruh sosok Hj. Andi Depu. Menariknya, apa yang dikisahkan Muhammad Munir tidak langsung tentang peran Andi Depu dalam perjuangan, namun menceritakan juga kehidupannya sejak awal di tengah keluarga besarnya. Kisah-kisah di tengah keluarga ini merepresentasikan kehidupan bangsawan Mandar yang memiliki kepedulian pada penderitaan rakyat yang sedang terjajah. 

Oleh karena itu, muncullah perlawanan dan pemberontakan di mana-mana. Bagian ini menjadi lengkap karena jejak-jejak perlawanan rakyat Mandar dikisahkan dalam bab awal, sehingga bisa dibaca sebagai latar kemunculan militansi Hj. Andi Depu, bahwa ia tidak sendiri. Kepahlawanan Andi Depu tidak muncul dari “ruang hampa”, namun didukung oleh semesta lingkungan tempat ia tinggal dan  dirajakan, yakni Tanah Mandar yang dikenal sebagai Pitu Ulunna Salu dan Pitu Ba’banna Binanga. Lewat cara ini kita dapat menundukkan kepala menghikmati kenyataan bahwa sosok kepahlawanan Hj. Andi Depu niscaya merepresentasikan sikap kepahlawanan para pejuang Mandar dan akhirnya seluruh masyarakat Mandar. 

Sebagai buku sejarah, penulisnya sadar betul bahwa unsurunsur sejarah menjadi bingkai sekaligus landasan dari keseluruhan kisah. Menurut Nugroho Notosusanto (1984), sejarah mempunyai dua arti, yakni (1) sejarah sebagai peristiwa-peristiwa) pada masa lampau dan (2) sejarah sebagai kisah dari peristiwa-peristiwa) itu. Dengan kata lain, sejarah dapat berarti sejarah sebagai peristiwa dan sejarah sebagai kisah.

Nah, Muhammad Munir berhasil mentransformasikan peristiwa masa lampau melalui kemampuan berkisah yang baik. Ia mengolah sumber-sumber sejarah yang dikumpulkan dengan intens, dengan melibatkan Tim Kreatif dan dilengkapi banyak foto yang memiliki nilai dokumentasi tinggi, sehingga kehadirannya bukan sekedar pelengkap, tapi bagian tak terpisahkan dari narasi sejarah, termasuk proses pengajuan Andi Depu sebagai Pahlawan Nasional, yang dilakukan sangat antusias oleh masyarakat Mandar.  

Akhirulkalam, tak ada gading yang tak retak. Kami mohon maaf atas segala kekurangan, dan mengharapkan kritik/saran dari para pembaca sekalian.

MERAWAT SEJARAH || Buku I Calo Ammana Wewang (1954 - 1987)

Djangan Sekali-kali Meninggalkan Sedjarah! Demi­kian bunyi salah satu pidato Bung Karno Presiden pertama Republik Indonesia. Pidato ini disampaikan pada 17 Agustus 1966 dan merupakan pidato kepre­sidenan Bung Karno yang terakhir. Pada 1967, Bung Karno bukan lagi presiden.

Menurut sejarawan Rushdy Hoesein banyak orang yang salah mengutip singkatan Jas Merah dari pidato Presiden pertama Indonesia Sukarno (Bung Karno). Banyak orang menyebut Jas Merah sebagai singkatan dari ‘Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah’. “Padahal yang betul adalah ‘Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah’. Ada makna yang berbeda antara ‘melupakan’ dengan ‘meninggalkan’,”. 

Rushdy kemudian mencontohkan dia memiliki kunci rumah. Setiap pergi meninggalkan rumahnya dia tidak akan pernah meninggalkan kunci rumahnya, meskipun mungkin suatu ketika lupa membawa. (Republika, Rabu 15 Mai 2019).

Menulis buku tentang sejarah Bangsa Indonesia saat ini merupakan sebuah langkah untuk merawat ingatan sekaligus memenuhi pesan Bung Karno un­tuk tetap merawat ingatan atau bisa juga disebut mewariskan ingatan kepada generasi sekarang atau yang akan datang, serta menulis sejarah perjuangan.

Buku yang ditulis oleh saudara Muhammad Munir ini salah satu upaya yang kami sebutkan di atas. Penulisan buku melalui metode riset dan wawancara serta mengumpulkan dokumentasi terkait tokoh se­perti I Calo Ammana Wewang, sebagai salah satu kusuma bangsa, yang berdiri di garis depan membela tanah air dan bangsa dalam upaya menindasan yang dilakukan oleh orang yang disebutkan dalam syair lagu di Mandar sebagai To Kara Matanna, Mettapiang Talinganna, Mekkalanjo Purunna atau Belanda.

Tidak tanggung-tanggung, dalam penelusuran pe­nulis, tidak hanya mengumpulkan data di wilayah Mandar, Sulawesi Barat, tapi juga melakukan perjalanan sampai ke Negeri Laskar Pelangi atau Bangka Belitung daerah yang menjadi pembuangan tokoh dalam buku ini, sebagai bentuk hukuman dari Belanda.

Sebuah pencapaian yang harus diapresiasi dengan menerbitkannya menjadi buku. Meskipun masih tersisa rumpang pada sajian buku ini, tentunya ruang itu atau yang masih kurang bisa dijadikan sebagai arena diskusi dan sebagai wadah untuk memperkaya isi buku dalam terbitan selanjutnya di kemudian hari.

Akhirnya pembaca yang Budiman, selamat mem­baca buku ini, semoga bisa menjadi referensi bagi siapa saja yang tetap ingin dan mau merawat pesan Bung Karno - Djangan Sekali-kali Meninggalkan Sedjarah!-. Artinya bahwa dengan membacanya pun adalah langkah untuk tidak meninggalkan sejarah.
Selamat membaca.

Polewali, 10 Oktober 2021

Wahyudi Muslimin
Ceo Gerbang Visual

Senin, 06 Oktober 2025

TAMMALELE || Sang Budayawan Nyentrik

Oleh : Ilham Sopu

Nama Tammalele yang akrab dipanggil A'ba Lele adalah nama yang sangat familier di daerah Mandar. Setiap berbicara budaya, seni, sosiolog, antropologi sekaitan dengan mandar, nama ini tidak pernah luput dari perbincangan. Dialog-dialog, diskusi-diskusi, seminar-seminar, pertemuan-pertemuan budaya, diskusi-diskusi pojok, diskusi-diskusi kampung, nama Tammalele selalu melekat dalam pertemuan tersebut. A'ba Lele adalah budayawan yang lahir  dari alam, universitasnya alam, budayawan yang lahir secara otodidak. Ia lahir di kappung Pambusuang di tahun 60 an. 

Di awal kehidupannya di kappung Pambusuang, A'ba Lele banyak ditempa dengan cerita-cerita ala Pambusuang yang biasanya berpusat di barung-barung di berbagai sudut kampung. Pambusuang kaya dengan berbagai tempat-tempat diskusi yang mengupas berbagai materi-materi diskusi yang muncul secara spontan, dan diperbincangkan di tempat-tempat pertemuan seperti "barung-barung", di tempat inilah yang menjadi ciri khas Pambusuang masa lalu dan sampai saat ini.

A'ba Lele bukan hanya mahir dalam bicara budaya, seni, tapi juga sangat menguasai term-term keagamaan klasik yang banyak diperbincangkan orang dengan analisis sosial kesejarahan Pambusuang pada masa dulu, dia banyak tau sejarah para annangguru di Pambusuang, pemikiran-pemikirannya, dan berbagai latar belakang keahlian para annangguru, serta perdebatan-perdebatan keilmuan antara satu annangguru dengan annangguru yang lain.

Perdebatan atau diskusi dengan sesama annangguru adalah hal yang sering terjadi di Pambusuang, dan itu secara tidak terjadwal, dimanapun mereka berkumpul, seperti di tempat-tempat hajatan, di pasar, di pinggir laut, di barung-barung, di sudut-sudut rumah, hampir selalu terjadi diskusi yang materinya lebih banyak berkaitan dengan masalah keagamaan. Lewat diskusi-diskusi seperti ini A'ba Lele kecil, banyak menyerap percikan-percikan pemikiran annangguru yang berdiskusi pada waktu itu. Disinilah tempat belajar A'ba Lele mengais ilmu-ilmu keagamaan dan model-model berdiskusi ala Pambusuang.

Model pembelajaran keagamaan yang didapatkan A'ba Lele bukanlah model formal, tapi lebih banyak model-model non formal lewat diskusi-diskusi ala kampung yang marak terjadi di berbagai tempat di Pambusuang pada waktu itu. Di tahun 80 an, A'ba Lele banyak menghabiskan waktunya untuk mengajar ilmu sejarah di pesantren Nuhiyah Pambusuang, sekaligus juga memanfaatkan untuk memperdalam ilmu-ilmu keagamaan kepada KH Abdurrahman, pimpinan pesantren Nuhiyah Pambusuang yang dikenal sebagai annangguru yang banyak mengkader generasi-generasi pelanjut keilmuan keagamaan di Pambusuang.

Disamping penguasaan metode-metode debat ala Pambusuang, A'ba Lele juga aktif mengikuti perkembangan keilmuan nasional lewat tokoh-tokoh nasional yang menjadi rujukannya, seperti Emha Ainun Najib yang lebih akrab dipanggil Cak Nun, seorang budayawan yang mumpuni, sekaligus seorang Kiai. A'ba Lele banyak mengais ilmu lewat Cak Nun, melalui interaksi langsung maupun lewat buku-buku Cak Nun yang banyak beredar di tahun 80 an sampai 90 an, hampir semua buku-buku Cak Nun menjadi koleksinya dan betul-betul menguasai pemikiran-pemikiran Cak Nun.

Pemikiran-pemikiran keagamaan A'ba Lele lebih banyak diraup dari pemikiran keagamaan Cak Nun, sehingga A'ba Lele ini bisa disebut anak pemikiran ideologis Cak Nun, dan memang tempat tinggal A'ba Lele sekarang ini, ada terbentuk komunitas pencinta Cak Nun tepatnya di Tinambung, yang dikenal sebagai kampung yang banyak melahirkan budayawan-budayawan handal di tanah mandar, seperti budayawan atau panglima puisi Husni Jamaluddin.

A'ba Lele saat ini, lebih banyak menghabiskan waktunya untuk memberikan pencerahan kebudayaan kepada generasi-generasi muda di wilayah Sulbar khusus Balanipa Majene, hampir semua kegiatan-kegiatan budaya seni dan keilmuan lainnya A'ba selalu menjadi rujukan utama dalam memberikan kontribusi untuk generasi pelanjut terkait dengan kemajuan kebudayaan di tanah Mandar. Kehadiran berbagai tokoh-tokoh budaya nasional, di Sulbar A'ba Lele selalu menjadi rujukan pendamping sebagai pembicara untuk mendampingi tokoh-tokoh nasional tersebut.

Dan sudah banyak kader-kader ideologis A'ba Lele yang ada di Sulbar bahkan ditingkat nasional, untuk melanjutkan pemikiran-pemikirannya. Jejak-jejak pemikiran budaya A'ba Lele sudah banyak tersebar dimana-mana di wilayah Sulbar, dan pemikiran itu sebagai aset Sulbar sebagai rujukan dalam membangun sulbar khususnya yang terkait pembangunan kebudayaan di Sulawesi Barat, saatnya sekarang pemerintahan Sulbar untuk bisa memberi apresiasi terhadap berbagai sumbangan pemikiran kebudayaan terhadap A'ba Lele.

(Bumi Pambusuang, 6 Oktober 2025)

Minggu, 05 Oktober 2025

Ketika Tuhan Cemburu pada Baharuddin Lopa

Catatan Hamzah Ismail 

Ada sebuah kebiasaan yang nyaris menjadi ritual wajib bagi Baharuddin Lopa setiap kali pulang kampung ke Pambusuang: ia selalu memanggil seorang sepuh desa, bukan sekadar untuk berbasa-basi, melainkan untuk mendengar kisah dan petuah yang hanya bisa lahir dari orang-orang tua yang bijaksana dan memiliki rasa humor yang tinggi. Salah seorang sepuh itu bernama Kurudi, yang hampir seluruh ceritanya selalu menggunakan logika terbalik.

Suatu hari, begitu kakinya menjejak tanah kampung halaman, Baharuddin Lopa langsung menyuruh seorang perempuan muda menjemput Kurudi.

“Puaq, napanggilki Jaksa Tinggi (panggilan akrab Baharuddin Lopa),” ujar suruhan itu di depan Kurudi yang tampak terbaring di dipannya.

Padahal, sejak mendengar kabar bahwa Lopa pulang, Kurudi sengaja berpura-pura sakit. Ia menghela napas panjang, lalu berkata lirih tapi penuh siasat:

“Bilang sama Jaksa Tinggi, saya lagi sakit. Katakan juga, mulut saya ini sedang tidak berasap.” Suruhan itu bingung, tapi tetap membawa pesan apa adanya. 

Begitu mendengarnya, Baharuddin Lopa hanya tersenyum tipis, paham betul maksudnya.

“Belikan sebungkus rokok. Pakai uangmu dulu. Bawa ke rumah Kurudi,” perintahnya.

Tak lama, rokok itu sampai di tangan Kurudi. Sepuh itu bangkit, mengatur jalannya pelan-pelan, tetap dengan gaya orang sakit. Tetapi begitu sampai di rumah Baharuddin Lopa, matanya berbinar melihat sambutan hangat tuan rumah. Kopi hitam segera disuguhkan.

“Puaq, sakit apa?” tanya Lopa, nada suaranya dalam dan penuh perhatian.

Kurudi menghela asap rokok sebelum menjawab, “Kurang tidur, Nak. Semalam saya mimpi. Mimpi berdebat dengan Tuhan. Bayangkan, jari telunjuk-Nya hampir saja menyentuh mata saya.”
Alis Lopa terangkat. 

“Berdebat dengan Tuhan? Tentang apa, Puaq?” tanyanya, nada suaranya berubah, antara heran dan takjub.

Kurudi menatap Lopa lama, lalu menyunggingkan senyum tipis. “Tentang kamu, Nak. Sepertinya Tuhan sedang cemburu padamu. 

Ada tiga pasal yang saya perdebatkan dengan-Nya.”

Lopa merapatkan duduknya, tubuhnya tegak, matanya berbinar. Ia sudah terbiasa berhadapan dengan hakim, jaksa, dan penjahat kelas kakap. Tapi kali ini, ia seperti murid kecil yang menunggu gurunya bercerita.

Namun Kurudi sengaja menunda. Ia mengisap rokoknya dalam-dalam, lalu menoleh ke arah salah seorang perempuan di rumah.

“Ambilkan satu kaos baru untuk Puaq,” ujar Lopa tiba-tiba, seolah ingin menyiapkan hadiah untuk penutur kisah yang sedang menegangkan suasana.

Kurudi terkekeh kecil, lalu berkata, “Sabar dulu, Nak. Biar saya habiskan rokok ini.” Asap mengepul dari bibirnya, lalu ia mulai.

“Pasal pertama,” katanya pelan namun tegas, “Tuhan berkata padaku: kasih tahu itu Baharuddin Lopa. Dia terkenal jujur, padahal kejujuran itu dari Aku.”

Lopa menunduk sedikit, tangannya sigap mencatat di buku kecil yang selalu ia bawa.

“Pasal kedua,” lanjut Kurudi, suaranya semakin dalam, “Tuhan berkata: kasih tahu itu Baharuddin Lopa, dia suka memberi (malawo). Padahal sifat dermawan itu dari Aku.”

Kali ini Lopa mengangkat wajahnya. Ada sinar yang lembut di matanya, antara kagum sekaligus tertohok.

“Dan pasal ketiga,” Kurudi menarik napas panjang, menahan sebentar, lalu mengembuskan asap terakhir, 

“Tuhan berkata: kasih tahu itu Baharuddin Lopa, dia sangat pemberani ketika dikeroyok banyak orang, padahal keberanian itu pun berasal dari Aku.”

Setelah kata-kata itu meluncur, ruangan menjadi hening. Hanya bunyi detak jam dinding yang terdengar. Lopa terdiam, lalu perlahan tersenyum. Senyum lirih yang lahir dari kesadaran mendalam, bahwa dirinya bukan siapa-siapa, selain sarana bagi sifat-sifat Tuhan bekerja di dunia.

“Betul itu, Puaq,” ucapnya pelan. Suaranya hampir bergetar, seolah mengakui bahwa seluruh nama besar, seluruh keteguhan, seluruh keberanian yang melekat padanya hanyalah titipan.

Kurudi meletakkan rokok di asbak. Wajahnya sumringah, bukan karena kaos baru yang barusan diterimanya, melainkan karena berhasil membuat Baharuddin Lopa begitu penasaran atas perkara perdebatannya dengan Tuhan.

Sumber cerita: Tammalele

Foto: Saat Baharuddin Lopa (Sekjen Komnas HAM) bersama Emha Ainun Nadjib dalam sebuah seminar di Mandar (1997). Ketika itu Emha Ainun Nadjib sedang dicekal oleh rezim orba, dan tidak diperkenankan berbicara.