Kamis, 21 Agustus 2025

SANDEQ SILUMBA 2025: Warisan Mandar yang Bikin Laut Sulbar Berguncang

By. Arifuddin Samual

​Kalau Anda berdiri di pesisir Mandar saat matahari terbit, mungkin Anda akan melihat siluet perahu ramping dengan layar putih menjulang. Dialah Sandeq, perahu kebanggaan orang Mandar yang sejak dulu setia membelah ombak.

​Bagi masyarakat Mandar, Sandeq bukan sekadar alat melaut. Ia adalah identitas. Dengan tubuh runcing, dua pengimbang di kanan-kiri, dan layar segitiga besar, Sandeq bisa melaju kencang menantang angin. Tak heran kalau banyak peneliti menyebutnya sebagai perahu layar tradisional tercepat di dunia.

​Filosofi yang Terpahat dalam Setiap Bagian Sandeq

​Yang lebih menakjubkan, teknik membuat Sandeq sama sekali tidak punya rumus pakem. Para pembuat perahu Mandar hanya mengandalkan pengalaman turun-temurun dan kepekaan rasa. Mereka meraba kayu, menakar panjang, mengukur lengkung, lalu merakit bagian demi bagian hingga terbentuk perahu yang aerodinamis alami. Setiap Sandeq lahir bukan dari hitungan matematis di atas kertas, tapi dari intuisi dan filosofi hidup yang mengalir dari para pandai perahu.

​Filosofi ini tidak tertulis dalam rumus matematika, melainkan terpatri dalam cara pandang para pembuat perahu tradisional Mandar. Mereka tidak hanya membuat perahu, tetapi juga memahat nilai-nilai spiritual dan kosmologi ke dalamnya, yaitu filosofi huruf Alif, Lam, dan Hu.

​Alif (أ): Diwakili oleh tiang layar utama perahu yang tegak lurus. Alif melambangkan keesaan dan ketauhidan Tuhan, yang mengajarkan bahwa dalam setiap perjalanan dan tantangan di lautan, manusia harus selalu ingat pada Sang Pencipta.

​Lam (ل): Terletak pada kemudi perahu yang melengkung. Lam melambangkan hubungan horizontal manusia dengan sesama. Kemudi berfungsi mengarahkan perahu, mewakili peran manusia dalam menjalani hidup, di mana harus ada tujuan, arah, dan interaksi yang baik dengan orang lain.

​Hu (هُـ): Diwujudkan pada bentuk bodi perahu yang ramping dan aerodinamis. "Hu" merujuk pada Tuhan yang Maha Gaib, yang kekuatannya tidak terlihat namun ada di mana-mana. Bentuk bodi yang dibuat dari intuisi para pembuatnya melambangkan kekuatan tersembunyi yang membuat perahu ini mampu melaju kencang, mengajarkan bahwa kekuatan sejati juga berasal dari keberkahan Tuhan.

​Sandeq dan Gen Laut Mandar

​Sejak ratusan tahun lalu, Sandeq jadi sahabat orang Mandar untuk mengejar ikan, mengangkut barang dagangan, bahkan menyeberang ke pulau-pulau jauh. Laut adalah jalan raya biru, dan Sandeq adalah kendaraan yang menghubungkan mereka dengan dunia luar.

​Kini, lewat ajang Sandeq Silumba 2025, warisan itu kembali hidup. Puluhan perahu runcing kembali berpacu, disambut sorak-sorai warga yang memadati pantai. Bagi orang Mandar, ini bukan sekadar lomba, tapi festival budaya: ada musik, doa, kuliner, dan rasa bangga yang tak pernah padam.
​Tentu, tantangan modern tetap ada. Banyak nelayan beralih ke kapal motor yang lebih praktis, bahan kayu untuk membuat Sandeq pun makin mahal. Tapi di tengah semua itu, muncul Gen Laut Mandar—mereka yang memilih merawat tradisi lewat festival, konten digital, sampai pameran budaya internasional.

​Bagi Gen Laut Mandar, Sandeq bukan perahu tua yang tinggal kenangan. Ia adalah simbol keberanian, kecerdikan, dan semangat untuk terus melaju. Seperti filosofi layar yang terbentang: hidup harus seimbang, berani membaca arah angin, dan tak gentar meski ombak besar menghadang.
​Selama laut masih ada, Sandeq akan terus berlayar—di samudera Mandar, dan di hati setiap generasi yang mencintainya.

Rabu, 20 Agustus 2025

Reportase SANDEQ SILUMBA 2025 Membangun Karakter Negara Martim (1)


By Muhammad Munir 

Tulisan ini mengambil momentum 17 Agustus 2025 saat RI memasuki usia ke-80 tahun. Alasannya jelas, bahwa Sandeq Silumba ini hadir sebagai upaya berbagi rasa merdeka kepada segenap Passandeq yang ikut di even Sandeq Silumba 2025. Para Passandeq adalah sekelompok manusia yang lahir dari rahim maritim Indonesia. Sandeq dikenal sebagai perahu tercepat di dunia dan Mandar sendiri adalah etnis yang padanya tersematkan gelar pelaut ulung. 

Mandar sebagai sebuah bangsa dan Sandeq sebagai ikonnya jelas menjadi bagian dari progres pemerintah untuk membangun Indonesia sebagai negara maritim. Jika itu memungkinkan maka Mandar adalah salah satu suku pemantik dari sebuah tautan itu. Mungkinkah Indonesia bisa menjadi negara maritim terbesar di Asia?. Mungkinkah Sulawesi Barat tampil mempertahankan ke-ulung-an di dunia maritim negeri ini ? 

Pertanyaan seperti ini barangkali mengejutkan sejumlah pihak, tak peduli apakah ia seorang akademisi atau awam. Bahkan bisa jadi yang ditanya tidak memberikan jawaban sama sekali, tetapi justru balik bertanya kepada si penanya pertama: “Apakah mungkin Indonesia menjadi negara maritim? 

Kenyataannya rakyat Indonesia, apakah itu dalam diskusi-diskusi atau perbincangan informal dan forum lain yang ada, sangat jarang mengupas dan menelaah tentang tema-tema kemaritiman Indonesia atau melihat Indonesia sebagai negara maritim. Begitu juga halnya refleksi pemberitaan yang ada atau media-media yang terdapat di Indonesia nyaris tidak pernah mengupas tentang maritim. Jikalau ada pemberitaan yang berkenaan dengan laut, biasanya hal itu terkait hanya dengan kecelakaan, kriminalitas atau pencemaran lingkungan. 

Hal ini seolah-olah sebagai sesuatu yang wajar saja terjadi, karena kebanyakan rakyat Indonesia yang rata-rata masih berada di bawah atau diambang kemiskinan terus menerus disibukkan dengan perjungan untuk bertahan hidup (struggle for survival), tidak sempat memikirkan hal-hal yang tidak mendesak. 

Kemiskinan yang mendera, telah menguras habis energi dan pikirannya, dan meskipun demikian mereka tak mampu juga lepas dari belitan itu. Sementara anggota masyarakat lain yang lebih beruntung, para pekerja formal dan pegawai negeri, disibukkan dengan rutinitas kerja yang justru memfosilkan pikirannya dari gagasan-gagasan besar yang sebenarnya berada dalam jangkauannya. Di samping itu, tak dapat diingkari bahwa Pemerintah sendiri, sejak Orde Baru sampai dengan Era Reformasi ini, tampaknya belum memiliki kepedulian serius untuk mengeluarkan berbagai kebijakan yang memungkinkan Indonesia bergerak menuju negara maritim. Karena itu lengkaplah sudah bahwa wacana apalagi cita-cita rakyat Indonesia sebagai negara maritim.

Kondisi ini sesungguhnya juga melanda Sulawesi Barat selama ini. Sejumput harapan muncul ketika SDK-JSM mencoba merawat komitmen bermaritim itu lewat perhelatan Sandeq Silumba 2025. Tentu ini harus diapresiasi meski tak bisa dipungkiri bahwa dewasa ini banyak muncul perdebatan di antara pengamat dan pakar maritim mengenai istilah mana yang tepat antara kelautan atau maritim. Hal ini karena ketidak-jelasan tentang apa yang dimaksudkan dengan kedua istilah itu dalam merepresentasikan kandungan konsepnya. 

Ada sejumlah kemungkinan makna yang tampaknya berpengaruh terhadap realitas istilah yang merepresentasikan Indonesia ini. Pertama, mungkin karena melihat Nusantara dianggap sebagai archipelago dalam pengertian Inggrisnya, sehingga makna kelautan lebih tepat untuk menggambarkan kondisi fisik negara ini. 

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian laut adalah kumpulan air asin yang menggenangi dan membagi daratan atas benua atau pulau, sedangkan kelautan hanya dijelaskan sebagai “perihal yang berhubungan dengan laut.” Berhubungan di sini dapat saja diartikan sebagai dekat, menyentuh atau bersinggungan. Uraian pengertian ini menjelaskan bahwa istilah kelautan lebih cenderung memberikan perspektif lebih sebagai bentuk fisik, sebagai physical entity atau physical property. 

Meskipun demikian, kelautan dalam arti luas dapat saja diartikan sebagai segala sesuatu yang mempunyai kepentingan dengan laut sebagai hamparan air asin sangat luas, yang menutupi permukaan bumi. 

Sedangkan istilah maritim, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai berkenaan dengan laut, berhubungan dengan pelayaran dan perdagangan di laut. Begitu juga istilah maritime menurut Wikipedia, secara primer adalah sifat yang menggambarkan obyek atau aktivitas berkenaan dengan laut. Istilah maritim tak hanya memiliki pengertian sempit, yaitu hanya berhubungan dengan angkatan laut atau angkatan — » laut dalam hubungan dengan kekuatan darat dan udara, atau bahkan dalam arti yang seluas-luasnya, yaitu angkatan laut dan semua kegiatan yang berhubungan dengan penggunaan komersial nonmiliter terhadap laut. 

Dilihat dari sisi tata bahasa, kelautan adalah kata benda, maritim adalah kata sifat. Dengan demikian, jika Indonesia adalah negara yang harus memanfaatkan laut, maka istilah maritim lebih tepat. Indonesia harus menjadi negara maritim, bukan hanya negara kelautan. Argumentasinya, negara maritim adalah negara yang mempunyai sifat memanfaatkan laut untuk kejayaan negaranya, sedangkan negara kelautan lebih menunjukkan kondisi fisiknya, yaitu negara yang berhubungan dekat dengan atau terdiri dari laut. Istilah maritim jauh lebih tepat digunakan dalam konteks ini, karena memang menunjukkan aktivitas dan pemberdayaan manusia yang berkenaan dengan laut. 

Sampai disini, penulis hanya mencoba menyentil kesadaran  bermaritim kita agar tidak hanya sebatas even tapi juga sebagai alas pijakan bsgaimana pemerintah bisa dan mampu merekayasa kesejahteraan para nelayan dan pelaut Mandar (baca: Sulawesi Barat). Tulisan selanjutnya akan fokus tentang Sandeq, bentuk, hakikat dan srjarah Sandeq bagi manusia Mandar sampai kepada  Sadeq Silumba 2025. 

BERSAMBUNG 

Sabtu, 16 Agustus 2025

INDONESIA DAN NARASI SEJARAH || Mandar, Kutai, dan Paser dalam Lintasan Waktu

Penulis: Safardy Bora
Sejarah adalah cermin kolektif bangsa, namun kerap kali buram oleh bias pengetahuan yang ditulis dari sudut pandang tertentu. Ungkapan bahwa Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun, misalnya, masih menjadi perdebatan panjang. Secara faktual, Belanda tidak pernah berkuasa penuh di seluruh wilayah nusantara selama itu. Kekuasaan VOC dan kemudian pemerintah kolonial lebih dahulu menguat di Jawa, Maluku, dan sebagian Sumatra, baru kemudian masuk ke Kalimantan, Sulawesi, dan wilayah lain pada abad ke-19 hingga ke-20. Maka, angka 350 tahun lebih tepat dimaknai sebagai simbol panjangnya kolonialisme, bukan sebagai rentang waktu yang seragam.

Lantas, apakah Indonesia telah ada sebelum 1945? Dari sudut pandang kenegaraan, Indonesia lahir resmi pada 17 Agustus 1945. Namun, secara kultural dan geografis, wilayah yang kini disebut Indonesia sudah eksis sejak jauh sebelumnya. Ia hadir dalam berbagai istilah: “Nusantara” pada era Majapahit, “Dwipantara” dalam naskah kuno, dan “Hindia Belanda” dalam terminologi kolonial. Artinya, Indonesia sebagai sebuah kesadaran kolektif sudah tumbuh, meskipun nama politiknya baru dirumuskan pada abad ke-20.

Namun, dalam arus historiografi nasional, terdapat persoalan yang patut digugat: bias Jawa-sentris. Narasi perjuangan sering kali ditarik dari pusat kekuasaan Jawa, sehingga wilayah-wilayah lain yang memiliki sejarah perjuangan heroik kurang mendapat tempat. Mandar di Sulawesi Barat, serta Kutai dan Paser di Kalimantan Timur, adalah contoh nyata.

Mandar memiliki tradisi pelaut dan perdagangan yang kuat, sekaligus perlawanan sengit terhadap kolonialisme. Armada laut Mandar bukan hanya sarana ekonomi, melainkan juga benteng perlawanan. Rakyat Mandar berulang kali melawan penetrasi Belanda, baik di pesisir maupun di pedalaman, namun kisah ini jarang diabadikan dalam buku pelajaran nasional. Sejarah lebih menyorot pusat-pusat perlawanan di Jawa, sementara keberanian rakyat Mandar dipinggirkan.

Demikian pula di Kalimantan Timur. Kutai adalah kerajaan tua dengan jejak peradaban yang telah hadir sejak abad ke-4 melalui Prasasti Yupa. Ia menunjukkan bahwa wilayah ini memiliki tradisi politik dan budaya yang mapan jauh sebelum kolonialisme datang. Paser, di sisi lain, mencatatkan banyak perlawanan terhadap Belanda, baik secara diplomatik maupun fisik. Namun dalam narasi nasional, kisah Kutai dan Paser sering kali ditempatkan sebagai catatan kaki, bukan bagian utama dari perjuangan bangsa.

Apakah semua ini hanya karena Jawa-sentris? Tidak sepenuhnya. Ada faktor politik pengetahuan: siapa yang menulis sejarah, dengan sumber apa, dan dari kepentingan mana. Kolonialisme Belanda berpusat di Batavia, sehingga catatan sejarah yang diwariskan lebih banyak tentang Jawa. Setelah kemerdekaan, pemerintah pusat pun melanjutkan penekanan narasi dari Jawa sebagai poros utama, sehingga daerah lain—Mandar, Kutai, dan Paser—terpinggirkan dalam ingatan kolektif bangsa.

Untuk itu, sudah saatnya dilakukan dekolonisasi pengetahuan. Sejarah harus ditulis ulang dari perspektif daerah, dengan memberi ruang bagi narasi Mandar, Kutai, Paser, dan wilayah lain di luar Jawa. Dengan begitu, kemerdekaan Indonesia dapat dipahami sebagai hasil dari perjuangan kolektif seluruh anak bangsa, bukan milik satu daerah atau kelompok semata.

Penutup

Indonesia bukan sekadar kisah tentang “350 tahun dijajah Belanda”, melainkan tentang bagaimana berbagai suku, kerajaan, dan daerah membangun kesadaran kebangsaan bersama. Mandar dengan keberanian lautnya, Kutai dengan peradaban tuanya, dan Paser dengan perlawanan rakyatnya, semuanya adalah mozaik yang menyusun keutuhan Indonesia. Dengan memahami itu, kita menjadi bangsa yang lebih arif dan adil dalam menghargai sejarah.

Selamat Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia ke-80.


Kamis, 14 Agustus 2025

BERSYUKURLAH || Bisik Sang Tokoh Imajiner (Merayakan Puisi Imajiner Adi Arwan Alimin “Mereka Kini Bertanya Padamu”)

Oleh: Hamzah Ismail

"Syukur penjaga nyala di dada."

Di ruang sunyi di hamparan sejarah dalam kesadaran, suara-suara itu datang. Mereka bukan sekadar nama yang terpatri di batu nisan atau lembar arsip, melainkan sosok yang menagih kesetiaan. Dalam puisi imajiner Adi Arwan Alimin, mereka hadir bergantian, menggugat, menyoal, dan mengukur nyali manusia Mandar kini.

Kali ini, bayangan mereka berbalik arah. Tidak lagi menodong dengan pertanyaan, melainkan memberi satu pesan yang sederhana namun menghunjam: bersyukurlah.

Imam Lapeo: Api Iman yang Tak Padam
Wajah teduh ulama kharismatik ini seakan keluar dari pusara Lapeo.
"Bersyukurlah kau memiliki api iman yang kutanam, agar tak buta di tengah badai dunia,"
ujarnya, dengan suara sejuk yang mengalir ke relung hati.

Syekh Abdul Mannan: Benang Ilmu dari Zaman Silam
Tangannya seperti masih memegang butiran tasbih hitam bercahaya.
"Bersyukurlah atas ilmu yang kusulam, agar pikiranmu tak hanyut arus zaman."

Ibu Agung Andi Depu: Nyali Perempuan Perkasa
Derap langkahnya terdengar bagai pasukan kuda di tanah basah.
"Bersyukurlah karena keberanian itu masih bisa kau warisi, agar kemerdekaan tak hanya jadi catatan di kertas."

Hammad Saleh Puanna Sudding : Darah Panglima
Dari kabut medan perang ia berujar,
"Bersyukurlah kau mewarisi darah pejuang yang tak gentar bedil, untuk melanjutkan mimpi negeri merdeka."

I Calo Ammana Wewang: Pelita Akal Sehat
Di antara laut dan pasir Babbabulo, ia berkata,
"Bersyukurlah karena pelita akal sehat masih kau genggam, agar tak sesat di jalan panjang perjuangan."

Maraqdia Tokape: Nyali Melawan Bayang-Bayang
Ia mengingatkan,
"Bersyukurlah karena nyali itu masih ada, meski lawanmu kini tak selalu berseragam."

Haji Zikir Sewai: Warisan Kejujuran
"Bersyukurlah atas kejujuran ini, agar tak mencuri di rumah sendiri,"
pesannya yang sederhana namun menampar kesadaran.

Husni Jamaluddin: Telinga untuk Harmoni
"Bersyukurlah karena telinga ini masih mau mendengar suara lirih di tengah bising perbedaan, dan kesediaan bergabung ke dalam kehendak Tuhan."

Kalman Bora: Kebanggaan Anak Mandar
"Bersyukurlah bukan hanya pada nasabmu, tapi pada panggilan untuk memberi."

Kiai Sahabuddin: Iman yang Bening
"Bersyukurlah atas iman yang kutanamkan, agar hatimu tetap jernih meski berjalan di tengah godaan."

Bunda Maemunah: Keberanian Menatap Bedil
"Bersyukurlah karena keberanian itu membuat kehormatanmu tak terjual murah."

Baharuddin Lopa:  Kegigihan Makkeqdeang Atonganang
Dengan tatapan tajam ia berkata,
"Bersyukurlah atas kegigihan ini untuk melawan dusta dan korupsi."

Burai Nurdin Hamma: Buku Sebagai Cakrawala
"Bersyukurlah karena buku membuat jiwamu tumbuh."

Tammalele: Laut Sejarah dan Samudra Sastra
"Bersyukurlah karena kebudayaan ini adalah daya hidupmu."

Akhirnya, semua suara itu berpangkal pada satu hal:
Syukur bukan sekadar ucapan, tapi tindakan menjaga api, benang, nyali, dan iman. Selama tanah Mandar masih memanggil anak-anaknya pulang, pesan itu akan terus bergema, di telinga, di hati, dan di hamparan sejarah hidup mereka.

Bersyukurlah kau, karena kau memiliki tetua, yang dari mereka kau petik kebeningan perjuangan:

Mewariskan ke dadamu: jambia,  daya juang menerjang zaman. 
"Baca masa lalu leluhurmu yang lama terkubur dalam peragian zaman menjadi tafsir kekinian, sebab kejumudan adalah upaya menutup alir air hulu agar tak sampai ke muara, warisannya bukanlah emas, I Sorai dan Tambera, keris pusaka dan tombak trisula, padamu mereka hanya menitipkan keheningan dalam perjuangan dan kesejatian menjadi Mandar. Burai dan urai hidupmu dalam langkah-langkah taktis strategis, saat bunyi taqbilowe bertalu-talu mendorong gerak sandeq hidupmu, melaju jauh memotong ombak besar di samudera."

Maka bersyukurlah engkau menjadi Mandar kini, dan akan datang. Biarlah Mandar lalu adalah milik leluhurmu, dan kini tetap menjadi pondasi dasar keberangkatanmu.

Tinambung, 14/08/2025

Adi Arwan Alimin Pandaraq Allo Ramli Rusli

Rabu, 13 Agustus 2025

MEREKA KINI BERTANYA PADAMU (Sebuah Puisi Imajiner)


Karya Adi Arwan Alimin

Suatu hari bila engkau bertemu mereka, mungkin masing-masing akan bertanya padamu. Satu demi satu sebelum liang tak peduli alasan khianat serenik apapun.

Imam Lapeo, dari pusara waktu dia menitip tanya pada jiwa mudamu. 

"Masihkah api iman itu menyala,
Di antara badai dan duri dunia fana?
Masih cukup tegakkah langkahmu menenun asa, merawat warisan leluhurmu?"

Syekh Abdul Mannan, menyapamu dari kedalaman harapannya seraya membisikkan tanya, di antara rintik waktu yang senyap oleh zaman.

"Sudahkah benang ilmu kau rajut, tanpa goyah diterpa goda dunia yang melaju cepat akhir-akhir ini."

Seberapa lapangkah hatimu, menahan gelombang amarah, agar harmoni tetap bersemi di tanah Mandar yang ramah?

Lalu datanglah Ibu Agung Andi Depu, perempuan perkasa itu yang suaranya menggetarkan penuh tanya. Dia memecah sepi berapi seruan yang masih terdengar itu.

"Beranikah engkau melawan penindasan yang kembali menjelma?
Sebab kau tak boleh duduk memangku tanganmu lalu membiarkan kemerdekaan hanya manuskrip di lembar sejarah lama."

Pegang teguh martabatmu dalam gurau yang kian menipis, agar engkau tak surut melipat sarungmu seolah kau bukan Tomuane. 

Hammad Saleh Puanna Sudding, menggugatmu. Dia panglima abadi yang tak memiliki kata takut pada bedil dan angkara. Dia menyerumu dalam gemuruh zaman yang luruh memecah belah.

"Adakah kau telah membangun mimpi yang kami ukir dengan darah?
Kemerdekaan ini bukan sekadar kata-kata, yang berkelahi di nisan sejarah dan burai selongsong peluru."

I Calo Ammana Wewang, sang lelaki yang sejarah menumpu padanya menisik belati di telingamu.

"Mampukah kau meluruskan akal sehat, menjernihkan pikiran tanpa khianat, agar pelita itu tetap cahaya menerangi jalan nan panjang perjuangan?" Katanya, saat menyentuh antara laut dan pasir Babbabulo sepulang dari Belitung. 

Maraqdia Tokape,
"Adakah nyalimu membara, seperti dulu kala, melawan kolonialisme yang tak lagi serdadu bersenjata, tetapi merupa bayang-bayang yang menyusup diam-diam melemahkan kesadaranmu."

Haji Zikir Sewai, sang dermawan itu merajut pesannya, agar kau tidak tumbuh sebagai anak-anak yang gemar merajuk manja, apalagi belajar mencuri di rumahmu sendiri.

"Rajutlah hati-hati, jangan biarkan kepentingan sempit memecah mengendali kemudi pelayaran tak menentu. Tetaplah jujur pada seluruh tarikan napasmu..."

Husni Jamaluddin, dari gelombang hening memanggilmu dalam sunyi perbedaan yang kian bising.

"Mampukah kau mendengar suara sesamamu yang lirih?

Masihkah Aku perlu bertanya sekali lagi tentang semua ini, katanya. 

Kalman Bora mengingatkanmu agar tak digerus gemerlap kemewahan yang tumbuh dari nasib garis nasabmu. Dia yang terus menyokongmu tanpa pamrih ingin mengajukan tanya lebih banyak lagi.

"Apa yang telah kamu berikan untuk litaq Mandar ini?"

Pun Kiai Sahabuddin, sang penjaga ruh keagamaan itu memelukmu dalam rindang kata-kata hikmah mendayu.

"Seberapa kokoh iman di dalam dadamu tersembunyi? Saat gelombang rayuan dunia mengombang-ambingkan dirimu. Tetapi biarkan hatimu tetap bening meski kau berjalan dalam hening."

Bunda Maemunah menulis catatan harian tentang perjalanan panjangnya, guru yang meninggalkan papan tulis itu memanggul senjata sambil melirikmu liris.

"Seberapa berani pikiranmu melawan tatapan bedil yang membuat gigil itu. Aku menenteng kesetian pada cinta yang menguji, sementara kulihat engkau ingin menjajakan kehormatan demi helai halaman waktu terbeli." 

"Jangan ambil bila bukan milikmu!"

Lantang Baharudddin Lopa sambil menetak godam di jantungmu. Serunya tanpa tanda tanya.

"Buku apa yang terakhir kamu baca pekan ini?" Burai Nurdin Hamma, cendekia itu membuka halaman buku tebal menawarimu kopi kental di ruang tamunya. 

"Tanpa buku sejarah itu sepi, tanpa buku sastra itu sunyi, tanpa buku sains akan lumpuh, tanpa buku  spekulasi akan berhenti, karena buku didirikan di lautan waktu," serak Tammalele via telepon semalaman.

"Lalu apakah hakikat kebudayaan dalam mutu dan daya hidup manusia?" Tanyanya lagi diantara polemik budaya masa lalu sebagai masa kini. 

Mamuju, 14 Agustus 2025

*Puisi ini boleh dikutip atau dibacakan di mana saja

UPTD Samsat Majene Ikut Seruan Gubernur SDK: Gelorakan Wajib Baca Buku di Kantornya

Oleh : Dalif Palippoi

Beberapa hari sesudah terbitnya surat Gubernur Sulawesi Barat, SDK, nomor 000.4.14.1/174/VII/2025 tanggal 5 Juli 2025, yang ditujukan kepada para bupati, kepala perangkat daerah/biro Sulawesi Barat, serta para kepala/pimpinan instansi vertikal, suasana di berbagai lini pelayanan publik mulai menunjukkan geliat berbeda. Tak terkecuali di Kantor Samsat Majene, yang ikut “rame” merespons instruksi tersebut.

Meski dalam surat itu tidak secara eksplisit menyebut nama Samsat atau menargetkan jajaran petugasnya, namun secara substansial, isi perintah Gubernur menyentuh lingkup kerja mereka. Samsat, sebagai garda depan pelayanan publik yang setiap hari berinteraksi dengan masyarakat, terutama pemilik kendaraan bermotor yang hendak mengurus pajak, balik nama, atau memperbarui dokumen kendaraan, secara otomatis menjadi salah satu titik strategis penerapan imbauan tersebut.

Selama ini, setiap instansi yang memberikan pelayanan publik memang dipersyaratkan memiliki semacam pojok baca atau sudut baca. Namun, dalam praktiknya, banyak yang hanya memenuhi kewajiban itu secara formalitas belaka, sekadar ada, sekadar menempelkan label “pojok baca” di sudut ruangan, tanpa perhatian serius pada kenyamanan maupun kualitas bacaan yang tersedia. Rak buku hadir seadanya, koleksi bacaan minim, dan penataannya sering kali membuat pengunjung enggan berlama-lama.

Namun, sejak keluarnya seruan dari Gubernur Sulbar, SDK, pada awal Juli 2025, UPTD Samsat Majene bergerak cepat mengambil langkah konkret. Tanpa menunggu teguran atau instruksi lanjutan, mereka mulai menata ulang ruang pelayanan dengan menghadirkan pojok baca yang lebih representatif. Rak buku baru didatangkan, disusun rapi di area yang mudah terlihat, dan diisi dengan berbagai bacaan, mulai dari buku motivasi, pengetahuan umum, hingga komik edukatif yang ramah untuk segala usia.

Harapannya sederhana namun bermakna agar setiap pengguna jasa yang hadir di Kantor Samsat Majene mau memanfaatkan fasilitas ini. Sambil menunggu antrean atau proses administrasi rampung, mereka bisa membuka buku, membaca beberapa halaman, dan siapa tahu, mendapatkan pengetahuan baru atau sekadar hiburan yang bermanfaat. Dengan begitu, waktu tunggu tidak lagi terasa sebagai jeda yang membosankan, melainkan momen produktif yang memberi nilai tambah.

Lalu, dari mana Samsat Majene mendapatkan buku-buku bacaan yang berkualitas itu? Apakah mereka membelinya? Apakah memang ada alokasi anggaran khusus untuk pengadaan buku di kantor Samsat? Jawabannya, tidak. Sama sekali tidak ada pos anggaran yang diperuntukkan bagi pembelian koleksi bacaan.

Keterbatasan anggaran tidak membuat mereka berhenti pada wacana. Beberapa staf Samsat Majene memilih mengambil jalan kreatif: memanfaatkan jejaring yang mereka miliki. Mereka mulai menghubungi pelaku dan komunitas literasi yang tersebar di Tinambung, hingga Kecamatan Balanipa, dan daerah lain. Pesan yang mereka sampaikan sederhana namun tulus, Samsat Majene ingin membangun pojok baca yang benar-benar hidup, bukan sekadar hiasan, dan untuk itu diperlukan dukungan siapa pun yang peduli terhadap budaya membaca.

Selain itu, pimpinan Samsat Majene juga mengeluarkan kebijakan internal yang unik: setiap ASN maupun pegawai tidak tetap (PTT) diminta berkenan menyumbangkan minimal satu buku. Kebijakan ini bersifat sukarela, tanpa paksaan, namun menjadi semacam ajakan moral bagi semua pegawai untuk ikut berkontribusi. “Kalau setiap orang menyumbang satu buku saja, rak akan cepat penuh dan isinya akan beragam,” ujar salah seorang pegawai. 

Respons dari luar kantor pun di luar dugaan. Beberapa komunitas literasi yang selama ini aktif menggelar diskusi buku dan kegiatan membaca bersama dengan sukarela menyerahkan sebagian koleksi mereka. Tema buku yang diterima pun beraneka ragam. Beberapa buku memang bukan cetakan baru, tetapi kondisinya terawat dan tetap layak dibaca.

Dengan gerakan kecil dan gotong royong literasi itu, pojok baca Samsat Majene mulai terisi. Rak-rak yang sebelumnya kosong kini penuh warna, menampilkan punggung-punggung buku yang mengundang mata. Tidak lagi sekadar “sudut formalitas”, pojok baca itu berubah menjadi simbol kolaborasi antara pelayanan publik dan masyarakat pecinta literasi di daerah. 

Dalam hubungan itu, Dauliyah, mewakili institusinya mengucapkan terima kasih banyak kepada para pihak yang telah membantu mendonasikan puluhan bukunya ke UPTD Samsat Majene. Kepada pak Ridwan Alimuddin, pak Hamzah Ismail, pak Muhammad Munir, owner Rumpita dan Pusat Studi Sosial & Kajian Kebudayaan.  “Semoga bantuan bukunya kelak menjadi sumbangsih terbesar upaya peningkatkan budaya baca di Sulbar, Majene khususnya, dan menjadi bagian dari yang diserukan oleh Gubernur Sulawesi Barat, bapak SDK.” Pungkas Dauliyah.

Lamasariang, 13 Agustus 2025