Catatan
Hamzah Ismail
Kajian Tasawuf
Tema: Menyelami Samudera Al-Ḥaqīqah Al-Muḥammadiyyah dengan Zikir Rūḥ Bersama: Annangguru Syeikh K.H. Muhammad Ilham Saleh dan Abuya Arrazy Hasyim, Tempat: PP Darul Ulum Syeikh K.H. Muhammad Saleh, Saleppa, Majene
Waktu: 14 Desember 2025, pukul 13.00 - selesai
Ketika Dua Tokoh Spiritual Bertemu: Keindahan-lah yang Selalu Tampak
Tentang Persiapan Pelaksanaan Kegiatan
Kehadiran Syeikh Buya Arrazy Hasyim --seorang ulama muda dan dai nasional yang dikenal luas-- merupakan anugerah dari Allah Swt. Buya Arrazy menekuni dan mengajarkan fikih, ushul fikih, serta tasawuf dalam koridor Ahlus Sunnah wal Jama‘ah. Ia masyhur melalui kajian-kajian keislaman yang sistematis dan mendalam, baik secara luring maupun melalui media digital, dengan gaya penyampaian argumentatif serta rujukan kuat pada kitab-kitab turats.
Kehadirannya di PP Darul Ulum Saleppa sejatinya berada di luar perencanaan awal. Pada mulanya, agenda kunjungan Buya Arrazy di Sulawesi Barat pada penghujung tahun ini tidak mencantumkan Pondok Pesantren Darul Ulum sebagai titik kegiatan. Perubahan terjadi belakangan, setelah satu agenda di wilayah Mamuju batal dilaksanakan, sehingga pihak manajemen perjalanan Buya Arrazy di Tanah Mandar kemudian menetapkan Saleppa sebagai titik tambahan.
Hal tersebut tercermin dalam publikasi kegiatan. Sejumlah baliho yang tersebar ke publik tidak mencantumkan agenda Kajian Tasawuf bersama Annangguru K.H. Muhammad Ilham Saleh dan Abuya Arrazy Hasyim. Hanya satu baliho berukuran cukup besar yang terpasang di pusat Kota Majene, itupun merupakan inisiatif jamaah Tarekat Qadiriyah Majene.
Dalam rapat perdana persiapan penyambutan Buya Arrazy di PP Darul Ulum Saleppa, yang juga dihadiri penulis, Bapak Muhammad selaku pimpinan rapat menyampaikan bahwa kehadiran Buya Arrazy di pesantren ini bersifat tambahan agenda. Pernyataan tersebut dikuatkan oleh Annangguru K.H. Muhammad Ilham Saleh yang menegaskan, “Kita ini membantu pihak yang menangani Buya Arrazy di Tanah Mandar, sekadar mencukupkan titik.”
Meski tidak dirancang secara matang sejak awal, pelaksanaan Kajian Tasawuf ala Tarekat Qadiriyah di Saleppa Majene akhirnya berjalan dengan baik dan sukses. Hal ini tidak lepas dari dukungan ikhlas jamaah Qadiriyah Majene yang dibantu sepenuhnya jamaah Qadiriyah Tinambung. Urusan logistik tertangani dengan aman dan lancar.
Untuk kelengkapan media penyiaran agar kajian dapat disimak oleh seluruh jamaah, jamaah Qadiriyah Tinambung menyediakan sarana pendukung, termasuk dua unit televisi berukuran besar milik STAIN Majene. Fasilitas ini memungkinkan jamaah yang berada di luar ruang utama tetap dapat mengikuti kajian melalui layar.
Melalui tulisan ini, mewakili Annangguru K.H. Muhammad Ilham Saleh dan Panitia Pelaksana, penulis menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu menyukseskan kegiatan kajian ini, khususnya kepada pihak Kampus STAIN Majene.
Mengurai Keindahan Pertemuan Annangguru Ilham Saleh dan Buya Arrazy
Sejak Minggu pagi, suasana di Markas Besar PP Darul Ulum Saleppa Majene mulai tampak sibuk. Panitia bekerja mempersiapkan segala keperluan, sementara jamaah berdatangan secara perlahan dan memadati halaman depan pesantren. Di tengah aktivitas pemasangan dua unit televisi besar, tampak pula satu unit mobil panitia yang mendistribusikan konsumsi berupa nasi kotak bagi para peserta kajian.
Pada waktu yang sama, melalui media sosial (Facebook), terpantau Abuya Arrazy Hasyim tengah mengisi Tabligh Akbar di Masjid At-Taubah Imam Lapeo dengan tema “Meneladani Sifat Rasulullah Saw: Jalan Mudah Menuju Surga.” Agenda Kajian Tasawuf di PP Darul Ulum Saleppa memang dijadwalkan berlangsung setelah kegiatan Abuya Arrazy di Lapeo selesai. Usai acara tersebut, beliau dijadwalkan bertolak ke Saleppa dan makan siang di lokasi pesantren.
Tepat ba‘da Zuhur, Buya Arrazy bersama istri dan rombongan tiba di Saleppa. Penulis yang sebelumnya mengikuti salat berjamaah di masjid yang berada tepat di depan markas PP Darul Ulum, mendengar lantunan hadrah dan selawat yang dikumandangkan para santri sesaat setelah salam. Doa pun disudahi seadanya, sebab kekhawatiran muncul –ruang kajian bisa penuh terisi jamaah, sementara penulis memiliki tugas khusus dari Annangguru Ilham Saleh.
Penulis memang ditugaskan secara khusus sebagai penanya dalam forum Kajian Tasawuf tersebut. Karena itu, penulis segera mengambil tempat di bagian depan, tidak jauh dari Annangguru K.H. Muhammad Ilham Saleh dan Buya Arrazy Hasyim.
Pada momentum ini, tampak jelas bagaimana Annangguru K.H. Muhammad Ilham Saleh memberi ruang seluas-luasnya kepada murid-muridnya untuk memperluas wawasan dan memperdalam ilmu. Beliau membuka kesempatan interaksi dengan para ulama, kiai, dan tokoh-tokoh yang hadir di Saleppa, sebagai bagian dari proses pembelajaran spiritual dan intelektual.
Saat tiba, Buya Arrazy tidak langsung memasuki ruang kajian. Beliau terlebih dahulu menuju lantai bawah untuk menikmati jamuan makan siang. Sekitar dua puluh orang turut makan bersama beliau, termasuk Annangguru K.H. Muhammad Ilham Saleh. Tampak pula mendampingi Buya Arrazy dari Lapeo, seorang kiai muda keturunan Imam Lapeo, Dr. Ahmad Multazam, yang selanjutnya akan menemani perjalanan Buya Arrazy ke Kalukku, Mamuju.
Menariknya, setelah makan bersama, terjadi peristiwa yang sarat makna. Buya Arrazy menyampaikan keengganannya untuk turun mengisi kajian sebelum menerima ijazah Tarekat Qadiriyah dari Annangguru K.H. Muhammad Ilham Saleh. Nampan makan yang semula berada di hadapan mereka pun digeser. Buya Arrazy kemudian bergerak mendekat ke arah Annangguru dengan cara ngesot –bergerak maju sambil duduk dan menyeret tubuh di lantai. Kedua lutut dirapatkan, tangan berjabat, lalu Annangguru tampak membisikkan sesuatu ke telinga Buya Arrazy. Adegan tersebut tampak sebagai sebuah proses talqin yang khidmat dan penuh keheningan spiritual.
Dalam proses memberi dan menerima ini, terpancar keindahan yang nyaris tak terlukiskan –sebuah tiara spiritual yang hanya dapat dipertunjukkan oleh para tokoh yang telah menukik jauh ke kedalaman dunia sufistik. Dunia yang sarat dengan keindahan dalam teks, kata, dan laku simbolik.
Terima kasih Guru, Annangguru K.H. Muhammad Ilham Saleh atas kepercayaan yang diberikan kepada penulis sebagai penanya dalam forum Kajian Tasawuf itu. Terima kasih pula kepada Buya Arrazy Hasyim yang berkenan menutup acara dengan meletakkan statemen tegas: “Fanalah Muhammad, nyatalah Ahmad, fanalah Ahmad, nyatalah Ahad” lalu membagi zikir atau wirid pamungkas: “Ahad dzatullah, Ahmad Nurullah, Muhammad Nurullah, Al-Mahdi Khalifatullah,” sebagaimana penulis mohonkan sebagai penutup rangkaian pertanyaan yang kemudian diijazahkan untuk seluruh jamaah yang hadir mengikuti kajian.
Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih.
Tinambung, 15 Desember 2025
Al-faqir,
Hamzah Ismail